412 research outputs found
Complex entanglements: Moving from policy to public sociology in the Arab world
In this article, the author surveys his own career to illustrate some of the dilemmas of research, especially when it assumes a critical and public face. He shows how his work on Palestinian refugees, their socioeconomic rights, their right of return and their camps evolved toward complex forms of traditional and organic public sociology. The article concludes with reflections on one of the major dilemmas researchers face: conducting public research without losing its critical edge, even toward the deprived groups it seeks to protect. The moral of the story: good scientists are not always popular. © The Author(s) 2014.Adorno T, 1980, ADORNO READER, P239; Burawoy M, 2005, AM SOCIOL REV, V70, P4; Government of Lebanon, 2008, COMM CHALL SHAR RESP; Hale CR, 2006, CULT ANTHROPOL, V21, P96, DOI 10.1525-can.2006.21.1.96; Hanafi S, 2012, IDAFAT, V20-21, P4; Hanafi S, 2011, CURR SOCIOL, V59, P291, DOI 10.1177-0011392111400782; Wolff KH, 1992, RENAISSANCE SOCIOLOG, P2010
Mencermati Hermeneutika Humanistik Hasan Hanafi
Indonesia:
Hermeneutika yang dikembangkan oleh Hasan Hanafi bukan sekedar sebuah metode untuk memahami teks (al-Qur’an), tetapi mencakup juga penjelasan tentang proses penyampaian wahyu sejak dari Tuhan sampai manusia, dan perubahan yang ditimbulkan dari pemahaman atas teks tersebut. Karena itu, proses pemahaman teks dari hermenutika Hanafi terdiri atas tiga tahapan, yaitu kritik historis, kritik pemahaman, dan kritik praktis. Tahap pertama digunakan untuk memastikan orisinalitas teks, sedang tahap ketiga digunakan untuk memastikan bahwa hasil interpretasi benar-benar dapat digunakan untuk menjawab problem masyarakat. Adapun kritik pemahaman yang berfungsi untuk memahami teks digunakan dengan tiga cara, yaitu analisis linguistic, analisis situasi sejarah, dan generalisasi makna-makna. Selanjutnya, karena tujuan utama hermenutika Hasan Hanafi adalah menjawab problem riil masyarakat, bukan sekedar bermain dalam kata-kata, maka kunci utama metode ini adalah kemanusiaan. Maksudnya, semua interpretasi dan pemahaman harus diarahkan untuk mendorong munculnya gerakan-gerakan yang membela dan mengangkat martabat manusia, bukan membela Tuhan.
English:
Hermeneutics which developed by Hasan Hanafi has not been just a method to understand the texts (the Qur’an), but also includes an explanation of the process of revelation from God to man and the changes resulted from understanding of the text. Therefore, the process of understanding the texts in Hanafi’s hermenutika consists of three stages, namely historical critic, understanding critic, and practical critic. The first stage is used to ensure the authenticity of the texts; the third stage is used to ensure that the result of interpretation really can be used to solve society problems; while the second stage, understanding critic which functioned to understand the text is applied in three ways, namely linguistic analysis, analysis of historical circumstances, and generalization of meanings. Furthermore, because the main purpose of Hasan Hanafi’s hermeneutics is to solve the real problems of society, not just playing the words, then the primary key of this method is the humanity. It means that all interpretation and understanding should be directed to encourage the emergence of movements that defend and raise human dignity, not to defend God
ANALISIS PATAHNYA CRANE KAPAL MV. PANCARAN 1 5505 PADA SAAT PROSES MUAT
ABSTRAKSI
Achmad Irfan Hanafi. NIT: 551811126563 N, 2023, “Analisis Patahnya Crane
Kapal MV. Pancaran 1 5505 Pada Saat Proses Muat”, skripsi. Program
Diploma IV, Program Studi Nautka, Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang,
Pembimbing I: Capt. Dian Wahdiana, M.M. , Pembimbing II: Pranyoto,
S.PI, M.AP.
Crane adalah alat berat untuk mengambil dan menurunkan muatan. Selama
peneliti melakukan penelitian di kapal MV. Pancaran 1 5505 peneliti menemukan
suatu kendala yang terjadi, yaitu ketika sedang dalam kegiatan bongkar muat
batubara, menggunakan crane kapal yang dioperatori oleh buruh dari pihak darat,
crane mengalami kerusakan berupa lengan pada crane mengalami patah dan
terlepas dari lengan bearingnya. Karena kejadian tersebut sempat menghentikan
proses muat pada palka 5 karena crane nomor 4 yang seharusnya dapat mengisi
palka nomor 4 dan 5 mengalami patah. Dengan terjadinya kendala tersebut peneliti
merumuskan masalah yaitu, apa faktor penyebab patahnya crane pada kapal MV.
Pancaran 1 5505 dan Bagaimana upaya penanganan terhadap patahnya crane di
MV. Pancaran 1 5505.
Metode penelitian yang peneliti gunakan dalam penyusunan penelitian ini
adalah metode deskriptif kualitatif, pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian data dianalisa menggunakan diagram fishbone. Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dilakukan peneliti terhadap patahnya crane kapal MV. Pancaran 1 5505, bahwa penyebab utamanya adalah karena kerusakan pada bearing crane yang menyebabkan crane menjadi tidak stabil disertai usia crane dan kondisi cuaca menyebabkan lengan pada crane patah. Upaya yang dilakukan untuk menangani patahnya crane yaitu melakukan perbaikan atau docking dan perawatan yang rutin
KONSTRUKSI PENDIDIKAN KIRI ISLAM (Membumikan Pemikiran Hassan Hanafi)
Tulisan ini berusaha menganalisis pemikiran Kiri IslamHassan Hanafi dan implikasinya terhadap pendidikan Islam. Dalampandangannya, pendidikan adalah dialektika tradisi-fenomenologissosialistik;kebudayaan-peradaban-kebudayaan, yang melibatkan sifatkonservatif-progresif-perenialistik-esensialistik dalam lingkarandialektika dekonstruksi-rekonstruksi-pencerahan, yang menghasilkanmanusia unggul yang tahu, mau, dan mampu bebas, merdeka, mendobrak,mengkonstruk, dan mencerahkan. Pendidikan dalamdialektika tersebut melibatkan metode edukatif, emansipatoris, daninventif dengan pola nomotetik, ideografik, dan transaksional
Kedudukan jatuh Talaq oleh suami yang mabuk menurut Madzhab Hanafi dan Madzhab Hambali
Madzhab Hanafi dan Madzhab Hanbali sepakat bahwa sah hukumnya talaq yang dijatuhkan oleh suami dalam keadaan normal. Akan tetapi, Madzhab Hanafi dan Madzhab Hanbali berbeda pendapat mengenai talaq yang dijatuhkan oleh suami
dalam keadaan tidak normal, salah satunya adalah dalam keadaan mabuk. MenurutMadzhab Hanafi, sah hukumnya talaq yang dijatuhkan oleh suami dalam keadaan mabuk. Sedangkan menurut Madzhab Hanbali, tidak sah hukumnya talaq yang
dijatuhkan oleh suami dalam keadaan mabuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) bagaimana pendapat dan
dasar hukum Madzhab Hanafi dan Madzhab Hanbali mengenai kedudukan jatuh talaq oleh suami yang mabuk, (2) bagaimana metode Istinbath al-Ahkam Madzhab Hanafi dan Madzhab Hanbali mengenai kedudukan jatuh talaq oleh suami yang mabuk, dan
(3) apa persamaan dan perbedaan metode Istinbath al-Ahkam Madzhab Hanafi dan Madzhab Hanbali mengenai kedudukan jatuh talaq oleh suami yang mabuk. Penelitian ini bertolak dari masih banyaknya masyarakat Indonesia yang mengkonsumsi minuman keras dan bertolak dari masih banyaknya masyarakat yang beragama Islam di Indonesia yang menggunakan hukum Islam bukan hukum Islam yang telah disahkan oleh Negara (Peradilan Agama), sehingga penelitian ini diharapkan bisa dijadikan pegangan hukum. Dari hasil pengolahan data menunjukkan bahwa : (1) Madzhab Hanafi berpendapat bahwa talaq yang dijatuhkan oleh suami dalam keadaan mabuk itu sah. Sedangkan Madzhab Hanbali berpendapat bahwa talaq yang dijatuhkan oleh suami yang mabuk itu tidak sah. (2) metode Istinbath al-Ahkam yang digunakan Madzhab Hanafi dalam permasalahan ini adalah bahwasannya Madzhab Hanafi lebih melihat kepada kondisi awal sebelum seseorang itu mabuk. Sedangkan metode Istinbath al-ahkam yang digunakan oleh Madzhab Hanbali dalam permasalahan ini adalah bahwasannya Madzhab Hanbali lebih memperhatikan kepada kondisi seorang suami ketika menjatuhkan talaq dimana ketika itu akalnya telah hilang. (3) persamaan metode Istnbath al-Ahkam antara Madzhab Hanafi dan Madzhab Hanbali dalam masalah ini adalah terletak pada penetapan hukum dimana kedua Madzhab ini telah
sepakat bahwa talaq yang dijatuhkan oleh suami dalam posisi ia tidak mengetahui bahwa sesuatu yang diminumnya itu dapat memabukkkan atau ia mengkonsumsinya untuk tujuan pengobatan atau ia mabuk karena paksaan orang lain itu tidak sah.
Sedangkan perbedaan metode Istinbath al-Ahkam antara Madzhab Hanafi dan Madzhab Hanbali dalam masalah ini adalah bawasannya Madzhab Hanfi lebih melihat pada kondisi seseorang sebelum ia mabuk. Sedangkan Madzhab Hanbali lebih
melihat kepada kondisi ketika seseorang itu mabuk. dimana pada saat itu akalnya telah hilang
Analisis Usaha Ternak Sapi Potong Terhadap Pendapatan dan Efisiensi Pemasaran Usaha Sapi Potong di Kabupaten Langkat
and Business Marketing Efficiency of Beef Cattle in Langkat", guided by
HASNUDI and Nevi DIANA HANAFI
Breeding beef cattle is a sideline majority of people in Langkat. Beef cattle
breeder has a profile that is not the same as others. Profile breeders divided into
age, level of education, experience and otal dependents. Socioeconomic breeders
include scale and cost of production. To determine the effect of the income profile
of beef cattle farmers is necessary to do a survey in Langkat. This study was
carried on in Langkat North Sumatra province from July to September 2014. This
study used a survey method to maintain the family unit respondents cattle.
Samples were obtained through the method of proportional stratified random
Samplingdan obtained 219 farmers, namely Batang Serangan subdistrict totaled
111 respondents, sub Besitang amounted to 69 respondents, and sub Sirapit
amounted to 369 respondents. Marketing efficiency obtained through interviews
to farmers, pengempul, wholesalers, small traders and end customers regarding
the sale price of beef cattle in each of these actors.
he results showed that the scale and level of the income side of beef cattle
business, while age, education level and number of dependents of experience
raising a family is not significant. Marketing channels in Langkat can diakatan
efficient because an efficiency of 19.9% as it is still below 30%70 HalamanSkripsi Sarjan
Analisis Usaha Ternak Sapi Potong Terhadap Pendapatan dan Efisiensi Pemasaran Usaha Sapi Potong di Kabupaten Langkat
and Business Marketing Efficiency of Beef Cattle in Langkat", guided by
HASNUDI and Nevi DIANA HANAFI
Breeding beef cattle is a sideline majority of people in Langkat. Beef cattle
breeder has a profile that is not the same as others. Profile breeders divided into
age, level of education, experience and otal dependents. Socioeconomic breeders
include scale and cost of production. To determine the effect of the income profile
of beef cattle farmers is necessary to do a survey in Langkat. This study was
carried on in Langkat North Sumatra province from July to September 2014. This
study used a survey method to maintain the family unit respondents cattle.
Samples were obtained through the method of proportional stratified random
Samplingdan obtained 219 farmers, namely Batang Serangan subdistrict totaled
111 respondents, sub Besitang amounted to 69 respondents, and sub Sirapit
amounted to 369 respondents. Marketing efficiency obtained through interviews
to farmers, pengempul, wholesalers, small traders and end customers regarding
the sale price of beef cattle in each of these actors.
he results showed that the scale and level of the income side of beef cattle
business, while age, education level and number of dependents of experience
raising a family is not significant. Marketing channels in Langkat can diakatan
efficient because an efficiency of 19.9% as it is still below 30%70 HalamanSkripsi Sarjan
Explaining spacio-cide in the Palestinian territory: Colonization, separation, and state of exception
This article argues that the Israeli colonial project is 'spacio-cidal' (as opposed to genocidal) in that it targets land for the purpose of rendering inevitable the 'voluntary' transfer of the Palestinian population primarily by targeting the space upon which the Palestinian people live. The spacio-cide is a deliberate ideology with unified rational, albeit dynamic process because it is in constant interaction with the emerging context and the actions of the Palestinian resistance. By describing and questioning different aspects of the military-judicial-civil apparatuses, this article examines how the realization of the spacio-cidal project becomes possible through a regime that deploys three principles, namely: the principle of colonization, the principle of separation, and the state of exception that mediates between these two seemingly contradictory principles. © The Author(s) 2012.Abu-Saba C, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P413; Agamben G, 1998, HOMOSACER SOVEREIGN; Ajzenstadt M, 2008, 1 ISA FORUM SOCIOLOG; Arendt Hannah, 1985, ORIGINS TOTALITARIAN; Azoulay Ariella, 2008, REGIME WHICH IS NOT; Bogdanovic B, 1993, NEW YORK REV BOOKS, VXL; Coward M, 2007, THEORY EVENT, V10, P234; Dayan H, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P281; Farsakh L, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P379; Foucault M., 1995, DISCIPLINE PUNISH BI; Funk M, 2010, VICTIMS RIGHTS ADVOC; Gordon N, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P239; Graham Stephen, 2004, CITY, V8, P165, DOI 10.1080-1360481042000242148; Haggerty K.D., 2006, NEW POLITICS SURVEIL; Hanafi Sari, 2009, CONT ARAB AFFAIRS, V2, P106; HEWITT K, 1983, ANN ASSOC AM GEOGR, V73, P257, DOI 10.1111-j.1467-8306.1983.tb01412.x; Monterescu D, 2009, PUBLIC CULTURE, V21, P403, DOI 10.1215-08992363-2008-034; Ophir Adi, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P15; Pandolfi M., 2002, ANTHR SOC, V26, P29, DOI 10.7202-000701ar; Pappe Ilan, 2006, ETHNIC CLEANSING PAL; Parizot C, 2001, THESIS EHESS PARIS; Peace Now, 2006, BREAK LAW W BANK PRI; Ran G, 2009, ISRAELI REGIME SEA R; ROY S, 1987, J PALESTINE STUD, V17, P56, DOI 10.1525-jps.1987.17.1.00p0144f; Shamir R, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P587; Weizman Eyal, 2007, HOLLOW LAND ISRAELS; Yehouda Shenhav, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P337; Yiftachel O, 2006, ETHNOCRACY: LAND AND IDENTITY POLITICS IN ISRAEL-PALESTINE, P121
Menggadaikan Harta Anak Yatim Sebagai Tebusan Hutang: Perspektif Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanafi
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis tentang “Menggadaikan Harta Anak Yatim Sebagai Tebusan Hutang (Perspektif Mazhab Syafi’I dan Mazhab Hanafi). Untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti melakukan studi Pustaka (library research) terhadap sejumlah literatur dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Teknik analisis data yang digunakan didasarkan pada studi kepustakaan yaitu dengan menyelami berbagai karya ilmiah yang berhubugan dengan objek penelitian yang dikaji kemudian dianalisis berdasarkan literature yang relevan dengan masalah yang dibahas, dan terakhir memberikan kesimpulan. Adapun hasil penelitian yang didapatkan yaitu, 1) Bentuk praktik gadai harta anak yatim tidak sesuai dengan syarat sah gadai. 2) Terdapat perbedaan pendapat antara mazhab syafi’i dan mazhab Hanafi mengenai hukum menggadaikan harta anak yatim sebagai tebusan hutang, dimana menurut imam Syafi’I tidak boleh seorang wali menggadaikan harta anak dibawah perwaliannya sedangkan menurut imam Hanafi tidak boleh seorang wali menggadaikan harta anak yatim tetapi terdapat pengecualian dimana seorang wali boleh menggadaikan harta tersebut apabila memperoleh izin dari yang mempunyai hart
Perwalian Ijbar menurut Mazhab Hanafi dalam perspektif Maqāṣid Syarī’ah Jasser Auda
مستخلص البحث
ولاية الإجبار هي حق الولي في تزويج ولده (من غير النظر إلى الجنس) بغير إذنه لسبب خاص. ما زالت هذه الولاية الإجبارية تكون موضوعا للمناقشة في الوقت الحالي، لأن تطبيقها لم يصل إلى الأهداف المطلوبة، بل قد يؤدي إلى حدوث النزاعات التي فيها عدم العدالة، وعدم الترتيب، وعدم الاستقرار القانوني في المجتمع. فلذلك، لابد من إعادة النظر والبحث مرة أخرى في أحكامها، من أجل معرفة مقاصدها المطابقة في الوقت الحاضر.
كانت الأهداف الأساسية لهذا البحث هي: 1) بيان المقاصد من ولاية الإجار عند المذهب الحنفي. 2) تحليل أحكام ولاية الإجبار عند المذهب الحنفي من وجهة نظر مقاصد الشريعة عند جاسر عودة.
هذا البحث يعتبر من البحث القانوني بالمنهج التاريخي والتصوري. كان جمع البيانات القانونية في هذا البحث باستخدام أسلوبي الوثائق وكرة الثلج (snowball). ثم عملية تحليلها باستخدام أسلوب التحليل الوصفي، مع مجموعة أساليب التحليلات في نظرية مقاصد الشريعة عند جاسر عودة.
نتائج هذا البحث هي كالتالي: 1) إنّ المقاصد من ولاية الإجبار عند المذهب الحنفي ثلاثة: الأول، حفظ النسل، والثاني، إقامة أساس المساواة، والثالث، إقامة أساس الحرية، لكونهما من الحقوق الإنسانية. 2) إنّ تحليل أحكام ولاية الإجبار باستخدام نظرية مقاصد الشريعة من حلال المنهج الفلسفي عند جاسر عودة يجعل السهولة في الإجتهاد والتطبيق العملي في الوقت الحاضر. كان الأساس في إعادة التفسير لبعض الآيات القرآنية والأحاديث النبوية، وتطبيق دليلي الاستحسان والمصلحة هو المقاصد، مع التوسعة في استخدام العرف الحالي وبعض العوامل، مثل العامل التاريخي، والاجتماعي، والنفسي، والصحة البدنية. وكل ذلك يؤدي إلى معرفة ثلاثة الأشياء المهمّة، الأول، الطبيعة الإدراكية للمذهب الحنفي في الاجهاد هي الأسلوب البرهاني، والثاني، ولاية الإجبار للولد الصغير (غير بالغ) لم تكن مناسبة في التطبيق العملي في الوقت الحالي، وأما لمن له المرض النفسي فتطبيقها لا يزال مناسبة، وكذا عدم تطبيقها لمن كان بالغا وعاقلا (ليس مصابا بالمرض النفسي)، والثالث، المقاصد من ولاية الإجبار المناسبة في التطبيق العملي الحالي هي لحفظ الأسرة، ولإقامة الحقوق الإنسانية، خاصة أساسي المساواة وحرية الإرادة.
ABSTRACT
The ijbar guardianship is the authority for the guardians or parents to marry off their children (regardless of gender) due to certain conditions without being preceded by his (or her) consent. The ijbar guardianship is still a discourse in the contemporary context, because its application has not functioned as expected, or instead gave rise to conflicts that caused unfairness, inconsistency, and legal uncertainty in society. Therefore, a review of the ijbar guardianship system needs to be carried out in order to find out the maqāṣid of this guardianship in the contemporary context.
The main purposes of this research are: a) Describe maqāṣid of the ijbar guardianship according to the Hanafi school, b) Analyze the guardianship of ijbar according to the Hanafi school in the perspective of maqāṣid syarī'ah according to Jasser Auda.
This research includes normative legal research with historical and conceptual approaches. The collection of legal materials in this research uses documentation and snowball method. The technical analysis of the legal material in this research is a descriptive analytical technique, and a series of analyses using the maqāṣid syarī'ah theory according to Jasser Auda.
The results showed that: a) maqāṣid of the ijbar guardianship according to the Hanafi school were three, first, protection of offspring (hifẓ al-nasl); second, establishing the principle of equality (al-musāwāh); third, establishing the principle of freedom (al-ḥurriyyah) as part of human rights. b) The analysis of the ijbar guardianship using maqāṣid syarī'ah theory through a system approach according to Jasser Auda makes the process of ijtihād more systematic and relevant to the contemporary context. The process of reinterpretation of Al-Qur'ān and Hadith, and the application of istiḥsān and maṣlahah has been based on maqāṣid by involving expansion of presently 'urf and some dimensions, such as history, sociology, psychology and physical health. So that three things can be known; first, the cognitive nature of the Hanafi school in ijtihād is a burhāni epistemological reasoning; second, the implementation of the ijbar guardianship to young children is not relevant for now, while to people who have mental disabilities are still considered relevant, as well as negation of ijbar guardianship towards healthy adults; third, maqāṣid of the ijbar guardianship in the contemporary context are as an effort to protect the family, and establish human rights, especially the concepts of equality and freedom of the will.
ABSTRAK
Perwalian ijbar merupakan kewenangan bagi wali untuk menikahkan anaknya (tanpa memandang jenis kelamin) disebabkan kondisi tertentu tanpa didahului izin darinya. Perwalian ijbar ini masih menjadi diskursus dalam konteks kekinian, karena penerapannya ternyata belum berfungsi seperti yang diharapkan, atau malah melahirkan konflik yang justru menimbulkan ketidak-adilan, ketidaktertiban, dan ketidakpastian hukum dalam masyarakat. Maka dari itu, perlu dilakukan penelaahan kembali terhadap sistem perwalian ijbar ini guna mengetahui maqāṣid yang relevan dari perwalian tersebut dalam konteks kekinian.
Tujuan utama penelitian ini adalah: 1) Mendeskripsikan maqāṣid dari perwalian ijbar menurut mazhab Hanafi, 2) Menganalisis perwalian ijbar menurut mazhab Hanafi perspektif maqāṣid syarī’ah menurut Jasser Auda.
Penelitian ini termasuk penelitian hukum normatif dengan pendekatan historis dan konseptual. Pengumpulan bahan hukum menggunakan metode dokumentasi dan teknik bola salju (snowball). Teknik analisis bahan hukum dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif, dan serangkaian analisis menggunakan teori maqāṣid syari’ah dengan pendekatan sistem menurut Jasser Auda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Maqāṣid dari perwalian ijbar menurut mazhab Hanafi ada tiga, pertama, pemeliharaan terhadap keturunan (hifẓ al-nasl); kedua, menegakkan prinsip kesetaraan (al-musāwāh); ketiga, menegakkan prinsip kebebasan (al-ḥurriyyah) sebagai bagian dari hak asasi manusia. 2) Analisis perwalian ijbar dengan menggunakan teori maqāṣid syarī’ah melalui pendekatan sistem menurut Jasser Auda menjadikan proses berijtihad lebih sistematis dan relevan dengan konteks kekinian. Proses reinterpretasi terhadap Al-Qur’ān dan Hadis, serta penerapan dalil istiḥsān dan kemaslahatan telah didasarkan pada maqāṣid dengan melibatkan perluasan terhadap ‘urf kekinian dan beberapa dimensi, seperti sejarah, sosiologi, psikologi dan kesehatan jasmani. Sehingga dapat diketahui tiga hal, pertama, watak kognitif dari mazhab Hanafi dalam berijtihad adalah nalar epistemologi burhāni, kedua, penerapan perwalian ijbar terhadap anak kecil sudah tidak relevan untuk saat ini, sedangkan terhadap orang yang memiliki disabilitas mental masih dianggap relevan, begitu juga peniadaannya terhadap orang dewasa yang sehat mentalnya, ketiga, maqāṣid dari perwalian ijbar yang relevan dalam konteks kekinian adalah sebagai upaya perlindungan terhadap keluarga, dan menegakkan hak asasi manusia, khususnya konsep kesetaraan (al-musāwāh) dan kebebasan (al-ḥurriyyah) dalam berkehendak
- …
