3,328 research outputs found
Kisah Hidup Abu Bakar Al-Shiddiq
Abu Bakar adalah sahabat dekat Nabi yang paling setia sekaligus paling banyak mengikuti ajarsnnys. Laki-laki yang begitu rendah hati ini, begitu mudsh terharu, begitu halus perasaannya, begitu gemar bergaul dengan orang-orang papa, dalam dirinya terpendam suatu kekuatan yang amat dahsyat. Muhammad Husain Haikal, penulis Sejarah Hidup Muhammad312hlm.;13x20,5c
Majlis perasmian Universiti Teknologi Mara Cawangan Johor Kampus Pasir Gudang & Hari Industri 2023 / Zahari Abu Bakar, Siti Mariam Mohammad Iliyas and Idris Muhammad
Muhammad - Mercy to the world / Prof. Dato' Dr. Abu Bakar Abdul Majeed
The Prophet Muhammad, s.a.w., was born on the 12th day of Rabi al-Awwal, the third month of the Muslim calendar. It signifies spring, the time when seeds split open to generate countless types of plants. Leaves, too, begin to grow in abundance while flowers start blooming. The birth of the Prophet Muhammad also brought unimaginable joy to his close relatives and family friends. He was born an orphan. His father, Abdullah, died months earlier in Medinah while on the way back from a business trip to Syria. His uncle, Abu Lahab, later to become his number one adversary, was so delighted when he heard the good news that he decided to free his slave girl, Thuwaiba, who had brought him the news. According to a saying of the Prophet narrated by Imam Bukhari, because of this good deed, Abu Lahab’s punishment in the grave is reduced every Monday, the day the Prophet is born
Jihad Menurut Pola Pikir Syekh Muhammad Abu Bakar Syatha Dalam Kitab I’anatut Thalibin (Perang Bukan Tujuan Utama)
This research is motivated by the existence of a misunderstanding among the public regarding the meaning of jihad. In general, when the word "jihad" is mentioned, some people immediately associate it with violence, war, even suicide bombings. This assumption was also the background to the terrorist attacks on the World Trade Center (WTC) and the Pentagon on September 11 2001. The change in the meaning of jihad, which should have broad dimensions and not only be limited to physical aspects, has damaged the image of the Islamic religion as a whole. Sheikh Abu Bakar Muhammad Syatha in his book, I'anatut Thalibin, states that jihad is carried out to create prosperity and prosperity for all mankind. In this context, jihad is more related to efforts to create prosperity and happiness in life for Muslims without war or bloodshed. This research aims to determine the application of jihad without violence or war according to the mindset of Sheikh Abu Bakar Muhammad Syatha. The research method used is qualitative research with a library research approach, collecting data and information from various books. Data collection techniques involve searching the literature as primary and secondary sources. The results of the research show that, according to the mindset of Sheikh Abu Bakar Muhammad Syatha, jihad is an effort to create prosperity and prosperity for Muslims, therefore when prosperity and prosperity can be created without war, war should be avoided because war is a medium, not the main goal.Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya pandangan pemahaman yang keliru di kalangan masyarakat terkait makna jihad. Secara umum ketika kata “jihad” disebutkan, sebagian orang langsung mengaitkannya dengan kekerasan, peperangan, bahkan bom bunuh diri. Anggapan ini juga yang melatar belakangi terjadinya serangan teroris pada Word Trade Centre (WTC) dan Pentagon pada 11 September 2001. Perubahan makna jihad yang semestinya memiliki dimensi luas dan tidak hanya terbatas pada aspek fisik, telah merusak citra agama Islam secara keseluruhan. Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha dalam kitabnya, I’anatut Thalibin, menyatakan bahwa jihad dilakukan untuk menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh umat manusia. Dalam konteks ini, jihad lebih terkait dengan upaya menciptakan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup bagi umat Islam tanpa adanya peperangan maupun pertumpahan darah.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan jihad tanpa kekerasan atau peperangan sesuai pola pikir Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan library research, mengumpulkan data dan informasi dari berbagai buku. Teknik pengumpulan data melibatkan penelusuran pustaka sebagai sumber primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, menurut pola pikir Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha, jihad adalah usaha untuk menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran bagi umat Islam, oleh karena itu ketika kesejahteraan dan kemakmuran dapat tercipta tanpa peperangan maka hendaknya peperangan dihindari karena peperangan merupakan wasilah bukan tujuan utama
Khulafah Al-Rasyidun: Menelaah Kepemimpinan Abu Bakar Al-Shiddiq
This paper aims to reveal and explain the history of the leadership of the caliph Abu Bakar Al-Shiddiq, a very close friend of the Prophet Muhammad. In revealing and explaining the leadership of Abu Bakr Ash-Siddiq the author proposes two background problems, namely (1) how is the process of appointing Abu Bakar Al-Shiddiq as caliph? (2) What are the prominent policies adopted by Abu Bakar As-Siddiq during his reign? To answer the background of the problem, a historical method is used which includes four stages of work systematically, namely: heuristics, source criticism, interpretation and historiography.The results of the study show that Abu Bakar Al-Shiddiq was a friend of the Prophet Muhammad SAW who was entrusted by the Muslims to lead Muslims after the death of the Prophet Muhammad. During his reign there were many challenges faced. Among the challenges faced are many Muslims who are apostates and do not want to pay zakat; false prophets appeared, and the territory of the Muslims was threatened by the Romans in the north (Sham). However, Caliph Abu Bakar was able to deal with all these problems wisely.
Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan dan menjelaskan sejarah kepemimpinan khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah SAW. Dalam mengungkapkan dan menjelaskan kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq penulis mengajukan dua latar masalah yaitu (1) bagaimana Bagaimana proses pengangkatan Abu Bakar Al-Shiddiq menjadi khalifah? (2) Apa saja kebijakan menonjol yang ditempuh Abu Bakar Al-Shiddiq pada masa pemerintahannya? Untuk menjawab latar masalah tersebut digunakan metode sejarah yang meliputi empat tahapan kerja secara sistematis, yaitu: heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasil kajian menunjukkan bahwa Abu Bakar Al-Shiddiq merupakan seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang dipercayakan oleh kaum muslimin untuk memimpin umat Islam pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW. Pada masa pemerintahannya terdapat banyak tantangan yang dihadapi. Di antara tantangan yang dihadapi adalah banyak kaum muslimin yang murtad dan tidak mau membayar zakat; muncul nabi-nabi palsu, dan wilayah umat Islam terancam oleh Romawi di bagin utara (Syam). Namun, Khalifah Abu Bakar mampu mengatasi semua masalah tersebut dengan bijaksana
KONTRIBUSI ABU BAKAR TERHADAP PERKEMBANGAN ISLAM
Abu Bakar memberikan pertimbangan tentang kariteria pengganti Nabi. mengajukan dua tokoh Quraisy, Umar bin Khattab dan Abu Baidah bin Jarrah, untuk dipilih salah satunya. Orang-0rang Ansar sangat terkesan dengan penjelasan Abu Bakar dan tampak berharap kepadanya, namun segera Umar bin Khattab berdiri dan mengajukan Abu Bakar sebagai pengganti Nabi. Pasalnya, bahwa Abu Bakar jauh lebih tepat dari pada dirinya. Sebab, menurutnya, Abu Bakar adalah orang kepercayaan Nabi, jika beliau uzur menjadi imam shalat, maka Abu Bakar diminta untuk menggantikannya. Atas dasar itu, hadirin tidak keberatan menerima Abu Bakar sebagai Khalifah. Abu Bakar menjabat sebagai khalifah selama dua tahun. Dalam masa pemerintahan tersebut, ia melanjutkan misi ekspedisi Usama bin Zaid yang telah dipersiapkan Rasulullah pada masa hidupnya, mengambalikan kaum muslimin dalam ajaran Islam yang benar dan memerangi kaum murtad, mengumpulkan Alqur’an dalam satu mushaf, dan mengirim pasukan ke Irak dan Syam untuk menyebarkan ajaran Islam
Adjustable foldable table / Muhammad Akmal Abu Bakar
The globe is today confronted with a number of serious difficulties as a result of population increase and resource constraint. Due to overcrowding in urban areas, people are forced to live in compact spaces such as flats or apartments. Overcrowding in living quarters can lead to economic and social concerns, and limited material options not only reduce quality of life. Foldable furniture has evolved as one of the solutions for space sustainability as a result of all of these difficult difficulties. Foldable furniture can assist save space for the user. In order to tackle this challenge, a design for an adjustable folding table has been constructed for this study. The respondent was given a set of the questionnaire to provide comments on the design. In order to tackle this challenge, a design for an adjustable folding table has been constructed for this study. The respondent was given a set of the questionnaire to provide comments based on the design provided. The study's findings reveal that respondents agree with the factors of material, design, marketing, and product satisfaction. This study's goal has been accomplished. Most respondents approved of the product design
Safety brake / Muhammad Faizul Abu Bakar
Merupakan satu sistem amaran kepada pengguna jalan raya yang lain. Sistem ini berkendali dengan menggunakan sensor pada brek yang mampu mengesan pergerakan kaki pemandu dan akan memberitahu pengguna jalanraya yang lain bila brek akan ditekan. Ini sedikit sebanyak akan memberi amaran agar pemandu dibelakang tidak menekan brek secara mengejut seterusnya mengelakkan kes kemalangan jalan raya
Metodologi Kitab al-Mawa'iz al-'Usfuriyah karya Muhammad bin Abu Bakar: kontribusi kitab hadis disertai syarah dalam perkembangan ilmu hadis
Penelitian ini dilakukan karena banyak kitab terutama kitab di bidang hadis yang telah ditemukan sampai saat ini. Di Indonesia, beberapa kitab hadis dibahas atau dipelajari di sejumlah pesantren. Beberapa diantara kitab hadis tersebut telah banyak dikaji dan ada yang belum dikaji. Salah satu yang sedikit dikaji adalah Kitab al-Mawa'iz al-'Usfuriyah. Kitab al-Mawa'iz al-'Usfuriyah disusun oleh Muhammad bin Abu Bakar. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana sistematika penyusunan Kitab al-Mawa'iz al-'Usfuriyah karya Muhammad bin Abu Bakar, 2) Bagaimana metode Muhammad bin Abu Bakar dalam mensyarah hadis pada Kitab al-Mawa'iz al-'Usfuriyah, 3) Bagaimana kontribusi Kitab al-Mawa'iz al-'Usfuriyah dalam perkembangan ilmu hadis. Adapun tujuan pada penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan sistematika penyusunan Kitab al-Mawa'iz al-'Usfuriyah karya Muhammad bin Abu Bakar, untuk mengetahui metode yang digunakan Muhammad bin Abu Bakar dalam mensyarah hadis pada Kitab al-Mawa'iz al-'Usfuriyah dan juga untuk memahami kontribusi Kitab al-Mawa'iz al-'Usfuriyah dalam perkembangan ilmu hadis. Dalam menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini bersifat kepustakaan (library reserch) dengan pendekatan kualitatif dan metode analisis deskriptif yaitu menggambarkan metode syarah yang digunakan Muhammad bin Abu Bakar berkaitan dengan Kitab al-Mawa'iz al-'Usfuriyah yang kemudian dikuatkan dengan teori syarah hadis. Kesimpulan pada penelitian ini yang berupa sistematika penyusunan Kitab al-Mawa'iz al-'Usfuriyah yaitu hadis dalam Kitab al-Mawa'iz al-'Usfuriyah berjumlah empat puluh dengan alasan bahwa Muhammad bin Abu Bakar mengharapkan anugerah ampunan dari Allah sebagaimana yang pernah nabi sabdakan, setiap hadis pada Kitab al-Mawa'iz al-'Usfuriyah dicantumkan tanpa bab tertentu kemudian hadis pada Kitab al-Mawa'iz al-'Usfuriyah diikuti syarah. Selanjutnya, hasil analisis terhadap metode syarah yang diterapkan Muhammad bin Abu Bakar dalam Kitab al-Mawa'iz al-'Usfuriyah dikategorikan sebagai metode ijmali karena Muhammad bin Abu Bakar hanya memberikan penjelasan yang diperlukan, yang berbentuk hadis lain dalam penjelasannya dan hikayat yang disesuaikan dengan hadis. Adapun kontribusi Kitab al-Mawa'iz al-'Usfuriyah dalam perkembangan ilmu hadis yaitu memperkaya khazanah keilmuan dengan metode kisah. Bentuk keunikan Kitab al-Mawa'iz al-'Usfuriyah dengan kitab hadis lainnya ialah isi kitab yang didominasi dengan hikayat atau kisah yang beberapa diantaranya mengandung hikmah serta nasihat. Kotribusi Kitab al-Mawa'iz al-'Usfuriyah berupa kisah akan memudahkan semua orang dalam memahami hadis, sehingga dapat mempraktikkan isi hadis
METODE DAKWAH AL-HABIB MUHAMMAD BIN ABU BAKAR AL’AYDRUS DI MAJELIS TA’LIM NURUNNUBUWWAH DESA KARANGAN PUTIH KECAMATAN KELUA KABUPATEN TABALONG
Skripsi ini berjudul Metode Dakwah Al-Habib Muhammad Bin Abu Bakar
Al’Aydrus di Majelis Ta’lim Nurunnubuwwah Desa Karangan Putih Kecamatan
Kelua Kabupaten Tabalong. Metode dakwah penting untuk dipelajari karena
dakwah adalah suatu kewajiban bagi setiap Muslim. Metode dakwah sangat
penting untuk dipelajari agar saat menyampaikan dakwah bisa efektif.
Masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini ialah bagaimana metode
dakwah Al-Habib Muhammad Bin Abu Bakar Al’Aydrus Di Majelis Ta’lim
Nurunnubuwwah Desa Karangan Putih Kecamatan Kelua Kabupaten Tabalong.
Metode yang peneliti gunakan adalah metode penelitian lapangan dengan
pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek penelitian ini adalah Al-Habib Muhammad
Bin Abu Bakar Al’Aydrus selaku khodimul Majelis Ta’lim Nurunnubuwwah dan
10 jamaah Majelis Ta’lim Nurunnubuwwah yang terdiri dari 5 jamaah laki-laki
dan 5 jamaah perempuan. Objek dari penelitian ini adalah metode dakwah AlHabib Muhammad Bin Abu Bakar Al’Aydrus di Majelis Ta’lim Nurunnubuwwah.
Data pada penelitian ini dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan
dokumen serta diolah dalam bentuk deskriptif. Data dianalisis menjadi bentuk
uraian deksriptif kualitatif (memberikan gambaran atau melukiskan terhadap data
yang sudah di uraikan), agar data semakin mudah dipahami.
Hasil dari penelitian ini adalah saat berdakwah Al-Habib Muhammad Bin
Abu Bakar Al’Aydrus menggunakan metode dakwah al-hikmah, muaidzah alhasanah dan mujadalah. Penggunaan metode dakwah mujadalah di Majelis
Ta’lim Nurunnubuwwah induk sudah ditiadakan karena waktu yang berdekatan
dengan magrib, sekarang penggunaan metode dakwah mujadalah hanya ada di
Majelis Ta’lim Nurunnubuwwah cabang yang terletak di Desa Tamunti
dilaksanakan pada hari jumat atau malam sabtu setelah sholat magrib dan di Desa
Hariang dilaksanakan pada sabtu atau malam minggu setelah sholat magrib
- …
