1,721,269 research outputs found

    ANALISIS SEMIOTIKA TRANS WOMAN BETWEEN COLOUR AND VOICE KARYA YOPPY PIETER

    Full text link
    Trans Woman Between Colour and Voice adalah karya milik seorang fotografi Storyteller, dokumenter Yoppy Pieter. Mengisahkan tentang kehidupan para komunitas termajinalkan atau disebut juga dengan kaum yang terpinggirkan oleh kehidupan sosial di lingkup masyarakat. Komunitas tersebut berada di daerah Jabodetabek. Karya nya mendapatkan penghargaan di ajang fotografi internasional Wellcome Photography Price. Lingkup persoalan pada penelitian ini ialah, mengenai bagaimana penulis dapat mengetahui makna yang terkandung dalam karya foto tersebut dengan menerapkan analisis semiotika Roland Barthes yang memiliki 3 tahap. Tahap pertama denotasi, tahap kedua konotasi, dan tahap ketiga mitos. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan tipe deskriptif. Penelitian ini akan diuraikan mengenai makna pada simbol-simbol yang terdapat pada karya foto tersebut. Simbol merupakan sesuatu yang mengandung (tanda, kata, dan isyarat) yang dipergunakan untuk mewakili sesuatu yang lain seperti sebuah gagasan, abstraksi, sebuah objek. Hasil penelitian, penulis menemukan makna mendalam terhadap kehidupan para transpuan yang dituangkan dalam sebuah karya fotografi, dimana mereka dapat bertahan hidup ditengah kesulitan masa Covid-19. Fotografi tidak hanya sebagai media yang dapat merekam gambar, atau memvisualisasikan sesuatu berita, informasi dalam bentuk gambar. Fotografi memiliki fungsi lainnya yakni menyampaikan pesan dalam bentuk visual. Trans Woman Between Colour and Voice adalah karya milik Yoppy Pieter yang dimuat dalam majalah besar seperti National Geographic: 2020 dalam bentuk dokumenter, dan memenangkan ajang Wellcome Photography Prize. Yoppy mengangkat persoalan “Kondisi Transpuan di Jabodetabek Saat Pandemi Covid-19”. Penulis mengambil 5 sampel foto dari artikel beritaWellcome Photopgraphy Price untuk dianalisis. Pandangan objektif para Transpuan yang pada saat itu diabadikan kehidupannya oleh Yoppy Pieter mengalami serangkaian sulitnyamenjalani kehidupan di era wabah pandemi Covid-19. Kata kunci, Trans Woman, storyteller, simbol, komunitas, Pandemi Covid-1

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    PERANCANGAN MEDIA PROMOSI MUSEUM POS INDONESIA

    Full text link
    ABSTRAK PERANCANGAN MEDIA PROMOSI MUSEUM POS INDONESIA Oleh Yoppy Ramadhoni NIM: 1401110397 Beragamnya peninggalan sejarah dari nenek moyang membuat generasi penerus harus melestarikan peninggalan tersebut sebagai bukti dimulainya suatu peradaban. Cara menjaga dan melestarikan peninggalan masa lampau tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan media museum sejarah. Dalam menghadapi fenomena tersebut, di Kota Bandung, Jawa Barat terdapat sebuah museum yang merekam sejarah panjang komunikasi umat manusia melalui surat menyurat yaitu Museum Pos Indonesia. Hanya saja permasalahan muncul ketika animo masyarakat untuk berkunjung sangat kecil sehingga membuat tidak tercapainya target pengunjung yang diharapkan, hal ini dikarenakan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap museum ini. Untuk menyelesaikan permasalahan diatas, Penulis berusaha memperoleh data yang dibutuhkan melalui metode observasi pada objek penelitian, studi pustaka dengan membaca dan mengumpulkan literatur, wawancara narasumber terkait dan membagikan kuisioner kepada responden yang mewakili target audience yang akan disasar serta melakukan metode analisis dengan menggunakan matrik. Setelah data diperoleh, selanjutnya Penulis melakukan perancangan media promosi dengan menggunakan konsep kreatif dari pendekatan remaja pada saat ini yaitu dinamis, energik dan trendi serta termasuk didalamnya kesukaan remaja terhadap fenomena selfie-groufie. Media-media yang digunakan dalam perancangan Tugas Akhir ini adalah poster, brosur, iklan majalah, maskot, banner website, instagram, facebook, twitter, flyer, t-shirt, dan stiker. Diharapkan dengan adanya perancangan Tugas Akhir ini, akan mampu membantu Museum Pos Indonesia dalam memenuhi target pengunjung yang diinginkan sekaligus merancang media promosi yang tepat sehingga masyarakat lebih mengetahui keberadaannya. Selain itu, penulisan ini juga diharapkan dapat membantu pihak-pihak yang membutuhkan. Kata Kunci : Media Promosi, Museum, Museum Pos Indonesia, Desain Retr

    Pelatihan Pembukuan Sederhana, Proposal Analisis Kredit, Sosialisasi Perijinan Danstrategi Marketing Online Bagi Umkm Jenis Usaha Kuliner Di Kota Bandung

    Full text link
    Jurnal Dharma Bhakti Ekuitas, Vol. 01 No. 02, Maret 2017 ISSN : 2528-2190 ; Mery M ([email protected]) ; Yoppy P ([email protected]) ; Rochadi S ([email protected]) - SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI EKUITASUsaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) merupakan faktor penunjang perekonomian Negara. Mitra kerja dari pengabdian ini adalah beberapa UMKM di bidang kuliner yang tersebar di kota Bandung, berjumlah kurang lebih 24 UMKM. Kota Bandung yang menjadi salah satu tujuan wisata dengan kulinernya yang menarik dan khas, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Secara ekonomis kondisi ini sangat menguntungkan bagi masyarakat pengusaha mikro, kecil dan menengah dibidang kuliner yang ada di Kota Bandung, jika mereka bisa melakukan pembukuan dengan baik.Tetapi para pengusaha kuliner tersebut mengaku kesulitan didalam melakukan penghitungan biaya produksi dan modal usaha. Selain itu, para UMKM tersebut sangat awam mengenai perijinan. Perijinan dibutuhkan untuk memberikan kepastian hukum dan sarana pemberdayaan bagi pelaku usaha mikro dan kecil dalam mengembangkan usahanya. Kegiatan pengabdian ini mempunyai tujuan untuk membantu masyarakat yang telah mempunyai usaha, yaitu usaha di bidang kuliner. Adapaun permasalahan yang dihadapinya antara lain: 1). pembukuan yang tidak rapi; 2). Perijinan; 3). Modal usaha; dan 4) sistem pemasaran yang masih terbatas di lingkungan tertentu dan di kisaran Jawa Barat. Solusi yang diberikan berupa pelatihan mengenai pembukuan sederhana, sosialisasi perijinan, proposal analisis kredit dan strategi pemasaran melalui media elektronik

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    Home: Photographs by Lim Sokchanlina and Yoppy Pieter

    No full text
    Photography by Cambodian artist Lim Sokchanlina (b.1987) in his National Road Number 5 series and Indonesian artist Yoppy Pieter’s (b.1984) Saujana Sumpu series interpret the notion of placemaking. Sokchanlina and Pieter portray a fraught relationship between place and identity, integrating a sense of belonging integral to a residence and connecting the medium of photography with the appeal of a home. This article explores the conceptual and aesthetic strategies used by the artists to convey the personal and communal history of place in Cambodia and Indonesia. The artists explore a three-fold intent of place, as having a geographical presence, as an environment to conduct social relations, and as an entity encouraging inherent attachment, constantly shifting between the various connotations, creating intermediary nuances between the meanings. Their methodology of using placemaking to deconstruct the traditional model of a home using contemporary art with a community’s heritage creates a unique Southeast Asian identity. The interaction between people and spaces, the configuration of values and identities, and the manifestation of personal and collective memory consolidate the idea of placemaking with the aesthetics of home
    corecore