635 research outputs found

    JARANAN POGOGAN TEGUH RAHAYU DESA SUGIHWARAS KECAMATAN PRAMBON KABUPATEN NGANJUK (Kritik Seni Holistik)

    No full text
    ABSTRAK JARANAN POGOGAN TEGUH RAHAYU DESA SUGIHWARAS KECAMATAN PRAMBON KABUPATEN NGANJUK (KRITIK SENI HOLISTIK) OLEH MARINDA LISA ANGGRAINI, 2018, Skripsi Program Studi S-1 Jurusan Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Surakarta. Jaranan Pogogan Teguh Rahayu merupakan kesenian Jaranan klasik yang berada di Desa Sugihwaras Kecamatan Prambon berdiri sejak tahun 1956 oleh Maridja. Maridja ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa terdapat kesenian jaranan, tayub dan wayang yang dijadikan satu menjadi sebuah kesenian yang disebut Pogogan. Jaranan Pogogan lebih mengangkat unsur gecul yang diekspresikan lewat mimik wajah, dialog dan beberapa gerakan yang digunakan dalam penyajiannya. Dalam penyajian dari kesenian Pogogan terdapat beberapa kritik yang tersirat pada setiap sajiannya, melalui media kesenian Pogogan dimaksudkan agar krtitikan tersebut dapat sampai kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan dan mengkaji secara anilitis tentang Jaranan Pogogan Teguh Rahayu, hubungan antara komponen verbal dan non-verbal, makna dari sajian Jaranan Pogogan Teguh Rahayu serta tanggapan dari masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan kritik seni holistik. Tahap penelitian yang digunakan adalah pengumpulan data dengan melakukan observasi, wawancara, dan studi pustaka. Seluruh data yang didapat kemudian di analisis dengan menggunakan pendekatan kritik holistik yang mencakup faktor genetik, faktor objektif serta faktor afektif. Untuk mengupas hal-hal yang berkaitan dengan faktor objektif secara koreografis menggunakan pemikiran dari Sumandiyo Hadi mengenai bentuk tari. Untuk mengkaji tindak tutur komponen verbal menggunakan pemikiran dari Kreidler. Faktor afektif yang berisi tentang tanggapan yang disampaikan oleh masyarakat maupun seniman tari, serta hubungan antara komponen verbal dan komponen non-verbal Jaranan Pogogan Teguh Rahayu. Integrasi Jaranan Pogogan Teguh Rahayu berdasarkan pengkajian dari faktor objektif dan makna yang terjadi akibat dari hubungan ketiga faktor yang ada. Kata kunci : Jaranan Pogogan, Kritik Seni Holistik, Integrasi Genetik, Objektif, Afektif Jaranan Pogogan Teguh Rahayu

    STUDI PENGARUH STANDARD OPERATING PROCEDURE PANDEMI COVID-19 TERHADAP KEDISIPLINAN KRU KAPAL MILIK PT.CIPTA SAMUDERA SHIPPING LINE

    No full text
    ABSTRAKSI Rahayu, Rindy Anggraini. 2022. “Studi Pengaruh Standard Operating Procedure Pandemi Covid-19 Terhadap Kedisiplinan Kru Kapal Milik Pt.Cipta Samudera Shipping Line”. Skripsi. Program Diploma IV, Program Studi Tatalaksanan Angkutan Laut dan Kepelabuhan, Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, Pembimbing I: Romanda Annas Amrullah, S.ST, M.M., Pembimbing II: Kristin Anita Indriyani, S.ST, M.M. Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh standard operating procedure dan pandemi Covid-19 terhadap kedisiplinan kru kapal milik PT. Cipta Samudera Shipping Line. Populasi dalam penelitian adalah para kru kapal milik PT. Cipta Samudera Shipping Line. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif dengan data primer dalam bentuk kuisioner atau angket. Jumlah kuisioner yang disebar kepada kru kapal dalam penelitian ini adalah sebanyak 56 kuesioner atau angket sesuai dengan data populasi yang telah ditentukan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data regresi linier berganda dengan uji normalitas dan uji hipotesis yang diolah dengan menggunakan SPSS versi 25.0 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa standard operating procedure secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kedisiplinan para kru kapal. Pandemi Covid-19 juga secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kedisiplinan para kru kapal. Selanjutnya secara simultan standard operating procedure dan pandemi Covid-19 berpengaruh signifikan terhadap kedisiplinan para kru kapal. Sehingga standard operating procedure dan pandemi Covid-19 merupakan hal yang sangat penting diperhatikan oleh kru kapal agar kegiatan operasional di atas kapal dapat berjalan dengan lancar dan aman, serta dapat tercapainya tujuan dari perusahaan

    PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BOOKLET BERBASIS APLIKASI CANVA PADA MATA PELAJARAN EKONOMI DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 12 PEKANBARU

    No full text
    Sri Rahayu Anggraini (2025): Pengembangan Media Pembelajaran Booklet Berbasis Aplikasi Canva Pada Mata Pelajaran Ekonomi Di Sekolah Menengah Atas Negeri 12 Pekanbaru Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran booklet pada materi pasar dan aktivitas ekonomi di SMA Negeri 12 Pekanbaru. Sesuai yang ditemukan dilapangan terdapat media pembelajaran yang belum bervariasi, sehingga membuat siswa belum memahami materi yang disampaikan. Booklet dijadikan sebagai media pembelajaran tambahan untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Metode penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model penelitian, 4-D (Define, Design, Develop and Disseminate). Instrument pengumpulan data berupa angket (Kuesioner) berupa lembar validası, lembar pratikalitas dan angket respon peserta didik. Hasil uji oleh media 85,93% (sangat Valid) dan hasil uji ahlı materi 87,5% (Sangat Valid) dan hasil angket respon pesera didik untuk uji media pembelajaran booklet memperoleh hasil sebasar 90.22% dengan kriteria sangat layak. Berdasarkan dari hasil menunjukkan bahwa media pembelajaran booklet berbasis aplikasi canva ini telah valid dan praktis digunakan. Kata kunci: Booklet Berbasis Aplikasi Canva, Ekonomi, Media Pembelajara

    ANALISIS KONDENSASI MESIN PENDINGIN YANG TIDAK OPTIMAL DI MT. ANGGRAINI EXCELLENT

    No full text
    ABSTRAKSI Dona Rahayu Palupi, NIT. 52155709. T, 2019 “Analisis kondensasi mesin pendingin yang tidak optimal di MT. Anggraini Excellent”, Program Diploma IV, Teknika, Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, Pembimbing I: H. Amad Narto, M.Pd, M.Mar.E dan Pembimbing II: Daryanto, S.H, M.M. Mesin pendingin adalah suatu rangkaian-rangkaian permesinan bantu yang mampu bekerja untuk menghasilkan suhu atau temperature dingin. Mesin pendingin dibagi menjadi dua yaitu mesin pendingin bahan makanan (Refrigerator) dan mesin pendingin akomodasi.. Refrigerator mempunyai 4 komponen utama yaitu Compresor, Condenser, Expansi Valve, dan Evaporatore. Refrigerator sendiri memiliki peranan yang sangat penting yaitu mengawetkan bahan makanan agar dapat bertahan lebih lama untuk keperluan crew kapal dalam jangka waktu yang cukup lama selama pelayaran. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah faktor penyebab kondensasi mesin pendingin yang tidak maksimal, Dampak yang diakibatkan dari kondensasi mesin pendingin, dan Upaya yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah kondensasi mesin pendingin yang tidak maksimal. Metode yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode Kualitatif dengan Fault Tree Analysis. Metode tersebut digunakan sebagai metode untuk menentukan prioritas dari masalah yang ada hingga ke akarnya. Menggunakan metode Fault Tree Analysis menemukan top event dari masalah kondensasi mesin pendingin yang tidak maksimal yaitu terjadi endapan pada pipa-pipa kondensor dan adanya udara didalam kondensor mesin pendingin. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa dampak yang terjadi dari kondensasi mesin pendingin yang tidak maksimal adalah tidak maksimalnya suhu ruang pendingin dan kondensor pada mesin pendingin cepat panas. Upaya yang dilakukan untuk kondensasi mesin pendingin yang tidak maksimal adalah dengan melakukan pembersihan terhadap pipa-pipa kondensor, menhilangkan udara dalam kondensor. ABSTRACT Dona Rahayu Palupi, NIT. 52155709.T, 2019 “Analysis of the Condensation Refrigeration Machine Not Maximum in MT. Anggraini Excellent”. Program Diploma IV, Technical, Merchant Marine Polytechnic of Semarang, 1st Supervision: H. Amad Narto, M.Pd, M.Mar.E and 2nd Supervision: Daryanto S.H, M.M The cooling machine is a series of auxiliary machinery that can work to produce cold temperatures or temperatures. The cooling machine is divided into two, namely food coolant machine (Refrigerator) and accommodation cooling machine. Refrigerator has 4 main components, namely Compressor, Condenser, Expansi Valve, and Evaporatore. Refrigerator itself has a very important role, namely preserving food so that it can last longer for the needs of the crew in a long period of time during the voyage. The formulation of the problem in this study is the causes of cooling machine condensation that are not optimal, the impact caused by condensation of the engine coolant, and efforts that must be made to overcome the problem of condensation of the engine that is not optimal. The method used in this paper is the Qualitative method with Fault Tree Analysis. This method is used as a method to determine the priority of existing problems to the root. Using the Fault Tree Analysis method to find the top event from the cooling machine condensation problem that is not optimal, there is sediment on the condenser pipes and the presence of air in the condenser of the cooling machine. From the results of this study it was concluded that the impact of the cooling machine condensation which is not optimal is not the maximum temperature of the coolant and condenser in the cooling machine to heat up quickly. Efforts that are made to condensate cooling machines that are not optimal is by cleaning the condenser pipes, removing the air in the condenser

    TOPONIMI DUSUN DAN DESA DI KECAMATAN GIRI MULYA KABUPATEN BENGKULU UTARA

    No full text
    ABSTRAK Ajeng Cristina Anggraini. 2021. Toponimi Dusun dan Desa di Kecamatan Giri Mulya Kabupaten Bengkulu Utara. Dr. Irma Diani, M.Hum, dan Dra. Ngudining Rahayu, M.Hum, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan IlmuPendidikan, Universitas Bengkulu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui toponimi yang mendasari penamaan dusun dan desa di Kecamatan Giri Mulya Kabupaten Bengkulu Utara. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Data pada penelitian adalah informasi dari informan yang paham mengenai sejarah dusun dan desa di Kecamatan Giri Mulya. Metode pengumpulan data yaitu dengan observasi, wawancara, rekam dan catat. Langkah-langkah analisis data (1) transkrip data, (2) identifikasi data, (3) klasifikasi data, (4) analisis dan (5) kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toponimi dusun dan desa di Kecamatan Giri Mulya pada penamaanya cenderung berkaitan dengan aktivitas manusia, keadaan sosial, dan perilaku manusia sedangkan penamaan lainya berkaitan dengan pengharapan. Kesimpulan pada penelitian ini adalah pada penamaan desa dan dusun mengacu pada aspek perwujudan: latar rupa bumi, latar perairan, latar lingkungan alam, Aspek kemasyarakatan: tradisi, aspek sosial, keadaan sosial serta tokoh masyarakat, aspek kebudayaan: nilai pikiran positif, dan dari segi etnolinguistik mengacu pada tiga unsur wujud kebudayaan sebagai sistem ide, aktivitas dan artefak. Saran bagi peneliti selanjutnya dapat mengkaji dan meneliti lebih dalam untuk melakukan penelitian penelitian yang mengkaji kebudayaan bahasa masyarakatnya berdasarkan pada teori etnolinguistik. Kata Kunci : Desa, Kecamatan Giri Mulya, Bengkulu Utra

    KESANTUNAN BERBAHASA INDONESIA DALAM PEMBELAJARAN DI KELAS X MAN 1 MODEL KOTA BENGKULU

    No full text
    ABSTRAK Anggraini, Novia. 2018. Kesantunan Berbahasa Indonesia dalam Pembelajaran di kelas X MAN 1 Model Kota Bengkulu. Skripsi. Program Sarjana (S-1) Pendidikan Bahasa Indonesia. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Bengkulu. Pembimbing 1 : Dra. Ngudining Rahayu, M.Hum. 2. Drs. Bambang Djunaidi, M.Hum. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pematuhan dan pelanggaran kesantunan berbahasa Indonesia antara guru dan siswa dalam pembelajaran di kelas X MAN 1 Model Kota Bengkulu berdasarkan prinsip kesantunan Geoffrey Leech. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Objek penelitian ini adalah guru dan siswa di kelas X MAN 1 Model Kota Bengkulu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran di kelas X MAN 1 Model Kota Bengkulu terdapat (173) pematuhan tuturan prinsip kesantunan Geoffrey Leech dengan 6 maksim, dan (12) pelanggaran tuturan prinsip kesantunan Geoffrey Leech dengan 4 maksim. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa kesantunan berbahasa Indonesia di kelas X MAN 1 Model Kota Bengkulu banyak terdapat pematuhan prinsip kesantunan Geoffrey Leech, karena dari (185) data tuturan, terdapat (173) datatuturan pematuhan kesantunan berbahasa Indonesia, atau dengan kata lain memiliki tingkat pematuhan kesantunan yang tinggi yaitu 93,5%, dan terdapat (12) data tuturan pelanggaran kesantunan berbahasa Indonesia atau dengan kata lain memiliki tingkat pelanggaran kesantunan yang rendah yaitu 6,5%. Kata kunci: Kesantunan berbahasa, Prinsip Kesantunan Geoffrey Leech, Kelas X MAN 1 Model Kota Bengkulu

    Improving Prospective Basic Education Teachers' Capabilities on Digital Literacy: A Systematic Literature Review

    No full text
    AbstractDigital literacy is a fundamental competency that must be mastered in the 21st century. Digital literacy skills are the key to presenting interesting, interactive, actual, and factual learning. Therefore, efforts to improve the digital literacy abilities of prospective teachers need to be carried out. The purpose of this research is to explore the efforts that need to be made by teachers and institutions to improve teachers' digital literacy skills. The method used in this research is a literature study. Literature is obtained from various kinds of research articles that are reputable in the national and international spheres. Article analysis was carried out by examining efforts to increase digital literacy skills from each source, and categorizing several efforts into several categories. The results of this study indicate that there are several efforts to improve the digital literacy abilities of prospective teachers, including, procuring partnership programs between tertiary institutions and schools, developing digital-based teaching modules, developing digital web in the learning process, increasing digital literacy skills of prospective teachers using product-based methods, such as making videos/learning media), using problem-solving-based methods, using some frameworks in implementing education, procuring supporting facilities and developing curricula that integrate digital literacy content into each subject.Keywords: digital literacy, prospective teacher, basic education. AbstrakLiterasi digital merupakan kompetensi dasar yang harus dikuasai di abad 21. Kemampuan literasi digital menjadi kunci tersajinya pembelajaran yang menarik, interaktif, aktual, dan faktual. Oleh karenanya, upaya peningkatan kemampuan literasi digital calon guru perlu dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi upaya-upaya yang perlu dilakukan oleh guru maupun lembaga untuk meningkatkan kemampuan literasi digital guru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur. Literatur didapatkan dari berbagai macam artikel penelitian yang bereputasi dalam ranah nasional dan internasional. Analisis artikel dilakukan dengan menelaah upaya-upaya peningkatan kemampuan literasi digital dari setiap sumber, dan mengkategorikan beberapa upaya menjadi beberapa kategori. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat sejumlah upaya dalam meningkatkan kemampuan literasi digital calon guru, diantaranya, pengadaan program kemitraan antar perguruan tinggi dan sekolah, pengembangan modul ajar berbasis digital, pengembangan web digital dalam prose pembelajaran, meningkatkan kemampuan literasi digital calon guru dengan menggunakan metode perbasis produk (seperti membuat video/media pembelajaran), menggunakan metode berbasis pemecahan masalah, penggunaan sejumlah frame work dalam pelaksanaan pendidikan, pengadaan fasilitas yang mendukung dan mengembangkan kurikulum yang mengitegrasikan konten literasi digital ke dalam setiap mata pelajaran.Kata kunci: literasi digital, calon guru, pendidikan dasar

    Typhlocarcinops hirtus Ng & Rahayu 2020, n. sp.

    No full text
    <i>Typhlocarcinops hirtus</i> n. sp. <p>(Figs. 62–64)</p> <p> <b>Material examined</b>. Holotype: male (10.6 × 8.1 mm) (MZB Cru 4810), Kuta, coll. 18 August 2006. Paratypes: 1 female (11.4 × 8.3 mm) (MZB Cru 4811), 2 females (10.9 × 7.5 mm, 13.8 × 10.2 mm) (ZRC 2018.0273), same data as holotype; 1 male (11.8 × 8.1 mm) (MZB Cru 4812), Sekotong, coll. 16 May 2009; 1 male (15.0 × 11.0 mm) (ZRC 2015.0486), Sekotong, coll. 10 May 2007; 1 male (7.1 × 5.2 mm) (ZRC 2018.0274), Teluk Kombal, coll. D.L. Rahayu, April 2014; 1 male (11.7 × 8.4 mm) (ZRC 2015.0485) Jerowaru, coll. 10 May 2004; 1 female (8.6 × 6.1 mm) (ZRC 2013.1756), Medana, coll. 12 June 2007; 3 males (5.3 × 4.0 mm, 5.4 × 4.0 mm, 4.5 × 3.4 mm) (ZRC 2018.0718), Kuta, coll. D.L. Rahayu, 19 August 2008. All locations in Lombok Island, Indonesia.</p> <p> <b>Diagnosis</b>. Carapace (Figs. 62A, B, 63B) 1.4−1.5 times broader than long, surface smooth, covered with short pubescence on surface, longer plumose setae on lateral and frontal margins, regions demarcated, H-shaped gastrocardiac grooves deep, distinct, anterolateral margin arcuate, lined with small granules, granules at junction with posterolateral margin separated by shallow indentation obscured by long setae; posterolateral margin subparallel, surface and margin with scattered tubercles. Front bilobed (Fig. 62B, C), with shallow median cleft, margin of each lobe convex. Orbit (Fig. 62C) short, bulbous ocular peduncles filling orbit, immovable, cornea small, pigmented. Epistome (Fig. 62C) relatively broad, triangular median lobe with median suture. Antennal peduncles long. Third maxilliped (Fig. 64A) with outer surface of merus covered with small granules on distal margin, outer margin straight, anteroexternal angle rounded; ischium squarish, distinctly longer and slightly broader than merus; exopod relatively stout. Chelipeds in male unequal, subequal in females (Figs. 61A, F, G, 63B), fingers of major chela smooth except for few tubercles hidden by row of long setae on dorsal surface of dactylus proximally, longitudinal ridge on dactylus and fixed finger; surface of palm pubescence, and with sparse long setae, outer lower surface of palm with tubercles continued to fixed finger proximally, cutting edges of fingers with prominent broad teeth; carpus and merus pubescence, margins covered with long setae; inner angle of carpus with sharp, denticulate protuberance (Fig. 63A). P2−P5 proportionally short (Figs. 62A, 63B), lateral surface, dorsal and ventral margins fringe with long setae; dactylus straight; merus of P5 not reaching front when folded. Fused thoracic sternites 1, 2 broadly triangular (Fig. 62D), proportionally narrow; thoracic sternites 3, 4 partially fused, with only lateral suture discernible. Male pleon (Figs. 62D, E, 64B) relatively broad; telson long, twice length of somite 6, subtriangular. G1 (Fig. 64 C–F) slender, slightly curved, upper half distinctly longer than lower half, distal part slightly sinuous, tip broad, pointed upward, with rows of setae near opening. Female pleon (Fig. 63C) broad, somite 1 reaching coxae of fourth ambulatory legs, tapering to pointed edge; telson subtriangular; vulva (Fig. 63D) relatively broad, ovate.</p> <p> <b>Etymology</b>. From the Latin <i>hirtus</i>, hairy, in allusion to the long setae covering carapace, chelipeds and ambulatory legs.</p> <p> <b>Remarks</b>. <i>Typhlocarcinops hirtus</i> <b>n. sp.</b> is superficially similar to <i>T. tonsuratus</i> from Australia, which is also a distinctly tomentose species. <i>Typhlocarcinops hirtus</i> <b>n. sp.</b> can be distinguished by its more transversely rectangular carapace with the width to length ratio 1.4‒1.5 (Figs. 62A, 63B) (versus carapace more squarish with the width to length ratio 1.2 in <i>T. tonsuratus</i>; Fig. 34A); the ischium of the third maxilliped is distinctly longer and slightly broader than the merus, with the inner and outer margins straight (Fig. 64A) (versus the ischium of the third maxilliped is only slightly longer than the merus, with the inner margin of the ischium slightly oblique in <i>T. tonsuratus</i>; Fig. 34B); and the G1 is slightly curved on the lower half, with the distal part sinuous, the tip broad and the opening has rows of setae setae (Fig. 64 C–F) (versus G1 strongly curved on lower half, the distal part gently curved upwards, the tip upcurved with two series of short and long setae distally in <i>T. tonsuratus</i>; Fig. 34 E–G).</p> <p> The general carapace shape and degree of setation on <i>T. hirtus</i> <b>n. sp.</b> closely resembles <i>Paraselwynia ursina</i> Tesch, 1918, described from nearby Kei Islands in the Moluccas. The first author managed to examine the type female (and only known specimen) and it is refigured here (Figs. 65, 66) as the original drawings by Tesch (1918) are somewhat schematic. <i>Typhlocarcinops hirtus</i> <b>n. sp.</b> differs from <i>Paraselwynia ursina</i> in having the dorsal surface of the carapace almost flat (Fig. 62C) (versus prominently domed and convex in <i>P. ursina</i>; cf. Fig. 65C); the frontal margin is distinctly bilobed with convex lobes (Fig. 62B, C) (versus frontal margin almost straight and entire in <i>P. ursina</i>; cf. Fig. 65B, C); ischium of the third maxilliped is subrectanguar with the merus quadrate (Fig. 64A) (versus ischium of third maxilliped subtrapezoidal with the merus subovate in <i>P. ursina</i>; cf. Fig. 66A); the setae are concentrated on the dorsal margin of the dactylus of the chela with the pollex mostly glabrous (Fig. 62F, G) (versus both fingers of the chela covered with very dense setae which partially obscures the surfaces in <i>P. ursina</i>; cf. Fig. 65F, G); the female pleon is narrowly ovate with the telson acutely triangular (Fig. 63C) (versus female pleon broadly ovate with the telson semicircular in <i>P. ursina</i>; cf. Fig. 65D); and the vulvae are smaller and positioned closer to the median line (Fig. 63D) (versus vulvae relatively larger and positioned further apart in <i>P. ursina</i>; cf. Fig. 65E).</p> <p> This is the only species of <i>Typhlocarcinops</i> known to live in the intertidal area, collected among seagrass in sandy mud substrate.</p> <p> <b>Type locality</b>. Kuta, southern Lombok Island.</p> <p> <b>Distribution</b>. Known only from Lombok Island, Indonesia, thus far.</p>Published as part of <i>Ng, Peter K. L. & Rahayu, Dwi Listyo, 2020, A synopsis of Typhlocarcinops Rathbun, 1909 (Crustacea: Decapoda: Brachyura: Pilumnidae), with descriptions of nine new species from the Indo-West Pacific, pp. 1-100 in Zootaxa 4788 (1)</i> on pages 75-78, DOI: 10.11646/zootaxa.4788.1.1, <a href="http://zenodo.org/record/3878222">http://zenodo.org/record/3878222</a&gt

    Evaluasi Analisis Jabatan Pada Biro Umum Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan

    No full text
    Analisis jabatan pada lingkup organisasi maupun kelembagaan perlu dilakukan agar dapat mendesain organisasi serta menetapkan uraian pekerjaan, spesifikasi pekerjaan, dan evaluasi pekerjaan. Biro Umum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah melaksanakan penyusunan dan penetapan analisis jabatan sesuai dengan peraturan pemerintahan dan telah melaksanakan pada tahun 2012 hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi analisis jabatan pada Biro Umum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berbasis taksonomi bloom dan matriks analisis jabatan yang mengacu pada teori Snell untuk mendesain analisis jabatan ideal. Data diolah berbasis taksonomi bloom dengan penilaian ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Berdasarkan hasil evaluasi analisis jabatan didapatkan hasil berupa perubahan uraian tugas dengan melihat tingkatan manajemen organisasi dan didapatkan desain analisis jabatan ideal pada kondisi 2019

    ASPEK PSIKOLOGI WANITA DALAM NOVEL BURUNG-BURUNG RANTAU KARYA Y.B. MANGUNWIJAYA

    No full text
    Psikologi wanita sebagai salah satu bagian dari psikologi sastra banyak membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan wanita yang di dalamnya terdapat hal-hal yang menarik dan perlu untuk dibahas dan ditelusuri lebih mendalam, sebab masalah tentang wanita tidak akan pernah habis dan bosan untuk dibahas dan dipelajari terutama masalah wanita yang diangkat dalam suatu karya sastra salah satunya yang terdapat dalam novel Burung­Burung Rantau Karya Y.B Mangunwijaya. Masalah yang dibahas dalam penelitian adalah (1) bagaimanakah pengaruh lingkungan terhadap kepribadian wanita dalam novel Burung­Burung Rantau karya Y.B. Manguwijaya ? (2) bagaimanakah erotik wanita dalam novel Burung­Burung Rantau karya YB. Manguwijaya ? (3) bagaimanakah intuisi wanita dalam novel Burung­Burung Rantau karya Y.B. Manguwijaya ? Metode yang digunakan adalah metode ekstrinsik. Metode pengumpulan data menggunakan studi pustaka. Dalam analisis data menggunakan teknik membaca dan interpretasi
    corecore