53 research outputs found

    Hubungan pengetahuan kegawatan trauma olahraga dengan penggunaan body protector pada anggota komunitas pencak silat

    No full text
    ABSTRACT     Nur Aini, Dwi Miftia . 2025. The Relationship BetweenKnowledge of Sports Trauma Emergencies andthe Use of Body Protectors Among Members ofthe Pencak Silat Community in Bojonegoro.Undergraduate Thesis. Nursing Study Program. Universitas Muhammadiyah Lamongan. Advisors (1)Isni Lailatul Maghfiroh, S.Kep., Ns., M.Kep (2) Inta Susanti, S.Kep., Ns., M.kep   Sports-related trauma is a common risk in pencak silatpractice. The use of personal protective equipment (body protectors) is crucial in preventing trauma and mitigating the severity of sports injuries. This study aimed to examine the relationship between knowledge of sports trauma emergencies and the use of body protectors among members of pencak silatcommunities in Bojonegoro City. This correlational analytic research employed a cross-sectional approach. A total of 90 respondents were selected from the three largest pencak silatcommunities in Bojonegoro using a cluster sampling technique. The instruments included a sports trauma emergency knowledge questionnaire and an observation checklist for body protector use. Data were analyzed using the Spearman test. Results showed that 47.8% of respondents had good knowledge of sports trauma emergencies. Moreover, 43.33% of respondents reported complete use of body protectors, while 30% used them incompletely. Statistical analysis revealed a significant relationship between knowledge and the use of body protectors (p = 0.000, r = 0.391). Although the correlation strength was relatively weak, the findings highlight knowledge as a prerequisite for safe behavior. Knowledge of sports trauma emergencies influences the use of protective equipment. These results align with previous research that identifies knowledge, safety, and comfort as key determinants of compliance with protective gear use. Adequate understanding of trauma severity raises awareness and motivates pencak silat practitioners to wear body protectors during training. Therefore, improving knowledge of body protector use is essential to enhancing practitioner safety.   Keywords: Body Protector, Knowledge, Pencak Silat, TraumaNur Aini, Dwi Miftia . 2025. Hubungan pengetahuan kegawatan trauma olahraga dengan penggunaan Body Protector padaanggota komunitas pencak silat di Kota Bojonegoro. Skripsi program studi S1 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Lamongan. Pembimbing (1) Isni Lailatul Maghfiroh, S.Kep., Ns., M.Kep (2) Inta Susanti, S.Kep., Ns., M.kep   Trauma olahraga merupakan salah satu risiko yang sering terjadi dalam olahraga pencak silat.Penggunaan alat pelindung diri (Body Protector) menjadi penting untuk mencegah terjadinya traumadan mencegah dari kegawatan trauma olahraga.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan kegawatan trauma olahraga dengan penggunaan body protector pada anggota komunitas pencak silat di Kota Bojonegoro. Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 90 responden dari tiga komunitas pencak silat terbesar di Kota Bojonegoro yang dipilih menggunakan teknik cluster sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner pengetahuan kegawatan trauma dan lembar observasi penggunaan body protector. Analisis data menggunakan uji Spearman. Hasil menunjukkan anggota pencak silat memiliki pengetahuan 47,8% dengan kategori baik tentang kegawatan trauma olahraga. 43,33% responden sudah menggunakan body protector secara lengkap, namun masih ada 30% yang menggunakan body protector secara tidak lengkap. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan kegawatan trauma olahraga dengan penggunaan body protectordengan hasil nilai p=0,000 r = 0,391. Meskipun kekuatan korelasi tersebut relatif lemah, temuan ini menegaskan pengetahuan sebagai prasyarat perilaku aman. Pengetahuan tentang kegawatan trauma olahraga berpengaruh terhadap perilaku penggunaan alat pelindung ini. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menempatkan pengetahuan, keamanan, dan kenyamanan sebagai determinan utama kepatuhan penggunaan alat pelindung. Pengetahuan yang baik tentang kegawatan trauma akan membuat seseorang lebih sadar dalam menggunakan body protector. Perilaku sikap ini akanmendorong seseorang untuk menggunakan body protector selama melakukan kegiatan olahraga pencak silat. Oleh karena itu, perlu meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya penggunaan body protector guna memaksimalkan keselamatan pesilat.     Kata kunci: Body Protector, Pengetahuan,Pencak_Silat, Traum

    Peran kepala sekolah sebagai supervisor dalam peningkatan mutu guru PAI di SMP Nasima Semarang

    Full text link
    Tujuan yang menjadi kajian peneliti, yaitu 1) Pelaksanaan supervisi pendidikan yang dilakukan oleh kepala sekolah di SMP Nasima Semarang. 2) Strategi yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai supervisor untuk meningkatkan mutu guru PAI di SMP Nasima Semarang. 3) Problematika yang dialami oleh kepala sekolah sebagai supevisor untuk meningkatkan mutu guru PAI di SMP Nasima Semarang dan bagaimana pemecahannya. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dan perilaku orang-orang yang dapat diamati dan diarahkan pada latar alamiah dan individu tersebut secara holistik (menyeluruh), sumber data diperoleh dari sekolah dan buku-buku pendukung. Pengumpulan data diperoleh dari observasi, wawancara dan dokumentasi. Setelah data terkumpul lalu dianalisis dengan menggunakan analisis data, data yang yang terkumpul semata-mata bersifat deskriptif dimana analisis datanya dilakukan secara induktif Hasil penelitian menunjukkan: 1) Pelaksanaan supervisi pendidikan yang dilakukan oleh kepala sekolah di SMP Nasima Semarang dilakukan dengan melakukan pengawasan dan bantuan terhadap kinerja guru pada unit SMP, 2) Strategi yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai supervisor untuk meningkatkan mutu guru PAI di SMP Nasima Semarang yaitu mengarahkan guru PAI pada proses pembelajaran yang tidak hanya teori tetapi aktif dalam pendampingan siswa harian (praktek dan teori baik) agar tercapai standar KKM pada diri peserta didik, kepala sekolah memberikan reward kepada guru bila hasilnya sesuai KKM dengan mempercepat kenaikan pangkatnya dan melakukan komunikasi dengan DEPAG, MGMP, dalam rangka peningkatan kualitas guru PAI. 3) Problematika yang dialami adalah Kurangnya kemampuan guru PAI dalam menggunakan dan memanfaatkan IT, banyaknya pekerjaan di SMP nasima semarang dalam pengembangan mutu sekolah terkadang jadwal supervisi terbengkalai. Maka menurut yang bisa dilakukan adalah kepala sekolah sebagai supervisor lebih meningkatkan mutu guru melalui profesional guru PAI, selain itu membiasakan guru menggunakan IT agar pembelajaran lebih berkualitas dan mencapai ketuntasan yang diharapkan

    IMPLEMENTASI METODE DEMONSTRASI PADA MATA PELAJARAN FIQIH MATERI WUDHU DI MTS FUTUHIYYAH 2 MRANGGEN-DEMAK

    Full text link
    Materi fiqh pada dasarnya berhubungan dengan syari’at dalam agama Islam baik yang berkaitan dengan ibadah dan muamalah. Materi fiqh yang berkaitan dengan syari’at dan praktek secara otomatis mengidikasikan adanya materi-materi yang berkaitan dengan manusia. Oleh sebab itu, dalam penyampaiannya tidak mengandalkan metode yang klasik seperti ceramah, melainkan harus ada peran aktif dari peserta didik itu sendiri. Salah satu contoh materi fiqh yang tidak maksimal jika hanya mengandalkan metode ceramah yaitu materi thaharah atau wudhu, karena pada materi wudhu memiiki unsure praktek. Untuk menjembatani ketepatan dalam pembelajaran fiqh maka di perlukan sebuah metode, metode yang tepat adalah metode demonstrasi. Berawal dari masalah tersebut, dalam penulisan ini bertujuan untuk membahas implementasi metode demonstrasi pada mata pelajaran fiqih materi wudhu di Mts Futuhiyah 2 Mranggen Demak. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian field research dimana penulis mengumpulkan data secara langsung dilapangan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, dapat disimpulkan bahwa Pelaksanaan metode demonstrasi mata pelajaran fiqih materi wudhu di MTs Futuhiyyah 2 sudah efektif karena sesuai dengan yang diharapkan dan mampu mencapai tujuan kegiatan. Saran dari peneliti, Pembelajaran merupakan suatu proses yang sangat kompleks, sehingga membutuhkan metode-metode yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Kata Kunci: Implementasi, Demonstrasi, Wudh

    PROSES PENYIDIKAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR DI POLRES DEMAK

    Full text link
    Kejahatan tidak mengenal batas usia, anak-anak juga telah banyak yang menjadi pelaku tindak pidana. Bahkan disaat sekarang ini kejahatan tidak mengenal siapa korban. Salah satu contoh tindak pidana yang masih sering terjadi adalah tindak pidana pencurian kendaraan bermotor roda dua. Tindak pidana pencurian ini diatur dalam Pasal 362 KUHP, karena pencurian ini merupakan delik biasa yaitu delik yang dapat dituntut tanpa diperlukan adanya suatu pengaduan. Tindak pidana pencurian kendaraan bermotor roda dua merupakan kejahatan yang dapat merugikan harta benda dengan hasil cukup bernilai. Namun demikian para pelaku tindak pidana tidak memikirkan kerugian bagi korban yang ditimbulkan akibat perbuatanya tersebut. Proses pemeriksaan tentang benar tidaknya suatu perbuatan pidana terjadi dapat diketahui melalui proses penyidikan, tetapi sebelum dilakukan penyidikan terlebih dahulu dilakukan proses penyelidikan yang dilakukan oleh penyelidik. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis sosiologis, Metode pendekatan yuridis sosiologis adalah metode pendekatan yang memaparkan suatu pernyataan yang ada di lapangan penelitian berdasar asas-asas hukum, kaidah-kaidah hukum, atas perundang-undangan yang berlaku dan ada kaitannya dengan permasalahan yang dikaji Proses penyidikan dimulai dari pemanggilan saksi, penangkapan dan pemeriksaan tersangka, penahanan tersangka, penyitaan barang bukti. Ini merupakan tahapan dalam menyelesaikan perkara pidana pencurian dan merupakan tugas utama bagi penyidik, hasil dari proses penyidikan dituangkan dalam Berita Acara, sebagaimana diatur dalam Pasal 75 KUHAP. Hambatan-hambatan yang dialami yakni dari faktor masyarakat, barang bukti yang sulit dilacak, dan kelihaian jaringan pencurian itu sendiri. Kata Kunci : Penyidikan, Pencurian, Tindak Pidan

    Tiga kegelapan dalam rahim ibu : studi komparatif penafsiran Zaghlul an-Najjar dan Penafsiran Ibnu Katsir dalam QS. Az Zumar Ayat 6

    Full text link
    Dalam al-Qur’an terdapat ayat yang merujuk kepada fenomena alam atau biasa disebut al ayat al kauniyah, diantaranya adalah tiga kegelapan dalam rahim ibu dalam surah az Zumar ayat 6. Terdapat perbedaan pendapat mengenai tiga kegelapan dalam rahim ibu dikalangan para mufassir. Zaghlul an-Najjar menafsirkan ayat “tiga fase kegelapan” dengan sangat rinci seperti kegelapan selaput (membran) yaitu; amnion, chorion dan decidua. Dan ini berbeda dengan pendapat Ibnu Katsir adalah kegelapan rahim, kegelapan plasenta dan kegelapan perut. Peneliti memfokuskan penelitian pada: Bagaimana Penafsiran Zaghlul an-Najjar dan penafsiran Ibnu al-Katsir Tiga Kegelapan dalam Rahim Ibu di dalam QS. Az-Zumar Ayat 6? Bagaimana Perbedaan dan Persamaannya? Relevansi pada zaman sekarang? Penelitian yang dilakukan ini bersifat Library Research (penelitian kepustakaan). Adapun data yang disajikan guna melengkapi data-data valid skripsi ini berasal dari bahan-bahan yang tertulis. Adapun metode yang digunakan penulis gunakan adalah: metode Komparatif, yaitu metode yang bisa digunakan dengan cara membandingkan antara data satu dengan data yang lainnya kemudian mendapat kesimpulan. Sumber data yang digunakan diperoleh dari Tafsir Zaghlul an-Najjar dan Tafsir Ibnu Katsir dan kepustakaan yang terkait dengan judul skripsi ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Zaghlul an-Najjar menjelaskan yang berkaitan dengan firman Allah swt, “di dalam tiga kegelapan”. a) kegelapan selaput (membran) yaitu; amnion, chorion dan decidua. b) kegelapan dinding rahim, yang terdiri dari tiga lapisan. c) kegelapan terletak di tengah-tengah rongga yang total ditutupi badan yang terdiri dari perut dan punggung, sedangkan Ibnu Katsir adalah kegelapan rahim, kegelapan plasenta dan kegelapan perut. Persamaan Substansi Penafsiran Zaghlul an-Najar dan Ibnu Katsir adalah Mereka hanya ada dua persamaan di dalam menafsirkan 3 kegelapan tersebut yaitu Kegelapan dinding rahim (rahim) dan kegelapan terletak di tengah-tengah rongga yang total ditutupi badan (perut). Perbedaan substansi Penafsiran Zaghlul an-Najjar dan Ibnu Katsir adalah Zaghlul an-Najjar menafsirkan kegelapan membran (selaput). Sedangkan Ibnu Katsir menafsirkan kegelapan plasenta (ari-ari). Relevansinya pada zaman sekarang para dokter modern ini setara dengan penafsirannya Zahlul an-Najjar, sehingga dapat dijadikan rujukan dari pada penafsiran Ibnu Katsir. Di antara penafsiran “tiga kegelapan” itu ialah kegelapan membran; amnion, chorion, dan decidua, kegelapan dinding rahim dan kegelapan terletak di tengah-tengah rongga yang total ditutupi badan

    KEKUATAN AKTA CONSENT ROYA SEBAGAI PENGGANTI SERTIFIKAT HAK TANGGUNGAN YANG HILANG DI KABUPATEN DEMAK

    Full text link
    Dalam hal proses pembuatan akta konsen roya hak tanggungan ini debitur menghadap ke notaris, oleh karena itu, akta konsen roya ini secara yuridis memerlukan bantuan Notaris dalam kapasitasnya sebagai pejabat umum yang memiliki kewenangan membuat akta otentik. Dalam praktik, ada kalanya sertifikat hak tanggungan tersebut hilang sebelum diroya disebabkan kelalaian dari pemegang hak tanggungan (kreditur), pencurian, tercecer, maupun rusak akibat force majeur. Hilangnya sertifikat hak tanggungan tersebut tidak hanya ketika berada pada pemegang hak tanggungan (kreditur) sebelum utang debitur lunas, tetapi bisa juga terjadi ketika berada di tangan debitur setelah utangnya lunas, tetapi belum sempat untuk diroya. Tujuan dilakukannya penelitian adalah untuk mengetahui dan menganalisa pelaksanaan pembuatan akta Consent Roya sebagai pengganti sertifikat hak tanggungan yang hilang dan untuk menganalisis dan menelaah kedudukan dan kekuatan hukum terhadap akta Consent Roya sebagai pengganti sertifikat hak tanggungan yang hilang dalam proses roya hak tanggungan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Yuridis Sosiologis, Teknik pendekatan yuridis sosiologis dimanfaatkan untuk menganalisis dan memberikan jawaban tentang masalah hukum sesuai dengan target yang dituju. Proses pendaftaran dan kelengkapan berkas terkait permohonan roya yang menggunakan akta konsen roya sama saja dengan pelayanan roya umumnya. Akta izin roya atau konsen roya hak tanggungan memiliki isi dan maksud yang sama hanya berbeda penyebutan berdasarkan kebiasaan masing-masing notaris. Hilangnya sertifikat hak tanggungan tersebut mengakibatkan peroyaan tidak dapat dilakukan. Sertifikat tanah yang masih dibebankan hak tanggunganpun tidak dapat dilakukan proses jual beli kembali ataupun perbuatan hukum lainnya apabila belum di roya. Maka dari itu untuk menggantikan SHT yang hilang tersebut, kantor BPN mensyaratkan untuk melampirkan Akta Konsen Roya dalam bentuk akta autentik notaris. Akta izin roya yang dibuat oleh notaris, kedudukannya hanya sebagai pengganti sertifikat hak tanggungan yang hilang dalam proses roya bukan untuk eksekusi, sehingga kedudukannya tidak bisa disamakan dengan sertifikat hak tanggungan yang memiliki kekuatan eksekutorial karena tidak diatur dalam undang-undang atau aturan yang tegas. Akta izin roya tersebut merupakan suatu persyaratan guna melaksanakan tertib administrasi pertanahan. Dalam hal ini berarti bahwa kedudukan akta izin roya hak tanggungan yang dibuat oleh notaris merupakan suatu kebiasaan dalam praktik notaris. Kata Kunci: Akta Konsen Roya; Sertifikat Hak Tanggungan; Notaris

    The Strength of Deed of Consent Roya as Substitute for Lost Certificate of Mortgage Rights in Demak District

    Full text link
    The purpose of the research is to find out and analyze the implementation of making a Consent Roya deed as a substitute for a lost mortgage certificate and to analyze and examine the legal position and strength of the Consent Roya deed as a substitute for a lost mortgage certificate in the process of roya mortgage rights. The approach used in this research is Juridical Sociological, the juridical sociological approach technique is used to analyze and provide answers about legal issues in accordance with the intended target. The results of this study are the registration process and the completeness of the files related to the roya application using the roya consents deed is the same as the general roya service. The roya license deed or roya consents of mortgage rights have the same content and purpose, only different mentions based on the habits of each notary. The loss of the mortgage rights certificate results in the royalties not being able to be carried out. Land certificates that are still charged with mortgage rights cannot be resold or other legal actions if they have not been completed. Therefore, to replace the lost SHT, the BPN office requires to attach a Roya Consent Deed in the form of a notarial authentic deed. The roya permit deed made by a notary, its position is only as a substitute for the lost mortgage certificate in the roya process not for execution, so its position cannot be equated with a mortgage certificate that has executive power because it is not regulated in law or strict rules. The Roya license deed is a requirement to implement orderly land administration. In this case, it means that the position of the roya permit deed of mortgage rights made by a notary is a custom in notarial practice.Keywords: Certificate; Deed; Mortgage; Roya

    Bimbingan konseling Islam dengan reward dan punihsment untuk mengurangi perilaku agresif pada seorang anak di Pondok Sosial Kalijudan

    Full text link
    Fokus penelitian adalah (1) Bagaimana proses bimbingan konseling islam dengan reward dan punishment untuk mengatasi perilaku agref pada anak di pondok sosial Kalijudan? (2) Bagaimana hasil akhir dari penerapan teknik reward dan punishment untuk mengatasi perilaku agresif pada anak di pondok sosial Kalijudan? Menjawab permasalahan tersebut peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif, jenis penelitian studi kasus dengan analisis deskriptif komparatif. Dalam Bab III peneliti melakukan identifikasi masalah menggunakan teknik wawancara dan observasi yang langsung kepada konseli. Untuk mengumpulkan data informasi mengenai konseli beserta latar belakangnya dengan melakukan beberapa pertemuan. Kemudian melakukan diagnosis guna mengetahui latar belakang penyebab permasalahan konseli. Setelah memahami permasalahan yang dialami oleh konseli, langkah selanjutnya yakni prognosis. Setelah peneliti melakukan observasi dan wawancara kepada konselidan berbagai pertimbangan, maka konselor mengambil satu treatment yang akan diberikan kepada konseli. Konselor menggunakan Reward dan Punishmenti agar dapat membantu mengurangi kesulitan yang dialami konseli. Kemudian langkah selanjutnya ialah langkah pemberian bantuan atau terapi dengan jenis teknik yang sudah di tentukan, barulah kemudian peneliti mendeskripsikan permasalahan dan cara menanganinya, dalam terapi telah peneliti paparkan bentuk reward dan punishment yang berangsur-angsur diberikan kepada konseli. Dalam bab IV peneliti mengkomparasi kondisi konseli sebelum dan sesudah diberikan treatment. Berdasarkan urutan analisis proses pelaksnaan konseling langkah pertama, peneliti yang sekaligus sebagai konselor mulai mengumpulkan data dengan menggunakan pendekatan kepada konseli dan membangun Repport dengan orang-orang yang konselor mintai data dan keterangan yakni para pendamping yang bertugas di Pondok Sosial Kalijudan. Pada langkah kedua yakni peneliti melakukan penilaian terhadap gejala-gejala yang konseli alami dan menetapkan jenis masalah konseli. Langkah ketiga, yaitu peneliti sekaligus konselor merencanakan dan merumuskan teknik terapi yang sesuai dan relevan dengan masalah konseli. Hasil penelitian dari pelaksanaan BKI dengan Reward dan Punishment dapat di katakan berhasil, dilihat dari pengamatan peneliti pada saat sebelum dan sesudah proses konseling di lakukan, konseli sudah mulai menunjukkan perubahan seperti konseli lebih tenang dalam mengelola emosi, terbuka dengan lingkungan maupun dengan anggota keluarga, lebih terlihat bisa bersosial, sehingga bisa menjadi orang yang lebih baik dan berguna

    Implementasi Teori Belajar Humanistik sebagai Hukum Dasar dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

    No full text
    Implementasi Teori Belajar Humanistik sebagai Hukum Dasar dalam Pembelajaran Pendidikan KewarganegaraanAini Magfiroh Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang Abstrak : Teori belajar humanistik ialah proses belajar harus berawal pada manusia (individu) itu sendiri. Tujuan utama teori humanistik ialah membantu peserta didik untuk mengembangkan dirinya, agar individu lebih mengenal diri mereka sendiri untuk menemukan bakatnya. Dalam hal ini teori ini dianggap berhasil apabila peserta didik memahami lingkungan sekitarnya serta dirinya sendiri. Teori belajar humanisik jika dihubungkan dengan mata pelajaran PKn memiliki hukum dasar yang bertujuan untuk memanusiakan manusia. Implementasi hukum dasar humanistik menurut pandangan Hamacheek adalah menghormati, menghargai dan menerima peserta didik apa adanya. Selain itu dalam pendidikan PKn ini mengutamakan pada pembentukan karakter warga negara yang baik. Sesuai dengan nilai-nilai pancasila dan UUD 1945. Dalam hal ini terdapat tiga pilar kunci utama dalam pembekalan pesrta didik yakni : pengetahuan, ketrampilan dan karakter warga negara yang baik.            Kata kunci : Teori Humanistik, Hukum Dasar, Implementasi dalam PKn. Pendahuluan Implementasi humanistik dalam dunia pendidikan menekankan pada perkembangan hal yang positif. pendekatan humanistik yang memfokuskan diri pada hasil afektif, belajar tentang cara bagaimana belajar yang baik, manfaat belajar dalam humanistik ialah untuk mengembangkan potensi dan kreativitas untuk mencari serta menemukan kemampuan yang mereka miliki.  Hal ini mencakup kemampuan seseorang dalam menjadi pribadi/individu sosial dan untuk pengembangan potensi diri dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika peserta didik dapat memahami lingkungan sekitar serta dirinya. Peserta didik dalam berproses belajar harus berusaha, agar cepat atau lambat peserta didik  memperoleh manfaat yang sebaik-baiknya. Hukum dasar humanistik melihat pemeran utama terdapat pada pelaku, bukan pengamat. Oleh karna itu, menimbulkan indikator utama dalam hukum dasar humanistik yaitu yang diamati ialah prilaku dari manusia.Melihat hasil penelitian Carl Rogers (1969,1983) ia berpendapat bahwa pendekatan dalam pendidikan sebaiknya membuat belajar dan mengajar lebih manusiawi, lebih bersifat personal, dan bermakna. Agar hal tersebut dapat terealisasikan dengan baik maka sebagai pendidik harus memahami unsur-unsur humanistik. Walau banyak pendidik yang dapat menerapakan hal tersebut, namun masih banyak yang menyepelehkan mata pelajaran PKn.PKn ialah mata pelajaran sebagai sarana pengembangan nilai-nilai budaya indonesia yang terdapat pada pancasila yang dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari, berbangsa maupun bernegara, baik individu dengan individu, individu dengan kelompok, individu dengan yang maha kuasa. Dalam pembelajaran PKn memiliki tujuan sebagai pembekalan peserta didik dengan budi pekerti yang baik, pengetahuan serta bela negara yang suatu saat dapat diandalkan oleh bangsa dan negara. Maka, diperlukanlah proses pembentukan karakter yang baik agar dapat mengembangkan SDM yang berkualitas baik, demokratis dan bertanggung jawab. Oleh karenanya, PKn merupakan usaha untuk sadar, yang sudah terancang melalui pendidikan umum untuk membentuk nilai-nilai yang ada pada pancasila. Dalam membentuk nilai-nilai dalam pancasila peserta didik tidak hanya mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari namun peserta didik harus menjiwai  nilai-nilai pancasila. Hal ini dilakukan agar menumbuhkan jiwa rasionalisme mengenai pancasila sehingga memiliki nilai moral yang baik.Tiga pilar dalam PKn yang harus dimiliki oleh peserta didik yaitu : pengetahuan tentang kewarganegaraan , ketrampilan tentang kewarganegaraan, dan sikap tentang kewarganegaraan. Ada pula manfaat menggunakan pendekatan humanistik dalam pembelajaran PKn ialah memberi kesempatan pada pesertadidik agar dapat menerima pelajaran dengan baik dan mudah untuk dikembangkan.  PembahasanPengertian HumanistikTeori belajar humanistik ialah proses belajar harus berawal pada manusia (individu) itu sendiri. pendekatan humanistik memfokuskan pada hasil afektif yang lebih mengutamakan betapa pentingnya isi dari proses belajar. Tujuan utama para pendidik adalah membantu peserta didik untuk mengembangkan dirinya, maksudnya ialah membantu individu untuk mengenal diri mereka sendiri guna membantu menemukan bakat dan mewujudkan melalui potensi-potensi yang ada dalam diri tiap individuPada teori humanistik memiliki tujuan yang mulia yaitu untuk “memanusiakan manusia” dalam hal ini teori ini dianggap berhasil apabila peserta didik memahami lingkungan sekitarnya serta dirinya sendiri. Untuk mencapai keberhasilan yang sempurna tidak diperoleh peserta didik secara instan namun mengutamakan proses yang lambat laun peserta didik akan memperoleh hasil yang sempurna. Teori humanistik melihat bahwa proses belajar yang berusaha memahami sudut pandang pelaku bukan pengamat.Maka, teori belajar humanistik merupakan teori belajar dan pembelajaran yang mengutamakan memanusiakan manusia serta diharapkan mampu untuk mengembangkan potensi diri. Dalam teori humanistik terdapat hukum dasar. Hukum dasar ini memiliki makna bahwa belajar bertujuan untuk memanusiakan manusia. Berikut hukum dasar dalam teori humanistik :a. Hukum dasar humanistik mementingkan proses belajar dari individu itu sendiri. Hukum dasar humanistik ini menjelaskan mengenai konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan. Artinya hukum dasar lebih menekankan pemahaman tentang proses belajar yang apa adanya.b. Humanistik mengatakan bahwa martabat dan nilai-nilai kemanusiaan ialah yang tertinggi dan sebagai salah satu cara untuk menyatakan diri. Teori ini menentang rasa tidak percaya diri. Teori ini mengatakan bahwa manusia memiliki potensi untuk berkembang dengan baik. Dalam pendidikanteori ini menekankan pendidikan yang utama dan paling utama ialah bagaimana berinteraksi untuk menjalin hubungan (komunikasi) yang baik dengan individu, kelompok dan masyarakat. c. Hukum dasar humanistik jika dalam pendidikan yaitu mengembangkan aspek individu secara fisik, kecerdasan, emosi dan sosial yang berpengaruh pada proses interaksi serta motovasi dalam belajar. Teori ini melihat bahwa tiap individu memiliki kekanyakan berupa potensi-potensi yang harus dikembangkan. Oleh karenanya, teori humanistik lebih manusiawi dalam mempelajari masalah kemanusiaan. Ciri-ciri HumanistikCiri-ciri humanistik menurut pandangan Hamacheek ialah :1. Pendidik mampu menghormati, menghargai dan menerima peserta didik apa adanya. 2. Pendidik harus mampu menciptakan lingkungan kelas yang kondusif untuk melakukan proses belajar mengajar.Implementasi Hukum Dasar HumanistikImplementasi hukum dasar humanistik menurut pandangan Hamacheek dalam menghormati, menghargai dan menerima peserta didik apa adanya ialah : 1. Menghormati peserta didik sebagai suatu upaya yang dapat dilakukan oleh pendidik dalam menghormati dan menghargai yang dilakukan oleh peserta didik untuk keperluan peserta didik dengan kata lain dalam memenuhi hak agar saling menghormati. Menghargai peserta didik merupakan upaya pendidik untuk memberikan gambaran pada apa yang dilakukan peserta didik melalui penghargaan. Dengan kata lain, menerima peserta didik apa adanya ialah  pendidik harus mampu menerima keberagaman SARA dari peserta didik, pendidik harus bisa menerima kelebihan dan kekurangan yang dimiliki dalam proses belajar dan pembelajaran.2. Menciptakan lingkungan kelas yang kondusif dalam proses belajar mengajar untuk keberhasilan proses belajar yang tentram, aman dan nyaman dalam proses pembelajaran. Hal ini dilakuakan sebagai agar peserta didik mendapat hak pembelajaran yang baik untuk mengembangkan kreatifitas.  Pengertian Mata Pelajaran PKn Pendidikan Kewarganegaraan ialah pendidikan yang menggali serta berbicara mengenai pemerintahan, konstitusi, lembaga-lembaga demokrasi, HAM,  serta hak dan kewajiban dalam proses demokrasi.Pada Pasal 37 ayat (1) dinyatakan bahwa PKn ialah salah satu pelajaran wajib dalam kurikulum pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta perguruan tinggi. Sedangkan pada pasal 39 UU No 20 Tahun 2003 menegaskan bahwa PKn ialah sebagai langkah untuk pembekalan serta menebengi peserta didik dengan ilmu pengetahuan mengenai bela negara agar nantinya dapat menjadi warga negara yang baik. Jadi, dalam pendidikan PKn ini mengutamakan pada pembentukan karakter warga negara yang baik. Disebut warga negara yang baik apabila mampu memahami serta melaksanakan hak dan kewajibanya secara baik, cerdas, terampil dan berkarakter nilai-nilai pancasila dan UUD 1945. Dalam hal ini terdapat tiga pilar kunci utama dalam pembekalan pesrta didik yakni : pengetahuan, ketrampilan dan karakter warga negara yang baik.            Tujuan Mata Pelajaran PKnDalam Mata Pelajaran PKn terdapat Tujuan diantaranya sebagai berikut:1. Peserta didik maupun warga negara diharapkan mampu untuk berfikir kritis, rasional bedasar logika serta kreatif untuk menghadapi isu kenegaraan atau kewarganegaraan.2. Peserta didik maupun warga negara dapat berperan aktif dan bertanggung jawab serta mampu bertindak cerdas dalam kegiatan berbangsa dan bernegara yang baik. Dalam hal in dibutuhkan partisipasi sebagai warga negara yang baik.3. Mampu berkembang dengan baik untuk membentuk negara demokrasi dengan pribadi karakter yang pancasilais. Serta dapat berinteraksi dengan baik.Implementasi Hukum Dasar Humanistik dalam PKn Implementasi hukum dasar humanistik ialah pendidik harus mampu memperlakukan peserta didik sebagai individu yang memiliki hak dan kewajiban yang harus terpenuhi, dengan kata lain mampu memanusiakan manusia. Pendidik harus membantu menggali potensi-potensi yang harus dikembangkan oleh peserta didik dengan maksimal. Selanjutnya pendidik harus menerima serta menghargai pencapaian peserta didik dalam proses belajar, dengan kata lain dapat menerima peserta didik apa adanya. Implementasi humanistik cenderung memfokuskan peserta didik untuk berfikir kritis secara induktif serta, mementingkan pengalaman individu dalam proses belajar. Disini peserta didik sebagai pemeran utama dalam mengartikan proses pengalaman dalam belajrnya sendiri. Peserta didik sebagai manusia (makhluk individu) memiliki kebutuhan yang harus terpenuhi misalnya saja dalam memahami potensi diri. Dalam hal ini diharapkan peserta didik dapar mengmbangkan potensi dirinya secara positif serta mengurangi potensi yang bersifat negatif dengan berpedoman pada nilai-nilai pancasila yang terkandung dalam mata pelajaran PKn. Oleh karenanya pembelajaran yang baik ialah yang mengutamakan proses dalam belajar dari pada hasil belajarnya.   Langkah Implementasi Hukum Dasar Humanistik dalam PKn langkah-langkahnya sebagai berikut:1. Pendidik harus menghormati dan menghargai hasil kerja peserta didik dalam proses pembelajarn PKn. 2. Pendidik harus menghargai hasil kerja peserta didik misalnya denga memberikan penghargaan kepada peserta didik karna apa yang telah ia lakukan. Penghargaan ini tidak selalu berupa piala dan hadiah namun bisa berupa pujian untuk memotivasi peserta didik dalam pembelajaran PKn.3. Pendidik harus mampu menerima peserta didik apa adanya manakala terdapat perbedaan unsur SARA pendidi harus bisa menerima itu baik kelemahan maupun kelebihan peserta didik dalam proses pembelajaran PKn.4. Pendidik harus mampu menciptakan suasana kelas yang kondusif yang tenang dan nyaman dalam proses pembelajaran PKn.   Daftar PustakaDr.C.Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta Hadis, Abdul.  2006.  Psikologi Dalam Pendidikan.  Bandung:  Alfabet
    corecore