1,721,089 research outputs found

    Meningkatkan Profesionalisme Pustakawan Referensi di Perguruan Tinggi melalui Komunikasi yang Efektif

    No full text
    Dewasa ini, perkembangan informasi semakin cepat layaknya udara yang kita hirup tiap detik. Informasi pun semakin beragam bila ditinjau dari segi media, isi, dan cakupannya. Dalam hal ini, pentingnya sumber daya manusia yaitu pustakawan yang akan menggerakkan roda dan mengembangkan perpustakaan agar berperan serta secara optimal . Kata pustakawan berasal dari kata “pustakaâ€, sehingga penambahan kata “wan†diartikan sebagai orang yang pekerjaannya atau profesinya terkait erat dengan dunia pustaka atau bahan pustaka. Dalam bahasa Inggris pustakawan disebut “librarianâ€. Kemudian istilah pustakawan berkembang lagi yaitu sama-sama mengelola informasi diantaranya pakar informasi, pakar dokumentasi, pialang informasi, manager pengetahuan, dan sebagainya. Pustakawan referensi merupakan sumber daya manusia yang harus memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus dalam memenuhi pelayanannya kepada pemustaka secara professional sesuai dengan kebutuhan. Pelayanan ini dilakukan oleh pustakawan terlatih khusus untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka, baik secara langsung bertatap muka, melalui telepon, maupun secara elektronik. Pustakawan tidak hanya menjawab pertanyaan substantif, tetapi juga membimbing pemustaka untuk memilih dan menggunakan sarana yang tepat untuk penelusuran informasi. Pustakawan mengarahkan pemustaka ke sumber informasi, membantu mereka mengevaluasi, bahkan merujuk ke sumber di luar perpustakaan. Namun pada kenyataannya, sekarang ini belum semua pustakawan referensi yang berada di perguruan tinggi memiliki sikap komunikatif terhadap pemustaka. Pentingnya komunikasi yang efektif dalam memberikan layanan referensi di perpustakaan perguruan tinggi tidak bisa terlalu menjadi tolak ukur, namun ini dapat menjadi pondasi kesuksesan bagi pustakawan referensi untuk memahami pertanyaan pemustaka dan memenuhi kebutuhan informasi mereka. Bidang referensi merupakan titik pertemuan antara perpustakaan dan lingkungan eksternal. Bidang ini adalah salah satu bidang dari perpustakaan dimana terjadinya interaksi langsung dengan publik. Oleh karena itu, pustakawan referensi berfungsi sebagai pelayan informasi. Efektivitas dan efesiensi dari menjembatani tersebut didasarkan pada kemampuan pustakawan untuk berkomunikasi yang efektif dengan pengguna, tujuannya untuk mempromosikan perpustakaan di mata masyarakat dan meningkatkan eksistensi perpustakaan

    Evaluasi Kinerja Pustakawan Perpustakaan Perguruan Tinggi melalui Standar PAK dan ISO 11620-1998

    No full text
    Evaluasi kinerja pustakawan dalam organisasi perpustakaan ditentukan oleh keberhasilan kompetensi yang dimiliki oleh karyawan dalam menghasilkan kerja. Kenyataan terlihat bahwa kompetensi yang dimiliki oleh pustakawan, saat ini perlu ada peningkatan kompetensi sumber daya pustakawan untuk menjalankan tugas pokok dan fungsinya dengan baik, agar tingkat kesenjangan dalam menjalankan tugas dapat diatasi dengan mempertimbangkan aspek kompetensi yang dimiliki pustakawan dalam meningkatkan kinerjanya. Dalam upaya meningkatkan kecerdasan bangsa, pustakawan dituntut untuk selalu dapat meningkatkan kompetensi agar mampu menjadi profesional. Namun dalam kenyataannya, sering kali pustakawan dalam bekerja tidak mampu memenuhi apa yang sudah dijadikan standar ukuran evaluasi profesionalitas pustakawan. Seharusnya pustakawan dapat meningkatkan profesionalitas melalui pemenuhan akan prestasi kerja sebagai pustakawan. Prestasi kerja pustakawan dapat diukur melalui angka kredit yang dicapai. Di sisi lain, standar yang digunakan dalam evaluasi kinerja pustakawan juga dapat menggunakan indikator kinerja perpustakaan secara umum dan telah dilakukan uji coba dan diterapkan untuk semua jenis perpustakaan di berbagai negara. Dalam ISO 11620-1998 terdapat 5 aspek kegiatan yang dapat diukur dengan menggunakan 23 indikator. Pustakawan selaku pelaku dalam bidang kepustakawanan hendaknya selalu proaktif dengan menggali, mempelajari, dan mendalami KEPMENPAN bidang kepustakawanan, agar karier kepustakawanannya dapat berjalan dengan baik tanpa hambatan yang berarti

    IMPLEMENTASI LAYANAN BIMBINGAN KARIER DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

    No full text
    Tujuan penelitian ini untuk memeberikaninformasi tentang implementasi layanan 1) layananorientasi, 2) layananinformasi, 3) layanan penempatandan penyaluran. Penelitian ini menggunakan metodedeskriptif kualitatif. Metode pengumpulan datameliputi: observasi, wawancara dan dokumentasi.Keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi.Teknik analisis data menggunakan pengumpulandata, reduksi data, penyajian data, kesimpulan. Hasilpenelitian ini menunjukkan bahwa layanan bimbingankarier di SMK Negeri 6 Yogyakarta baik, meliputi:(1) Layanan orientasi dilakukan secara klasikal danindividual,bekerjasama dengan dunia industri, walikelas, komite, dan orang tua siswa. Strategi yangdilakukan guru dalam layanan orientasi kepada siswadengan menggunakan media PowerPoint, diskusi, danjuga tanya jawab. (2) Layanan informasi dilakukanuntuk memberikan informasi pendidikan, jabatan,sosial budaya, dan pendidikan tinggi. (3) Layananpenempatan dan penyaluran dilakukan melaluiinventarisasi data pribadi siswa, studi dokumentasi,menentukan bentuk-bentuk penempatan, dan konselor

    Pengarub Antara Partisipasi dan Kepuasan Pemakai dalam pengembangan Sistem Informasi dengan Lima Faktor Kontinjensi Sebagai Moderating variable (Studi Empiris pada Industri Manufaktur Skala Besar di Wilayah Pekanbaru- Riau)

    Full text link
    ABSTRACT This research is intended to empirically examined the effect of participation on user satisfaction of information systems development with five contingency factors, which are: task complexity, system complexity, top management support, user influence and user- developer communication as moderating variable. This research was done in 41 manufacture industry big scale companies in Pekanbaru - Riau. Questionnaires was spread to 205 end user (41 x 5,. The analysis tools used in this research were tinier Regression and Moderated Regression Analysis (AfRA). Based on The responses from 85 respondents, this research revealed that user participation has a positive and significant effect on user satisfaction. This study also reveals that, of five contingency factors task complexity and system complexity act as moderating variable in the relationship between participation and user satisfaction of information system development. However, top management support, user influence, and user- developer communication did not act as moderating variables, but as independent predictors. This research hopefully can help to extend investigation of user participation to include some of the contingency factors that might help determine , when and how much user partisipation are needed. Keywords : User partisipation, Contingency theory, User satisfaction, Task Complexity, System complexity, Top management support, User influence, and User- Developer communication

    Rancang Bangung Aplikasi Pengelolaan Hewan Kurban Berbasis Android (Studi Kasus Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan)

    Full text link
    Hasil dari penelitian ini adalah Aplikasi pengelolaan hewan kurban, aplikasi ini dibuat sebagai sarana untuk memudahkan masyarakat dalam melakukan kurban. Aplikasi ini berjalan pada perangkat mobile dengan sistem opersai Android menggunakan bahasa pemrograman Java dan MySQL. Pembenguna aplikasi ini menggunakan software Android Studio dan JetBrains PhpStrom. Dalam pemodelanya aplikasi ini menggunakan metode UML berupa use case diagram, class diagram, sequence diagram, activity diagram, dan entity relationship diagram dan diuji menggunakan metode pengujian black box

    ARTIKEL URGENSI RELEVANSI ANTARA HASIL SELEKSI DENGAN AKUISISI KOLEKSI DI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI: SELEKSI & AKUISISI KOLEKSI PERPUSTAKAAN

    No full text
    Perpustakaan Perguruan Tinggi merupakan sarana pendukung pelaksanaan program Tri Darma Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, perlu memperhatikan relevansi antara hasil seleksi dengan akuisisi koleksi. Kenyataannya, dalam proses akuisisi koleksi sering terjadi fenomena ketidakrelevansi antara hasil seleksi dengan akuisisi koleksi. Artikel ini membahasa tentang urgensi relevansi antara hasil seleksi dengan akuisisi koleksi di perpustakaan Perguruan Tinggi,  dengan tujuan untuk mengetahui urgensi relevansi antara hasil seleksi dengan akuisisi koleksi di Perpustakaan Perguruan Tinggi. Metode dalam akuisisi koleksi perpustakaan perguruan tinggi melakukan peninjauan seleksi kebutuhan pemustaka sesuai kriteria dengan mempertimbangkan (1) Judul disesuaikan dengan program lembaga yang ada; (2) Judul disesuaikan dengan tingkatan pemustaka; (3) Pengarang sudah sangat terkenal di bidangnya (ahli/pakar); (4) Isi buku tahan lama, berbobot dan tidak cepat berubah; (5) Penerbit cukup terkenal pada bidangnya; (6) Tahun edisi terbaru; (7) Harga buku cukup pantas. Temuannya, tidak semua hasil seleksi tersedia di pasaran dan tidak semua perpustakaan diberikan wewenang untuk melalukan akuisisi sendiri. Kondisi ini membuat ketidakrelevansian antara hasil seleksi dengan akuisisi. Kesimpulannya, jika hasil seleksi tidak relevan dengan akuisisi maka pustakawan akuisisi mengambil inisiatif untuk menggantikan judul-judul dari hasil seleksi dengan judul koleksi lain yang isinya hampir sama dengan judul koleksi yang ada di daftar hasil seleksi dan perpustakaan bernegosiasi dengan pimpinan, agar diberikan wewenang untuk melakukan akuisisi koleksi sendiri. Hal ini penting untuk mewujudkan peran perpustakaan perguruan tinggi guna memenuhi kebutuhan pemustaka, sehingga koleksi harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan pemustakanya

    Strategi Pengembangan Sistem Temu Kembali Informasi Berbasis â€Image†di Perpustakaan Perguruan Tinggi

    No full text
    Tulisan ini mengulas bagaimana pengembangan strategi sistem temu kembali informasi khususnya di perguruan tinggi. Sistem temu kembali informasi adalah sebuah media layanan bagi pemustaka untuk memperoleh informasi atau sumber informasi yang dibutuhkan, yang berfungsi untuk menemukan informasi yang relevan dengan kebutuhan pemustaka. Di samping itu penulis juga ingin mengimplementasikan sistem temu kembali informasi berbasis image, sehingga pemustaka lebih cepat dalam menelusur informasi khususnya di era digital saat ini. Seiring dengan perkembangan teknologi, sistem ini juga mengalami perkembangan dari teks menuju audio-visual, image dan video. Beberapa strategi pengembangan sistem temu kembali informasi berbasis content image di perpustakaan perguruan tinggi melalui beberapa tahap diantaranya analisis SWOT yaitu metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu sistem temu kembali informasi. Kemudian melakukan benchmarking (studi banding) ke perpustakaan perguruan tinggi lain yang telah lebih dahulu menggunakan sistem temu kembali informasi berbasis content image. Selanjutnya, memasuki fase perencanaan (planning, fase analisis kebutuhan, fase perancangan (analyst dan desain), fase implementasi dan fase pemakaian (maintainance). Hal tersebut dilakukan oleh perpustakaan perguruan tinggi guna memenuhi kebutuhan informasi yang relevan bagi pemustaka

    PERAN TAKIK DIASTOLIK ARTERI UTERINA SEBAGAI FAKTOR RISIKO DAN PERBEDAAN RESISTENSI INSULIN, ADMA, hs-CRP DAN ADIPONEKTIN ANTARA PREEKLAMSIA AWITAN DINI DAN PREEKLAMSIA AWITAN LAMBAT

    No full text
    Terapi preeklamsia(PE)yang paling efektif hingga saat ini adalah persalinan. Pada preeklamsia berat janin terpaksa dilahirkan tanpa mempertimbangkan usia kehamilan, sehingga menimbulkan morbiditas perinatal yang tinggi. Disisi lain manajemen ekspektatif akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas ibu. Penyakit ini dikenal sebagai The Disease of Theories karena banyaknya teori yang dikemukakan untuk menerangkan etiologi PE, namun penyebab yang pasti sampai saat ini masih belum diketahui. Selain itu PE disebabkan oleh proses yang sangat kompleks serta melibatkan banyak faktor, seperti: faktor genetik, imunologi, dan faktor lain yang berlanjut dengan terjadinya disfungsi endotel, sehingga untuk menjelaskan penyebab PE tidak cukup dijelaskan dari satu segi saja (Davison et al., 2004). Berdasarkan waktu munculnya manifestasi klinis, preeklamsia diklasifikasikan menjadi dua, yaitu early onset preeklamsia atau preeklamsia awitan dini (PEAD) yang timbul sebelum usia kehamilan 34 minggu dan late onset preeklamsia atau preeklamsia awitan lambat (PEAL) yang timbul setelah usia kehamilan 34 minggu (Sun et al., 2009; Soto, 2011). Preeklamsia awitan dini(PEAD)disebabkan oleh faktor intrinsik yaitu terdapat gangguan perfusi uteroplasenta (peningkatan resistensi aliran darah), akibatnya morbiditas dan mortalitas perinatal dan maternal lebih tinggi. Pada preeklamsia awitan lambat, PE dihubungkan dengan faktor ekstrinsik (Meler, 2010; Soto, 2011). Banyak penelitian pemeriksaan arus darah arteri uterina memberikan hasil berbeda karena teknik dan kriteria berbeda. Pada risiko tinggi dan risiko rendah nilai RI antara 0,52 dan 0,70 serta adanya takik diastolik pada kehamilan 18 minggu sampai 24 minggu(Tekay and Campbell, 2000; Poston, 1997; Harrington, 1997; Park, 2000). Terdapat takik diastolik arteri uterina pada kehamilan 18-24 minggu, menyebabkan perfusi plasenta tidak baik akibat dari kegagalan invasi trofoblas. Dampaknya luaran perinatal kurang baik meliputi: preeklamsia, pertumbuhan janin terhambat, preterm, gawat janin, kematian janin, kematian perinatal, terjadi pada (PEAD)(Tekay and Campbell, 2000; Salim, 2000; Wibowo, 2001). Pada PEAL terdapat gambaran pertumbuhan janin baik, resistensi aliran darah rendah atau normal (Meller, 2009; Soto, 2011), penyebabnya adalah faktor ekstrinsik dan faktor maternal seperti: diabetes, kehamilan kembar dan anemia, Insulin resisten, hs-CRP, ADMA, serta adiponektin

    Sistem Keamanan Koleksi dalam Mencegah Vandalisme di UPT Perpustakaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh

    No full text
    Perpustakaan sebagai penyedia informasi selalu dikunjungi oleh pemustaka dari berbagai macam latar belakang, mempunyai keinginan, kebutuhan dan niat yang beragam. Keberadaan koleksi lengkap sebagai aset yang akan mendukung keberlangsungan perpustakaan. Dalam hal ini, perpustakaan wajib menjaga keamanan koleksinya demi menghindari percobaan penghancuran dan vandalisme koleksi di perpustakaan. Menyikapi permasalahan pencurian dan vandalisme koleksi, maka di perpustakaan memerlukan pengamanan koleksi baik secara fisik maupun dengan menggunakan sistem keamanan berbasis teknologi.. Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk mengangkat judul makalah ini ÔÇØSistem Keamanan Koleksi Dalam Mencegah Pencurian dan Vandalisme di Perpustakaan UIN Ar-Raniry Banda AcehÔÇØ. Perpustakaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh telah menerapkan sistem keamanan berbasis teknologi seperti pemasangan CCTV dan security gate. Hal ini dapat mempermudah pustakawan dalam mengontrol keamanan dalam mencegah terjadinya pencurian dan vandalisme di perpustakaa
    corecore