9 research outputs found
Pembuatan Gaun Dengan Inspirasi "Devil Fish"
ABSTRAK AISYAH KUSUMA. 2012. Pembuatan Gaun Dengan Inspirasi Devil Fish. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri, Program Studi Diploma Tiga Tata Busana, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Hapsari Kusumawardani, M. Pd, (II) Dra. Nur Endah Purwaningsih, M. Pd Kata kunci : gaun, devil fish, modifikasi lengan kop Gaun adalah busana yang dirancang pas badan atau longgar, biasa dipakai untuk menghadiri pesta baik formal maupun non formal. Dengan mengambil inspirasi dari devil fish salah satunya yaitu hiu yang identik dengan sirip dan gigi yang runcing serta tajam, menjadikan gaun ini cocok sebagai busana kostum atau panggung. Bahan yang di gunakan adalah shantung mulur yang nyaman dipakai. Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah menjelaskan tentang gaun dan menjelaskan tentang pembuatan gaun dengan inspirasi devil fish. Manfaat yang diperoleh dalam pembuatan Tugas Akhi ini adalah menambah pengetahuan dan inspirasi bagi pembaca untuk membuat gaun dengan inspirasi devil fish. Proses pembuatan yang dilakukan adalah pattern, cutting, sewing, dan finishing. Biaya yang dikeluarkan untunk membuat gaun dengan inspiasi devil fish ini adalah Rp. 147.500,00. Hasil yang diperoleh dari pembuatan gaun ini berupa gaun dengan modifikasi lengan kop, dan terdapat hiasan duri pada bagian dada dan berbahan dasar shantung mulur. Saran yang dapat diberikan adalah memerlukan ketelatenan dan ketelitian dalam membuat hiasan duri, serta dipelukan banyak pelapis yaitu M32 dan fiselin agar bentuk lengan dapat terlihat tegak.
Penerapan Model PBL pada Materi Relasi dan Fungsi untuk Melihat Nilai Kreatif Siswa Kelas VIII
Students' creative value is still relatively low because teaching and learning activities in schools are still conventional, monotonous or teacher-centered so that students' creative value is not optimal. One of the right ways to optimize students' creative values is to choose the right learning model to integrate creative values, such as the PBL model. This research aims to describe the creative value of junior high school students in the PBL learning model on relationship and function material. Researchers used qualitative descriptive methods. The main focus of creative values in this research is the creative values of originality and creative flexibility. The subjects of this research were class VIII students at SMP Negeri 45 Palembang using written test instruments. Data was collected through tests which were then analyzed descriptively qualitatively. Researchers obtained research results that the creative value that most often appears in the learning of relationship and function material is creative originality, while the creative value that rarely appears is the creative value of flexibility
Optimizing Layout Structure in the ASOS Application Using the GeM Framework
The study aims to identify key elements such as icons, text, and paragraphs within the ASOS application. The research seeks to provide insights into the application's design, emphasizing simplicity that appeals more to younger users compared to adults. The study employs a qualitative descriptive research method to analyze the data, which consists of screenshots from the ASOS application taken on a mobile phone. Data collection focuses on various screens, including the home screen, categories screen, Ramadhan edit screen, brand screen, my bag screen, and add address screen. The analysis reveals that the application contains numerous hyperlinks facilitating the selection and purchase of goods. From the examined screens, the author identifies 207 base units, which are further classified into 51 base layouts
ANALISIS EFEKTIVITAS MESIN PADA PROSES PRODUKSI GULA KRISTAL PUTIH MENGGUNAKAN METODE OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS (OEE)
Jika membutuhkan abstrak atau isi jurnal silahkan menghubungi author melalui email [email protected] atau [email protected] atau [email protected] Dipublikasikana tanggal: 17 Agustus 202
Karakterisasi Tokoh dalam Naskah Drama Nyanyian Kardus karya Puntung CM. Pudjadi: Teori Albertine Minderop
This research aims to describe how the characters are described by the author in a drama script Nyanyian Kardus by Puntung CM. Pudjadi uses the characterization theory of fiction analysis by Albertine Minderop. This research uses qualitative research methods, and the data studied are in the form of narratives and conversational dialogues of the characters contained in the drama script Nyanyian Kardus by Puntung CM. Pudjadi. Data collection techniques in research were carried out using literature study techniques, and data analysis techniques were carried out through narrative analysis techniques. This research will find out how the author describes the characters in the drama script Nyanyian Kardus by Puntunh CM. Pudjadi and will be examined using the theory of fictional characterization, namely through the direct method (telling) and the indirect method (showing). Besides that, this research will also reveal the hidden messages of the characters and what the author wants to convey to the readers through each portrayal of the characters in the storyline.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan bagaimana karakter para tokoh yang dilukiskan oleh pengarang dalam sebuah naskah drama berjudul Nyanyian Kardus karya Puntung CM. Pudjadi menggunakan teori karakterisasi telaah fiksi oleh Albertine Minderop. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dan data yang diteliti berupa narasi serta dialog-dialog percakapan para tokoh yang terdapat di dalam naskah drama Nyanyian Kardus karya Puntung CM. Pudjadi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian dilakukan menggunakan teknik studi pustaka, dan teknik analisis data dilakukan melalui teknik analisis naratif. Penelitian ini akan menguraikan bagaimana cara pengarang dalam melukiskan karakter para tokoh dalam naskah drama Nyanyian Kardus karya Puntung CM. Pudjadi dan akan diteliti menggunakan teori karakterisasi telaah fiksi yaitu melalui metode langsung (telling) dan metode tidak langsung (showing). Selain itu, penelitian ini juga akan mengungkapkan karakter para tokoh serta pesan tersembunyi apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh pengarang kepada para pembaca melalui setiap penggambaran karakter di dalam alur ceritanya.This research aims to describe how the characters are described by the author in a drama script Nyanyian Kardus by Puntung CM. Pudjadi uses the characterization theory of fiction analysis by Albertine Minderop. This research uses qualitative research methods, and the data studied are in the form of narratives and conversational dialogues of the characters contained in the drama script Nyanyian Kardus by Puntung CM. Pudjadi. Data collection techniques in research were carried out using literature study techniques, and data analysis techniques were carried out through narrative analysis techniques. This research will find out how the author describes the characters in the drama script Nyanyian Kardus by Puntunh CM. Pudjadi and will be examined using the theory of fictional characterization, namely through the direct method (telling) and the indirect method (showing). Besides that, this research will also reveal the hidden messages of the characters and what the author wants to convey to the readers through each portrayal of the characters in the storyline.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan bagaimana karakter para tokoh yang dilukiskan oleh pengarang dalam sebuah naskah drama berjudul Nyanyian Kardus karya Puntung CM. Pudjadi menggunakan teori karakterisasi telaah fiksi oleh Albertine Minderop. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dan data yang diteliti berupa narasi serta dialog-dialog percakapan para tokoh yang terdapat di dalam naskah drama Nyanyian Kardus karya Puntung CM. Pudjadi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian dilakukan menggunakan teknik studi pustaka, dan teknik analisis data dilakukan melalui teknik analisis naratif. Penelitian ini akan menguraikan bagaimana cara pengarang dalam melukiskan karakter para tokoh dalam naskah drama Nyanyian Kardus karya Puntung CM. Pudjadi dan akan diteliti menggunakan teori karakterisasi telaah fiksi yaitu melalui metode langsung (telling) dan metode tidak langsung (showing). Selain itu, penelitian ini juga akan mengungkapkan karakter para tokoh serta pesan tersembunyi apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh pengarang kepada para pembaca melalui setiap penggambaran karakter di dalam alur ceritanya
KEKERASAN BERBASIS GENDER DALAM NOVEL MIMI LAN MINTUNA KARYA REMY SYLADO
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh persoalan kekerasan berbasis gender yang menjadi penyebab awal terjadinya trafficking yang terdapat dalam novel Mimi Lan Mintuna karya Remy Sylado. Kekerasan berbasis gender tidak hanya menimpa kaum perempuan tetapi juga laki-laki. Asumsi gender tertentu yang melekat pada perempuan maupun laki-laki menjadi penyebab dari kekerasan berbasis gender ini.
Berdasarkan permasalahan tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mendeskripsikan: (1) struktur teks dalam novel Mimi Lan Mintuna karya Remy Sylado yang menggambarkan kekerasan berbasis gender; (2) bentuk kekerasan berbasis gender yang terdapat dalam novel; (3) perjuangan perempuan dalam menghadapi persoalan kekerasan berbasis gender dalam novel Mimi Lan Mintuna karya Remy Sylado.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka. Sumber data penelitian ini adalah novel Mimi Lan Mintuna karya Remy Sylado. Untuk mendeskripsikan hal tersebut digunakan kritik sastra feminis dan perspektif gender.
Hasil penelitian memberikan jawaban bahwa pengaluran dan alur cerita mudah dipahami karena didominasi alur linear. Alur kilas balik, sorot balik, dan bayangan digunakan untuk menciptakan ketegangan-ketegangan dalam cerita. Baik tokoh perempuan maupun laki-laki digambarkan mengalami ketidakadilan gender. Latar cerita terjadi di masyarakat Jawa, Manado, Bangkok, dan Jepang yang menggambarkan adanya bias gender. Jenis penceritaan dan tipe pencerita hadir memperjelas kedudukan pengarang sebagai pembuat cerita. Terdapat bentuk kekerasan berbasis gender yaitu bentuk pemerkosaan terhadap perempuan, tindakan pemukulan dan serangan fisik yang terjadi dalam rumah tangga, bentuk pelacuran, bentuk pornografi, dan pelecehan seksual. Kekerasan berbasis gender tersebut terjadi karena adanya bias gender antara perempuan dan laki-laki. Perjuangan yang terdapat dalam cerita ada yang bernilai feminis yaitu perjuangan melawan stereotipe perempuan, peran gender perempuan, dengan mendekatkan diri pada Tuhan, dan dengan kekuatan cinta. Adapula yang tidak bernilai feminis yang justru mengentalkan gender. Inti perjuangan perempuan dalam melawan kekerasan berbasis gender dilakukan untuk mencapai kesetaraan gender, utamanya di dalam lingkup keluarga.
This research is motivated by the issue of gender-based violence which become the cause of trafficking contained in the the novel of Remy Syaldo titled Mimi Lan Mintuna. Gender-based violence does not only affects a lot of women but also men. The assumptions of particular gender which inherent in the women and men become the causes of these gender-based violence.
Based on these problems, the goal of this research is to describe: (1) the structure of the text in the novel Mimi Lan Mintuna that Remy Sylado works which depicting gender-based violence; (2) forms of gender-based violence contained in these novel; (3) and the fight of women in addressing the issue of gender-based violence in these novel.
The method used in this research is descriptive analysis with data collection in the form of literature review. The data source of this research is novel Mimi Lan Mintuna by Remy Sylado. The terms used to describe it, is feminist literary criticism and gender perspectives.
Results of the study provide the answers that the storyline and the technique used to present it, is easy to understand because it is dominated by linear grooves. Flashback, which illustrates one or several events in the past, and the shadow which is used to create the tensity in these story. Either a woman and a man figure experienced gender inequality. Background story takes place in the community of Java, Manado, Bangkok, and Japan which illustrates the gender bias. Type of storytelling and storytellers are present to clarify the position of the author as the creator of the story. Types of gender-based violence against women is in the form of rape, beatings and acts of physical assault that occurred in the household, prostitution, pornography, and sexual harassment. Gender-based violence occurs because of gender bias between women and men. The fight that women do in the story contained both feminist and non-feminist. Kind of feminists those are women's struggle against stereotypes, increasing gender roles of women, do oncoming to closer to God, and with the power of love. Besides, the non-feminist precisely do to thicken gender. The core fight of women against gender-based violence is sought to achieve gender equality, especially in the family sphere
Chemical Properties, Biological Activities and Poisoning Treatment of Novichok: A Review
Novichok is an organophosphate compound found as a nerve agent chemical weapon. However, the information about its chemical properties, biological activities, and molecular interactions in the body are still protected under the “top secret” security clearance. Novichok, with the codes A230, A232 and A234, is a compound whose structure has been successfully determined. The compound is synthesized from a precursor through a nucleophilic substitution reaction. Novichok agents are considered more potent than VX gas and can be applied in unitary and binary forms. This compound has ability for the binding with acetylcholinesterase (AChE) due to inability of acetylcholine metabolism. AChE catalyzes the rapid hydrolysis of acetylcholine to acetate and choline. The treatment of Novichok agent poisoning is similar to management of other nerve agents, such as atropine and pralidoxime administered intravenously. In this paper, we reviewed the Novichok component from chemical and biological perspective. Moreover, we discussed the potential molecular interaction and treatment of this compound
The Urgency of Abou El Fadl\u27s Hermeneutics in the Book "In the Name of God"
Hermeneutics is a branch of philosophy concerned with interpreting meaning. In Islamic religion, hermeneutics have something in common with interpretation. It is the presence of a text or message, the person delivering it, and the person who needs to understand it. This writing aims to expose Khaled M. Abou El Fadl\u27s hermeneutics in his book On the Name of God, which arose from Khaled\u27s disagreement with the misogynistic fatwa issued by UCLA. This research uses a qualitative approach with content analysis. In solving the problems related to the interpretation of the text, Khaled Abou el Fadl offers to negotiate hermeneutics. Hermeneutics negotiates the complex interactions between three: the author, the text, and the reader. This research indicates that the role of the writer, text, and reader is more important than in religious texts. Additionally, the reader interpreting the text must fulfill five conditions: honesty, sincerity, integrity, rationality, and self-control. This approach emphasizes the importance of understanding the social, cultural, historical, and linguistic contexts behind religious texts to interpret them correctly. Several points emphasize the importance of Khaled Abou El-Fadl\u27s hermeneutics, namely contextuality, in-depth understanding, ethical and moral importance, responsive and relevant to the development of the times, the last being multidisciplinary use that combines knowledge of religion, history, philosophy, and social sciences
PENGARUH INFLASI DAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) SEKTOR PERTANIAN TERHADAP NILAI TUKAR PETANI DI PROVINSI ACEH TAHUN 2008-2019
AJurnal Ekonomi Pertanian Unmal, Volume 02 Nomor 02 Desember 2021 E-ISSN : 2614-4565URL : http://ojs.unimal.ac.id/index.php/JEPU PENGARUH INFLASI DAN PRODUK DOMESTIK REGIONALBRUTO (PDRB) SEKTOR PERTANIAN TERHADAP NILAI TUKAR PETANI DI PROVINSI ACEH TAHUN 2008-2019 Jumilah a*, Devi Andriyani a*aFakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh * Corresponding author : [email protected]* [email protected] A R T I C L E I N F O R M A T I O N A B S T R A C T Keywords:Inflation, Agricultural Sector GRDP, Farmers Exchange Value, Farmers Exchange Rate. This study examined the influence of inflation and PRDB in the agricultural sector on farmer exchange rates in Aceh province. The data used was quantitative data with a time-series approach from 2008 to 2019. The analytical method used was Multiple Linear Regression. Partial test results showed that inflation did not affect Farmer Exchange Rates, while GRDP in the Agricultural Sector negatively and significantly influenced Farmer Exchange Rates. Furthermore, the simultaneous test results showed that inflation and GDP in the agricultural sector positively and significantly influenced Aceh Farmer Exchange Rate. The determination coefficient (R2) was 0.5233, which indicated that the ability of the independent variables to explain the dependent variable was 51.33%, while the remaining 48.67% was influenced by other variables outside the model. The results of the correlation coefficient obtained in this study are R = ˆšR2 = ˆš0.6018 = 0.7757. So it concluded that inflation and GRDP in the Agricultural Sector had a significant and positive relationship to the Farmer Exchange Rate because the correlation value of 77.57% was almost close to a positive one (1). 1. PENDAHULUANPembangunan disegala bidang merupakan arah dan tujuan kebijakan Pemerintah Indonesia.Adapun hakikat sosial dari pembangunan itu sendiri adalah peningkatan kesejahteraan bagi seluruh penduduk Indonesia. Mengingat bahwa sebagian besar penduduknya Indonesia tinggalnya di daerahnya pedesaannya dengan mata pencaharian bertumpu pada sektornya pertanian, makanya sangat diharapkannya sektornya pertaniannya ini dapatnya merupakan motornya penggerak pertumbuhannya yang mampunya meningkatkannya pendapatan para petani dan mampu mengentaskan kemiskinan (Nirmala et al., 2016).Berikut adalah perkembangan pada nilai PDRB pertanian, tingkat inflasi dan nilai tukar petani yang ada di provinsi Aceh 2015-2019.Tabel 1Perkembangan NTP, Inflasi dan PDRB sektor Pertanian Provinsi AcehTahun 2015-2019TahunNTP(%)Inflasi(%)PDRB(%)201596.631.5329.13201696.273.9529.39201794.754.2529.74201894.731.8429.74201992.281.6929.54Sumber: BPS Aceh, 2020.Berdasarkan tabel 1.1 di atas dapat dilihat bahwa Nilai Tukar Petani (NTP), inflasi, dan PDRB sektor pertanian di Provinsi Aceh cenderung fluktuatif. Dimana secara umum terlihat bahwa NTP setiap tahunnya mulai mengalami penuruan bahkan nilainya berada dibawah 100, halnya ini dapatnya dilihatnya pada tahun 2015 NPT Aceh tercatat sebesar 96.63% dan terus menurun hingga tahun 2019 menjadi sebesar 92.28%.Nilai NTP yang berada dibawah 100 memberikan gambaran bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat aceh sangat rendah, dan hal ini harus adanya perhatian khusus dan tindak lanjut dari pemerintah Aceh.Jika dikaitkan dengan perkembangan inflasi yang terjadinya di Aceh Secara teoritis diungkapkan bahwa peningkatan inflasi akan menyebabkan nilai tukarnya petani yakni indeksnya harganya yang dibayarkan petani akan mengalami peningkatan, sedangkan indeks harga yang diperoleh petani tetap karena tidak diikutinya dengan kenaikannya harga gabahnya. Berdasarkan data tahun 2017 dapat dilihat bahwa nilai inflasi berada pada tingkat tertinggi yakni 4,25%, namun nilai tukar petani semakin rendah berada pada angka 94.75%, hal ini disebabkan karena harga jual gabah ditingkat petani tidak mengalami kenaikan meskipun harga kebutuhan pokok ikut naik, hal ini menyebabkan pendapatannya yang diterimanya petani tidak mencukupi untuk memenuhinya kebutuhannya pokok dan modal bertani.Faktor inflasi dapat mempengaruhi Nilai Tukar Petani (NTP) dimana tingginya tingkat inflasi menyebakan petani tidak mampu membeli sarana produksi pertanian. Petani harus menghemat dan sebagian menggunakan sarana produksi alternatif meskipun kurang berkualitas. Dampak yang terjadi, menurunnya jumlah produksi yang berakibat nilai tukar petani menjadi rendah.Faktor selanjutnya adalah PDRB sektor pertanian. Sebagimana yang kita ketahui bahwa PDRB sektor pertanian sangat berpengaruh penting dalam perkembangan NTP, Secara teoritis nilai tukar petani mempunyai kegunaan untuk mengukur kemampuan tukar barang dijual petani dengan produk yang dibeli petani pada kebutuhan rumah tangga. Kenaikan pendapatan bruto sektor pertanian khususnya mengindikasikan jika pendapatan petani mengalami peningkatan. Hal yang berbeda terjadi pada tahun 2016 dimana nilai PDRB sektor pertanian tercatat sebesar 29.13% dan terus meningkat hingga tahun 2018 sebesar 29.74% namun nilai tukar petani justru mengalami penurunan yaitu sebesar 96.63% ditahun 2016 dan semakin rendah sampai tahun 2018 sebesar 94,73%, sedangkan tahun 2019 PDRB sektor pertaniannya dan Nilai Tukarnya Petani sama-sama mengalami penurunan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis Pengaruh Inflasi dan PDRB Sektor Pertanian Terhadap Nilai Tukar Petani di Provinsi Aceh.Selanjutnya bagian kedua dari penelitiannya ini akannya membahas tinjauan teoritis, metode penelitian akan dibahas pada bagian ketiga. Kemudian pada bagian ke empat akan dibahas hasil penelitian dan pembahasan. Pada bagiannya kelima akan membahas kesimpulan dannya saran. 2. TINJAUAN TEORITIS Nilai Tukar PetaniAlat ukur kemampuan tukar barang barang (produk) pertanian yang dihasilkannya petani terhadapnya barang dan jasanya yang diperlukannya untuknya konsumsi rumah tangganya dan kebutuhannya dalam memproduksi hasil pertanian adalah definisi dari Nilai tukar petani. NTP juga diartikan angka perbandingannya antara indeksnya harga yang diperoleh petaninya dengan indeksnya harga yang dibayarnya petani (BPS Aceh, 2019).Menurut Riyadh (2015) NTP merupakannya hubungan antaranya hasil pertaniannya yang dijualnya petani dengan barangnya dan jasanya lain yang dibelinya oleh petaninya. Selanjutnya Faridah Nurul (2016) menyebutkan bahwa Nilai Tukarnya Petani adalah perbandingan atau rasionya antara indeksnya harga yangnya diterima petaninya dengan indeksnya harganya yang dibayarnya petani. NTP ditunjukkannya dalam bentuknya rasio antaranya indeks harganya yang diterimanya petani, yakni indeksnya harga jualnya outputnya, terhadapnya indeks harganya yang dibayarnya petani, yakni indeksnya harga input-inputnya yang digunakannya untuk bertaninya, misalnya pupuknya, pestisidanya, tenaga kerjanya, irigasi, bibit, sewa traktor, dan lainnya. InflasiMenurut Herlianto (2013) inflasi merupakan suatu gejala yang menunjukkan harga-harga mengalami kenaikan secara umum. Secara sederhnana inflasi diartikan sebagai keadaan meningkatnya harga secaranya umumnya dan terus menerus.Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali jika kenaikkan inflasi tersebut meluass (atau menyebabkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Perhitungan inflasi dlakukan dalam rentang waktu minimal bulanan (Wardhani, Kusuma, 2017).Salah satu peristiwa modern yang sangatnya penting dan yang selalu dijumpai dihampir semua negara di dunia adalah inflasi. Definisi singkat dari inflasi adalahnya kecenderungannya harga-harganya untuk menaiknya secaraumum dan terusnya menerus, hal ini tidak berarti bahwa harga-harga berbagai macam barang itu naik dengan presentase yang sama. Mungkin kenaikan tersebut dapat terjadi tidak bersamaannya, yang pentingnya terdapat kenaikannya harga umumnya barangnya secaranya terus menerusnya selama satu periode tertentu. Kenaikannya yang terjadinya sekali sajanya meskipunnya dalam presentasenya yang besarnya, bukanlah merupakannya inflasinya (Mankiw N, 2006). Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Indikator pentingnya untuknya dapat mengetahuinya kondisi ekonominya suatu daerahnya dalam kurunnya waktu tertentunya ialah menggunakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), dapat menggunakan atasnya dasar harganya berlaku ataupun atas dasarnya harga konstannya. Menurutnya Sukirno (2012) pertumbuhannya ekonomi merupakannya kenaikan outputnya per kapitanya dalam jangkanya yang panjangnya, penekanannya ialahnya pada tiganya aspek yakni prosesnya, outputnya per kapitanya, serta jangkanya panjang. Pertumbuhan ekonomi merupakan proses, bukan hanya gambaran ekonomi sesaat. Pembangunan daerah serta pembangunan sektoral harus dilaksanakan sejalan agar pembangunan sektoral yang beradanya di daerah-daerah dapat berjalan sesuainya dengan potensi serta prioritas daerah.Produk Domestik Bruto (PDB) merupakannya salah satunya indikatornya makro ekonomi yang padanya umumnya digunakannya untuk mengukurnya kinerja ekonominya di suatu negaranya. Sedangkan untuknya tingkat wilayahnya, baiknya di tingkatnya wilayahnya propinsi maupunnya kabupaten ataunya kota digunakannya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB merupakannya bagian darinya PDB, sehingganya perubahannya PDRB yang terjadinya ditingkatnya regional akannya berpengaruhnya terhadapnya PDB atau sebaliknya Raharjonya (Simanjuntak & Bhakti, 2018). Kerangka Konseptual Gambar 1. Kerangka KonseptualKerangka konseptual gambar 1 di atas menjelaskan pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat, yaitu pengaruh inflasi (x1) dan produk domestic regional bruto (x2) terhadap nilai tukar petani (y) yang akan di uji secara parsial dengan mengguakan uji t, dan secara bersama-sama seluruh variabel independen terhadap dependen dengan menggunakan uji f. Hipotesis Adapun hipotesis alternatif yang diberikannya dalam penelitiannya ini adalahnya sebagainya berikut :H1 = Diduga inflasi berpengaruh Negatif dan Signifikan terhadap Nilai Tukar Petani di Provinsi Aceh.H2 = Diduga PDRB Sektor Pertanian berpengaruhnya Negatif dan Signnifikan terhdap Nilai TukarPetani di Provinsii Aceh.H3 = Diduga Inflasi dan PDRB Sektor Pertanian berpengaruhnya positif dannya Signifikan terhadapnya Nilai Tukar Petani Provinsi Aceh. 3. METODE PENELITIANData dan Sumber DataPenelitiannya ini menggunakannya data sekunder, yang dimaksudnya dengan data sekunder adalah data yang telah diolah oleh pihaknya lain. Data yang digunakan dari tahun 2008 sampai 2019. Data utama di dalam penulisan proposal ini bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS). Definisi Operasionalisasi VariabelOperasionalisasi variabel merupakan petunjuk bagaimana variabel-variabeldalam penelitian diukur. Untuk memperjelasnya dan mempermudahnya pemahamannya terhadap variabel-variabelnya yang akannya dianalisisnya dalam penelitiannya ini, maka butuhnya dirumuskan operasionalisasinya variabelnya yaitu sebagainya berikut: 1. Variabel Dependen (Y)Variabel dependen adalah variabel terikat yang artinya variabelnya yang dipengaruhinya oleh variabel bebas. Variabel dependen dalam penelitiannya ini yaitu Nialai Tukar Petaani (NTP) yang artinya adalah Raiso antara harga yang didapat petani dengan harganya yang dibayarnya petani, NTP dalam peneitian ini diambil dari total nilai tukarnya petani yang diukur dalam satuan persen (%) 2. Variabel Independen (X)Variabel Independen adalah variabel bebas yang artinya variabel yang perubahannya mempengaruhi variabel terikat. Dalam penelitiannya ini variabelnya independen terdiri atas :a) Inflasi (X1) adalah suatu keadaannya dimana terjadinya peningkatan harga-harga secara umumnya dan terus menerus dalam wkatu atau tempo jangka panjang. Inflasi diambil dari jumlah inflasi 43 kotanya di indonesiia yang diukur dalam satuan persen (%)b) PDRB Sektor Pertanian (X2) adalah Nilai tambahnya bruto atau penjumlahan dari nilainya output bersih yang tercipta di wilayah domestik (provinsi) pada suatu periode waktunya tertentu. Dalam penelitiannya ini PDRB diambil dari data PDRB menurut lapangan usaha jenis sektor pertaniannya yang diukur dalam satuan (%). Metode Analisis DataUntuk menganalisis pengaruh variabel bebas dan variabel terikat digunakan teknik regresi linear berganda dengan formula OLS (Ordinary Least Quare), yaitu :Y= α+β1x1+β2x2+eiDimana :Y : Nilai Tukar PetaniX1 : InflasiX2 : PDRB Sektor Pertanianei : Error Term Uji NormalitasMenurut Gujarati (2009), menyebutkan bahwa ujinya normalitas adalahnya suatu pengujian dimana jika probabilitasnya lebih besar daripada alpha 5 persen maka uji normalitas diterima. Justifikasi lainnya untuk uji ini adalah dengan membandingkan nilai J-B hitung dengan x2 tabel , apabila alpha J-B <x2 tabel maka residual terdistribusi normal. Sedangkan menurut Sunyoto (2011), uji normalitas adalah pengujian yang akan menguji data variabel bebas (x) dan data variabel terikat (y) pada persamaan regresi yang dihasilkan berdistribusi normal atau berdistribusi tidak normal. Model regresi yang baik merupakan berdistribusi data normalnya atau mendekatinya normal.Metode yang sering digunakan untuk melakukannya uji normalitasnya adalah dengan uji Jarque- bera. Pengujian ini dapat dilakukannya dengan program EVIEWS sehingga nantinya memperoleh nilai probabilitas (p-value). Jika nilai probabilitasnya lebih besarnya dari 5% (<0,05), berarti nilai residualnya berdistribusinya normal. Sebaliknya, jika nilainya probabilitas lebihnya kecil darinya 5% (<0,05), berarti nilai residualnya berdistribusi tidak normal. Pengujian Asumsi KlasikDalam melakukannya estimasi persamaannya linier dengannya menggunakannya metodenya OLS, makanya asumsi-asumsinya dari OLS harusnya dipenuhi.Berdasarkan keadaannya tersebut didalamnya ilmu ekonometrikanya agar suatunya model dikatakannya baik makanya perlu dilakukannya pengujiannya sebagai berikutnya : Uji Autokorelasi Menurut Ghozali (2006), ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk melihat terjadi atau tidaknya Autokorelasi. Salah satunya dengannya Uji Breusch-Godfrey Serial LM Test. Uji MultikolineritasMultikolineritas adalahnya suatu kondisinya dimana terjadinya korelasinya yang kuatnya diantaranya variabel-variabelnya (x) yang di ikutnya sertakan dalamnya pembentukannya model regresinya linear (Gujarati, 2006). Uji multikolineritas dilakukan untuk melihatnya apakah dalam model regresinya ditemukannya adanya korelasinya antar variabelnya bebas (x).Jika terjadi korelasi yang tinggi, maka regresi tersebut terjadi multikolineritas.Untuk mengetahui multikolineritas dengan menggunakan Eviews dapat dilakukannya dengan melihatnya korelasi antar variabel bebas (Correlation Matrik). Jika korelasi antara variabelnya bebas lebih atau samanya dengan 0,8 (<0,8), berarti terjadi multikolineritas. Uji HeteroskedastisitasHeteroskedastisitas adalahnya variabel pengganggunya dimana memilikivariannya yang berbedanya dari satunya observasinya ke observasinya lainnya ataunya varian antarnya variabel independennya tidak samanya, hal ininya melanggar asumsinya homokedastisitasnya yaitu setiapnya variabel penjelas memiliki variannya yang samanya (konstan). Uji heteroskedastisitas dapat dilakukannya dengan Uji White, yaitu dengan melihatnya nilai obs*R-Square dan nilai signifikansi di atas tingkat α=5% atau harus lebih besarnya dari (> 0,05) sehingga dapatnya disimpulkan bahwanya model regresinya tidak mengandung adanya Heteroskedastisitas (Ghozali, 2012).Pengujian StatistikUntuk menguji kebenaran model regresi diperlukan pengujian statistik diantaranya :Uji t-StatistikMenurut Ghozali (2006), uji statistic atau uji t bertujuan untuknya melihat signifikan dari pengaruh variabel bebasnya secara individual terhadap variabelnya terikat dengannya menganggap variabelnya bebasnya lainnya adalahnya konstan.Jika t hitung > t tabel , maka variabel penjelas secara individual mempengaruhi variabel yang dijelaskan secara signifikan.Jika t hitung < t tabel , maka variabel penjelas secara individual tidak mempengaruhi variabel yag dijelaskan secara signifikan. Uji F-statistik Untuk menentukan tingkat signifikan secara keseluruhan pada tingkat kepercayaan sebesar 95%, pengujian hipotesis dengan uji F. Gujarati (2006), uji F dilakukan dengannya membandingkan antara F hitungnya dengan F table, apabila F hitung>F table, dicari di tabel F dengan patokan taraf signifikan 5%, artinya bahwa (X1), (X2), dan (X3), secara bersama-sama mempengaruhi (Y). Koefisien DeterminasiKoefisien ini nilainya antara 0 (nol) sampai dengan 1 (satu).Semakin besar nilai koefisien tersebut maka variabel-variabel independen lebih mampu menjelaskan variasi variabel dependen. Nilai koefisiennya determinasi merupakannya suatu ukurannya yang menunjukkannya besar sumbangannya dari variabelnya independen terhadapnya variabel dependennya, atau dengannya kata lain koefisiennya determinasinya mengukur variasi turunan Y yang diterangkannya oleh pengaruhnya X. Bila nilainya koefisiennya dterminasi yang diberi symbol mendekatinya angkanya 1, maka variabelnya independennya makin mendekatinya hubungannya dengan variabelnya dependen (Gujarati, 2009). Adapun kegunaannya koefisien determinasinya adalah:Ukuran mengukur proporsi atau presentasenya dari jumlahnya variasinya yang diterangkannya oleh modelnya regresi ataunya untuk mengukurnya besar sumbangannya dari variabelnya X terhadapnya variabel Y.Hasil darinya analisisnya ini dinyatakan dalam presentasi batas-batas determinasi sebagi berikut : 0< <1.Untuk mengetahui nilai koefisiennya determinasi, mak dapat dihitung dengan cara mengkuadratkan nilai koefisien korelasi ). Koefisien KorelasiKoefesien korelasi dinyatakan dalam nilai koefisiennya korelasi (R), Koefisien Kolerasi ini bertujuannya untuk melihat seberapa besar tingkat kekuatan hubungannya antaranya variabel independen dengan variabelnya dependen. Menurut Ghozali (2012) terdapat beberapa ketentuan dalam menginterpretasikan hasil koefisien kolerasi, diantaranya yaitu :1) Jika koefisien korelasi bernilai 0,00 sampai 0,199 (plus atau minus) menunjukkan derajat hubungan yang sangat rendah,2) Jika koefisiennya korelasi bernilai 0,20 sampai 0,399 (plus atau minus) menunjukkan derajat hubungan yang Rendah,3) Jika koefisiennya korelasi bernilai 0,40 sampai 0,599 (plus atau minus) menunjukkan derajat hubungan yang Sedang,4) Jika koefisiennya korelasi bernilai 0,60 sampai 0,799 (plus atau minus) menunjukkan derajat hubungan yang tingginya atau kuat,5) Jika koefisien korelasi bernilai 0,80 sampai 1,00 (plus atau minus) menunjukkan derajat hubungan yang tingginya atau kuat. 4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANHasil PenelitianHasil Analisis Regresi Liniear BergandaRegresi liniear berganda bertujuannya untuk mengetahuinya ada tidaknya pengaruh signifikan dua ataunya lebih variabelnya bebas terhadap variabel terikat (Y). Untuk melihatnya adanya tidaknya pengaruh dapat dilihat melalui uji asumsi klasik.Hasil Uji Normalitas Sumber: Data Diolah (2020)Gambar 2Histogram-Hasil Uji NormalitasBerdasarkan Gambar 2 diatas dapat dilihat bahwa data penelitiannya ini telah terdistribusi secaranya normal. Hal ininya dapat dibuktikannya dengan melihat perbandingan nilai Jarqu-Berra < Chi-Square Tabel yaitu 0.37 < 7.81 dengan nilaiprobabilitas Jarqu-Berra> taraf signifikan 5% (0.05)yaitusebesar 0.8309 > 0.05. hasil penelitiannya ini sejalannya dengan teori yang dinyatakan oleh (Ghozali, 2012) apabila nilai Jarqu-Berra < Chi-Square dan probabilitas Jarqu-Berra > taraf signifikan 5% (0.05) maka data sudah terdistribusi dengan normal. Hasil Uji Asumsi KlasikBerikut hasil uji asumsi klasik :Hasil Uji AutokorelasiAdapun hasil pengujian sebagai berikut :Tabel 2Hasil Uji Autokorelasi Sumber: Hasil Olah Data,2020 Berdasarkan Tabel 2 diatas terlihat bahwa hasil penelitian ini terbebas dari indikasi Autokolerasi, hal ininya dapat dilihatnya pada nilai Obs*R-squared < Chi-Square Tabel yaitu 5.463314 < 7.81 dan probablitas Obs*R-squared > taraf signifikan 5% (0,05) yaitu 0.06 > 0,05. Uji MulticoliniearitasAdapun hasil pengujian sebagai berikut :Tabel 3Hasil Uji MulticoliniearitasVariabelINFLASIPDRB_PERTANIANINFLASI 1.000000-0.499962PDRB_PERTANIAN-0.499962 1.000000Sumber : Hasil Olah Data,2020Berdasarkan hasil uji multikolinearitas menunjukkan bahwa tidaknya terdapat variabel yang memiliki nilai lebih dari 0,8. Dengan demikian dapat disimpulkannya bahwa dalamnya penelitiannya ini tidaknya terjadi multikolinearitas. Hasil Uji HeteroskedastisitasTabel 4Hasil Uji Heteroskedastisitas Sumber : Hasil Olah Data,2020Berdasarkan hasil pengujian heteroskedastisitas pada tabel 4 diatas terlihat bahwa model dalam penelitian ini sudah terbebas dari indikasi heteroskedastisitas.Hal ini terbuktinya dari nilai Obs*R-squared< Chi-Square Tabel yaitu 3.439983< 7.81 dan juga nilai Probabilitas Chi-Square > taraf signifikansi 5% yaitu >0.1791.Hasil Uji HipotesisAdapun hasil pengujian yaitu :Tabel 5Hasil Uji Regresi Liniear Berganda Sumber: Hasil Olah Data, 2020Berdasarkan tabel 5 diatas persamaan regresi linear berganda yaitu :Y = α + β1 X1 + β2 X2 + eDan jika dikaitkannya dengan hasil penelitiannya ini makanya diperoleh :Y = 1734.707 - 4.115053 Inflasi- 19.51945 PDRB_Pertanian + e Dari hasil diatas maka interprestasi model regresi linearnya bergandanya adalah sebagainya berikut :Kostanta sebesar 1734.707 yang artinya apabila inflasi dan PDRB Sektor pertanian bernilai konstan atau (0) maka Nilai Tukar Petani juga akan konstan sebesar 1734.707 satuan atau 17.34707%.Koefisien Variabel Inflasi bernilai negatif sebesar -4.115053 yang artinya apabila inflasi mengalami kenaikan sebesar satu persen maka akan membuat Nilai Tukar Petani menurun sebesar 4.115053 atau 4.11% dengan asumsi variabel PDRB Sektor Pertani
