2,795 research outputs found
The Complete Muhammad Ali
Including material and photographs not included in most of the 100 other books about the champion, Ishmael Reed's The Complete Muhammad Ali is more than just a biography-it is a fascinating portrait of the 20th century and the beginning of the 21st. An honest, balanced portrayal of Ali, the book includes voices that have been omitted from other books. It charts Ali's evolution from Black Nationalism to a universalism, but does not discount the Nation of Islam and Black Nationalism's important influence on his intellectual development. Filipino American author Emil Guillermo speaks about how "The Thrilla' In Manila" brought the Philippines into the 20th century. Fans of Muhammad Ali, boxing fans, and those interested in modern African American history and the Nation of Islam will be fascinated by this biography by an accomplished American author.Intro -- DEDICATION -- INTRODUCTION -- The Curious History of an Icon -- CHAPTER 1 -- CHAPTER 2 -- CHAPTER 3 -- CHAPTER 4 -- CHAPTER 5 -- CHAPTER 6 -- CHAPTER 7 -- Did the Secret Government Fear a U.S. Muslim/Overseas Muslim Alliance? -- CHAPTER 8 -- CHAPTER 9 -- The Break Between the Prophet and his Disciple -- CHAPTER 10 -- CHAPTER 11 -- CHAPTER 12 -- The GOAT (Greatest Of All Time): Ali or Louis? -- CHAPTER 13 -- The Nation of Islam, the Mob, Showdowns in Canada and Sonny Liston -- CHAPTER 14 -- CHAPTER 15 -- The Taunts: Marketing or Racism? -- CHAPTER 16 -- CHAPTER 17 -- CHAPTER 18 -- CHAPTER 19 -- Boxing and the Brain -- CHAPTER 20 -- Ali's Feet -- CHAPTER 21 -- Mr. Dick -- CHAPTER 22 -- CHAPTER 23 -- The Opening Ceremonies, November 2005 -- CHAPTER 24 -- December 2005, Las Vegas -- CHAPTER 25 -- CHAPTER 26 -- June 16, 2004 -- CHAPTER 27 -- CHAPTER 28 -- CHAPTER 29 -- Aix-en-Provence -- CHAPTER 30 -- Ali as a Black Nationalist -- San Francisco, January 2004 Black Liberation Book Fair -- CHAPTER 31 -- January 31, 2004 -- CHAPTER 32 -- October 2005, Chicago -- CHAPTER 33 -- Why Ali remained with Elijah instead of following Malcolm -- CHAPTER 34 -- CHAPTER 35 -- February 4, 2006, Oakland, California -- CHAPTER 36 -- Like Zeus Descending from Mount Olympus -- CHAPTER 37 -- CHAPTER 38 -- Tuesday, February 28, 2006, New York -- CHAPTER 39 -- Bigger Than Boxing -- CHAPTER 40 -- Tribes Gallery, New York, April 2006 -- CHAPTER 41 -- June 2006, Louisville, Kentucky -- CHAPTER 42 -- CHAPTER 43 -- CHAPTER 45 -- Bad Company -- CHAPTER 46 -- Coxson, A Very Charming Rogue -- CHAPTER 47 -- Ali and the largest embezzlement scheme in Wells Fargo history -- CHAPTER 48 -- CHAPTER 49 -- "Lonnie is a stabilizing force."-Harry Belafonte -- October 29, 2006 -- CHAPTER 50 -- Abdul Rahman -- CHAPTER 51 -- CHAPTER 52 -- CHAPTER 53How Will Ali Be Remembered? New York, January 8, 2005 -- CHAPTER 54 -- CONCLUSION -- AFTERWORD -- Boxers' Rights? -- BIBLIOGRAPHY -- MUHAMMAD ALI -- ISLAM AND NATION OF ISLAM -- BOXING -- RELATED SUBJECTS -- ALSO AVAILABLE FROM BARAKA BOOKSIncluding material and photographs not included in most of the 100 other books about the champion, Ishmael Reed's The Complete Muhammad Ali is more than just a biography-it is a fascinating portrait of the 20th century and the beginning of the 21st. An honest, balanced portrayal of Ali, the book includes voices that have been omitted from other books. It charts Ali's evolution from Black Nationalism to a universalism, but does not discount the Nation of Islam and Black Nationalism's important influence on his intellectual development. Filipino American author Emil Guillermo speaks about how "The Thrilla' In Manila" brought the Philippines into the 20th century. Fans of Muhammad Ali, boxing fans, and those interested in modern African American history and the Nation of Islam will be fascinated by this biography by an accomplished American author.Description based on publisher supplied metadata and other sources.Electronic reproduction. Ann Arbor, Michigan : ProQuest Ebook Central, YYYY. Available via World Wide Web. Access may be limited to ProQuest Ebook Central affiliated libraries
INTERPRETASI ASGHAR ALI ENGINEER DAN MUHAMMAD ALI ASH-SHABUNI TENTANG CADAR (Kajian Studi Tafsir Kompratif)
Penelitian ini berawal dari banyaknya pendapat tentang cadar. Sebagian masyarakat ada yang berpendapat bahwa cadar adalah sebuah bentuk syariat islam. Dan sebagian masyarakat yang lain ada yang berpendapat cadar adalah mode, tren dan sebuah produk budaya. Pada penelitian ini penulis ingin memaparkan pendapat Asghar Ali Engineer dan Muhammad â⠡¬ËœAli Ash-Shabuni tentang cadar. Beliau adalah ulama tafsir komtemporer yang hidup dalam satu masa dengan terpaut usia 9 tahun. Asghar Ali Engineer adalah seorang tokoh feminis sedangkan Muhammad â⠡¬ËœAli Ash-Shabuni adalah seorang ulama ahli fiqih. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana interpretasi Asghar Ali Engineer tentang cadar? 2) Bagaimana interpretasi Muhammad Ali ash-Shabuni tentang cadar? 3) Bagaimana persamaan dan perbedaan interpretasi antara keduanya? Dalam menjawab permasalahan ini, penelitian dilakukan berdasarkan kepustakaan dengan menggunakan metode penyajian secara deskriptif, analisis dan komparatif. Sesuai dengan tujuan tersebut, data primer yang digunakan oleh penulis bersumber dari penafsiran oleh tokoh yang bersangkutan dan beberapa mufasir dalam kitab tafsi ya, serta data sekunder yang berasal dari buku-buku yang relevan dengan penelitian ini. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa menurut Menurut Asghar Ali Engineer cadar hukumnya tidak wajib. Sedangkan menurut Menurut Muhammad â⠡¬ËœAli Ash-Shabuni, cadar hukumya wajib Selain itu ada perbedaan dan persamaan antara kedua tokoh apabila dilihat dari pandangan secara umum, kedua tokoh setuju bahwa perempuan harus menjaga kesopanan berpakaian, hanya saja bagi Asghar bukan berarti perempuan wajib mengenakan cadar dan sebaliknya dengan Ash-Shabuni yang berpedapat cadar wajib bagi perempuan
Pembaharuan Diskursus Teologi Islam: Studi atas Pemikiran Asghar Ali Engineer
Islam has undergone significant changes and has disregarded these values. The liberation theology formulated by Asghar Ali Engineer is a necessity to awaken Muslims from stagnation and to realize the inherited values of justice from Prophet Muhammad (PBUH). Furthermore, liberation theology serves as a critique of traditional scholars who prioritize metaphysical issues and neglect human concerns. Therefore, this study aims to provide a comprehensive analysis of the theology of liberation constructed by Asghar Ali Engineer. The qualitative method, specifically a literature review, is employed in this research. The qualitative approach allows researchers to deeply comprehend and elucidate the concepts within liberation theology through the analysis of relevant texts. The primary data sources for this study consist of the writings of Asghar Ali Engineer and other related works on liberation theology. The findings of this study reveal three key points in the construction of Asghar Ali Engineer's liberation theology. Firstly, the concept of tawhid is interpreted as the unity of humanity, emphasizing that all individuals are fellow believers and share equal rights and dignity. Secondly, the liberation movement should be grounded in strong faith to advocate for justice and confront oppressive rulers. Lastly, Asghar Ali Engineer's liberation theology emphasizes the importance of economic justice in liberating the exploited lower class from an unjust capitalist system.
Abstrak
Islam saat ini telah mengalami perubahan secara total dan mengabaikan nilai-nilai tersebut. Teologi pembebasan yang dirumuskan oleh Asghar Ali Engineer merupakan suatu keniscayaan untuk menyadarkan umat Islam dari kejumudan dan merealisasikan nilai-nilai keadilan yang diwariskan oleh Nabi Muhammad Saw. Selain itu, teologi pembebasan menjadi kritik bagi kalangan ulama tradisional yang hanya mengutamakan persoalan metafisika dan mengabaikan persoalan kemanusiaan. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengangkat secara mendalam mengenai konstruksi teologi pembebasan yang dikembangkan oleh Asghar Ali Engineer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan jenis studi kepustakaan. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk memahami dan menjelaskan konsep-konsep dalam teologi pembebasan secara mendalam melalui analisis terhadap teks-teks yang relevan. Studi kepustakaan menjadi sumber data utama dalam penelitian ini, yang melibatkan kajian terhadap tulisan-tulisan Asghar Ali Engineer dan karya-karya lain yang berkaitan dengan teologi pembebasan. Hasil penelitian ini mengungkapkan tiga poin utama dalam konstruksi teologi pembebasan Asghar Ali Engineer. Pertama, tauhid dimaknai sebagai kesatuan manusia, yang mengajarkan bahwa semua manusia adalah saudara seiman dan memiliki kesamaan hak dan martabat. Kedua, gerakan pembebasan harus dilandasi dengan keimanan yang kuat, agar mampu memperjuangkan keadilan dan melawan penguasa yang zalim. Ketiga, teologi pembebasan Asghar Ali Engineer menekankan pentingnya keadilan dalam bidang ekonomi, guna membebaskan rakyat kecil yang dieksploitasi oleh sistem kapitalisme yang tidak adil
Hak-hak reproduksi perempuan dalam pemikiran Husein Muhammad dan Asghar Ali Engineer
INDONESIA:
Problematika hak reproduksi perempuan merupakan hal yang sangat penting, karena begitu banyak fenomena yang terjadi akibat kurangnya perhatian masyarakat terhadap reproduksi. Fakta mengungkapkan, kurangnya perhatian masyarakat terhadap reproduksi perempuan yang mengakibatkan dampak yang fatal. Hak-hak reproduksi perempuan masih belum mendapatkan perhatian yang serius. Oleh karena itu, perlu adanya pengkajian untuk mencegah masalah-masalah yang seharusnya tidak terjadi, demi terwujudnya masyarakat yang sehat dan berkualitas. Tujuan penelitian ini adalah 1). Untuk mendeskripsikan pemikiran Husein Muhammad tentang hak-hak reproduksi perempuan. 2). Untuk mendeskripsikan pemikiran Asghar Ali Engineer tentang hak-hak reproduksi perempuan. 3). Untuk mengetahui perbedaan dan persamaan pemikiran Husein Muhammad dan Asghar Ali Engineer tentang hak-hak reproduksi perempuan.
Penelitian ini termasuk jenis penelitian pustaka dengan menggunakan pendekatan konseptual approach dan tergolong penelitian normatif. Sedangkan sumber data yang digunakan adalah sumber data primer, sekunder dan tersier. Metode pengumpulan data adalah dokumentasi literatur karya ilmiyah yang berkaitan dengan topik kajian pemikiran Husein Muhammad dan Asghar Ali Engineer. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa dalam pemikiran tentang hak-hak reproduksi, Husein dan Asghar terdapat persamaan yaitu tentang kebolehan aborsi dengan salah satu alasan kelahirannya dipastikan akan membahayakan jiwa atau nyawa ibunya dan harus didasarkan atas pertimbangan medis oleh dokter ahli dan kebolehan mengatur keturunan atau ber-KB. Adapun perbedaan pemikiran Husein dan Asghar meskipun sama-sama memperjuangkan hak-hak perempuan, adalah: menurut Husein hak reproduksi perempuan dibagi menjadi empat hanya saja dalam penelitian ini hanya menyebutkan dua yaitu sebagai berikut: hak menolak kehamilan, hak Menggugurkan Kandungan (Aborsi). Sedangkan Engineer menjelaskan tentang hak reproduksi perempuan, berkutat dalam masalah aborsi dan Keluarga Berencana (‘azl). Hanya saja pemikiran Husein tentang KB, perempuan lebih berhak menentukan dari pada laki-laki, sedangkan pemikiran Asghar tentang KB, perempuan dan laki-laki sama-sama mempunyai hak untuk menentukannya.
ENGLISH:
The problem of women's reproductive rights is very important, because so many phenomena that occur due to lack of public attention to reproduction. The facts reveal, the lack of public attention to female reproduction that resulted in a fatal impact. Women's reproductive rights still have not received serious attention. Therefore, there should be an assessment to prevent problems that should not happen, for the sake of the realization of a healthy society and quality. The purpose of this study is 1). To describe Husein Muhammad's thoughts on women's reproductive rights. 2). To describe Asghar Ali Engineer's thoughts on women's reproductive rights. 3). To know the differences and similarities of Husein Muhammad and Asghar Ali Engineer's thoughts on women's reproductive rights.
This research is a type of literature research using conseptual approach approach and pertained normative research. While the data source used is primary, secondary and tertiary data sources. The method of data collection is documentation of the literature of the work of ilmiyah related to the topic of the study of thought Husein Muhammad and Asghar Ali Engineer. Data analysis method used in this research is descriptive analysis.
The results of the study indicate that in thinking about reproduction rights, Hussein and Asghar have similarities about abortion abilities with one of the reasons for his birth will certainly endanger the lives or lives of his mother and must be based on medical considerations by a doctor and the ability to manage offspring or Family Planning. As for Husein and Asghar's differences of thought, although both of them are fighting for women's rights, are: according to Hussein women's reproductive rights are divided into four, only in this study only mention two as follows: the right to reject pregnancy, abortion right. While the Engineer explained about the reproductive rights of women, struggling in the problem of abortion and Family Planning ('azl). It's just Husein thinking about family planning, women are more entitled to determine than men, while Asghar thinking about family planning, women and men alike have the right to decide
Teologi Perdamaian Perspektif Asghar Ali Engineer
Islam merupakan agama yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, salah satunya yakni perdamaian. Asghar Ali Engineer menyebutkan bahwa Islam saat ini menjadi agama yang kerap kali dibahas, baik oleh kaum muslim maupun non-muslim. Sebab Islam memiliki nilai universalnya ialah agama yang mengajarkan kedamaian. Namun hal ini dapat di lihat dan tidak sesuai karena banyaknya aksi teror yang dilakukan oleh sebagian pemeluk agama Islam itu sendiri. Penelitian ini mengkaji tentang teologi perdamaian perspektif Asghar Ali Engineer. Tujuan penelitian ini ialah mengkaji dan menganalisis teologi perdamaian perspektif Asghar Ali Engineer. Dalam Menyusun penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Asghar Ali Engineer dalam karyanya menyuguhkan tentang kedilan, pembebasan demi mewujudkan perdamaian di dunia ini. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa umat Islam harus menanamkan di dalam dirinya untuk memiliki nilai-nilai yang akan mewujudkan perdamaian. Nilai-nilai tersebut ialah anti kekerasan, keadilan, kebenaran, toleransi, cinta dan kasih sayang. Dengan pemikirannya ini, Asghar Ali mengajak umat Islam untuk terbiasa berdialog ketika menyelesaikan suatu permasalahan, karena dialog merupakan suatu hal yang sangat penting demi menjauhkan diri untuk melakukan kekerasan.Â
Konsep Kafir dalam Alquran: Studi Atas Penafsiran Asghar Ali Engineer
Konsep kafir pada umumnya hanyalah berbicara tentang penolakan keyakinan terhadap Allah Swt. dan Muhammad saw. Asghar Ali Engineer salah satu pemikir Islam kontemporer menawarkan konsep baru tentang kafir. Penafsiran Asghar terhadap alquran atas konsep kafirnya sangat menarik. Hal ini tidak lain karena kebaruannya. Dalam penafsirannya, Asghar sangat terpengaruh oleh teologi pembebasan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hasil penafsiran Asghar atas konsep kafirnya. Penelitian ini adalah kajian kepustakaan, oleh karena itu metode yang penulis gunakan adalah studi pustaka atau library research. Sumber data untuk penelitian ini adalah buku-buku karya Asghar dan sumber-sumber lain yang relevan dengan fokus penelitian. Berdasakan hasil penelitian, konsep kafir dalam penafsiran Asghar sangat transformatif. Menurutnya, kafir adalah bukan saja mereka yang tidak beriman secara formal kepada Allah Swt. dan Muhammad saw. serta yang lainnya, tetapi juga secara tidak langsung menantang terhadap terciptanya masyarakat yang adil dan egaliter yang bebas dari segala bentuk eksploitasi dan penindasan, dalam artian mereka yang tidak mendukung terciptanya masyarakat yang adil dan egaliter, tidak membela kaum yang lemah dan tertindas.
Keywords: Alquran, Tafsir, Teologi Pembebasan, Kafir, Asghar Ali Enginee
Konstruksi Teologi Pembebasan dalam Islam: Studi Pemikiran Asghar Ali Engineer: The Construction of Liberation Theology in Islam: A Study of Asghar Ali Engineer's Thought
Islam is a religion that upholds the values of justice. However, Muslims today have undergone a total change and ignored these values. The theology of liberation formulated by Asghar Ali Engineer is a necessity to awaken Muslims from boredom and realize the values of justice inherited by the Prophet Muhammad SAW. In addition, liberation theology has become a critique for traditional scholars who only prioritize metaphysical issues and ignore humanitarian issues. Thus, this research was appointed to describe in depth the theology of liberation constructed by Asghar Ali Engineer. The method used in this research is a qualitative method based on a literature study. The results of this study are the construction of Asghar Ali's theology of liberation, which covers three points: monotheism, which is interpreted as human unity; a movement that must be based on a strong faith to fight for justice and fight against unjust rulers; and justice in the economic field to free the small people who are exploited by the capitalist system
Pemikiran Asghar Ali Engineer tentang pemimpin perempuan
Seiring dengan berjalannya waktu memasuki abad dua pu1uh, dunia dipenuhi dengan perubahan dan perkem bangan disegala bidang, tennasuk kemajuan ilmu-ilmu sosial. Dan ditengah kemajuan itu, pendekatan gender terhadap dehumanisasi sosial mulai dilakukan yaitu seiring dengan maraknya isu kesetaraan dan kemitrasejajaran antara laki laki dan perempuan. Pendekatan gender tersebut melahirkan kesadaran sosial bahwa selama ini direalitas sosial telah terjadi diskriminasi dan penindasan terhadap perempuan, serta pendustaan nilai-nilai kemanusiaan. Diskriminasi ini juga merambah wilayah agama, dan salah satunya adalah dalam wilayah fiqh mu 'amalah siycisah yang berhubungan dengan kebebasan perempuan dalam kehidupan sosial politik. Dalam rangka menelaah pemikiran Asghar Ali Engineer mengena1 pemimpin perempuan, maka dipergunakan penyajian secara deskriptif guna mendapatkan infonnasi secara komprehensif mengenai asumsi, proposisi serta konsep dan teori yang mendasari pemikirannya mengenai pemimpin perempuan, clan selanjutnya dianalisis. Berdasarkan dari deskripsi tersebut maka terungkaplah bahwa dalam tataran paradigmatik, Asghar Ali Engineer berorientasi pada realitas historis- ideologis, dengan menggunakan pendekatan norn1atif dan kontekstual. Dengan pendekatan normatif dan kontekstual tersebut Engineer menganalisis pemimpin perempuan. Dengan demikian, kajian ini mengenai pemikiran Asghar Ali Engineer dengan menelusuri metodologinya, yaitu pembedaan antara ayat normatif dan historis, pendekatan sosio-teologis dalam rekonstruksi hukum Islam dan teologi pembebasan dalam lslam dalam rangka memahami tentang pemimpin perempuan dan juga menelusuri latar be1akang sosio- kultural nya yang juga salah satu faktor yang mempengaruhi pemikirannya
Cultivating Feminist Hermeneutics As The Interpretation Of Al-Qur'an: A Comparative Study Between Asghar Ali Engineer And Muhammad Al-Ghazali
This paper examines the ideas and thoughts of Asghar Ali Engineer and Muhammad al-Ghazali, especially regarding the reconstruction of their tafsir methodology related to gender verses and the application and theoretical implications of the method they built. As fighters for liberation theology and fighters for women's rights, both figures try to defend women by interpreting al-Qur’an based on gender equality and trying to criticize the interpretation of classical scholars who are atomistic. This article is a comparative study based on the works of Asghar Ali Engineer and Muhammad al-Ghazali. At the same time, the approach taken is using descriptive-analytical. In this study, at least I found that Asghar Ali Engineer uses three essential methods: historical, sociological-anthropological, and philosophical. On the other hand, al-Ghazali uses a more traditionalist-progressive approach: Reading text and reality, contextualizing the meaning of the text further, and separating dynamic verses from static verses. Furthermore, applying feminist hermeneutics to the verses of al-Qur’an carried out by the two figures strongly opposes discrimination and injustice against women
Hydraulic simulations to evaluate and predict design and operation of the Chashma Right Bank Canal
Irrigation systems / Irrigation canals / Flow control / Velocity / Canal regulation techniques / Hydraulics / Simulation models / Design / Operations / Crop-based irrigation / Distributary canals / Water delivery / Policy / Protective irrigation / Water allocation / Water requirements / Sedimentation / Water distribution / Equity / Water conveyance / Pakistan / Chashma Right Bank Canal
- …
