1,720,965 research outputs found
Strategi Pengembangan Kurikulum Merdeka dalam Memperkuat Karakter pada Tingkat Sekolah Dasar
Pengembangan kurikulum di sekolah dasar sangat penting untuk meningkatkan pendidikan karakter. Penelitian ini bertujuan untuk mengulas strategi pengembangan kurikulum Merdeka dalam memperkuat karakter pada tingkat sekolah dasar. Kurikulum Merdeka memiliki tujuan untuk menciptakan siswa yang memiliki karakter yang terampil, berbudi pekerti, beradab, dan berakhlak baik sesuai dengan visi bangsa Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan berbagai sumber literatur seperti buku, jurnal, dan hasil observasi terbaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pengembangan kurikulum Merdeka meliputi identifikasi kebutuhan, penyesuaian kurikulum, penguatan kompetensi dasar, pemanfaatan teknologi, melibatkan stakeholder dalam pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasi, serta memastikan pembelajaran karakter terintegrasi dalam setiap aspek pembelajaran. Penerapan pendidikan karakter di sekolah dasar meliputi integrasi konten kurikulum karakter ke dalam mata pelajaran yang relevan, kegiatan sehari-hari di sekolah, dan kegiatan yang direncanakan, serta membangun komunikasi dan kerja sama antara sekolah dengan orang tua siswa. Studi ini memberikan pandangan yang mendalam tentang pentingnya pengembangan kurikulum Merdeka dalam memperkuat karakter pada tingkat sekolah dasar
Pengembangan Industri Kreatif Batik Melalui Pendekatan Pengembangan Ekonomi Lokal Di Kabupaten Pamekasan - Batik Industrial Development Through An Approach Of Local Economic Development In Pamekasan Regency
Kabupaten Pamekasan sebagai salah satu kabupaten
miskin di Jawa Timur membutuhkan suatu penggerak perekonomian
lokal. Batik yang merupakan salah satu ciri khas lokal Kabupaten
Pamekasan adalah salah satu potensi yang dapat diandalkan untuk
mendorong kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi
wilayah. Akan tetapi, kondisi infrastruktur, kelembagaan, dan sistem
produksi yang terdiri dari SDM dan teknologi menjadi kendala
berkembangnya industri batik di Kabupaten Pamekasan. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan menentukan arahan yang tepat
untuk mengembangkan industri batik di Kabupaten Pamekasan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan Local Economic
Development. Tahapan penelitian ini, yang pertama menentukan
produktivitas pengrajin untuk mengidentifikasi karakteristik industri
batik Pamekasan. Kedua, menganalisis faktor yang mempengaruhi
perkembangan industri batik menggunakan Confirmatory Factor
Analysis. Selanjutnya, melakukan analisis klaster yang kemudian
dikomparasikan dengan karakteristik industri untuk menghasilkan
tipologi industri batik. Dari tipologi yang dihasilkan, disusun arahan
pengembangan industri batik melalui analisis delphi.
Hasil akhir dari penelitian ini adalah 5 tipologi industri
batik. Tipologi 1 terdiri dari Desa Klampar, Toket dan Larangan
Badung. Arahan untuk tipologi 1 ditekankan pada pengembangan
variabel-variabel pada faktor kelembagaan. Tipologi 2 terdiri dari
Desa Panaan dengan arahan pengembangan pada variabel dalam
faktor sistem produksi dan kelembagaan. Tipologi 3 adalah Desa
Angsanah, dimana arahan pengembangan ditekankan pada variabel
dalam faktor kelembagaan. Tipologi 4 adalah DesaKowel, Waru
Barat dan Candi Burung dengan arahan pengembangan pada variabel dalam faktor kelembagaan dan sistem produksi. Desa Rang
Perang Daya, RekKerek, Banyuplle, Pegantenan dan Pagendingan
tergolong dalam tipologi 5. Arahan untuk tipologi 5 adalah
pengembangan variabel-variabel pada faktor sistemproduksi,
infrastruktur dan kelembagaan.
========================================================================================================================
Pamekasan, as it is one of regency in East Java, needs any
support for enhancing local economy. So far, Batik, as one of local
property owned by Pamekasan regency, is one of potential reliable
support to encourage the society’s prosperity and territorial
development. Yet, some of elements can be obstacle. They may come up
from infrastructure, institutional, and producing system in which Human
Resources and Technology be constraint of Pamekasan regency
industrial development. That’s why; this research aims at establishing
any appropriate way of developing batik industry in Pamekasan
regency.
This research used Local Economic Development approach.
The steps of this research were, first, to determine the craftsman
productivity in order to identify the typical batik industry of Pamekasan.
Second, was to analyze any factors influencing batik industrial
development using Confirmatory Factor Analysis. The next after, having
cluster analysis which then was compared with typical industry in order
to obtain batik industrial typology. And of the typology result, the
appropriate way of developing batik industrial was compiled trough
Delphi Analysis.
The final point of this research was 5 typologies of batik
industry. Typology 1 consisted of Klampar village, Toket, and Larangan
Badung. The appropriate way of typology 1 was emphasized on
developing any variables to the institutional factors. Typology 2
consisted of Panaan village with way of developing on the variables of
producing system and institutional. Typology 3 consisted of Angsanah
village which the appropriate way was emphasized on variables of
institutional factors. Typology 4 was Kowel village, Waru Barat and
Candi Burung with focusing on way of developing on variables of
institutional factors and producing system. Rang Perang Daya village,
RekKerek, Banyuplle, Pegantenan, and Pagendingan included on the typology 5 which developing variables on producing system factors,
infrastructures and institutional were emphasized
PENGARUH MOTIVASI, KEPUASAN KERJA DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) ASEMBAGUS BAGIAN RAWAT INAP KABUPATEN SITUBONDO
Rumah sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan yang pelayanannya
disediakan oleh dokter, perawat dan tenaga medis lainnya baik yang
diselenggarakan oleh pemerintah ataupun swasta. Setiap rumah sakit harus
menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik sehingga dapat memberikan
pelayanan yang bermutu. Seperti instansi atau organisasi lainnya,rumah sakit
memiliki sumber daya manusia (SDM) yang mendukung dalam memberikan
pelayanan. Sumber daya manusia (SDM) merupakan faktor yang paling dominan
dalam menciptakan pelayanan yang bermutu.
Kekayaan yang paling berharga dalam suatu organisasi ialah Sumber Daya
Manusia (SDM). SDM merupakan investasi sangat berharga bagi sebuah
organisasi yang perlu dijaga. Setiap organisasi harus mempersiapkan program
yang berisi kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan dan profesionalisme
SDM supaya organisasi bisa bertahan dan berkembang sesuai dengan lingkungan
organisasi. Untuk mencapai kepuasan kerja yang maksimum, organisasi harus
menjamin dipilihnya tenaga kerja yang tepat dengan pekerjaan serta kondisi yang
memungkinkan mereka bekerja optimal.
Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian exploratory research yaitu
penelitian yang meneliti tentang hubungan antara variabel-variabel melalui
pengujian hipotesis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis
pengaruh motivasi, kepuasan kerja dan lingkungan kerja terhadap kinerja
pegawai rumah Sakit Umum Daerah Asembagus bagian Rawat Inap Kabupaten
Situbondo. Sampel yang digunakan adalah semua karyawan di Rumah Sakit
Umum Daerah (RSUD) Asembagus bagian Rawat Inap Kabupaten Situbondo
sebesar 49 orang.
Hasil dari penelitian ini diperoleh bahwa 3 variabel yang terdiri dari motivasi,
kepuasan kerja dan lingkungan kerja dapat meningkatkan kinerja pegawai,
terdapat 5 indikator motivasi yang dapat meningkatkan kinerja dari kelima
indikator tersebut indikator kebutuhan sosial merupakan indikator yang memiliki
nilai paling tinggi dalam meningkatkan motivasi dalam bekerja. Kepuasan kerja
memiliki 4 indikator dalam meningkatkan kinerja,indikator yang paling dominan
adalah kepuasan terhadap rekan kerja, dukungan dari teman kerja dapat
meningkatkan kinerja. Variabel yang terakhir yaitu lingkungan kerja, suasana
yang aman dan nyaman dalam lingkungan kerja dapat meningkatkan kinerja
karyawan, dari semua indikator-indikator yang ada memiliki pengaruh yang besar
dalam meningkatkan kinerja semua karyawan di Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD) Asembagus bagian Rawat Inap Kabupaten Situbondo
PENDIDIKAN KARAKTER DI PESANTREN
The development of science and technology is difficult tostop. Technology as a product of science penetrated all the lines of life. Islamic boarding schoolcan not be separated from technology. Positive and negative of technology is a necessity. The ease of all affairs is one of the positive impacts of technology, while the negative impacts of technology are gave birth to instant-minded and “devilish” human beings. Good character education in these conditions plays an important role in life. Islamic boarding school as an Islamic educational institution in Indonesia is considered and trusted as a character education institution. Indeed, the term character education is introduced and proclaimed by Western educational leaders, but the substance of education has been done in Islamic boarding school. Thomas Lickona called it moral knowing, it is reflected in the akhlak subject in Islamic boarding school, as well as the term moral action is reflected in the praised behavior of the santri and exemplified by the kiai and the ustadz. The integration between moral knowing and good behavior in the students’ real life is able to give birth to the sensitivity to do well (moral feeling). Those three components of character education is implemented in a reflective that is indirectly the cultivation of good characters students such as habituation to do good and exemplary exemplified by ustad and kiai, and also done substantively that is by way of character materials taught directly through moral education in Islamic school or recitations
Evaluasi pembelajaran moderasi beragama untuk mengukur penguatan toleransi siswa di MIN 2 Pamekasan
Penelitian ini bertujuan evaluasi pembelajaran moderasi beragama di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Pamekasan, dengan fokus pada penguatan sikap toleransi peserta didik. Moderasi beragama, sebagai pendekatan dalam pendidikan, bertujuan menciptakan keseimbangan dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama di tengah keragaman. Penelitian ini mengidentifikasi langkah-langkah strategis dalam perencanaan moderasi, seperti integrasi nilai-nilai moderasi dalam kurikulum, pelatihan guru, kegiatan ekstrakurikuler berbasis toleransi, dan dialog antar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus di MIN 2 Pamekasan, dengan melibatkan guru dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran moderasi dipengaruhi oleh pemahaman siswa tentang toleransi, perubahan sikap, serta keterlibatan orang tua dan masyarakat. Evaluasi berkala terhadap program pembelajaran dan pemilihan materi ajar yang mendukung menjadi faktor penting dalam menanamkan nilai-nilai moderasi. Dengan demikian, MIN 2 Pamekasan berperan signifikan dalam membentuk sikap moderat di kalangan peserta didik, mendukung terciptanya masyarakat yang harmonis dan saling menghormati
Pengelolaan Kelas di sekolah Dasar: Hambatan-Hambatan yang Dihadapi Guru dan Solusinya dalam Manajemen Kelas di SD Sana Tengah 1
Penelitian ini memiliki tujuan mengidentifikasi hambatan-hambatan yang dihadapi pendidik dalam mengelola kelas serta solusi yang diterapkan di SD Sana Tengah 1. Pengelolaan kelas menjadi elemen penting dalam membentuk lingkungan belajar yang tenang bagi siswa. Beberapa hambatan yang ditemukan meliputi faktor guru, siswa, fasilitas, dan kurikulum. Faktor guru mencakup kepemimpinan, metode pengajaran yang monoton, serta kurangnya pemahaman tentang perkembangan siswa. Faktor siswa terkait dengan perilaku siswa yang tidak tertib, kurangnya kesadaran akan hak dan kewajiban, serta dominasi atau favoritisme dari orang tua. Fasilitas sekolah yang kurang memadai, seperti ruang kelas yang kecil dan minimnya alat pendukung, juga menjadi penghalang dalam manajemen kelas. Di sisi lain, kurikulum yang kurang fleksibel menambah tantangan dalam menciptakan proses belajar yang optimal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan observasi, wawancara, dan telaah dokumen untuk mengumpulkan data. Solusi yang diterapkan mencakup tindakan preventif, seperti memberikan pemahaman tentang disiplin kepada siswa dan menciptakan suasana belajar yang inklusif. Selain itu, tindakan korektif dilakukan untuk mengatasi perilaku menyimpang melalui bimbingan dan pemberian sanksi yang mendidik. Kolaborasi dengan pihak sekolah dan komite juga berperan penting dalam memperbaiki pengelolaan kelas. Peneliti berharap hasil penelitian ini dapat menyumbangkan pemikiran bagi peserta didik dalam meningkatkan manajemen kelas dan memberikan masukan kepada sekolah untuk menyediakan fasilitas yang lebih baik. Penelitian ini juga menekankan pentingnya kerja sama antara pendidik, peserta didik, dan orang tua dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang optimal
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
