1,332 research outputs found
SULTAN SYARIF MUHAMMAD AL-KADRI
Keadaan wnat dengan berbagai dinamika persoalannya selalu berubah sesuai dengan perkembangan ruang dan waktu. Perubahan keadaaan pada suatu lingkungan adalah sebuah keniscayaan. Umat yang berkembang adalah umat yang mau mengkaji dan meneladani warisan dan peninggalan pendahulunya. Sultan Syarif Muhammad al-Kadrie adalah pembaharu pemikiran Islam di Pontianak yang menjadi khazanah intelektual Islam.
Pembaharuan Islam yang dilakukan oleh Sultan Syarif Muhammad al- Kadrie berawal dari adanya gaung pembaharuan yang ada di Indonesia khususnya dan dunia Islam pada Umumnya. Ide pembaharuan Sultan Syarif Muhammad al- Kadrie di Pontianak juga hampir sama dengan ide-ide pembaharuan yang dilakukan oleh kaum Paderi dan gerakan Muhammadiyah yaitu pemumian ajaran
I
Islam. Gerakan pembaharuan dalam dunia Islam muncul akibat adanya pemahaman umat Islam yang keliru terhadap konsep-konsep ajaran Islam mumi seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Sultan Syarif Muhammad al-Kadrie aqalah se
Konsep riba dalam Al-Qur'an : Studi komparatif pemikiran Muhammad Quraish Shihab dan Muhammad Syafii Antonio
Penelitiaan ini bermula dari adanya perbedaan metode Muhammad Quraish Shihab dan Muhammad Syafi`i Antonio dalam memahami ayat-ayat mengenai konsep riba. Adapun mengenai keharaman riba sudah menjadi kesepakatan antara para ulama. Walaupun keduanya menggunakan ayat-ayat yang sama, tetapi perbedaan metode yang mereka gunakan membuat proses analisisnya berbeda. Hal ini diakibatkan latar belakang keduanya yang tidak sama, Muhammad Quraish Shihab merupakan seorang ulama ahli tafsir sementara Muhammad Syafi`i Antonio merupakan cendekiawan ekonomi syari’ah.
Berdasarkan pengulasan di atas ada beberapa persoalan yang penulis hendak kaji, yaitu: (1) Bagaimana konsep riba dalam al-Qur’an menurut M. Quraish Shihab? (2) Bagaimana konsep riba dalam al-Qur’an menurut M. Syafii Antonio? (3) Apa perbedaan dan persamaan pemikiran Quraish Shihab dan Syafii Antonio tentang riba? Riset ini termasuk kedalam jenis riset pustaka (library research), sementara metode yang diterapkan penulis dalam riset ini yaitu metode komparatif dengan menerapkan pendekatan kualitatif. Teknik menghimpun data yang diterapkan yakni dengan menghimpunnya dari berbagai buku atau semacamnya yang relevan dengan judul riset ini. Adapun teknik analisis data yang diterapkan yakni analisis ini (content analisis) serta analisis komparatif (perbandingan).
Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa kesimpulan, yaitu: (1) Quraish Shihab memandang bahwa riba merupakan sesuatu tambahan atau kelebihan dari jumlah utang yang berlipat ganda serta dipungut ketika jatuh tempo pelunasan utang sehingga adanya penyiksaan pada orang-orang yang membutuhkan. Kesimpulan ini berdasarkan pemahamannya terhadap kata kunci yang terdapat dalam ayat-ayat larangan riba. (2) Menurut Muhammad Syafii Antonio riba merupakan pengambilan tambahan, baik dalam transaksi perniagaan ataupun peminjaman secara batil atau berlawanan dengan prinsip muamalah dalam Islam. Menurutnya secara garis besar riba dibagi menjadi riba utang piutang dan riba jual beli. Analisis yang digunakan Muhammad Syafii Antonio dalam memahami konsep riba dalam al-Qur’an cenderung pada analisis ushul fiqih. (3) Quraish Shihab dan Muhammad Syafii Antonio menggunakan ayat-ayat yang sama dalam memahami konsep riba dalam al-Qur’an yaitu surat Al-Rum ayat 39, surat an-Nisa ayat 160-161, surat Ali Imran ayat 130, dan surat al-Baqarah ayat 275-280. Adapun perbedaan diantara kedua tokoh tersebut hanya perbedaan metode yang digunakan dalam menganalisis ayat-ayat tersebut
PELATIHAN FUN TAHSIN DI RUMAH QUR‟AN AL-AZHAR Al-SYARIF DESA MANARAP TENGAH
Tenaga Pendidik Rumah Qur‘an Al-Azhar Al-Syarif selama inimelaksanakan pembelajaran tajwid Al-Qur‘an untuk peserta didik usia SD/MIdengan cara konvensional, yaitu dengan metode ceramah. Berdasarkan temuanawal, hal tersebut terjadi karena pendidik belum mempelajari metodepembelajaran tajwid yang berbasis active learning. Oleh karena itu, melaluipengabdian kepada masyarakat ini, penyusun melaksanakan pelatihan danpendampingan kepada guru Rumah Qur‘an Al-Azhar Al-Syarif dalammenggunakan metode Fun Tahsin. Fun Tahsin adalah suatu metode pembelajarantajwid yang mengajarkan kaidah tajwid dengan nyanyian dan gerak, sehingga parapeserta akan aktif secara visual, audio, dan kinestetik ketika proses pembelajaran,sesuai dengan kaidah pembelajaran yang menyenangkan. Pengabdian kepadamasyarakat ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan participatoryaction research, yaitu dengan mengidentifikasi masalah dan kemudian membuatrencana aksi untuk menyelesaikannya. Pengabdian kepada masyarakat ini diikutioleh 12 orang tenaga pendidik RQ Al-Azhar Al-Syarif. Setelah mengikutipelatihan Fun Tahsin, tenaga pendidik mengaplikasikannya dalam pembelajarantajwid di kelas yang dilaksanakan setiap menjelang waktu maghrib. Berdasarkanhasil pendampingan peneliti, para santri dan santriwati antusias dan aktif dalammengikuti pembelajaran
KONTROVERSI BUNGA BANK DALAM ISLAM: TELAAH KOMPARATIF YUSUF AL-QARDHAWI DAN MUHAMMAD SAYYID AL-THANTAWI
Abstrak
Perbankan konvensional di Indonesia masih menjadi pilihan utama masyarakat dalam transaksi keuangan, meskipun terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai status hukum bunga bank. Yusuf Al-Qardhawi secara tegas mengharamkan bunga bank karena dianggap sebagai riba, sementara Muhammad Sayyid Al-Thantawi memperbolehkannya dalam kondisi yang adil dan transparan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan pandangan kedua ulama serta mengkaji relevansinya terhadap praktik perbankan di Indonesia. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan komparatif terhadap kitab-kitab karya kedua ulama serta regulasi perbankan di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem bunga dalam perbankan konvensional lebih sejalan dengan pandangan Muhammad Sayyid Al-Thantawi, karena diterapkan secara terbuka dan sesuai kesepakatan. Namun, sistem ini tetap bertentangan dengan prinsip yang dipegang oleh Yusuf Al-Qardhawi. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan literasi keuangan syariah agar masyarakat memahami perbedaan antara sistem perbankan konvensional dan syariah serta dapat memilih layanan keuangan sesuai dengan keyakinannya. Selain itu, masyarakat diharapkan bersikap adil dalam menghadapi perbedaan pendapat ulama dengan tetap berpegang pada prinsip hukum Islam.
Kata Kunci: Bunga Bank, Muhammad Sayyid Al-Thantawi, Perbankan Konvensional, Riba, Yusuf Al-Qardhawi.
Abstract
Conventional banking in Indonesia remains the primary choice for financial transactions, despite differing views among Islamic scholars regarding the legal status of bank interest. Yusuf Al-Qardhawi firmly prohibits bank interest, considering it a form of riba, while Muhammad Sayyid Al-Thantawi permits it under fair and transparent conditions. This study aims to analyze the differing perspectives of these two scholars and assess their relevance to Indonesia’s banking practices. The research employs a normative legal approach with a comparative analysis of the scholars' works and Indonesia's banking regulations. The findings indicate that the interest system in conventional banking aligns more closely with Muhammad Sayyid Al-Thantawi’s perspective, as it is implemented transparently and based on mutual agreement. However, it remains inconsistent with Yusuf Al-Qardhawi’s principles. Therefore, increasing financial literacy in Islamic banking is essential to help the public understand the differences between conventional and Islamic banking systems and make informed financial decisions. Additionally, society is encouraged to approach scholarly differences with fairness and objectivity while adhering to Islamic legal principles.
Keywords: Bank Interest, Conventional Banking, Muhammad Sayyid Al-Thantawi, Riba, Yusuf Al-Qardhawi
Kontra Narasi Terorisme Dalam Syair Arab: Kajian Syair Karya Muhammad bin Rasyid Ali Maktum
Until now, terrorism is still a big problem in society. That is why it is very necessary to carry out movements to counter acts of terrorism. One way to overcome this is by carrying out a counter-narrative of terrorism, namely by compiling a narrative that is deliberately created and framed with the aim of countering or minimizing the influence of negative narratives that have an intolerant and extreme tone. Sheikh Muhammad bin Rasyid Ali Maktum is a high-ranking official in the UAE who took part in carrying out a counter-narrative of terrorism in poetry. This study focuses on examining the counter-narrative in his poetry entitled Fitnah al-Irhab using a descriptive qualitative method that uses heuristic and hermeneutic reading of the poetry. This study resulted in the finding that the poem entitled Fitnah al-Irhab has fulfilled four steps or four points as a form of counter-narrative of terorism. Namely, first: reframing the conflict, second: counter analogy, third: counter strategic goals, and fourth: use rhetorical language style.Keywords - Terrorism, Counter Narrative, Arabic Poem, Muhammad bin Rasyid Ali Maktum
Teks Khutbah Khas Imam Masjid An Nabawi As Syarif sempena lawatan ke Perlis
Satu kunjungan mahabbah dan bersejarah dari Al Imam As Syeikh Dr. Abdel Muhsen bin Muhammad bin Abdelrahman Al Qasim yang merupakan Imam Masjid An Nabawi As Syarif pada 19-20 Disember 2014. Beliau juga telah berbesar hati untuk memberi khutbah Jumaat di Masjid Al Hussain, Kuala Perlis
Aktivitas Pembelajaran Alquran di Rumah Tahfizh AlAzhar Al-Syarif Kelurahan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar
Muhammad Ansyari. 2018. Aktivitas Pembelajaran Alquran di Rumah Tahfizh AlAzhar
Al-Syarif Kelurahan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar, Skripsi.
Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.
Pembimbing: Drs.Humaidy, M.Ag.
Kata Kunci: Aktivitas, Pembelajaran Alquran, di rumah tahfizh.
Pendidikan secara operasional menjadi tugas dari kewajiban umat islam
untuk selalu menjaga dan memelihara Alquran, karena Alquran adalah firman Allah
Swt, diturunkan kepada nabi Muhammad Saw secara berangsur-angsur. Hukum
membacanya mempunyai nilai pahala yang tinggi, oleh karenanya seorang penuntut
ilmu hendaknya meletakan hafalan Alquran sebagai prioritas yang utama.
Santri di rumah tahfizh Al-Azhar Al-Syarif Kelurahan Kertak Hanyar
Kabupaten Banjar dikehendaki atau diharuskan mahir dalam membaca Alquran
dengan baik dan benar, karena akan menjadi masalah dengan santri apabila ia tidak
bisa membaca Alquran dan memahami ilmu tajwid, akibatnya santri akan sulit untuk
menghafal Alquran. Oleh karena itu, membaca Alquran dengan tajwid yang baik dan
benar merupakan hal yang seharusnya dimiliki oleh santri. Namun, tidak dapat
dipungkiri ada beberapa santri yang masih belum dapat membaca Alquran dengan
baik dan benar, maka dari itu mereka belajar Tahsin Alquran dengan menggunakan
metode tartili.
Masalah yang menjadi pembahasan dalam penelitian ini adalah untuk
mengetahui bagaimana Aktivitas pembelajaran AlQuran yang dilaksanakan oleh
santri di Rumah Tahfizh Al-Azhar Al-Syarif Kelurahan Kertak Hanyar Kabupaten
Banjar ?
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan mengambil latar
belakang Rumah Tahfizh Al-Azhar Al-Syarif Kelurahan Kertak Hanyar Kabupaten
Banjar. Subjek dalam penelitian ini adalah 2 orang ustadz dan 24 orang santri.
Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu observasi,wawancara,
dan dokumentasi pengolahan data dilakukan dengan editing, Klasifikasi data,
interpretasi data. Analisis data dilakukan dengan memberikan makna terhadap data
yang berhasil dikumpulkan dan dari makna itulah ditarik kesimpulan.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Aktivitas
Pembelajaran Alquran di Rumah Tahfizh Al-Azhar Al-Syarif Kelurahan Kertak
Hanyar Kabupaten Banjar dibagi menjadi dua waktu yaitu, ada yang aktivitas
Pembelajaran Alquran setelah shalat Ashar dan ada yang setelah shalat Magrib.
Setiap Pembelajaran Alquran Dimulai dengan Ta’lim ilmu keislaman, setelah itu
shalat berjamaah, barulah Aktivitas Pembelajaran tahfizh dan tahsin AlQuran,
setelah pembelajaran santri diberi arahan-arahan dan motivasi agar santri tetap
semangat dalam mempelajari dan menghafal AlQura
Wawasan Keagamaan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
ABSTRAK
Muhammad Ro’yi Al Fadhili, (2021): Wawasan Keagamaan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui wawasan keagamaan mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam di Univeristas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam angkatan 2017. Objek penelitian wawasan keagamaan mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam di Univeristas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Populasi penelitian adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam angkatan 2017 berjumlah 168 mahasiswa. Sampel penelitian ini 35 mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam. Tekhnik pengambilan sampel menggunakan Simple Random Sampling. Tekhnik pengumpulan data menggunakan tes dan wawancara. Tekhnik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif Kuantitatif. Data yang diperoleh dari tes dihitung secara manual dan data yang diperoleh dari wawancara dideskripsikan kembali. Kesimpulan penelitian ini bahwa efektifitas pembelajaran fikih perbandingan dalam meningkatkan wawasan keagamaan mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam di Univeristas Islam Negeri sultan Syarif Kasim Riau dikategorikan Cukup dengan angka 62,3 yang berada pada rentang nilai 56 sampai dengan 70.
Kata Kunci: Fikih Perbandingan, Wawasan Keagamaa
Almuwazinah Bayna Muhammad Syauqi Affendi wa Hasyim Muhammad Al-Baghdadi Fi Kitabah Qawaid Al-Khat An-Naskhi
vi, 794 hlm,; ilus,; 30 cm
al-Bayan wa al-Ta'rif fi Asbab Wurud al-Hadits al-Syarif
Buku ini terisi tentang Asbab wurud hadis. Asbab Wurud al-Hadits adalah suatu ilmu yang membicarakan tentang alasan atau penyebab Nabi Muhammad SAW menuturkan sabdanya pada saat itu. Asbab al wurud Hadits memiliki fungsi yang sangat penting untuk menarik dan menetapkan suatu hukum. Secara sederhana asbab al wurud merupakan salah satu dari metode yang digunakan untuk memahami kandungan hadis. Oleh karenanya asbab al wurud ini menjadi sangat penting untuk dikaji dengan tujuan untuk memahami apa yang dimaksud dalam teks hadis tersebut. Namun demikian, tidak semua hadis mempunyai asbab wurud seperti halnya tidak semua Al-Qur?an memiliki abab an-nuzulnya
- …
