1,722,034 research outputs found

    FIQH SIYASAH PERSPEKTIF KH AFIFUDDIN MUHAJIR DAN RELEVANSINYA DI INDONESIA

    Full text link
    The debate regarding the relationship between state and religion, particularly in the context of Islam, continues to evolve without an explicit guideline. There are three main schools of thought on the relationship between religion and state: secularistic, integralistic, and symbiotic. The secular approach proposes a separation between religion and state, while the integral approach emphasizes that the state should be governed by Islamic law. On the other hand, the symbiotic approach asserts that religion and state are mutually dependent. KH Afifuddin Muhajir highlights Pancasila as a relevant solution, accommodating Indonesia\u27s diversity while bridging secularism and theocracy. In this context, KH Afifuddin Muhajir explains that the state is not the ultimate goal but rather a means to achieve the well-being of the people and uphold ethical values. This research employs a literature review and interviews with KH Afifuddin Muhajir, analyzing his thoughts and their relevance in the Indonesian socio-political context. The findings show that KH Afifuddin Muhajir thoughts offer a constructive perspective in addressing national challenges in the modern era, making his Fiqh Siyasah discourse highly relevant for further exploration

    PESAN MODERASI BERAGAMA FACEBOOK KH. AFIFUDDIN MUHAJIR DALAM MENGELOLA KERAGAMAN AGAMA PERSPEKTIF KEBEBASAN BERAGAMA DAN USHUL FIQH

    Full text link
    This study examines the messages of religious moderation delivered by one of the scholars popular among millennials, KH. Afifuddin Muhajir, through his personal Facebook account. The purpose of this study is to uncover the strategy and message of KH. Afifuddin Muhajir. Using a literature review and descriptive-analytical methods, this paper attempts to explain how the message of religious moderation, as exemplified by KH Afifuddin Muhajir, was conveyed through the social media platform Facebook. After that, with the perspective of Freedom of Religion and Belief (KBB) and ushul fiqh, this paper also analyzes the message of religious moderation KH. Afifuddin Muhajir. The results of this study show that religious moderation messages on Facebook KH. Afifuddin Muhajir employs several strategies. Among them are forms of stylistic presentation that are informative, persuasive, and coercive, which include commands, prohibitions, and questions (rhetorical). Meanwhile, a religious moderation message on Facebook KH. Afifuddin Muhajir cannot be separated from the indicators of religious moderation, according to the Ministry of Religious Affairs, which include national commitment, tolerance, non-violence, and accommodation to local culture. It aligns with KBB theory, which incorporates indicators of forum internum and forum externum

    PKT Hypermarket / Mohd Afifuddin Zaharuddin

    Full text link
    PKT Hypermarket name from Pengkalan Kubur Trading and start operation on 27 September 2007, PKT hypermarket provide home grocery also have a few branches in Kelantan and Terengganu. PKT hypermarket attract customers who have family in line with the tagline' Pusat Membeli Belah Sekeluarga'. For this project i would say this is about to be a major rebrand for PKT hypermarket because i applied a new and simple design and stay with blue and yellow color to not change their iconic and strong identity. Besides that i applied their emotional selling proposition (ESP) this company in their new logo for attract more customers

    Transformasi Konsep Negara dalam Pemikiran KH. Afifuddin Muhajir: Analisis Teks Fiqih Klasik dan Relvansinya di Era Kontemporer

    No full text
    Artikel ini akan mengkaji transformasi konsep Negara dalam Pemikiran KH. Afifuddin Muhajir dan Relevansinya di Era Kontemporer. Kiai afif sebagai ulama’ kontemporer yang memiliki kemampuan mendalam untuk mengkontekstualisasikan teks islam berupa ajaran fiqih klasik memiliki pemikiran dalam pengelolaan tata Negara dalam pandangan fiqih. Fokus utama penelitian ini diantaranya (1) konsep Negara dalam pemikiran KH. Afifuddin Muhajir; (2) transformasi Negara yang ditawarkan oleh Kiai Afif dengan mengkorelasikan teks fiqih klasik, (3) implikaasi dari pemikiran KH. Afifuddin Muhajir  terhadap pembangunan Negara yang berlandasan nilai-nilai syariah dan menghormati keberagaman. Melalui penelitian studi pustaka dengan pendekatan kualitaif deskriptif, penelitian ini dapat mengungkap bahwa konsep Negara dalam pemikiran KH. Afifuddin Muhajir yakni menawarkan pendekatan inkluasif dengan menekankan nilai-nilai keadilan. Maslahat dan persatuan ummat. Agama dan Negara harus terjalin dialogisasi sehingga tercipta yurespudensi islam atau maqasid Syariah. Istilah Negara Pancasila dan Islam Nusantara menjadi alasan kuat hubungan agama dan Negara dalam membangung peradaban. Dalam bukunya yang berjudul Fiqih tata Negara, KH. Afifuddin Muhajir memberikan konsep fiqih sebagai landasan transformasi Negara  dengan berdasar pada nilai-nilai syariah diantaranya maslahah – mursalah, At Tadarruj di at-tasyri’, Darul Mafasid ‘ala jalbil masalih, al-‘adl asasul hukm.  Pemikiran Kiai Afif tidak hanya relevan untuk memperkuat landasan Negara Indonesia berbasis pada syariah dan nilai-nilai islam, tetapi juga dapat berkontribusi pada harmoni social  dalam konteks masyarakat plural. Dengan demikian, pemikiran KH. Afifuddin Muhajir memiliki potensi besar dalam menjawab tantang kontemporer terkait dengan pendekatan persoalan agama dan Negara

    HUKUM MENTAATI ULIL AMRI DALAM DISKURSUS FIQIH SIYASAH PERSPEKTIF KH. AFIFUDDIN MUHAJIR DAN BUYA SYAFII MAARIF

    No full text
    Konsep ulil amri dalam praktek kehidupan di masyarakat memiliki banyak makna, hal ini kemudian mempengaruhi masyarakat dalam mengambil sikap atau keputusan yang kaitannya dengan hukum ketaatannya. Kh. Afifuddin Muhajir dan Buya Syafii Maarif merupakan dua tokoh ulama yang terpandang dikalangan masyarakat. Dari karya dan telaah tentang pemikiran beliau akan dianalisa tentang konsep kedua tokoh dalam memandang hukum taat kepada ulil amri dalam diskursus fiqih siyasah. Tujuan penelitian yang dirumuskan adalah (1) untuk memahami dan menganalisa konsep ulil amri menurut Kh. Afifuddin Muhajir dan Buya Syafii Maarif, (2) untuk memahami dan menganalisa urgensi konsep ulil amri menurut Kh. Afifuddin Muhajir dan Buya Syafii Maarif. Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan yang berfokus pada analisis, pengumpulan, dan sinskripsi sumber-sumber yang ada dalam bentuk buku, artikel, tulisan, fatwa, atau karya-karya terkait yang telah diterbitkan oleh KH. Afifuddin Muhajir dan Buya Syafii Maarif, serta sumber-sumber lain yang berkaitan dengan hukum Islam, khususnya dalam konteks mentaati ulil amri. Artinya penelitian yang bersifat kepustakaan yang data-datanya di ambil dari bahan-bahan tertulis, baik berupa buku atau lainnya yang berkaitan dengan topik pembahasan. Penelitian ini menggunakan pndekatan teori fiqih siyasah. Tujuan model ini digunakan untuk menganalisa perbandingan berbagai pendekatan maupun madzhab para mufassir. Hasil penelitian yang diperoleh adalah; (1) Konsep ketaatan pada ulil amri menurut KH. Afifuddin Muhajir dan Buya Syafii Maarif ialah menekankan pada prinsip bahwa ketaatan kepada ulil amri harus selaras dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Jika ulil amri menuntut sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, keadilan, atau kemaslahatan umum, maka mereka menegaskan bahwa tidaklah wajib untuk mentaatinya. (2) Urgensi Ulil Amri menurut KH Afif Muhajir dan Buya Syafii Maarif, diantaranya ialah, membantu dalam menjaga keteraturan sosial, kemaslahatan yang lebih baik, membantu dalam menghindari konflik dan pertentangan dalam masyarakat, menjaga kedamaian, serta memberikan perlindungan kepada masyarakat

    STUDI LITERATUR TENTANG ILM AL-TAFSĪR KARYA ‘AFIFUDDIN DIMYATI DAN OBJEKTIVITAS EKSPLANASI ARGUMEN TAFSIR SAINS

    Full text link
    ‘Ilm al-Tafsīr: Uṣūluhu wa Manāhijuhu by ‘Afīfuddīn is a book that compiles various topics in the discipline of tafsir (Quranic exegesis), one of which is the methodologies of tafsir. Regarding the topic of tafsir methodologies, an interesting fact is found in ‘Afīfuddīn's exposition of the model of scientific interpretation. ‘Afīfuddīn appears objective when presenting arguments from both pro and contra groups of scientific interpretation, and he even constructs a reconciliation argument between the two opposing groups. Based on this fact, the question arises: how does ‘Afīfuddīn explain the arguments put forward by both groups and his efforts at reconciliation in ‘Ilm al-Tafsīr? This question is important because in his tafsir book, Hidāyah al-Qur’ān, ‘Afīfuddīn seems to adhere to the model of interpreting the Qur'an with the Qur'an. Using a literary study and interpretive analysis approach, this study indicates that ‘Afīfuddīn's explanation of the pro and contra arguments of scientific interpretation is objective and tolerant but still adheres to the basic principles of interpretation. ‘Afīfuddīn's efforts in reconciling various arguments of scientific interpretation imply his wise and objective attitude as an intellectual. ‘Ilm al-Tafsīr: Usūluhu wa Manāhijuhu karya ‘Afifuddin merupakan kitab yang menghimpun topik-topik kajian dalam disiplin ilmu tafsir, salah satunya adalah manāhij al-tafsir. Mengenai topik kajian manhaj tafsir ini ditemukan fakta menarik dalam pemaparan ‘Afifuddin terhadap model penafsiran sains. ‘Afifuddin terlihat objektif saat memaparkan argumentasi dari kelompok pro maupun kontra tafsir sains, bahkan ia juga mengkonstruk argumen rekonsiliasi antara kedua kelompok yang berseberangan. Atas dasar fakta ini, timbul pertanyaan, bagaimana eksplanasi ‘Afifuddin terhadap argumen yang diusung oleh kedua kelompok serta upaya rekonsiliasinya dalam ‘Ilm al-Tafsīr? Pertanyaan ini menjadi penting karena ‘Afifuddin dalam kitab tafsirnya Hidāyah al-Qur’ān terlihat setia pada model penafsiran al-Qur’ān bi al-Qur’ān. Dengan pendekatan studi literatur dan analisis interpretasi, kajian ini mengindikasikan bahwa eksplanasi ‘Afifuddin terhadap pro-kontra argumen tafsir sains bersifat objektif dan toleran namun tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar penafsiran. Upaya ‘Afifuddin dalam merekonsiliasi berbagai argumen tafsir sains menyiratkan sikapnya yang bijak dan objektif sebagai seorang intelektual.

    Pandangan K.H. Afifuddin Muhajir Tentang Relasi Muslim dan Non-Muslim di Negara Kesatuan Republik Indonesia

    Full text link
    K.H. Afifuddin Muhajir adalah seorang ulama Uṣūl al-Fiqh terkemuka di Indonesia yang dikenal dengan pendekatan moderat dalam pemikiran Islam. Pandangannya mengenai relasi antara Muslim dan non-muslim dalam konteks Indonesia masih relatif belum banyak dikaji, meskipun memiliki relevansi yang progresif dan kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pandangan K.H. Afifuddin Muhajir tentang hubungan antar umat beragama, khususnya antara Muslim dan non-muslim di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dalam bentuk studi tokoh, penelitian ini mengandalkan berbagai sumber, termasuk buku, artikel jurnal, makalah konferensi, dan rekaman ceramah beliau. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa K.H. Afifuddin Muhajir memandang Pancasila sebagai dasar pemersatu yang sah bagi umat Islam dan non-Muslim, serta sejalan secara harmonis dengan prinsip-prinsip Islam. Ia juga menyatakan bahwa non-muslim di Indonesia berstatus sebagai muwāṭin (warga negara) yang memiliki hak dan kewajiban yang setara dengan warga Muslim. Pandangan ini berbeda dengan perspektif yang mengkategorikan non-muslim sebagai ahl al- żimmah (kaum terlindungi). Oleh karena itu, menurut beliau, interaksi antaragama harus didasarkan pada tiga prinsip utama: kebebasan beragama, toleransi, dan pemenuhan hak-hak non-Muslim.K.H. Afifuddin Muhajir adalah seorang ulama uṣūl al-fiqh terkemuka di Indonesia yang dikenal dengan pendekatan moderatnya dalam pemikiran Islam. Pandangannya mengenai relasi antara Muslim dan non-Muslim dalam konteks Indonesia masih relatif belum banyak dikaji, meskipun memiliki relevansi yang progresif dan kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perspektif K.H. Afifuddin Muhajir tentang hubungan antarumat beragama, khususnya antara Muslim dan non-Muslim di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dalam bentuk studi tokoh, penelitian ini mengandalkan berbagai sumber, termasuk buku, artikel jurnal, makalah konferensi, dan rekaman ceramah beliau. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa K.H. Afifuddin Muhajir memandang Pancasila sebagai dasar pemersatu yang sah bagi umat Islam dan non-Muslim, serta sejalan secara harmonis dengan prinsip-prinsip Islam. Ia juga menyatakan bahwa non-Muslim di Indonesia berstatus sebagai muwāṭin (warga negara) yang memiliki hak dan kewajiban yang setara dengan warga Muslim. Pandangan ini berbeda dengan perspektif yang mengkategorikan non-muslim sebagai ahl al-dhimmah (kaum terlindungi). Oleh karena itu, menurut beliau, interaksi antaragama harus didasarkan pada tiga prinsip utama: kebebasan beragama, toleransi, dan pemenuhan hak-hak non-Muslim

    USLUB ILTIFAT DALAM AL-QURAN PERSPEKTIF AFIFUDDIN DIMYATHI DALAM AL-SYAMIL FI BALAGHAH AL-QUR'AN

    Full text link
    Uslub iltifat, salah satu bentuk gaya bahasa dalam Al- Qur‘an yang menjadi topik menarik dalam kajian Balaghah karena perubahan penggunaan kata ganti atau struktur kalimat dan sering kali membawa nuansa dan makna yang lebih mendalam. Gaya bahasa ini melibatkan perubahan perspektif, seperti peralihan dari orang ketiga ke orang pertama atau sebaliknya, dan memiliki fungsi retoris yang kuat dalam menyampaikan pesan-pesan Al-Qur'an. Afifuddin Dimyathi, dalam kitabnya Al-Syamil fi Balaghah Al-Qur'ān, menguraikan analisis mendalam mengenai uslub iltifat dan perannya dalam menambah keindahan serta kekuatan makna dalam Al-Qur'an. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dua hal utama, Pertama, bagaimana metodologi penafsiran yang diterapkan oleh Afifuddin Dimyathi dalam kitab Al-Syamil fī Balaghah Al- Qur'ān. Kedua, bagaimana analisis beliau mengenai uslūb iltifāt dalam Al-Qur'an. Untuk menjawab rumusan masalah tersebut, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif digunakan untuk menggali lebih dalam isi kitab tersebut. Selanjutnya, penulis menggunakan kerangka toeri stilistika untuk menganalisis gaya bahasa yang digunakan oleh Afifuddin. Dengan menggunakan metode tersebut diperoleh dua kesimpulan. Pertama, dalam kitab Al-Syamil fi Balaghah al- Qur'ān, metodologi yang digunakan Afifuddin Dimyathi tidak lain adalah dengan banyak membaca dan mencari ayat-ayat Al- Qur‘an dengan tujuan mencari sisi Balaghahnya. Beliau banyak mengambil referensi dari kitab-kitab terdahulu yang terpercaya. Dalam menyajikan karyanya, beliau menggunakan bahasa yang sederhana dan tidak bertele-tele, tentunya berbeda dengan penyajian Balāghah pada zaman dahulu. Kedua, dalam kitab Al- Syāmil fi Balāghah al-Qur'ān hanya ditemukan 3 jenis dari beberapa jenis yang disebutkan, yaitu iltifat fi al-shiyagh (perubahan bentuk kalimat), iltifāt fī al-dhamair (perubahan kata ganti) dan iltifat fī al-‟adad (perubahan jumlah hitungan). Penulis tidak menemukan penjelasan mengenai iltifāt fī aladawat (partikel atau kata penghubung), iltifāt fī al-binau an nahwy (perubahan dalam penggunaan struktur nahwu/gramatika) dan iltifāt fī al-Mu‟jam (perubahan kosa kata)

    Nalar Fikih Kebangsaan K.H. Afifuddin Muhajir: Islam, Pancasila dan Keindonesiaan

    Full text link
    Indonesia is not an Islamic country, but Indonesia is also not anti-Islamic. Pancasila positions monotheism in its first principle in line with Islamic theology. Likewise, in the Constitution, it is stated "the blessing of God\u27s grace". However, there are quite a few who consider Indonesia to be thoghut. Kiai Afifuddin Muhajir in this context provides a scientific-fiqhiyyah argument that what Indonesia is accused of being a thoghut state is not correct. So what is Kiai Afifudin Muhajir\u27s concept of national jurisprudence? What is the epistemic-methodical framework of Kiai Afifudin Muhajir\u27s thinking? Based on these questions, this writing uses qualitative research with Karl Menheim\u27s sociology of science approach. The results of the research state that Kiai Afif\u27s national jurisprudence thoughts have a summa-comprehensive reach, including religion-state symbiosis, democracy-public benefit, justice and legal certainty, the appointment of leaders, Pancasila and Islam. Apart from that, research also states that in formulating his thoughts, Kiai Afif has a moderate style of thinking, namely combining nuṣūṣ al-sḥarī\u27ah with Maqāṣidiyah reasoning. Kiai Afif uses fiqhiyyah and uṣūliyah reasoning, especially in the aspect of people\u27s benefit, and juxtaposes that the issue of the form of the Pancasila state is included in the mu\u27amalah category, basically, it is a problem of murlahah, which is definitively not prohibited by the Shari\u27a. Keywords: National Jurisprudence; Fiqh Reasoning; K.H. Afifuddin Muhajir Abstrak Indonesia bukan negara Islam, namun Indonesia juga tidak antipatif terhadap Islam. Pancasila memosisikan monoteistik dalam sila pertamanya selaras dengan teologi Islam. Demikian juga dalam UUD, disebutkan “berkat rahmat Allah”. Meski demikian tidak sedikit yang menganggap Indonesia sebagai thoghut. Kiai Afifuddin Muhajir dalam konteks ini memberikan argumentasi secara ilmiah-fiqhiyyah bahwa apa yang dituduhkan Indonesia negara thoghut adalah kurang tepat. Lantas bagaimana konsep fikih kebangsaan Kiai Afifudin Muhajir? Bagaimana kerangka Epistemik-metodis pemikiran Kiai Afifudin Muhajir? Dari pertanyaan tersebut penulisan ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan sosiologi ilmu pengetahuan Karl Menheim. Hasil penelitian menyatakan bahwa pemikiran fikih kebangsaan Kiai Afif mempunyai daya jangkau summa-komprehensif, meliputi simbiosis agama-negara, demokrasi-kemaslahatan umum, Peradilan dan kepastian Hukum, pengangkatan pemimpin, Pancasila dan keislaman. Selain itu penelitian juga menyatakan bahwa dalam merumuskan pemikirannya Kiai Afif mempunyai corak berpikir moderat yakni menggabungkan nuṣūṣ al-sḥarī’ah dengan nalar Maqāṣidiyah. Kiai Afif menggunakan nalar fiqhiyyah dan uṣūliyah khususnya dalam aspek kemaslahatan rakyat, dan menyandingkan bahwa persoalan bentuk negara Pancasila adalah termasuk dalam kategori mu’amalah pada dasarnya adalah maslaḥah mursalah, yang secara definitif tidak dilarang oleh syariat. Kata Kunci: Fikih Kebangsaan; Nalar Fikih; K.H. Afifuddin Muhaji

    Pemikiran KH. Afifuddin Muhajir (1955-2025): Peran dalam Transformasi Fikih Kenegaraan di Indonesia

    No full text
    KH. Afifuddin Muhajir merupakan salah satu ulama pesantren yang memiliki kontribusi besar dalam pengembangan pemikiran fikih tata negara di Indonesia. Permasalahan penelitian ini berangkat dari pertanyaan mengenai bagaimana latar pendidikan pesatren membentuk pemikirannya, bagaimana ia mengajarkan kitab-kitab klasik, serta bagaimana kontribusinya dalam menjembatani nilai-nilai Islam tradisional dengan kebutuhan pemerintahan dan demokrasi, terutama di Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri biografi KH. Afifuddin Muhajir, mendeskripsikan perjalanan intelektualnya, serta menganalisis relevansi pemikiran fikih tata negara yang ia gagas terhadap konteks kenegaraan Indonesia. Metode penelitian menggunakan studi kepustakaan dengan pendekatan historis-intelektual, memanfaatkan sumber primer berupa karya-karya beliau, serta sumber sekunder dari artikel jurnal, prosiding, dan publikasi akademik. Hasil penelitian menujukkan bahwa pendidikan di Pesantren Sukorejo membentuk dasar keilmuan beliau, terutama dalam ushul fiqh, sementara interaksinya dengan pendidikan formal dan forum keilmuan NU memperluas cakrawala pemikirannya. Pemikirannya tentang fikih tata negara menekankan nilai keadilan, kemaslahatan, dan persatuan, serta menempatkan Pancasila sebagai dasar negara yang tidak bertentangan dengan syariat. Dengan demikian, KH. Afifuddin Muhajir berperan penting dalam mengintegrasikan tradisi pesantren dengan tuntutan demokrasi modern
    corecore