1,720,965 research outputs found
Campur Kode Pada Teks Lagu Dalam Album Can’t Buy My Love Oleh Yui Yoshioka
Campur kode adalah penggunaan lebih dari satu bahasa atau kode dalam satu wacana menurut pola-pola yang masih belum jelas. Dalam era globalisasi, bahasa Jepang juga terpengaruh oleh budaya asing, contohnya campur kode pada teks lagu dalam album Can’t Buy My Love. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah (1) bagaimana bentuk dan tipe campur kode yang terdapat dalam teks lagu bahasa Jepang pada album Can’t Buy My Love yang dinyanyiakan oleh Yui Yoshioka (2) Bagaimana fungsi komunikasi dalam campur kode pada teks lagu bahasa Jepang dalam album Can’t Buy My Love yang dinyanyikan oleh Yui Yoshioka. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran deskriptif tentang campur kode dalam teks lagu Jepang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam teks lagu bahasa Jepang pada album Can’t Buy My Love terdapat empat bentuk campur kode, yaitu bentuk campur kode penyisipan unsur-unsur berwujud kata, frasa, pengulangan kata, dan klausa. Semua teks lagu dalam album Can’t Buy My Love merupakan tipe campur kode ke luar. Terdapat tiga fungsi komunikasi dalam album Can’t Buy My Love yaitu, komunikasi sosial, komunikasi ekspresif, dan komunikasi instrumental. Penulis memberi saran kepada mahasiswa lain untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang memiliki sumber data lebih luas agar hasil yang diteliti lebih variati
CAMPUR KODE PADA TEKS LAGU DALAM ALBUM CAN’T BUY MY LOVE OLEH YUI YOSHIOKA
Code mixing is the use of more than one language or code in a discourse although the pattern is not clearly understood. In the globalization era, Japan language has been influenced by the foreign culture. The example of this case is the code mixing of the texts of songs in Can’t Buy My Love Album. Problems in this research are (1) how is the form and type of code mixing in the text of Japan language songs in Can’t Buy My Love Album which are performed by Yui Yoshioka, and (2) how is the function of communication in the code mixing in the text of Japan language songs in Can’t Buy My Love Album which are performed by Yui Yoshioka. Research is qualitative descriptive. The objective of research is to obtain a descriptive view about code mixing in Japan song texts. Result of research indicates that there are four code mixings in the texts of Japan songs in Can’t Buy My Love Album. These four code mixings represent the form of code mixings which are the insertion of words, phrases, word replicates, and clauses. The type of song texts in Can’t Buy My Love Album is the external type of code mixing. There three functions of communication in Can’t Buy My Love Album, which are social communication, expressive communication and instrumental communication. The author suggests that other student shall carry out further research with the wider data source to obtain more variable results.  Keywords: Language, Language Variation, Code Shift, Code Mixin
Makna dan Fungsi Setsuzokushi Demo dan Noni dalam Lirik Lagu Karya Yui Yoshioka
Penelitian ini menganalisis makna dan fungsi setsuzokusi demo dan noni dalam lirik lagu karya Yui Yoshioka. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan makna dan fungsi setsuzokushi demo dan noni. Teknik penelitian menggunakan teknik pilah unsur penentu dan teknik simak serta catat. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 14 (empat belas) buah data yang mengandung setsuzokushi, di antaranya 8 (delapan) buah data setsuzokushi demo dan 6 (enam) buah data setsuzokushi noni yang diklasifikasikan menurut teori Kawashima. Data diuraikan berdasarkan tataran gramatikal dan kontekstual. Dalam tataran analisis lebih menekankan pada perasaan yang ada di dalam suatu konteks situasi, tempat, waktu, dan lingkungan penggunaan bahasa itu sendiri. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah setsuzokushi demo dan noni memiliki makna lain selain ”meskipun, walaupun, tetapi” yaitu “namun, tapi, dan bahkan”
Ekspresi Ketakutan Yui Dalam Lirik Lagu Tokyo, Tomorrow’s Way, Dan Merry.Go.Round Karya Yui Yoshioka
Musik merupakan bahasa universal sekaligus salah satu budaya yang terus berkembang ragamnya dari masa ke masa. Begitu banyak jenis musik yang ada di dunia ini, salah satunya adalah musik pop. Di Jepang, musik pop disebut dengan J-pop. J-pop berakar dari musik tahun 1960-an seperti yang dimainkan The Beatles. Salah satu penyanyi J-pop yang terkenal adalah YUI Yoshioka. Pada album pertamanya, lagu-lagu yang dia ciptakan kebanyakan bernuansa muram, gelap, dan mengandung perasaan takut. Diantaranya adalah lagu Tokyo, Tomorrow’s way, dan Merry.Go.Round. Pada ketiga lagu tersebut penulis menemukan ekspresi ketakutan YUI. Untuk mengetahui bentuk eskpresi ketakutan YUI dalam lirik lagu Tokyo, Tomorrow’s way, dan Merry.Go.Round , penulis menggunakan teori yang berhubungan dengan hal tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk ekspresi ketakutan YUI dalam lirik lagu tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam album pertamanya, YUI mencurahkan perasaan ketakutan yang sempat menganggu karirnya, yaitu ketakutan yang berupa kegelisahan serta kecemasan YUI terhadap kelangsungan hidup YUI selama di kota Tokyo pada lagu Tokyo, ketakutan YUI berupa kekhawatiran yang berujung depresi terhadap dirinya dalam menatap masa depan pada lagu Tomorrow’s Way, dan yang terakhir ketakutan YUI berupa kekalutan perasaannya terhadap dirinya sendiri pada lagu Merry.Go.Round
PEMAKNAAN LIRIK LAGU MERRY GO ROUND, READY TO LOVE, DAN SWING OF LIE KARYA YUI YOSHIOKA
Kata kunci : Merry Go Round, Ready to Love, Swing of Lie, Yui Yoshioka, Semiotika
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna dari lirik lagu. Lirik lagu merupakan puisi yang dinyanyikan. Kemudian, lirik lagu atau puisi disusun dengan untaian kata-kata indah yang memiliki makna di dalamnya. Puisi atau lirik lagu tercipta dari hasil imajinasi, pemikiran dan perasaan manusia.
Penelitian yang bertujuan mengungkap makna lirik lagu Merry Go Round, Ready to Love, dan Swing of Lie ini menggunakan tinjauan semiotika dari Riffaterre yang membahas empat metode pemaknaan yaitu ketidaklangsungan ekspresi, pembacaan heuristik dan hermeneutik, matriks dan intertekstual. Tetapi di dalam penelitian ini hanya menggunakan dua metode proses pemaknaan yaitu dengan menganalisis bentuk ketidaklangsungan ekspresi dan melalui pembacaan heuristik dan hermeneutik. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif yang disajikan secara deskriptif.
Kesimpulan dari penelitian ini, lirik lagu Merry Go Round, Ready To Love, dan Swing Of Lie ini terdapat bentuk ketidaklangsungan ekspresi berupa penggantian arti, penyimpangan arti, dan penciptaan arti. Sementara itu, makna dari ketiga lirik lagu tersebut menceritakan tentang perasaan cinta penyair yang begitu mendalam, perasaan cinta yang menghadapi banyak rintangan, seperti ketidakpastian, rasa tidak percaya diri dan juga kebohongan
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
