1,725,178 research outputs found
"Shah Jo Risalo” by Shah Abdul Latif Bhitai: A Study
The popular and well-known Sufi poet of Sindh, Shah Abdul Latif Bhitai\u27s anthology called "Shah Jo Risalo". Although, his circumstances of life are unexplored. There is also a difference of opinion among researchers regarding his date of birth. Nevertheless, Shah Abdul Latif remained safe in the hearts of the people due to the popularity of Bhittai\u27s poetry. People from different religions and sects entered his constituency. Even among people in different professions, his word has been and is equally popular. Poetry is still sung and recited at his shrine. People from all over the country gather at his shrine on the basis of faith. The words of Shah Abdul Latif Bhittai still satisfy the hearts of the people. His word is a message for the goodness of humanity
Interview with Ahmed Ezzat Abdul Latif
في هذه المقابلة، يتحدث السفير المصري أحمد عزت عبد اللطيف، عن الجولة الأولى من المباحثات ******، و توقعاته للجولة المقبلة في واشنطن. أجرت المقابلة إيمان رافع.In this interview, Egyptian Ambassador Ahmed Ezzat Abdul Latif, speaks about the latest negotiations in Palestine, and his expectations for the upcoming round of talks in Washington. The interview was conducted by Iman Rafi
Perkembangan sholawat wahidiyah di Kelurahan Bandar Lor Mojoroto Kediri Jawa Timur pada masa kh. Abdul Latif Madjid (1989-2015)
Masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah: 1) Bagaimana Biografi KH. Abdul Latif Madjid? 2) Bagaimana Sholawat Wahidiyah di bawah kepemimpinan KH. Abdul Latif Madjid? dan 3) Bagaimana pandangan masyarakat terhadap Perkembangan Sholawat Wahidiyah pada masa KH. Abdul Latif Madjid?. Dalam menjawab permasalahan tersebut, peneliti menggunakan metode sejarah. Adapun metode penulisan sejarah yang digunakan penulis adalah dengan menggunakan beberapa langkah yaitu heuristik (mengumpulkan arsip-arsip terkait dengan perkembangan sholawat wahidiyah), verifikasi (kritik terhadap data), interpretasi (penafsiran), serta historiografi (penulisan sejarah). Sedangkan pendekatan dan teori yang digunakan adalah pendekatan sejarah (mendeskripsikan peristiwa pada masa lampau) dan teori yang digunakan yaitu teori kepemimpinan, teori peran dan teori tingkah laku kumpulan masa (collective behavior). Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa, 1) KH. Abdul Latif Madjid lahir di lingkungan pesantren pada tanggal 15 Agustus 1952. Setelah tamat sekolah beliau membentuk organisasi-organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan moral kaum muda. 2) perkembangan sholawat wahidiyah pada saat kepemimpinan KH. Abdul Latif Madjid sangat berkembang pesat, baik di bidang pendidikan, ekonomi, maupun jumlah pengamal sholawat wahidiyah. Di bidang peendidikan menambahkan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Wahidiyah (STIEWA) pada tahun 1998 yang pada tahun 2015 berubah menjadi Universitas Wahidiyah (UNIWA). Di bidang ekonomi mengangkat perekonomian para pengamal dengan membentuk koperasi wahidiyah dan ekspo wahidiyah pada saat mujahadah kubro serta meluasnya jumlah pengamal dari dalam negeri hingga luar negeri. 3) pandangan masyarakat terhadap perkembangan sholawat wahidiyah pada masa KH. Abdul Latif Madjid antara lain: dari tokoh masyarakat (Drs. R. Dani Budi Pulasto selaku Kepala Desa Kelurahan Bandar Lor, Didit Prihantoro, S. H, M.H selaku Kapolsek Mojoroto Kediri, Bapak Hanafi selaku Modin Kelurahan Bandar Lor), dari kalangan keluarga (Hj. Sholihah selaku Istri KH. Abdul Latif Madjid, Hj. Tutik Indiyah selaku Adik KH. Abdul Latif Madjid, Abdul Madjid Ali Fikri, M.Hum selaku Putra KH. Abdul Latif Madjid), dan dari kalangan santri (Amel Amilia, Binti Nafisatin, dan Nilna Muna selaku santri Pondok Pesantren Kedunglo Al-Munadhoroh). Mereka semua berpandangan bahwa pada umumnya perkembangan sholawat wahidiyah di bawah kepemimpinan KH. Abdul Latif Madjid sangat baik, karena bisa mengangkat perekonomian para pengamal maupun masyarakat sekitar Bandar Lor. Dalam bidang pendidikan sistem pengajarannya semakin maju serta jumlah pengamal sholawat wahidiyah hingga ke luar negeri
Haji Abdul Latif Syakur; Pemikiran, wacana dan gerakan pembaharuan Islam di Minangkabau Abad xx
Pandangan Haji Abdul Latif tentang Khilafiyah berbeda dengan pandangan umum para ulama pada masanya. Masalah khilafiyah yang memicu perseteruan antar kelompok dianggap oleh Haji Abdul Latif sebagai upaya mempersempit agama. Sedianya khilafiyah, demikian Syakur, adalah bagian dari keringanan dan kelapangan dalam beragama. Sehingga setiap orang mempunyai peluang yang sama untuk berbuat atau mendekatkan diri pada Tuhan sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Meski begitu ia mengingatkan agar setiap orang benar-benar menjalankan agama berdasarkan kemampuan bukan berdasarkan keinginan. Orang yang beragama berdasarkan keinginannya akan memilih perkara-perkara yang dianggap mudah belaka dan meninggalkan perkara yang dianggap menyulitkan. Tindakan seperti ini dipandang oleh Haji Abdul Latif sebagai mempermain-mainkan agama. Dan mempermainkan agama adalah hal yang dilarang oleh agama itu
sendiri.
Gagasan pembaharuan lain dari Haji Abdul Latif Syakur adalah pandangannya tentang pendidikan. Baginya pendidikan adalah komitmen dalam pembentukan manusia sejak lahir dan diberikan sesuai dengan kebutuhannya untuk menjalani hidup. Atas dasar ini ia
tidak membedakan pendidikan antara kaum laki-laki dan perempuan, antara agama dan non agama. Dengan begitu, pendidikan adalah sesuatu yang harus dimulai dari rumah. Ketika seorang anak lahir dan telah mampu bereaksi terhadap benda yang ia lihat, sekira usia enam minggu, orang tua wajib memperkenalkan berbagai hal yang dapat dikenalnya dengan baik, seperti anggota tubuh, gambar, suara seperti nyanyian, bacaan Alquran, dan zikir, sentuhan, wewangian, supaya ia terbiasa dengannya. Hal yang tak boleh dilupakan oleh setiap orang tua dalam memberikan pendidikan pertamanya adalah yakni mengazankan dan iqamat di hari kelahirannya.
Dalam hal tasawuf Haji Abdul Latif Syakur terkesan mengikuti pandangan gurunya Syekh Ahmad Khatib al- Minangkabawi tetapi ia melakukannya dengan mendefenisikan ulang
makna rabitah dan tarekat. Prinsip-prinsip tarekat dipahami dengan pendekatan bahasa, lalu terminologi kunci dalam tarekat oleh Syakur dibagi menjadi dua bagian, yakni al-Rabitah al-Diniyah dan Rabitah Qawmiyah. Rabitah diniyah adalah hubungan orang per orang yang didasarkan atas nama Islam. Sedangkan Ra>bit}ah qawmiyah adalah hubungan orang per orang yang didasarkan atas rasa kebangsaaan. Terminologi yang awalnya bersifat intim dan individual antara manusia, guru dan Tuhan, oleh Abdul Latif Syakur dijadikan sebagai basis untuk solidaritas sosial. Baik berdasarkan agama maupun
kebangsaan. Selain itu, istilah tarekat sebagai sebuah pandangan Islam tentang konsep keberislaman dengan amalan dan intensitas tertentu, dipahami oleh Abdul Latif Syakur menjadi upaya menjalankan agama berbasis nash yang pasti. Sehingga muncul istilah
Tariqat Allah dalam karya tulisnya. Adapun wacana Islam yang dinginkan oleh Haji Abdul Latif Syakur adalah Islam yang berpihak pada kemanusiaan, kesetaraan dan kebangsaan. Konteks sosial keagamaan dan politik telah nampaknya ikut memengaruhi wacana Islam yang disampaikannya. Dalam konteks sosial keagamaan, dimana antar kelompok agama saling menyerang keyakinan yang lain terkait isu khilafiyah, dan ia menyerukan agar persoalan kemanusiaan diutaman daripada persoalan khilafiyah tersebut. Masalah kemanusiaan bagi Haji Abdul Latif merupakan dasar pembentukan masyarakat Islam. Tetapi
wacana kemanusiaan ini tidak hanya dipicuk oleh seteru kelompok agama, tetapi juga karena keadaan masyarakat Indonesia dalam masa penjajahan. Dalam menjelaskan persoalan kemanusiaan, Haji Abdul Latif berpegang pada prinsip penciptaan manusia yang berasal dari satu ibu dan bapak, -Adam dan Hawa, dan bagaimana Tuhan sebagai pencipta memuliakan kemanusiaan itu. Selain itu, manusia makhluk pilihan adalah juga khalifah Allah di bumi. Dengan demikian kedudukan manusia diantara manusia lain adalah sama. Tidak ada yang berhak menundukkan, memperbudak dalam statusnya sebagai manusia. Oleh sebab itu penjajahan bertentangan dengan hukum Tuhan
Shah Abdul-Latif Bhitai and the Call to Gallows
Shah Abdul Latif Bhittai is one of the most revered saints and most loved poets of Sindh. His Shah jo Risalo has been translated into many languages from Sindhi and a large number of scholars, both Pakistani and foreign, have tried to understand and explain the philosophy and the message in Shah Latif`s poetry. The author has explained in this paper that the worldly love had led Shah Latif to eternal and real love, that is the love of God, and his worldly love is but a metaphor for the eternal and true love of Allah, a relationship between the soul of an individual and the Soul of the Cosmos. But the author laments that tyranny of the feudal system still exists in Sindh and Shah Latif`s call to gallows remains silent
ABDUL LATIF: THE FORGOTTEN MERCHANT OF THE WESTERN COAST OF SUMATRA
Minangkabau merchant is a kind of typical entrepreneuship of Minangkabau closer equivalent to the concept of merchant rather than as an entrepreneur in terms of capitalist industry. Abdul Latif is a portrait of a Minangkabau merchant managed to build a business network through the shaft Malaya, India, Arabia, and Egypt. Business profits, channeled through the efforts evoke a sense of nationalism and encourage the modernization of Islam in West Sumatra, and the Nagari Koto Anau, in particular. However, the figure of entrepreneurs is not widely known, especially among the younger generation of Minangkabau. Who is Abdul Latif?, How to build world business? How to encourage modernization efforts and Islam in West Sumatra
Munniz Company / Rosshiela Abdul Latif
The main objective of the Industrial Training is to experience and understand real life situations in industrial organizations and their related environments and accelerating the learning process of how student's knowledge could be used in a realistic way. In addition to
that, industrial training also makes one understand the formal and informal relationships in an industrial organization so as to promote favorable human relations and teamwork.
Besides, it provides the exposure to practice and apply the acquired knowledge "hands - on" in the working environment. Industrial training also provides a systematic
introduction to the ways of industry and developing talent and attitudes, so that one can understand how Human Resource Development works.
Moreover, student can gain hands-on experience that is related to the student majoring so that the student can relate to and widen the skills that have been learn while being in university. Industrial training also exposes the students to the real career world and accustoms them to an organizational structure, business operation and administrative functions
Surat Dato' Bayan Saki kepada Francis Light tentang hutangnya kepada Lebai Abdul Latif
Hamba Dato` Bayan Saki yang daif merafakkan sembah ke bawah kadam Dato` Gurnador yang teramat mulia.
Hamba Dato` maklumkan ahwal diri hamba Dato` ini harapkan petolong kadam Dato`. Mari anak bini kesemuanya hendak mencahari makan. Dengan athar kadam Dato`, maka dengan kehendak Tuhan serta untung nasib hamba Dato` ini binasa sedikit harta di dalam api. Pada fasal itulah Lebai Abdul Latif (dakwa?) sudah tentu hutang hamba Dato` itu seratus tujuh puluh rial dikehendak Lebai Abdul Latif sampai pada (kaf-wau-hamzah/ko'?) hamba Dato` itu, lama sudah tiada siapa tolong hal hamba Dato` itu. Jika hamba Dato` duduk di dalam (kaf-wau-hamzah/ko'?) itu, bagaimana hamba Dato` hendak cahari bayar hutang itu
- …
