141 research outputs found
Dakwah dalam pendekatan Mujadalah : Analisis deskriptif teknik debat Ustad Muhammad Idrus Ramli pada akun Youtube "Muhammad Idrus Ramli
Teknik debat merupakan salah satu metode dakwah yang jarang digunakan oleh kebanyakan mubaligh, hal ini juga didasari oleh penggunaannya yang cukup sulit serta beresiko memunculkan perselisihan antara kedua pihak jika tidak dilakukan dengan cara yang benar. Walaupun tidak banyak yang menggunakan metode ini, faktanya berdakwah dengan debat dapat lebih mempengaruhi jamaah, sebab dalam berdebat harus mengedepankan unsur logis yang dapat diterima oleh akal pikiran. Dalam dakwah sendiri, Teknik debat disebut dengan mujadalah. Namun pada penelitian kali ini, peneliti lebih memfokuskan pada teknik debat dalam lingkup kajian retorika.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan teknik mujadalah Ustad Muhammad Idrus Ramli dalam kajian Retorika. Dalam debat terdapat beberapa jenis metode yaitu dengan metode problem solving dan metode logic.
Penelitian ini menggunakan kajian teori retorika oleh Dori Wuwur Hendrikus. Menurut Hendrikus, terdapat dua jenis retorika yaitu monologika (pidato dan ceramah), kemudian retorika dialogika (diskusi, debat, dan tanya jawab). Pada penelitian ini lebih mengkaji kegiatan instrument debat dalam kegiatan mujadalah Ustad Muhammad Idrus Ramli. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengkaji akun youtube Muhammad Idrus Ramli. Secara spesifikasi, penelitian ini membahas teknik debat, maka dari itu penelitian ini lebih mengarah kepada konten-konten debat, diskusi, dan tanya jawab yang pada akun youtube Idrus Ramli. Setelah dianalisa, ditemukan penggunaan instrument-instrument debat pada pelaksanaan kegiatan mujadalah Idrus Ramli pada akun youtube beliau yang berjudul "Debat dengan Salafi Part 1 & 2" menggunakan metode problem solving dan metode logic
Local Wisdom Pemikiran Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin dalam Kitab Kabanti “Bula Malino”
Masuknya agama Islam di Kesultanan Buton, telah membawa kedamaian dan perubahan dalam segala bidang termasuk pada aspek Local Wisdom ( kearifan local). Hal ini melahirkan ulama-ulama yang memiliki pemikiran yang cemerlang berusaha menjadikan budaya Islam mewarnai budaya lokal. Salah satu ulama di Buton sekaligus sebagai Sultan yaitu Muhammad Idrus Kaimuddin Ibnu Badaruddin Al-Buthuni (1824-1851). Pemikiran Sultan Kaimuddin menemukan esensi konsep ta krama menurut ajaran leluhur dalam Kabanti Bula Malino. Kabanti yang ditulis menggunakan tulisan Arab berbahasa Wolio menjadi tradisi sekaligus tuntunan norma masyarakat di Kesultanan Buton yang di dalamnya banyak berisi petuah falsafah yang bersumber dari ajaran Islam. Jenis penelitian ini ialah penelitian kepustakaan (library research), di mana data-data yang dipakai adalah data kepustakaan. Data dalam penelitian ini adalah buku induk dan jurnal ilmiah tentang tema terkait. Metode analisis yang digunakan penulis adalah metode deskriptif kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui narasi Kabanti dan menelaah nilai-nilai Local Wisdom yang dituangkan oleh Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin dalam karyanya Kabanti bula malino. Hasil penelitian menunjukan bahwa Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin, melalui Kabanti bula malino berusaha menyampaikan kembali ajaran-ajaran Islam, yang ia sampaikan dalam bahasa Wolio, bahasa yang dimengerti oleh masyarakat yang ia pimipin pada saat itu. Pemikiran dalam hal religiustas, etika,moral, tata krama, maupun nasehat Sultan Kaimuddin yang dituangkan dalam karyanya tersebut menjadi sebuah tradisi yang mampu menjaga kearifan lokal (Local Wisdom) masyarakat muslim di pulau Buton. Kata Kunci: Sultan Muhammad Idrus, Kabanti, dan Local Wisdom AbstractIslam in the Sultanate of Buton, has brought peace and change in all fields, including aspects of Local Wisdom (Local Wisdom). This gave birth to scholars who have intelligent minds trying to make Islam reflect local culture. One of the scholars in Buton as Sultan was Muhammad Idrus Kaimuddin Ibn Badaruddin Al Buthuni (1824-1851). Sultan Kaimuddin's thought found the essence of the concept of ta manners according to the teachings of the ancestors in the Malanti District. Kabanti, which was written using Wolio in Arabic, became a tradition that was completed in complete community norms in the Buton Sultanate, which contained many philosophical advices derived from Islamic teachings.This type of research is library research, where the data used is library data. The data in this study are the main book and scientific journal on related themes. The analytical method used by the writer is descriptive qualitative method.The purpose of this study is to study the narratives of Kabanti and examine the values of Local Wisdom expressed by Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin in his work Kabanti bula malino. The results showed that Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin, through Kabanti bula malino, was asked to return to follow the teachings of Islam, which he conveyed in Wolio, the language understood by the people he led at that time. Thought in terms of religiousness, ethics, morals, manners, and the advice of Sultan Kaimuddin which is spoken in his work becomes a tradition that is able to provide Local Wisdom (Local Wisdom) Muslim community on the island of Buton. Keywords: Sultan Muhammad Idrus, Kabanti, dan Local Wisdo
Penerapan metode dakwah mujadalah (as-ilah wa ajwibah) Muhammad Idrus Ramli dalam buku Madzhab Al-Asyari benarkah Ahlussunnah wal Jama’ah?
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode yang digunakan oleh Muhammad Idrus Ramli dalam menjawab petanyaan dari seseorang tentang kebenaran Madzhab Asyariah sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah. Dalam penelitian ini seluruh data diperoleh melalui proses analisis kualitatif deskriptif dengan pola pikir induktif yaitu buku dianalisis melalui pendekatan-pendekatan ilmiah dalam studi Islam berdasarkan data langsung dari subyek penelitian. Penelitian ini pengumpulan dan analisis data dapat dilakukan secara bersamaan. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah:
Hasil akhir penelitian ini menunjukan metode yang dilakukan oleh Muhammad Idrus Ramli adalah dakwah melalui tulisan (dakwah bil qolam), cara menjawab pertanyaaan yang dilakukan oleh Muhammad Idrus Ramli dengan menggunakan pendekatan sejarah (history) dan pendekatan filosofis. Pendekatan tersebut digunakan untuk menjelaskan kembali tentang sejarah dan ajaran-ajaran akidah Islam Ahlussunnah Wal Jamaah. Penggunaan metode dakwah Mujadalah (as-ilah wa ajwibah) yang dilakukan oleh Muhammad Idrus Ramli dengan melalui media buku termasuk dellayed feed-back artinya proses tanya jawab tidak terjadi secara langsung, melainkan antara pertanyaan dan jawaban terjadi rentang waktu yang cukup lama.
Keberhasilan dakwah Muhammad Idrus Ramli, disebabkan adanya beberapa pemilihan metode dakwah yang sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini terjadi dengan pergeseran akidah akibat banyak aliran-aliran yang ada di Indonesia, sehingga perlu ditekankan adanya akidah yang sesuai dengan masyarakat Indonesia yang memang terdiri dari dari berbagai macam suku, budaya dan agama. Muhammad Idrus Ramli mengambil peran untuk mempertegas akidah Islam rahmatan lil alamin yang dijadikan simbol perjuangan oleh masyarakat nahdliyin. Penjelasan Idrus Ramli mengenai akidah Islamnahdliyin inilah yang menjadi dasar pembuatan buku tersebut.
Menurut penulis secara keseluruhan dakwah yang dilakukan Muhammad Idrus Ramli merupakan khazanah dakwah yang harus terus dikembangkan bagi calon da’imasa depan. Karena tantangan kedepan akan semakin kompleks. Sehingga, selain seorang da’imempunyai kemampuan untuk berceramah, juga harus mempunyai kemampuan untuk menulis. Inilah tantangan yang harus dijawab oleh generasi masa depan
LOCAL WISDOM PEMIKIRAN SULTAN MUHAMMAD IDRUS KAIMUDDIN DALAM KITAB KABANTI “ Bula Malino” (Telaah Kitab Sastra Kabanti “Bula Malino”
Masuknya agama Islam di Kesultanan Buton, telah membawa kedamaian dan perubahan dalam segala bidang termasuk pada aspek Local Wisdom (kearifan local). Hal ini melahirkan ulama-ulama yang memiliki pemikiran yang cemerlang berusaha menjadikan budaya Islam mewarnai budaya lokal.
Salah satu ulama di Buton sekaligus sebagai Sultan yaitu Muhammad Idrus Kaimuddin Ibnu Badaruddin Al Buthuni (1824-1851). Pemikiran Sultan Kaimuddin menemukan esensi konsep ta krama menurut ajaran leluhur dalam Kabanti Bula Malino. Kabanti yang ditulis menggunakan tulisan Arab
berbahasa Wolio menjadi tradisi sekaligus tuntunan norma masyarakat di Kesultanan Buton yang didalamnya banyak berisi petuah falsafah yang bersumber dari ajaran Islam.
Jenis penelitian ini ialah penelitian kepustakaan (library research), dimana data-data yang dipakai adalah data kepustakaan. Data dalam penelitian ini adalah buku induk dan jurnal ilmiah tentang tema terkait. Metode analisis yang digunakan penulis adalah metode deskriptif kualitatif.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui narasi Kabanti dan menelaah nilai-nilai Local Wisdom yang di tuangkan oleh Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin dalam karyanya Kabanti bula malino.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Sultan Muhammad Idrus
Kaimuddin, melalui Kabanti bula malino berusaha menyampaikan kembali
ajaran-ajaran Islam, yang ia sampaikan dalam bahasa Wolio, bahasa yang
dimengerti oleh masyarakat yang ia pimipin pada saat itu. Pemikiran dalam
hal religiustas, etika,moral, tata krama, maupun nasehat Sultan Kaimuddin
yang di tuangkan dalam karyanya tersebut menjadi sebuah tradisi yang mampu
menjaga kearifan lokal (Local Wisdom) masyarakat muslim di pulau Buton.
Keywords: Sultan Muhammad Idrus, Kabanti, dan Local Wisdo
Sayyid idrus bin salim al jufri pendiri alkhairaat dan kontribusinya dalam pembinaan umat tahun 2014
Sang pencerah yang dapat memberikan penerangan pada gelapnya hati dan pikiran manusia bagai pelita di kegelapan malam yang mampu menerangi alam semesta. Itulah deskripsi singkat yang pantas diucapkan dan terlintas dalam benak pikiran kami ketika memulai menulis dan mengedit naskah buku "Sayyid Idrus Bin Salim Al-Jufri Pendiri Alkhairaat dan Kontribusinya dalam Pembinaan Umat". Sang pencerah, tidak berlebihan jika ungkapan itu disematkan kepada Sayyid Idrus Bin Salim Al-Jufri, mengingat beliau hadir di Palu di ranah Kaili, dalam waktu dan kondisi yang tepat untuk melakukan pencerahan.xxx, 423 hlm, 25 x 17,4 c
Sayyid idrus bin salim al jufri pendiri alkhairaat dan kontribusinya dalam pembinaan umat tahun 2014
Sang pencerah yang dapat memberikan penerangan pada gelapnya hati dan pikiran manusia bagai pelita di kegelapan malam yang mampu menerangi alam semesta. Itulah deskripsi singkat yang pantas diucapkan dan terlintas dalam benak pikiran kami ketika memulai menulis dan mengedit naskah buku "Sayyid Idrus Bin Salim Al-Jufri Pendiri Alkhairaat dan Kontribusinya dalam Pembinaan Umat". Sang pencerah, tidak berlebihan jika ungkapan itu disematkan kepada Sayyid Idrus Bin Salim Al-Jufri, mengingat beliau hadir di Palu di ranah Kaili, dalam waktu dan kondisi yang tepat untuk melakukan pencerahan.xxx, 423 hlm, 25 x 17,4 c
Sayyid idrus bin salim al jufri pendiri alkhairaat dan kontribusinya dalam pembinaan umat tahun 2014
Sang pencerah yang dapat memberikan penerangan pada gelapnya hati dan pikiran manusia bagai pelita di kegelapan malam yang mampu menerangi alam semesta. Itulah deskripsi singkat yang pantas diucapkan dan terlintas dalam benak pikiran kami ketika memulai menulis dan mengedit naskah buku "Sayyid Idrus Bin Salim Al-Jufri Pendiri Alkhairaat dan Kontribusinya dalam Pembinaan Umat". Sang pencerah, tidak berlebihan jika ungkapan itu disematkan kepada Sayyid Idrus Bin Salim Al-Jufri, mengingat beliau hadir di Palu di ranah Kaili, dalam waktu dan kondisi yang tepat untuk melakukan pencerahan.xxx, 423 hlm, 25 x 17,4 c
Budaya Pendidikan Islam di Kesultanan Buton pada Masa Pemerintahan Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin (Abad Ke -19 )
This study aimed to analyze the network of Islamic education in the Sultanate of Buton during the reign of Sultan Muhammad K. Kaimuddin. In addition, this study was also aimed to determine the factors that support public acceptance of the teachings application of Islam in the Sultanate of Buton during the reign of Sultan Muhammad K. Kaimuddin. The method used in this study was the historical method with a qualitative approach. Data collections techniques used were interviews, the study documentation through texts, literature study and observation. The results showed that: 1) a network of Islamic education in the Sultanate of Buton on 19th century had implemented an education system that integrates the local culture with the values ​​of the Qur\u27an based Sufism. The education system had been able to provide the ability for the Sultanate to build a political system, governance and security. Islamic education during the Sultanate still clearly visible on the implementation of the attitudes diversity of Buton society capable in integrating the noble values ​​of local with the noble values ​​of the Qur\u27an that are universal; 2) learning process that starts from the capital city of the Sultanate (the palace) and then spread to Kadie-Kadie onwards to barata region, which was a small kingdoms that had a structure of government and the community itself, take a long time and the process of distribution was quite long.
Keywords: cultural education, Islam, Sultanate, ButonPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis jaringan pendidikan Islam di Kesultanan Buton selama masa pemerintahan Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin. Selain itu, juga bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung penerimaan masyarakat terhadap penerapan ajaran Islam di Kesultanan Buton selama masa pemerintahan Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin. Metode penelitian ini adalah menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, studi dokumentasi melalui naskah-naskah dan studi kepustakaan serta observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) jaringan pendidikan Islam di Kesultanan Buton pada abad ke-19 telah menerapkan sebuah sistem pendidikan yang mengintegrasikan antara budaya lokal dengan nilai-nilai Al-Qur\u27an yang berbasis Tasawuf. Sistem pendidikan ini telah mampu memberikan kemampuan bagi Kesultanan untuk membangun sistim politik, pemerintahan dan keamanan. Pendidikan Islam pada masa Kesultananan masih tampak dengan jelas implementasinya yakni pada sikap keberagaman masyarakat Buton yang mampu mengintegrasikan antara nilai-nilai luhur lokal dengan nilai-nilai luhur Al-Qur\u27an yang bersifat universal; 2) proses pembelajaran yang dimulai dari Ibu Kota Kesultanan (istana) kemudian menyebar ke kadie-kadie dan seterusnya ke wilayah barata, yang merupakan kerajaan-kerajaan kecil yang memiliki struktur pemerintahan dan masyarakat sendiri, memakan waktu yang panjang dan proses penyebarannya cukup lama.
Kata kunci: budaya pendidikan, Islam, Kesultanan, Buto
Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam dalam Buku Wahabi Gagal Paham Karya Ustadz Idrus Ramli
Agama Islam merupakan agama terakhir dari Allah melalui Nabi Muhammad hingga menyebar ke penjuru dunia, dalam sepanjang sejarahnya, menghadapi perpecahan dan perbedaan interpretasi. Paham ahlussunah menjadi sumber perpecahan, menyebabkan penyimpangan akidah dengan dampak negatif. Ini mencemari sektor pendidikan, di mana beberapa kurikulum terpengaruh pandangan yang melenceng dari ajaran Islam. Upaya mengatasi masalah ini muncul dalam bentuk buku seperti "Wahabi Gagal Paham," yang berusaha menyikapi ketidakpahaman terhadap Islam dan memberikan sudut pandang yang berbeda. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi untuk mencegah kekeliruan berakidah serta tambahan wawasan syariah dan akhlak.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sedangkan jenis penelitiannya adalah Library Research Sumber data primer dalam penelitian ini adalah buku wahabi gagal paham karya ustadz idrus ramli. Adapun teknik pengumpulan data nya menggunakan tekhnik Dokumentasi teknik analisis data yang digunakan adalah kontent Analysis. Penelitian ini berhasil menyimpulkan bahwa : a.Nilai-nilai pendidkan akidah Dalam Buku Wahabi Gagal Paham Karya Ustadz Idrus Ramli dalam berakidah seseorang harus berpedoman dengan sumber akidah islam yang benar yaitu Al-qur‟an, Hadits, Ijma‟ dan juga Qiyas, Metode ber Akidah yang benar yaitu dengan mengikuti salah satu dari Madzhab yang di sepakati yaitu Asy‟ariyah dan Maturidhiyyah karena hal tersebut sangat sesuai dengan akidah yang di yakini oleh Rasulullah dan juga ulama‟ shalaf. Nilai pendidikan syariah dengan cara beribadah sesuai tuntunan Rasulullah yaitu dengan ber pedoman kepada salah satu dari 4 madzhab yaitu Hanafi, maliki, syafi‟i dan juga Hambali, Nilai pendidikan akhlak berupa ketegasan dalam menyampaikan argumen, jujur, bertanggung jawab dan juga selektif dalam memilih pendapat
KARAKTERISTIK KITAB HADIS SABĪL AL-SALĀM LI BULŪGH AL-MARĀM KARYA SULTAN MUHAMMAD IDRUS BUTON SULAWESI TENGGARA
Not many kings are also scholars. Not many scholars are also writers. Sultan Muhammad Idrus is a rare figure. He was a sultan (king) who had produced numerous works in the fields of religion and literature. If all of his works were calculated, they would total more than fifteen. One of his works that needs to be shown to public is SabÄ«l al-SalÄm li BulÅ«gh al-MarÄm. This book is still manuscipt form. The research method used by the author in this article employs a method of library research. This research reveals several characteristics of the manuscript form of SabÄ«l al-SalÄm li BulÅ«gh al-MarÄm, Those are, first, the themes addressed in this hadith book, namely, targhÄ«b wa tarhÄ«b, and second, the hadiths are mentioned in short version without including their transmission system (sanad) except for those at the level of companions. Third, the hadiths are not solely derived from the al-kutub al-tis’ah, but also from other sources of hadith books. Additionally, it places the topic of sincerity (ikhlÄá¹£) not in the first chapter
- …
