79 research outputs found
Pengaruh Jumlah Pektin dan Konsentrasi Gula Terhadap Mutu Fruit Leather Murbei (Morus alba L.)
ABSTRAK Larasati, Andina. 2015. Pengaruh Jumlah Pektin dan Konsentrasi Gula Terhadap Mutu Fruit Leather Murbei (Morus alba L.). Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Aisyah Larasati, ST., MT., MIM. Ph.D. (II) Lismi Animatul Chisbiyah, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: Murbei, Fruit Leather, Pektin, Gula, Sifat Fisikokimia Buah murbei sangat berpotensi untuk dijadikan makanan fungsional. Salah satu upaya untuk mengembangkan pemanfaatan buah murbei adalah sebagai bahan dasar pembuatan fruit leather. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik (tekstur dan warna), sifat kimia (antosianin dan kadar air), tingkat kesukaan (aroma, tekstur, rasa), dan mutu hedonik (aroma, tekstur, rasa) fruit leather murbei berdasarkan jumlah pektin (0,75%, 1%, 1,5%) dan konsentrasi gula (55%, 65%, 75%), serta komposisi fruit leather murbei yang paling disukai. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor yang berbeda yaitu jumlah pektin (0,75%, 1%, 1,5%) dan konsentrasi gula (55%, 65%, 75%) dengan dua kali pengulangan. Data dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of Variance). Jika terdapat perbedaan antar perlakuan, maka dilanjutkan dengan Post hoc Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor tekstur tertinggi diperoleh dari fruit leather murbei dengan jumlah pektin 1,5% dan konsentrasi gula 75%. Kecerahan warna (L) tertinggi diperoleh dari fruit leather murbei dengan jumlah pektin 0,75% dan konsentrasi gula 55%. Warna merah (a+), warna biru (b-), dan antosianin tertinggi diperoleh dari fruit leather murbei dengan jumlah pektin 1,5% dan konsentrasi gula 75%. Kadar air tertinggi diperoleh dari fruit leather murbei dengan jumlah pektin 0,75% dan konsentrasi gula 55%. Tingkat kesukaan aroma tertinggi diperoleh dari fruit leather murbei dengan jumlah pektin 1,5% dan konsentrasi gula 75%. Tingkat kesukaan tekstur dan rasa tertinggi diperoleh dari fruit leather murbei dengan jumlah pektin 1,5% dan konsentrasi gula 55%. Mutu hedonik aroma tertinggi diperoleh dari fruit leather murbei dengan jumlah pektin 1,5% dan konsentrasi gula 65%. Mutu hedonik tekstur tertinggi diperoleh dari fruit leather murbei dengan jumlah pektin 1,5% dan konsentrasi gula 75%. Mutu hedonik rasa tertinggi diperoleh dari fruit leather murbei dengan jumlah pektin 1% dan konsentrasi gula 55%. Formula fruit leather murbei yang paling disukai diperoleh dari jumlah pektin 1,5% dan konsentrasi gula 55%
KAJIAN KRITIS TERHADAP ROMAN LARASATI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER
ABSTRACT This study examines the Larasati romance by Pramoedya Ananta Toer based on critical studies or Critical Discourse Analysis (AWK). The objectives of the study are to describe (a) macro structure (theme), (b) author’s cognition in creating romance, (c) ideology contained in the Larasati romance by Pramoedya Ananta Toer, and (d) plans for its implementation in Indonesian Language learning in High School. The form of this research is qualitative research with descriptive method. The data used in this research are the quotations of sentences and paragraphs taken from romance. The source of data is Larasati romance by Pramoedya Ananta Toer, the 5th print in 2010. The technique for data obtaining is documentary study and the tool is a note card. Techniques to test the data validity is triangulation and discussion with colleagues. Data analysis is done by analyzing the contents of the text. Based on data analysis, it can be concluded that: (1) Macro structure (theme) is revolution after independence; (2) Author cognition reflected in the Larasati novel by Pramoedya Ananta Toer are: a) artist, b) imprisoned, and c) the names of several characters in a romance such as (a) Chaidir who is meant as Chairil Anwar, (b) Prime Minister who is meant as Soetan Sjahrir or Amir Sjarifuddin Harahap (c) Jassir who is meant as HB Jassin. (3) Political ideology found in the novel Larasati by Pramoedya Ananta Toer are a) racist ideology and b) class conflict ideology. There are three things that present the existence of racist ideology, that are: a) Japan as an invader and Indonesia as colonized; (b) The Dutch as invaders and Indonesia as colonized; and (c) Nica versus Republikein. (4) Considering the curriculum, the purpose of literary learning, how to choose materials, and aspects of readability, the Larasati romance by Pramoedya Ananta Toer can be implemented in Indonesian Language learning in high school especially in XII grade. Recommendation: Larasati romance can be used as material for Indonesian Language learning in high school. Keywords: Critical Analysis, romance, macro structure, author cognition, political ideolog
Manajemen Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Bantar Gebang dengan Konsep Collaborative Governance
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerjasama yang dilakukan antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan Pemerintah Kota Bekasi dalam mengelola sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang serta menganalisis implementasi pelestarian lingkungan dan pencegahan bencana dengan menggunakan konsep collaborative governance yang berpedoman pada Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara kedua belah pihak. Penulis menggunakan metode kualitatif studi literatur dan memperoleh data berdasarkan penelitian terdahulu. Edward III merupakan teori yang dipilih oleh penulis, berdasarkan teori kebijakan Edward III penulis mendapatkan hasil kerjasama antar daerah yang tertuang dalam Perjanjian Perubahan (addendum) perjanjian kerjasama antara Pemprov DKI Jakarta dengan Pemkot Bekasi No. 25 Tahun 2016 dan No.444 Tahun 2016. Tujuan dilakukannya kerjasama ini adalah untuk meningkatkan fungsi TPST Bantar Gebang Kota Bekasi sebagai tempat pemrprosesan akhir yang akan dilakukan dengan penerapan teknologi pengolahan sampah modern serta ramah lingkungan. Namun, kerjasama antar daerah ini belum melibatkan pihak swasta, padahal pihak swasta mempunyai peran sangat penting dalam pelestarian lingkungan dan pencegahan bencana alam yang disebabkan oleh sampah. Penulis merekomendasikan pemerintah perlu melakukan kerjasama dengan pihak swasta dalam pengelolaan sampah yang ada di TPST Bantar Gebang serta menjaga hubungan yang baik antara kedua belah pihak, sehingga koordinasi yang dilakukan berjalan dengan mudah.AbstractThe purpose of this research is to know the collaboration between carried out between the DKI Jakarta Provincial Government and The Bekasi Government in managing garbage in Bantargebang (TPST) and also to analyse the implementation of environmental preservation and disaster prevention using the concept of Collaborative governance carried out by the DKI Jakarta Provincial Government and Bekasi  Government written in the Coorperation Agreement (PKS) between them. The metode author use qualitative method of literature study, the author obtain data based on previous research. The autors choose Edward III Theory. Based on the implementation policy of Edward III autors getting a result interzonal collaboration in the treaty of change (addendum) treaty collaboration between the DKI Jakarta Provincial Government and The Bekasi Government number 25 of 2016 and Number 44 of 2014. The purpose of this collaboration to increase function Bantar Gebang TPST Bekasi City as a place final processing that will do with the application of modern garbage processing is eco-friendly technology. But, this interzonal collaboration hasn’t involve the private yet, while the private has a very important to environmental preservation and disaster prevention caused by garbage. The autors have a recommendation to the government, the government needs to do collaboration with private to garbage management in Bantar Gebang TPST and maintain good relationships between them, in which coordination done with ease.Key Words           : Collaboration, Management, Local Government, Local Government in province, TPST.      This is an open access article under the CC–BY-SA license. Â
Perilaku mengendalikan berat badan pada remaja perempuan di perkotaan
Penampilan yang menarik merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian utama di kalangan remaja perempuan di perkotaan. Salah satu usaha yang sering dilakukan oleh remaja perempuan untuk menunjang penampilan adalah mengendalikan berat badan. Masalahnya, usaha-usaha
untuk mengendalikan berat badan yang dilakukan oleh remaja perempuan dapat meliputi perilaku yang sehat, tidak sehat, dan bahkan ekstrem. Perilaku mengendalikan berat badan, terutama yang tidak sehat dan ekstrem, dapat menimbulkan beberapa konsekuensi yang negatif, seperti kenaikan berat badan dan meningkatkan risiko terjadinya obesitas, kekurangan asupan makanan, serta meningkatkan risiko berkembangnya gangguan makan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai perilaku mengendalikan berat badan pada remaja perempuan di perkotaan, khususnya di Surabaya. Subjek penelitian adalah 206 siswi SMP dan SMA di Surabaya. Data dikumpulkan menggunakan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cukup banyak siswi SMP dan SMA di Surabaya yang melakukan usaha-usaha untuk mengendalikan berat badan, baik yang sehat maupun tidak sehat. Perilaku mengendalikan berat badan yang sehat yang paling banyak dilakukan adalah berolah raga (91 %), makan lebih banyak
buah-buahan dan sayuran (88%), dan menjaga porsi makan (81 %). Perilaku mengendalikan berat badan yang tidak sehat yang cukup banyak dilakukan adalah makan dalam porsi yang sangat sedikit (64%), melewatkan makan (48%), berpuasa (31 %), dan menggunakan pengganti makanan (26%). Perilaku mengendalikan berat badan yang ekstrem, seperti menggunakan obat pencahar dan memaksa diri untuk muntah, masih belum banyak digunakan (di bawah 5%) namun, adanya fakta yang menunjukkan bahwa sudah ada siswi SMP dan SMA yang menggunakan perilaku ini untuk mengendalikan berat badan sudah cukup mengkhawatirkan. Penelitian awal ini menunjukkan perlunya dilakukan penelitian-penelitian selanjutnya untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya perilaku mengendalikan berat badan, khususnya yang tidak sehat dan ekstrem pada remaja perempuan, sehingga dapat mencegah te1jadinya konsekuensi yang lebih membahayakan, seperti gangguan makan dan obesitas
IMPLEMENTASI PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH (Studi Pada Pajak Hiburan Penyelenggaraan Konser Musik Di Hotel Kota Surakarta Tahun 2015-2016)
ABSTRACT Dian Anggun Larasati, E0013131, Implementation Entertainment Tax Organizing Music Concert In Surakarta City Hotel 2015-2016 This study aims to find out how the implementation of the collection of Entertainment Tax on the implementation of Music Concert in the Hotel Year 2015-2016 which has not been in accordance with the budget target of Surakarta City and Surakarta City Local Regulation No. 4 of 2011 on Local Taxes in the City of Surakarta and how the obstacles faced in the application of the Regulation The area of the entertainment tax evaporation is happening. The type of research used in the writing of this law is empirical legal research or non-doctrinal research (social legal research). The nature of research used The author in preparing the writing of this law is descriptive. The approach to be used by the author is a qualitative approach. In this study the authors take the location of research in BPPKAD Solo. Sources of legal materials used in the form of primary and secondary legal materials. Based on the results of this study and discussion resulted in the conclusion Implementation of Regional Regulation No. 4 of 2011 on Local Taxes in Surakarta City has not been implemented based on 3 aspects of the aspects of justice, legal certainty aspects, and aspects of expediency. Implementation of tax in Surakarta City still experience some obstacles. These barriers or constraints come from the taxpayer, the tax officer, and the regulation. Keywords: Taxes, Implementation, Perd
How is the State Perceived as Fair? A Literature Review of Social Identity-Based Procedural Justice in the National Context
Justice is relevant in various domains of life, including the state. The social identity-based procedural justice theories (Group Value Model and Group Engagement Model) emphasize the importance of procedural justice from the authority in signaling the group’s inclusion and respect, thus increasing individuals’ cooperation and compliance. This article aims to critically review published literature using the two models in a national context, of which there were inconsistent findings regarding the role of group identification. Three issues are underlying this inconsistency. First, both models could be applied when national identity was salient, such as legal compliance (to taxation and traffic law). Second, perceived police legitimacy is a better mediator when the national identity was not salient (e. g. cooperation in counter-terrorism and crowd policing). Third, the effect of procedural justice depends on the motivation to secure identity (which is generally higher among minority/marginalized groups). As both models are strongly bound by context, the author suggests controlling police-national identity prototypicality on studies about police procedural justice, attitude toward outgroup and relational identification with the police on studies involving intergroup conflict, and uncertainty about membership status on studies toward minority groups. Hopefully, this article could contribute references and encourage related studies in Indonesia
Menjadikan Perempuan Papua Yang Berdaya (Study Analisa GESI Terhadap Perempuan Papua Sebagai Agen Perdamaian dan Kohesi Sosial)
This article aims to describe the results of the GESI analysis. The method used is the GESI (Gender Equality and Social Inclusion) assessment. From the results of the GESI analysis it was found that the role of Papuan women in religious activities was quite high, both in routine religious meetings and involvement in planning religious activity programs and peace education. However, from 4 (four types of involvement) it was found that women\u27s role was only in the "listening position". These results prove that there is an imbalance of systemic decision-making power in society. Thus, capacity building for Papuan women and religious, customary, community and government institutions is needed so that women\u27s roles can be maximized in peace and social cohesion.Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil analisa GESI. Metode yang digunakan adalah menggunakan assesmen GESI (Gender Equality and Social Inclusion). Dari hasil analisa GESI ditemukan bahwa peran perempuan PAPUA dalam kegiatan keagamaan cukup tinggi, baik dalam pertemuan rutin keagamaan dan keterlibatan dalam perencanaan program kegiatan keagamaan serta pendidikan perdamaian. Akan tetapi tetapi dari 4 (empat jenis keterlibatan) ditemukan bahwa peran perempuan hanya pada "posisi mendengarkan". Hasil ini membuktikan bahwa terjadi ketidakseimbangan kekuatan pengambilan keputusan sistemik dalam masyarakat. Dengan demikian dibutuhkan pengembangan kapasitas terhadap perempuan Papua dan kelembagaan agama, adat, masyarakat dan pemerintah supaya peran perempuan dapat dimaksimalkan dalam perdamaian dan kohesi sosial. 
Towards an integral approach of sustainable housing in Indonesia: With an analysis of current practices in Java
How can the concept of sustainable housing be implemented in Indonesia? Prompted by various housing problems, especially in dense urban areas, this research proposes an integrated approach towards the sustainability of housing projects, which emphasizes the importance of community participation and the use of local solutions and resources. In general, existing guidelines and requirements for sustainable housing refer to efficient use of energy and material resources, while minimizing waste. This research analyzes existing examples of sustainable housing implementation in Indonesia (particularly on Java). On the basis of the results a set of requirements and guidelines for sustainable housing were developed, specifically for conditions in Indonesia. Furthermore, bamboo as a sustainable building material is evaluated, being a natural resource which is indigenous to Indonesia. And finally, as a supplement with this dissertation, a prototype of a communication tool is provided, which can be used by those involved in a housing project: an illustrated booklet which proposes four ambition levels of sustainability for all aspects of a housing project.Architectur
Implementasi Pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) Pada Pembelajaran Fisika Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik: Anggi Larasati, Titin Sunarti, Budiwati
This research is motivated by the low motivation of students to learn physics at SMA Negeri 1 Wonoayu. Based on the preliminary study conducted by the author in Class XI-3, it shows that 51.2% of students have low motivation to learn physics. Learning that is solely based on textbooks and not connected to the students' conditions, including their past experiences and their social and cultural backgrounds, can lead to low student participation and motivation. Therefore, efforts are needed from teachers to make physics learning more engaging, one of which is by implementing the Culturally Responsive Teaching (CRT) approach. CRT is a teaching approach that utilizes students' cultural references as a means to learn a subject matter. This research is a collaborative classroom action research conducted in two cycles. Data related to student motivation was obtained through a motivation questionnaire, while student learning outcomes in the knowledge domain were obtained through written tests. The research results show a significant improvement in physics learning motivation, starting from the initial observation, Cycle 1, and ending in Cycle 2, which are 48.8%, 70.5%, and 82.9%, respectively. Additionally, student learning outcomes also improved from Cycle 1 to Cycle 2, increasing from 61.1% to 94.4%. This indicates that the implementation of the CRT approach in physics learning is effective in enhancing student motivation and learning outcomes.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya motivasi belajar fisika peserta didik di SMA Negeri 1 Wonoayu. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan penulis di Kelas XI-3, menunjukkan bahwa 51,2% peserta didik memiliki motivasi yang rendah untuk belajar fisika. Pembelajaran yang hanya berpacu pada buku teks dan tidak dikaitkan dengan kondisi peserta didik, baik dikaitkan dengan pengalaman yang pernah dilalui maupun keadaan lingkungan, sosial, dan budayanya dapat menyebabkan tingkat partisipasi dan motivasi peserta didik menjadi rendah. Untuk itu, diperlukan suatu upaya dari guru agar dapat mengemas pembelajaran fisika menjadi lebih menarik, salah satunya dengan menerapkan pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT). CRT ini merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang mengangkat referensi budaya peserta didik untuk dijadikan sebagai media dalam mempelajari suatu materi pelajaran. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas kolaboratif yang dilaksanakan dalam dua siklus. Data terkait motivasi belajar peserta didik didapatkan melalui angket motivasi belajar, sedangkan hasil belajar peserta didik pada ranah pengetahuan didapatkan melalui tes tertulis. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan motivasi belajar fisika yang cukup signifikan, mulai dari observasi awal, siklus 1 hingga akhir siklus 2, yakni masing-masing sebesar 48,8%, 70,5% dan 82,9%. Selain itu, hasil belajar peserta didik juga mengalami peningkatan ketuntasan dari siklus 1 dan siklus 2, yakni dari 61,1% menjadi 94,4%. Hal ini menunjukkan bahwa implementasi pendekatan CRT pada pembelajaran fisika efektif dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik. Pembelajaran fisika dengan pendekatan Culturally Responsive Teaching merupakan pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan guru guna meningkatkan motivasi belajar peserta didik
- …
