1,720,999 research outputs found
Pemikiran Agus Mustofa dalam memahami Al-Qur'an dengan metode Puzzle
Seorang mufassir al-Qur’an membutuhkan sebuah metodologi yang dapat membantu mereka untuk menjelaskan kandungan al-Qur’an. Pada umumnya metode yang digunakan oleh para mufassir terdapat empat macam, yaitu metode Ijmali, Tahlily, Muqaran dan Maudhu’i. Akan tetapi setelah peneliti melakukan studi awal mengenai metodologi para mufassir di Indonesia, peneliti menemukan salah satu tokoh asal Indonesia yang mengenalkan cara beliau dalam memahami al-Qur’an dengan metode lain, yaitu metode puzzle. Tokoh tersebut bernama Agus Mustofa, yang dikenal sebagai seorang penulis yang produktif dengan karya-karyanya yang sangat menarik untuk dibaca.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui latar belakang Agus Mustofa dalam memahami dan menafsirkan al-Qur’an dan juga melihat otentisitas dan validitas dari penerapan metode puzzle Agus Mustofa terhadap buku-bukunya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data library research atau mengambil data-data kepustakaan. Dan menggunakan deskriptif dan content analysis sebagai cara menganalisis data. Sedangkan sumber primer yang digunakan adalah buku-buku Agus Mustofa yang berkaitan dengan yang akan dibahas dan juga penjelasan beliau melalui platform youtube Agus Mustofa, dan sumber sekunder yang digunakan ialah jurnal, skripsi atau buku yang memberikan jawaban pada penelitian ini.
Hasil penelitian menemukan bahwa metode puzzle yang digunakan oleh Agus Mustofa dilatar belakangi oleh kurangnya umat Muslim dalam memahami al-Qur’an, dikarenakan al-Qur’an yang menggunakan bahasa Arab. Oleh karena itu, beliau mencoba mengajak umat Muslim untuk memahami al-Qur’an dengan cara yang mudah, yaitu mengaitkan ayat al-Qur’an satu dengan lainnya yang berhubungan dengan tema yang sama. Agus Mustofa melahirkan pemikiran tasawwuf modern. Yang mana tasawwuf modern merupakan perpaduan dari ilmu tasawwuf dan sains, dan kemudian menjadi corak yang digunakan dalam menjawab tema yang dibahas. Metode puzzle yang digunakan oleh Agus Mustofa memiliki kesamaan dengan metode maudhu’I yang mana pada kedua metode tersebut menggunakan cara mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an yang sesuai dengan tema yang sedang dibahas. Akan tetapi pada metode puzzle sendiri tidak menggunakan cara lain selain mengumpulkan ayat al-Qur’an sebagaimana cara-cara yang dilakukan oleh metode maudhu’i. Agus Mustofa mengabaikan tahapan-tahapan yang ada sebagai seorang mufassir, terutama untuk memahami al-Qur’an dengan metode maudhu’i
TELAAH EPISTEMOLOGI PENAFSIRAN AGUS MUSTOFA (STUDI AYAT-AYAT AKHIRAT DALAM TAFSIR ILMI)
Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi kehidupan umat Islam yang memiliki ayat-ayat
tentang berbagai macam peristiwa, salah satunya tentang hari akhir. Sebagai umat
Islam yang mengimani hari akhir, sangat penting untuk mengetahui kebenaran
adanya alam akhirat, kehidupan masa depan kita setelah hidup di dunia. Oleh
karena itu, kajian tentang hari akhirat ini sangat penting untuk diketahui. Agus
Mustofa adalah seorang penulis yang mencoba mengajak kita untuk berdiskusi
secara Qur’ani dan Kauni dalam memahami, benarkh akhirat itu kekal
sebagaimana informasi yang kita dengar selama ini?
Fokus masalah yang dikaji pada penelitian ini meliputi, a). apa saja ayat-ayat yang
dikutip Agus Mustofa dalam membahas alam akhirat; b). struktur epistemologi
penafsirannya; c). kontribusi pemikirannya.
Penelitian ini termasuk dalam penelitian kepustakaan dengan sumber data primer
yakni karya Agus Mustofa (Ternyata Akhirat Tidak Kekal) dan karya lain terkait
Al Qur’an dan akhirat. Sumber sekunder yakni sumber tertulis lain yang relevan
dengan penelitian ini. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dan
analisis komparatif yakni uraian terhadap pemikiran Agus Mustofa dengan
menggunakan teori epistemologi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sumber penafsiran Agus Mustofa yakni
al Qur’an dan sains. Metode penafsiran Agus Mustofa yaitu metode puzzle al-
Qur’an dengan corak tafsir ilmi. Untuk validitas penafsiran, Agus Mustofa belum
dapat dikategorikan dalam teori koherensi ataupun korespondensi karena tidak
konsisten dalam menggunakan sumber pengetahuan, dan dikarenakan upaya yang
dilakukan Agus Mustofa adalah untuk menguji sesuatu yang ada di luar logika,
namun upaya Agus Mustofa bisa dikatakan tetap memiliki kebenaran dalam skup
kebenaran pragmatisme kultural.
Penafsiran tentang akhirat tidak kekal menurut pandangan Agus Mustofa dilandasi
dengan Q.S. Huud (11) : 106-108. Dengan menggunakan logika agama dan logika
sains, Agus Mustofa berusaha menjelaskan ketidakkekalan akhirat dilihat dari sisi
akhirat adalah makhluk yang diciptakan Allah, karena makhluk maka suatu saat ia
akan lenyap dan hanya ada Allah Maha pencipta seluruh alam semesta dan
memberikan pandangan bahwa periode akhirat hanya dengan batasan waktu
bukan kekal abadi selama-lamanya. Akan tetapi dalam penjelasannya Agus
Mustofa hanya berpegang pada surat Hūd lalu mengalahkan 110 ayat yang
menyatakan kekekalan surga dan neraka. Terlepas dari salah ataupun benar, tidak
dapat dipungkiri bilamana dia adalah seorang yanng telah berupaya membuka
pandangan kita bagaimana memahami agama bukan hanya sekedar sebagai
dogma, tetapi mampu dibuktikan secara logis dan empiris. Terlepas dari itu
semua, Agus Mustofa mengatkan bahwa setiap karya yang ditulisnya berawal dari
sebuah diskusi, artinya hasil pemikirannya masih bisa untuk terus dibicarakan dan
didiskusikan
Konsep takdir menurut Agus Mustofa di era pandemi Covid-19
Sejak abad pertama hijriah permasalahan mengenai takdir termasuk juga di antara masalah-masalah filosofis yang sangat rumit dikalangan para pemikir Islam. Permasalahan mengenai pandangan takdir berdampak besar dalam kehidupan. Banyak orang yang salah dalam memahami takdir, menyalahkan Tuhan atas berbagai kemalangan dan kesulitan yang menimpanya. Seperti yang terjadi saat ini adalah pandemi virus Covid-19. Virus Covid-19 ini berasal dari penemuan kasus pneumonia pada masyarakat kota Wuhan China yang disebabkan oleh virus sars-cov-2. Dalam kajiannya terkait dengan konsep takdir terdapat berbagai sikap dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang mencerminkan pada keyakinannya.
Adapun tujuan penelitian ini untuk menjawab beberapa permasalahan yang menjadi pokok bahasan dalam skripsi ini, yakni 1) Konsep takdir menurut Agus Mustofa; 2) Menyikapi pandemi Covid-19 dalam perspektif Agus Mustofa.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi pustaka (library research), dengan menggunakan metode kualitatif, dan teori konsep takdir menurut Agus Mustofa sebagai pisau analisis.
Temuan dalam riset ini menunjukkan bahwa, pertama menurut Agus Mustofa takdir adalah takdir berdasarkan usaha manusia, dalam hal ini manusia dapat berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan takdir terbaiknya. Kedua, Dalam menyikapi pandemi Covid-19 menurut Agus Mustofa sebagai manusia sudah seharusnya berikhtiar semaksimal mungkin agar terhindar dari virus Covid-19 seperti salah satu upaya yang disampaikan pemerintah adalah dengan tetap berada di rumah, menjauhi kerumunan, menjaga jarak minimal 1 meter dari orang lain, menggunakan masker, mencuci tangan secara teratur dengan sabun dan air bersih mengalir, atau membersihkannya dengan cairan antiseptik berbahan dasar alkohol, menjaga daya tahan tubuh dan vaksinasi. Setelah berikhtiar barulah menyerahkan segala urusannya kepada Allah SWT dan bersabar dalam menerima keadaan selama pandemi Covid-19
Kajian al Quran Sains: Ayat-ayat Alquran tentang Bentuk Bumi Perspektif Agus Mustofa
Tsamrotul Ishlahiyah, “Kajian Alquran Sains (Ayat-ayat Alquran tentang Bentuk Bumi Perspektif Agus Mustofa)”.
Alquran tidak selalu membahas mengenai Fiqh dan Aqidah saja. Di dalamnya tidak sedikit menceritakan tentang ayat kauniah atau tanda kealaman yang biasanya digunakan untuk menuntun ilmu kealaman/Sains. Sama halnya seperti Islam yang di dalamnya banyak terjadi perbedaan pendapat antar ulama, Sains pun dalam teori-teorinya tidak sedikit terjadi pertentangan antar ilmuan. Salah satu masalah dalam dunia sains yang mengalami pertentangan dan perdebatan adalah mengenai bentuk bumi. Teori bumi datar dan teori bumi bulat, masing-masing memiliki argument kuat yang diklaim kebenarannya. Sebagian ada yang membawa ayat-ayat Alquran sebagai bukti kuat argument mereka. Hal ini tentu akan membawa dampak buruk bagi keilmuan tafsir Alquran. Alquran dipaksa untuk sesuai dengan argument mereka. Hal seperti ini adalah sebuah kesalahan fatal dalam memahami Alquran. Salah satu tokoh pemikir Alquran di Indonesia yang sering melakukan pemahaman terhadap Alquran dengan berangkat dari asumsi keilmuannya adalah Agus Mustofa. Tidak sesuai dengan dugaan awal mengenai Agus Mustofa, penelitian ini mencoba membaca pemikiran Agus Mustofa tentang teori-teori bentuk bumi yang dikorelasikan dengan ayat-ayat Alquran beserta membahas metode dan corak Agus Mustofa dalam melakukan pemahaman terhadap ayat-ayat bentuk bumi.
Untuk memperoleh data-data yang berhubungan dengan variable yang diteliti, diperlukan kajian kepustakaan baik berupa buku-buku Sains murni, buku Alquran Sains, maupun buku karya tafsir Alquran serta dilakukan wawancara terhadap tokoh yang bersangkutan yakni Agus Mustofa. Hasil penelitian ini adalah adanya pemikiran yang keliru dalam cara pandang Agus Mustofa terhadap tafsir Alquran, khususnya terhadap ayat-ayat saintifik dalam Alquran. Begitupun juga dengan metode yang digunakan Agus Mustofa dalam memahami Alquran. Bahkan ia membuat istilah baru dalam metode memahami Alquran yakni metode puzzle. Dalam wawancara, ia menyebutkan bahwa metode ini sama pengertiannya dengan metode tafsir Alquran bi Alquran. Namun, sebenarnya dalam praktiknya Tafsir Alquran bi Alquran versi Agus Mustofa jika dibandingkan dengan tafsir Alquran bi Alquran yang dimaksud oleh mayoritas mufasir sebenarnya tidak sama. Metodologi dalam penerapan tafsir Alquran bi Alquran oleh Agus Mustofa kurang diperhatikan. Adapun corak Agus Mustofa dalam menafsiri ayat-ayat bentuk bumi adalah corak ilmiah (Sains). Berangkat dari asumsi mengenai teori-teori sains kemudian mencari pembenaran yang ada di dalam Alquran. Hal ini kurang tepat, mengingat dikhawatirkan terjadinya pemaksaan tafsir sesuai dengan keinginan pribadi
Konsep kekekalan akhirat perspektif Agus Mustofa: studi terhadap buku serial Ternyata Akhirat Tidak Kekal
Tafsir adalah suatu proses interpretasi seseorang terhadap ayat Alquran guna memahami makna yang terkandung di dalamnya. Buah dari proses interpretasi disebut hasil penafsiran yang diwujudkan dalam bentuk karya tafsir. Karya tafsir sendiri beragam macam kriteria, sesuai dari aspek mana penafsiran diklasifikasikan. Ada yang berdasarkan dari sumber, metode, corak sampai pendekatan. Semua itu tergantung pada kecondongan penafsir yang terbentuk lantaran faktor riwayat pendidikan, lingkungan, maupun intervensi penguasa. Di era sekarang ini, menjadi suatu trend menafsirkan Alquran dengan pendekatan sains sebagai upaya pembuktian bahwa Alquran memiliki nilai scientific. Salah satunya adalah Buku Ternyata Akhirat Tidak Kekal karya Agus Mustofa yang kontroversial. Oleh karenanya, penelitian ini diorientasikan pada pemahaman-pemahaman yang termuat di dalamnya, serta metodologi penafsiran Agus Mustofa dalam memahami ayat Alquran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dimana data diperoleh dari studi kepustakaan (library research). Dengan metode ini, data-data yang diperoleh akan diinventarisasi untuk kemudian dibahas secara deskriptif-analitis. Untuk mengetahui metodologi Agus Mustofa, penelitian ini mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Wardani. Dengan teori tersebut akan diketahui aspek-aspek metodologis penafsiran Agus Mustofa dalam Buku Ternyata Akhirat Tidak Kekal. Hasil dari penelitian ini disimpulkan bahwa sumber penafsiran Agus Mustofa dalam Buku Ternyata Akhirat Tidak Kekal dominan menggunakan akal atau bi al rayi. Bila ditinjau dari model penjelasannya termasuk metode maudlui. Bila ditinjau dari kecenderungan coraknya termasuk tafsir Ilmiy. Bila ditinjau dari sisi pendekatan yang digunakan, termasuk pendekatan tekstual karena lebih dominan pada karakteristik tekstual. Meskipun dalam aspek pergerakan, penafsirannya bergerak dari praksis (konteks) menuju refleksi (teks) yang sejatinya bagian dari karakteristik pendekatan kontekstual
RESEPSI AGUS MUSTOFA TERHADAP AL-QUR’AN DALAM PENAFSIRAN AYAT-AYAT KAUNIYAH PADA TAFSIR ULUL ALBAB
Atensi Agus Mustofa terhadap ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi mengindikasikan jika penafsiran terhadap Al-Qur’an membutuhkan warna baru untuk menjawab tantangan zaman dengan mempertimbangkan proses kontekstualisasi. Proses reproduksi makna Agus Mustofa yang mengutip keilmuan sains secara selektif utnuk menghasilkan pemahaman baru, dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal utnuk menghasilkan interpretasi yang sesuai dengan konteks modern. Berdasarkan permasalahan akademis tersebut, penelitian ini menjawab dua rumusan masalah, yaitu: bagaimana bentuk penafsiran ayat-ayat kauniyah dalam kitab tafsir Ulul Albab karya Agus Mustofa dan bagaimana resepsi Agus Mustofa terhadap Al-Qur’an. Penelitian ini adalah penelitian library reseach dengan sumber data primer yang yang dirujuk pada penelitian ini adalah tafsir Ulul Albab Juz 1. Data sekunder pada penelitian ini diperoleh dari buku-buku, jurnal, artikel, dan sumber-sumber lain yang berkaitan dengan tema yang dikaji. Metode pengumpulan data pada penelitian ini diperoleh melalui beberapa tahap yaitu: menentukan, mengumpulkan, memetakan dan menganalisis penafsiran ayat-ayat kauniyah dalam kitab tafsir Ulul Albab. dalam menganalisis data, penulis menggunakan teori kritik tanggapan-pembaca (reader-response critism) yang diperkenalkan oleh Roman Ingarden untuk melihat hubungan antara pemaknaan teks dengan kondisi pengetahuan pembaca, termasuk kemampuan individu dan faktor eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri kembali interaksi saling memengaruhi antara beragam bidang ilmu saat menafsirkan Al-Qur’an dengan pendekatan egaliter. Ada tiga isu yang dipilih antara lain: isu bentuk bumi, isu struktur langit, dan isu bergesernya lempeng Sinai. Dari hasil analisis penulis, penelitian ini membuktikan bahwa Agus Mustofa memadukan metode kontekstual untuk menafsirkan ayat-ayat kauniyah dengan memperhatikan penemuan-penemuan ilmiah dan perkembangan teknologi, dan mengadopsi keilmuan terkini untuk mendapatkan penafsiran yang sesuai dengan zaman. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendekatan ini mencakup latar belakang sosial dan pendidikan yang mendorong pemikiran kritis, dinamika sosial kontemporer yang mendukung penafsiran dengan merujuk kepada sains, serta pengaruh dari perkembangan teknologi. Implikasi dari penelitian ini terhadap studi tafsir Al-Qur’an antara lain: Mengkritik jika penafsiran Al-Qur’an tidak hanya terhenti pada ulama generasi sebelum ini dan metodologi penafsiran Al-Qur’an bersifat dinamis.
Kata Kunci: Agus Mustofa, Tafsir Ulul Albab, Ayat-Ayat Kauniyah, Sain
PENAFSIRAN AGUS MUSTOFA TERHADAP AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG BIO-ENGINEERING
Penelitian ini membahas mengenai penafsiran Agus Mustofa terhadap
ayat-ayat al-Qur’an tentang bio-engineering. Di mana perkembangan
peradaban beberapa abad terakhir ini begitu cepat terkhusus pada bidang
pengobatan. Pengobatan yang awalnya menggunakan obat-obatan zat
kimiawi beralih pada pemanfaatan organ tubuh manusia alias rekayasa
biologi. Revolusi ini disebut dengan trend bio-engineering. Agus Mustofa
menyebut pengobatan itu seperti model spare part.
Membahas Bio-engineering berangkat dari kalimat “ikut campur
urusan tuhan”. Di mana semua yang terjadi di dunia ini tidak lepas atas izin
Allah. Maka tidak mungkin hamba-Nya yang bagian dari urusan-Nya bisa
mencapuri urusan tuhan. Kembali mengenai izin Allah. Tuhan memiliki
aturannya pada alam semesta ini yang sering kita kenal dengan sunnatullah.
Semua yang terjadi di alam semesta sudah dalam koridor sunnatullah. Walau
hal tersebut kita melihat sebuah yang mustahil. Akan tetapi, tetap saja jika
hal itu terjadi sudah pasti atas izin-Nya. Namun, Agus Mustofa
melanjutkannya. Tapi belum tentu atas ridho-Nya. Oleh karena itu,
semuanya pasti atas kehendak-Nya namun belum tentu mendapat ridho-Nya
Studi kritik pemikiran Agus Mustofa tentang Al-Qur'an dan eksatologi
Saat ini, pembelajaran tentang Islam semakin menarik, salah satunya adalah tentang pembelajaran yang bersinggungan dengan al Qur'an. Seperti yang diketahui, kegiatan pembelajaran yang selalu menarik perhatian khususnya intelektual muslim adalah yang berkaitan dengan penafsiran al-Qur'an. Tafsir, yang merupakan penjelasan dari teks al-Qur'an ternyata memberikan dampak luar biasa dari segi makna yang didalamnya menjelaskan berbagai ilmu pengetahuan dan juga menjawab berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat. Sehingga dengan adanya hal ini, para intelektual khususnya muslim selalu tertarik untuk mempelajari secara lebih mendalam kitab suci umat Islam tersebut. Jika para penafsir saja berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda, tentu al-Qur'an juga semakin kaya akan sumber informasi dan juga pengetahuan sesuai dengan disiplin ilmu pengetahuan yang ditekuni penafsir.
Jika dilihat dari sudut pandang sejarah penafsiran dari dulu hingga sekarang, tafsir akan selalu mengalami perubahan dari satu penjelasan menjadi berbagai penjelasan lain. Hal ini dikarenakan setiap zaman memiliki berbagai persoalan yang terus berkembang sehingga tafsir yang dijelaskan juga harus selalu berkembang. Dengan demikian, al-Qur'an sebagai pedoman hidup akan selalu relevan sampai kapan pun.
Salah satu produk penafsiran yang ada saat ini yaitu dirumuskan oleh seorang pemikir Islam Indonesia, Agus Mustofa. Namanya cukup dikenal sebagai penulis yang produktif dengan karya-karya yang selalu menarik untuk dibaca dikalangan masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan al-Qur'an. Melalui tawaran Memahami Al Qur’an dengan Metode Puzzle nya, proses penafsiran yang ia lakukan meliputi dua hal, yaitu tentang tafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an yang diolah menjadi bentuk pembahasan tafsir tematik. Selanjutnya melacak maksud dari tema tersebut dengan sudut pandang keilmuan yang ia pelajari. Setelah Agus Mustofa menemukan hubungan antara penjelasan dari al-Qur'an dan gagasannya tentang suatu tema tersebut, baru ia menarik kesimpulan dari masalah pada tema tersebut
KEBERADAAN TUHAN : Studi Atas Pemikiran Agus Mustofa dan Buku “ Bersatu dengan Allah”
ABSTRAK
Email: 11631101011 [email protected]
Pembicaraan soal Tuhan merupkan diskusi menarik dari zaman ke zaman, itu di
buktikan dengan tidak henti-hentinyabaik dalam pencarian hakikat maupun dalam
memperdebatkan Tuhan itu ada atau tidak. Berbagai pendapat atau paham atheis,
yang menganggap bahwa dunia telah ada dengan sendirinya. Sebagaimana hukum
alam adalah bisa berfungsi dengan sendirinya tanpa melibatkan eksistensi Tuhan,
Padahal, Tuhan meliputi segala-galanya baik bersifat lahiriah maupun batiniah.
Termasuk hukum alam yang mereka sebut-sebut berjalan dengan sendirinya itu
sesungguhnya perwujudan dari sebagian sifat-sifat ketuhanan yang bisa di
observasi secarah lahiriah. Sedangkan secara holistik, eksisistensi ketuhanan
meliputi yang lahir maupun batin. Penelitian ”Keberdaan Tuhan: Studi atas
pemikiran Agus Mustofa dalam karyanya bersatu dengan Allah” pendekatan
tasawuf falsafah. Jenis penelitian adalah kepustakaan (library reserch) yang
bersifat deskriftif kualitatif. Adapun teknik analisis data dalam penelitian ini
menggunakan (content analysis) atau analisa isi yang dalam hal ini, mengganalisa
isi buku dengan judul (bersatu dengan Allah). Berangkat dari analisis tersebut
penulis menyimpulkan, Agus Mustofa dengan mengamati sifat-sifat manusia yang
lemah dan tidak bisa hidup tanpa mengantungkan diri pada yang lain, mulai dari
zaman primitif sampai zaman, modern. Manusia membutuhkan sosok sempurna
untuk membantu kehidupannya yaitu “Tuhan”. Walaupun ada manusia yang
menafikan keberadaannya tetapi yang menafikan keberdaanya dalam
kehidupannyapun masih bergantung pada yang lain, maka secara tidak langung
mereka yang menfikan telah bertuhan pada benda tersebut. Manusia
menggunakan akalnya pada akhirnya akan mampu bertemu pada Tuhan yang
sesungguhnya yaitu “Allah” Dialah Tuhan yang menguasai segala yang ada di
dalam semesta . Tuhan menciptakan sekalgus memelihra. Karena dengan segala
eksistensinya menunjukkan dia Tuhan sebebenarnya.
Kata Kunci: Tuhan, Agus Mustofa
Telaah pemikiran Agus Mustofa dalam buku "Ternyata Akhirat Tidak Kekal" analisis kritis Roger Fowler
ABSTRAK
Penelitian ini menelaah pemikiran tokoh Agus Mustofa dan karyanya dalam buku Ternyata Akhirat Tidak Kekal. Hal tersebut menjadi sebuah kegelisahan bagi pembaca atas dasar apa Agus Mustofa berkata akhirat tidak kekal, lebih spesifikasi disebutkan bahwa Agus Mustofa menganggap akhirat tidak kekal dengan dasar Q.S Hud 106–108 yang menyebutkan Kha<lidi<na fi<ha< ma<da<matis sama<wati wal ardh{I (Kekal didalamnya selama ada langit dan bumi) disertai dengan argument–argument ilmiah yang dicantumkan dalam buku tersebut. Penelitian ini memiliki rumusan masalah sebagai berikut : Bagaimana Konsep kekalan Akhirat Menurut Agus Mustofa? Bagaimana Analisis Kritis Roger Fowler Terhadap Pemikiran Agus Mustofa Dalam Buku “Ternyata Akhirat Tidak Kekal”?
Untuk menjawab rumusan masalah tersebut, maka pendekatan yang digunakan adalah analisis kritis yang diusung oleh Roger Fowler. dengan menggunakan metode kualitatif dan jenis penelitian kepustakaan (Library Research) serta menggunakan teknik pengumpulan data dalam bentuk dokumentasi. Analisis kritis Roger Fowler fokus terhadap bahasa dan pemilihan kosakata bertujuan untuk menelaah maksud apa yang ditujukan oleh obyek lewat pengungkapan kata-kata, dengan demikian dapat memberikan informasi bagi pembaca mengenai batas-batas pemikiran dan cakupan permasalahan yang melatarbelakangi obyek.
Hasil dari pembahasan ini adalah konstruk pemikiran Agus Mustofa mengenai kekekalan akhirat yang menganggap akhirat adalah salah satu hal ghaib yang belum diketahui keberadaannya namun dapat diketahui gambarannya melalui firman Allah, namun dari firman Allah tersebut Agus menemukan konsep lain yang berupa berita al-Qur’an yang menjelaskan akhirat kekal jika langit dan bumi masih ada, menandakan bahwa siring dengan lenyapnya langit, maka alam semesta termasuk akhiratpun lenyap. Penulis kembali menganalisis menggunakan teori Roger Fowler yang menitik beratkan pada kajian bahasa. Hal tersebut terletak pada beberapa teks yang ada di dalam buku tersebut, diantaranya kalimat “Selama ada langit dan bumi” yang berguna untuk memahami peristiwa yang tidak dilakukan sendiri oleh pembaca yang dikaitkan dengan realitas sebagai pembatas pemikiran penulis. Dari analisis tersebut memperoleh beberapa pemilihan kata yang mengandung provokasi dan penafsiran secara tekstual dan lebih mengedepankan akal serta logika sehingga terlihat nyata bahwa pemikiran Agus Mustofa sesuai dengan epistemology pemikirannya yang berbeda dengan penafsiran lain.
ABSTRACT
This research attempts to examine Agus Mustofa’s thoughts and his opus in the book It turns out that the Hereafter is Not Eternal. specifically it is stated that Agus Mustofa considers the afterlife to be impermanent on the basis of .S Hud 106–108 which mentions Kha<lidi<na fi<ha< ma<da<matis sama<wati wal ardh{I (Eternal in it as long as there is sky and earth) accompanied by scientific arguments included in the book. So it has a research question as follows: What is the concept of eternity in the afterlife according to Agus Mustofa? How is Roger Fowler's critical analysis of Agus Mustofa's thoughts in the book "Turns out that the Hereafter is Not Eternal"?
To answer the research question, the approach needed is critical analysis promoted by Roger Fowler by using qualitative methods and types of library research and using research methode in the form of documentation. Roger Fowler's critical analysis which is meant by language analysis and vocabulary selection aims to examine what the object's intentions are through the expression of words, thereby providing information for the reader about the limits of thought and the scope of the problems that lie behind the object.
The result of this discussion is Agus Mustofa's construct of thought regarding the eternity of the hereafter which considers the afterlife to be one of the unseen things whose existence is unknown but the description can be known through the God’s words, but from the God’s words Agus found another concept in the form of the news of the Quran which explains the eternal hereafter if the skies and the earth still exist, indicating that as long as the disappearance of the sky, then the universe including the hereafter also disappears. In line with Agus's statement which explains that the afterlife is a creature and creatures will surely disappear. Then the author re-analyzes using Roger Fowler's theory which focuses on language studies. This is found in several texts in the book. The first stage is the classification of vocabulary with the sentence "As long as there is sky and earth" which is useful for understanding events that are not carried out by the reader themselves which are associated with reality as a limiter of the author's thoughts. From the analysis obtained several word choices that contain provocation and textual interpretation and prioritize reason and logic so that it is evident that Agus Mustofa's thoughts are in accordance with the epistemology of his thinking which is different from other interpretations.
مستخلص البحث
تحاول هذ البحث تفكير المفسر، أجوس مصطفى ومحاولته في الكتاب التي اتضحت أن الآخرة ليست مؤبدة. وبشكل أكثر تحديدًا يُذكر أن أجوس مصطفى يعتبر الحياة الآخرة ليست مؤبدة على أساس سورة القرآن الهود الأية 106-108 الذي قال "خٰلِدِيْنَ فِيْهَا مَا دَامَتِ السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُ" مصحوبة بالحجج العلمية واردة في الكتاب. لذلك فإن لها أسئلة البحث كالتالي: ما مفهوم الخلود في الآخرة عند أجوس مصطفى؟ كيف يتم التحليل النقدي روجر فاولر لأفكار أجوس موستوفا في كتابه "تبين أن الآخرة ليست مؤبدة"؟
للإجابة أسئلة البحث، فإن المنهج المطلوب هو التحليل النقدي الذي حمله روجر فاولر. باستخدام مدخا البحث النوعي وأنواع البحوث المكتبية (Library Research) واستخدامت الباحثة أسلوب جمع البيانات في شكل الوثائق. يهدف التحليل النقدي لروجر فاولر الذي يقصد به تحليل اللغة واختيار المفردات إلى فحص مقاصد الكائن من خلال التعبير عن الكلمات، وبالتالي تضيح المعلومات للقارئ حول حدود الفكر ونطاق المشكلات التي تبدئ خلفية الموضع.
نتائج هذا البحث هي بناء فكر أجوس مصطفى فيما يتعلق بخلود الآخرة الذي يعتبر الآخرة من الأشياء غير المرئية التي لا يعرف وجودها ولكن يمكن معرفة وصفها من خلال كلام الله، ولكن من خلال كلام الله وجد أجوس مفهومًا آخر في صورة أخبار القرآن يشرح أن الآخرة مؤبدة إذا كانت السماوات والأرض لا تزال موجودة، مشيرًا إلى أن الانغماس بزوال السماء فيختفي الكون بما فيه الآخرة. مناسبا ببيان أجوس الذي يوضح أن الآخرة هي المخلوق وأن المخلوقات ستختفي بالتأكيد. ثم أعادت الباحثة بتحليل المعنى عن مقاد أسئلة أجوس باستخدام نظرية روجر فاولر التي تركز على دراسات اللغة. يوجد ذلك في عدة نصوص في الكتاب. المرحلة الأولى هي تصنيف المفرداتوهي تصنيف المفردات بجملة "ماداما هناك السماء والأرض" والتي تفيد في فهم الأحداث التي لا يقوم بها القارئ نفسه الذي يرتبط بالواقع كمحدد تفكير المؤلف. من ذلك التحليل تم الحصول على العديد من الكلمات المختارة التي تحتوي على الاستفزاز والتفسير النصي وتعطي الأولوية للعقل والمنطق بحيث يتضح أن أفكار أجوس مصطفى تتوافق مع نظرية المعرفة في تفكيره والتي تختلف عن التفسيرات الأخرى
- …
