1,570 research outputs found
TINJAUAN PENGENDALIAN MISSFILE DOKUMEN REKAM MEDIS DI FILING RAWAT JALAN RUMAH SAKIT BHAYANGKARA SEMARANG TAHUN 2013
Program Studi Diploma III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang 2013 ABSTRAK RIA ANGGRAENI “TINJAUAN PENGENDALIAN MISSFILE DOKUMEN REKAM MEDIS DI FILING RAWAT JALAN RUMAH SAKIT BHAYANGKARA SEMARANG TAHUN 2013” Melihat pentingnya peranan dokumen rekam medis dalam menciptakan informasi medis yang berkesinambungan, peneliti tertarik untuk meneliti masalah tentang tinjauan pengendalian missfile di filing Rumah Sakit Bhayangkara Semarang. Rumah Sakit Bhayangkara Semarang menggunakan sistem penyimpanan desentralisasi. Dari survei awal ditemukan 4,3% DRM yang missfile. Permasalahan yang lain adalah belum digunakannya tracer dan kelalaian petugas saat pengembalian dokumen rekam medis ke filing. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif yaitu mengumpulkan data dengan cara melakukan pengamatan secara langsung terhadap penelitian. Metode yang digunakan adalah metode wawancara dan observasi. Observasi yang dilakukan pada 229 DRM dan wawancara pada petugas. Pengumpulan data menggunakan data primer dan sekunder. Dalam penjajaran dokumen rekam medis di filing menggunakan sistem Straight Numberical Filing (SNF) dan sistem penyimpanan desentralisasi. Dari hasil pengamatan yang diperoleh bahwa penyimpanan DRM di filing tidak menggunakan tracer dan menyebabkan tingkat kejadian missfile 18,5%. Keuntungannya menggunakan tracer salah satunya mengurangi tingkat terjadinya missfile. Dari hasil penelitian tersebut, bahwa pelaksanaan belum dilaksanakan sesuai protap yang sudah ada. Maka disarankan untuk mengubah sistem penyimpanan menjadi sentralisasi, mengganti kotak filing dengan rak filing besi agar bisa dijalankan tracer dan kode warna serta memperingankan kerja petugas dalam pengembalian dokumen rekam medis dan membagi pekerjaan petugas di setiap bagiannya
Kesalahan Penggunaan Partikel (ba) Pada Mahasiswa Pendidikan Bahasa Mandarin angkatan 2014 Universitas Negeri Malang
ABSTRAK Anggraeni, Novita Ria. 2016. “Kesalahan Penggunaan Partikel把 ( ba ) Pada Mahasiswa Pendidikan Bahasa Mandarin Angkatan 2014 Universitas Negeri Malang”. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa Mandarin, Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Primardiana H.W., M.Pd. (2) Iwa Sobara, S. Pd., M.A. Kata Kunci: kesalahan, partikel把 ( ba ), kalimat Dalam bahasa Mandarin terdapat berbagai macam partikel, salah satunya adalah partikel把 ( ba ). Sekilas penggunaan partikel把 ( ba ) tampak sederhana, namun terdapat beberapa mahasiswa yang belum menguasai terkait penggunaan partikel把 ( ba ) dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk kesalahan penggunaan partikel把 ( ba ) pada kalimat bahasa Mandarin dan faktor-faktor penyebab terjadinya kesalahan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Pendidikan Bahasa Mandarin Universitas Negeri Malang dan sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa Mandarin angkatan 2014 offering A Universitas Negeri Malang dengan jumlah mahasiswa sebanyak 25 orang yang terdiri dari tiga laki-laki dan 22 perempuan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen tes dan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa mahasiswa masih melakukan kesalahan terkait penggunaan partikel把 ( ba ). Bentuk kesalahan yang sering dilakukan adalah kesalahan dalam menempatkan partikel把 ( ba ) setelah kata kerja dan setelah subjek. Faktor yang menjadi penyebab utama mahasiswa melakukan kesalahan dalam menyusun kalimat terkait partikel把 ( ba ) adalah karena mahasiswa tidak mengenal kata atau tidak mengerti hànzì, mahasiswa belum memahami penyusunan partikel把 ( ba ) dalam kalimat, mahasiswa merasa penjelasan dosen Mandarin yang kurang jelas, dan mahasiswa merasa sulit jika dihadapkan pada kalimat yang panjang
THE COMPARATIVE STUDY BETWEEN THE STUDENTS’ MASTERY IN ENGLISH VOCABULARY BY USING CONVENTIONAL AND AUDIOVISUAL TECHNIQUE AT THE FIFTH GRADE STUDENTS OF SDN PARAKAN 1 KABUPATEN MAJALENGKA
RIA NUR ANGGRAENI : THE COMPARATIVE STUDY BETWEEN THE STUDENTS’ MASTERY IN ENGLISH VOCABULARY BY USING CONVENTIONAL AND AUDIOVISUAL TECHNIQUE AT THE FIFTH GRADE STUDENTS OF SDN PARAKAN 1 KABUPATEN MAJALENGKA
This research is conducted to compare the studying English vocabulary using conventional and audiovisual technique to the Elementary school students. Teaching vocabulary to Elementary School students is not an easy task. It requires a lot of creativity from a professional teacher. The objective of the study is to identify whether there is any significant differences in students‟ mastery in vocabulary between those who were taught by using conventional technique and those who were taught by using audiovisual. This way, hopefully, would be useful for teachers and students in language teaching and learning process.
The Elementary school students have different characteristics with adults; they easily get bored, losing interest after ten minutes or so. A teacher of this level has got a challenging task to motivate them. He or she needs to modify the way of their teaching. So, they can use the media in order to attract their attention and interest.
Experimental research was used here to get the data. The object of this study was the fifth graders of SDN Parakan I. The numbers of them were 30 students. Based on the data obtained, from the school of the fifth graders of SDN Parakan I, the scores of vocabulary test by students who were taught by using audiovisual are better than those who were taught by using conventional technique.
The t-test application to the scores of the two groups showed that the t-test (2.335) is higher than the t-table number (1.989). Therefore, the way of teaching vocabulary by using audiovisual presented in this final project was proved to be better.
Therefore, teacher should always try to find better techniques for their teaching. Based on the result, teachers can apply the use of audiovisual (television) as an alternative way in improving students‟ vocabular
Pembuatan Busana Avantgarde Berbahan Plastik Dengan Hiasan Motif Garis
ABSTRAK Rahayu, Ria Anggraeni Sri. 2014. Pembuatan Busana Avantgarde Berbahan Plastik dengan Hiasan Motif Garis. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri, Program Studi Diploma Tiga Tata Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Nur Endah Purwaningsih, M.Pd , (II) Dra. Rosanti Rosmawati, M.Sn. Kata Kunci : Busana Avantgarde, Bahan Plastik, Hiasan Motif Garis Busana merupakan kebutuhan pokok manusia selain pangan dan tempat tinggal. Pada awalnya busana mempunyai fungsi sebagai alat pelindung diri dari pengaruh udara sekitar, binatang buas serta memenuhi unsur kesusilaan. Namun dengan seiring berkembangnya zaman busana tidak hanya menjadi alat pelindung diri, tetapi merupakan sarana untuk mengekspresikan diri bagi sipemakainya. Busana avantgarde merupakan busana yang digunakan untuk acara-acara fashion show atau acara panggung. Bahan yang digunakan pada busana avantgarde ini bermacam-macam dan disesuaikan dengan selera dan desain si pembuat. Dalam Pembuatan busana avantgarde ini, penulis menggunakan bahan yang jarang digunakan dalam busana, seperti biasanya. Bahan yang penulis gunakan adalah jenis bahan plastik mika, selain itu penulis juga menambahkan hiasan motif garis menggunakan bahan pita satin pada bagian bahan plastik. Dalam Pembuatan Busana Avantgarde Berbahan Plastik dan Hiasan Motif Garis, langkah awal adalah: (1) membuat sketsa; (2) desain produksi; (3) persiapan alat dan bahan; (4) pengukuran badan model; (5) pembuatan pola; (6) merancang bahan dan harga; (7) pembuatan draftbusana; (8) pemotongan bahan (cutting); (9) proses menjahit (sewing); (10) pengepasan busana (fitting); (11) membuat hiasan; (12) finishing. Kesimpulan saat proses pembuatan yaitu dibutuhkan ketelitian serta berhati-hati saat memasang bahan plastik yang dibentuk bergelombang. Selain itu pada saat memasukkan kawat BWG pada bagian tepi plastik juga harus berhati-hati, sebab jika tergores atau tertusuk maka plastik akan langsung berlubang atau sobek. Selain pada pembuatannya pada perawatannnya pun juga perlu diperhatikan agar busana tetap terjaga keindahannya. Untuk proses perawatan apabila busana ini terlihat kusut, maka tindakan yang perlu dilakukan adalah menjemur langsung dibawah sinar matahari selama kurang lebih 1 jam
PELAKSANAAN PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEDAGANG PASAR TRADISIONAL TERHADAP KEHADIRAN RITEL MODERN DI KABUPATEN JOMBANG
Ria Dewi Anggraeni, Dr. Sukarmi, S.H., M.H., Ranitya Ganindha S.H., M.H., Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya [email protected]  ABSTRAK Indonesia merupakan negara yang pertumbuhan ekonominya bergerak sangat dinamis, arus globalisasi sebagai alat utama yang menggerakannya. Globalisasi mendorong pertumbuhan ekonomi dan menimbulkan terjadinya persaingan usaha. Menempatkan pasar ritel modern bersaing dengan pasar tradisional, tidaklah tepat, yang tepat adalah ritel modern dengan ritel modern, ritel tradisional dengan ritel tradisional. Akan tetapi yang menjadi persoalannya adalah peritel modern ada dan mengambil bagian dalam kehidupan pasar tradisional, sasaran pembeli pasar tradisional juga dibidik oleh pasar ritel modern. Di Kabupaten Jombang munculnya ritel modern secara besar-besaran mengakibatkan para pedagang pasar tradisional resah, karena keuntungan yang harus didapatkan mengalir ke ritel modern dengan berbagai bentuk. Hal ini menimbulkan dampak bagi pedagang pasar tradisional yaitu toko kios. Manjadi hal yang penting untuk memberikan perlindungan bagi para pedagang pasar tradisional. Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan hukum dalam penelitian ini adalah 1) Apakah faktor yang mempengaruhi ketidakfektifan dalam perlindungan hukum bagi pedagang pasar tradisional terhadap kehadiran ritel modern di Kabupaten Jombang 2) Bagaimana upaya yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Jombang untuk melindungi para pedagang pasar tradisional terhadap kehadiran ritel modern. Untuk menjawab permasalahan, maka penelitian hukum ini menggunakan metode penelitian yang digunakan adalah yuridis sosiologis. Berdasarkan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa 1) Bahwa dalam pelaksanaannya terdapat hambatan-hambatann dalam pemberian perlindungan hukum terhadap pedagang pasar tradisional salah satunya yaitu lemahnya pemerintah daerah karena dalam pembuatan peraturan daerah tidak merujuk pada aturan yang ada diatasnya yaitu peraturan presiden Nomor 112 tahun 2007 tentang penataan dan pembinaan pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko modern. 2) Bahwa dalam pelaksanaan perlindungan hukum yang diberikan oleh pemerintah Kabupaten Jombang masih belum berjalan dengan baik, karena masih kurangnya para aparatur untuk terjun langsung dalam memberikan perlindungan terhadap pedagang pasar tradisional. Kata Kunci: Pedagang Pasar Tradisional, Ritel Modern, Perlindungan Hukum  ABSTRACT Globalisation triggers economic growth and sparks competition in business. It seems inappropriate to see the competition between traditional markets and modern retail businesses, and the competition is deemed fair when it is between two retail businesses. However, in reality, modern retails have taken some part that should be for traditional markets as seen in the Regency of Jombang, where modern retails are increasingly growing in a huge number, and this situation is worrying for most of traditional traders in traditional market simply because the modern retails dominate the market and the profits as well. This certainly affects the existence of traditional traders who own kiosks in traditional market. Therefore, it is deemed essential to provide legal protection for the traditional traders. This issue serves as the basis of the following research problems: 1) what factors influence the inefficiency of the provision of legal protection aimed for traders in traditional market against the existence of modern retails in the Regency of Jombang? 2) What measures are taken by the local government of the Regency of Jombang to protect traditional market traders regarding the growing existence of modern retails? The discussion in this study concludes that 1) in terms of setting the regulation regarding this issue, the government is considered too weak to rule since it does not refer to higher law such as Presidential Regulation Number 112 of 2007, and 2) lack of direct inspection in the field by apparatuses is another problem that impedes the provision of protection for traditional market traders. Keywords: traditional market traders, modern retails, legal protectio
RIA for salmon IGFBP
Salmon plasma contains at least three insulin-like growth factor binding proteins (IGFBPs) with molecular masses of 41, 28 and 22 kDa. The 41-kDa IGFBP is similar to mammalian IGFBP-3 in size, type of glycosylation and physiological responses. In this study, we developed a radioimmunoassay (RIA) for the 41-kDa IGFBP. The 41-kDa IGFBP purified from serum was used for antibody production and assay standard. Binding of three different preparations of tracer were examined; 125I-41-kDa IGFBP, 125I-41-kDa IGFBP cross-linked with IGF-I (125I-41-kDa IGFBP/IGF-I) and 41-kDa IGFBP/125I-IGF-I. Only binding of 41-kDa IGFBP/125I-IGF-I was not affected by added IGFs, and therefore it was chosen for the tracer in the RIA. Plasma 41-kDa IGFBP levels measured by RIA were increased by growth hormone treatment (178.9 ± 4.9 ng/ml) and decreased after fasting (95.0 ± 7.0 ng/ml). The molarities of plasma 41-kDa IGFBP and total IGF-I were comparable, and they were positively correlated, suggesting that salmon 41-kDa IGFBP is a main carrier of circulating IGF-I in salmon, as is mammalian IGFBP-3 in mammals. During the parr-smolt transformation (smoltification) of coho salmon, plasma 41-kDa IGFBP levels showed a transient peak (182.5 ± 10.3 ng/ml) in March and stayed relatively constant thereafter, whereas IGF-I showed peak levels in March and April. Differences in the molar ratio between 41-kDa IGFBP and IGF-I possibly influence availability of IGF-I in the circulation during smoltification
“Russia and Turkey in the Geopolitics of Eurasia & the Theory of Median Space: Thesis-Synthesis-Antithesis”
The aim of this thesis is to address the issue of the broader geopolitical architecture of Eurasia using as a case study the Russian-Turkish diachronic relations which are being examined through an original and fresh geopolitical/geocultural theoretical framework introduced also in the pages of this research.
The introduction presents a brief overview of the aims, issues and questions that this study expects to achieve, approach and bring up for discussion.
This research is divided into three parts and each part contains two chapters.
Part I deals with the general theoretical framework within which this study is going to be delivered. Chapter 1 critically assesses the existing theoretical geopolitical debate and aims to designate the reasons for the urgent need for the articulation of a new theoretical perspective. Chapter 2 introduces an original approach in the geopolitical theory under the label of the ‘Integrated Geopolitical/Geocultural Theory of the Median Space’. The suggested model makes two major propositions. First that there is a diachronic ‘Median Space’ identity in a specific geographical space which was never disappeared in the midst of the eternal ‘East’-‘West’ competition and is surviving even today. Second, within the Median Space region there is a specific ‘pattern’ on the implementation of International Relations which also remained unchanged throughout the centuries since all the regional and extra-regional actors are operating, consciously or unconsciously, according to its precepts.
Having presented this newly introduced framework Part II and Part III of the research are trying through textual and empirical analysis, respectively to provide the necessary evidence that strengthen the abovementioned new geopolitical model.
Part II through a historical-sociological-anthropological perspective tries to prove the first proposition about the viability of a Median Space mentality. Thus, as a case-study, it examines the diachronic geocultural and geopolitical identity of Russia and Turkey in chapters 3 and 4, respectively.
Part III by engaging International Relations macroscopic and microscopic analysis through chapters 5 and 6, respectively aims to address the second proposition about the specific pattern that is being followed by all actors interacting in the Median Space. Chapter 5, in a macroscopic way examines the suggested pattern through a historical scrutiny of the relations between the spaces that nowadays is being characterized as Turkey and Russia. Chapter 6, in a microscopic way, depicts the contemporary developments of the region and tries to extract the evidence that could support the second Median Space proposition. Initially this chapter examines the ‘energy’ component through an analysis of the contemporary ‘energy game’ and then it approaches the ‘security’ component by moving from a micro-level to a macro-level International Relations analysis starting from the Caucasus area and expanding through the Black Sea-Straits-Aegean system to the whole Median Space region.
Conclusion recapitulates the findings of this research
LAPORAN KEGIATAN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN DI TK TUNAS IBU, SENDEN II, SELOMARTANI, KALASAN, SLEMAN
Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan salah satu mata kuliah
wajib yang harus ditempuh mahasiswa strata-1 kependidikan di Universitas
Negeri Yogyakarta. Tujuan dari program PPL UNY adalah untuk memberikan
kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal dan memahami permasalahan
sekolah terkait dengan proses pembelajaran, memberikan pengalaman kepada
mahasiswa dalam bidang pembelajaran di sekolah dalam rangka melatih dan
mengembangkan kompetensi keguruan atau kependidikan, serta memberikan
kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan yang telah
didapat selama perkuliahan guna mengembangkan sekolah. TK Tunas Ibu
merupakan salah satu lembaga sekolah yang ditunjuk oleh Universitas Negeri
Yogyakarta untuk menjadi lokasi PPL pada tahun 2014. Tk Tunas Ibu berlokasi di
dusun Senden II, Selomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta.
Tim PPL UNY 2014 di TK Tunas Ibu berasal dari 1 prodi yaitu prodi PG
PAUD, sehingga program yang dilaksanakan di TK meliputi program-program
yang berkaitan dengan pendidikan. Kegiatan PPL di TK Tunas Ibu berlangsung
selama 2,5 bulan sejak tanggal 2 Juli sampai 17 September 2014. Program
program yang telah disusun diawal kegiatan telah dilaksanakan dengan cukup
baik. Program-program tersebut diantaranya Pengadaan Karpet, pengadaan
gudang, pengadaan hiasan di dalam kelas, pengecetan alat permainan outdoor,
dan lain-lain.
Dari pelaksanaan kegiatan PPL di Tk Tunas Ibu, dapat disimpulkan
bahwa kegiatan PPL dapat memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam
mengenal dan mempelajari permasalahan di TK terkait proses pembelajaran,
memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan ilmu,
pengetahuan, dan keterampilan yang telah dipelajari dalam pembelajaran di
sekolah, serta dapat meningkatkan hubungan kemitraan yang baik antara UNY
dengan sekolah yang terkait
Pengaruh Lingkungan Kerja dan Stress Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada Bagian Produksi PT Ria Engineering, Jakarta Utara.
Penelitian ini tentang lingkungan kerja dan stress kerja yang dimana menjadi titik fokus utama dan perhatian khusus dalam kinerja karyawan di suatu perusahaan dan tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana pengaruh lingkungan kerja dan stress kerja terhadap kinerja karyawan pada bagian produksi PT. Ria Engineering. Pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah
pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian survei yang menggunakan teknik sampling jenuh yang berjumlah 100 responden. Teknik analisis data menggunakan uji
regresi linear berganda dengan model persamaan diolah dengan model persamaan diolah dengan SPSS 17 Y = 9,385 + 0,400 X1 + 0,383 X2. Hasil dari analisis data menunjukkan bahwa (X1) Lingkungan Kerja, (X2) Stress Kerja, berpengaruh terhadap Kinerja Karyawan (Y).
Kata kunci : Lingkungan Kerja, Stress Kerja, Kinerja Karyawa
Salmon IGFBP-1 RIA
Fish plasma/serum contains multiple insulin-like growth factor binding proteins (IGFBPs), although their identity and physiological regulation are poorly understood. In salmon plasma, at least three IGFBPs with molecular masses of 22, 28 and 41 kDa are detected by Western ligand blotting. The 22-kDa IGFBP has recently been identified as a homolog of mammalian IGFBP-1. In the present study, a radioimmunoassay (RIA) for salmon IGFBP-1 was established and regulation of IGFBP-1 by food intake and temperature, and changes in IGFBP-1 during smoltification were examined. Purified IGFBP-1 from serum was used for standard, tracer preparation and antiserum production. Crosslinking 125I-IGFBP-1 with salmon IGF-I eliminated interference by IGFs. The RIA had little cross-reactivity with salmon 28- and 41-kDa IGFBPs (< 0.5%) and measured IGFBP-1 as low as 0.1 ng/ml. Fasted fish had significantly higher IGFBP-1 levels than fed fish (21.6 ± 4.6 ng/ml vs 3.0 ± 2.2 ng/ml). Plasma IGFBP-1 was measured in individually tagged one-year old coho salmon reared for 10 weeks under four different feeding regimes as follows: high constant (2% body weight/day), medium constant (1% body weight/day), high variable (2% body weight/day - 0.5% body weight/day) and medium variable (1% body weight/day - 0.5% body weight/day). Fish fed with high ration had lower IGFBP-1 than those with medium ration. Circulating IGFBP-1 increased following a drop in feeding ration to 0.5% and returned to the basal levels when feeding ration was increased. Another group of coho salmon were reared for nine weeks under different water temperatures (11℃ or 7℃) and feeding rations (1.75, 1 or 0.5% body weight/day). Circulating IGFBP-1 levels were separated by temperature during the first four weeks; a combined effect of temperature and feeding ration was seen in week seven; only feeding ration influenced IGFBP-1 level thereafter. These results indicate that IGFBP-1 is responsive to moderate nutritional and temperature changes. There was a clear trend that circulating IGFBP-1 levels were negatively correlated with body weight, condition factor (body weight/body length3 x 100), growth rates and circulating 41-kDa IGFBP levels but not IGF-I levels. During parr-smolt transformation of coho salmon, IGFBP-1 levels showed a transient peak in late April, which was opposite to changes in condition factor. Together, these findings suggest that salmon IGFBP-1 is inhibitory to IGF-action. In addition, IGFBP-1 responds to moderate changes in dietary ration and temperature, and shows a significant negative relationship to condition factor
- …
