1,721,065 research outputs found
Translation shift of adjective clause in The children’s literature Five on A Treasure Island by Enid Blyton and its translation by Agus Setiadi
Translation shift is the way to maintain messages from source language (SL) to target language (ST) to stay preserved. The translation shift occurs because of the difference in the structure of both languages so that it requires some shifting for the message to be delivered properly in ST. This study analyzes the translation shift that occurs in the adjective clause in the children’s literature "Five on A Treasure Island" by Enid Blyton and its translation of "Lima Sekawan di pulau Harta" by Agus Setiadi. This study aims to find a translation shift occurs in the adjective clause as well as how the translation’s equivalence. The theory of translation shift is examined using Catford's theory (1965) while the translation equivalent uses Nida’s theory (1964) consisting of formal equivalence and dynamic equivalence. In this study, researchers used qualitative and descriptive content analysis method to investigate the shifts that occur in the novel and also the translation’s equivalence. Based on 88 data, the researcher found 9 data for level shift, 29 data unit shift, 32 data class shifts, 3 data for structural shift, 4 data untranslated, and 19 data is not shift. By these data it is concluded that the translation shift occurs mostly in the class shifts. Then on the translation equivalent, the researcher found 46 data were equivalent and 42 data are not. Translator mostly translates the adjective clauses dynamically. Translations are translated by many additions of translator’s ideas and there are many inappropriate words that make translations are not equivalent and need some adjustments and improvements
AN ANALYSIS OF TRANSLATING SIMILE FOUND IN THE ENGLISH NOVEL MATILDA BY ROALD DAHL AND ITS INDONESIAN VERSION BY AGUS SETIADI
Skripsi ini membahas simile yang terdapat di dalam novel yang berjudul
Matilda karya Roald Dahl (1988) dan diterjemahkan oleh Agus Setiadi (2010).
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan prosedur yang digunakan oleh
penerjemah dalam menerjemahkan simile dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia
dan dianalisis dengan mengunakan teori prosedur penerjemahan oleh Newmark
(1988). Selanjutnya, dilihat bagaimana cara penerjemah mempertahankan simile
dengan menggunakan teori dari Larson (1984). Pengumpulan data dilakukan
dengan mengunakan metode observasi dan teknik catat (Sudaryanto, 1988). Data
dianalisis dengan mengunakan teori padan translational (Sudaryanto, 1993) yang
membandingkan bahasa sumber dengan bahasa sasaran, dan kemudian data yang
dibandingkan tersebut dianalisa mengunakan teori Newmark (1988). Dalam
mengidentifikasi simile, penulis mengunakan teori analisis simile oleh Larson
(1984) yang memenuhi tiga unsur penting simile; topik, perumpamaan dan
kesamaan. Dalam mengidentifikasi makna kesamaan pada simile, ada dua
pembagian sisi yang berbeda; implisit dan eksplisit. Berdasarkan 16 data, terdapat
13 data bermakna eksplisit dan 3 data implisit. Prosedur yang digunakan oleh
penerjemah dalam menganalisa simile ada tujuh; yaitu shift or transposition (12
data), expansion (7 data), reduction (6 data), modulation (6 data), paraphrase (3
data), literal translation (3 data) and transference (1 data). Dalam menerjemahkan
16 data simile, ada tiga cara yang digunakan oleh penerjemah; mempertahankan
dari simile ke simile (11 data), menambahkan unsur kesamaan tapi tetap
mempertahankan simile (4 data) dan menambahkan unsur kesamaan tapi mengganti
dari simile ke metafora (1 data).
Kata kunci: simile, prosedur, cara penerjemaha
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Variasi Keluasan Makna Tekstual Dalam Teks Dwibahasa Five on The Treasure Island Karya Enid Blyton Dan Lima Sekawan Di Pulau Harta Karya Agus Setiadi
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan variasi keluasan makna tekstual yang direpresentasikan dalam teks dwibahasa Five on The Treasure Island karya Enid Blyton dan Lima Sekawan di Pulau Harta karya Agus Setiadi, mendeskripsikan makna variasi keluasan makna tekstual tersebut dalam konteks penerjemahan berdasarkan rerata antara T1 dan T2, serta membahas dan menginterpretasikan faktor-faktor kontekstual yang memotivasi terjadinya variasi keluasan makna tekstual.
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif-kualitatif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dua novel dengan fokus pada satuan-satuan klausa. yang mewujudkan satuan-satuan makna tekstual. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan menerapkan konsep Komunikasi Semiotik Translasional (KST) dan konsep Halliday tentang makna tekstual. Pengujian keabsahan data dilakukan melalui triangulasi yang berfungsi untuk mengecek kebenaran data yang digunakan, dan juga untuk memastikan kebenaran analisis klausa, serta interpretasi yang dilakukan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variasi keluasan makna tekstual T1 dan T2 yang paling dominan adalah variasi 0 atau variasi sangat rendah. Hal ini dapat dilihat dari frekuensi kemunculan tertinggi yaitu 63,52%. Berdasarkan rerata yang paling menonjol dari kedua teks, T1 yang paling menonjol di antara T1 dan T2. Hal ini dapat dilihat dari rerata kemunculan tertinggi T1 yaitu 22,21%. Jenis-jenis tema yang memotivasi keluasan makna tekstual yaitu, tema interpersonal, tema topikal dan tema tekstual. Faktor-faktor kontekstual yang memotivasi terjadinya variasi keluasan makna tersebut yaitu konteks situasi dan konteks budaya. Secara singkat, konteks situasi terdiri dari field, tenor, mode. Field (apa)yaitu T1 dan T2 menceritakan kisah empat remaja yang mengalami petualangan di sebuah pulau. Tenor(siapa) yaitu para tokoh di T1 dan T2 antara lain, Anne, Julian, Dick, George dan anjingnya Tim. Mode yaitu berkaitan dengan media dan alat saluran komunikasi. T1 dan T2 sama-sama menggunakan dialog informal dan alat saluran komunikasi yaitu tulisan. Konteks budaya T2 ditunjukkan oleh istilah yang sama dengan T1. Dapat diindikasikan bahwa T2 berintertekstual dengan T1 yaitu melalui judul di T2 yang merupakan ungkapan yang sama dengan judul pada T1
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
BOOK REVIEW OF MATILDA WRITTEN BY ROALD DAHL
Novel adalah refleksi dari kebudayaan manusia. Novel identik dengan sebuah karya sastra yang berbentuk prosa yang cukup panjang, dan cenderung fiktif. Sebuah novel tersusun berdasarkan unsur-unsur pembangun seperti unsur intrinsik dan ekstrinsik. Novel yang penulis ulas pada final project ini berjudul Matilda karangan penulis cerita anak-anak terkenal dari Inggris, Roald Dahl. Dahl terkenal karena karyanya yang imajinatif dan alur yang, menurut pendapat penulis, sulit ditebak. Matilda, menurut penulis, adalah novel imajiner dengan tema yang ringan. Cocok dibaca untuk semua golongan usia. Namun, pada novel ini Dahl banyak menggunakan hiperbola dalam melukiskan jalan ceritanya. Alasan inilah yang mendasari penulis untuk mengulas salah satu novel dari Roald Dahl, yaitu Matilda.
Matilda tergolong novel populer karena ceritanya mudah dipahami dan pengarang tidak berbelit-belit dalam menyampaikan cerita. Karena novel ini diperuntukkan bagi anak-anak, cerita yang dihadirkan mengikuti selera serta imajinasi pengarang, tidak rumit dan berkembang dengan sederhana sesuai dengan logika anak-anak.
Resensi ini bertujuan untuk memberikan gambaran secara umum mengenai isi sebuah novel. Dalam meresensi sebuah novel, penting adanya sebuah ulasan mengenai unsur intrinsik seperti tema, alur, latar, penokohan, perwatakan, amanat, dan sudut pandang serta unsur ekstrinsik yang berupa faktor sosial dan psikologis pengarang yang sangat mempengaruhi gaya seorang pengarang dalam menyampaikan suatu kisah. Peresensi hanya menunjukkan gambaran umumnya dan pembacalah yang kemudian memberikan penilaian mengenai kualitas sebuah novel.
Project ini memberikan sedikit ulasan tentang kelebihan dan kelemahan Matilda yang disertai dengan biografi singkat pengarangnya. Melalui resensi ini, pembaca dapat memahami sekilas tentang isi dari novel Matilda beserta pengarang dan beberapa karyanya
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
