1,721,090 research outputs found
POTENSI PANAS GAS BUANG DAN LAJU PASOKAN BAHAN BAKAR ALAT PENGERING KOPI TANDEM HIBRID PANAS MATAHARI-BIOMASSA Authors Yuwana Yuwana
Alat pengering tandem hibrid panas matahari-biomassa dikembangkan dari alat pengering sebelumnya dengan memanfaatkan gas buang yang dihasilkan sebagai sumber panas sehingga kapasitasnya meningkat dari sekitar 2 ton menjadi 4 ton buah kopi. Tujuan penelitian ini menentukan potensi panas gas buang dari tungku dan pengaruh laju pasokan bahan bakar pada suhu maksimum ruang pengering belakang. Dioperasikan dengan pasokan bahan bakar LPG 1,4–4,35 kg/jam selama 2 jam, suhu udara di kedua ruang pengering tetap lebih tinggi dibandingkan suhu udara luar dari 7,3 jam hingga 14 jam, sementara ruang pengering depan mempunyai suhu udara 36,5–50,1°C dengan kecepatan maksimum antara 0,8–1,4 m/s dan ruang pengering belakang mempunyai suhu 39–108°C dengan kecepatan maksimum 1,15–1,6 m/s. Entalpi udara pengering di ruang pengering belakang secara konsisten lebih tinggi dari ruang pengering depan. Dengan peningkatan pasokan LPG, persentase panas kumulatif yang didistribusikan di ruang pengering belakang meningkat dari 19% menjadi 32% sedangkan potensi panasnya meningkat dari 51,8% menjadi 58,5% dari nilai kalor LPG yang dipasok dan didistribusikan 42,5% menjadi 47,7% di ruang pengering depan dan 4,8% sampai 16% di ruang pengering belakang. Dioperasikan dengan suplai bahan bakar kayu bakar 2,5–15 kg, suhu udara pengeringan maksimum dan lamanya api bertahan membara (waktu pembakaran) meningkat secara linier dengan besarnya suplai kayu bakar. Suplai kayu bakar sebanyak 3,54–12,69 kg ke dalam tungku menghasilkan suhu udara ruang pengering belakang setara dengan berbagai suhu udara alat pengering kopi baik non mekanis maupun mekanis
CATFISH DRYING (Clarias Batraclus) USING ‘TEKO BERSAYAP’ SOLAR DRYER
Experiment on catfish drying employing ‘Teko Bersayap’ solar dryer was conducted. The result of the experiment indicated that the dryer was able to increase ambient temperature up to 44% and decrease ambient relative humidity up to 103%. Fish drying process followed equations : KAu = 74,94 e-0,03t for unsplitted fish and KAb = 79,25 e-0,09t for splitted fish, where KAu = moisture content of unsplitted fish (%), KAb = moisture content of splitted fish (%), t = drying time. Drying of unsplitted fish finished in 43.995 hours while drying of split fish completed in 15.29 hours. Splitting the fish increased 2,877 times drying rate
IMPACT BRUISE RESISTANCE OF PALM FRUIT
This paper presents the dropping mass impact method to study bruise resistance and minimum absorbed energy to cause bruising on oil palm fruit, their variation values due to the differences of fruit fractions and transport delay time to palm oil processing unit. The result of the experiment indicated that the bruise volume correlated linearly with the absorbed energy produced by impact. The bruise resistance of freshly harvested fruits varied from (1.727 J/mm
3
) to (0.511 J/mm
3
) and the riper the fruit was the lower the value of bruise resistance. The bruise resistance decreased with the progress of transport delay time. The minimum absorbed energy of freshly harvested fruits ranged from 0.04 J for to 0.029 J. Generally the values of minimum absorbed energy decreased during 2 days transport delay time and then increased for all fruits except the very ripe fruit
Pendugaan kerusakan Akibat Impak pada Buah Apel dengan Metode Elemen Hingga
Damage caused by impact in apple was predicted using finite element method Apple model was axi-•ymetric three dimensions consisted 779-1 tetrahylrical elemeitts with 1612 nodes representing an apple having 2.5 AlPa Yon; modulus, 0.145 Poisson ratio. 134.5 g mass and 164,4 cm . Impact was simulated by employing an acceleration of 135 g (g = 9,81m/s1) on the model. During simulation, damage was supposed to occur when the stress suffered by cell was greater than its strength. The strength of cell was adopted from the previous study which was 0.44 Zone q" damage resulted by impact was compared to the damage of the real apple caused by impact with the same energy level. The result of the simulation indicated that- the zone of damage in the apple matched to the damage of the real apple. This finding suggested that the finite element method could be employed to accurately predict the damage mechanism caused by impact on apple
PHYSICAL DAMAGES OF TROPICAL FRUITS: CASE STUDY OF MANGOES, “DUKU” (Lansium parasiticum), AVOCADO AND BANANA FRUITS
Fruits are important horticultural products for human sustenance. Tropical region produces high variety of fruits
species. Fruits are naturally produced for local consumption and processed products. Most of tropical fruits are
cultivated in developing countries. Due to lacks of knowledge of fruits growers, limited fruit harvesting and
handling facilities, long distance between production fields and fruit markets/destination, and fruits are perishable in mature, these horticultural products are prompted to physical damages. This becomes constraint in promoting purpose. This paper describes physical damages of several tropical fruits hopping that the presented information is useful for growers, government and fruits traders
PENGGUNAAN PENGERING ENERGI SURYA MODEL YSD-UNIB12 UNTUK PENGERINGAN CABAI MERAH, SAWI DAN DAUN SINGKONG
Pengeringan produk sayuran dengan penjemuran menghadapi banyak kendala, diantaranya memakan tempat, rawan kontaminasi, hilang, rusak dan pencoklatan produk serta menguras tenaga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kinerja pengering energi surya model YSD-UNIB12 dalam menurunkan kadar air cabai merah, sawi dan daun singkong serta kualitas produk yang dikeringkan yang dideskripsikan dari aspek warna produk kering tersebut. Bagian utama pengering terdiri dari rangka bangunan pengering terbuat dari kayu, ruang pengering yang dilengkapi cerobung memanjang di bagian atasnya dan berisi rak pengering yang berjumlah 12 yang tersusun menjadi 6 tingkat, kolektor panas yang terbuat dari pelat aluminium bercat hitam yang dipasang menyatu dengan lantai ruang pengering, pintu untuk memasuk-keluarkan produk yang dipasang pada sisi lebar pengering. Seluruh struktur tersebut diselimuti dengan plastik UV 14% kecuali bagian inlet udara masuk yang berada di ujung bawah kolektor dan outlet yang berada di bagian atas cerobong. Pada saat beroperasi, udara luar masuk melalui inlet dan terpanaskan oleh kolektor. Setelah memasuki ruang pengering, udara tersebut mengalami pemanasan lanjutan oleh energi panas yang dipanen langsung dari matahari oleh ruang pengering. Udara panas dan kering ini akan menguapkan air dari bahan yang sedang dikeringkan. Pada saat percobaan sampel produk sayuran segar dari tiga jenis tersebut diletakkan di atas rak-rak pengering agar menjalani proses pengeringan. Selama pengeringan berlangsung kadar air produk diamati dengan penimbangan sampel yang sudah dipersiapkan secara periodik bersamaan dengan pengamatan suhu dan kelembaban udara luar dan ruang pengering. Hasil pengamatan kadar air produk, suhu dan kelembaban udara luar, suhu dan kelembaban ruang pengering diplotkan terhadap waktu pengeringan. Kualitas produk kering diamati warnanya untuk mengevaluasi kejadian pencoklatan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa laju pengeringan untuk cabai, sawi dan daun singkong masing-masing mengikuti persamaan KA
c
= -0.9521t + 84.282, KA
s
= -0.182t
2
+ 0.3061t + 93.358 dan KA
=78.421e
ds
-0.041t
, KA = kadar air dan t = waktu pengeringan sedangkan c, s dan ds masing-masing merupakan indek untuk cabai, sawi dan daun singkong. Secara umum produk kering tidak mengalami percoklatan yang berarti
KINERJA PROTOTIPE PENGERING ENERGI SURYA MODEL YSDUNIB12 DALAM MENGERINGKAN SINGKONG
Penelitian bertujuan untuk mengetahui kinerja prototipe pengering model YSD-UNIB12 dalam mengeringkan singkong. Penelitian dilakukan selama 27 jam waktu pengeringan efektif dengan mengamati penurunan kadar air sampel. Kadar air dianalisa dengan metode gravimetri. Konstansta laju penurunan kadar air ditentukan dengan regresi eksponensial. Pengamatan suhu dan kelembaban relatif udara (luar dan dalam ruang pengering) dilakukan selama 16 jam waktu pengeringan efektif dan pada akhir proses pengeringan dilakukan pengamatan warna sampel.
Hasil uji coba prototipe menunjukkan pengering energi surya tipe YSD-UNIB12 mampu menurunkan kadar air singkong lebih cepat dari penjemuran tradisional. Laju pengeringan singkong dengan pengering adalah KA
= 79,106e
pg
-0.056t
, sedangkan laju dengan penjemuran adalah KA
pj
= 73,241e
-0.035t
. Untuk mencapai kadar air gaplek sesuai SNI 01-2905-1992 (dibawah 14%) maka dibutuhkan waktu pengeringan efektif masing-masing 31 jam untuk pengering dan 47,4 jam untuk penjemuran. Perbedaan laju pengeringan disebabkan karena selama pengeringan adanya perbedaan suhu dan kelembaban udara di dalam ruang pengering dan luar. Suhu ruang pengering selalu lebih tinggi (rata-rata 43,4
o
C) dibandingkan suhu udara luar (rata-rata 31,8
o
C). Kelembaban relatif ruang pengering selalu lebih rendah (rata-rata 42,8%) dibandingkan kelembaban relatif udara luar (rata-rata 70,8%). Hal ini menunjukkan bahwa pengering mampu menghasilkan udara panas dan kering yang cukup signifikan sehingga dapat mempercepat proses pengeringan. Dari aspek luasan yang diperlukan, pengering hanya membutuhkan luasan satu per dua koma empat dibanding dengan luasan yang dibutuhkan oleh penjemuran tradisional. Selain itu warna gaplek hasil pengeringan tidak menunjukkan terjadinya browning
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
