412 research outputs found
The Role of Religious Leaders in Conducting Islamic Religious Education in The Community
This study aims to understand the critical role of religious leaders in Islamic education so that people understand that something they learn will be helpful in their lives in this world and the hereafter so that they will not feel a loss in learning and applying Islam in their lives. This research uses a case study research method with a qualitative approach. Researchers conducted intensive interviews, involvement observations, and collection of documentation as data mining directly in the field and analyzed by describing events in the field. This study found that the role of religious leaders as leaders in carrying out Islamic religious education is carried out through example, practice and action, ibrah and advice, dialogue, and non-formal coaching and management. This research has implications for the importance of example, practice, deeds, ibrah and advice, dialogue in managing non-formal educational institutions
HUBUNGAN PANJANG TUNGKAI DAN DAYA LEDAK TUNGKAI TERHADAP KEMAMPUAN SHOOTING PADA PERMAINAN FUTSAL MURID SDN II SUDIRMAN MAKASSAR
Achmad Rifai. 2018. Hubungan Panjang Tungkai Dan Daya Ledak Tungkai Terhadap Kemampuan Shooting Pada Permainan Futsal Murid SDN II Sudirman Makassar. Skripsi. Fakultas Ilmu Keolahragaan. Universitas Negeri Makassar. Pembimbing I Dr.Imam Suyudi, M.Pd dan Pembimbing II Silatul Rahmi, S.Pd, M.Pd.
Tujuan Penelitian yaitu :1) Untuk mengetahui apakah ada hubungan panjang tungkai terhadap kemampuan shooting pada permainan futsal murid SDN II Sudirman Makassar. 2) Untuk mengetahui apakah ada hubungan daya ledak tungkai terhadap kemampuan shooting pada permainan futsal murid SDN II Sudirman Makassar. 3) Untuk mengetahui apakah ada hubungan secara bersama-sama panjang tungkai dan daya ledak tungkai secara bersama - sama terhadap kemampuan shooting pada permainan futsal murid SDN II Sudirman Makassar.
Metode penelitian menggunakan penelitian deskriptif dengan variabel bebas panjang tungkai dan daya ledak tungkai, variabel terikat kemampuan shooting. populasi dalam penelitian ini adalah seluruh murid SDN II Sudirman Makassar yang kesemuanya telah mempelajari permainan futsal. Sampel yang dipergunakan sebanyak 40 orang murid SDN II Sudirman Makassar kelas IV, V, dan VI. Cara penentuan sampel yaitu secara random sampling.
Hasil penelitian ini mengemukakan kesimpulan bahwa: 1) Ada hubungan yang signifikan panjang tungkai terhadap kemampuan shooting pada permainan futsal murid SDN II Sudirman Makassar, dengan nilai r sebesar 0.817 (Pvalue < α 0,05). 2) Ada hubungan yang signifikan daya ledak tungkai terhadap kemampuan shooting pada permainan futsal murid SDN II Sudirman Makassar, dengan nilai r sebesar 0.903 (Pvalue < α 0,05). 3) Ada hubungan secara bersama – sama yang signifikan panjang tungkai dan daya ledak tungkai terhadap kemampuan shooting pada permainan futsal murid SDN II Sudirman Makassar, dengan nilai R hitung (R) sebesar 0,857 (Pvalue< α 0,05); dan nilai F hitung (f) sebesar 110.817.
Kata kunci : Panjang Tungkai, Daya Ledak Tungkai dan Kemampuan Shooting
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA GOOGLE EARTH TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII PADA MATA PELAJARAN IPS GEOGRAFI DI SMP LANIANG MAKASSAR
ACHMAD RIFAI. 2015. Pengaruh Penggunaan Media Google Earth Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VIII Pada Mata Pelajaran IPS Geografi Di SMP Laniang Makassar. Skripsi. Dibimbing oleh Drs. H. Karim H.Ahmad MPd dan Farida Febriati,S.S, M.Si. Program Studi Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar.
Masalah dalampenelitian ini adalah guru terbiasa melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran konvensional yaitu kebiasaan guru dalam penggunaan Peta dan Atlas dan hanya ada beberapa siswa yang mendominasi dalam setiap proses pembelajaran. Oleh karena itu, peneliti melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Media Google Earth. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada pengaruh penggunaan Media Google Earth terhadap hasil belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS Geografi SMP Laniang Makassar? Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui pengaruh penggunaan media Google Earth terhadap hasil belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS Geografi SMP Laniang Makassar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif, dengan jenis penelitian pra-eksperimen dimaksudkan untuk mengetahui suatu kejadian atau peristiwa yang sedang berlangsung yaitu pengaruh penggunaan media Google Earth terhadap hasil belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS Geografi SMP Laniang Makassar. Penelitian ini adalah pre-eksperimen terhadap 30 subjek penelitian yang menggunakan satu kelas yaitu kelas VIII, penelitian ini merupakan penelitian populasi dengan teknik pengumpulan data menggunakan tes. observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis statistik inferensial. Hasil penelitian ini menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan setelah peneraparan Media Google Earth pada mata pelajaran IPS Geografi menunjukkan hasil belajar yang lebih baik setelah diberi perlakuan dibanding dengan hasil belajar siswa sebelum diberi perlakuan. Hal ini terlihat dari hasil t-test yaitu yang menunjukkan data hasil t hitung ˃ t tabel pada taraf signifikan 5 % sedangkan taraf signifikan 1 % diperoleh nilai t hitung ˃ t tabel. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar yang signifikan antara sebelum dan setelah peneraparan Media Google Earth pada mata pelajaran IPS Geografi
Tradisi Islam, Tradisi Arab dan Tradisi Jawa: Membaca Karya dan Pemikiran K.H. Ahmad ar-Rifai Kalisalak
This article reviews the book of philological research on one of the works of a Javanese ulama, namely K.H. Ahmad ar-Rifai Kalisalak. The work is entitled nazam Tarekat. Aside from being a philological research, which aims to present the text edition of the manuscript of ar-Rifai, this book also examines the context surrounding the author's life and the social function of the text. This book is an example for the research that combines the study of philology and Islamic studies in a research project. This book emphasizes the rich intellectual traditions of the author, Ahmad ar-Rifai, which includes Islamic traditions, Arabic poetry and Javanese poetry. These three traditions, in Gadamer hermeneutic terms, merge to produce a work of the nazam Tarekat. The work of this book can also be an important proof of the contextualization strategy of Islamic preacing in Muslim Nusantara society.Keywords: philology, Indonesian Islamic intellectual tradition, hermeneutic, Ahmad ar-Rifai Artikel ini mengulas buku yang berupa hasil penelitian filologis tentang salah satu karya dari seorang ulama Jawa, yakni K.H. Ahmad ar-Rifai Kalisalak. Karya tersebut berjudul nazam Tarekat. Selain sebagai sebuah penelitian filologis, yang tujuannya menyajikan edisi teks dari naskah karya ar-Rifai, buku ini juga mengulas konteks yang melingkupi kehidupan sang pengarang dan fungsi sosial dari teks yang dikaji. Buku ini menjadi contoh untuk hasil penelitian yang memadukan kajian filologis dan kajian Islam dalam satu proyek penelitian. Buku ini menegaskan tentang kekayaan tradisi intelektual yang dimiliki sang pengarang, Ahmad ar-Rifai, yang meliputi tradisi Islam, tradisi puisi Arab dan puisi Jawa. Ketiga tradisi tersebut, dalam istilah hermeneutik Gadamer, melebur sehingga menghasilkan sebuah karya nazam Tarekat. Karya Buku ini juga dapat menjadi bukti penting tentang strategi kontekstualisasi ajaran Islam dalam masyarakat Muslim Nusantara.Kata kunci: filologi, tradisi intelektual Islam Indonesia, hermeneutik, Ahmad ar-Rifai</jats:p
Fatwa KH. Ahmad Rifai Kalisalak tentang Opium dan Rokok di Jawa (Fatwa of KH. Ahmad Rifai Kalisalak on Opium and Smoking in the 19th Century Java)
The article explores the admonition and advice (read: legal opinion) of Ahmad Rifai on opium and smoking in a manuscript entitled Bahs al-‘Iftâ’ (Discussion of Fatwa). The discussion will be limited to this fatwa for several reasons. First, the fatwa is the most interesting issue compared to the other themes and topics found in the manuscript. Most of themes and topics pertain merely to the ritual issues and to advice about the ways things should be done, for example, how to conduct a pilgrimage, prayer, and fasting, on the one hand, and to the tasawuf issues, such as taubat, tawakkal, mujâhadah, and riyâ’, on the other hand. Second, the fatwa is more comprehensive, even though short, thus enabling a deeper investigation of the selected fatwa. The article will use the philology, history, and legal methods. First, it will provide the transliteration from Pegon (Javanese in Arabic character) into Latin character and translation from Javanese into Indonesian as a philological work. Then, the author will analyze the writing using a historical approach to place the text in its contexts, and to provide a historical background for the fatwa. Eventually, the author will discuss the fatwa from a legal perspective. The paper seeks to answer the questions: What is the legal opinion of Ahmad Rifai on opium and smoking? What circumstances drove him to issue such legal opinion? What are the distinctions of his fatwa that differ from other ulama? Which and what methods did Rifai use in issuing the above mentioned fatwa? The main contribution of this article is first to provide the original text of KH. Ahmad Rifai Kalisalak on smoking and opium. Second, the article reveals that he was the only ulama concerned with the issue of smoking and opium in the 19th Century Java
Variasi Morfologi Dan Pemanfaatan Andaliman (Zanthoxylum Acanthopodium) Di Sumatera Utara
Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) termasuk ke dalam suku
Rutaceae merupakan salah satu jenis bumbu masakan khas Asia yang belum
banyak dikenal. Bumbu ini di Indonesia hanya dikenal dalam masakan Batak
sebagai “merica batak”. Di Indonesia, andaliman dapat tumbuh subur di
pegunungan di sekitar danau Toba yang terletak di Sumatera Utara, pada daerah
berketinggian sekita 1300 m dpl dengan temperatur 15-18 0C. Penelitian ini
dilakukan untuk mengeksplorasi dan menganalisis keberagaman andaliman di
Sumatera Utara berdasarkan ciri morfologi.
Sampel spesimen diambil dari 27 tanaman andaliman yang dikumpulkan
dari Kabupaten Simalungun, Dairi, Tapanuli Utara, dan Toba Samosir, Sumatera
Utara, pada bulan Februari 2014 untuk Februari 2015. Pengamatan morfologi dan
pengidentifikasian spesimen dilaksanakan di Herbarium Bogoriense (BO) Pusat
Penelitan Biologi LIPI, Cibinong, dan di Laboratorium Biologi Tumbuhan, Pusat
Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi (PPSHB) IPB, Dramaga, Bogor.
Semua ciri morfologi yang terdiri atas 24 ciri meliputi ciri kualitatif dan
kuantitatif diamati dan disajikan dalam bentuk skor dalam matriks data. Hasil skor
ciri morfologi membentuk matriks data yang dianalisis dan dikelompokan
berdasarkan tingkat kemiripan dalam SIMQUAL (Similarity for Qualitative Data)
dengan menggunakan koefisien SM (Simple Matching). Pengelompokan dianalisis
dengan menggunakan SAHN (Sequential Agglomerative Hierarchical and Nested
Clustering) dengan metode UPGMA (Unweighted Pair Group Method with
Arithmatic Average). Metode tersebut tersaji dalam program software NTSYS
(Numerical Taxonomy and Multivariate System) versi 2.11a. Penyeleksian ciri
morfologi dilakukan berdasarkan syarat keberbedaan (distinctness), keseragaman
(uniformity), kestabilan (stability), serta mudah, dan praktis dengan menggunakan
24 ciri morfologi dari andaliman dikelompokkan menggunakan metode UPGMA
dari matriks data yang diputar.
Berdasarkan 24 ciri morfologi yang meliputi batang, daun, bunga, dan buah
dari 27 tanaman andaliman di Sumatera Utara yang dikelompokkan menjadi 4
kelompok. Namun, hanya 10 ciri yang digunakankan untuk memisahkan tanaman
andaliman menjadi 4 kelompok. Karakteristik kultivar andaliman „Simanuk‟
mengacu pada kelompok I, „Sihorbo‟ mengacu pada kelompok II, „Silokot‟
mengacu pada kelompok III, sedangkan kelompok IV mengacu ciri dari kultivar
andaliman „Sikoreng‟. Andaliman kelompok I, II, dan III dimanfaatkan sebagai
“sambal Batak” dan “sambal tuk-tuk” karena warna buah muda hijau, di sisi lain,
andaliman dalam kelompok IV dengan warna buah merah banyak digunakan
sebagai bumbu masakan khas Batak, seperti “arsik ikan mas”, “sangsang”, dan
“natinombur”
Nilai Taksonomi Ciri Morfologi Tumbuhan Berdaun Saputangan dalam Caesalpiniaceae.
Pemoposan daun (leaf flushing) merupakan salah satu bagian dari
perkembangan vegetatif tumbuhan yang ditandai dengan proses keluarnya daun
muda secara mengelompok sekaligus. Caesalpiniaceae merupakan salah satu suku
tumbuhan yang lima marganya yaitu Amherstia, Brownea, Cynometra, Maniltoa,
dan Saraca memiliki karakteristik pemoposan daun yang dikenal dengan sebutan
tumbuhan “daun saputangan”. Kelompok ini banyak dimanfaatkan sebagai tanaman
hias dan juga peneduh jalan. Pemoposan daun pada suku Caesalpiniaceae terbentuk
karena adanya pengaruh proses fenologi perkembangan struktur kuncup kelompok
daun-daun muda yang muncul di ujung ranting dan tampak bergelayutan mirip
helaian sekelompok saputangan yang diikat bersama pada salah satu bagian
ujungnya.
Di lembaga herbarium jarang ditemukan koleksi spesimen daun muda lima
marga pada suku Caesalpiniaceae yang memiliki ciri daun saputangan dan juga
belum pernah dilakukan penelitian mengenai daun muda tersebut. Sebagai
akibatnya sampai saat ini belum ditemukan karakter daun muda dalam kunci
identifikasi sebagai pembeda jenis lima marga tersebut. Penelitian ini dilakukan
untuk mengenal atau mengidentifikasi jenis-jenis dalam kelompok suku
Caesalpiniaceae berdaun saputangan berdasarkan ciri pemoposan daun, serta
mencari makna kegunaan pemoposan daun sebagai ciri diagnostik untuk
membedakan jenis tumbuhan.
Pengamatan tumbuhan berdaun saputangan suku Caesalpiniaceae dilakukan
di Bogor, Cibinong, dan Dramaga. Pengamatan dilakukan pada 16 jenis tumbuhan
hidup yang tumbuh di Kebun Raya Bogor (KRB), lingkungan sekitar kampus IPB
Dramaga dan spesimen herbarium yang disimpan di Herbarium Bogoriense.
Pengataman morfologi dilakukan untuk keperluan melihat variasi ciri vegetatif
yang akan digunakan untuk menyusun kunci identifikasi dan deskripsi jenis.
Spesimen yang telah diidentifikasi disimpan di Herbarium Bogoriense (BO).
Proses pemoposan tumbuhan berdaun saputangan yang ditemukan pada
penelitian ini memiliki variasi pada adanya fase kuncup dorman yang berbentuk
kerucut, bulat, dan bulat telur serta memiliki warna cokelat dengan panjang mulai
dari 1.2-2.7 mm. Kuncup dorman ditemukan pada marga Maniltoa, Brownea, dan
Cynometra. Semuanya dilindungi oleh sekelompok sisik-sisik daun (perula) yang
ditutup oleh indumentum kuncup yang meroma, berbulu balig, berbulu sikat,
memisai, atau mengewol. Pada pihak lain, Saraca dan Amherstia tidak terlihat
adanya kuncup dorman.
Fase kuncup tumbuh memiliki variasi bentuk yaitu melanset, melanset bagian
tengah agak lebar, melanset pendek, melonjong, melancor, yang panjangnya mulai
0.5 cm sampai 7 cm. Tipe pelipatan dalam kuncup bervariasi, bisa ekuitan
(Maniltoa, Brownea, Cynometra) dan melingkar (Saraca, Amherstia).
Fase tumbuh diikuti oleh fase daun saputangan muncul yang lamanya
bervariasi mulai dari satu minggu (Cynometra), dua minggu (Amherstia, Brownea,
Saraca) hingga tiga minggu (Maniltoa). Fase daun saputangan muncul menandai
awal proses pemoposan daun. Pola tipe penggulungan daun dalam kuncup yaitu
tergulung masuk (involute) misalnya Maniltoa, atau terlipat sekali secara adaksial
atau ke dalam (conduplicate) misalnya Saraca dan Amherstia, menggulung-gulung
sampai tergulung masuk (supervolute-involute) pada Brownea, dan menggulunggulung
(supervolute) pada Cynometra.
Fase daun saputangan terlipat merupakan fase yang masih kelanjutan dari
proses pemoposan daun yang ditandai dengan perula yang sudah mulai luruh.
Warna daun muda yaitu putih kekuningan-merah jambon pucat, merah jambon,
putih kehijauan, hijau muda dengan bagian tepinya berwarna merah jambon, merah
jambon muda, ungu tua bercorak hijau, merah keunguan, merah kecokelatan, putih
dengan bagian tepi merah jambon, dan coklat muda. Variasi ciri yang terlihat pada
fase daun saputangan terlipat meliputi tipe indumentum tangkai daun (meroma,
mengewol, berbulu balig, berbulu sikat, memisai), warna indumentum tangkai daun
(cokelat dan putih), warna tangkai daun (merah dan hijau), dan warna daun (
jambon, hijau pupus, merah jambon, hijau muda, ungu kecokelatan memiliki corak
hijau).
Fase terakhir daun saputangan ditandai dengan terbukanya daun muda yang
tadinya terlipat sehingga menjadi saputangan yang bergantung. Di sini terlihat
variasi warna mulai dari hijau keputihan, hijau pupus, hijau terang dan hijau
kecokelatan, serta juga adanya perbedaan pada tekstur daun yang umumnya
menjadi kaku.
Fase daun dewasa memiliki ciri pembeda berdasarkan bentuk daun, bentuk
pangkal daun, bentuk ujung daun, tepi daun, simetri daun, panjang dan lebar ukuran
daun, jumlah anak daun dalam daun majemuk, dan tekstur permukaan daun, yang
semuanya sudah umumnya dipertelakan dalam deskripsi masing-masing jenis
Pemanfaatan Koleksi Taman Buah Mekarsari Bogor sebagai Penghasil Zat Pewarna Alami
Ratusan jenis tumbuhan telah digunakan sebagai pewarna alami di berbagai negara dan digunakan secara luas dalam berbagai industri. Taman Buah Mekarsari sebagai pusat pelestarian plasma nutfah buah-buahan tropika terbesar di Indonesia telah banyak mengembangkan penelitian terkait kandungan kimia, kegunaan, budi daya, dan teknik pengolahan buah-buahan. Namun, pemanfaatannya sebagai pewarna alami belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mendata keanekaragaman tanaman buah yang dikoleksi oleh Taman Buah Mekarsari yang berpotensi menghasilkan zat pewarna alami untuk pewarnaan tekstil dan mengidentifikasi warna yang dihasilkan dari tanaman sebagai salah satu ciri untuk bukti taksonomi masing-masing tanaman.
Penelitian dilakukan dari November 2016 hingga Juni 2017. Bahan tanaman umumnya diambil dari Taman Buah Mekarsari, namun ada beberapa jenis tanaman yang diambil dari tempat lain di sekitar Bogor. Ekstraksi dan identifikasi zat pewarna alami dilakukan di Laboratorium Biologi Tumbuhan Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi Institut Pertanian Bogor (PPSHB IPB). Uji potensi warna yang dihasilkan oleh masing-masing tanaman dilakukan dengan mencelupkan kain ke dalam ekstrak zat warna. Optimalisasi pewarnaan kain dilakukan dengan penambahan mordan saat proses fiksasi pada kain katun. Kain yang telah melalui proses pencelupan dan fiksasi diidentifikasi warnanya menggunakan Red Green Blue (RGB) Color Chart Reader. Stabilitas warna terhadap luntur dari pewarnaan pada kain katun dilakukan pengujian ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan ketahanan terhadap sinar matahari yang mengacu pada SNI ISO 105 – C06 – 2010 dan SNI ISO 105 – B01: 2010.
Tanaman buah yang ditemukan di kawasan Taman Buah Mekarsari dan tempat lain di sekitar Bogor adalah sebanyak 122 spesies, dan 12 spesies tanaman berpotensi baik dalam menghasilkan warna yang dapat digunakan untuk pewarnaan kain katun. Sumber pewarna alami yang diperoleh umumnya berasal dari daun. Penambahan mordan saat proses fiksasi menimbulkan variasi warna dan memberikan pengaruh baik terhadap ketahanan luntur warna pada kain katun akibat pencucian dan paparan sinar matahari. Umumnya, kain katun yang difiksasi menggunakan tawas [KAl(SO4)2.I2H2O] menghasilkan warna yang lebih terang, sedangkan yang difiksasi menggunakan kapur sirih (Ca(OH)2) menimbulkan warna yang lebih pekat dari pada kain yang tanpa fiksasi dan kain yang difiksasi menggunakan tunjung (FeSO4) menimbulkan warna gelap yaitu abu-abu hingga berwarna kehitaman. Warna-warna yang dihasilkan dari masing-masing ekstrak daun tanaman buah dapat dijadikan sebagai pewarna alternatif dalam industri tekstil
TAFSIRWEB: DIGITALIZATION OF QUR'ANIC INTERPRETATION AND DEMOCRATIZATION OF RELIGIOUS SOURCES IN INDONESIA
TThe presence of the internet as a sign of the emergence of new media also creates a new medium in the interpretation of the al-Qur'an. This phenomenon is interesting to examine in order to complement the study of the interpretation of the al-Qur'an that existed before its appearance in new media. In examining this topic, which is related to the interpretation of the al-Qur'an on the tafsirweb.com website, the author uses a textual method by adopting a content analysis model. There are two things that are the results of this research, namely the digitization of interpretation to become the central spirit in tafsirweb.com, and the translation of tafsir books that leads to the democratization of religious sources. This is the contribution of this determination to fill in the gaps that scholars have neglected in examining the interpretation of the al-Qur'an.
 
THE DISCOURSE OF WOMEN'S PIETY AND GENDER BIAS CONSTRUCTION ON MUSLIMAH WEBSITES IN INDONESIA
The presence of the internet as a marker of the emergence of new media cannot be denied, raising the concept of digital religion as an important element in the presentation of religion at the level of the digital world landscape. In Indonesia, the encounter of Muslim women with the internet has presented religious narratives within the scope of the online world, not least in terms of discourse on gender issues. Using the netnographic method and supported by content analysis, this paper attempts to research and analyze two websites, specifically muslimahnews.com and muslimah.or.id. The findings indicate that the two websites, which contain discourses on women's piety and gender bias, demonstrate that gender inequality on the internet is not directly caused by a lack of women participation but rather by a strong interpretation of gender-biased Islamic ideology in the real world, which is reflected in the virtual world. In other words, the existence of gender bias in Muslim women's websites in Indonesia is a matter of using technology. It is also caused by the construction of gender-biased religious ideology, which previously existed in the offline landscape.</jats:p
- …
