1,721,625 research outputs found
PENOLAKAN GP ANSOR TERHADAP PEMBANGUNAN PATUNG JAYANDARU DI KABUPATEN SIDOARJO
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aksi penolakan terhadap patung
jayandaru oleh GP Ansor. Patung jayandaru yang dibangun oleh dana dari PT. Sekar
Laut kemudian dihibahkan kepada Pemkab Sidoarjo menuai banyak keritikan oleh
sejumlah ormas Islam. Menurut ormas Islam patung jayandaru berhala, karena patung
jayandaru berbentuk utuh menyerupai manusia. Ditakutkannya nanti akan dijadikan
sesembah oleh masyarkat dan Kabupaten Sidoarjo tidak mendapatkan rahmat
dikarenakan patung jayandaru berada di depan Masjid Agung Sidoarjo. Penelitian ini
dilakukan dengan metode kualitatif. Metode ini menempatkan sebagai instrument
utama dalam mengumpulkan data, dimana tujuan utamamya adalah untuk
mengumpulkan realita majemuk yang ada dan bukan untuk mengumpulkan realita
tunggal. Pendekatan dalam metode kualitatif juga sangat mementingkan proses yang
sedang berlangsung. Teori yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teori
mobilisasi sumber daya. Teori ini termasuk dalam kategori gerakan sosial baru
apabila terdapat sebuah system mobilisasi yang terorganisir secara rasional. Hasil
penelitian menjelaskan bahwa terdapat dua alasan GP Ansor menolak adanya patung
jayandaru di alun-alun Kabupaten Sidoarjo. Pertama adalah pendapat ulama tentang
adanya patung yang menyerupai manusia secara sempurna. Kedua adalah adanya
hadits-hadits yang menjelaskan bahwa patung itu haram di dalam ajaran agama Islam.
Kesimpulan penelitian ini adalah dengan amanah yang diberikan MUI dan NU
kepada GP Ansor. GP Ansor melakukan gerakan aksi penolakan terhadap patung
jayandaru yang berasal dari dana hiba PT. Sekar Laut ke Pemkab Sidoarjo
PERAN GP ANSOR SIDOARJO DALAM PILKADA: STUDI MOBILISASI POLITIK UNTUK PENCALONAN KEPALA DAERAH KABUPATEN SIDOARJO 2015
Penelitian ini bertujuan untuk membahas mengenai GP Ansor Sidoarjo yang mengawal pencalonan Saiful Ilah dan Ahmad Syaifuddin dalam pemilihan Kepala Daerah Sidoarjo tahun 2015. Penelitian menggunakan studi mobilisasi politik GP Ansor dalam mengawal pasangan Saiful Ilah dan Ahmad Syaifuddin. Metode yang digunakan peneliti untuk mengkaji data adalah deskriptif kualitatif atas data yang dikumpulkan melalui metode wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Peneliti menggunakan teori partisipasi mobilisasi yang melihat politik di Negara berkembang. Jika berbicara mengenai modernisasi politik, maka yang di maksud adalah modernisasi sistem politik. Juga didukung dengan jurnal – jurnal penelitian internasional. Teori partisipasi mobilisasi digunakan peneliti sebagai landasan untuk mendeskripsikan bagaimana strategi GP Ansor dalam mendukung pasangan Saiful Ilah dan Ahmad Syaifuddin dan faktor apa saja yang mempengaruhi GP Ansor untuk mendukung pasangan Saiful Ilah dan Ahmad Syaifuddin. Hasil penelitian menunjukan bahwa GP Ansor menggunakan kekuatan politik berbasis massa, memperkuat akar ranting, hingga bisa mempengaruhi peta politik di wilayah Sidoarjo secara keseluruhan. GP ansor juga bisa membuat pasangan Saiful Ilah dan Ahmad Syaifuddin lebih unggul dari pasangan yang lain
STRATEGI KEPEMIMPINAN DALAM PELAKSANAAN PENGKADERAN GERAKAN PEMUDA ANSOR (GP ANSOR) PROVINSI LAMPUNG
ABSTRAK
Sangat penting bagi sebuah pemimpin memiliki strategi dalam memajukan
organisasi untuk memiliki sumber daya manusia yang berkualitas untuk
menjalankan visi dan misi yang telah dibuat oleh organisasi guna mewujudkan
tujuan dari organisasi. Salah satu cara dalam mencari sumber daya manusia yang
berkualitas, yaitu melalui sistem rekrutmen dan pengkaderan. Pelaksanaan
pengkaderan harus memiliki strategi dan pemimpin yang memiliki tanggung
jawab penuh dalam hal itu, oleh karena itu menjadi penting Gerakan Pemuda
Ansor Provinsi Lampung melaksanakan pengkaderan guna untuk
mempertahankan kelangsungan organisasi Gerakan Pemuda Ansor. Berdasarkan
hal tersebut yang menjadi bahan rumusan masalah dalam skripsi penulis yaitu
bagaimana Strategi Kepemimpinan Dalam Pelaksanaan Pengkaderan Gerakan
Pemuda Ansor (GP Ansor) Provinsi Lampung. Tujuan penelitian adalah untuk
mengetahui Bagaimana Strategi kepemimpinan dalam pelaksanaan pengkaderan
Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Provinsi Lampung. Adapun jenis penelitian
yang digunakan penelitian Deskriptif Kualitatif. Sumber data daam penelitian ini
pemimpin dan anggota Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Provinsi Lampung.
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), adapun data yang
diperlukan dalam penelitian ini adalah yang berkenaan strategi kepemimpinan
dalam pengkaderan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Provinsi Lampung.
penelitian ini bersifat deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
pengurus, ketua, serta para Anggota yang ada di Gerakan Pemuda Ansor (GP
Ansor) Provinsi Lampung yang berjumlah 60 orang. Dalam hal ini Penulis
menggunakan teknik purposive sampling dalam memilih subyek-subyek
sampelnya, maka sampel dalam penelitian ini adalah pengurus dan ketua di
Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Provinsi Lampung yang berjumlah pengurus
5 orang dan anggota yaitu berjumlah 14 orang. Dalam analisa data digunakkan
analisis kualitatif deskriptif, adapun dalam pengambilan kesimpulan
menggunakan pendekatan berpikir induktif. Dapat disimpulkan bahwasanya
srtategi kepemimpinan yang digunakan Ketua Gerakan Pemuda Ansor telah
berjalan dengan baik yang dimana sampai saat ini masih banyaknya anggota
dalam organisasi gerakan pemuda ansor tersebut. Berikut beberapa faktor
pendukung adanya fasilitas yang mendukung dalam pengkaderan yang
dilaksanakan di gerakan pemuda Ansor Provinsi Lampung
Kata Kunci :Strategi Kepemimpinan, Pengkadera
Pola Komunikasi Organisasi Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Ranting Desa Pruwatan Dalam Membina Organisasi
GP Ansor merupakan organisasi keagamaan yang cukup besar dari pusat hingga ranting. Masing-masing ranting maupun pusat selalu mempunyai keunikan tersendiri. Keunikan GP Ansor ranting desa Pruwatan sendiri yaitu meski minim anggota dan pengurus tetapi setiap menjalankan program-program atau kegiatan selalu berjalan dengan baik seperti kegiatan keagamaan dan yang lainnya.
Berdasarkan penjelasan di atas, makan timbulah pertanyaan, bagaimana pola komunikasi organisasi Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), bagaimana arah komunikasinya dalam membina organisasi? Pada penelitian ini penulis memilih objek penelitian di GP Ansor ranting desa Pruwatan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pendekatan deskriptif adalah pengumpulan data berupa kata-kata dan gambar. Peneliti juga melakukan tinjauan langsung ke GP Ansor ranting Pruwatan melakukan wawancara dengan pihak terkait, menganalisis data melalui dokumentasi.
Hasil penelitian yang di temukan bahwa pimpinan GP Ansor menggunakan pola roda dan bintang untuk membina organisasi. Pola aliran komunikasi yang terjadi di GP Ansor yang dominan adalah aliran komhnikasi formal, yang mana arah aliran komunikasi ini secara vertikal yakni komunikasi ke atas dan ke bawah, arah komunikasi secara horizontal. Selain itu, pola aliran komunikasi informal juga terjadi di GP Ansor, yang mana aliran komunikasi informal ini melibatkan komunikasi antar pribadi di antara para pengurus, anggota maupun ketua GP Ansor
Pandangan GP Ansor terhadap Salafi Wahabi: studi kasus pembubaran pengajian oleh GP Ansor
Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana Pandangan GP Ansor Sidoarjo Terhadap Salafi Wahabi, 2. Apa Motif GP Ansor Sidoarjo dalam Pembubaran Pengajian. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, dan teknik pengumpulan datanya adalah dengan observasi, wawancara, serta dokumen yang terkait dengan penelitian. Teori yang digunakan adalah Konsep Gerakan Sosial, Teori Gerakan Sosial, Agama dan Politil, Teori Gerakan Keagamaan, Gerakan Transnasional, Kaum Wahabi Indonesia, Tradisi Lokal, Teori Motif, Tipologi Salafi Wahabi, Teori Salafi, Perpu Ormas No.2 Tahun 2017 Pasal 59. hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1.Pandangan GP Ansor terhadap Salafi Wahabi, Ulama Ahlusunnah Wal jamaah menegaskan bahwa golongan mujasimah yang bukan bertauhid asy`ari wal maturidi seperti salafi wahabi itu bukan dari golongan ASWAJA. Sehingga menurut GP Ansor bahwa aliran Salafi Wahabi tidak boleh berkembang di Indonesia karena bertentangan dengan local wisdom atau kearifan lokal yang ada di Indonesia, kecenderungan dari aliran Salafi Wahabi menurut GP Ansor lebih kepada arah menyalahkan atau menyesatkan ajaran Islam yang ada di Indonesia sehingga rawan terjadinya konflik. Hal ini wajar karena GP Ansor yang melestarikan Islam Nusantara merasa Salafi Wahabi selalu meskriminakisan Islam Nusantara sebagai ahli bid’ah, seperti tahlilan dan Maulid Nabi Muhammad yang secara tegas dikatakan sebagai Bid’ah, oleh para salafi wahabi di Indonesia, 2. Pembubaran Pengajian Salafi Wahabi yang dilakukan oleh GP Ansor sebenarnya itu tidak benar, apalagi ada tuduhan kalau Ansor tidak sesuai dengan para ulama NU terdahulu, sikap Ansor sangatlah Radikal. Ansor hanya menghentikan pengajian lalu kemudian diganti oleh penceramah lainnya.Karena ini bukan pengajian tetapi ini kampanye Khilafah. Takutnya kalau masih tetap dilanjutkan akan semakin menebar kebencian dakesalapahaman. GP Ansor dan dibantu oleh Banser sebenarnya hanya ingin menegakkan kesatuan NKRI dari bahayanya ajaran Radikal seperti Salafi Wahabi. Jika melihat dalam kacamata hukum lebih tepatnya mengacu pada perpu Ormas No 2 tahun 2017 pasal 59 dengan tegas menyatakan bahwa “ Pertama,melakukan tindakan permusuhan terhadap Suku, Agama, Ras, atau golongan Kedua, melakukan penyalahgunaan, penistaan, atu penodaan terhadap agama yang dianut di Indonesia. Ketiga, melakukan tindakan kekerasan, mengganggu ketentraman dan ketertiban umum, atau merusak fasilitas umum dan fasilitas sosial. Keempat, melakukan kegiatan yang menjadi tugas dan wewenang penegak hukum sesuai degan ketentuan peraturan peundang-udangan. Melihat GP Ansor Sidoarjo melakukan tindakan pembubaran pengajian sudah menyalahi aturan diatas, dan secara hukum GP Ansor tidak dibenarkan atau salah. Karena yang memiliki wewenang untuk membubarkan pengajian yang berindikasi memecah belah dan menganggu kesetabilitasan Negara adalah pihak kepolisian
SEJARAH LAHIRNYA GERAKAN PEMUDA ANSOR PADA ORGANISASI MASYARAKAT NAHDLATUL ULAMA
The history of the birth of the Ansor Youth Movement (GP Ansor) cannot be separated from the long history of the birth and movement of the community organization Nahdlatul Ulama (NU). The birth of GP Ansor was also driven by conditions in the Dutch East Indies at that time, where regional youth organizations had emerged such as Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatra, Jong Minahasa, Jong Celebes, and others. The birth of GP Ansor was colored by the spirit of the nationalism movement to fight for the nation's independence. GP Ansor was born in an atmosphere of integration between the pioneering youth after the Youth Pledge (Sumpah Pemuda), the spirit of nationalism, democracy, and at the same time the religious spirit of Islam.Keywords: History, Community Organization, Ansor Youth Movement, Nahdlatul UlamaAbstrakSejarah lahirnya Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang kelahiran dan gerakan organisasi masyarakat (ormas) Nahdlatul Ulama (NU). Kelahiran GP Ansor juga didorong oleh kondisi di Hindia Belanda pada saat itu, di mana-mana telah muncul organisasi pemuda yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Minahasa, Jong Celebes, dan lain-lain. Kelahiran GP Ansor diwarnai oleh semangat pergerakan nasionalisme untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa. GP Ansor terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pasca-Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan Islam.Kata Kunci: Sejarah, Organisasi Masyarakat, Gerakan Pemuda Ansor, Nahdlatul Ulam
Strategi Politik Gerakan Pemuda Ansor dalam Partai Kebangkitan Bangsa di Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan
Kader GP Ansor Musi Banyuasin juga merupakan anggota atau kader dari Partai Kebangkitan Bangsa, PKB merekrut kader-kader partainya dari organisasi GP Ansor, sehingga terjadi hubungan untuk saling bekerja sama dalam hal politik. Maka sebagian besar kader GP Ansor menyalurkan aspirasi politiknya di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) karena GP Ansor adalah kader politik Nahdlatul Ulama (NU) dan partai yang berbasis Nahdlatul Ulama (NU) yaitu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Adapun rumusan masalah untuk mengetahui strategi apa yang dilakukan GP Ansor untuk memasarkan Partai Kebangkitan Bangsa di Kabupaten Musi Banyuasin. Untuk mengetahui apa saja kendala GP Ansor dalam memasarkan Partai Kebangkitan Bangsa di Kabupaten Musi Banyuasin.
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan teknik analisa data yang meliputi: Reduksi data, Penyajian data, dan yang terakhir dilakukan dengan cara menarik kesimpulan dari data-data yang telah terkumpul.
Strategi politik yang dilakukan GP Ansor melakukan proses pendekatan diberbagai kegiatan GP Ansor. hal yang paling utama pendekatan dengan para kader-kadernya pendekatan dengan para kader-kader GP Ansor dilakukan pada saat DIKLATSAR dan juga pertemuan rutin bulanan GP Ansor. Selanjutnya GP Ansor juga melakukan pendekatan di berbagai kegiatan GP Ansor, seperti GP Ansor bersholawat, dan GP Ansor juga melakukan pendekatan di beberapa pesantren-pesantren yang berbasis NU di Kabupaten Musi Banyuasin, untuk kaum ibu-ibu atau perempuan GP Ansor melakukannya dengan cara perantara, GP Ansor bekerja sama dengan Fatayat dan Muslimat untuk pemasaran PKB dikalangan perempuan. GP Ansor juga menggunakan sosial media seperti, facebook, whatsapp dan juga instagram. untuk lembaga dakwah GP Ansor melakukan pemasaran politik di kegiatan GP Ansor bersholawat GP Ansor merupakan kekuatan utama PKB untuk mendapatkan suara masyarakat terutama warga NU di Kabupaten Musi Banyuasin.
Adapun kendala-kendala yang selama ini membuat PKB belum bisa bersaing dengan partai politik lainnya di Kabupaten Musi Banyuasin, yang pertama, faktor popularitas, yang kedua faktor keluarga dan yang ketiga yaitu faktor x (money politic dan kampanye hitam).
Kata Kunci: GP Ansor, Strategi Politik, Musi Banyuasin dan PK
Gerakan pemuda ansor: Dari era kolonial hingga pascareformasi
Ansor bersama-sama dengan induknya, NU, adalah garda depan dalam melawan kecenderungan menguatnya politikidentitas yang mengatasnamakan agama, tatkala elemen-elemen lain dari bangsa ini seperti maju-mundur atau bahkan takut untuk menghadapinya.Pemikiran aswaja mendorong Ansor untuk menjadi moderat dan fleksibel baik dalam bidang politik maupun sosial. Sikap fleksibel itu memungkinkan Ansor dapat mempertahankan eksistensinya dalam berbagai situasi kekuasaan. Dalam bidang sosial, fleksibilitas itu membuat Ansor dapat membangun relasi dengan berbagai elemen masyarakat, seperti gerakan pemuda lainnya, beragam kelompok Islam, dan khususnya dengan kelompok minoritas. Di bidang ekonomi, fleksibilitas Ansor dapat menentukan pilihan untuk berkiprah dalam ekonomi kerakyatan di pedesaan sekaligus membangun jejaring dengan institusi-institusi besar ekonomi
Perkembangan gerakan pemuda Ansor Kabupaten Sukabumi tahun 2015-2022
Gerakan Pemuda Ansor merupakan organisasi kepemudaan yang dinaungi oleh Nahdlatul Ulama (NU). Dengan memiliki komitmen yang jelas terhadap bangsa Indonesia dan ajaran Islam Ahlusunnah Waljama’ah dalam setiap kegiatan dan gerakan organisasinya. Penilitian ini dilakukan untuk menjelaskan mengenai perkembangan Gerakan Pemuda Ansor sebagai wadah untuk mengembangkan potensi pemuda di Kabupaten Sukabumi di mana wilayah ini menarik untuk dikaji mengenai perkembangan organisasi kemasyarakatannya karena memiliki agenda kegiatan yang lebih banyak dibanding wilayah lain sehingga diperlukan penelitian yang lebih lengkap mengenai bagaimana perkembangan yang telah terjadi dalam organisasi Gerakan Pemuda Ansor untuk mendapatkan informasi yang terbaru.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Profil Gerakan Pemuda Ansor di Kabupaten Sukabumi, serta untuk mengetahui Perkembangan Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sukabumi 2015-2022.
Metode yang digunakan dalam metode penelitian ialah Metode Penelitian Sejarah (MPS) yang terdiri dari empat tahapan, yaitu Pertama, Heuristik (pengumpulan sumber), Kedua, Kritik (validasi sumber), Ketiga, Interpretasi (penafsiran), Keempat Historiografi (penulisan sejarah).
Berdasarkan hasil penelitian yang telah penulis lakukan Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sukabumi berperan aktif dalam memajukan masyarakat. Terdapat berbagai kegiatan yang berkembang dan menjadi kegiatan rutinan seperti pengkaderan, pengajian rutinan, dan berbagai agenda keagaaman, pendidikan serta agenda sosial lainnya. Geraka Pemuda Ansor Kabupaten Sukabumi juga berupaya untuk selalu membangun komitmen bersama dalam menanggapi persoalan-persoalan dalam berorganisasi Bangsa dan Negara. Diharapkan kesadaran dikalangan pemuda Indonesia untuk memperjuangkan proklamasi kemerdekaan Indonesia semakin meningkat agar tujuan utama dari Gerakan Pemuda Ansor dapat terwujud
Pendidikan Nilai-Nilai Deradikalisasi di GP Ansor
Berdasarkan penjajakan awal peneliti mengamati bahwa GP Ansor memang ada melakukan deradikalisasi secara sukarela. Di Indonesia terdapat GP Ansor, lembaga ini terfokus dalam kaderisasi dan bersifat komando, berhubung di organisasi ini tersebar di seluruh Provinsi di Indonesia dan dibeberapa kota yang dinaungi oleh Provinsi, Oleh karena alasan inilah penulis tertarik untuk meneliti dengan mengambil sampel di Wilayah Kalimantan Selatan. Kemudian fokus penelitian dalam penelitian ini adalah bagaimana fenomena radikalisme dan konsep pendidikan nilai-nilai deradikalisasi Sedangkan tujuannya adalah untuk mengetahui Deskripsi atau gambaran fenomena radikalisme dan konsepsi dari nilai-nilai pendidikan deradikalisasi yang diajarkan oleh organisasi GP Ansor.
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan. Pendekatan ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, tes, wawancara, dan dokumentasi. Setelah data yang dikumpulkan terkumpul, selanjutnya diproses melalui koleksi data, editing, reduksi data dan interpretasi data.
Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh simpulan bahwa GP Ansor memaknai radikalisme dalam bingkai politik, yakni agama digunakan secara radikal dalam wilayah politik, itu yang bisa menghancurkan agama dan menghancurkan tatanan politik. Adapun faktor yang menyebabkan terpapar radikalisme ada 3 yakni: Kurangnya ilmu pengetahuan,Fanatisme Buta, dan Sikap Intoleran.3 Nilai-nilai Deradikalisasi yang diajarkan oleh GP Ansor ialah: ukhuwah, menguatkan nilai-nilai keagamaan, menguatkan nilai-nilai wawasan kebangsaan. GP Ansor mengimplementasikan nilai-nilai deradikalisasi melalui Kaderisasi Formal. Dimulai dari tingkatan terbawah, Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD), lalu Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL), dan ditutup dengan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN). Sistem sejenis juga dilaksanakan untuk Banser, melalui Pendidikan & Pelatihan Dasar (Diklatsar), lalu Kursus Banser Lanjutan (Susbalan), dan ditutup dengan Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim). Sedangkan Nonformal, GP Ansor memiliki majelis zikir dan sholawa
- …
