1,722,370 research outputs found

    Pemikiran Kiai Achmad asrori Al-Ishaqy tentang tasawuf dan tarekat

    Full text link
    Penelitian ini merupakan sebuah kajian tentang pemikiran tasawuf dan tarekat yang lebih spesifik membahas pemikiran tasawuf dan tarekatnya kith Achmad Asrori al-Ishagy. Sebagaimana layaknya studi ketokohan, sebelum memaparkan tasawuf dan tarekat kiai Achmad Asrori, terlebih dahulu peneliti mengungkap riwayat hidup, latar belakang pemikiran dan beberapa karya. Dan untuk mengetahui lebih jauh posisi mindset tasawuf dan tarekat kiai Achmad Asrori, peneliti juga menerangkan latar belakang munculnya persoalan tasawuf dan tarekat atau tepatnya kapan ilmu tasawuf dan tarekat itu ada. Bila dilihat sekilas dari seluruh karyanya, kiai Achmad Asrori menginginkan umat manusia khususnya umat Islam mampu memahami ajaran-ajaran Islam tidak hanya sebatas menjalankan praktik-praktik ritual yang bersifat syar'i saja, artinya segala bentuk ibadahnya hanya disandarkan pada niatan yang penting gugur kewajiban, namun yang diinginkan oleh kiai Achmad Asrori ialah betul-betul mengamalkannya sehingga dapat merubah tatanan hidup manusia itu sendiri. Oleh karenanya melalui pemikirannya di bidang tasawuf dan tarekat sebagai medianya, kiai Achmad Asrori ingin membangun serta mempersatukan umat lewat lembaga al Khidmah yang didirikanya sebagai media penyatuan jamaah tarekat di dalam mendekatkan diri kepada Allah swt. Kiai Achmad Asrori mampu membebaskan masyarakatnya dari kungkungan ketidaktahuan tentang masalah agama dengan pendekatannya yang sangat sederhana dan menyentuh hati para jamaahnya. Dan bila kiai Achmad Asrori al-Ishagy dilihat secara utuh, dalam konteks sejarah dimana dia hidup, acuan kiai Achmad Asrori sebenarnya adalah para tokoh-tokoh sufi besar path umumnya, khususnya yang beraliran tasawuf sunni, yang memiliki keutamaan serta mampu menjadi pusat spiritual dunia. Dengan demikian, mindset tasawuf dan tarekat kiai Achmad Asrori pun tidak terlepas dari bangunan kekuasaan pemikiran para tokoh sufi besar tersebut. Akan tetapi, siapapun kiai Achmad Asrori, ia merupakan sosok manusia yang mempunyai karisma yang luar biasa, rendah hati sejuk dan penuh kasih sayang dan penuh kesabaran di dalam membimbing nmatnya, dan hal ini membuat beliau bisa disandingkan dengan nama besar tokoh-tokoh sufi Indonesia balikart manca negara, yang langkah spiritnalnya banyak mengilhami umat dan jamaahnya. Penelitian ini bersifat penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan metode penyajian secara deskriptif analitis. Sesuai dengan tujuan tersebut, data primer yang diutamakan berasal dari karya kiai Achmad Asrori dan data skunder berasal dari buku-buku yang ditulis orang lain tentang pemikiran kiai Achmad Asrori serta data-data pendukung yang relevan dengan penelitian ini. Sedangkan analisis data dilakukan dengan mengunakan metode historis fakrual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tasawuf dalam pemikiran kiai Achmad Asrori merupakan hasil ijtihad dalam menjalankan agama untuk menunjukkan ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah dengan sebenar-benamya, yaitu berpijak pada al-Qur'an dan al-Sunnah serta meneladoni prilaku generasi sala

    PENULIS KITAB PEGON DI JAWA ABAD XX: BIOGRAFI KIAI ASRORI AHMAD DAN KARYA-KARYANYA

    No full text
    This article attempts to describe the biography of the prolific kiai writer and translator of the kitab Pegon, Kiai Asrori Ahmad who lived Wonosari, Magelang, Central Java in the twentieth century. The kiai, who was born in 1923, is widely known as a writer of numerous written books of Pegon, both in the form of translations and original ones. His work remarkably scattered in various Islamic disciplines, such as fiqh (Islamic jurisprudence), tawhid (monotheism), hadith, akhlaq-tasawwuf and sirah (history). In order to describe the biography of kiai Asrori comprehensively, this article uses the historical-codicological method by basing it on primary sources, such as interviews with kiai Asrori Ahmad's family and examining his works, as well as other supporting sources. Based on historical analysis. The result revealed that kiai Asrori Ahmad is a product of Islamic boarding school education who had the expertise of kitab kuning (yellow book). This special expertise was later developed by Kiai Asrori by improving it in within the tradition of the pesantren library, the book of pegon, under the guidance of Kiai Bisri Mustofa Rembang, one of the foremost preaching kiai and author of the twentieth century book of Pegon. Under the direction of his teacher who later became brother-in-law, Kiai Bisri Mustof, kiai Asrori eventually transformed into one among prolific writers of pegon book in the twentieth century. The record demonstrated approximately 30 titles spread out in 50 books that have been born from the patience and perseverance of Kiai Asrori Ahmad. All of his works were hatched from three important motivations: religious motivation, educational motivation and economic motivation

    PENULIS KITAB PEGON DI JAWA ABAD XX: BIOGRAFI KIAI ASRORI AHMAD DAN KARYA-KARYANYA

    Full text link
    This article attempts to describe the biography of the prolific kiai writer and translator of the kitab Pegon, Kiai Asrori Ahmad who lived Wonosari, Magelang, Central Java in the twentieth century. The kiai, who was born in 1923, is widely known as a writer of numerous written books of Pegon, both in the form of translations and original ones. His work remarkably scattered in various Islamic disciplines, such as fiqh (Islamic jurisprudence), tawhid (monotheism), hadith, akhlaq-tasawwuf and sirah (history). In order to describe the biography of kiai Asrori comprehensively, this article uses the historical-codicological method by basing it on primary sources, such as interviews with kiai Asrori Ahmad\u27s family and examining his works, as well as other supporting sources. Based on historical analysis. The result revealed that kiai Asrori Ahmad is a product of Islamic boarding school education who had the expertise of kitab kuning (yellow book). This special expertise was later developed by Kiai Asrori by improving it in within the tradition of the pesantren library, the book of pegon, under the guidance of Kiai Bisri Mustofa Rembang, one of the foremost preaching kiai and author of the twentieth century book of Pegon. Under the direction of his teacher who later became brother-in-law, Kiai Bisri Mustof, kiai Asrori eventually transformed into one among prolific writers of pegon book in the twentieth century. The record demonstrated approximately 30 titles spread out in 50 books that have been born from the patience and perseverance of Kiai Asrori Ahmad. All of his works were hatched from three important motivations: religious motivation, educational motivation and economic motivation

    KONPSEP PENDIDIKAN MENURUT KH ASRORI AHMAD, RELEVANSI DAN KONTRIBUSINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

    No full text
    ABSTRAK Ajaran Islam hingga kini banyak ditulis dalam bahasa Arab, bahkan tulisan Arabnya pun tanpa harokat atau banyak diistilahkan dengan Arab gundul. Dalam dunia pesantren, lebih akrab disebut kitab kuning. Bagi orang orang awam, hampir dapat dipastikan sulit, bahkan tidak bisa mempelajaran ajaran Islam yang dikemas dalam kitab kuing tersebut. Tokoh KH Asrori Ahmad telah memberikan pencerahan dengan mengemasnya dalam kitab-kitab Arab pegon. Kitab ajaran Islam ditulis dengan bahasa Jawa, dengan tulisan Arab (Arab pegon). Artikel ini dimaksudkan menyajikan konsep pendidikan menurut KH Asrori Ahmad relevansi dan kontribusinya dalam pendidikan Islam di Indonesia. Setidaknya ada dua kontribusi KH Asrori Ahmad. Pertama, memasyarakatkan huruf Arab kepada masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengenal huruf latin. Kedua, memasyarakatkan ajaran Islam kepada masyarakat luas, khususnya masyakarat Jawa. Ketiga, secara tidak langsung KH Asrori Ahmad mengajak masyarakat Jawa untuk menguri-uri bahasa Jawa, dengan Arab pegonnya. Kata kunci: Islam, Arab Pegon, Jawa, Pendidikan, Asrori Ahmad

    Metode Ceramah K.H. Asrori Al Ishaqi dalam Berdakwah tentang “Hakekat Dzikir” Seri 1-5

    Full text link
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perkembangan jamaah dzikir yang dipimpin oleh K.H. Asrori al-Ishaqy. Pengetahuan masyarakat tentang keberadaan jamaah dzikir dan pemahaman masyarakat tentang urgensi dzikir salah satunya diperoleh dari pengajian-pengajian K.H. Asrori al-Ishaqy. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa dalam pengajiannya, metode dakwah melalui ceramah yang digunakan oleh K.H. Asrori memiliki nilai lebih. Oleh sebab itu perlu kiranya dilakukan penelitian yang berhubungan dengan dakwah melalui metode ceramah yang dilakukan oleh beliau. Penelitian ini memusatkan pada dua rumusan masalah: Bagaimana metode ceramah K.H. Asrori Al-Ishaqi dalam berdakwah tentang “Hakekat Dzikir” seri 1-5? Bagaimana metode ceramah K.H. Asrori Al-Ishaqi dalam berdakwah tentang “Hakekat Dzikir” seri 1-5 dalam perspektif komunikasi dakwah? Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang pengumpulan datanya menggunakan teknik dokumentasi. Sedangkan analisanya menggunakan teknik analisis teks dan bahasa. Dari hasil analisa dapat disimpulkan bahwa metode ceramah yang digunakan dalam berdakwah adalah metode ceramah yang berdasar pada realita kehidupan mad’u dengan tujuan untuk membuka wacana dan pemahaman mad’u tentang perbuatan yang selama ini telah dilakukan sekaligus untuk memahami hakekat dan fungsi dzikir dalam kehidupan mereka. Keberhasilan metode ceramah dalam dakwah K.H. Asrori dalam tinjauan komunikasi disebabkan oleh adanya kesahajaan dalam berkomunikasi serta keteladanan pribadi da’i dalam diri K.H. Asrori. Hal ini dalam konteks komunikasi berarti telah terpenuhinya aspek-aspek komunikator yang memahami kondisi komunikan sehingga mampu memberikan materi berupa informasi yang berhubungan erat dengan keadaan dan kebutuhan perubahan dalam diri dan kehidupan komunikan

    Konsep Maqâmât dalam Tradisi Sufistik K.H. Ahmad Asrori al-Ishaqy

    No full text
    The article discusses the concept of sufistic thinking of K.H. Ahmad Asrori al-Ishaqy, the  murshid  (the spiritual guide) of al-Qâdirîyah wa al-Naqshabandîyah  tariqa  and the founder of al-Fithrah Islamic Boarding School in Kedinding Lor 99 Kenjeran Surabaya. In this article, the writer focuses mostly on the stages of the sufistic thinking of Kiai Asrori, because there are many sufistic concept that he stated. In addition, the writer tries to unveil Kiai Asrori‟s concepts on sufistic realm which are implemented in daily lives, not only by himself, but also by his pupils and his followers. The purpose of this research is to describe the sufistic concept of Kiai Asrori, focusing on the stage (maqâmat) which has been stated in his public sermon, his statement stated for certain people, and also by his scipts. Besides, the purpose of this research is also to describe about how to implement his concepts in daily lives. The writer argues that the concept of the  maqâmat  stated by Kiai Asrori is different from other Islamic mysticism figure before him not only in terms of numbers but also in orders. The most significant difference is that the followers do not have to follow the stage step by step. According to him, his followers may choose the  maqâmatwhich are suitable with their ability

    Pendidikan tarekat perspektif KH. Achmad Asrori Al Ishaqy dan relevansinya terhadap tujuan pendidikan nasional

    Full text link
    Kehidupan di zaman modern seringkali dibuai dengan pola hidup glamor. Akibatnya hati mudah terjankit penyakit batin dan semakin hampa dari ketenangan. Oleh karena itu, dibutuhkan dokter yang ahli di bidangnya untuk menanganinya permasalahan tersebut. Dokter dalam hal ini adalah ulama sufi yang berpredikat guru tarekat. KH. Achmad Asrori al-Ishaqi merupakan salah satu guru tarekat yang ajarannya sedang berkembang saat ini. Namun, masih terdapat sebagian oknum yang menganggap bahwa pola hidup terekat menghambat kreativitas seseorang, karena di dalamnya mengajarkan menjauhkan diri dari urusan duniawi, yang hal itu tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang berbunyi “Mengembangkan Kreativitas”. Berdasarkan uraian tersebut, dipandang urgen untuk meneliti tentang pendidikan tarekat yang dipimpin KH. Achmad Asrori, tentang tujuan pendidikan nasinal, dan tentang relevansi pendidikan tarekat KH. Achmad Asrori terhadap tujuan pendidikan nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pendidikan tarekat perspektif KH. Achmad Asrori, tujuan pendidikan nasional, dan relevansi pendidikan tarekat perspektif KH. Achmad Asrori terhadap tujuan pendidikan nasional. Pendekatan atau metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Library Research (penelitian kepustakaan). Karena data akan digali dari data kepustakaan yaitu, buku-buku karya KH. Achmad Asrori, buku-buku tentang tujuan pendidikan, dan data lain yang mendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa esensi Pendidikan tarekat perspektif KH. Achmad Asrori al-Ishaqi adalah pendidikan akhlak atau karkter melalui penyempurnaan adab dengan barometer prilaku s{u>fiyyah yang menggunakan metode praktis, yaitu, pengamalan dhikir atau wirid dalam bimbingan guru murshid yang ada ikatan rohani melalui muba>ya’ah untuk membersihkan penyakit hati agar dapat wusu>l kepada Allah Swt. Adapun tujuan pendidikan nasional yang ingin dicapai adalah mengembangkan potensi warga negara Indonesia seutuhnya hingga menjadi manusia yang paripurna (al-Insan al-kamil) baik dari segi material z{a>h{iriyyah maupun sisi ba>t{iniyyah. Sedangkan relevansi pendidikan tarekat KH. Achmad Asrori terhadap tujuan pendidikan nasional adalah bahwa pendidikan tarekat tersebut turut membentuk warga negara Indonesia yang paripurna melalui perbaikan dari segi mental spritualnya

    Permainan bahasa : bahasa arab/ Asrori

    No full text
    57 hal.: ill, tab.; 26 cm

    PENAFSIRAN KATA NUR OLEH KH. AHMAD ASRORI AL ISHAQI DALAM QS. AL-MAIDAH [5]: 15 (Studi Kitab Al-Muntakhabat Karya KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi)

    Full text link
    Pandangan tentang Nur Muhammad banyak ditemukan ikhtilaf dari kalangan ulama Muslim. Di antaranya mereka menyatakan bahwa meyakini Nur Muhammad Saw adalah kebenaran dan di sisi lain adalah kesesatan. Ikhtilaf ini disebabkan redaksi tentang Nur Muhammad belum cukup kuat. Adapun dari sebagian kalangan mufassir dalam menafsirkan kata nur dalam QS Al-Maidah ayat 15, mereka menyatakan bahwa kata nur dapat dimaknai dengan Nabi Muhammad Saw. Melihat kondisi ikhtilaf ini, KH Ahmad Asrori al-Ishaqi hadir menawarkan pemikirannya sebagai bentuk responsnya. Beliau menuangkan pemikirannya dalam karyanya, kitab Al-Muntakhaba>t. Dalam kitab tersebut, beliau menjelaskan tentang Nur Muhammad yang berkaitan dengan penafsiran QS Al-Maidah ayat 15. Berangkat dari masalah ini, peneliti ingin lebih mendalami tentang penafsiran kata n>r pada QS Al-Maidah: 15 dalam kitab Al-Muntakhabat karya KH Ahmad Asrori al-Ishaqi yang berkaitan dengan Nur Muhammad. Penelitian ini berfokus pada dua rumusan masalah utama yang meliputi bagaimana penafsiran kata nur pada QS. Al-Maidah: 15 dalama kitab Al-Muntakhabat karya KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi dan pemaknaan penafsirannya. Dalam hal ini, peneliti menggunakan metode deskriptif-analitis guna menggali lebih dalam informasi yang diperlukan. Penggunaan metode ini dinilai cukup relevan dengan objek yang dikaji. Dengan menggunakan metode ini, peneliti akan mencoba mendeskripsikan dan menganalisis secara kritis serta mendalam mengenai pemikiran KH Ahmad Asrori al-Ishaqi mengenai penafsiran kata nur pada QS. Al-Maidah: 15 yang tertuang dalam kitab Al-Muntakhabat karyanya. Adapun sumber data primer didapatkan dari kitab Al-Muntakhabat karya KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi. Kemudian teknik pengumpulan data menggunakan kajian pustaka (library research). Penelitian terhadap penafsiran kata nur pada QS. Al-Maidah: 15 dalam kitab Al-Muntakhabat menghasilkan beberapa kesimpulan. Pertama, penafsiran kata nur pada QS Al-Maidah: 15 dalam kitab Al-Muntakhabat ditafsirkan dengan Nur Muhammad. Kedua, mengenai metodologi penafsiran, bahasa keilmuan, sumber penafsiran, dan keunikan penafsiran dalam kitab Al-Muntakhabat. Ketiga, pemaknaan penafsiran yang merupakan tujuan dari penafsiran kata nur pada QS Al-Maidah: 15 dalam kitab Al-Muntakhabat karya KH Ahmad Asrori al-Ishaqi

    PERAN KH. ACHMAD ASRORI AL-ISHAQY DALAM PENYEBARAN TAREKAT QODIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH AL-UTSMANIYAH DI SURABAYA TAHUN 1985-2009

    Full text link
    Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah didirikan oleh Syekh Ahmad Khatib Sambas. Penyebaran Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Jawa sangat pesat, di Jawa Timur dibawa oleh Syekh Ahmad Hasbullah Madura hingga kepada KH. Achmad Asrori Al-Ishaqy melalui beberapa khalifah. Oleh KH. Achmad Asrori, Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah diberi tambahan menjadi Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah al-Utsmaniyah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan penyebaran Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah al-Ustmaniyah, menjelaskan perjalanan hidup KH. Achmad Asrori Al-Ishaqy, dan menjelaskan peran KH. Achmad Asrori dalam penyebaran Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah al-Utsmaniyah di Surabaya. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi 4 tahap: Heuristik, Verifikasi, Interpretasi, dan Historiografi. Dengan jenis penelitian kualitatif dan berupa studi pustaka serta wawancara yang datanya diperoleh dari buku, arsip, dan juga wawancara secara langsung dengan orang-orang terdekat KH. Achmad Asrori Al-Ishaqy. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan; Pertama, Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah al-Utsmaniyah berawal sejak tahun 1985 yang berkembang di Gresik dan Surabaya. Kedua, KH. Asrori memiliki silsilah yang baik dan jelas dari segi ilmu dan keturunan. Ketiga, KH. Asrori berperan penting dalam penyebaran Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah al-Utsmaniyah yang ditandai dengan menyebarnya Majlis Dzikir Al-Khidmah, serta adanya penyebaran Imam Khususi yang ada di berbagai daerah
    corecore