1,720,992 research outputs found
Konstruksi Komunikasi Pemulung Sampah Jakarta (Studi Fenomenologi Komunitas Pemulung Jakarta Selatan)
This study describes the phenomenon of communication construction scavengers as a social problem and how the concept of self-scavengers that makes a person become scavengers and how they survive become scavengers with all the consequences of living in the city. And how the symbols that appear on the role resulting scavenger community communication patterns seen from the construction of communication scavengers. The scavengers of self-concept timbulah motive someone doing scavenged. Motive arising from scavengers generated from these scavengers before plunging into the world of scavenging and after becoming a scavenger scavenger experienced. Communication symbols exist in scavenged phenomenon in the form of verbal and non-verbal symbols. Where verbal communication is related to how the scavengers communicate orally in running their interactions. Non-verbal communication in the form of non-verbal communication in the form of accessories worn scavengers in carrying out its activities. Intersubjectivity scavengers in gathering knowledge about trashy trashy is what is most profitable for the scavengers.
Keywords: Construction Of Communication, Scavengers, Phenomeno
PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA MELALUI PENDIDIKAN BERBASIS PONDOK PESANTREN
Kehadiran kiai sebagai penjaga keutuhan , konsistensi pendiriannya, watak dan ideologi kyai menyatu dengan kelembagaan pesantren, maka dalam pesantren konsistensi dan petuah dari seorang pengasuh menjadi sumber pengambilan keputusan. Pengasuh menjadi sumber dan magnet bagi santri untuk selalu patuh dan tunduk dalam kehidupan dilingkungan pondok pesantren. Santri hidup dan berkembang menjadi bernilai karena telah ditempa dengan kegiatan dan lingkungan yang terpatri dalam jiwa santri. Terbentuknya kultur khas pesantren inilah yang membedakannya dengan sistem pendidikan di luar pesantren yang meliputi nilai keikhlasan, nilai kesederhanaan, nilai kemandirian, nilai persaudaraan yang dilandasi oleh semangat agama dan nilai kebebasan. Santri melakukan kegiatan dari bangun tidur dipagi hari sampai menjelang akan tidur, santri telah ditempa dengan aktifitas yang selalui bernilai sehingga karakter santri atau siswa pun terbentuk. Pendidikan karakter merupakan penanaman kebiasaan (habit) tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan, sehingga seseorang memiliki kesadaran dan pemahaman yang tinggi, serta kepedulian dan komitmen untuk menerapkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Pelaksanaan pendidikan karakter dapat dilakukan secara terintegrasi dalam setiap keseharian, baik melalui pembelajaran dikelas maupun dilingkungan luar kelas, maka hanya di pondok pesantren kegiatan tersebut lebih mudah untuk dilaksanakan, dimana siswa atau santri dapat terkontrol dengan lingkungan yang telah terbentu
Upaya keluarga mencegah pemasungan pada orang dengan gangguan jiwa di Kota Blitar
Pasung merupakan tindakan pengekangan, pengisolasian dan penelantaran yang menyertai tindakan tersebut. Jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang dipasung di kota Blitar tahun 2015 mencapai 16 orang dan tahun 2016 mencapai 9 orang. Keluarga memiliki peranan penting dalam pencegahan tindakan pasung, karena merupakan salah satu upaya preventif yang bertujuan untuk menurunkan angka pasung. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui upaya keluarga dalam pencegahan tindakan pasung pada ODGJ. Metodologi: Metode penelitian menggunakan rancangan deskriptif, dengan populasi keluarga yang mempunyai anggota keluarga mengalami gangguan jiwa berat. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan sampel sebanyak 30 responden, diambil menggunakan teknik quota sampling. Hasil : Hasil penelitian Upaya dalam melakukan pengkajian terhadap ODGJ adalah 60% kurang; Upaya keluarga dalam merencanakan tindakan masih ditemukan 30% kurang; Upaya keluarga dalam merawat ODGJ 30% kurang; Upaya keluarga dalam memodifikasi lingkungan sekitar ODGJ 46,7% kurang; Upaya keluarga dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan 10% kurang. Diskusi : UPTD Kesehatan Kecamatan Kepanjen Kidul diharapkan dapat menyadarkan masyarakat melalui peningkatan kegiatan penyuluhan kesehatan tentang perawatan ODGJ dalam keluarga tanpa pasung
Pendampingan Pemahaman Kitab Kuning Durratun Nashihin dalam Pembentukan Karakter Santri Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan
Pendidikan karakter merupakan penanaman kebiasaan (habit) tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan, sehingga seseorang memiliki kesadaran dan pemahaman yang tinggi, serta kepedulian dan komitmen untuk menerapkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter dilakukan secara simultan dan berkelanjutan di dalam dan di luar kelas. Keberhasilan pendidikan karakter akan dipengaruhi oleh teladan dan contoh nyata dalam kehidupan dan dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu lembaga yang tetap konsisten dan telah mengakar dimasyarakat dalam pembentukan karakter adalah pondok pesantren. Pembentukan karakter tidak semata-mata membalikkan tangan langsung jadi, namun perlu proses yang panjang. Pesantren telah konsisten dengan kegiatan rutinitas melalui pengajian dan pelaksanaannkegiatan ubudiyah. Salah satu momen dalam bentuk kegiatan yang sampai saat ini tetap pada kaidah kuno yaitu pengajian kitab kuning. Metode bandongan dalam penyampaian pengajian kitab kuning tetap eksis dan masih diterima oleh masyarakat. Salah satu kitab kuning yang dikaji dipesantren adalah Kitab Durratun Nashihin yang telah berumur lebih dari 200 tahun. Kitab ini merupakan salah satu kitab kajian mengkaji perilaku manusia dalam kehidupan didunia. Diharapkan melalui pendampingan dengan pengkajian kitab ini terbentuk karakter pribadi pada diri santri atau siswa benar-benar terwujud
Strategi kepemimpinan dalam pengembangan Sumber Daya Manusia untuk membantu masalah sosial keagamaan: study kasus di LSM WALSAMA Surabaya
Masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah (1) Bagaimana strategi kepemimpinan yang diterapkan di LSM WALSAMA Surabaya (2) Bagaimana pengembangan Sumber Daya Manusia yang dimiliki di LSM WALSAMA Surabaya (3) Bagaimana hubungan aritara strategi kepemimpinan dan pengembangan Sumber Daya Manusia di LSM WALSAMA Surabaya. dalam menjawab pertanyaan tersebut, peneliti ingin menggunakan analisis product moment yang bersifat kuantitatif. Melalui analisa deskripsi dapat ditarik kesimpulan tentang frekuensi dan prosentase jawaban mengenai strategi kepemimpinan dan pengembangan SDM, menunjukkan taraf yang baik. Sedangkan hubungan strategi kepemimpinan dan pengembangan Sumber Daya Manusia menunjukkan hubungan yang sedang, artinya tidak kuat juga tidak lemah. Berdasarkan masalah clan kesimpulan tersebut, penelitian ini belum menjawab lebih jauh mengapa hubungan tidak dimaksimalkan dan bagaimana seandainya ada pergantian pemimpin. Kiranya, tema ini dapat dijadikan masalah penelitian berikutnya
STRATEGI PEMASARAN BATIK TULIS SEKAR MULYO DALAM MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN DENGAN ANALISIS SWOT
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bagaimana strategi pemasaran yang digunakan oleh UMKM Batik Tulis Sekar Mulyo dalam meningkatkan volume penjualan. Penelitian ini mnggunakan metode kualitatif dimana selama peroide tertentu untuk menggali dan mendapatkan informasi lebih jauh bagaimana strategi pemasaran yang digunakan UMKM Batik Tulis Sekar Mulyo dalam meningkatkan volume penjualan. Hasil dari penelitian ini adalah UMKM Batik Sekar Mulyo menggunakan strategi pemasaran yakni strategi produk, strategi harga, strategi promosi dan strategi distribusi. Keunggulan yang dimiliki UMKM Batik Tulis Sekar Mulyo yakni bahan baku yang baik, produk yang berkualitas dan pelayanan yang baik. Untuk meberdayakan keunggulan tersebut yakni dengan mempertahankan kualitas bahan baku, meningkatkan kualitas produk, dan juga meningkatkan aspek pelayanan. Sedangkan kelemahan yang dimiliki UMKM Batik Tulis Sekar Mulyo yakni permodalan yang terbatas, sumber daya manusia yang kurang baik, kurangnya monitoring terhadap karyawan di rumah masing-masing, proses produksi yang lama, dan manajemen yang kurang rapi. Untuk meminimalisir kelemahan tersebut yakni dengan peminjaman modal usaha, peningkatan kualitas sumber daya manusia, monitoring karyawan ke rumah masing-masing, menggunakan alat-alat yang agak modern tanpa meninggalkan ciri khas batik, mulai melakukan pencatatan dat
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
