1,721,238 research outputs found

    Studi tentang wayang beber karaya pak wiyadi

    No full text
    A. Tujuan: 1. Untuk mengklasifikasi dan mendokumentasia wayang beber karya pak Wiyadi. 2. Untuk mengetahui lebih dekat dan mendalam tentang ragam hias, teknik sunggingan, figur manusia yang ada pada wayang beber karaya pak Wiyadi. 3. Untuk mengetahui sejauhn manakah pengaruh wayang beber yang "asli" terhadap wayang beber karya pak Wiyadi. B. Proses pembuatan wayang: a, tahap pertama membuat media gambarnya. untuk wayang beber pacitan dan wonosari menggunakan kertas jawa, tetapi pak wiyadi untuk pembuatan wayang beber menggunakan kanvas yang dibuat sendiri.caranya kain dipentang paca kayu lalu di beri lem kayu (rakol) sampai merata, setelah kering di lapisi plamir dempul sampai kain yang sudah lemnya tertutup semua. sesudah kering di amplas sampai halus baru kemudian diberi cat tembok berulang- ulang sampai mencapai ketebalan yang dikehendaki, dan jadilah kanvas. b. lebih kurang satu malam kanvas sedah bisa di lepas dari pentangan lalu dirapikan dan di beri garis tepi untuk pembatas bidang gambar. kanvas yang sudah di beri garis tepi diatasnya diberi kertas karbon dan atasnya lagi di beri kertas kalkir yanga sudah ada gambar sketnya. baru kemudian ditindas dengan ballpoint persis seperti gambar yang ada dikertas kalkir.pak wiyadi biasanya hanya membuat figur-figur wayang saja yang ada di kertas kalkir. sedang ragam hiasnya disketsendiri oleh pak wiyadi. setelah di seket langkah selanjutnya adalah proses pewarna. yang pertama di beri warna adalha bidang dasaran dan blok serta rambut. baru setelah itu di beri warna emas. biasanya pak wiyadi memebri warna emas pada tokoh wayang tertentu, misalnya wayang golongan satria dan putri, tepi daun-daun atau motif-motif lainnya agar gambar menjadi lebih hidup, tahap terakhir dalam pewarnaan adalah proses penyunggihan, hampisr semua motif dapat sunggihan, bahkan tepikain tokoh wayang dan atributnya juga di sungging. untuk muka-muka tokoh wayang ada yang putih dan ada yang di cat bewarna serta ada yang diberi warna emas. hal ini di sesuaikan dengan adegan yang sedang berlangsun

    Wuku Jawa Dalam Lukisan Kaca Wiyadi

    Full text link
    Masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang ada di tiap proses kehidupan. Mereka memiliki keinginan untuk menyatu dengan sesama dan lingkungan alam di sekitamya dengan menggunakan pikiran, naluri, perasaan serta keinginan. Masyarakat Jawa yang kompleks dengan berbagai agama, masih menjunjung tinggi kepercayaan animisme dan dinamisme dengan pengaruh Hindhu yang kuat, kemudian diserap serta ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa. Tingkah laku masyarakat Jawa didasari pada tingkah spiritual dan pengenalannya terhadap sejarah, pada akhirnya menghasilkan ciri khas sebuah produk kesenian tentang pelajaran manusia sebagai bentuk perkembangan tubuhnya yang mempengaruhi tingkat cara pemikirannya. Hasil-hasil pemikiran dan tingkah Laku spiritual manusia dikembangkan menjadi budaya dengan tujuan untuk kelangsungan peradaban . Manusia menggunakan simbol-simbol dalam peradabannya, dikarenakan terkait dengan tata pemikiran atau paham yang mengikuti pola-pola kehidupan yang melingkupinya. Aktifitas dan hasilnya menjadi budaya mengandung nilai seni terangkum dalam dunia penuh simbol. Warisan simbolisme terdapat dalam setiap karya budaya nenek moyang dan berperan sebagai salah satu warisan budaya Jawa hingga kini masih digunakan yaitu wuku. Wuku merupakan salah satu warisan leluhur masyarakat Jawa karena mempunyai peran dalam mempengaruhi kehidupan manusia dan tuntunan di dalam perwajahan wuku. Kemunculan gambaran wuku Jawa dalam bentuk lukisan kaca dan figur wayang sangat menarik, selain masyarakat Jawa bisa menikmati penggambaran yang artistik, memudahkan masyarakat untuk memahami tentang perihal wuku dengan segala ciri khasnya pada masing-masing wuku. Selain itu, Wiyadi , perupanya memiliki latar belakang pendidikan seni rupa dan keluarga pekerja seni, sehingga membuat lukisan kaca ini mengandung nilai historis-filosofis melalui ide dan proses kreatif perupanya.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif memakai metode deskriptif­ analitik, dengan mengambil sampel karya lukis kaca wuku Jawa Wiyadi. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, studi literatur, wawancara mendalam dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan mengumpulkan dan mengkaji semua data yang ada. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan mengadakan pembacaan dan pengamatan langsung di lapangan terhadap semua data disesuaikan dengan sunber primer penelitian. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Faktor internal dan ekstemal sangat mempengaruhi tingkat kreativitas seorang seniman dalam proses kreatif, (2) Lukisan kaca wuku Jawa Wiyadi mengalami banyak perkembangan tetapi tidak lepas dari pakem wayang kulit gaya Surakarta yaitu Purwa Mangkunegaran, (3) Wiyadi memadukan unsur-unsur wayang Purwa dan Beber Panji dalam pengisian penggarnbaran wuku Jawa di dalam Lukis kacanya

    Membina akidah dan akhlak, 3 : untuk kelas III Madrasah Ibtidaiyah./ Wiyadi

    No full text
    xii, 116 hal. : ill. :tab. ; 25 cm

    LUKISAN KANVAS JAKA TARUB KARYA WIYADI DALAM KAJIAN FEMINISME PERIODE AWAL (EARLY FEMINISM)

    Full text link
    Jaka Tarub adalah salah satu cerita rakyat berasal dari Jawa Tengah yang menceritakan seorang pemuda yang mengintip bidadari yang sedang mandi di hutan lalu mengambil selendang salah satu bidadari hingga menjadikannya seorang istri. Pada umumnya cerita rakyat mengisahkan tentang suatu kejadian di suatu tempat atau asal muasal suatu tempat. Penggambaran cerita rakyat dikemas dalam susunan teks (uraian) berupa dongeng dan biasanya dilengkapi dengan ilustrasi. Versi cerita Jaka Tarub beragam tetapi inti cerita sama, selain itu penggambaran pun juga beragam ada yang dilukiskan dalam figur manusia realis, kartun dan wayang. Salah satu penggambaran cerita ini yaitu menggunakan figur wayang Beber Panji dengan media kanvas. Versi cerita tersebut menjadi modal awal penulis ingin mengkaji lebih jauh lukisan Jaka Tarub karya Wiyadi, karena penulis melihat ada pembacaan lain terkait figur-figur yang ditampilkan kemudian menghadirkan contoh lukisan karya Basuki Abdullah dengan judul yang sama. Lukisan Jaka Tarub ini dibuat dengan cita rasa lukisan tradisional dapat dilihat dari penggunaan figur wayang Beber Panji, gradasi pewarnaan, penambahan atribut pada figur dan hiasan berupa ornamen, isen-isen dan bentuk hayati yang distilisasi. Wiyadi ialah seorang pelukis wayang Beber yang menggambarkan Jaka Tarub dengan figur wayang beber. Wiyadi masih produktif hingga saat ini, tidak hanya wayang beber dan cerita rakyat yang dibuatnya, tetapi juga penggambaran wuku Jawa (perlintangan) atau lebih biasa dikenal dengan zodiak (Barat) dan shio (Timur). Semua hasil karya seni lukisnya mengacu pada figur wayang baik Beber Panji maupun Purwa gaya Surakarta. Penulis tertarik untuk mengkaji lebih jauh melalui pembacaan visual karya ini dengan menggunakan sudut pandang Feminisme Periode Awal (Early Feminism) dikarenakan terkait dengan penggambaran figur tokoh-tokohnya. Jaka Tarub is one of folklore from Central Java who tells a young man peeking nymph bathing in the woods and take shawl one angel to make him a wife. In general folklore tells of an incident in a place or origin somewhere. Depiction of folklore packed in the arrangement of text (description) in the form of fairy tales and usually equipped with an illustration. Jaka Tarub diverse versions of the story, but the core story of the same, but it was also a variety of existing depictions portrayed in realistic human figures, cartoons and puppets. One depiction of this story is to use a Wayang Beber figure on canvas. The story version became the start authors wanted to examine further “Jaka Tarub” painting which created by Wiyadi, because the authors saw no other reading of the relevant figures shown then presents examples of paintings by Basuki Abdullah with the same title. Jaka Tarub painting was made with flavors of traditional painting can be seen from usage the figure of Wayang Beber, gradation of color, adding attributes and ornament to the figure, Isen-Isen and biological stylized form. Wiyadi is a Wayang Beber painter who depicts Jaka Tarub with the figure of Wayang Beber. Wiyadi still productive today, not only Wayang Beber and folklore are made, but also depictions Javanese wuku (perlintangan) or more commonly known as the zodiac (the West) and the zodiac (the East). All the works of his art refers to Wayang Beber Panji figure either Wayang Beber Purwa in Surakarta style. Authors interested to study further through a visual reading of this work by using the viewpoint of Early Feminism studies due to the depiction of figures associated with the characters

    ASPEK PENOKOHAN DALAM CERITA BERSAMBUNG “LEDHEK KETHEK” KARYA SUGENG WIYADI (Suatu Tinjauan Psikologi Sastra)

    Full text link
    Latar belakang dari penelitian ini adalah : Cerbung Jawa merupakan hasil karya pengarang Jawa modern yang telah menjadi salah satu genre sastra dalam khasanah kesusastraan Jawa baru, Adanya perubahan karakter pada masingmasing tokoh menarik untuk diteliti, melalui pendekatan psikologi sastra dapat mengungkapkan proses kejiwaan para tokohnya sehingga dapat diperoleh nilai dan makna secara keseluruhan. Masalah yang dibahas dalam penelitian cerbung ini antara lain struktur yang membangun pada cerbung karya Sugeng Wiyadi yang berjudul Ledhek Kethek yang meliputi : tema, alur, penokohan, latar, dan amanat. Dinamika dan proses kejiwaan para tokoh dalam cerbung Ledhek Kethek. Makna dan Nilai yang terkandung dalam cerita bersambung Ledhek Kethek. Penelitian ini bertujuan : mendeskripsikan struktur yang membangun dari cerbung karya Sugeng Wiyadi, mendeskripsikan aspek psikologi sastra cerbung karya Sugeng Wiyadi yang di dalamnya terkandung proses kejiwaan para tokohtokohnya, mendeskripsikan makna dan nilai cerbung dalam kehidupan yang terkandung dalam cerbung Ledhek Kethek. Manfaat yang dicapai dalam penelitian terdiri dari dua hal, yaitu manfaat secara teoritis dengan harapan dapat memperkaya ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang studi karya sastra Jawa. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penelitian selanjutnya, serta dapat digunakan sebagai pengetahuan masyarakat dalam memahami perubahan, kontradiksi dan penyimpangan-penyimpangan lain yang terjadi dalam masyarakat khususnya dalam kaitannya dengan psike. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan struktural dan pendekatan psikologi sastra. Pendekatan struktural diambil karena cerbung merupakan bentuk karya sastra yang di dalamnya mengandung unsur-unsur pembangun seperti tema, alur, penokohan, latar, dan amanat. Pendekatan psikologi sastra digunakan untuk mengetahui unsur ekstrinsik dari cerbung tersebut yaitu kondisi kejiwaan para tokohnya Bentuk penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, yaitu datadata yang dikumpulkan berupa kata-kata dalam kalimat. Sumber data dari penelitian ini adalah cerita bersambung dengan judul Ledhek Kethek karya Sugeng Wiyadi yang dimuat dalam harian Suara Merdeka tanggal 1 sampai 24 Oktober 2004. Adapun data yang dipakai dalam penelitian ini ada dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primernya yaitu unsur-unsur intrinsik serta aspek psikologi sastra dalam teks cerita bersambung Ledhek Kethek karya Sugeng Wiyadi. Data sekunder dalam penelitian berupa buku-buku referensi yang menunjang, hasil wawancara serta biografi dari pengarang. Langkah-langkah yang dilakukan untuk mencapai tujuan dari penelitian ini adalah dengan menggunakan studi pustaka yaitu mengumpulkan data-data dari sumber tertulis. Wawancara digunakan untuk mengetahui biografi pengarang. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan teknik analisis interaktif yang berpijak pada empat tahap, yaitu : Deskripsi data, Analisis data, Interpretasi data, Evaluasi data. Analisis dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa cerbung karya Sugeng Wiyadi yang berjudul Ledhek Kethek memiliki unsur-unsur pembangun seperti tema, alur, penokohan, latar, serta amanat yang saling terkait secara utuh. Kedua, cerbung tersebut secara ekstrinsik mengungkapkan tentang kondisi / proses kejiwaan dari para tokohnya yang terdiri dari id, ego serta super ego. Tokoh Bandhot merupakan tokoh yang pada awalnya memiliki kondisi kejiwaan yang ideal antara id, ego, dan super ego, demikian pula dengan tokoh Bandiyem. Namun setelah bertemu dengan Bandhit, mantan pekerja sirkus kota yang baru pulang ke desa, banyak memberi perubahan dan perkembangan pada karakter Bandhot. Pada awalnya mereka dapat bekerja sama mendirikan sirkus Ledhek Kethek, namun lama kelamaan Bandhit yang merasa iri dengan Bandhot yang memiliki kehidupan yang jauh dari problematika, membuatnya tega merebut Bandiyem, istri Bandhot. Bandiyem yang semula mencintai Bandhot, karena keresahannya belum memiliki keturunan menjadi rela diperistri Bandhit. Tetapi pada akhirnya semua berakhir dengan fatal, yaitu Bandhot menjadi gila, Bandiyem menderita karena menyesali perbuatannya dan Bandhit pun semakin menderita karena tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Ketiga, lingkungan mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan/pembentukan karakter individu, yaitu dalam pembentukan super ego. Lingkungan sosial (hubungan individu) juga berpengaruh terhadap perubahan karakter masingmasing tokoh, terutama sebagai pemberi stimulus eksternal. Keempat, secara umum melalui analisis psikologi sastra, dapat diketahui makna dan nilai cerbung secara keseluruhan dalam kehidupan, yaitu seseorang perlu berhati-hati dalam kehidupan (menjalin hubungan dengan orang lain), selain itu juga mengisyaratkan pentingnya menjaga kondisi yang ideal antara id, ego dan super ego, sehingga individu tetap dapat memenuhi kebutuhannya tanpa harus meninggalkan/ melanggar norma yang ada dalam masyarakat

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore