1,721,463 research outputs found
LANDASAN FILSAFIAH BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM TUT WURI HANDAYANI
ABSTRAK
Sugiyanto. (2023). Landasan Filsafiah Bimbingan dan Konseling dalam Tut Wuri Handayani
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan rumusan landasan filsafiah bimbingan dan konseling yang terkandung dalam tut wuri handayani, yang secara khusus penelitian ini bertujuan menghasilkan rumusan faktual tentang : latar belakang pemikiran dari Ki Hadjar Dewantara mengenai konsep pendidikan yang memunculkan tut wuri handayani, hakikat manusia yang terkandung dalam tut wuri handayani, pandangan tentang kehidupan manusia yang terkandung dalam tut wuri handayani, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tut wuri handayani, penerapan nilai-nilai luhur tut wuri handayani dalam bimbingan dan konseling serta rumusan bimbingan dan konseling yang berlandaskan nilai-nilai luhur Tut Wuri Handayani. Jenis penelitian ini yaitu jenis penelitian kualitatif dengan model fenomenologi. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu hermeneutika fenomenologi. Teknik pengumpulan data menggunakan studi literatur, wawancara dan observasi. Subjek penelitian terdiri dari sumber tertulis, tokoh Tamansiswa, tokoh pendidikan, ahli bimbingan dan konseling, guru dan guru bimbingan dan konseling. Analisis data menggunakan Interptetatif Phenomenological Analisys. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantara dilatar belakangi oleh situasi dan keadaan pada jamannya yaitu di masa penjajahan Belanda dengan adanya diskriminasi dalam memperoleh pendidikan, mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang berorientasi nasional Indonesia, memandang manusia merupakan mahluk hidup yang dari unsur jasmani dan rohani (badan wadag dan badan halus) dimana masing-masing memerlukan pemenuhan kebutuhan yang berbeda, manusia dipandang sebagai mahluk individu sekaligus mahluk sosial, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tut wuri handayani tercermin dari perilaku pamong dalam menerapkan tri logi kepemimpinan, nilai-nilai luhur tut wuri handayani telah diterapkan di jenjang sekolah dasar Taman Muda, SMP Taman Dewasa, SMA Taman Madya dan SMK Taman Karya di bawah Yayasan Persatuan Perguruan Tamansiswa cabang Kapanewon Jetis, Kota Yogyakarta, menghasilkan kerangka hipotetik rumusan bimbingan dan konseling yang berlandaskan nilai-nilai luhur Tut Wuri Handayani. Rekomendasi hasil penelitian meliputi nilai-nilai luhur tut wuri handayani dapat dijadikan materi pelayanan terkait penerapan bimbingan dan konseling di sekolah berbasis kearifan lokal dan multikultur, Guru bimbingan dan konseling dapat mengembangkan konsep pendidikan dari Ki Hadjar Dewantara khususnya dalam kegiatan bimbingan dan konseling, rumusan bimbingan dan konseling yang berlandaskan nilai-nilai luhur Tut Wuri Handayani dapat menjadi panduan pelaksanaan pendidikan di sekolah Tamansiswa khususnya bidang bimbingan dan konseling.
Kata Kunci: Landasan filsafiah, bimbingan dan konseling, Tut wuri handayani
ABSTRACT
Sugiyanto. (2023). The Philosophical Foundation of Guidance and Counseling Contained Within Tut Wuri Handayani.
This research aims to formulate the philosophical foundation of guidance and counseling contained within tut wuri handayani, with specific objectives to derive factual formulations regarding: the background of Ki Hadjar Dewantara's thoughts on the educational concept that emphasize the values of tut wuri handayani, the essence of human nature encapsulated in tut wuri handayani, the human worldview inherent in tut wuri handayani, the noble values embedded in tut wuri handayani, the application of these noble values in guidance and counseling, as well as the formulation of guidance and counseling grounded in the noble values of tut wuri handayani. This research is classified as qualitative research using a phenomenological model. The method employed was phenomenological hermeneutics. Data collection techniques encompassed literature reviews, interviews, and observations. The research subjects involved written sources, figures from Tamansiswa, educational figures, guidance and counseling experts, and guidance and counseling teachers. Data analysis was conducted through interpretative phenomenological analysis.
Ki Hadjar Dewantara's educational initiatives were motivated by the circumstances and conditions during the Dutch colonial period, where in discrimination prompted the need for accessible education and fostered a nationalistic orientation in Indonesian education. Human beings are perceived as living entities composed of physical and spiritual elements (the corporeal body and the subtle body), each requiring distinct needs for actualization. Humans are viewed as both individuals and social beings. The noble values encapsulated in tut wuri handayani are reflected in the behavior of pamong in applying the trilogy of leadership. The noble values in tut wuri handayani have been implemented within the educational institutions of Taman Muda elementary school, Taman Dewasa middle school, Taman Madya high school, and Taman Karya vocational school under the auspices of the Tamansiswa Teachers' Association in Jetis, Yogyakarta. Recommendations from the research encompass the integration of the noble values of tut wuri handayani into learning materials for guidance and counseling application in schools that emphasize local wisdom and multiculturalism, guidance and counseling teachers can further develop Ki Hadjar Dewantara's educational concepts particularly within guidance and counseling activities, the formulation of guidance and counseling can serve as a framework for educational implementation within Tamansiswa schools, particularly in the realm of guidance and counseling.
Keyword: Philosophical Foundation, Guidance and Counseling, Tut Wuri Handayani
Analisis nilai-nilai karakter dalam Tut Wuri Handayani sebagai asas pendidikan nasional
Penelitian ini bertujuan mengkaji nilai-nilai karakter yang terkandung dalam Tut Wuri Handayani. Tut wuri handayani merupakan suatu asas dan landasan pendidikan yang mengandung makna bahwa sebagai pendidik harus memfasilitasi setiap anak (peserta didik) untuk mencapai tingkat perkembangan yang utuh dan optimal. Pendekatan penelitian ini yaitu pendekatan fenomenologi. Metode penelitian ini menggunakan metode hermeneutika fenomenologi yang diarahkan pada pengalaman hidup dan untuk menafsirkan "teks" kehidupan. Teknik pengumpulan data melalui library research dan wawancara. Sumber data dalam penelitian terdiri dari tulisan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang tut wuri handayani dan wawancara tokoh Tamansiswa. Analisis data menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semboyan tut wuri handayani terdapat nilai-nilai karakter yang dapat dikembangkan pada aspek tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, dan ing ngarsa sung tuladha sebagai landasan pendidik dalam teori dan praksis Pendidikan. Semboyan Tut wuri handayani tepat diterapkan dalam sistem pendidikan nasional, yang mampu merangsang anak (peserta didik) melakukan belajar secara merdeka dengan menghindarkan perilaku yang tidak sesuai dengan aturan dan norma. Kata kunci : tut wuri handayani, nilai-nilai karakter, pendidikan
PEMANFAATAN LABORATORIUM IPA PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI KELAS X SMA TUT WURI HANDAYANI MAKASSAR
NATANIEL TANGNGI, 2013, Pemanfaatan Laboratorium IPA pada mata pelajaran biologi siswa kelas X SMA Tut Wuri Handayani Makassar. Skripsi. Dibimbing oleh Drs. M.T Parumbuan M.Si dan Dr. Nurhikmah H. S. Pd. M.Si; Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar.
Studi ini menelaah pemanfaatan laboratorium IPA pada mata pelajaran biologi kelas X SMA Tut Wuri Handayani Makassar. Laboratorium merupakan sarana penunjang dalam proses pembelajaran siswa di sekolah bahkan sebagai salah satu sumber belajar, Pemanfaatan laboratorium harus dimanfaatkan secara optimal sebagai penunjang kualitas lulusan dengan memadukan konsep dengan empirik (realita), aspek teoritis dengan praktis, dan aspek pengetahuan dengan keterampilan. Adapun Fokus masalah adalah (1) bagaimana pemanfaatan laboratorium IPA pada mata pelajaran biologi kelas X SMA Tut Wuri Handayani Makassar. (2) apakah ada kendala-kendala dalam pemanfaatan laboratorim IPA. (3) upaya apa yang di lakukan untuk mengatasi kendala dalam pemanfaatan laboratorium. Tujuan penelitian yaitu untuk mendenskripsikan pemanfaatan laboratorium dengan seluruh fasiltasnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif, di mana data yang diperoleh dari beberapa pihak sekolah, diantaranya guru dan siswa kelas Xa yang berjumlah 30 di SMA Tut Wuri Handayani Makassar. Adapun instrument penelitian yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Setelah melalui proses pengelolahan data dengan menggunakan deskriptif-kualitatif, diketahui hasil penelitian yaitu, pemanfaatan laboratorium IPA pada sekolah Tut Wuri Handayani Makassar telah di manfaatakan dengan baik dalam menunjang proses belajar siswa, pengelolaan dan fasilitas yang ada di laboratorium telah memadai. Pembelajaran biologi yang dilakukan di laboratorium IPA dapat berjalan dengan efektif, dilihat dari kegiatan pembelajaran biologi yang menyenangkan siswa serta dapat memotivasi siswa selama proses belajar mengajar. Berdasarkan hasil penelitian ini maka peneliti menyimpulkan bahwa: (1) pemanfaatan laboratorium IPA pada sekolah Tut Wuri Handayani Makassar dilihat dari kondisi maupun kegiatan belajar siswa di laboratorium, sudah dimanfaatkan dengan baik dalam menunjang kegiatan belajar siswa kelas X, (2) kendala yang dihadapi dalam pemanfaatan laboratorium IPA yaitu sebagian siswa belum terampil dalam menggunakan fasiltas yang tersedia, (3) guru selalu memberikan pendekatan dan bimbingan terhadap siswa yang menghadapi kendala belajar di laboratoriu
ANALISIS TINGKAT KESEHATAN PADA KOPERASI KPRI TUT WURI HANDAYANI PALEMBANG
Laporan ini bertujuan untuk mengetahui Tingkat Kesehatan pada Koperasi KPRI Tut Wuri Handayani Palembang berdasarkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor 06/Per/Dep.6/IV/2016 dengan menggunakan tujuh rasio penilaian yaitu rasio permodalan, rasio kualitas aktiva produktif, rasio manajemen, rasio efisiensi, rasio likuiditas, rasio kemandirian dan pertumbuhan, dan rasio jatidiri koperasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 3 tahun yaitu periode tahun 2015-2017 Kesehatan Koperasi KPRI Tut Wuri Handayani Palembang mendapatkan predikat “cukup sehat”. Dari 7 rasio penilaian, rasio manajemen, rasio efisiensi, rasio likuiditas, dan rasio kemandirian dan pertumbuhan adalah rasio yang terbaik dibandingkan rasio penilaian yang lainnya. Hal ini dibuktikan dengan hasil perolehan yang telah memenuhi standar. Sedangkan, rasio permodalan, rasio kualitas aktiva produktif, dan rasio jatidiri koperasi adalah rasio yang kurang baik. Hal ini ditunjukkan dengan skor yang belum memenuhi standar
Analysis of Early Reading Ability of Children in Group B of Kindergarten Tut Wuri Handayani Samahani Aceh Besar
Reading is an activity of following a series of writings arranged in a linear manner. Experience is an important aspect of the reading process. Children who have a lot of experience will have a wider opportunity in developing an understanding of vocabulary in reading. The formulation of the problem in this study, what activities are done in training beginning reading skills in group B in TK Tut Wuri Handayani Samahani Aceh Besar. How is the description of beginning reading ability in group B in TK Tut Wuri Handayani Samahani Aceh Besar. What are the obstacles faced by teachers in teaching beginning reading skills to group B children in TK Tut Wuri Handayani Samahani Aceh Besar. The purpose of this study is to see a picture of the activities given to children in group B in TK Tut Wuri Handayani Samahani Aceh Besar. To see the beginning reading ability in group B children in TK Tut Wuri Handayani Samahani Aceh Besar. To find out the obstacles faced by teachers on the ability to read beginning in group B children in TK Tut Wuri Handayani Samahani Aceh Besar. The type of research is Qualitative research The instrument used is an interview, the sample size is 1 principal and 2 classroom teachers. The results show that beginning reading is very important for early childhood which will be the foundation of the beginning of reading. Teachers who teach at TK Tut Wuri Handayani Aceh Besar, are very understanding about the development of children's reading and also teachers at TK Tut Wuri Handayani Aceh Besar always encourage children by providing creative media that can attract children's attention in beginning reading so that teachers provide reading learning start by using a system of play while learning
IMPLEMENTASI KONSEP TUT WURI HANDAYANI DALAM PENDIDIKAN : Studi Kasus di Sekolah Dasar Negeri 4 Batulawang Kecamatan Pataruman Kota Banjar
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara relevensinya dengan implementasinya terhadap praktek pendidikan. Namun dikhususkan penelitian ini mencakup: (1) Menganalisis cara mengimplementasikan Konsep Tut Wuri Handayani terhadap proses pembelajaran di sekolah, (2) Menganalisis kendala pelaksanaan implementasi peranan guru menurut Konsep Tut Wuri Handayani. (3) Menemukan upaya dalam mengatasi kendala dalam pelaksanaan implementasi peranan guru menurut Konsep Tut Wuri Handayani. Kegiatan penelitian yang nertujuan untuk memecahkan masalah yang terjadi saat ini dalam hal pendidikan dengan memunculkan kembali jati diri pendidikan bangsa Indonesia yang tidak lepas dari kearifan lokal bangsa Indonesia. Objek Penelitian Adalah Pemikiran Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan subjek dalam penelitian ini adalah guru. Teknik yang digunakan dalam pengambilan data adalah observasi, wawancara, dan dokumen. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis data dengan langkah-langkah, reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian tentang Implementasi Konsep Tut Wuri Handayani dalam Pendidikan Di SDN 4 Batulawang, ditarik kesimpulan; 1) implementasi Ki Hajar Dewantara dalam pendidikan guru berperan sebagai motivator, pembimbing, memberi jalan untuk mengarah kepada manusia yang dicita-citakan agama, bangsa dan Negara sudah tampak dalam proses pembelajarannya 3) Hambatan yang ditemui dalam menerapkan Implementasi Konsep Tut Wuri Handayani dalam Pendidikan terdapat dua faktor yang diantaranya adalah faktor internal atau faktor yang berasa dari dalam sekolah dan faktor eksternal atau faktor yang berasal dari luar sekolah. Faktor yang berasal dari dalam sekolah meliputi sumber daya manusia dalam hal ini pendidik atau guru, Sarana dan prasarana yang disediakan sekolah, dan kemampuan siswa itu sendiri; 3) Upaya sekolah untuk mengatasai beberapa hambatan adalah dengan mengembangkan sumber daya manusia dalam hal ini pendidik atau guru melalui pembinaan, Diklat pendidikan, dan pemberian tugas tambahan bagi guru.
Kata kunci: Implementasi, Konsep Tut Wuri Handayani, Pendidikan
ABSTRACT
In general, this study aims to obtain a description of the educational KI Hajar Dewantara relevance to the teacher's implementation of educational practices. However devoted this study include: (1) analyzing how to implement the concept of Tut Wuri Handayani to the learning process at school, (2) to analyze the obstacles implementation of the role of teachers by concept of Tut Wuri Handayani. (3) Finding efforts to overcome obstacles in implementing the role of teachers according to Education Trilogy according to concept of Tut Wuri Handayani. Research Activities Aimed To Solve Problems that occur at this time in terms of education to bring back the identity of the Indonesian nation education can not be separated from the indigenous people of Indonesia. Research Object Is National Education Thought Ki Hajar Dewantara. This research use descriptive approach with subject in this research is principal, teacher. Techniques used in data collection are observation, interviews, and documents. In this research the researcher uses data analysis technique with steps, data reduction, data presentation, and conclusion. Based on the results of research on the concept of Tut Wuri Handayani In SDN 4 Batulawang, drawn conclusions; 1) The implementation of concept of Tut Wuri Handayani in sdn 4 Batulawang still has implemented the whole education system as proclaimed in the unity of Indonesian education according to Ki Hajar Dewantara; 2) Ki Hajar Dewantara implementation in teacher education acts as a motivator, mentor, giving way to lead the human aspired to religion, nation and state, 3) Obstacles encountered in implementing the concept of Tut Wuri Handayani there are two factors which are internal factors or factors that come from the inside of the school and the external factor or factors that come from outside the school. Factors that come from within the school include the human resources in this case the educator or teacher, the facilities and infrastructure provided by the school, and the student's own ability; 3) Attempts to overcome some obstacles school is to develop human resources in this case educators or teachers through training, education training, and the provision of additional duties for teachers.
Keywords: Implementation, Concept Tut Wuri Handayani, Educatio
Community Empowerment through the Application of Tut Wuri Handayani to Organizational Leaders in Indonesia and Malaysia
These activities aims to provide an explanation of the application of Tut Wuri Handayani to SME leaders in Yogyakarta consisting of SMEs Pottery & Ceramic Crafts "Dwiyanto Ceramic, UMKM Azka Furniture Bantul, Rama Putra Motor Bantul, and Community Learning Center (CLC) in Malaysia. Community development activity method uses direct and remote observation by utilizing the zoom application with interview techniques. The concept used is the concept of Tut Wuri Handayani to help problems in the field and solutions for leaders in achieving organizational goals. The solution used, holding webinars and training workshops offline and online. The observation results can implement the leadership attitude of Tut Wuri Handayani in the Pottery & Ceramic Craft SME "Dwiyanto Ceramic, UMKM Azka Furniture Bantul, Rama Putra Motor Bantul, and Community Learning Center (CLC)
KONSEP TUT WURI HANDAYANI DALAM PEMBELAJARAN PRAKTIK DI SMKN 5 YOGYAKARTA
Konsep Tut wuri handayani tidak lepas dari Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, yang berarti di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, dan di belakang memberi dorongan. Ketiga konsep ini dikenal dengan Trilogi Ki Hajar Dewantara, menjadi satu kesatuan yang membentuk seorang pemimpin atau pendidik dalam perusahaan atau sekolah. Hubungan konsep Tut wuri handayani dalam praktik pembelajaran yaitu, mengarahkan peserta didik pada kemandirian yang kelak akan mampu berkarya dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan deskriftif, observasi, wawancara, dan dokumen. Pendekatan ini meninjau suatu permasalahan yang ditimbulkan saat pembelajaran praktik berlangsusug. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Tutwuri handayani relevan digunakan dalam pembelajaran praktik di SMKN 5 Yogyakarta. kelemahan konsep Tut wuri handayani karena menggunakan bahasa Jawa, karena Indonesia terdiri dari berbagai suku dan bahasa. Meskipun demikian, seorang pemimpin yang baik akan cenderung menggunakan konsep yang telah ditetapkan oleh Ki Hajar Dewantara. Kata Kunci : Konsep Tut wuri handyani, Pembelajaran Prakti
MELALUI PEMBELAJARAN IPS ANAK KELAS III SD DENGAN KONSEP TUT WURI HANDAYANI PENINGKATAN NILAI NASIONALISME
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatan nilai nasionalisme melalui pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial pada anak kelas III Sekolah Dasar Negeri Beji IV tahun pelajaran 2017/2018 dengan penerapan konsep Tut Wuri Handayani. Jika pemahaman konsep pembelajaran IPS meningkat maka hasil belajar IPS juga meningkat. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Beji IV yang beralamatkan di Jl. Rodowo No.02 Beji Kabupaten Pasuruan-Jawa Timur Penelitian ini dilakukan pada bulan maret sampai bulan april 2018. Jenis penelitian peneliti merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam 2 siklus dari kedua siklus masing-masing siklus melalui 4 tahapan antara lain: Perencanaan, Tindakan, Pengamatan dan Refleksi. Obyek penelitian Nilai Nasionalisme menggunakan pembelajaran IPS dengan penerapan konsep Tut Wuri Handayani. Subjek penelitiam adalah guru dan siswa kelas III SD Negeri Beji IV Pasuruan tahun pelajaran 2017/2018 yang berjumlah 30 siswa. Sumber data peneliti adalah kepala sekolah dan dewan guru di SD Negeri Beji IV dengan mengambil data pada saat observasi di SDN Beji IV dari kata dan tindakan dewan guru. Peneliti mengumpulkan data dengan cara pengamatan, wawancara, serta menggunakan dokumen dan dokumentasi selama kegiatan penelitian berlangsung. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, Tut Wuri Handayani adalah menerapkan sistem among. Sistem among tersebut yaitu menerapkan pendidikan sebagai sistem menuntun anak didik (ngemong), seperti hubungan orangtua dan anak saat dalam keluarga. Mendidik siswa di Sekolah Dasar dengan penerapan konsep Tut Wuri Handayani adalah memberikan sustu kemandirian pada anak didik agar mereka dapat menciptakan garis hidup atau nasibnya sendiri
Penerapan Konsep Tut Wuri Handayani di Taman Madya Malang Studi Kasus dalam Pembelajaran Sejarah kelas XI pada Semester Genap 2013/2014
ABSTRAKWicaksono, G. S. 2014. Penarapan Konsep Tut Wuri Handayani di Taman Madya Malang Studi Kasus dalam Pembelajaran Sejarah Kelas XI pada Semester Genap 2013/2014. Skripsi, Program Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Aditya Nugroho Widiadi, S.Pd., M.Pd. (II) Dra. Yuliati, M. Hum.Kata Kunci: Tut Wuri Handayani, SMA Taman Madya Malang, Pembelajaran SejarahTut Wuri Handayani adalah simbol dan lambang pendidikan di Indonesia. Pentingnya konsep Tut Wuri Handayani ternyata tidak diimbangi dengan penerapannya dan tidak sesuai dengan yang diharapkan Ki Hajar Dewantara. Guru mempunyai peran yang sangat penting dalam Tut Wuri Handayani bukan hanya sebagai pengajar tetapi lebih sebagai pendidik. Guru diharapkan utuh dalam pelaksanaan pembelajarannya yaitu sebagai teladan, sebagai pendorong, dan sebagai pendukung. Dengan konsep Tut Wuri Handayani tersebut anak diberi kebebasan penuh baik jiwa dan raganya supaya dapat menemukan kodrat alamnya sendiri. Banyaknya permasalahan tentang pelaksanaan konsepTut Wuri Handayani, penulis ingin mengetahui dan menggali kembali bagaimana Tut Wuri Handayani yang sebenarnya dengan melakukan penelitian ke sekolah yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu Taman Madya Malang.Penelitian di Taman Madya Malang ini berusaha untuk mengetahui kesesuaian antara teori Tut Wuri Handayani dengan pemahaman para pamong di Taman Madya Malang dan pelaksanaannya dalam pembelajaran sejarah. Mengacu pada permasalahan penelitian di atas dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut: 1). Bagaimana sejarah dan profil Taman Madya Malang? 2). Bagaimana pemahaman pamong tentang konsep Tut Wuri Handayani di Taman Madya Malang? 3). Bagaimana penerapan konsep Tut Wuri Handayani oleh pamong di Taman Madya Malang dalam pembelajaran sejarah?.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Sumber data penelitiannya adalah kepala sekolah dan para pamong di Taman Madya Malang dengan mengambil data dari kata-kata dan tindakan para pamong. Pengumpulan data yang dilakukan peneliti dengan cara pengamatan, wawancara, serta penggunaan dokumen dan foto selama kegiatan penelitian di Taman Madya Malang. Analisis data penelitian ini menggunakan model interaktif, yang terdiri dari tahapan reduksi, display dan konklusi.Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh dua kesimpulan hasil penelitian. Pertama, menurut pemahaman para pamong di Taman Madya Malang, Tut Wuri Handayani adalah penerapan dari Sistem Among. Sistem Among pada dasarnya adalah menempatkan pendidikan sebagai proses menuntun anak (ngemong), seperti hubungan orang tua dan anak dalam keluarga. Mendidik anak didik dengan konsep Tut Wuri Handayani adalah memberi kebebasan kepada anak supaya dapat menemukan kodratnya sendiri. Pemberian kebebasan juga harus dibekali cipta, rasa dan karsa, supaya anak mempunyai kematangan pada jiwanya. Hasil dari pelaksanaan konsep Tut Wuri Handayani diharapkan anak dengan sendirinya menjadi mandiri dan disiplin.Kedua, penerapan konsep Tut Wuri Handayani oleh pamong sejarah di Taman Madya Malang diwujudkan dalam bentuk pemberian kebebasan kepada anak didik dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Pemberian kebebasan tersebut bertujuan supaya anak belajar sendiri dari sumber-sumber pelajaran sejarah. Selain itu, anak juga dibekali cipta, rasa dan karsa sehingga tanpa disadari anak didik yang sudah dibekali dengan cipta, rasa dan karsa serta pemandirian dengan Tut Wuri Handayani menjadikan anak disiplin.
- …
