41 research outputs found
Local Perspective: Factors Associated with Covid-19 Preventive Behavior in West Nusa Tenggara, Indonesia
Background: The case fatality rate (CFR) of Covid-19 deaths in Indonesia on June 16, 2020 was 5.52% and 4.19% in West Nusa Tenggara. One of the causes of this high percentage of deaths is the lack of preventive behavior against Covid-19. This study aims to analyze factors associated with Covid-19 preventive behavior among people in West Nusa Tenggara, Indonesia.Subjects and Method: A cross-sectional study was conducted in 10 cities/districts in West Nusa Tenggara from May-June 2020. A total of 385 people were enrolled in this study. Data were collected using a questionnaire distributed in the form of Google form and analyzed using multiple linear regressions with Stata 13.Results: High education level (≥high school) (aOR= 0.43; 95%CI=0.03 to 0.82; p=0.033), perceived benefits (aOR=0.16; 95%CI= 0.07 to 0.25; p=0.001), and good knowledge (aOR=0.19; 95%CI= 0.01 to 0.37; p=0.034) were increased the preventive behavior. While, male (aOR= 0.54; 95% CI= -0.89 to -0.19; p=0.002), perceived barriers (aOR= -0.16; 95%CI= -0.25 to -0.07; p= 0.001) were decreased the preventive behavior toward Covid-19, and they were statistically significant.Conclusion: Education higher than high school, high perceived benefit, and good knowledge are increase the local people behavior to prevent Covid-19 in West Nusa Tenggara.Keywords: Covid-19, preventive behavior, West Nusa TenggaraCorrespondence: Artha Budi Susila Duarsa. Faculty of Medicine, Universitas Islam Al-Azhar, Mataram. Unizar-Street Number 20, Turida, Sandubaya, Mataram, West Nusa Tenggara. Email: duarsaartha@unizar.ac.id. Mobile Phone: +62 812-9125-5000.Journal of Health Promotion and Behavior (2021), 06(01): 1-8https://doi.org/10.26911/thejhpb.2021.06.01.01
PERKEMBANGAN-NEUROLOGIK BAYI DARI UMUR 0 - 6 BULAN DARI IBU HAMIL DENGAN DEFISIENSI YODIUM YANG MENDAPAT KAPSUL YODIOL PADA TRIMESTER I, II, DAN III DI DAERAH GONDOK ENDEMIK KECAMATAN KENDAL KABUPATEN NGAWI, JAWA TIMUR
Pendahuluan-Saat ini program intervensi GAKY telah dijalankan dalam lcurun waktu lebih dari dua dekade dan telah menunjukkan dampak yang positif. Angka nasional total goiter rate (TGR) menurun dari 37,2% pada tahun 1982 menjadi 27,2% pada tahun 1990 dan 9,8% pada tahun 1998. Namun berdasarlcan hasil survei nasional pemetaan GAKY tahun 1998 menunjuldcan bahwa Kecamatan Kendal lcabupaten Ngawi Propinsi Jawa Timur TGR-nya masih tinggi, yaitu pada anak sekolah sebesar 24,7% dan ibu hamil sebesar 26% sehingga termasuk daerah gondok endemik sedang. Apabila dibandingkan dengan hasil survei prevalensi gondok endemik yang dilalcukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi pada tahun 2000 yang menunjuldcan TGR anak sekolah sebesar 57,26%, maka Kecamatan Kendal telah menjadi daerah gondok endemik berat.
Disamping itu belum adanya data tentang perkembangan-neurologik setelah intervensi dengan yodium terhadap ibu hamil di daerah defisiensi yodium pada masing-masing trimester.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas , dapat dirumuskan masalah penelitian adalah " Apalcah pemberian kapsul yodiol pada ibu hamil dengan defisiensi yodium yang mendapat kapsul yodiol pada trimester I, II dan III dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan-neurologik bayi dari umur 0 — 6 bulan di daerah gondok endemik?
Tujuan-Untuk mengetahui perkembangan-neurologik bayi dari umur 0 — 6 bulan dari ibu hamil dengan defisiensi yodium yang mendapat kapsul yodiol pada trimester I, II dan III di daerah gondok endemik.
Manfaat-Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi tentang dampak positif perkembangan-neurologik bayi dari umur 0 — 6 bulan dari ibu hamil dengan defisiensi yodium yang mendapat kapsul yodiol pada trimester I, dan III di daerah gondok endemik, sehingga menjadi masukan bagi program penanggulangan GAKY.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah pemberian kapsul yodiol pada ibu hamil dengan defisiensi yodium pada trimester pertama dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan-neurologik bayi dart umur 0 — 6 bulan dart pada trimester kedua dan ketiga.
Metode-Penelitian ini dilakukan secara kohort yang mengkaji hubungan antara faktor risiko dengan efek. Model pendekatan yang dilakukan yang dilakukan adalah pendekatan waktu secara longitudinal.
Populasi penelitian adalah bayi-bayi yang lahir di daerah gondok endemik dad ibu hamil dengan defisiensi yodium yang mendapat kapsul yodiol pada trimester I, II dan III Sedangkan sampel penelitian adalah bayi-bayi umur 0 — 6 bulan yang ikut dalam penelitian.
Penelitian dilakukan di Desa Majasem, Desa Kendal dan Desa Karang Gupito Kecamatan Kendal Kabupaten Ngawi Jawa Timur mulai bulan Juli — Desember 2002.
Pengukuran dan instrumen untuk mengetahui defisiensi yodium pada ibu hamil dilakukan dengan memeriksa kadar TSH dan UEI, sedangkan untuk mengetahui perkembangan¬neurologik bayi digunakan tes Van Wiechen Ontwikkelingsonderzoek.
Pengolahan dan analisis data menggunakan komputer dengan perangkat lunak SPSS versi 10 for windows. Analisis data menggunakan test of within subjects effects dan multivariate test.
Hasil-Perkembangan-neurologik bayi dad umur 0 — 6 bulan dart ibu hamil dengan defisiensi yodium yang mendapat kapsul yodiol pada trimester I lebih baik dad pada trimester II dan III {p = 0,000 (p < 0,05)}.
Kesimpulan-Perkembangan-neurologik bayi dart umur 0 — 6 bulan di daerah gondok endemik dipengaruhi oleh status ibu hamil yang mengalami defisiensi yodium dan pada saat trimester berapa ibu hamil mendapat kapsul yodiol
Perpaduan Determinan Individu dan Tingkat Ekologi terhadap Kejadian Infeksi Malaria di Endemis Malaria
Epidemiological studies of malaria regarding risk factors are limited to knowing the biobehavioral effectat the individual level. Determinant analysis at various levels with various methodological problems has notbeen widely considered by epidemiologists to date. This study used hybrid design ecological studies. Qualitativestudies were conducted to look at the parameters of village conditions in response to operational policies onmalaria prevention programs. The analysis carried out was multilevel logistic regression and content analysis.Samples were taken in stages from 1,206 residents in 240 households in 30 villages in 3 malaria endemic districtsof South Lampung Regency & Pesawaran. The incidence of malaria infection was found [with parasitic indicators(+)] in 30 malaria endemic sub-villages in South Lampung Regency & Pesawaran District of 11.2%, with themajority of malaria plasmodium species being 55.8% P. Vivax, followed by P. Falciparum (41.5%), and the lowestwas P. Malariae (2.7%). The role of the individual level (level 1) is 0.17%, the role of the household level (level2) is 43.8% and the role of the village level (level 3) is 55.9% in explaining the incidence of malaria infection.Conclusions from the results of the study found that the difference in incidence of malaria infection in individualsis more determined by contextual factors (level of household (level 2) and village level (level 3) compared tocompositional factors (individual level (level 1)
PROSPEK PENDIDIKAN PROGRAM PASCA SARJANA BIDANG KESEHATAN MASYARAKAT
Dengan berbagai kondisi kesehatan masyarakat tersebut terjadi berbagai opini di masyarakat luas bahwa ada yang salah dalam pengelolaan kesehatan masyarakat oleh pemerintah. Padahal perlu disadari secara mendalam bahwa masalah kesehatan masyarakat adalah masalah kita bersama dan tanggung jawab kita bersama untuk mengatasinya. Hanya saja karena semua itu adalah masalah kesehatan masyarakat maka tanggung jawab yang pertama adalah pada pemerintah, masyarakat memang harus ikut bertanggung jawab, namunperan masyarakat adalah mendukung (suplemen) peran pemerintah. Pemerintah harus mampu memfasilitasi, memberi peluang, bahkan mengatur bagaimana potensi masyarakat untuk dilibatlkan dalam program kesehatan masyarakat. Disinilah sebenarnya prospek peran pendidikan dan profesi kesehatan masyarakat dalam proses pembangunan kesehatan secara menyeluruh. Karena individu-individu profesi kesmas tersebar diberbagai lembaga pemerintahan, pendidikan LSM, media masa, dll dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam ikut memberikan jalan keluar mengatasi berbagai masalah kesehatan yang ada sesuai dengan peran dan fungsinya. Pada makalah ini akan disampaikan demarkasi dari pendidikan ilmu kesehatan masyarakat yang terdiri dari empat kriteria yang diperlukan untuk eksistensi sebuah profesi, yaitu; 1) adanya wilayah keilmuan (ontologi), 2) adanya metode spesifikyang dipergunakan (epistemologi), 3) aplikasi teknis untuk memecahkan masalah (axiologi) dan 4) etika profesi yang mengatur perilaku aplikasi profesi tersebut
DAMPAK PEMANASAN GLOBAL TERHADAP RISIKO TERJADINYA MALARIA
Perubahan suhu global akan berdampak pada perubahan iklim dan akan menambah daftar risiko kesehatan lingkungan bagi manusia. Paparan terhadap perubahanperubahan lingkungan di atas dapat menimbulkan berbagai problem kesehatan, seperti penyakit-penyakit terkait suhu dan cuaca ekstrim, penyakit yang menular lewat makanan, air dan vektor serta penyakit akibat pencemaran udara
PROSPEK PENDIDIKAN PROGRAM PASCA SARJANA BIDANG KESEHATAN MASYARAKAT
Dengan berbagai kondisi kesehatan masyarakat tersebut terjadi berbagai opini di masyarakat luas bahwa ada yang salah dalam pengelolaan kesehatan masyarakat oleh pemerintah. Padahal perlu disadari secara mendalam bahwa masalah kesehatan masyarakat adalah masalah kita bersama dan tanggung jawab kita bersama untuk mengatasinya. Hanya saja karena semua itu adalah masalah kesehatan masyarakat maka tanggung jawab yang pertama adalah pada pemerintah, masyarakat memang harus ikut bertanggung jawab, namunperan masyarakat adalah mendukung (suplemen) peran pemerintah. Pemerintah harus mampu memfasilitasi, memberi peluang, bahkan mengatur bagaimana potensi masyarakat untuk dilibatlkan dalam program kesehatan masyarakat. Disinilah sebenarnya prospek peran pendidikan dan profesi kesehatan masyarakat dalam proses pembangunan kesehatan secara menyeluruh. Karena individu-individu profesi kesmas tersebar diberbagai lembaga pemerintahan, pendidikan LSM, media masa, dll dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam ikut memberikan jalan keluar mengatasi berbagai masalah kesehatan yang ada sesuai dengan peran dan fungsinya. Pada makalah ini akan disampaikan demarkasi dari pendidikan ilmu kesehatan masyarakat yang terdiri dari empat kriteria yang diperlukan untuk eksistensi sebuah profesi, yaitu; 1) adanya wilayah keilmuan (ontologi), 2) adanya metode spesifikyang dipergunakan (epistemologi), 3) aplikasi teknis untuk memecahkan masalah (axiologi) dan 4) etika profesi yang mengatur perilaku aplikasi profesi tersebut
DAMPAK PEMANASAN GLOBAL TERHADAP RISIKO TERJADINYA MALARIA
Perubahan suhu global akan berdampak pada perubahan iklim dan akan menambah daftar risiko kesehatan lingkungan bagi manusia. Paparan terhadap perubahanperubahan lingkungan di atas dapat menimbulkan berbagai problem kesehatan, seperti penyakit-penyakit terkait suhu dan cuaca ekstrim, penyakit yang menular lewat makanan, air dan vektor serta penyakit akibat pencemaran udara
