Journal of Urban Society's Arts
Not a member yet
155 research outputs found
Sort by
The Dromology Trajectory of Digital Wayang: Cinematization and Visual Transformation
Wayang is a traditional Indonesian performance art that continues to evolve in line with technological developments. In the digital era, wayang has undergone a media shift from the shadow screen (kelir) to digital screens. The YouTube channel Cak Rye Animasi (CRA) was the first to reinterpret wayang content through animation techniques, amassing 78,400 subscribers and an average of 13,748,965 views. The platform enables a high level of hyper-connectivity. This study aims to analyze the acceleration of wayang content dissemination from Cak Rye Animasi (CRA) to other accounts within the frameworks of dromology and cinematisation. Using a qualitative approach, the research follows four stages: (1) collecting digital wayang data from social media; (2) analyzing video acceleration from the perspectives of production, distribution, and consumption (dromology); (3) analyzing the acceleration of visual presentation, narrative, and performance duration (cinematisation); and (4) synthesizing the findings from both frameworks. The results show that ten accounts have reinterpreted Cak Rye’s animation style and disseminated their content across YouTube, Instagram, and TikTok. These include Animasi Darsono, Wayang Guyon, Animasi Qito, Animasi Wayang EM Hade, Bimo Suci, Animasi Wayang, Semar Jawa, Jalaksurenmedia, Sempolinaja, and Animasi Wayang. From a dromological perspective, the content is consumed rapidly, particularly by Animasi Qito, which actively distributes content on YouTube and TikTok in condensed durations of 1–3 minutes. Cinematic analysis reveals visual similarities across all ten accounts in terms of animation techniques, photorealistic and graphic styles, and narrative structures derived from the dalang Seno Nugroho. The accelerated modes of social media consumption have created space for diverse wayang content production but also pose the risk of banalization. Wayang is no longer strictly bound to traditional values; it is freely reinterpreted, and its aesthetics have been decontextualized in accordance with the logic of global visual media. Lintasan Dromologi Wayang Digital: Sinematisasi dan Transformasi Visual. Kemunculan wayang merupakan tradisi Indonesia yang mengikuti perkembangan zaman. Pada era teknologi wayang mengalami pergeseran media pertunjukan dari layar kelir ke layar digital. Akun YouTube Cak Rye Animasi (CRA) merupakan akun pertama yang menginterpretasi konten wayang dengan teknik animasi dan memiliki 78.400 pengikut dengan rata-rata 13.748.965 ditonton. Aktivitas hiper- konektivitas sangat dimungkinkan pada akun Cak Rye Animasi (CRA). Penelitian bertujuan menganalisis percepatan konten wayang beralih dari akun CRA ke akun lainnya dalam konteks dromologi dan sinemasi. Metode penelitian dengan pendekatan kualitatif dilakukan melalui empat tahapan, pertama mengolektifkan data wayang digital di media sosial, kedua menganalisis percepatan video dari aspek distribusi, produksi, dan konsumsi dari perspektif dromologi, ketiga menganalisis percepatan sinematisasi dari visual presentasi, narasi, dan durasi pertunjukan wayan, keempat sinkronisasi hasil dromologi dan sinemasi. Hasil penelitian menunjukkan 10 akun menginterpretasikan ulang gaya CRAh, disebarkan melalui media sosial YouTube, Instagram, dan TikTok. Di antaranya akun Animasi Darsono, Wayang Guyon, Animasi Qito, Animasi Wayang EM Hade, Bimo Suci, Animasi Wayang, Semar Jawa, Animasi Qito, Jalaksurenmedia, Sempolinaja, Animasi Wayang. Pada aspek dromologi konten dikonsumsi sangat cepat oleh aktor Animasi Qito yang menyebarkan di Media sosial YouTube dan TikTok, durasi waktu dipadatkan menjadi 1-3 menit. Analisis sinemasi menunjukkan wujud visual kesepuluh akun memiliki kesamaan dalam teknik animasi dan penggunaan foto realis, grafis, serta narasi dalang Seno Nugroho. Percepatan cara konsumsi media sosial membuka ruang produksi konten wayang beragam dengan risiko banalitas. Wayang tidak lagi terikat pada nilai tradisional, ia dapat diinterpretasi secara bebas dan estetika tradisional mengalami dekontekstualisasi yang disesuaikan dengan logika media visual global
Calligraffiti on Sarong: The Challenges of Contemporary Batik Creativity in Santri Culture
Calligraphy as motifs on sarongs in the santri environment is a challenge because batik motifs with calligraphy are prone to resemble writing that has a sacred meaning and makes the user feel sorry when wearing it. The purpose of this study is to analyze the creative response of contemporary batik artist, Abyan Farazdaq, in creating the motif “calligrafitty”, which is a combination of calligraphy and graffity aesthetics on sarong which is a product of santri culture. The research uses a qualitative approach on Abyan Farazdaq’s batik artwork by collecting data through observation, interviews and visual documentation of artworks. This research show that the artist created a calligraphy pattern, so that the motif cannot be read literally in order to maintain the cultural ethics of sarong users. As a result, the calligraphy motif becomes a form of visual adaptation that maintains the identity of the students and enriches the expression of contemporary batik art. Kaligrafi di Sarung: Tantangan Kreativitas Batik Kontemporer dalam Budaya Santri. Penggunaan motif kaligrafi pada sarung di lingkungan santri menjadi tantangan karena motif batik dengan kaligrafi rentan menyerupai tulisan yang memiliki makna sakral dan membuat penggunanya merasa iba ketika mengenakannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa respons kreatif seniman batik kontemporer, Abyan Farazdaq, dalam menciptakan motif “kaligrafiti”, yang merupakan kombinasi antara kaligrafi dan estetika graffiti pada sarung yang menjadi produk budaya santri. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif pada karya seni batik Abyan Farazdaq dengan menghimpun data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi visual karya seni. Temuan menunjukkan bahwa seniman menciptakan pola kaligrafiti agar motif tidak terbaca secara literal demi menjaga etika budaya pengguna sarung. Hasilnya, motif Kaligrafiti menjadi bentuk adaptasi visual yang mempertahankan identitas santri serta memperkaya ekspresi seni batik kontemporer
Indang Tagak Dance as a Medium For Proselytizing Islam in South Solok
This research will explain about Indang Tagak Dance which has a function as a medium for da’wah in South Solok Regency, West Sumatra. This can be seen from the costumes used in the performance, the venue, the poems sung in the dance to the floor patterns displayed by the Indang Tagak dancers. This research uses two types of research combined by researchers, namely observation and descriptive analysis. The observation method is a direct action taken by the researcher to witness the Indang Tagak dance performance directly. The purpose of this method is to obtain data directly to know the history of the dance from the source. The descriptive analysis method is a method used by researchers to explain and analyze the data that has been obtained, so that it can describe in detail the existence of Indang Tagak dance as a medium of preaching in Islamic teachings. The results showed that Indang Tagak dance is a dance that also functions as a preaching medium for Islamic teachings in South Solok. This can be seen from several aspects of the dance which also explain the existence of religious elements in the form of clothing, dancer movements, place and time of performance as well as music and poetry in the Indang Tagak Traditional Dance. Tari Tradisional Indang Tagak sebagai Media Dakwah Agama Islam di Solok Selatan. Penelitian ini menjelaskan Tari Indang Tagak yang memiliki fungsi sebagai media dakwah di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Hal tersebut terlihat dari kostum yang digunakan dalam pertunjukan, tempat pertunjukan, syair yang dinyanyikan dalam tarian tersebut, hingga pola lantai yang ditampilkan oleh para penari Indang Tagak. Penelitian ini menggunakan dua jenis penelitian yang digabungkan oleh peneliti, yaitu observasi dan deskriptif analisis. Metode observasi merupakan tindakan langsung yang dilakukan oleh peneliti untuk menyaksikan langsung pertunjukan Tari Indang Tagak. Tujuan dari metode ini adalah untuk memperoleh data secara langsung hingga mengetahui sejarah tari tersebut dari narasumber. Sementara itu, metode deskriptif analisis merupakan metode yang digunakan oleh peneliti untuk menjelaskan dan menganalisis data yang sudah didapatkan, sehingga dapat menguraikan secara terperinci dalam melihat keberadaan tari Indang Tagak sebagai media dakwah dalam ajaran agama Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Indang Tagak merupakan tari yang juga berfungsi sebagai media dakwah untuk ajaran agama Islam di Solok Selatan. Hal tersebut terlihat dari beberapa aspek dalam tari yang juga menjelaskan adanya unsur religi yang ada berupa busana, gerakan penari, tempat dan waktu pertunjukan, serta musik dan syair yang ada di dalam Tari Tradisional Indang Tagak
Religiosity Values: Narrative and Cinematic Analysis in Japanese Slice of Life Film Wood Job!
Being religious or “menjadi religius” is a stage above the phase of having a religion, namely “religion”. Faith and obedience to religion can be seen in the manners of daily life not only in rituals. It gives an understanding of goodness, equality, humanity, and justice for others, not only in humans but also in nature. Through its narrative and cinematic aspects, the film can provide answers to problems in life, especially regarding religious knowledge and philosophy of life. The purpose of the study is to find out how Wood Job! (2014) film can provide an immersive experience for the audience. The research methodology involves a multidimensional approach of filmology that includes the narrative (dialogue) and cinematic (mise en scene) languages to see depictions and fragments of daily humanistic life full of religious values. The theoretical approach is David Morgan’s theory of three general modes of embodiment consisting of sacred visual constructions, namely ‘the body before the image, body in the image, and body beyond the image’ in the Religious Studies. The film contains 62 scenes which have 11 scenes depicting religious values in everyday life through its dialogue and mise en scene. This film illustrates religious values in accordance with Shinto beliefs. The result shows ‘the body in the image’ from Yuki’s attitude and ‘the body beyond the image’ from the attitude of the people in Kamusari can be seen in 17,7% from the total scenes. Nilai-Nilai Religiositas: Analisis Naratif dan Sinematik dalam Film Jepang Slice of Life Wood Job! Being religious atau “menjadi religius” merupakan tahap di atas fase having religion, yaitu “beragama”. Beriman dan ketaatan pada agama terlihat dari budi pekerti kehidupan sehari-hari tidak hanya sebatas ritual, namun dapat melahirkan pemahaman kebaikan, kesetaraan, kemanusiaan, dan keadilan kepada sesama makhluk tidak hanya pada manusia namun juga pada alam. Film, baik melalui aspek naratif maupun sinematiknya, mampu memberikan jawaban atas permasalahan hidup, khususnya pengetahuan agama dan filosofi hidup. Tujuan penelitian membedah film Jepang, bergenre drama slice of life, berjudul Wood Job! dianggap mampu memberikan pengalaman mendalam bagi penonton. Metodologi penelitian ini melibatkan pendekatan multidimensi yang mencakup bahasa naratif (dialog) dan sinematik (mise en scene) untuk melihat penggambaran dan penggalan kehidupan sehari-hari yang humanis sarat akan nilai religiusitas. Teori yang digunakan adalah teori religi David Morgan mengenai tiga mode umum perwujudan konstruksi visual sakral, yaitu the body before the image, body in the image, dan body beyond the image dalam Religious Studies. Terdapat total 62 scene yang mencakup 11 scene menggambarkan nilai religiositas dalam keseharian melalui dialog dan mise en scene. Film menampilkan nilai religi yang sesuai dengan kepercayaan Shinto. Hasil penelitian menunjukkan dua mode perwujudan konstruksi visual sakral, the body in the image terlihat dari sikap Yuki dan the body beyond the image terlihat dari sikap masyarakat yang memiliki keyakinan sama di Kamusari yang tercermin dalam 17,7% scene dari keseluruhan total scene
Aesthetic Jewelry Design and Entrepreneurial Creativity Patterns: Case Study of Four Generations of Pasirjambu Jewelry Artisans
The aesthetics of jewelry design and patterns of entrepreneurial creativity are key aspects in developing Kamasan jewelry products in Pasirjambu, Ciwidey. Each generation of artisans exhibits unique skills and approaches in creating bespoke accessory designs. This study aims to explore the creativity patterns and aesthetic values in the jewelry designs produced by four generations of artisans in Pasirjambu. A qualitative approach with a case study method was employed to gather data from four artisans, both male and female, focusing on ring designs. Data collection techniques included interviews, observations, and document studies, with data analysis conducted through triangulation. The findings reveal that the artisans’ creativity lies in their innovative use of motifs, enhancing aesthetics, comfort, and market appeal. This study highlights how tradition and innovation coexist to preserve the jewelry heritage of Pasirjambu while fostering entrepreneurial creativity. Desain Perhiasan yang Estetis dan Pola Kreativitas Wirausaha: Studi Kasus Empat Generasi Pengrajin Perhiasan Pasirjambu. Estetika desain perhiasan dan pola kreativitas kewirausahaan menjadi kunci dalam pengembangan produk perhiasan kamasan di Pasirjambu, Ciwidey. Setiap generasi pengrajin menunjukkan keunikan keterampilan dan pendekatan yang berbeda dalam menciptakan desain aksesori pesanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pola kreativitas dan nilai estetika dalam desain perhiasan yang dihasilkan oleh empat generasi pengrajin di Pasirjambu. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus digunakan untuk menggali data dari empat pengrajin, baik laki-laki maupun perempuan, yang berfokus pada desain cincin. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dan studi dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kreativitas para pengrajin terletak pada inovasi motif yang mendukung estetika, kenyamanan, dan kebutuhan pasar. Studi ini mengungkap bagaimana tradisi dan inovasi berjalan beriringan dalam melestarikan warisan perhiasan Pasirjambu sekaligus memperkuat pola kreativitas kewirausahaan
“Fattened by Friendship” of the Papuan Sawi Tribe: Creative Process and Analysis
“Fattened with Friendship” is the title for the creation of a musical work in the story of Tarop Tim (Child of Peace) of the Sawi Tribe. The creation of this musical work is an effort to contribute to the treasury of Indonesian musical compositions that elevate the cultural values of the Sawi tribe of Papua. The method of music composition creativity applies practice-led research in four creative stages, namely preparation, incubation, illumination and verification. The creation of this new composition elevates the culture of the Papuan Sawi tribe innovatively in melody, rhythm, and other musical elements. The instruments used are string quartet (violin 1-2, alto violin and violoncello), piano, synth, percusion and local Papuan instruments (tifa and pikon). The creation of this musical work aims to be enjoyed by the wider community, especially the younger generation, and to inspire young composers to raise the archipelago’s musical idioms as the foundation of the main creative ideas. “Fattened with Friendship” Suku Sawi Papua: Proses Kreatif dan Analisis. “Fattened with Friendship” merupakan judul dari penciptaan karya musik yang mengangkat kisah Tarop Tim (Anak Damai) dari Suku Sawi. Penciptaan karya musik ini merupakan upaya untuk memberikan kontribusi terhadap khazanah komposisi musik Indonesia yang mengangkat nilai-nilai budaya suku Sawi Papua. Metode penciptaan komposisi musik ini menggunakan metode penelitian yang berbasis praktik dengan empat tahapan kreatif, yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Penciptaan komposisi baru ini mengangkat budaya suku Sawi Papua secara inovatif dalam melodi, ritme, dan elemen musik lainnya. Instrumen yang digunakan adalah string quartet (biola 1-2, biola alto, dan biola cello), piano, synth, perkusi, dan alat musik lokal Papua (tifa dan pikon). Penciptaan karya musik ini bertujuan agar dapat dinikmati oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda, dan menginspirasi komposer muda untuk mengangkat idiom-idiom musik nusantara sebagai landasan ide kreatif utama
The Transformation of Online Academic Graphic Designers into Petite Bourgeoisie within the Digital Capitalism Ecosystem
Academic graphic designers possess strong cultural capital from higher education and deep knowledge of design. This capital includes academic qualifications, high technical skills, and extensive social networks. Internet technology opens global opportunities for them to leverage these skills. Through various digital platforms, they can showcase their work, obtain international projects, and join global communities. These platforms provide them with wide market access, enabling independent work and significant income. However, behind this freedom, they must follow platform rules that reduce their autonomy. Many academic designers then employ junior designers to expand their business, transforming into petite bourgeoisie within the digital economy, controlling junior labour while still subjected to the control of large digital capitalists. This practice creates a tiered exploitation, where senior designers extract more value from less experienced junior designers. This transformation shows that although internet technology and digital platforms open up significant opportunities, they also bring new challenges in the form of injustice and exploitation in the workforce, placing academic graphic designers at the intersection of economic freedom and structural dependency. Transformasi Desainer Grafis Akademis Online Menjadi Borjuasi Mungil dalam Ekosistem Kapitalisme Digital. Desainer grafis akademis memiliki modal kultural kuat dari pendidikan tinggi dan pengetahuan desain yang mendalam. Modal ini termasuk kualifikasi akademik, kemampuan teknis tinggi, dan jaringan sosial luas. Teknologi internet membuka peluang global bagi mereka untuk memanfaatkan keterampilan ini. Melalui berbagai platform digital, mereka bisa memamerkan karya, mendapatkan proyek internasional, dan bergabung dengan komunitas global. Platform ini memberi mereka akses pasar luas, memungkinkan kerja independen dan penghasilan signifikan. Namun, di balik kebebasan ini, mereka harus mengikuti aturan platform yang mengurangi otonomi mereka. Banyak desainer akademis kemudian mempekerjakan desainer junior untuk memperbesar usaha, berubah menjadi borjuis kecil dalam ekonomi digital, mengendalikan tenaga kerja junior namun tetap tunduk pada kontrol kapitalis digital besar. Praktik ini menciptakan eksploitasi berjenjang karena desainer senior mendapatkan nilai lebih dari desainer yunior yang kurang berpengalaman. Transformasi ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi internet dan platform digital membuka peluang besar, mereka juga membawa tantangan baru berupa ketidakadilan dan eksploitasi dalam tenaga kerja, menempatkan desainer grafis akademis di antara kebebasan ekonomi dan ketergantungan struktural
The Artivism (Art Activism) of Taring Padi at Documenta Fifteen 2022 through The Cardboard Puppet Workshop
Taring Padi’s wayang kardus (cardboard puppets) is one of its most iconic works. Its participatory practices and massive presentation of artworks based on collective solidarity had created a distinguished effect for the international contemporary art ecosystem, particularly at the Documenta Fifteen exhibition. The urgency of analyzing Taring Padi’s activism through its wayang kardus artworks lies in its role as a medium of critical awareness, examining the interconnection between artistic production and collective solidarity. This practice-based research was conducted using participatory observation methods. The findings show that the citizens around are already aware of issues in their immediate environment, leading to the intergenerational distribution of knowledge and experience. This awareness highlights the importance of providing a platform for expressing social messages through accessible, adaptable, and replicable artworks, such as through the wayang kardus workshop. To make it eternal, emerging societal issues will continue to serve as a foundation for the struggle of collective solidarity through art activism. Artivisme (Aktivisme Seni) Taring Padi di Documenta Fifteen 2022 melalui Bengkel Wayang Kardus. Wayang kardus Taring Padi merupakan salah satu karya yang ikonik. Praktik kerja secara partisipatoris dan presentasi karya secara massif dengan berbasis solidaritas kolektif merupakan sebuah fenomena yang memberikan efek kejut pada ekosistem seni kontemporer internasional, yakni dalam pameran Documenta Fifteen. Kepentingan untuk membaca praktik aktivisme Taring Padi melalui karya seni wayang kardus menjadi krusial untuk terus menjadi kritik penyadaran dengan melihat kelindan antara produksi artistik dengan solidaritas kolektif. Penelitian ini berbasis praktik, dilakukan dengan metode observasi partisipatoris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat sudah memiliki kesadaran akan permasalahan yang terjadi di lingkungan terdekat dan terjadinya distribusi pengetahuan dan pengalaman lintas generasi. Kesadaran tersebut menegaskan pentingnya memberikan wadah bagi suara aspirasi pesan-pesan sosial melalui karya seni yang bisa diakses, diadaptasi, dan diduplikasikan oleh masyarakat, salah satunya dengan melalui workshop wayang kardus. Perkembangan zaman akan terus beriringan dengan ragam permasalahan yang dapat menjadi landasan dasar perjuangan solidaritas kolektif melalui aktivisme seni
Hybridity and Authenticity of Ichwan Noor’s Sculpture: A Case Study of Bedhaya Kinjeng Wesi Sculpture in Yogyakarta International Airport
The Bedhaya Kinjeng Wesi (literally mean Iron Dragonfly Bedhaya) sculpture represents a significant intersection of traditional Javanese culture and contemporary art at Yogyakarta International Airport (YIA). This study examines how hybridity and authenticity manifest in this commissioned artwork created by sculptor Ichwan Noor between September 2019 and January 2020. Using qualitative methods including participant observation, visual documentation, and interviews, this research analyzes the complex negotiation process that occurred between institutional stakeholders, cultural authorities, and artistic vision. The findings reveal that the sculpture’s creation involved a unique creative sequence: first, a traditional dance form (Bedhaya Kinjeng Wesi Dance) was developed as reference material, then reinterpreted through contemporary sculptural techniques. The resulting artwork demonstrates hybridity through its combination of traditional dance postures, symbolic elements from local oral tradition, and modern materials and aesthetics. This case study contributes to our understanding of how authenticity is negotiated in public art that serves both cultural representation and tourism functions, particularly in postcolonial contexts where local identity intersects with global modernity. Rather than seeing hybridity and authenticity as opposing forces, this research suggests they operate as complementary processes in contemporary cultural production. Hibriditas dan Keaslian Patung Ichwan Noor: Studi Kasus Patung Bedhaya Kinjeng Wesi di Bandara Internasional Yogyakarta. Patung Bedhaya Kinjeng Wesi merupakan persimpangan penting antara budaya Jawa tradisional dan seni kontemporer di Bandara Internasional Yogyakarta (YIA). Studi ini menggunakan metode kualitatif meneliti bagaimana hibriditas dan keaslian terwujud dalam karya seni yang dipesan oleh pematung Ichwan Noor antara September 2019 hingga Januari 2020 termasuk observasi partisipan, dokumentasi visual, dan wawancara. Penelitian ini menganalisis proses negosiasi kompleks yang terjadi antara pemangku kepentingan institusional, otoritas budaya, dan visi artistik. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa penciptaan patung tersebut melibatkan urutan kreatif yang unik: pertama, bentuk tari tradisional dikembangkan sebagai bahan referensi, kemudian ditafsirkan ulang melalui teknik pahatan kontemporer. Karya seni yang dihasilkan menunjukkan hibriditas melalui kombinasi postur tari tradisional, elemen simbolis dari tradisi lisan lokal, dan bahan serta estetika modern. Studi kasus ini memberikan kontribusi pada pemahaman tentang bagaimana keaslian dinegosiasikan dalam seni publik yang berfungsi sebagai representasi budaya dan fungsi pariwisata, khususnya dalam konteks pascakolonial, yaitu identitas lokal bersinggungan dengan modernitas global. Alih-alih melihat hibriditas dan keaslian sebagai kekuatan yang berlawanan, penelitian ini menunjukkan bahwa keduanya beroperasi sebagai proses yang saling melengkapi dalam produksi budaya kontemporer
Characteristics of Cultural Production of Youtube Podcast of Horror Genre in Relevance with the Construction of the Consumer Society
The emergence of the horror genre YouTube Podcast during the Covid-19 pandemic is related to restrictions on people’s movement, both in the production process and in enjoying the results of the production. For this reason, characteristics of cultural production emerged during the pandemic through horror podcasts on YouTube which also influenced the construction of consumer society. This is important to study in the world of the arts industry because these two orders, the production order and the consumption order, correlate with each other to shape the meaning of society. Baudrillard argued that consumption of commodities is not only seen at the level of their function, but also the relationship of meaning between the commodity and the sign it produces. Consumption looks more at the context of the existence of society itself so that it is said to be a growth society because it has the ability to produce both prosperity and poverty. The netnographic method is used to examine the relationship between the two orders so as to form meaning as a social phenomenon. The characteristics of horror genre podcasts are that they are produced with simple production, a limited number of personnel, delivered orally with distinctive characteristics, and have a production strategy that causes the audience to always wait for the next production result. The concept of horror which is used as a genre choice in podcasts is rooted in the local wisdom of podcast fans so that even though the label of modern society is attached to the activity of enjoying horror podcasts, the roots of local wisdom always color and bind the memories of the viewers to return to their identity through local wisdom. Kemunculan Podcast YouTube bergenre horror pada masa pandemi Covid-19 terkait dengan pembatasan ruang gerak masyarakat, baik proses produksi maupun penikmatan hasil produksi. Untuk itu, muncul karakteristik produksi kultural pada masa pandemi melalui podcast horror di YouTube yang juga mempengaruhi konstruksi masyarakat konsumennya. Hal ini penting untuk dikaji dalam dunia industri seni karena kedua tatanan tersebut, tatanan produksi dan tatanan konsumsi, saling berkorelasi membentuk permaknaan atas masyarakatnya. Baudrillard mengemukakan bahwa konsumsi atas komoditas tidak sekadar dilihat pada tataran fungsinya, tetapi relasi makna antara komoditas dan tanda yang dimunculkannya. Pengonsumsian lebih melihat pada konteks eksistensi masyarakat itu sendiri sehingga dikatakan sebagai masyarakat pertumbuhan karena memiliki kemampuan untuk memproduksi kemakmuran sekaligus kemiskinan. Digunakan metode netnografi untuk menelaah relasi kedua tatanan itu sehingga membentuk permaknaan sebagai suatu fenomena sosial. Karakteristik podcast bergenre horror diproduksi dengan produksi sederhana, jumlah personil terbatas, disampaikan secara lisan dengan karakteristik yang khas, memiliki strategi produksi yang menyebabkan penikmatnya senantiasa menanti hasil produksi berikutnya. Konsep horror yang dijadikan pilihan genre dalam podcast mengakar pada local kearifan dari penikmat podcast sehingga sekalipun label masyarakat modern melekat dalam aktivitas menikmati podcast horror, tetapi akar kearifan lokal senantiasa mewarnai dan mengikat ingatan para penikmat untuk kembali pada jati diri melalui kearifan lokal tersebut