4,200 research outputs found
REPRESENTASI PERTENTANGAN KELAS DALAM PERTUNJUKAN LENG
Abstrak: Pementasan Leng merepresentasikan struktur sosial masyarakat yang terbagi menjadi dua golongan, yaitu kaum pemilik modal dan kaum marginal. Pertunjukan Leng menguraikan rumusan masalah mengenai representasi pertentangan kelas sosial. Teori yang digunakan untuk menganalisis kelas sosial yaitu teori sosiologi seni Janet Wolff. Metode penelitian deskriptif analitik ini akan menggunakan data-data kualitatif yang diperoleh dari video dokumentasi pertunjukan Leng tahun 1986, sedangkan pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumentasi, pustaka, dan wawancara. Pertunjukan Leng merupakan representasi dari kelas sosial masyarakat Jawa, dan tokoh-tokoh yang dihadirkan oleh Kenthut mewakili kelas sosial yang diperjuangkan, yaitu wong cilik. Berawal dari kepekaan Kenthut terhadap masyarakatnya, memicu Kenthut dalam membuat karya Leng. Kepekaan Kenthut tercermin dalam konstruksi dramatik dan artistik pertunjukan Leng bahwa kelas sosial masyarakat Jawa erat kaitannya dengan kondisi sosial yang terjadi. Kata-kata kunci: Kenthut, pertunjukan Leng, kelas sosial, priyayi, dan wong cilik. Abstract:Leng represent the social structure of society which divided into two groups, namely the capital owners and the marginal society. Sociology theory of Janet Wolff was used to analyze the social class problems. This research is descriptive-analytic research using a qualitative method in which the data is obtained from the 1986 Leng performance video documentations, literature review, and interviews. The Leng performance is a representation of the social class of Javanese community, and the figures which presented by Kenthut represent the social class that is championed, namely the grassroots. Starting from Kenthut's sensitivity towards his community, triggered him in making the Leng. Kenthut's sensitivity is reflected in the dramatic and artistic construction of Leng that the social class of Javanese people is closely related to the social conditions that occur. Key words: Kenthut, Leng, social class, priyayi, grass-roots society
Timur Leng: panglima Islam penakluk dunia
Buku ini merupakan kisah perjalanan hidup Timur Leng, sang penakluk terakhir dan terhebat yang pernah dikenal dunia. Pada akhir dasawarsa abad ke-14, dia menyapu Asia di hadapan pasukan yang ganas, menghancurkan kota, dan membantai musuh?membuatnya amat ditakuti di seluruh Asia, Afrika, dan Eropa. Dalam penggambaran yang memukau di buku ini, Justin Marozzi melakukan perjalanan melintasi Asia Tengah dengan kemegahan kota utamanya yang memesona, Samarkand, untuk melacak kisah menakjubkan seorang lelaki penuh warna dan warisan luas yang diberikannya. Dalam buku luar biasa ini diungkap pula kepiawaian Timur Leng sebagai politisi dan ahli strategi militer
PENGEMBANGAN WISATA BUKIT TAWAP LENG-LENG DALAM PERSPEKTIF COLLABORATIVE GOVERNANCE
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengembangan Wisata Bukit Tawap Leng-Leng dalam Perspektif Collaborative Governance. Dasar dilakukannya pengembangan secara Collaborative Governance oleh BUMDes karena pengembangan wisata mengalami permasalahan yang berupa keterbatasan sumber daya, kemampuan dan minimnya modal. Ketidakmampuan BUMDes dalam mengembangkan wisata sehingga dilakukan collaborative governance oleh Pihak BUMDes dengan investor, pokdarwis dan Pemerintah Desa Pagarbatu. Pengembangan wisata ini dilatarbelakangi dari adanya motivasi dari Kepala Desa bahwa kita tidak akan keluar dari pandemi covid-19 ini jika kita tidak bergerak untuk melakukan sesuatu dalam meningkatkan ekonomi masyarakat pada saat ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Sedangkan fokus penelitian pada proses collaborative governance menurut Ansell dan Gash (2007) yang terdiri lima indikator yaitu dialog tatap muka (Face to Face), membangun kepercayaan (Trust Building), komitmen terhadap proses (Commitment to Process), pemahaman bersama (Share Understanding) dan hasil antara (Intermediate Outcomes). Namun sebelum menjelaskan lima indikator tersebut peneliti terlebih dahulu menjelaskan stakeholder yang terlibat beserta peran-perannya dalam proses kolaborasi pada penelitian ini. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan beberapa tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tahapan pengembangan wisata tidak lepas dari adanya pihak-pihak yang terlibat beserta peran-perannya. Adanya face to face dialogue tau pertemuan yang dilakukan secara rutin dan berdasrkan kebutuhan. Trust building dilakukan dengan membangun citra yang baik, Commitmen to the process dilakukan dengan menggugah komitmen, memberikan motivasi, dan pemahaman bersama. Share understanding dilakukan dengan pemahaman tujuan, peran stakeholders, dan pembagian hasil keuntungan, dan Intermediate outcomes yaitu hasil pembangunan wisata telah mencapai 50-60% tahap penyelesian. Hambatan yang dihadapi adalah dalam pengumpulan dana untuk proses pembangunan wisata yang tidak mudah.
Kata Kunci: Collaborative Governance, BUMDes dan Pengembangan Wisata.
 
PROSES PENCIPTAAN MUSIK TEATER LUNGID PADA KARYA LENG
Skripsi ini berjudul ”Proses Penciptaan Musik Teater Lungid pada
Karya Leng”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena musik tradisi
yang hadir dalam sebuah pertunjukan Teater Lungid asal Solo. Umumnya
pertunjukan teater menggunakan musik non tradisi. Namun untuk Teater
Lungid, musik tradisi dijadikan ilustrasi sekaligus membuat efek bunyinya.
Itulah yang menjadi unik bagaimana gamelan dimanfaatkan untuk
memenuhi kebutuhan adegan dalam Teater Lungid khususnya pada Karya
Leng. Persoalan yang ingin dijelaskan dalam penelitian ini adalah (1) apa
yang melatarbelakangi Teater Lungid menggunakan musik gamelan. (2)
Bagaimana proses penciptaan musiknya. (3) Seperti apa bentuk musiknya.
Penelitian ini dilakukan secara kualitatif. Konsep yang digunakan
untuk menelaah permasalahan adalah konsep penciptaan seni miliknya
Bambang Sunarto dan kosep garap Rahayu Supanggah.
Kesimpulan dan temuan dari pemikiran ini adalah sebagai berikut.
Pertama pemanfaatan karawitan dalam Teater Lungid karena teater tersebut
bergenre teater tradisi Jawa. Oleh karena itu, karawitan diangap mewakili
tradisi musik Jawa yang sejalan dengan konsep Teater Lungid. Selain itu,
konsep kejawaan di dalam cerita Teater Lungid, secara kultur lebih dekat
dengan karawitan. Kedua proses penciptaan musik Karya Leng ini diawali
pada 2013. Konstruksi musiknyapola-polanya diadopsi dri karya Suryanto
yang sudah ada. Ide musikal yang ada di dalamnya adalah garap musik
pewayangan. Eksplorasi musikalnya dilakukan dengan melihat rekaman
serta catatan balungan karya yang sudah pernah dipentaskan. Ketiga Proses
penciptaan dilakukan selama satu bulan di kompleks Taman Budaya Jawa
Tengah (TBJT) Surakarta. Melibatkan komunitas Dasanama sebagai
musisinya. Sumber penciptaannyaa adalah musik-musik pakeliran. Gagasan
itu didasari atas kesamaan struktur pertunjukan dengan dunia pewayangan.
Dan latar belakang Suryanto yang sebagai seorang dalang. Keempat bentuk
musiknya berkarakter seperti musik pakeliran. Musik pembuka disajikan
Bawa Lungid, dilanjutkan Dangdut Lungit, untuk musik tengah ada musik
ilustrasi dan musik penanda peralihan adegan. Bagian itu disajikan musik
pakeliran seperti sampak, ayak-ayak, srepeg. Ilustrasi disajikan pola-pola
gambangan. Musik penutup adalah lagu ”Rampungan”, lagu tersebut berisi
tentang selesainya sebuah pertunjukan.
Kata Kunci: Penciptaan, musik, Teater Lungi
Satu kajian kes mengenai perkerja wanita yang sudah berkahwin di sebuah ladang teh di Cameron Highlands / Heng Lai Leng
Latihan ilmiah ini adalah bertujuan untuk mengkaji tentang bagaimana wanita yang sudah berkahwin memainkan kedua peranan, sebagai seorang isteri/ ibu yang penyayang dan sebagai seorang pekerja yang bertanggungjawab. Kajian luar latihan ilmiah ini telah dijalankan di sebuah ladang teh (Ladang Teh East) di Cameron Highlands. Ini adalah kerana tujuan lain latihan ilmiah ini ialah mengkaji mengapa sejak kebelakangan ini lebih ramai kaum wanita diambil untuk bekerja diladang teh. Kajian luar ini telah mengambil masa selama sebulan untuk disiapkan. Di dalam Bab I latihan ilmiah ini pengkaji akan membincangkan tentang tujuan kajian ini. Tujuan-tujuan adalah seperti dinyatakan tadi mengkaji peranan yang dimainkan oleh pekerja wanita yang sudah berkahwin, mengapa pekerja wanita ini terus bekerja selepas berkahwin dan mengapa bilangan mereka semakin bertambah diladang teh. Kaedah kajian yang digunakan dan masalah-masalah yang dihadapi oleh pengkaji juga dibincangkan dalam bab ini. Ahli-ahli antropologi dan ahli-ahli sains sosial amat mementingkan unsur-unsur teori terutamanya dalam sebuah latihan ilmiah. Oleh itu Bab II adalah menyentuh tentang teori-teori mengenai wanita oleh beberapa ahli-ahli teori. Di antara mereka yang dirujuk adalah Sanday, Rosaldo, Iglehart dan lain lagi. Pengkaji juga cuba memberi satu garnbaran (description) jelas mengenai tempat kajian dijalankan dalam Bab III. Latarbelakang ladang teh East dan proses-proses yang terlibat dalam penghasilan teh juga dihuraikan oleh pengkaji dalam bab ini. Yang paling penting dalam sebuah latihan ilmiah ialah data-data mengenai kajian yang telah dijalankan. Oleh itu Bab IV adalah dikhaskan untuk penghuraian data-data yang telah diperolehi oleh pengkaji. Dalam Bab V pula pengkaji akan cuba menganalisa datadata yang diperolehi. Pengkaji juga cuba mengaitkan hasil yang diterima dengan apa yang dibentangkan oleh ahli-ahli teori. Akhirnya dalam Bab VI ialah kesimpulan. Dalam bab ini pengkaji akan memberi satu ringkasan tentang latihan ilmiah ini. Selain dari itu pengkaji mengemukan kesimpulan yang diterima daripada latihan ilmiah ini
Representasi Feminitas di Tubuh Laki-Laki dalam Film Leng Apa Jengger
Lengger merupakan kesenian tradisional Banyumas yang berfungsi sebagai hiburan sekaligus sebagai ritual memohon kesuburan di kalangan masyarakat agraris. Kesenian ini memiliki keunikan karena penari lengger adalah laki-laki yang berdandan seperti perempuan. Kata “lengger” sendiri berasal dari kata “leng” dan “jengger,” yang memiliki makna “disangka perempuan ternyata laki-laki.” Dariah adalah maestro lengger lanang Banyumas yang kiprahnya di dunia seni dan kisah hidupnya menjadi inspirasi berbagai karya, salah satunya film dokumenter Leng Apa Jengger. Film ini mengisahkan metamorfosis Sadam - seorang bocah laki-laki - menjadi Dariah, sosok penari lengger ternama yang cantik jelita dan dikagumi banyak laki-laki, hingga Dariah tua yang tetap berpenampilan feminin. Penelitian ini bertujuan menjelaskan feminitas yang direpresentasikan Dariah dalam film Leng Apa Jengger menggunakan teori queer.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Metode analisis yang digunakan adalah semiotika Charles Sanders Peirce. Model analisis ini dipilih karena dapat membantu peneliti memahami representasi tanda dan teks sebagai objek kajian, yang dalam penelitian berupa scene atau adegan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk feminitas yang direpresentasikan Dariah dalam film Leng Apa Jengger tampak pada saat dia tengah menari lengger: mengenakan kain yang menutup sampai ke dada, berkebaya dan berselendang, serta berkonde dan berdandan layaknya seorang perempuan. Feminitas ini juga ditampilkan Dariah di luar panggung. Dalam keseharian dia menampilkan diri sebagai seorang perempuan feminin, mulai cara berbusana, cara berdandan, cara berjalan, juga cara mengekspresikan bahasa tubuh ketika dia merasa jengah atau malu. Pilihan profesi setelah tidak lagi menjadi lengger, yakni sebagai perias pengantin dan dukun pijat, juga memperkuat feminitas yang ditampilkan Dariah. Kode-kode yang ditampilkan Dariah ini dimaknai masyarakat sebagai ciri khas perempuan. Feminitas di tubuh laki-laki, dalam hal ini Dariah, dianggap sebagai sesuatu yang dapat diterima karena tidak ada penolakan dari masyarakat. Hal ini terlihat dari kesaksian para pengagum Dariah yang memperlakukannya sebagai seorang perempuan, meskipun mereka tahu bahwa Dariah sejatinya seorang laki-laki. Para pengagum Dariah sendiri memiliki istri yang berjenis kelamin perempuan. Hal ini sejalan dengan teori queer, bahwa kaitan antara jenis kelamin, gender, dan orientasi seksual merupakan sesuatu yang cair dan tidak stabil. Dariah berjenis kelamin laki-laki, berpenampilan (gender) feminin, dan memiliki orientasi seks sejenis. Sementara para pengagumnya berjenis kelamin laki-laki, berperilaku maskulin, dan memiliki orientasi seks biseksual
Penerapan Pasal 303 Kitab Undang Undang Hukum Pidana Terhadap Judi Kartu Leng Pada Adat Maranggap Suku Batak (Study Kasus Di Kepolisian Resor Kota Pematangsiantar
Kepolisian negara Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Polri adalah
salah satu lembaga negara yang berperan sebagai penegak hukum di negara ini.
Pasal 13 Undang Undang No.2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia menjabarkan bahwa tugas polri adalah untuk memberikan kemanan
dan ketertiban masyrakat, menegekkan hukum, serta memberikan perlindungan,
pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.
Masyarakat di kota Pematangsiantar yang memiliki budaya dan adat
istiadat yang kuat dalam rangka melakukan permainan Kartu
Leng yang
bertujuan menghibur atau menemani keluarga yang sedang berduka karena
adanya salah satu anggota keluarga yang meninggal dunia dalam adat suku
batak. Permainan judi kartu
leng dalam adat maranggap ini tidak memenuhi
unsur dalam pasal 303 KUHP, dalam hal ini kepolisian memberikan sikap yang
sesuai dengan Masyarakat. Dаlаm kаsus judi Kartu
Leng di Polres Kota
Pematangsiantar memiliki dua kasus yang berbeda. Hal ini terjadi dikarenakan
ada permainan Judi
Leng yang di mainkan di luar dari kegiatan adat yаng
merupakan judi yang dapat di tindak pidana.
Dalam pembahasan skripsi ini memiliki kesimpulan bahwa penerapan pasal
303 KUHP terhadap judi kartu
Leng dalam adat maranggap suku batak di Kota
Pematangsiantar, antara lain sebagai berikut: 1) dalam Penerapan
Pasal 303 ayat
(1) KUHP dengan
Pasal 303 bis KUHP dapat menindak pidana apabila memang
perbuatan dan unsur perjudian dalam perbuatan tesebut dapat dibuktikan.
Namun, karena keberadaan adat istiadat yang masih kuat dan melekat oleh
masyarakat di kota Pematangsiantar dalam pelaksanaan maranggap yang
menyatakan perbuatan tersebut hanya sebuah permainan yang bertujuan untuk
mengisi waktu kekosongan saat melaksanakan acara adat. ; 2) sikap kepolisian
viii
saat ini menyikapi bahwa perbuatan tersebut merupakan sebuah bagian dari
adat istiadat yang melekat didalam masyarakat dan saat ini untuk laporan terkait
perbuatan tersebut tidak ada. Namun pihak Kepolisian Resor Pematangsiantar
tetap memberikan himbauan agar tidak menyalahgunakan adat istiadat untuk
melakukan perjudian dan mencari untung didalamnya. Sebab, apabila hal
tersebut terjadi maka pihak kepolisian akan memprosesnya
Sistem penjadualan perjalanan bas elektronik Puduraya / Chong Shi Leng
Laporan ini membincangkan proses pembangunan suatu sistem baru yang bertajuk Sistem Penjadualan Perjalanan Bas Elektronik Puduraya (SPPBEP). Sistem baru ini diperkenalkan, direkabentuk dan dibangunkan setelab mengkaji kelemahan sistem penjadualan perjalanan bas yang sedia ada di Puduraya. Maklumat untuk membangunkan sistem ini dikumpulkan melalui temuramah dengan kakitangan syarikat bas. Maklumnat juga didapati daripada soalan soal selidik yang diberi kepada penumpang di Perhentian Bas Puduraya. Kajian bagi sistem bas syarikat bas lain juga dilakukan melalui pelayaran internet untuk mendapatkan maklumat yang berguna bagi membangunkan sistem baru ini. Sistem baru ini membolehkan penumpang mendapatkan maklumat yang perlu tanpa pergi bertauya ke semua kaunter. Ini dapat menjimatkan masa pengguna untuk mendapatkan maklumat yang dikehendaki dengan tepat. Ia juga mengurangkan keadaan yang sesak di setiap kaunter bas tiket. Sistem ini juga boleh digunakan oleh kakitangan syarikat bas dan hanya kakitangan ini yang dapat membuat pertukaran maklumat dalam pangkalan data. Seterusnya, pengenalpastian perkakasan dan perisian yang akan digunakan untuk membangunkan sistem dibuat. Satu lakaran bagi rekabentuk juga dihasilkan dimana lakaran ini akan digunakan sebagai konsep asas bagi mereka bentuk sistem yang sebenar
Supplemental Material - The synthesis, characterization and carbon dioxide adsorption of polyimide aerogels containing Tröger’s base units
Supplemental Material for The synthesis, characterization and carbon dioxide adsorption of polyimide aerogels containing Tröger’s base units by Yangfeng Gao, Chao Dong, Fan Zhang, Xuefei Leng and Yang Li in High Performance Polymers</p
- …
