1,721,075 research outputs found
Islamic Philanthropy: The Idea of Economis Empowerment of the Ummah of K.H. Ma’ruf Amin
This article describes the portrait of the Islamic Philanthropy idea of KH. Ma'ruf Amin in the context of the economic empowerment of the Ummah. This paper rests on the basic premise that religion cannot be separated from the social dynamics of society. Methodologically, this article is library research using analytical descriptive method and normative, historical, and sociological approaches as a reading instrument for various literatures. In the context of Islamic philanthropy, the idea of economic empowerment of K.H. Ma'ruf Amin pivots on strengthening regional economic infrastructure and equitable development. Inequality of the economy of Indonesia is the result of past economic policies that adopted the conglomeration model of the trickle-down effect theory. To respond to this model, K.H. Ma'ruf Amin offers a pattern of economic development that adopts the ketupat model, which describes an increase in the economy in the weak economic sector so that there is a gradual increase in the middle economic secto
STRATEGI PEMASARAN DENGAN KONSEP DAGANG DARI NABI MUHAMMAD SAW PADA USAHA KERAJINAN PLASTIK BEKAS PUTRA MAKMUR KELURAHAN KEDUNGSOKO KECAMATAN TULUNGAGUNG KABUPATEN TULUNGAGUNG
Skripsi dengan judul strategi pemasaran dengan konsep dagang dar nabi muhammad saw pada usaha plastik bekas putra makmur kelurahan kedungsoko kecamatan tulungagung kabupaten tulungagung yang ditulis oleh Abdul Fatach Alwi, NIM 12405193127, pembimbing Dr. Nur Aziz Muslim, M. H. I.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh strategi perdagangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Banyak cerita perjalanan nabi yang sukses dalam menjalankan bisnis, hal ini dapat dijadikan contoh dan tuntunan dalam mengembangkan usaha. Strategi pemasaran yang dilandasi berdasarkan konsep dagang nabi dan prinsip pemasaran secara islami yang diterapkan bertujuan untuk memperoleh keuntungan dan keberkahan didunia sampai akhirat.
Fokus Penelitian pada penelitian ini adalah bagaimana strategi pemasaran dengan konsep dagang Nabi Muhammad SAW dan penerapan strategi dengan konsep dagang Nabi Muhammad SAW pada Usaha Kerajinan Plastik Bekas Putra Makmur.
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, dengan sumber data yang digunakan data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Serta teknik analisis data dan pengecekan keabsahan data menggunakan metode triangulasi teknik metode.
Hasil penelitian ini sebagai berikut: strategi pemasaran yang diterapkan usaha plastik bekas putra makmur, yaitu: dengan menerapkan etika bisnis dengan praktek kejujuran jiwa profesional, silaturahmi menjalin komunikasi yang baik dan menata niat baik dalam menjalankan usahanya. Kemudian, penerapan strategi pemasaran dengan konsep dagang dari Nabi Muhammad SAW di usaha kerajinan plastik bekas putra makmur, yakni: melalui sifat-sifat masyhur Nabi Muhammad SAW untuk menjadi pegangan dalam menjalankan usaha
PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KITAB DALILU AT-THALIBIN FI BAYANI AT-TAQWA WA ADABI FI ADDIN KARYA SYAIKH ALWI BIN ALI BIN ALWI BIN ALI BIN MUHAMMAD AL-HABSY
“Dalilu Atthalibin” merupakan sebuah kitab adab karya Syaikh Alwi, mengajak kepada setiap muslim untuk menjadi m¬¬akhluk yang baik dalam pandangan Allah dan manusia, yang di ajarkan melalui sentuhan akhlak. Yang menjadi fokus penelitian ini yaitu padapendidikan akhlak yang terkandung dalam kitab “Dalilu Atthalibin” karya Syaikh Alwi Al-Habsy. Dilatar belakangi dengan merosotnya posisi pendidikan akhlak di lingkungan masyarakat. Berbagai permasalahan yang bersangkutan dengan akhlak mulai mencuat hingga menyebabkan degradasi moral. Karenanya, perlu kajian mengenai pendidikan akhlak yang diharapkan mampu memberikan pencerahan. Selain itu, dalam penelitian ini juga akan di kaji hubungan atau relevansinya dengan pendidikan dalam keluarga.
Tujuannya untuk mengetahui: (1) konsep pendidikan akhlak menurut pandangan Syaikh Alwi bin Ali bin Alwi bin Ali bin Muhammad al-Habsyi dalam Kitab Dalilu Atthalibin Fi Bayani Attaqwa Wa Adabi Fi Addin, dan (2)relevansi konsep pendidikan akhlak yang terkandung dalam Kitab Dalilu Atthalibin Fi Bayani Attaqwa Wa Adabi Fi Addin dengan pendidikan akhlak dalam keluarga.
Penelitian ini merupakan penelitian kajian pustaka (library research). Penulis berusaha mengkaji konsep pendidikan akhlak yang terdapat dalam kitab “Dalilu At-Thalibin” karya Syaikh Alwi Al-Habsy. Teknik pengumpulan data dengan cara menggali bahan-bahan pustaka yang koheren dan relevan dengan objek pembahasan yang dikaji serta teknik wawancara. Sedangkan analisisnya menggunakan analisis isi (content analysis) yaitu suatu metode yang menggunakan teknik sistematik untuk menganalisis isi data dan mengkaji data.
Hasil dari penelitian yang dilakukan, membuahkan hasil sebagai berikut: (1) konsep pendidikan akhlak dalam kitab Dalilu At-Thalibin adalah bertaqwa kepada Allah,menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah, etika seorang pendidik, akhlak peserta didik menjaga kesopanan terhadap pendidik, menjaga etika terhadap orang tua, menjaga hubungan baik dengan orang awam, teman dekat, dan orang yang baru dikenal. Kesemuanya berorientasi pada pembinaan akhlak yang holistik yakni akhlak yang menyeluruh, meliputi akhlak kepada Allah Swt (habl min Allah), diri sendiri dan orang lain (habl min al-nas). (2)terdapat relevansi konsep pendidikan akhlak dalam kitab “Dalilu At-Thalibin” dengan pendidikan akhlak dalam keluarga adalah dikarenakan di dalamnya mengandung penanaman konsep pendidikan akhlak terhadap keluaraga yang meliputi etika terhadap orang tua, etika terhadap kerabat, etika terhadap istri dan keluarga
PERAN HABIB ABDULLAH BIN ALWI AL HADDAD (1634-1712 M) TERHADAP TRANFORMASI TAREKAT ‘ALAWIYAH
Tarekat ‘Alawiyah merupakan salah satu dari sekian banyaknya tarekat muktabarah yang ada di dunia. Namun tarekat ini bisa dikatakan sebagai tarekat yang moderat karena memiliki beberapa perbedaan diantara tarekat lainnnya. Di antara perbedaan itu terlihat bagaimana tidak diwajibkan bagi orang yang mengikuti ajaran ini untuk mengikuti bai’ah namun tetap diakui sebagai pengikut tarekat ini. Tidak hanya itu, tarekat ini juga telah melalui proses transformasi yang dilakukan oleh Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad yaitu seorang yang memiliki nasab sampai kepada Rasulullah SAW. Beliau memperkenalkan tarekat ini sebagai salah satu tarekat dengan segala kemudahannya. Beliau hidup sekitar tahun 1634-1712 M serta dimakamkan di kota Tarim. Di antara karya beliau adalah Nashaih ad-Diniyah, Risalah adab suluk al-Murid, Wird al-Kabir dll. Jasa beliau terhadap tarekat ini sangatlah besar sehingga beliau dijuluki sebagai mujaddid tarekat ‘Alawiyah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan bagaimana esensi yang terdapat di dalam ajaran tarekat ‘Alawiyah dan alasan mengapa Habib Abdullah Bin Ali Al Haddad melakukan transformasi terhadap tarekat ini. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kualitatif atau penelitian pustaka dengan mempelajari dan menganalisa literatur-literatur yang berkaitan dengan tarekat ‘Alawiyah. Di antara sumber yang menjadi rujukan terhadap penelitian ini adalah kitab karya Habib Zain bin Smith dan beberapa kitab karya Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, serta karya Habib novel Bin Muhammad Alaydrus. Dari hasil yang ditemukan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa tarekat Alawiyah . Yang di gagas oleh Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad memiliki beberapa perubahan diantaranya adalah Tarekat ini merupakan tarekat yang mudah ataupun ringan jadi siapapun boleh mengikuti nya tidak hanya dari kalangan para saadah saja, kemudian di dalam tarekat ini juga tidak mengharuskan adanya bai'ah, setelah itu Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menghindari pemikiran-pemikiran tasawuf falsafi agar tarekat ini tidak disalahpahami oleh orang awam dalam menjalankan nya
KRITIK ATAS PANDANGAN WILLIAM M. WATT TERHADAP SEJARAH PENULISAN AL-QUR’AN
The study of the Qur\u27an has been a topic of interest to many circles, excluding Western scholars. Many of the themes they promote are generally related to the authenticity of the Qur\u27an. To get into this problem, many circles start arguing from the history of the Qur\u27an. It is this theme that William M. Watt is concerned within studying the Qur\u27an. Watt begins his narrative by referring to the term Ummi referred to by the Prophet Muhammad. Likewise, arguments about the literary tradition of the community are presented by reference to many verses in the Qur\u27an. The majority of interpretations produced are in sharp contrast to the views of the majority of Muslim scholars, so this study aims to conduct a review of Watt\u27s views using thematic methods. This study concludes that the Qur\u27anic verses used as the basis for Watt\u27s argument over the history of Qur\u27anic writing can be categorized into two types; historical arguments and interpretations. In the model of historical argument, Watt tends to assume that the writing tradition among the Arabs is also owned by the Prophet, so that the word of the people attached to the Prophet is understood as the Prophet\u27s ignorance of the ancient scriptures. To reinforce the historical argument, Watt analyzes several passages relating to the term public for reinterpretation. Watt\u27s steps in explaining the Qur\u27an\u27s writing history tend to differ from many circles. Some historical arguments using the basis of verse tend to generalize their context, thus influencing many subsequent interpretations. This is why Watt\u27s opinion is different from the opinion of the majority of scholars.
KONSEPSI KETUHANAN DALAM DISKURSUS TEOLOGI ISLAM
Artikel ini membahas tentang konsepsi ketuhanan dalam diskursus teologi Islam. Tujuan dari penulisan artikel ini yaitu untuk mengetahui aliran dalam teologi Islam khususnya Mu’tazila, Asyariyah dan Maturiyah dan apa menjadi topik perdebatan aspek ke-Tuhanan dalam teologi Islam. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan teknik studi pustaka digunakan dalam proses pengumpulan data, yaitu berbagai bentuk informasi dan referensi terkait isu yang diangkat. Hasil kajian menunjukkan bahwa aliran teologi Islam secara garis besar terbagi dalam tiga aliran yaitu Mu’tazilah, Asy’ariyah dan Maturudiyah dimana pemikiran teologis Mu’tazilah bersumber pada 5 hal pokok yang disebut al-Usul al-Khamsah, yaitu: Tauhid, Al-’Adl (Keadilan), Al-Wa’d wa al-Wa’id (Janji dan Ancaman), Al-Manzilah baina al-Manzilatain (Tempat di Antara Dua Tempat), Al-Amru bi al-Ma’ruf wa al-Nahyu ‘an al- Munkar (Menyuruh Kebaikan dan Melarang Keburukan), sementara aliran teologi Al Asyariah dan Muturidiyah hampir memiliki kesamaan seputar Tentang sifat Allah, Asyari membedakan antara dzatullah dan sifatullah, Kalamullah atau al-Qur’an itu bersifat qadim, Allah SWT akan dapat dilihat di akhirat dengan mata kepala karena Allah mempunyai wujud, Pebuatan-perbuatan manusia diciptakan oleh Allah SWT, mengenai antropomorfisme, al-Asy’ari berpendapat bahwa Allah SWT mempunyai mata, muka, tangan dan sebagainya seperti disebut di dalam al-Qur’an, Orang mukmin yang berdosa besar tetap dianggap mukmin selama ia masih beriman kepada Allah SWT dan Rosul-Nya dan Allah SWT adalah pencipta seluruh alam. Dia memiliki kehendak mutlak terhadap ciptaan-Nya. Adapun perdebatan aspek ke-Tuhanan dalam teologi Islam terkait dengan sifat Tuhan, kaum Mu`tazilah berpendapat bahwa Allah itu qadim, qadim adalah sifat khusus bagi zat-Nya. Mereka mengatakan bahwa Allah Maha Mengetahui dengan zat-Nya, bukan dengan pengetahuan, kekuasaan dan kehidupan, karena semua ini adalah sifat sedangkan sifat adalah sesuatu di luar zat. Karena kalau sifat berada pada zat yang qadim, sedang sifat qadim adalah sifat yang lebih khusus, niscaya akan terjadi dualisme yakni zat dan sifat. Sedangkan kaum Asy`ariyah, berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil Tuhan mengetahui dengan zat-Nya, karena dengan demikian zat-Nya adalah pengetahuan dan Tuhan sendiri adalah pengetahuan. Tuhan bukan pengetahuan (`ilm) tetapi sang Mengetahui (`alim). Keadilan Tuhan, menurut Asy`ariyah, Tuhan berkusa mutlak dan tak ada satupun yang wajib bagi-Nya. Tuhan berbuat sekehendak-Nya, sehingga memasukkan seluruh manusia ke dalam surga bukanlah Tuhan bersifat tidak adil dan jika memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka tidaklah Tuhan bersifat dzalim. Sedangkan paham keadilan bagi kaum Mu`tazilah mengandung arti kewajiban-kewajiban yang harus dihormati Tuhan. Tentang kekuasaan dan kehendak Mutlat Tuhan, Mu'tazilah berpendapat bahwa Kekuasaan mutlak Tuhan telah dibatasi oleh kebebasan yang telah diberikan kepada manusia dalam menentukan kemauan dan perbuatan. sedangkan Asy`ari mengatakan bahwa Tuhan tidak tunduk kepada siapapun, di atas Tuhan tidak ada satu zat lain yang dapat membuat hukum dan dapat menentukan apa yang boleh dibuat dan apa yang tidak boleh dibuat Tuhan. Tuhan bersifat absolut dalam kehendak dan kekuasaan-Nya
Aktivitas Dakwah K.H. Muhammad Yahya di Cimahi Tahun 1947-2009
K.H. Muhammad Yahya (commonly known as Abuya Sepuh or Abuya Mamad) is an Islamic scholar from Cimahi. He is a Da\u27i, Murshid Tariqah, and also a Judge in the Religious Courts. He was the founder of Pesantren Darussurur Cimahi, and extensively wrote Sundanese nadhom, and participated in spreading the Islamic da\u27wah in the City of Cimahi. He contributed to education, social, religion, and Islamic da’wah. This study aims at finding out the biography of K.H. Muhammad Yahya and his Da\u27wah Activities in Cimahi. The method used is a historical research method which consists of four stages, namely heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Based on the results of the study, it can be concluded that, first, K.H. Muhammad Yahya was born in 1917 and died in 2009 in the Main Village, Cimahi. He is the son of K.H. Muhammad Azhari and Hj. Khadijah, his nasab through his father reached Maulana Syarif Hidayatullah. His educational genelogy was formed from the environment and education he got from various teachers, such as Habib Ali al-Attas (Jakarta), Habib Abdullah Bilfaqih (Malang), Muhaddist Assayid Alwi bin Abbas al-Malik (Mecca), K.H. M. Kurdi (Cibabat), K.H. M. Zarkasyi (Cibaduyut). Second, the da\u27wah activities K.H. Muhammad Yahya in Cimahi covers several aspects and media, namely da’wah through educational institutions with the establishment of pesantren Darussurur (1947-2009), da’wah through religious teachings (1947-2009), da’wah through Tariqah (TQN) (1960s), and da’wah through writing (1979-2009), in which he wrote and translated Arabic books composed in the form of Sundanese nadhom, such as Nadhom Shoibul Iman, Aqidatul awam, Lawang Setan, and many others
NILAI-NILAI ISLAM NUSANTARA DALAM TAFSI>R AL MISHBA>H (Studi Analisis Tafsir Kontekstual Karya Quraish Shihab)
ABSTRAK
Tesis dengan judul “Nilai-Nilai Islam Nusantara Dalam Tafsi>r al-Mishba>h(Studi
Analisis Tafsir Kontekstual Karya Quraish Shihab)” ini ditulis oleh M Alwi Ma’sum
dengan pembimbing Dr. Ahmad Zainal Abidin, M.A. dan Dr. Hj. Salamah Noorhidayati,
M.Ag.
Kata Kunci: Nilai, Islam Nusantara, Tafsi>r al-Mishba>h.
Penelitian ini dilatar belakangi oleh penafsiran dari Quraish Shihab ketika
membicarakan Q.S al-Baqarah : 143, menjelaskan bahwa Allah menjadikan umat Islam
itu sebagai ummatan wasathan (pertengahan) moderat, sehingga posisi tengah
memungkinkan manusia untuk tidak condong ke kiri dan ke kanan yang berkemungkinan
manusia untuk berbuat adil. Pemahaman yang demikian seperti salah satu nilai islam
berupa tawasuth (moderat) bahwa umat islam di Indonesia berada pada kondisi
masyarakat yang beragam, baik berdasarkan tradisi maupun kepercayaan. Oleh karena
itu, tulisan ini akan mengungkap secara utuh bagian wujud nilai-nilai Islam Nusantara
dalam Tafsi>r al-Mishba>h.
Penelitian ini ingin menjawab dua masalah, pertama, Bagaimana nilai-nilai Islam
Nusantara dalam kitab Tafsi>r al-Mishba>h?; Kedua, Bagaimana relevansi nilai-nilai islam
nusantara dalam Tafsi>r al-Mishba>h terhadap kondisi sosial masyarakat Indonesia ?.
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) yang sumber
utamanya dari kitab Tafsi>r al-Mishba>h dengan tema “hubungan antar-umat beragama”.
Karena penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif-analitis dengan kajian literatur.
Karena objek kajian merupakan studi pustaka. Maka peneliti memilih metode literatur
yaitu mengumpulkan data berdasarkan data yang berasal dari informasi diliteratur.
Kemudian data-data tersebut dianalisa dengan meminjam teori kontekstual milik
Abdullah Saeed.
Dengan mengaplikasikan teori kontekstual kepada data yang ada, penelitian ini
menemukan beberapa hal, pertama, dalam tafsir Tafsi>r al-Mishba>h ditemukan Nilai-nilai
Islam Nusantara ada 3 yakni tawazun, tasamuh dan tawasuth baik dalam aqidah syariah
dan muamalah. Kedua, praktek bentuk nilai-nilai Islam Nusantara dalam Tafsi>r al
Mishba>h dengan kondisi sosial masyarakat Indonesia antara lain menyeimbangkan
kepentingan dunia dan akhirat, menghormati bhineka tunggal ika serta menjaga tradisi
lama ditengah gempuran tradisi baru
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
