1,722,380 research outputs found
PERKEMBANGAN TAREKAT IDRISIYYAH MASA KEPEMIMPINAN SYEKH AKBAR MUHAMMAD DAUD DAHLAN DAN SYEKH AKBAR MUHAMMAD FATHURAHMAN (2001-2020)
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan Tarekat Idrisiyyah tahun 2001-2020, dengan menggunakan metode deskriptif naratif. Tarekat ini didirikan oleh Syekh Akbar Abdul Fattah di Tasikmalaya tahun 1932, tujuannya untuk meneruskan ajaran neo-sufisme di Indonesia. Neo-sufisme adalah gerakan pembaharu dalam bidang tasawuf untuk memurnikan ajarannya sesuai Al-Quran dan Hadist. Karena ajaran tasawuf di Indonesia mengalami penyimpangan pada praktiknya yang menerapkan perilaku zuhud, mengandung mistis antara hubungan manusia dengan Tuhan, dan mempercayai takhayul dan khurfat. Perkembangan Tarekat Idrisiyyah dari awal berdiri sampai dengan tahun 2001, mengalami hambatan-hambatan diantaranya Agresi Militer Belanda dan Pemberontakan DI/TII dimana Tarekat Idrisiyyah menjadi salah satu korbannya.
Setelah memasuki era reformasi, Tarekat Idrisiyyah mulai melakukan perubahan-perubahan dibawah kepemimpinan Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan. Perkembangan awal Tarekat Idrisiyyah mulai membuka diri dengan cara menyelenggarakan safari dakwah, menjalin relasi dengan pemerintah, dan berdakwah melalui media televisi. Kemudian dalam satu dekade tahun 2010 - 2020, dibawah kepemimpinan Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, Tarekat ini semakin maju melalui perluasan wilayah dan media dakwah, peningkatan dalam strata pendidikan, dan pertumbuhan di berbagai sektor-sektor perekonomian. Melalui pendekatan kemasyarakatan, Tarekat Idrisiyyah berhasil menerapkan ajaran neo-sufisme beriringan dengan kehidupan masyarakat modern.
This study aims to describe the development of Tarekat Idrisiyyah in 2001-2020, using descriptive narrative methods. Tarekat was founded by Sheikh Akbar Abdul Fattah in Tasikmalaya in 1932, his goal being to continue the teachings of neo-sufism in Indonesia. Neo-sufism is a reformer movement in the field of Sufism to purify its teachings according to the Quran and Hadith. Because sufism in Indonesia is distorted in practice that applies zuhud behavior, contains the mystical between human relationship with God, and believes in superstition and khurfat. The development of Tarekat Idrisiyyah from its inception until 2001, experienced obstacles including Dutch Military Aggression and the DI/TII Rebellion in which the Tarekat Idrisiyyah became one of the victims.
After entering the reform era, Tarekat Idrisiyyah began to make changes under the leadership of Sheikh Akbar Muhammad Daud Dahlan. The early development of Tarekat Idrisiyyah began to open up by organizing da'wah safaris, establishing relations with the government, and preaching through television media. Then in a decade of 2010 - 2020, under the leadership of Sheikh Akbar Muhammad Fathurahman, Tarekat is advancing through the expansion of the region and the media of da'wah, improvement in education strata, and growth in various sectors of the economy. Through a societal approach, Tarekat Idrisiyyah successfully applied the teachings of neo-sufism along with modern societ
Batasan aurat wanita menurut Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan (Pimpinan Pondok Pesantren Fathiyyah Al-idrisiyyah Tasikmalaya)
Wanita adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah yang mempunyai kelebihan-kelebihan dari laki-laki. Islam sangat peduli terhadap keberadaan wanita, oleh karena itu Islam mengatur hak-hak wanita agar keberadaan wanita diakui, dan dianjurkan agar wanita dapat menjaga dirinya dengan dapat menutup auratnya dengan baik, karena wanita adalah aurat, seluruh tubuh wanita dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki mempunyai daya tarik, sehingga wanita harus dapat menjaganya. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetehui pendapat Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan tentang batasan aurat wanita dan dasar hukum yang digunakannya sehingga ia dapat mengeluarkan pendapat seperti itu, serta implikasinya terhadap kehidupan masyarakat yang berada disekitar Pondok pesantren Fathiyyah Al- Idrisiyyah. Penelitian ini bertolak dari adanya perbedaan pendapat para ulama dalam menentukan batasan aurat wanita ketika ia keluar rumah atau berada diantara bukan muhrimnya, dimana pada umumnya para ulama sepakat bahwa aurat wanita itu adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, hal ini berbeda dengan pendapat Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan yang mengatakan bahwa aurat wanita itu seluruh tubuh tanpa terkecuali Penelitian ini mengunakan metode deskriptif agar dapat menghasilkan data secara cermat dan bisa mendapatkan gambaran yang akurat dari penomena yang ada. Adapun secara garis besamya jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif. Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan adalah pimpinan Pondok Pesantren Fathiyyah Al-Idrisiyyah di Tasikmalaya. Hasil penelitian menunjukan bahwa menurut Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan aurat wanita itu adalah seluruh tubuh tanpa terkecuali, hal ini sesuai dengan perintah Allah yang tertera dalam Al-Quran surat Al- Ahzab ayat 59. ia berpendapat demikian karena menurutnya wajah adalah merupakan hal yang paling pokok dari wanita, oleh karena itu apabila wajah wanita diperlihatkan begitu saja maka akan mengakibatkan malapetaka terhadap kehidupan umat, sehingga mencegah keburukan lebih diutamakan agar umat selamat dari bahaya. Dalam beristinbath al-ahkam Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan berlandaskan pada Al-Qur’an dan Hadits shahih. Dalam memandang batasan aurat wanita ia menggunakan metode istidlal, menurutnya bahwa menutup seluruh tubuh bagi wanita adalah perintah yang sesuai dengan Al-Qur’an, sunah dan fakta sejarah yang telah dipraktekan oleh wanita-wanita muslimah pada masa Nabi. Implikasi pendapat Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan terhadap masyarakat yang berada disekitamya adalah: wanita jemaahnya mau melaksanakan perintah itu, sedangkan para wanita yang bukan jemaahnya tidak melaksanakan perintah itu, para wanita tidak berani keluar rumah jika tidak menggunakan jilbab dan memakai pakaian yang tipis dan ketat, sedikit demi sedikit para Ibu mau melaksanakan perintah itu walaupun hanya ketika mengikuti pengajian yang dilaksanakan oleh pihak pesantren
Suluk adalah Konsep Suluk Dalam Perspektif Syekh Akbar Muhammad Fathurrahman: Pengertian Suluk, Tahapan-Tahapan Suluk, Suluk Dalam Pemikiran Syekh Akbar Muhammad Fathurrahman, Relevansi Suluk dalam Kehidupan Modern
This study aims to examine the Mosque Prosperity Movement (GAMIS) as a formulation of modern Sufism in the thoughts of Sheikh Akbar Muhammad Fathurahman within the Idrisiyyah Order. Sufism is understood not only as a process of spiritual development and purification of the soul through tazkiyah an-nafs, dhikr, and moral development, but also as a form of social service that provides benefits for the community. The concept of suluk developed by Sheikh Akbar emphasizes that the spiritual journey is not separate from social life, but must be realized in concrete actions oriented towards service and community empowerment. This study uses a qualitative descriptive method through field observations, in-depth interviews, and literature studies. The results show that GAMIS positions the mosque as a center of spiritual, educational, social, and economic activities that build individual and collective piety. Sufi values such as sincerity, modesty, love, service, trust, and patience are implemented through activities such as daily suluk, charity, congregational character development, and community empowerment programs. Thus, GAMIS is a modern, adaptive and contextual model of Sufism, which is able to integrate spiritual and social aspects harmoniously, and provides a real contribution to the revitalization of the function of mosques and strengthening community life in the contemporary era.Dalam kehidupan modern yang dipenuhi distraksi dan materialisme, ajaran suluk menjadi pedoman yang relevan untuk menjalani perjalanan spiritual yang murni. Konsep suluk menurut Syekh Akbar Muhammad Fathurrahman di Tarekat Idrisiyyah, Tasikmalaya, memberikan arah yang jelas dalam menghadapi tantangan spiritualitas kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan memahami konsep suluk menurut Syekh Akbar Muhammad Fathurrahman, dengan fokus pada ajaran dan penerapannya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan lapangan, melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan mahasantri dan tokoh, serta studi kepustakaan terhadap kitab, buku, dan dokumentasi kajian beliau. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suluk menurut Syekh Akbar Muhammad Fathurrahman tidak hanya mencakup praktik ritual seperti dzikir dan wirid, tetapi juga mencakup pengabdian total kepada mursyid dan proses penyucian jiwa. Nilai penting yang diajarkan oleh beliau meliputi ketekunan dalam berkhidmah, keikhlasan, ketaatan kepada guru, serta menjaga niat dan konsistensi dalam perjalanan spiritual. Suluk, dalam pandangan beliau, merupakan proses panjang yang mengarah pada kedekatan dengan Allah SWT, dengan menghindari jebakan batiniah dan duniawi yang dapat menghalangi perjalanan seorang salik. Penelitian ini juga menunjukkan relevansi ajaran suluk dalam menghadapi tantangan hidup modern, seperti krisis identitas, tekanan mental, dan kegersangan batin, serta memberikan alternatif spiritual untuk mencapai kehidupan yang lebih bermakna, tenang, dan terarah
Deep Learning Approaches Targeting Radiological Images
Artificial Intelligence (AI) algorithms have remarkably improved their performance in the recent years
in various domains, thanks to the introduction of deep learning approaches. Indeed they have shown a tremendous potential when solving tasks involving image analysisThe problem of deep learning is its requirement for huge datasets, nonetheless, DL approaches have proved to be helpful in the domain of medical imaging as well. Automated segmentation and classification in different biomedical tasks have proven to be faster and more cost effective.
In this thesis we study deep learning approaches used for segmentation and classification of different radiological images mainly CT Scans, MRI Scans and CXR images. In particular, we explored some issues like the multi-modality, and the small dataset problem
We first discuss about how the small datasets can be exploited to improve the performance of the deep model in the proposed architectures and then in the next work we train the model with multi modal data consisting of both CT and MRI images together and consider the corresponding opposite modality of CT and MRI as missing data problem. We use Cycle-GAN to generate the synthetic data for the missing data and further train the model with original and synthetic data together.
Then we focus on the classification of COVID exploiting the multi-modality data available. We proposed an architecture that is capable of handling multi modal data and extract feature representation from available modalities before concatenation and further use them for final classification. Then we exploit joint learning to train a small dataset from scratch.
Finally, this thesis concludes with open questions that may benefit from future work. This thesis demonstrate the potential role of CNNs to address the tasks of segmentation and classification
Multimodal Segmentation of Medical Images with Heavily Missing Data
An important aim of research in medical imaging is the development of computer aided diagnosis (CAD) systems. A fundamental step in these systems is the image segmentation and convolutional neural networks (CNNs) are becoming the most commonly used approach to solve this task. However, despite their great power, in this domain CNNs are limited in their potential performance by the usually small amount of data [1]. Computed tomography (CT) and magnetic resonance imaging (MRI) scans are often used to examine the internal structure of human body and have their own unique properties and limitations. As a common practice, the investigations are usually done on a single modality, nonetheless, the simultaneous analysis of multiple modalities can significantly boost the segmentation accuracy. However, obtaining multiple imaging modalities for the same subject is very unlikely. In this paper we investigate the possibility of generating a multimodal CT-MRI representation for a segmentation task starting from a single modality, either CT or MRI. We considered this as a missing data problem, hence, we designed a pipeline where a CycleGAN was used to generate the missing modality. The synthetic modality was then paired with the real one to perform the required segmentation taking advantage of the multimodal representation and the augmented training dataset. To test the system we used two unrelated labeled datasets, one with CT data and the other one with MRI data. Results show that data enrichment with synthetic modalities improves the segmentation performance
TINJAUAN YURIDIS KEWENANGAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH (DPD) DALAM MENGAJUKAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG DALAM SISTEM PEMERINTAHAN PRESIDENSIL INDONESIA
ABSTRAK
Akbar Muhammad (2021) : Tinjauan Yuridis Kewenangan Dewan Perwakilan Daerah (Dpd) Dalam Mengajukan Rancangan Undang-Undang Dalam Sistem Pemerintahan Presidensil Indonesia
Dalam menjalankan kewenangannya, terdapat beberapa perbedaan antara kedua lembaga yang ini, walaupun kedua lembaga ini sama-sama menjadi lembaga legislatif di Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah memiliki kewenangan yang lebih besar dari pada Dewan Perwakilan Daerah, sehingga politik bikameral di Indonesia menjadi Soft Bikameral, karena adanya lembaga yang mempunyai kewenangan lebih tinggi dibanding lembaga lainnya walaupun kedua lembaga tersebut sama-sama sebagai lembaga legislatif di Indonesia.
Dalam penulisan skripsi ini penulis mengangkat beberapa pokok permasalahan yakni Tinjauan Yuridis Kewenangan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Dalam Mengajukan Rancangan Undang-Undang Dalam Sistem Pemerintahan Presidensil Indonesia.
Penelitian ini adalah penelitian Hukum Normatif yaitu penelitian yang meletakkan hukum sebagai sebuah sistem norma. Sistem norma yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mengenai asas-asas, norma, kaidah dari peraturan perundang-undangan.
Melalui wawancara dan observasi dilapangan penulis memperoleh hasil setelah Pendekatan Per Undang-undangan, Pendekatan Konseptual, Pendekatan Sejarah dan Pendekatan Perbandingan Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa Adapun Tugas dan Wewenang Legislasi Dewan Perwakilan Daerah Dalam Sistem Pemerintahan Presidensil Indonesia sudah tertuang pada Undang-undang Nomor 42 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD diserahkan kepada DPR. Karena kedudukannya setara dengan lembaga DPR. Akan tetapi pada kenyataan lembaga DPD tidak menjalankan fungsinya sebagaimana amanat awal pembentukannya. Adapun Kendala tugas dan wewenang legislasi Dewan Perwakilan Daerah dalam sistem Pemerintahan Presidensil antara lain adalah Peran Legislasi Dewan Perwakilan Daerah Dibatasi oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan lain-lain
Sample size determination for time-to-event endpoints in randomized selection trials with generalized exponential distribution
Randomized selection trials are frequently used to compare experimental treatments that have the potential to be beneficial, but they often do not include a control group. While time-to-event endpoints are commonly applied in clinical investigations, methodologies for determining the required sample size for such endpoints, except exponential distribution, are lacking. In recent times, there has been a shift in clinical trials, with a growing emphasis on progression-free survival as a primary endpoint. However, the utilization of this measure has typically been restricted to specific time points for both sample size determination and analysis. This alteration in approach could wield a substantial influence on the clinical trial process, potentially diminishing the capacity to discern variances between treatment groups. In the calculation of sample sizes for randomized trials, this investigation operates under the assumption that the time-to-event endpoint conforms to either an exponential, Weibull, or generalized exponential distribution
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
