Journal of Urban Society's Arts
Not a member yet
155 research outputs found
Sort by
“Ajeg Bali” and Preserving the Balinese Lontar in Dukuh Penaban, Bali
The necessity to comprehend lontar manuscripts arises from the imperative to preserve the ancestral values of the Balinese people embedded within this medium. The investigation of the lontar manuscript social movement, aimed at cultural preservation within religious rites and as a framework for daily existence (smerti), remains underexplored. This is evidenced by the situation in the Dukuh Penaban Traditional Village, Karangasem, Bali, where few Balinese Hindus have minor thought for which lontar manuscripts are just the sacred things, and possess the ability to read and write lontar manuscripts in Balinese. This represents a novel contribution aimed at addressing a research vacuum that has not been explored by scholars in Indonesia, where an understanding of the social movement, integral to Hindu cultural and religious rites, is necessary. The research necessitates an examination of the Dukuh Penaban Traditional Village community’s response to the legitimacy of the Bali Provincial Government and the preservation initiatives for lontar manuscripts, which have been transmitted through generations. It will reinforce the values of life and the teachings of AJAWERA, ultimately enhancing the character and awareness of the Balinese populace regarding the significance of preserving their esteemed culture. This phenomenon prompts research inquiries on how “Ajeg Bali”, a Balinese society’s discourse to combat globalization, is implemented through cultural preservation actions in the Dukuh Penaban Traditional Village, Karangasem, Bali. This qualitative descriptive research employs an ethnographic methodology, utilizing observation, in-depth interviews, and documentation for data gathering. The research site is Dukuh Penaban Traditional Village, Karangasem Regency, Bali Province. The research participants comprised ten individuals, specifically the Bendesa of Dukuh Penaban Traditional Village, the apparatus of Dukuh Penaban Traditional Village, the Coordinator and members of the Balinese Language Care Alliance of Karangasem Regency, members of the Bebasan Lontar group (readers of lontar manuscripts) from Dukuh Penaban, and Penedun (writers and translators of lontar manuscripts).“Ajeg Bali” and Preserving the Balinese Lontar in Dukuh Penaban, Bali. Munculnya kebutuhan untuk mengetahui dan memahami naskah lontar adalah untuk menyelamatkan nilai-nilai adat warisan leluhur masyarakat Bali yang terkandung dalam media lontar. Riset mengenai gerakan sosial naskah lontar sebagai upaya preservasi budaya sebagai bagian dari ritual keagamaan dan sebagai pedoman kehidupan sehari-hari (smerti) belum banyak dikaji. Hal itu didukung dari fenomena yang ada di Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem, Bali bahwa naskah lontar hanya sebagai benda sakral saja dan belum banyak masyarakat Hindu Bali yang bisa membaca dan menulis naskah lontar dalam Bahasa Bali. Hal ini sekaligus merupakan kebaruan dan digunakan untuk mengisi celah riset yang belum pernah diteliti oleh peneliti di Indonesia, di mana perlu adanya pemahaman akan gerakansosial yang sekaligus menjadi bagian ritual budaya dan agama Hindu. Riset ini perlu untuk diteliti terkait respons masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban pada legitimasi Pemerintah Daerah Propinsi Bali serta usaha preservasi naskah lontar yang dimiliki secara turun temurun yang akan menguatkan nilai-nilai hidup dan ajaran AJAWERA yang berdampak pada peningkatan karakter dan kesadaran masyarakat Bali akan pentingnya melakukan pelestarian budaya mereka yang adiluhung. Fenomena tersebut memberi pertanyaan penelitian bagaimana “Ajeg Bali” memberikan wacana masyarakat Bali untuk melawan globalisasi dengan implementasi melalui gerakan sosial pelestarian budaya di Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem, Bali. Penelitian deskriptif kualitatif ini menggunakan pendekatan etnigrafi, dengan metode penelitian yaitu observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk pengumpulan data. Lokasi riset adalah Desa Adat Dukuh Penaban, Kabupaten Karangasem, Propinsi Bali. Informan riset berjumlah 10 orang, yaitu Bendesa Desa Adat Dukuh Penaban, Perangkat Desa Adat Dukuh Penaban, Koordinator dan Anggota Aliansi Peduli Bahasa Bali Kabupaten Karangasem, anggota kelompok Bebasan Lontar (pembaca naskah lontar) Dukuh Penaban, dan Penedun (penulis dan penterjemah naskah lontar)
Impact Permeability Study Transition from Residential Function to Educational Function in Dalem Mangkubumen, Yogyakarta
Dalem Mangkubumen, is a residential house specifically for nobles in the Yogyakarta Sultanate. Dalem Mangkubumen itself was built as the home of the crown prince Sri Sultan Hamengku Buwono VI. It cannot be denied that Mangkubumen has the largest land area and grandeur like Karton Yogyakarta. It was built in 1876 and still stands today. Since its founding until now, its function has changed, it was built as a residence and then changed to an educational function. This change in function has an impact on changes in building use and building additions to meet their needs. This qualitative research examines how permeable the spatial layout is when it functions as a residence and changes to an educational function. Using data that has been written down, both old maps and previous articles, as well as direct observations in the field, the latest map modifications and a list of spatial changes have been obtained. These data are used to see changes and assess permeability. The level of permeability and changes in permeability in the zones within Mangkubumen can be seen. Dalem Mangkubumen, merupakan rumah hunian dikhususkan untuk bangsawan di lingkungan kasultanan Yogyakarta. Dalem Mangkubumen sendiri dibangun sebagai rumah putra mahkota Sri Sultan Hamengku Buwono VI. Tidak dipungkiri Dalem Mangkubumen, memiliki luas lahan yang paling besar dan kemegahan seperti Karton Yogyakarta. Dibangun pada tahun 1876 dan dan masih berdiri hingga saat ini. Semenjak berdiri hingga saat ini mengalami perubahan fungsi, dibangun sebagai hunian kemudian beralih menjadi fungsi pendidikan. Perubahan fungsi tersebut, berdampak pada perubahan penggunaan bangunan dan penambahan bangunan guna memenuhi kebutuhan. Penelitian secara kualitatif ini, mengkaji seberapa permeabilitas tata ruang saat berfungsi sebagai hunian dan berubah menjadi fungsi pendidikan. Menggunakan data yang pernah dituliskan baik peta lama maupun artikel terdahulu serta amatan langsung dilapangan, didapatkan modifikasi peta terbaru dan daftar perubahan ruang. Data-data tersebut digunakan untuk melihat perubahannya dan mengkaji permeabilitasnya. Terlihat tingkatan permeabilitas maupun perubahan permeabilitas dalam zona-zona yang terdapat di Dalem Mangkubumen
An Anthropomorphic Analysis of Iwan Fals’ Tikus- Tikus Kantor and Pink Floyd’s Dogs
Animal-based imagery, including anthropomorphism and zoomorphism, has been a common literary device since ancient times. Contemporary writers of popular song, such as The Beatles, have been particularly frequent exponents of animal-based imagery. This imagery has several uses: it enables subtle or oblique representations of challenging or controversial issues, as well as creating potent, often surreal, imagery which enhances the lyrical quality of the song. Anthropomorphism may take several different forms: comparison (in which animals are compared to humans in instinct and behaviour), cognition (in which animals express human-like thoughts or language), and material conduct (in which animals engage in humanoid actions, including the use of human accessories and technologies). Iwan Fals is a Javanese singer/songwriter renowned for writing songs that address socio-political issues in Indonesia, including topics such as corruption and inequality. Pink Floyd were an English rock band whose songs often explored similar socio-political issues. Both artists have used animal-based imagery in their socio-political songs. Fals’ Tikus-Tikus Kantor may be described as anthropomorphic, whilst Pink Floyd’s Dogs may be interpreted as zoomorphic. Citraan berbasis hewan, termasuk antropomorfisme dan zoomorfisme, telah menjadi perangkat sastra umum sejak zaman kuno. Penulis lagu populer kontemporer, seperti The Beatles, telah menjadi eksponen citraan berbasis hewan yang sangat sering. Citraan ini memiliki beberapa kegunaan: memungkinkan representasi halus atau tidak langsung dari isu-isu yang menantang atau kontroversial, serta menciptakan citraan yang kuat, sering kali surealis, yang meningkatkan kualitas lirik lagu. Antropomorfisme dapat mengambil beberapa bentuk yang berbeda: perbandingan (di mana hewan dibandingkan dengan manusia dalam naluri dan perilaku), kognisi (di mana hewan mengekspresikan pikiran atau bahasa seperti manusia), dan perilaku material (di mana hewan terlibat dalam tindakan humanoid, termasuk penggunaan aksesori dan teknologi manusia). Iwan Fals adalah penyanyi/penulis lagu Jawa yang terkenal karena menulis lagu- lagu yang membahas isu-isu sosial-politik di Indonesia, termasuk topik-topik seperti korupsi dan ketidaksetaraan. Pink Floyd adalah band rock Inggris yang lagu-lagunya sering mengeksplorasi isu-isu sosial-politik yang serupa. Kedua artis tersebut telah menggunakan citraan berbasis hewan dalam lagu-lagu sosial-politik mereka. Tikus- Tikus Kantor karya Fals dapat dideskripsikan sebagai antropomorfik, sedangkan Dogs karya Pink Floyd dapat diinterpretasikan sebagai zoomorfik
Cityscapes in Sound: Tracing Urban Perceptions in Pop Music’ Lyrics and Sentiments Across Decades
This study examines the representation of urban environments in popular music, analyzing how songs within similar eras depict particular perceptions of cities. The methodology consists of two main stages: systematic song selection from the mid-20th century to the present based on explicit urban references, followed by detailed song analysis using Python-based Natural Language Processing to measure urban theme strength, Pearson correlation analyses, and thematic assessments with TF-IDF and NMF techniques. Findings reveal a shift from mid-20th century idealistic views of urban life to more complex and nuanced representations reflecting contemporary social and economic realities. This evolution underscores pop music’s role as a mirror of urban experiences, capturing the vibrancy, challenges, and contradictions of city life. Limitation of the study includes the reliance on popularity metrics, as these may not fully capture a song’s cultural significance due to demographic biases and the influence of streaming algorithms. Nonetheless, this research contributes to urban studies and musicology by highlighting the intricate relationship between cultural expressions and urban perceptions. It suggests that utilizing pop songs as a methodological tool offers a novel way of understanding urban perception, providing an alternative to traditional studies that primarily focus on individual experiences. Penelitian ini mengkaji representasi lingkungan perkotaan dalam musik populer, menganalisis bagaimana lagu-lagu dalam era yang serupa menggambarkan persepsi tertentu tentang kota. Metodologi yang digunakan terdiri dari dua tahap: pemilihan lagu sistematis dari pertengahan abad ke-20 hingga saat ini berdasarkan referensi perkotaan yang eksplisit, diikuti dengan analisis lagu terperinci menggunakan Pemrosesan Bahasa Alami berbasis Python untuk mengukur kekuatan tema perkotaan, analisis korelasi Pearson, dan penilaian tematik dengan teknik TF-IDF dan NMF. Temuan mengungkapkan pergeseran dari pandangan idealistik kehidupan perkotaan di pertengahan abad ke-20 menjadi representasi yang lebih kompleks, mencerminkan realitas sosial dan ekonomi kontemporer. Evolusi ini menegaskan peran musik pop sebagai cermin pengalaman perkotaan, menangkap kehidupan kota yang penuh semangat, tantangan, dan kontradiksi. Keterbatasan studi ini termasuk ketergantungan pada metrik popularitas, karena ini mungkin tidak sepenuhnya menangkap signifikansi budaya sebuah lagu karena bias demografis dan pengaruh algoritma streaming. Namun demikian, penelitian ini memberikan kontribusi kepada studi perkotaan dan musikologi dengan menyoroti hubungan rumit antara ekspresi budaya dan persepsi perkotaan, membentuk bagaimana kehidupan kota dialami dan dipahami. Makalah ini menyarankan bahwa menggunakan lagu pop sebagai alat metodologis menawarkan cara baru untuk memahami persepsi perkotaan, menyediakan alternatif untuk studi tradisional yang kebanyakan berfokus pada pengalaman individu
Metal Conservation Method in The Infinity Statue by Dunadi
The Infinity Sculpture by Dunadi is a media representation of the idea of the eternal function of bicycles over time. The infinity statue is primarily made of ferrous metal, so it has the potential for damage in the form of patina and rust, especially when exposed to direct sunlight, rainwater, oxygen, and other substances that accelerate corrosion growth. The current condition of the infinity statue by Dunadi could be better because most of the paint has peeled off, and rust has grown on the entire surface of the metal that is not covered with paint. This article discusses the application of modern metal conservation methods to Dunadi’s Infinity Sculpture. This study’s contemporary metal conservation method compares several synthetic chemicals to clean rust on metal and then apply it to Dunadi’s Infinity Statue. The synthetic chemicals used are some of the rust-cleaning agents available. Synthetic chemicals are available because they are easy to obtain and relatively safe. We tested Several brands of rust cleaners available on the market on metal objects similar to the material for making infinity statues. As a result, the most effective rust- cleaning chemicals contain hydrochloric acid. Patung Infinity karya Dunadi merupakan representasi media dari gagasan tentang fungsi abadi sepeda dari waktu ke waktu. Patung infinity utamanya terbuat dari logam besi, sehingga berpotensi mengalami kerusakan berupa patina dan karat, terutama jika terkena sinar matahari langsung, air hujan, oksigen, dan zat lain yang mempercepat pertumbuhan korosi. Kondisi patung infinity karya Dunadi saat ini bisa lebih baik karena sebagian besar catnya sudah terkelupas, dan karat sudah tumbuh di seluruh permukaan logam yang tidak dilapisi cat. Artikel ini membahas penerapan metode konservasi logam modern pada Patung Infinity karya Dunadi. Metode konservasi logam kontemporer dalam penelitian ini membandingkan beberapa bahan kimia sintetis untuk membersihkan karat pada logam lalu mengaplikasikannya pada Patung Infinity karya Dunadi. Bahan kimia sintetis yang digunakan merupakan beberapa bahan pembersih karat yang tersedia. Bahan kimia sintetis tersedia karena mudah diperoleh dan relatif aman. Kami menguji beberapa merek pembersih karat yang tersedia di pasaran pada benda logam yang mirip dengan bahan untuk membuat patung infinity. Hasilnya, bahan kimia pembersih karat yang paling efektif mengandung asam klorida
“Wening”: Towards a Contemplation of Javanese Women’s Self-Identity in The Painting of Dyan Anggraini Rais through an Art Criticism Approach
This article discusses the artwork of Indonesian Woman Artist Dyan Anggraini Rais in The International Art Exhibition Dewantara Triennale 2023 #2 “Social Engagement & Sustainability at Jogja Gallery entitled “wening” as a medium for contemplation of the form of representation of Javanese Women’s self-identity through the Art Criticism approach as a form of appreciation and evaluation of the artwork through reading the interpretation of the visual semiotic code on the artwork. It is found that the Contemplation of Javanese Women’s Self Identity in Wening painting represents the character of Javanese Women’s identity which is seen as a meek figure, good character, nrima, manut, not messing around, but also firm and principled. This is visualized in the symbolization of the meaning of Dewi Sekartaji’s mask. These values have also been exemplified by Kartini’s struggle through women’s emancipation to demand justice for women through the realm of the public sector, especially in the field of education. These noble values should remain inherent and become a living representation for women in contemporary times, where at this time it is very possible for women’s accessibility to be able to enter the public sector to express themselves and build their identity through the various potentials that exist in women to continue to develop and be appreciated. The artwork “Wening” by Dyan Anggraini Rais is a form of self-reflection needed by each individual in this era, especially women, to get to know themselves better and realize the social construction that has shaped them so far. Artikel ini membahas karya seni lukis Perupa Perempuan Indonesia Dyan Anggraini Rais dalam Pameran Seni Rupa Internasional Dewantara Triennale 2023 #2 “Social Engangement & Sustainability di Jogja Gallery yang berjudul “wening” sebagai media perenungan bentuk representasi identitas diri Perempuan Jawa dengan menggunakan pendekatan Kritik Seni (Art Criticism) sebagai bentuk apresiasi dan evaluasi terhadap karya seni tersebut dengan cara membaca pemaknaan terhadap kode semiotika visual pada karya seni lukis tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kontemplasi Identitas Diri Perempuan Jawa dalam lukisan Wening merepresentasikan karakter jati diri perempuan Jawa yang dipandang sebagai sosok yang lemah lembut, berbudi pekerti luhur, nrima, manut, tidak main-main, namun juga tegas dan berprinsip. Hal ini divisualisasikan dalam simbolisasi makna topeng Dewi Sekartaji. Nilai-nilai tersebut juga telah dicontohkan oleh perjuangan Kartini melalui emansipasi wanita untuk menuntut keadilan bagi kaum perempuan melalui ranah sektor publik, khususnya di bidang pendidikan. Karya seni “Wening” karya Dyan Anggraini Rais merupakan salah satu bentuk refleksi diri yang dibutuhkan oleh setiap individu di era ini, khususnya perempuan, untuk lebih mengenal dirinya sendiri dan menyadari konstruksi sosial yang telah membentuk dirinya selama ini
Virtual Reality Video as An Exhibition Design Idea in Response to The Covid Pandemic
Although the Covid-19 pandemic is still occurring in Indonesia in 2021, it does not become an obstacle for the artist to continue to innovate both creating and exhibiting their work. One of the innovations in organizing art activities is to switch the format from physical exhibitions to virtual exhibitions during the pandemic. The creation of the 360 video-based virtual exhibition “Estetika Sanggit” using 3D animation as a response to the pandemic is based on the concept of User-Centered Design. This research uses a descriptive-qualitative method with a phenomenological approach. The use of this methodology is to discuss the designer’s subjective experience in integrating multiplatform technology (3D animation, 360° video, and Virtual Reality) in designing a virtual exhibition that is “friendly” to visitors. The results of this research show that the designer succeeded in creating a 360° video virtual exhibition that greatly facilitates users in accessing and enjoying the virtual exhibition as if enjoying a physical exhibition. This is evident in the presentation of the virtual exhibition and is obtained from the positive impressions of visitors to this virtual video. These positive impressions demonstrate IDE Studio’s success in designing products that meet user needs. Meskipun pandemi Covid-19 masih terjadi di Indonesia pada tahun 2021, tidak menjadi penghambat bagi seniman untuk terus berinovasi baik berkarya maupun memamerkan hasil karyanya. Salah satu inovasi dalam menyelenggarakan kegiatan kesenian adalah beralih formatnya pameran fisik ke pameran virtual di masa pandemi. Penciptaan pameran virtual “Estetika Sanggit” berbasis video 360 dengan menggunakan animasi 3D sebagai respon menghadapi pandemi didasarkan pada konsep User-Centered Design. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penggunaan metodologi ini untuk membahas pengalaman subjektif desainer dalam mengintegrasikan teknologi multiplatform (3D animation, 360° video, dan Virtual Reality) pada perancangan pameran virtual yang “ramah” terhadap pengunjung. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa desainer berhasil menciptakan pameran virtual video 360 yang sangat memudahkan pengguna dalam mengakses serta menikmati pameran virtual tersebut layaknya menikmati pameran fisik. Hal ini tampak pada sajian pameran virtualnya dan didapatkan dari kesan positif para pengunjung video virtual ini. Kesan positif tersebut menunjukkan keberhasilan IDE Studio dalam merancang produk yang sesuai dengan kebutuhan pengguna
Photography Poetry as A Hybrid Art Work
Photography Poetry is a form of creative expression that combines literary and visual elements to create powerful and inspiring works of art. This research develops an art creation method using photography media to explore meaning directed towards poetry literary works, as a manifestation of the potential of poetry photography as a hybrid work of art. This creation aims to explore the process of making poetry photography, explore how to compose poetry words based on the visual elements of photography, and analyze how poetry photography works can be understood and enjoyed by the audience. Explore and develop methods used in creating hybrid works of art, using Roland Barthes’ theory of visual meaning. Producing unique and profound works of art, which are able to communicate meaning and emotion in a more complex way than words or images alone. An in-depth analysis of the results of the creation of this work reveals that poetry photography is a medium that allows artists to convey emotional and intellectual messages in a deeper and broader way. Poetic photography shows that hybrid art is a bridge between different types of creative expression, creating engaging experiences and changing the way we view art in a broader context. It is hoped that this research will become a basis for further development in the field of artistic and literary photography, as well as inspiring artists/researchers to continue exploring the boundaries of creativity in poetry photography. Fotografi Puisi merupakan bentuk ekspresi kreatif yang menggabungkan unsur-unsur sastra dan visual untuk menciptakan karya seni yang kuat dan menginspirasi. Penelitian ini mengembangkan metode penciptaan seni menggunakan media fotografi untuk menggali pemaknaan yang diarahkan untuk karya sastra puisi, sebagai wujud potensi fotografi puisi sebagai karya seni hibrida. Penciptaan ini bertujuan untuk menjelajahi proses pembuatan fotografi puisi, mengeksplorasi cara menyusun kata-kata puisi berdasarkan elemen visual fotografi, serta menganalisis bagaimana karya fotografi puisi dapat dipahami dan dinikmati oleh penonton. Menggali dan mengembangkan metode yang digunakan dalam menciptakan karya seni hibrida, menggunakan teori pemaknaan visual dari Roland Barthes. Menghasilkan karya-karya seni yang unik dan mendalam, yang mampu mengkomunikasikan makna dan emosi dengan cara yang lebih kompleks daripada kata-kata atau gambar sendiri. Analisis mendalam terhadap hasil penciptaan karya ini mengungkapkan bahwa fotografi puisi merupakan medium yang mampu memungkinkan seniman untuk menyampaikan pesan emosional dan intelektual dengan cara yang lebih mendalam dan luas. Fotografi puisi menunjukkan bahwa seni hibrida adalah jembatan antara berbagai jenis ekspresi kreatif, menciptakan pengalaman yang menarik dan mengubah cara kita melihat seni dalam konteks yang lebih luas. Diharapkan penelitian ini akan menjadi landasan untuk pengembangan lebih lanjut dalam bidang fotografi seni dan sastra, serta menginspirasi para seniman/peneliti untuk terus menggali batas-batas kreativitas dalam fotografi puisi
The Role of Nyi Ageng Serang in Guerilla Strategy of Diponegoro War: An Inspiration for Choreography Work
One of the female heroines from Central Java who are less well known nationally apart from Cut Nyak Din, Maria Tinahahu and Kartini is Nyi Ageng Serang or Kustiah Wulaningsih Retno Edi. She was known as female war tacticians belonging to the Yogyakarta and Diponegoro palaces. Kustiah inherited warrior spirit from his father, Panembahan Notoprojo, commander and comrade in arms of P. Mangkubumi who led him to become Sultan Hamenku Buwana I. Kustiah also joined Bregada Nyai and received military education at Yogyakarta palace. While staying at the palace, she read a lot of ancient manuscripts in the library and married to Raden Sundoro, the crown prince. She felt that living in the palace was felt boring, so that when her father died, Kustiah returned to Serang to lead the struggle against the Dutch. She attained her knowledge about war tactics from both ancient texts and her battle experience. Her belief as Muslim descendant of Sunan Kalijaga believing Al-Qur’an also led her to be brave. at the age of 73, Nyi Ageng Serang withdrew from the battlefield and died in 1828. She was buried in Serang, then moved to Kulonprogo. Nyi Ageng Serang’s struggle based on intelligence and Islamic beliefs has inspired the choreographer to choreograph a dance revealing the secrets of Nyi Ageng Serang’s becoming expert of guerrilla war strategy. The moves come from Javanese dance which is soft but heroic and agile. The work involves 3 dancers, one as Nyi Ageng Serang while the other 2 dancers as soldiers. The dance music is composed based on contemporary Javanese sampled via MIDI and the makeup is also Javanese style during Islamic era. The scenography is in the form of a wide white backdrop cloth which can express the metaphor of the war atmosphere in silhouette combined with an animated video. This choreography was recorded by using long take and one shot techniques and carried out on a proscenium stage equipped with lighting. The duration of the video dance is around 8 minutes. Pahlawan wanita dari Jawa Tengah yang kurang dikenal secara nasional seperti pahlawan wanita Cut Nyak Din, Maria Tinahahu dan Kartini yaitu Nyi Ageng Serang atau Kustiah Wulaningsih Retno Edi. Tercatat dalam sejarah sebagai wanita ahli siasat perang yang dimiliki kraton Yogyakarta dan Diponegoro. Kustiah mewarisi darah pejuang dari ayahanda Panembahan Notoprojo, panglima sekaligus sahabat seperjuangan P. Mangkubumi yang menghantarkan hingga menjadi Sultan Hamenku Buwana I. Kustiah juga sempat bergabung pada Bregada Nyai mendapat pendidikan kemiliteran di keraton Yogyakarta, selama di keraton banyak membaca naskah kuno di perpustakaan. Saat di keraton bertemu dan sempat menikah dengan Raden Sundoro putra mahkota, namun hidup di keraton terasa membosankan dan dikekang oleh peraturan, maka pada saat ayahnya wafat Kustiah punya alasan untuk kembali ke Serang memimpin perjuangan melawan Belanda. Pengetahuan tentang taktik perang banyak diperoleh dari naskah kuno yang dibaca selain dari pengalamannya terjun ke medan laga. Ditambah keyakinannya sebagai umat Islam keturunan Sunan Kalijaga, bahwa semua penindasan terhadap manusia secara keji tidak sesuai dengan ayat suci Al- Quran yang menjadi pegangan hidup Kustiah. Maka penjajah harus nusnah di atas bumi. Nyi Ageng Serang di usia 73 tahun mundur dari medan perang dan pada tahun 1828 wafat dimakamkan di Serang, kemudian dipindah ke Kulonprogo. Perjuangan yang didasari kecerdasan dan penguasaan syariat Islam Nyi Ageng Serang mengilhami koreografer untuk mengkoreografikan sebuah garapan tari yang mengungkap rahasia sehingga mampu menjadi ahli strategi perang gerilya. Geraknya bersumber dari tari Jawa yang lembut namun bernuansa heroik, tangkas dan trengginas. Ditarikan oleh 3 penari, yang satu sebagai Nyi Ageng Serang sedang 2 penari lainnya sebagai prajurit. Musik tari dikomposisikan berdasar kontemporer Jawa yang disampling melalui MIDI. Rias Busana juga masih bernuansa Jawa pada zaman Islam. Skenografi berupa kain backdrop warna putih lebar yang bisa mengekspresikan metafor suasana perang secara siluet yang di padukan dengan video yang imajinatif. Koreografi ini divideokan dengan teknik long take dan one shot untuk untuk dramatika serta estetika bahasa gambar. Perekaman video dilakukan di proscenium stage yang dilengkapi tata cahaya. Durasi tari video sekitar 8 menit
Viewing Body Memory Awareness as Self-Reflection
The process of self-control abilities contained in a person requires an important role in interaction with other people and the environment in order to form a mature self-control process. This is necessary because researchers try to apply body reflexes to self-control to find an emotional identity that gives rise to awareness, processes a person’s physical, psychological and behavioral traits, in other words a series of processes that shape one’s identity. Demonstrate full awareness of the impact of every action taken to achieve balance and calm in self-control without strong external control. Researchers try to apply the concept of Balinese culture, namely Sad Ripu. The harmony referred to here is the relationship between the elements in a practice. Based on the main Sad Ripu (six enemies) that exist within humans themselves. Researchers try to present it as an entertainment space in the art of dance. Proses kemampuan pengendalian diri yang terdapat pada seseorang memerlukan peranan penting interaksi dengan orang lain dan lingkungannya agar membentuk proses pengendalian diri yang matang, hal tersebut dibutuhkan karena peneliti mencoba menerapkan refleks tubuh pada sebuah pengendalian diri untuk mencari sebuah jati diri terhadap emosional yang memunculkan sebuah kesadaran, proses fisik, psikologis, dan perilaku seseorang, dengan kata lain serangkaian proses yang membentuk jati diri. Memperlihatkan kesadaran penuh akan dampak dari setiap tindakan yang diambil untuk mencapai keseimbangan dan kedamaian dalam pengendalian diri tanpa kendali eksternal yang kuat. Peneliti mencoba menerapkan konsep kebudayaan Bali yakni Sad ripu. Keselarasan yang dimaksud disini adalah bagaimana hubungan antara unsur-unsur yang ada pada sebuah laku. Berdasarkan dari Sad Ripu (enam musuh) utama yang ada di dalam diri manusia itu sendiri. Peneliti mencoba menghadirkan sebagai ruang pertunjukan dalam seni tari