1,721,052 research outputs found

    Gaya Komunikasi Dakwah Agus Muhammad Iqdam Di Channel YouTube Gus Iqdam Official (Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure)

    No full text
    Mavikasari, Febbyanti. 2024. Gaya Komunikasi Dakwah Agus Muhammad Iqdam Di Channel YouTube Gus Iqdam Official (Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure) Skripsi. Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing Galih Akbar Prabowo, M.A. Kata Kunci: Gaya Komunikasi, Dakwah, YouTube. Gaya komunikasi dakwah telah berkembang dengan memanfaatkan media digital seperti YouTube dalam penyampainnya. Seperti yang dilakukan oleh Agus Muhammad Iqdam dengan pendekatan yang unik pada setiap gaya komunikasi dakwahnya sehingga pendekatan yang dipadukan melalui interaksi sosial dan analogi yang bisa relevan di masa sekarang. Hal ini menggambarkan keterlibatan Agus Muhammad Iqdam terhadap perkembangan dakwah di era digital yang menggunakan platform YouTube untuk menyampaikan pesan dakwah. Dari paparan tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk : Mengidentifikasi penanda (signifier) dalam gaya komunikasi Agus Muhammad Iqdam di Channel YouTube Gus Iqdam Official. Untuk mengetahui petanda (signified) pada konten dakwah Agus Muhammad Iqdam di Channel YouTube Gus Iqdam Official. Untuk memahami gaya komunikasi dakwah yang digunakan Agus Muhammad Iqdam di Channel YouTube Gus Iqdam Official. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis Semiotika Ferdinand De Saussure. Objek penelitian ini adalah Gaya Komunikasi Dakwah Agus Muhammad Iqdam. Subjek penelitian ini adalah Agus Muhammad Iqdam. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menujukkan bahwa: Signifier (penanda) Gaya Komunikasi Dakwah Agus Muhammad Iqdam adalah dialog verbal, intonasi suara, ekspresi wajah, gestur tubuh dan pemilihan kata-kata tertentu sehingga bisa menunjukkan sikap tegas atau lembut, nada volume pelan atau keras, ekspresi senyum atau sedih hingga gerakan tubuh yang terbuka atau tertutup serta pemilihan kata kunci tertentu untuk menegaskan nada sopan atau konfrontatif dalam video ceramah Agus Muhammad Iqdam. Hal tersebut menunjukkan bahwa unsur signifier yang digunakan menciptakan tanda tertentu dalam proses penyampaian dakwahnya. Signified (petanda) dalam Gaya Komunikasi Agus Muhammad Iqdam adalah makna dari unsur dialog, bahasa tubuh dan nada bicara khususnya pada aspek menyukai rasa humor, memiliki karakter mengedepankan kelembutan berbicara, kerapkali memperingatkan lawan bicara dan mengutarakan perasaan maupun pemikiran secara langsung. Hal inilah yang menandakan gaya komunikasi secara spesifik yang digunakan oleh Agus Muhammad Iqdam dalam dakwahnya. Gaya komunikasi Agus Muhammad Iqdam di Channel YouTube Gus Iqdam Official adalah gaya komunikasi assertive style dan aggresive style. Ke dua gaya ini menunjukkan peran penting dalam membentuk karakteristik dan efektivitas dalam penyampaian pesan

    Kepemimpinan Agus Muhammad Nidhom Asrori bagi komunitas copler di Pondok Pesantren Raudlatul ‘Ulum Cemengkalang Sidoarjo (Studi Karismatik Kiai Muda di Kalangan Generasi Milenial)

    Full text link
    Skripsi ini adalah studi tentang kepemimpinan karismatik seorang kiai muda yang bernama Agus Muhammad Nidhom Asrori bagi komunitas copler di pondok pesantren Raudlatul ‘Ulum. Ada dua persoalan yang dikaji dalam skripsi ini, yaitu: (1) Bagaimana kepemimpinan karismatik Agus Muhammad Nidhom Asrori bagi komunitas copler di pondok pesantren Raudlatul ‘Ulum. (2) Bagaimana kepemimpinan karismatik Agus Muhammad Nidhom Asrori bagi komunitas copler ini ditinjau menurut teori karismatik Max Weber. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karisma dan timbulnya karisma Agus Muhammad Nidhom Asrori dalam memimpin komunitas copler di pondok pesantren Raudlatul ‘Ulum dan menganalisisnya dalam perspektif teori karismatik Max Weber. Metode penelitian dalam skripsi ini dikaji dengan metode penelitian kualitatif, yaitu kajian lapangan (field research).Dari hasil penelitian ini, ditemukan bahwa (1) Kepemimpinan karismatik Agus Muhammad Nidhom Asrori bagi komunitas copler meliputi beberapa kategori. Pertama, sebagai seorang pendakwah, Agus Muhammad Nidhom Asrori dipandang sebagai pendakwah yang dapat menciptakan karakter dengan model, gaya, serta variasi yang efektif yang selalu sesuai dengan apa yang dikehendaki komunitas copler yang notabenenya merupakan generasi milenial. Kedua, sebagai seorang “gus”, Agus Muhammad Nidhom Asrori diyakini sebagai sosok figur yang akan menjadi penerang dan tokoh teladan bagi komunitas copler. Ketiga, sebagai tokoh masyarakat, Agus Muhammad Nidhom Asrori dinilai sebagai tokoh pengayom yang dapat membimbing dan mengarahkan komunitasnya. Keempat, sebagai seorang pemimpin komunitas, Agus Muhammad Nidhom Asrori dipandang sebagai pemimipin yang dapat mewarnai lingkungan komunitasnya. (2) Perspektif teori karismatik Max Weber melihat bahwa karisma dari sosok Agus Muhammad Nidhom Asrori ini merupakan sebuah kualitas diri yang terdapat dalam kepribadiannya, yang mana di anugerahi dari Allah SWT berupa kelebihan-kelebihan khusus dalam mempengaruhi pikiran, perasaan dan tingkah laku orang lain, khususnya pada anggota copler di pondok pesantren Raudlatul ‘Ulum. Sehingga dalam suasana batin para pengikutnya, muncul perasaan mengagumi dan rela bersedia melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh Agus Muhammad Nidhom Asrori ini. Sehingga dengan kemampuan yang dimilikinya, kini ia pun telah diakui dan memiliki banyak pengikut yang bergabung di komunitas copler. Dengan demikian, kebenaran karismatik Agus Nidhom ini relevan dengan teori karismatiknya Max Weber, sebagaimana yang dikatakan oleh Max Weber tentang teori karismanya, bahwa karisma adalah bakat, kelebihan, atau keistimewaan khusus seseorang yang merupakan anugerah pemberian dari Tuhan

    RETORIKA DAKWAH AGUS MUHAMMAD IQDAM DALAM UPAYA MENINGKATKAN RELIGIUSITAS JAMAAH MAJELIS TAKLIM SABILU TAUBAH DESA KARANGGAYAM KECAMATAN SRENGAT KABUPATEN BLITAR

    Full text link
    Sabilu taubah is a new taklim assembly which has successfully attracted society. Accumulated to the recent year of 2022, this assembly has had 2875 people. This achievement will not be appeared without a men called da'i also as the director of taklim assembly. He is Agus Muhammad Iqdam, the youth and figure of NU in Karanggayam, Srengat, Blitar. This research was done by some purposes; first, to know the da'wah rhetoric used by Agus Muhammad Iqdam in an effort to increase the religiosity of the congregation of in the Sabilu Taubah taklim assembly. Second, to know how Agus Muhammad Iqdam's rhetoric can affect to the religiosity level of people in the Sabilu Taubah taklim assembly. The research method applied is eksploratory sequential design or precede the qualitative then analyzed by the quantitative research. Through this mixed method research approach, the researcher could be easier find that first, Agus Muhammad Iqdam or Gus Iqdam was not only preaching but he still holds some elements such as ethos (h}ikmah), pathos (al-mau’id}ah hasanah), logos (‘al-Jidal billati hiya ahsan) in the preaching rhetorics. From those, the one that has the biggest effect to the people is pathos dimension. In this case, people feel comfort with Gus Iqdam's speech which is not impressed forcing anybody to be good person, but slowly brings everyone to leave forbidden things as religion said. Secondly, according to double linear regression tested to 97 respondents claimed that da'wah rhetoric of Gus Iqdam has a significant impact simultaneously. It is known that the influence of the independent variable on the dependent variable has a significance or sig value. of 0.000 Ftable which is 2.70. While the value of the coefficient of determination or R Square is 0.949. This means that the independent variables in this study simultaneously contribute to the dependent variable by 94.9%, while the remaining 5.1% is influenced by other variables not examined in this study. In addition, the magnitude of the relationship between the independent variable and the dependent variable is 0.974 which indicates the relationship is in the strong and positive category, meaning that if the independent variable is increased, the religiosity of the congregation will also increase

    METODE FUNDRAISING YAYASAN KEBAYA (KELUARGA BESAR WARIA YOGYAKARTA) SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Untuk Memenuhi Sebagai Syarat-syarat Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 Disusun Oleh: Agus Muhammad Nafis NIM.12250032 Pembimbing : Drs. H. Suisyanto, M.Pd NIP. 195607041986031002 PROGRAM STUDI ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2019

    Full text link
    Agus Muhammad Nafis, Metode Fundraising Yayasan KEBAYA (Keluarga Besar Waria Yogyakarta). Skripsi : Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2019. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan bagaimana KEBAYA mendapatkan pendanaan, untuk memenuhi kebutuhan operasional lembaga. Penelitian ini, merupakan penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan mengambil subjek Direktur dan Bendahara KEBAYA, sedangkan objek penelitiannya yaitu metode fundraising. Teori yang di gunakan adalah teori metode fundraising. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan reduksi data, keabsahan data menggunakan triangulasi data dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini, KEBAYA menggunakan beberapa teknik dan metode dalam melakukan kegiatan fundraising, ada 2 metode yang di gunakan yaitu : pertama, dirrect fundraising yang di lakukan di dalam dirrect fundraing meliputi panelis, face to face dan dirrect mail. Kedua, indairrect findraising di dalam metode tersebut meliputi kampanye, spesial event dan pengembangan dana abadi. Kemudian ada faktor yang mendukung dan menghambat dalam kegiatan fundraising Yayasan KEBAYA, faktor pendukung dalam kegiatan fundraising ini adalah legalitas Yayasan yang sudah di sahkan oleh KEMENKUMHAM, dan Networking, sedangkan faktor penghambat dalam kegiatan fundraising yang dilakukan KEBAYA yaitu pada laporan pertanggung jawaban yang kurang kredibel

    Perkembangan Pondok Pesantren Al-Munawwarah Ciloa Limbangan Garut: Masa kepemimpinan Kiai Haji Raden Agus Muhammad Sholeh 1995-2016

    Full text link
    Pondok Pesantren Ciloa adalah Pondok Pesantren Salafiyah yang bergerak dalam kajian ilmu alat yaitu Nahwu dan Shorof juga kajian kitab-kitab kuning seperti tafsir, hadits, fikih, tauhid, dan lain sebagainya. Pondok Pesantren Ciloa merupakan salahsatu pesantren tertua di Kecamatan Blubur Limbangan Garut. Pesantren Ciloa berdiri pada tahun 1918 didirikan oleh K.H. Muhammad Romli dan setelah wafat kemudian digantikan oleh K.H Raden Ahmad Jawhari yang wafat pada tahun 1995, Pada tahun yang sama, kepemimpinan Pondok Pesantren Ciloa dilanjutkan Oleh KH Raden Agus Muhammad Sholeh sebagai cucu menantu dari belaiu. Berdasarkan uraian di atas, terdapat beberapa rumusan masalah sebagai berikut: Pertama, bagaimana sejarah berdirinya Pondok Pesantren Al-Munawwarah Ciloa. Kedua, bagaimana perkembangan Pondok Pesantren Al-Munawwarah Ciloa pada masa kepemimpinan KH. Raden Agus Muhammad Sholeh (1995-2016). Adapun metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah, yaitu model penelitian yang mempelajari peristiwa sejarah berdasarkan data dan fakta yang ditinggalkan. Metode penelitian ini meliputi empat tahapan, yaitu heuiristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan dapat disimpulkan bahwa Pondok Pesantren Al-Munawwarah Ciloa Limbangan Garut pada masa Kepemimpinan KH. RadenAgus Muhammad Sholeh 1995-2016, mengalami perkembangan yang siginifikan, diantaranya dalam bidang pendidikan dan infastruktur bangun pondok pesantren, dapat dikatan Pondok Pesantren Al-Munawwarah Ciloa ini mengalami pasang surut daru segi kuantitas santri karena seiring berkembangnya prosesi belajar mengajar di Pesantren dari tahun 1918-1948 dibenturkan dengan peristiwa pemberontakan melawan Belanda sehingga salah satu perintis pesantren ini yaitu KH. R Muhammad ‘Asyim Gugur di wilayah Majalengka sebagai syahid ketika menjadi Pasukan Hizbullah. Seiring dengan tuntutan zaman, pada masa kepemimpinan KH. Raden Agus Muhammad Sholeh dengan dilatarbelakangi perubahan mindset masyarakat yang memandang antara pesantren dan sekolah sama-sama penting, dengan tanpa menghilangkan ciri khas Pesantren Salafiahnya, maka Pesantren Ciloa pun merespon hal itu. Pada tahun 2002 Pesantren Ciloa menyelenggarakan lembaga pendidikan sekolah setingkat Madrasah Tsanawiyah dan SMA IT pada tahun 2015. Selain itu, beliau pun mengembangkan banyak program pesantren dalam bidang sosial keagamaannya seperti mendirikan Majlis Ta’lim, mengadakan pengajian rutin, khitanan masal pada tahun 2005 dan berperan sebagai penyalur titipan zakat, infaq dan shadaqoh bagi masyarakat sekitar Pondok Pesantren Al-Munawwarah Ciloa Limbangan Garut

    Gaya komunikasi dakwah Agus Muhammad Iqdam Kholid dalam live streaming Youtube Gus Iqdam Official

    Full text link
    Komunikasi dakwah dapat dipandang sebagai wujud upaya bidang keilmuan untuk menjawab permasalahan dan kebutuhan dakwah. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya da’i yang belum memperhatikan gaya komunikasi saat berdakwah. Akibatnya dakwah sulit diterima oleh obyek dakwah. Oleh karena itu, seorang da’i tidak hanya berperan sebatas menyampaikan nilai-nilai dakwah saja, melainkan juga perlu memperhatikan gaya komunikasi dakwah yang baik dan tepat. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gaya komunikasi dakwah Agus Muhammad Iqdam Kholid dalam live streaming YouTube Gus Iqdam Official. Penelitian ini menggunakan data analisis kualitatif deskriptif milik Miles dan Huberman. Sumber data penelitian ini diperoleh dari video YouTube Gus Iqdam Official pada pengajian rutinan malam Selasa. Teknik pengumpulan data yang digunakan penelitian ini adalah dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gaya komunikasi dakwah Agus Muhammad Iqdam Kholid dalam live streaming YouTube Gus Iqdam Official dari kelima video mengacu pada gaya kesetaraan “The Equalitarian Style” yang ditandai antara lain: Pertama, komunikasi terjadi secara dua arah, akrab/hangat, dan saling menghargai ditunjukkan melalui gaya bahasa dialog atau interaktif kepada jamaahnya dengan tujuan membangun hubungan yang lebih erat. Kedua, komunikasi dilakukan secara terbuka dalam penyampaian dakwah dengan suasana yang rileks dan informal ditunjukkan dengan tiga hal yakni ketersediannya mengungkap diri dan berbagi pengalaman, menyampaikan pesan dakwah dengan menyertakan rasa humor dalam bentuk kata makian, dan memberikan contoh yang rasional dan logis. Ketiga, memiliki rasa kepedulian yang tinggi merujuk pada perhatian mendalam terhadap kebutuhan masyarakat terutama dalam bidang sosial, keagamaan dan kemanusiaan. Keempat, menekankan pengertian bersama sehingga mencapai kesepakatan bersama berusaha untuk menciptakan pemahaman dalam hal tujuan, nilai-nilai dan cara dakwah yang digunakan. Kelima, efektif dalam memelihara empati khususnya dalam situasi untuk mengambil suatu permasalahan yang kompleks dan heterogen ditunjukkan dalam memahami perasaan dan situasi yang dihadapi jamaahnya dengan memberikan sebuah solusi atau tindakan yang relevan. Keenam, berfokus pada tujuan perubahan sikap ditunjukkan dengan melalui motivasi kepada jamaahnya tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup, mengembangkan sikap yang lebih positif atau mengatasi tantangan dalam kehidupan. Implikasi dari temuan ini adalah dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam memperluas pengaruh dakwah Islam dan membangun pemahaman yang lebih baik di kalangan masyarakat luas, khususnya dalam konteks keberagaman budaya dan tantangan modern

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
    corecore