1,720,977 research outputs found
PENITIR
Karya komposisi “Penitir” terinspirasi dari ajaran baik yang ada dalam cerita wayang kulit, dan diekspresikan melalui keprak. Keprak sebagai media pembawa suasana, mulai dari suasana tenang, lucu, hingga suasana tegang. Keprak juga berfungsi sebagai aba-aba (intruksi) interaksi antara dalang dan pengrawit. Sebagian seniman dalang banyak yang membahas tentang dodogan dan keprakan sebagai bagian pakeliran, akan tetapi pembahasan yang mendalam tentang keprak dan fungsi lainnya jarang ditemukan. Oleh karena itu, penyusun telah mengkreasikan keprak menjadi sebuah instrumen musik baru dengan bentuk sajian yang berbeda.Suara keprak semakin tidak terdengar oleh penonton, sehingga seorang dalang semakin ringan dalam memainkan keprak karena bunyi-bunyi keras sudah diwakili dengan instrumen lain, dari hal tersebut penyusun mencoba menggali sumber bunyi keprak untuk menjadi karya musik baru, yaitu “Penitir”
BRATASTUTI: SALAH SATU UPAYA MANUSIA JAWA DALAM MENCAPAI KESEMPURNAAN
Karya “Bratastuti” adalah pertunjukan musik, yang mengangkat sebuah perjalanan hidup manusia dalam melakukan penyembahan terhadap sang pencipta alam semesta, dengan tujuan ngudi kasampurnaning urip sehingga seorang manusia mampu mengolah rasa, dan mendapatkan ketentraman batin. Penyembahan tersebut dilakukan dengan cara melakukan tapa. Karya ini diciptakan karena dianggap mampu memberikan nilai religiusitas yang mendalam bagi pelaku seni maupun para penghayatnya. Berdasarkan observesi dan wawancara mendalam tentang tema yang diangkat, dapat dipetik bahwa “Bratastuti” adalah perilaku tapa (penyembahan) yang meliputi hubungan manusia dengan dirinya sendiri (mikrokosmos), hubungan manusia dengan alam semesta (makrokosmos), dan hubungan manusia dengan Tuhan (metakosmos). Ketika seorang manusia telah merasa memiliki keseimbangan dalam ketiga hubungan tersebut, berarti ia sudah mampu mengolah rasa, sehingga lebih mudah dalam menjalankan misi untuk mencapai kesempurnaan (ngudi kasampurnan). Dari penjelasan di atas dijadikan sebagai pijakan karya musik “Bratastuti” sehingga terciptalah 4 bagian suasana musik, sebagai perwakilan perasaan manusia ketika hendak menuju proses tapa. Bagian tersebut adalah “Sungkawa”, “Sengsem”, “Pamurtya”, dan “Kasidhan”
KEBIJAKAN POLITIK DALAM NEGERI INDONESIA PADA MASA KABINET DJUANDA 1957-1959
Kabinet “Karya” Djuanda merupakan kabinet terakhir pada masa demokrasi parlementer (1950-1959). Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut, (1) Mendeskripsikan latar belakang kehidupan, pendidikan dan karier Ir. Djuanda, (2) Mengetahui proses terbentuknya Kabinet Karya dengan Ir. Djuanda sebagai perdana menteri, (3) Menganalisis kebijakan politik dalam negeri beserta pelaksanaannya pada masa Kabinet Djuanda antara tahun 1957-1959, (4) Menganalisis tingkat keberhasilan pelaksanaan kebijakan politik dalam negeri pada masa Kabinet Djuanda tahun 1957-1959, dan (5) Mengetahui proses berakhirnya Kabinet Djuanda.
Penelitian ini menggunakan metode sejarah kritis yang terdiri beberapa tahapan. Langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan topik penelitian. Tahapan kedua adalah heuristik atau pengumpulan sumber penelitian baik sumber primer maupun sekunder yang sesuai dengan kebutuhan penelitian. Tahapan ketiga, kegiatan verifikasi atau kritik sumber yang terdiri dari kritik ekstern untuk menilai otentisitas sumber sedangkan kritik intern untuk menilai kredibilitas isi sumber. Tahapan selanjutnya adalah interpretasi yaitu proses menafsirkan fakta sejarah yang telah ditemukan dan tahapan terkahir adalah historiagrafi yang merupakan puncak dari penelitian sejarah yaitu kegiatan menyusun fakta-fakta menjadi cerita sejarah yang disusun secara teratur, sistematik, dan kronologi Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut, (1) Latar belakang keluarga, pendidikan dan karier Djuanda sebelum menjadi Perdana Menteri yang pernah bekerja sebagai guru, pegawai di jawatan kereta api, dan menteri dibeberapa Kabinet. (2) Terbentuknya Kabinet Djuanda yang dinamakan Kabinet Karya menggantikan Kabinet Ali Sastroamidjojo II yang mengundurkan diri. (3) Kebijakan politik dalam negeri Kabinet Djuanda terdiri dari beberapa hal namun mengandung maksud yang luas. Kabinet ini berusaha untuk memperkuat pemerintahan (pembentukan Dewan Nasional), menormalisasikan keadaan karena keamanan yang tidak kondusif akibat daerah-daerah yang bergolak, pembebasaan Irian Barat dan memperbaiki keadaan ekonomi. (4) Tingkat keberhasilan Kabinet Djuanda belum menunjukkan ketercapaian yang signifikan terutama di bidang politik, keamanan dan ekonomi. Dan (5) Kabinet Djuanda demisioner karena dikeluarkannya Dekrit Presiden Soekarno pada 5 Juli 1959.
Kata Kunci: Kebijakan Politik Dalam Negeri, Kabinet Djuanda, Tahun 1957-195
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Pembelajaran SBdP pada Materi Karya Seni Anyaman untuk Mengembangkan Kreativitas Siswa Sekolah Dasar
This study aims to describe the process of learning Arts, Culture, and Crafts (SBdP) on the subject of woven artwork and analyze how these activities can develop students' creativity in elementary schools. The research method used is descriptive qualitative. Data were obtained through observation, interviews, and documentation. The study was conducted at SD Negeri 4 Prambatan Kidul with a fifth-grade teacher and all fifth-grade students, totaling 25 people. This study serves to determine how SBdP learning develops the creativity of elementary school children. The results show that SBdP learning on woven artwork material is implemented through several stages, namely explaining basic concepts, introducing woven motifs, showing videos of the weaving process, and direct practice using paper materials. Students showed high enthusiasm, actively asked questions, and produced works with a variety of motifs and colors. Practice-based and visual learning helps students understand art concepts concretely which can foster creativity. Thus, SBdP learning on woven material can be an effective means to foster creativity, imagination, and fine motor skills in elementary school students
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
