1,721,065 research outputs found
Menonton Teater IV(Invitation To The Theatre, 1967)
Komedi jauh lebih rumit daripada tragedi dan lebih sulit ditentukan. Kata tersebut digunakan untuk beberapa jenis pertunjukan yang berbeda-beda dan untuk skala pensikapannya yang lebih luas, dari gaya banyolan slapstik hingga kenikmatan canggih komedi tinggi, kenikmatan ambisius satir kasar, dan bahkan penyerapan pesonanya dalam pertunjukan romantik di mana tidak ada canda tawa sama sekali. Kita melihat diri kita sendiri di dalam karakter komik, kita seperti dirinya, dan kemudian kita tertawa senang ketika melihat dirinya dipukul. Kita memproyeksikan diri kita ke atas panggung dan kemudian duduk memisahkan diri, menyaksikan dari jarak jauh. Di beberapa abad, semua pertunjukan, entah itu komik atau tragik, hanya disebut komedi. Kata ‘pertunjukan’ itu sendiri mengandung sesuatu yang dilakukan demi kesenangan seutuhnya.
Canda tawa, keriuhan tersembunyi, suara tertawa terbahak-bahak sama dengan—dan begitu berbeda dari—lolongan seekor anjing, tidak pernah dijelaskan secara lengkap. Hal tersebut membawa relaksasi seketika dan kesenangan yang dalam. Berlangsung secara sukarela dan tentu saja dapat dikembangkan dan menjadi stimulasi. Bisa subjektip dan individual dan paling banyak terjadi di kalangan kelompok sosial. Apakah menggunakan otot-otot dan reaksi-reaksi warisan leluhur hewani kita yang menelanjangi keganasan taring mereka dan menggonggong pada apa yang tidak mereka setujui, yang bersin untuk mengeluarkan sesuatu yang gatal atau bau dari hidung mereka? Akan tetapi manusia hanyalah binatang yang penuh canda tawa, dan seorang ibu dapat tertawa riang bersama dengan bayinya sama bebasnya seperti anak lelaki yang berlari sambil tertawa riang dan mengeluarkan sumpah serapah kepada orang yang lebih tua yang mencoba menangkapnya. Will Rogers, koboi humoris, mengatakan bahwa apa yang membuat orang tertawa adalah “sesuatu yang lucu’. Seseorang mengenali sesuatu yang tiba-tiba terhenti, sesuatu yang tidak sesuai dalam hitungannya yang sangat njelimet: “Itulah yang lucu”, katanya, “terjadi sesuatu yang muncul dengan cara yang tidak diharapkan.” Keanehan itulah yang menjadi jantung komedi—sesuatu yang tidak pas, sesuatu yang tidak diharapkan ada. Henri Bergson, di dalam eseinya On Laughter, mengatakan bagaimana kita tertawa dalam konflik antara kehidupan dan peraturan yang coba kita terapkan padanya. Secara mekanis, hal tersebut tersembunyi dari kehidupan, tetapi tetap muncul melalui canda tawa. ds
Membaca Teater Mixed-Text Pilihan Pembayun (Buka Batas Konvensi)
Pertunjukan teater Mixed-Text Pilihan Pembayun karya Hirwan Kuardhani digelar oleh Lembaga Teater Perempuan dengan sutradara Yudiaryani. Hampir semua orang, terutama di daerah Yogyakarta dan Surakarta, mengenali kisah tentang Ki Ageng Mangir dan Pembayun. Kisah menarik bagaikan Romeo dan Juliet tersebut diproduksi dengan ide dasar penggabungan beragam konvensi seni pertunjukan yang telah dikenal di lingkungan seni pertunjukan, di antaranya gerak Minikata, gerak Bedhaya, gerak HipHop, inner acting realis, dan bentuk panggung stilisasi. Sumber ide yang mengambil peristiwa sejarah konflik antara Penembahan Senopati di Mataram dengan Ki Ageng Mangir Wonoboyo dari Perdikan Mangir ditafsirkan kembali demi penyampaian pesan-pesan jender yang aktual untuk ditawarkan kepada penonton. Ide tentang buka batas konvensi merupakan upaya untuk menjadikan Pilihan Pembayun kontekstual
Implementation of Deconstruction Method Ideas In The Contemporary Theatre of Pilihan Pembayun Yogyakarta
The presence of contemporary theatre performing arts in Indonesia can not be separated from the history of theatrical performing arts in areas in Indonesia. “Contemporary” refers to the situation in space and time today and is a way of pointing to the development and change of theatre in these areas. Today’s performing arts are undergoing significant changes in their form and content. It was inspired by the discovery of science and technology and the dynamics of the world’s cultural ideas in the 20th century. Hans Thies Lehmann’s post-dramatic ideas around the 1980s in Europe, among others, inspired the emergence of new creativity studies internationally. Performing arts transformed itself from an ‘art performance’ into an intercultural and interdisciplinary performance of art by dismantling and rebuilding elements of its performances. The research theme is the development of science within art, while the research topic is the utilization of art theory to create works of art. The study aims to examine theories and deconstruction methods based on post-dramatic ideas that improve the quality of intercultural and gender theatre creation. The specific research target is to discover the benefits of deconstruction theory for creating contemporary theatre. The theatrical performance chosen in this study was The Pilihan Pembayun, a drama script by Hirwan Kuardhani and directed by Yudiaryani and Wahid Nurcahyono. Research methods use qualitative description methods. Qualitative methods look for the meaning behind data with interpretive and thorough analysis techniques. Data collection techniques with participant elevation, interviews, observations, field records, and documents will be used in the research. The research results obtained are the theoretical foundation for eliminating the negative aspects of intercultural and gender communication in the performing arts. Kehadiran seni pertunjukan teater kontemporer di Indonesia tidak lepas dari sejarah kehadiran seni pertunjukan di daerah-daerah di Indonesia."Kontemporer" mengacu pada situasi dalam ruang dan waktu saat ini dan merupakan cara untuk menunjuk pada pengembangan dan perubahannya. Seni pertunjukan saat ini sedang mengalami perubahan signifikan dalam bentuk dan konten. Hal tersebut terinspirasi oleh penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan dinamika ide-ide budaya dunia di abad ke-20. Ide-ide pasca-dramatik Hans Thies Lehmann sekitar tahun 1980-an di Eropa, antara lain, mengilhami munculnya studi kreativitas baru secara internasional. Seni pertunjukan mengubah dirinya dari 'pertunjukan seni' menjadi pertunjukan antarbudaya dan interdisipliner dengan membongkar dan membangun kembali elemen pertunjukannya. Tema penelitian adalah pengembangan sains dan teknologi dalam ranah seni, sedangkan topik penelitian adalah pemanfaatan teori seni untuk penciptaan karya seni. Studi ini bertujuan untuk memeriksa teori dan metode dekonstruksi berdasarkan ide-ide pascadramatik yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas penciptaan teater antarbudaya dan gender. Pertunjukan teater yang dipilih dalam penelitian ini adalah Pilihan Pembayun, naskah Hirwan Kuardhani dan disutradarai oleh Yudiaryani dan Wahid Nurcahyono. Tujuan spesifik dari penelitian ini adalah untuk menemukan manfaat dari teori dekonstruksi untuk penciptaan teater kontemporer. Metode penelitian menggunakan metode deskripsi kualitatif. Metode kualitatif mencari makna di balik data dengan teknik analisis interpretatif dan menyeluruh. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, pengamatan, dan catatan lapangan, serta penggunaan dokumen. Hasil penelitian yang diperoleh adalah pemanfaatan teori sebagai dasar menghilangkan dampak negatif dari komunikasi antarbudaya dan gender dalam penciptaan pertunjukan kontemporer
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Pengalaman Menyutradarai Teater Perempuan “Pilihan Pembayun” (Teater Kini Berbasis Tradisi)
Pertunjukan teater Pilihan Pembayun awalnya merupakan kegiatan
penelitian Hibah Kompetensi tahun 2011 yang dikelola, pada waktu itu, oleh
Direktorat Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Penelitian tersebut merupakan keinginan saya merancang suatu kerja
penyutradaraan dengan metode, sistem dan teknik Mini Kata. Penyutradaraan
Mini Kata menguji coba relasi dan komparasi sumber-sumber teater tradisi
dan teater modern. Demikian juga, saya menggunakan konsep Mini Kata
untuk menafsir ulang cerita tentang Pembayun, menjadi naskah drama Pilihan
Pembayun.
Sebagai sebuah metode, Mini Kata membantu keinginan saya mengimplementasikan
ide tentang Pilihan Pembayun melalui penyutradaraan teater kini
berbasis tradisi. Keinginan tersebut terdorong oleh langkanya penciptaan
pertunjukan teater melalui riset, yaitu riset akademik yang menggabungkan
berbagai elemen teater modern dan elemen teater tradisi untuk menjadi wujud
teater kini. Saya berharap dengan penggabungan keduanya pertunjukan Pilihan
Pembayun akan selaras dengan citarasa penonton masa kini. Saya mengambil
elemen-elemen pertunjukan tradisi dari gerak Bedhaya, tembang Jawa, gerak
silat, komposisi Ketoprak, sedangkan elemen-elemen pertunjukan modern adalah dari gerak dan komposisi Mini Kata, gerak hip-hop, gerak inner acting
seting minimalis, dan panggung prosenium.
Istilah “Mini Kata” pertama kali dicetuskan oleh seorang penyair dan
jurnalis, Goenawan Mohamad ketika menyaksikan pertunjukan nomor-nomor
improvisasi tahun 1968 oleh WS Rendra, setelah kepulangannya dari Amerika
tahun 1967 (Yudiaryani, 2015:3-4). Rendra memperkenalkan nomor-nomor
tersebut—yang disebut Goenawan Mohamad—sebagai pertunjukan Mini Kata.
Nomor-nomor improvisasi tersebut hanya mengutamakan gerak indah yang
berupa imaji dengan komposisi panggung sederhana dan akting tanpa dialog,
hanya dengan bunyi ujaran ”bip bop...bip bop” dan desisan ”zzz...zzz”. Bentuk
ini merupakan suatu usaha penyadaran akan keterbatasan dunia verbal—sebuah
kehendak puisi untuk menghindarkan diri dari kecerewetan kata-kata dan
sedapat mungkin langsung menggambarkan suatu situasi. Pada saat pertama
kali pertunjukan Mini Kata ditampilkan, banyak menumbuhkan pro dan kontra
penonton, karena saat itulah untuk pertama kalinya mereka menyaksikan teater
modern tanpa naskah drama.
Pertunjukan Mini Kata menjadi populer dan digemari oleh anak-anak
muda di tahun 70-an. WS Rendra dan Mini Kata menjadi kajian disertasi saya
tahun 2007. Meskipun dianggap sebagai suatu metode pelatihan, gerak Mini
Kata mampu menjadi suatu pertunjukan teater dengan dihadiri penonton. Riset
penciptaan teater melalui metode Mini Kata menggeser cara saya menyutradarai
teater dari yang semula berbasis pada pelatihan semata, menjadi berbasis pada
training–pelatihan–workshop– pertunjukan. Jika sebelumnya saya hanya tertarik
dengan teater kata-kata, saat ini saya menyutradarai Pilihan Pembayun dengan
menggabungkan acting, singing, dan dancing
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Perancangan Penyutradaraan Naskah Drama Kursi-kursi Karya Eugene Ionesco Terjemahan Yudiaryani
Proses dalam penyutradaraan naskah drama bukan sebuah kerja yang mudah, banyak hal yang harus diperhatikan oleh seorang sutradara dalam proses kerjanya. Posisi sutradara sebagai pusat kerja bagi para pendukung yang lain.
Adapun para pendukung dalan proses penyutradaraan adlah aktor, penata artistik. Penata artistik memiliki rekan kerja yaitu pinata sett panggung, penata lampu, penata busana, penata kostum, penata musik, dan penata rias. Mereka akan bekerja sesuai keinginan sutradara bentuk dan pemanggungan seperti apa yang diingini oleh sutradara. Banyak pembelajaran-pembelajaran yang penulis temui pada proses menyutradarai naskah Kursi-Kursi karya Eugene Ionesco terjemahan Yudiaryani ini. Pada proses penyutradaraan naskah Kursi-Kursi ini penulis juga sebagai perancang mengalami kesulitan-kesulitan dalam membuat pola-pola bloking permainan, menciptakan tangga dramatik yang baik, memunculkan suspenc yang menarik hingga penonton tetap dapat menikmati pertunjukan ini. Penulis juga mengalami kesulitan mementaskan naskah Kursi-Kursi yang berlatarkan budaya Prancis, untuk itu sutradara menggantikan icon-icon baik pada dalam dialog dengan kata-kata negeri
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
