19 research outputs found

    PERBEDAAN KELELAHAN KERJA PADA PEKERJA DENGAN BEBAN KERJA RINGAN YANG TERPAPAR TEKANAN PANAS DI TERMINAL TIRTONADI SURAKARTA

    No full text
    ABSTRAK Tutug Bolet Atmojo. NIM A131008014. 2013. Perbedaan Kelelahan Kerja pada Pekerja dengan Beban Kerja Ringan yang Terpapar Tekanan Panas di Terminal Tirtonadi Surakarta. TESIS. Pembimbing I : Dr. Prabang Setyono, S.P., M.Si, Pembimbing II : Dr. Hartono, dr., M.Si. Program Studi Ilmu Lingkungan, Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Tekanan Panas merupakan salah satu faktor lingkungan fisika yang dapat menyebabkan terjadinya kelelahan kerja pada seseorang. Tekanan Panas di Terminal Tirtonadi Surakarta berbeda-beda dalam memberikan paparan terhadap tenaga kerja, terdapat lokasi yang terpapar di atas Nilai Ambang Batas (ISBB > 28 0C), dan lokasi yang terpapar di bawah Nilai Ambang Batas (ISBB >260C – 280C), serta lokasi yang terpapar pada suhu nikmat kerja (240C – 260C), sehingga akan memberikan pengaruh terhadap terjadinya kelelahan kerja pekerja yang berbeda pula. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui apakah ada perbedaan kelelahan kerja pada pekerja dengan beban kerja ringan yang terpapar tekanan panas di terminal Tirtonadi Surakarta. Sampel pada penelitian ini berjumlah 81 responden yang diambil dari populasi yang berjumlah 145 pekerja yang terbagi masing-masing dalam 3 kelompok lokasi paparan yaitu lokasi yang terpapar di atas Nilai Ambang Batas (ISBB >28 0C) sejumlah 30 responden, lokasi yang terpapar di bawah Nilai Ambang Batas (>260C – 280C) sejumlah 30 responden, lokasi yang terpapar di suhu nikmat kerja (240C – 260C) sejumlah 21 responden. Penelitian ini menggunakan uji statistic One Way Anova, dengan perolehan hasil nilai signifikan p value adalah 0,000 (p = < 0,05), yang menunjukkan adanya Perbedaan Kelelahan Kerja Pekerja dengan Beban Kerja Ringan yang Terpapar Tekanan Panas di Terminal Tirtonadi Surakarta. Kata kunci : Kelelahan Kerja, Pekerja, Beban Kerja, Tekanan Panas. ABSTRACT Tutug Bolet Atmojo. NIM A131008014. 2013. Difference Of Fatigue And Light Work Load Which Is Exposure By Heat Stress in Tirtonadi Bus Station Surakarta. Thesis. Main Supervisor : Dr. Prabang Setyono, S.P., M.Si, Assistant Supervisor : Dr. Hartono, dr., M.Si. Environmental Science, Magister Program, Sebelas Maret University Surakarta. Heat stress is one of physical environment factor which influence to fatigue. Heat stress in Tirtonadi Bus Station Surakarta was different each other for giving exposure to workers, there is location which is exposure up to a standard (ISBB > 28°C) and the location which is exposure under the standard (ISBB > 26°C - 28°C), and the location which is exposure on temperature favors the work (24°C - 26°C), so its influence for fatigue was different each other. The aim of this research was find out that is there any different of fatigue for workers with a light work load which exposure by heat stress in Tirtonadi Bus Station Surakarta. Sample of this research was 81 respondents which is taken from 145 workers of the population with Simple Random Sampling Technique which decided in 3 groups of exposure location, there are location which exposure up to a standard (ISBB > 28°C) was 30 respondents and the location which is exposure under the standard (ISBB > 26°C - 28°C) was 30 respondents, the location which is exposure on temperature favors the work (24°C - 26°C) was 21 respondents. This research used One Way Anova statistic test, with the result is significance p value was 0.000 (p = < 0.05), it is showed that there was Difference of Fatigue with Light Work Load which is Exposure by Heat Stress in Tirtonadi Bus Station Surakarta. Keyword : Fatigue, Worker, Work Load, Heat Stres

    PENERAPAN PRE STARTUP SAFETY REVIEW (PSSR) DALAM MENINGKATKAN KESELAMATAN KERJA PADA AREA BOILER ROOM DI PT ESSENCE INDONESIA PLANT KARAWANG, JAWA BARAT

    No full text
    ABSTRAK PENERAPAN PRE STARTUP SAFETY REVIEW (PSSR) DALAM MENINGKATKAN KESELAMATAN KERJA PADA AREA BOILER ROOM DI PT ESSENCE INDONESIA PLANT KARAWANG, JAWA BARAT Befridita Ayu Nastiti 1 , Tutug Bolet Atmojo 2 , Seviana Rinawati 2 Tujuan : Menganalisa kemampuan perusahaan dalam melakukan Pre Startup Safety Review (PSSR) pada area boiler room di PT. Essence Indonesia Plant Karawang. Metode : Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif memberikan gambaran tentang Pre Startup Safety Review (PSSR) di PT Essence Indonesia Plant Karawang. Pengambilan data penelitian ini dilakukan dengan cara observasi langsung, wawancara kepada karyawan serta studi kepustakaan. Data yang diperoleh dari hasil penelitian kemudian dibahas dengan membandingkan pada regulasi terkait. Hasil : Pre Startup Safety Review (PSSR) pada area boiler room di PT. Essence Indonesia Plant Karawang telah sesuai dengan OSHA 2000. Monitoring kebisingan merupakan potensi bahaya yang harus diprioritaskan. Pengendalian kebisingan belum dilaksanakan dengan baik. Simpulan : Secara garis besar Pre Startup Safety Review (PSSR) pada area boiler room di PT. Essence Indonesia Plant Karawang yang dilakukan telah sesuai dengan regulasi terkait. Kata Kunci : Pre Startup Safety Review, PSS

    GAMBARAN TRAINING KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DI PT PETROKIMIA GRESIK

    No full text
    ABSTRAK GAMBARAN TRAINING KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DI PT PETROKIMIA GRESIK Annisa Fitriama Widyaka1, Tutug Bolet Atmojo2 Tujuan : PT. Petrokimia Gresik merupakan perusahaan manufaktur yang mempunyai banyak potensi bahaya yang timbul akibat pekerjaan, PT. Petrokimia Gresik melakukan upaya pengendalian bahaya di lingkungan kerja. Salah satu upaya pengendalian potensi bahaya yang dilakukan adalah dengan mengadakan pelatihan-pelatihan. Tujuan dari penelitian yang dilakukan di PT. Petrokimia Gresik adalah untuk mengetahui bagaimana Pelaksanaan dan Penerapan Training K3 di PT. Petrokimia Gresik. Metode : Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode deskriptif yang memberikan gambaran tentang training K3 di PT. Petrokimia Gresik. Pengambilan data dilakukan melalui observasi langsung ke lapangan, wawancara dan studi kepustakaan. Hasil : Kerangka pemikiran penelitian ini adalah tempat kerja dimana didalamnya terdapat tenaga kerja yang memiliki potensi dan faktor bahaya yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja dilakukan upaya pengendalian secara administrativ salah satunya adalah dengan training K3. Hasil pelatihan ini kemudian akan diaplikasikan dalam melaksanakan pekerjaanya sehari-hari sehingga pekerja menjadi aman dalam bekerja. Simpulan : Perusahaan telah melaksanakan training K3 sehingga dapat mencegah terjadinya kecelakaan kerja di semua wilayah perusahaan sesuai dengan Undangundang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Kata Kunci: Training K

    WORK POSTURE RELATIONS WITH MUSCULOSKELETAL DISORDERS IN DUMP TRUCK OPERATOR AT PT HARMONI PANCA MAIN

    No full text
    Improper work posture may affect waist and back pain as well as disruption of the muscularkeletal system. The results of estimates published by NIOSH show that the cost of compensation for musculoskeletal complaints has reached 13 billion dollars annually. This study aims to determine the relationship of work posture with lumbar pain and severity of Muskuloskeletal Disorder at Dump Truck Operators Production Part at PT Harmoni Panca Utama Site East Kalimatan. This research is an analytic survey research with cross sectional design. The population of this research is the dump truck operator in the production section of PT Harmoni Panca Utama Site East Kalimantan totaling 150 people. The number of samples is determined by Purposive Sampling Technique. The instruments used in this study were questionnaires, Nordic Body Map Questioner questionnaires, Video Record and Work Posture Images, a low back pain complaint questionnaire. The data analysis technique used is Spearman rank associative test. Characteristics of respondents in the form: age, employment and BMI have no relationship with the severity of musculoskeletal disorders. The result of spearman rank test analysis between work posture and severity of musculoskeletal disturbance was obtained on peaceful site (p = 0.47) and site singlurus (p = 0.43). Keywords: Work posture, Low back pain, Musculoskeleta

    PERBEDAAN KELELAHAN PEKERJA SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN ATAP RUMBIA DI PENGOLAHAN GENTENG SURUHKALANG JATEN KARANGANYAR

    No full text
    Tekanan panas berakibat terjadinya kelelahan, salah satu pengendalian tekanan panas adalah dengan pemasangan atap rumbia. Tekanan panas di pengolahan genteng Suruhkalang Jaten Karanganyar melebihi Nilai Ambang Batas yaitu sebesar 33oC dan terjadi kelelahan berat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa perbedaan kelelahan pekerja sebelum dan sesudah pemberian atap rumbia di pengolahan genteng Suruhkalang Jaten Karanganyar Surakarta. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian survey dengan metode pendekatan eksperimen quasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja di pengolahan genteng Suruhkalang Jaten Karanganyar Surakarta, dengan jumlah total 10 orang, dengan sampel total populasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pekerja mengalami kelelahan dengan beban kerja yang dikategorikan berat, tekanan panas melebihi NAB ISBB. Dari uji statistik dengan uji Paired T-Test perbedaan kelelahan diketahui bahwa nilai p=0,000, dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan kelelahan pekerja sebelum dan sesudah pemberian atap rumbia di pengolahan genteng Suruhkalang Jaten Karanganyar. Kata Kunci: Perbedaan kelelahan, pekerja di pengolahan genten

    ADAPTASI KECUKUPAN AIR MINUM PEKERJA UMK-Y DENGAN PAPARAN TEKANAN PANAS DALAM MINIMASI BIAYA KESEHATAN

    No full text
    Proses produksi melibatkan interaksi pekerja, mesin, material dan lingkungan, salah satu faktor berupa tekanan panas berdampak pada aklimatisasi berpengaruh pada tingkat dehidrasi tubuh. Adaptasi tubuh mengalami perubahan akibat paparan tekanan panas tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi paparan tekanan panas terhadap adaptasi kecukupan air minum pada pekerja di UMK-Y. Jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, pada populasi pekerja bagian produksi UMK-Y diperoleh 32 responden secara total sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner kecukupan air minum dan Area Heat Stress Monitor untuk mengukur tekanan panas di tempat kerja. Data penelitian dianalisis dengan uji Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan adanya hasil yang signifikan antara tekanan panas dengan kecukupan air minum pekerja (p-value= 0,009) dan korelasi kuat dan arahnya positif (r=0,533). Simpulan hasil penelitian terdapat korelasi tekanan panas dengan kecukupan air minum pekerja UMK-Y sehingga adaptasi pemenuhan air minum akan dilakukan pekerja seiring dengan peningkatan tekanan panas. Keberhasilan pola adaptasi yang baik menekan biaya kesehatan pekerja UMK-Y

    ANALISIS MANAJEMEN PENGELOLAAN LIMBAH PADAT MEDIS B3 DI RUMAH SAKIT UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

    No full text
    Rumah sakit berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2015 merupakan fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana wajib melakukan pengelolaan limbah B3. Limbah medis yang dihasilkan oleh pelayanan kesehatan sebesar 10-25% dan sisanya sebesar 75 – 90% merupakan limbah domestik (Pruess etc, 2009).  Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode kualitatif. Data pendukung diperoleh dengan hasil wawancara, observasi, dan telaah dokumen. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret. Limbah B3 yang dihasilkan Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS) berasal dari kegiatan pelayanan dan penunjang medis. Pengelolaan limbah B3 di Rumah Sakit UNS meliputi pemilahan, pengemasan, pengumpulan dan penyimpanan. Pengangkutan  dan pengolahan diserahkan oleh pihak ketiga yaitu PT. Sarana Patra Jateng dan PT. Wastec Internasional, sedangkan untuk limbah B3 berwujud cair dimasukkan ke dalam Instalasi Pengolahan Limbah Air (IPAL) di rumah sakit kecuali oli. Kondisi pengelolaan limbah padat B3 di Rumah Sakit sudah berjalan dengan baik tetapi belum optimal. Rekomendasi untuk meningkatkan atau mengoptimalkan pengelolaan limbah B3 di Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret antara lain sebaiknya menyediakan kantong plastik berwarna cokelat untuk menampung limbah kimia dan farmasi, sebaiknya membuat jalur khusus khusus untuk pengangkutan limbah B3 rumah sakit untuk menghindari area yang dilalui banyak orang dan sebaiknya memberikan imunisasi hepatitis kepada cleaning service yang terlibat dalam penanganan limbah B3 untuk menghindari risiko terkena infeksi apablia terjadi kecelakaan kerja. Penyediaan wastafel dan sabun cuci tangan di TPS  juga diperlukan untuk mengurangi risiko pencemaran kuman penyakit. Kata kunci : Limbah Padat Medis, Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), Rumah Saki

    HUBUNGAN INTENSITAS PENCAHAYAAN DAN JARAK PENGLIHATAN DENGAN KELUHAN KELELAHAN MATA OPERATOR JAHIT

    No full text
    Lingkungan kerja memiliki faktor dan bahaya yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan pekerja dalam melakukan pekerjaanya. Salah satu faktor yang terdapat di dalam lingkungan kerja adalah intensitas pencahayaan. Intensitas pencahayaan bergantung sifat dan jenis pekerjaan yang dilakukan. Pekerjaan menjahit merupakan jenis pekerjaan yang membutuhkan ketelitian serta menggunakan&nbsp; penglihatan jarak dekat, sehingga diperlukan intensitas pencahayaan yang sesuai. Ketidaksesuaian besarnya intensitas cahaya yang diterima oleh pekerja serta jarak penglihatan antara mata dengan objek kerja yang berisiko dapat menyebabkan munculnya keluhan kelelahan mata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan intensitas pencahayaan dan jarak penglihatan dengan keluhan kelelahan mata operator jahit di PT X. Merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 72 pekerja yang diambil menggunakan teknik pengambilan sampel secara simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan p value = 0,021 untuk hubungan intensitas pencahayaan dengan keluhan kelelahan mata dan p value = 0,004 untuk hubungan jarak penglihatan dengan keluhan kelelahan mata. Dalam penelitian ini, jarak penglihatan memiliki pengaruh yang paling besar terhadap terjadinya keluhan kelelahan mata. Pekerja yang memiliki jarak penglihatan yang berisiko, memiliki kemungkinan untuk mengalami keluhan kelelahan mata sebesar 11,9 kali dibandingkan pekerja dengan jarak penglihatan yang tidak berisiko. Kesimpulan yang dapat diperoleh yaitu ada hubungan antara intensitas pencahayaan dan jarak penglihatan dengan keluhan kelelahan mata. Semakin besar ketidaksesuaian intensitas pencahayaan di tempat kerja, maka semakin tinggi keluhan kelelahan mata. Semakin berisiko jarak penglihatan pekerja, semakin tinggi keluhan kelelahan mata. Saran yang dapat diberikan yaitu dengan melakukan pengaturan jarak lampu dan melakukan istirahat mata

    RELATIONSHIP BETWEEN LEVEL KNOWLEDGE AND SUPERVISION TO THE BEHAVIOR OF APD APPLICATION IN CONSTRUCTION WORKERS PT WIKA BETON BOYOLALI

    No full text
    The construction sector is one of the highest accidents. Most accidents are caused by unsafe acts, one of which is the failure to use PPE. The behavior of PPE is influenced by many factors including knowledge and supervision. This study aims to determine the relationship between the level of knowledge and supervision of the use of PPE in construction workers PT WIKA Beton Boyolali. This research is an observational analytic research with Cross Sectional approach with sampling technique that is Simple Random Sampling. The sample of the study was 54 male laborers. Level of Knowledge, Control and Behavior of Use of PPE is measured using a questionnaire. The data obtained were analyzed by Gamma and Somers'd test for independent variable relationship with dependent variable, then for multivariate analysis with Multiple Logistic Regression test. The result shows that there is correlation between knowledge level with behavioral usage of APD at significance value p = 0.018 and value r = 0.538 and relationship between supervision with behavior of APD usage at significance value p = 0.012 and value r = 0.291. Based on the multivariate analysis, it was found that the knowledge level was the most influential variable on the behavior of APD with p-value = 0.005 and OR = 37.263, then control with p-value = 0.038 and OR = 9.048 and the working period with p-value = 0.074 and OR = 0.115. Conclusion There is a significant relationship between the level of knowledge and supervision of the behavior of PPE. The variable that has the most influence on the behavior of PPE is the level of knowledge.Keywords: Knowledge, Supervision, Behavior, APD, Construction Worke
    corecore