1,720,958 research outputs found
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MODEL DISCOVERY LEARNING PADA PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU DI KELAS V SEKOLAH DASAR DI PADANG PARIAMAN
Kurikulum 2013 yang menghendaki adanya proses pembelajaran yang bersifat student center dalam proses pembelajaran.. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dengan ketersediaan bahan ajar yang dapat membangkitkan motivasi, kreatifitas, dan kemampuan siswa dalam belajar mandiri. Dilapangan memperlihatkan tidak tersedianya bahan ajar yang dapat membangkitkan motivasi, kreatifitas dan kemandirian siswa untuk menggali dan menemukan sendiri konsep pengetahuan yang dipelajari. Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis menggunakan model pembelajaran berbasis discovery learning sebagai alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pengembangan bahan ajar yang dapat menuntun siswa untuk belajar secara mandiri, kreatif, dan dapat melatih kemampuan siswa dalam menemukan, mengumpulkan, dan mengolah informasi sehingga mampu menemukan sendiri konsep pengetahuan yang tengah dipelajari. Penelitian pengembangan ini menggunakan desain penelitian menurut Plomp yang terdiri atas 3 fase yaitu, preliminary research, prototyping phase, dan assesment phase. Data penelitian ini diperoleh dari uji validitas, praktikalitas, dan efektivitas. Hasil penelitian dari uji validitas menunjukkan bahan ajar berbasis model discovery learning sudah sangat valid. Hasil uji praktikalitas dari respon guru dan siswa menunjukkan kategori sangat praktis. Hasil uji efektivitas menunjukkan bahan ajar berbasis model discovery learning efektif dalam meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Pendekatan Problem Based Learning di Sekolah Dasar
Hasil penelitian akan membawa peneliti dalam keberhasilan perangkat pembelajaran yang dikembangkan yang dinyatakan valid, praktis, dan efektif. Penelitian menggunakan pengembangan Four-D yaitu pendefenisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran. Hasil penelitian yang diperoleh dari penilaian validator Ahli untuk produk yang dirancang berada pada presentase 81% - 100%. Hasil pengisian lembar observasi keterlaksaan RPP yang dilakukan oleh guru diketahui bahwa presentase nilai rata-ratanya adalah 95%. presentase rata-rata respon guru terhadap bahan ajar dan LKS yang digunakan 93,83% yang berada pada kategori sangat praktis. Hasil angket respon siswa yang dibagikan setelah proses pembelajaran juga menunjukkan praktikalitas perangkat pembelajaran pada kategori praktis dengan presentase untuk bahan ajar 85,2% dan LKS 84,66%. Secara klasikal rata-rata nilai aspek keterampilan pada kelas uji coba ini adalah 86,16% ini dikarenakan setiap pertemuan aspek keterampilan siswa mengalami peningkatan. aspek sikap dengan nilai rata-rata sebesar 83,44% pada kategori membudaya
UNIVERSITAS ASAHANINOVASI PENELITIAN PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBASIS PENDEKATAN PROBLEM BASED LEARNING PADA TEMA 6 INDAHNYA NEGERIKU DI KELAS IV SD DI ERA REVOLUSI 4.0
ABSTRAKPengembangan perangkat pembelajaran dengan melihat komponen utama dalam pembelajaran yaitu guru, peserta didik, interaksi antara guru dengan peserta didik. Hasil penelitian ini akan membawa peneliti dalam keberhasilan perangkat pembelajaran yang dikembangkan yang dinyatakan valid, praktis, dan efektif. Untuk menciptakan perangkat yang demikian dan mendapatkan hasil yang memuaskan peneliti melaksanakan penelitian pengembangan Four-D yaitu pendefenisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari penilaian validator untuk produk yang dirancang berada pada presentase 81% - 100%. Dari hasil pengisian lembar observasi keterlaksaan RPP yang dilakukan oleh guru diketahui bahwa presentase nilai rata-ratanya adalah 95%. presentase rata-rata respon guru terhadap bahan ajar dan LKS yang digunakan 93,83% yang berada pada kategori sangat praktis. hasil angket respon siswa yang dibagikan setelah proses pembelajaran juga menunjukkan praktikalitas perangkat pembelajaran pada kategori praktis dengan presentase untukbahan ajar85,2% dan LKS 84,66%. Secara klasikal rata-rata nilai aspek keterampilan pada kelas uji coba ini adalah 86,16% ini dikarenakan setiap pertemuan aspek keterampilan siswa mengalami peningkatan. aspek sikap dengan nilai rata-rata sebesar 83,44% pada kategori membudaya. Kata kunci:Problem Based Learning, Indahnya Negeriku, IV S
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA MODEL LEARNING CYCLE 7E DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA DI SEKOLAH DASAR
Pembelajaran yang dilaksanakan dalam mengembangkan model learning cycle 7e dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis di salah satu sekolah dasar yang berada di provinsi Sumatera Utara telah selesai dilaksanakan. Pengembangan lembar kerja siswa ini mengunakan model Four-D (4-D) yaitu Define, Desain, Development, dan Disseminate dimana proses pelaksanaan kegiatan melakukan 4 tahapan untuk membuat , menvalidasi, pelaksanaan, dan penyebaran yang dilakukan terhadap lembar kerja siswa yang telah dikembangkan berdasarkan 7 model pengembangan lembar kerja siswa. Proses pembelajaran menggunakan LKS model Learning Cycel 7e dalam meningkatakan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran IPA telah mendapatkan hasil validitas, praktilitas, dan efektivitas. Validitas dari pengembangan lembar kerja siswa di dapatkan melalui instrument lembar validasi LKS dengan perolehan validatas lembar kerja siswa 91 %. Sementara hasil praktilitas dapat dilihat dari kemudahan dan waktu yang dgunakan saat melaksanakan penelitian dan penyebaran. Untuk melihat kefektifan, didapatkan melalui instrumen guru dan siswa dengan perolehan hasil aktivitas belajar siswa 91% saat penelitian dan penyebaran 96% dengan ketuntatsan hasil belajar 89% saat penelitian dan penyebaran 87%. Berdasarkan hasil persentase yang didapatkan dari pengembangan lembar kerja siswa, maka hasil dari penelitian ini telah di dapatkan sesuai dengan hasil peneliti harapkan. Kendala dalam pembuatan lembar kerja siswa dalam pembelajaran IPA menggunakan model learning cycle 7e dalam meningkatkan berpikir kritis di SDN 341 Batahan dan SDN no 155688 Muara Sibuntuon  menjadi bahan referensi peneliti untuk penelitian selanjutnya. Sekaligus sebagai bahan rujukan untuk perbaikan. Perolehan hasil penelitian dan penyebaran yang dilaksanakan di dua sekolah dicukupkan setelah mendapatkan parktilitas, efektifitas, dan validitas dalam membuat penelitian pengembanga
PENGEMBANGAN LKS IPA MODEL LEARNING CYCLE 7E UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PADA KELAS V DI SEKOLAH DASAR
Penelitian pengembangan LKS IPA menggunakan model learning cycle 7e untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran yang telah selesai dilaksanakan. LKS dalam pembelajaran yang menggunakan learning cycle 7E yang berisikan tahapan kegiatan LKS telah mampu menciptakan kemampuan berpikir kritis peserta didik, sehingga peserta didik dapat menguasai pembelajaran dan meningkatkan kompetensi-kompetensi dalam pembelajaran. Hasil dari LKS IPA menggunakan learning cycle 7E yang valid, praktis, dan efektif. Model pengembangan yang digunakan adalah model Four-D, yaitu: Define, Desain, Development dan Disseminate. Data penelitian diperoleh dari uji validitas, praktikalitas, dan efektivitas. Uji validitas diperoleh melalui lembar validasi LKS. Data kepraktisan diperoleh dari angket respons guru, angket respon peserta didik. Keefektifan dilihat dari aktivitas peserta didik dan hasil belajar peserta didik. Data yang telah dikumpulkan selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata validitas LKS 91%. LKS sudah praktis baik dari segi keterlaksanaan, kemudahan, dan waktu. LKS juga telah efektif dari segi aktivitas dan hasil belajar peserta didik dengan nilai rata-rata aktivitas peserta didik saat uji coba meningkat 91% dan hasil belajar dengan tingkat ketuntasan peserta didik 89% dan saat penyebaran terlihat aktivitas peserta didik rata-rata 96% dan hasil belajar 87%. Ini berarti LKS yang digunakan dalam pembelajaran efektif dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa LKS model learning cycle 7E yang dikembangkan pada pembelajaran IPA di kelas V SD dinyatakan valid, praktis, dan efektif.Katakunci: Â Â Lembar Kerja Siswa, Berpikir Kritis, Hasil Belajar, Learning Cycle 7E, Model 4
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
