1,722,775 research outputs found
Dampak pembangunan perumahan betur terhadap masyarakat kampong persik, pangkal pinang bangka/ oleh Handy Widianto
abstrak (A) Nama : Handy Widianto (NIM 205040110) (B) Juduk skripsi : Dampak pembangunan perumahan betur terhadap masyarakat Kampung Persik, Pangkalpinang, Bangka. (C) Halaman : viii + 62 + lampiran + 2008 (D) Kata kunci : Dampak pembangunan perumahan Betur, Hukum Lingkungan. (E) Isi : Pada penulisan skripsi ini membahas tentang suatu dampak pembangunan, dimana ada seorang pengusaha yang ingin membangun sebuah perumahan dengan berdasarkan izin yang diberikan pemerintah tetapi tanpa mengadakan pendekatan partisipatif dengan masyarakat,sehingga dari tindakannya tersebut banyak sekali timbul dampak setelah bangunan tersebut selesai dikerjakan yang salah satunya adalah sumber mata air disekitar penduduk tersebut menjadi rusak, hal ini terbukti setelah diadakan penelitian bahwa daerah tersebut adalah hutan yang ditebang dan diratakan untuk membuat perumahan tersebut. Namun dari permasalahan tersebut penduduk disekitar kampung meminta pertanggung jawaban kepada pemerintah agar segera mengambil tindakan walaupun bangunan tersebut tidak melewati batas. (F) Acuan : 12 (1984 - 2000) (G) Pembimbing : Soetan Budhi SS, SH, M
Sistem Digital: Analisis, Desain dan Implementasi
Buku ini membahas dasar-dasar sistem digital mulai dari konsep, analisis, perancangan, implementasi dan evaluasi rangkaian logika. Konsep dan analisis rangkaian logika meliputi gerbang logika, ekspresi dan persamaan logika, aljabar Boolean, representasi bilangan digital dan operasi aritmetika. Perancangan (sintesis) ditujukan untuk menghasilkan rangkaian logika yang optimal (seringkali minimal) dengan menyederhanakan persamaan logika menggunakan aljabar Boolean, peta Karnaugh dan metode tabular Quine-McKluskey. Perancangan juga dilakukan untuk menghasilkan rangkaian kombinasional dan/atau sekuensial. Perancangan rangkaian sekuensial sinkron dilakukan menggunakan mesin keadaan terbatas (FSM, finite state machine) model Moore dan Mealy. Teknologi implementasi diarahkan menggunakan chip standar TTL (transistor-transistor logic). Evaluasi rangkaian dilakukan untuk menverifikasi desain rangkaian lewat pengujian atau menggunakan program bantu simulator
DEKONSTRUKSI MAKNA MASKULINITAS DALAM IKLAN MS GLOW FOR MEN VERSI BABE CABITA DAN MARSHEL WIDIANTO
Mochammad Rizky Hafiyyan Faza. 2217500046. DEKONSTRUKSI MAKNA MASKULINITAS DALAM IKLAN MS GLOW FOR MEN VERSI BABE CABITA DAN MARSHEL WIDIANTO. SKRIPSI. Pembimbing I : Ike Desi Florina M.I.Kom. Pemibimbing II : Sarwo Edy M.I.Kom. Program Studi Ilmu Komunikasi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Pancasakti Tegal.
Iklan merupakan suatu alat promosi yang dapat memberikan opini dan stigma yang terjadi dimasyarakat. Sebagai contoh adalah iklan produk perawatan kulit khusus laki-laki. Konstruksi yang terjadi dimasyarakat adalah bentukan dari media dan brand sesuai dengan citra yang ingin dibentuk oleh suatu brand mengenai laki-laki maskulin. Definisi laki-laki maskulin yang terbentuk dimasyarakat yaitu laki-laki harus bertubuh atletis, berkulit putih, dan berwajah tampan. Penelitian ini memiliki rumusan masalah yaitu bagaimana dekonstruksi makna maskulinitas dalam iklan Ms Glow For Men versi Babe Cabita dan Marshel Widianto. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dekonstruksi makna maskulinitas yang ada pada iklan Ms Glow for Men versi Babe Cabita dan Marshel Widianto dengan menggunakan teori analisis wacana kritis Norman Fairclough.
Hasil penelitian menunjukan bahwa : (1) terdapat dekonstruksi maskulinitas dalam iklan Ms Glow for Men versi Babe Cabita dan Marshel Widianto. (2) Ms Glow for Men melalui iklannya ingin merubah konstruksi sosial yang ada dimasyarakat mengenai laki-laki maskulin. (3) Ms Glow for Men ingin memperlihatkan bahwa laki-laki bebas dalam menentukan dirinya untuk menampilkan yang terbaik tanpa memperdulikan konstruksi sosial yang ada. (4) Ms Glow for Men melalui iklannya menggambarkan bahwa laki-laki juga membutuhkan perawatan kulit
Peran Video dan Motion Editor dalam Yovie Widianto Music Factory
Seiring dengan perkembangan jaman, penggunaan konten audio visual semakin banyak digunakan untuk kebutuhan penyampaian informasi, pemasaran, begitu juga dalam pembuatan suatu karya. Tidak hanya perusahaan, bisnis atau brand saja yang ingin terus berkembang, artis, khususnya musisi pun juga ingin terus berkembang. Melalui penggunaan konten audio visual, artis dapat menyebarluaskan informasi mengenai lagu barunya, berkomunikasi kepada para penggemarnya, dan bahkan mendapat penggemar baru. Salah satu perusahaan yang membuat konten audio visual untuk artis adalah Yovie Widianto Music Factory (YWMF). Penulis melakukan magang di YWMF dikarenakan YWMF sendiri dekat artis-artis seperti Yovie Widianto, Kahitna, dan 5Romeo, sehingga penulis memiliki kesempatan yang besar untuk terlibat dalam pembuatan karya audio visual mereka, serta membantu penulis untuk mengeksplorasi ide-ide kreatif dengan terjun ke dalam industri kreatif. Penulis melakukan magang di YWMF sebagai video dan motion editor. Penulis memiliki tanggung jawab dalam hal pascaproduksi konten audio visual, mulai dari editing hingga motion graphic. Penulis bertanggung jawab dalam penyampaian pesan yang dilakukan melalui proses editing dan motion graphic kepada para konsumen. Melalui kegiatan magang di Yovie Widianto Music Factory (YWMF), penulis berharap dapat mengeksplorasi ide-ide kreatif melalui konten audio visual yang dibuat, dan juga dapat menambah portofolio penulis sendiri
Perancangan Materi Promosi "Written by Yovie Widianto" di Yovie Widianto Music Factory (YWMF)
Yovie Widianto Music Factory atau PT Swara Infia Mediacom merupakan perusahaan yang menyediakan jasa berupa layanan label rekaman, manajemen artis, penerbitan, dan pengembangan kreatif untuk artis dan musisi, brand, dan korporasi. Selama perusahaan ini berdiri, telah banyak penghargaan yang diperoleh karena kontribusinya. Penulis memutuskan untuk melakukan kegiatan magang di perusahaan ini karena ingin mempelajari dan menambah pengalaman dalam mengerjakan proyek di industri musik. Selama magang di YWMF, penulis ditempatkan pada posisi sebagai Graphic Designer di divisi Creative Development Officer yang mengerjakan desain materi promosi serta proyek lainnya seperti release material, ilustrasi untuk lyric video, konten media sosial, dan lain sebagainya
MITOS MALE BEAUTY STANDRAD DALAM IKLAN MS GLOW MEN VERSI BABE CABITA DAN MARSHEL WIDIANTO DI INSTAGRAM
Abstract
The concept of male beauty standard is a concept of the handsome standards that indonesians have entrusted men with. The concept of male beauty standard was never far from a physical trait deemed worthy of esteem or admiration. In this study, the writer's concept of male beauty standard is reflected in the Ms. Glow men version of babe cabita and marshel widianto AD on instagram. Where the AD did claim to have created a new male beauty standard concept that did not judge men by any physical description. The purpose of this study is to find out how the myth of the male beauty standard concept in the skincare glow version of babe cabita and marshel widianto AD is. That way the author knows the truth of our claims made by Ms. Glow for men through those ads. The study involves a qualitative approach and data collected using Roland barthes' semiotics method. There are three aspects of emphasis: dennotation, connotation and myth to analyze elements that were never seen in the skincare glow version of Babe Cabita and Marshel Widianto. Research shows that the Ms. Glow men version of Babe Cabita and Marshel Widianto AD in instagram just overshadow the meaning of the male beauty standard concept that if it can't meet one standard there is another standard. Because there is still a hegemonic element in the AD by promoting the benefits of Ms. Glow men that can whiten the skin.
Keywords: Male Beauty Standard, MS.Glow Men Version Babe Cabita and Marshel Widianto AD, Roland Barthes Semiotics, Hegemonic.Abstrak
Konsep male beauty standard merupakan konsep mengenai standar ketampanan yang telah dipercaya masyarakat Indonesia untuk dilabelkan kepada kaum laki-laki. Konsep male beauty standard tidak pernah jauh dari ciri fisik yang dianggap pantas untuk dihargai maupun dikagumi. Dalam penelitian ini, konsep male beauty standard yang menjadi perhatian penulis adalah yang terkandung dalam iklan MS Glow Men Versi Babe Cabita dan Marshel Widianto di Instagram. Di mana iklan tersebut melakukan klaim telah menciptakan konsep male beauty standard baru yang tidak menghakimi pria dengan ciri fisik apapun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana mitos konsep male beauty standard yang ada dalam iklan skincare MS Glow versi Babe Cabita dan Marshel Widianto. Dengan begitu penulis akan mengetahui kebenaran klaim yang dilakukan oleh MS Glow For Men melalui iklan tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan data dikumpulkan menggunajan metod semiotika Roland Barthes. Di mana terdapat tiga aspek penandaan yaitu denotasi, konotasi, dan mitos untuk menganalisa unsur yang tidak pernah disadari dalam iklan skincare MS Glow versi Babe Cabita dan Marshel Widianto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklan MS Glow Men Versi Babe Cabita dan Marshel Widianto di Instagram hanya menggeser makna konsep male beauty standard bahwa jika tidak dapat memenuhi satu standar maka terdapat standar lain yang harus dipenuhi. Sebab masih terdapat unsur hegemoni dalam iklan tersebut dengan mempromosikan manfaat skincare MS Glow Men yang salah satunya dapat memutihkan kulit.
Kata kunci: Male Beauty Standard, Iklan MS Glow Men Versi Babe Cabita dan Marshel Widianto, Semiotika Roland Barthes, Hegemoni
Pengaruh Brand Ambassador Marshel Widianto, dan Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian Produk MS Glow
This research aims to determine the influence of brand ambassador Marshel Widianto and brand image on purchasing decisions for MS Glow products. The variables used in this research are brand ambassador Marshel Widianto, brand image and purchasing decisions for MS Glow products. The data used is primary. The population in this study were all people who met the research criteria. The sampling technique used was the purposive sampling method and 100 respondents were obtained according to the research criteria. Hypothesis testing was carried out using multiple linear regression analysis. The research results obtained show that brand ambassador Marshel Widianto has a positive and significant influence on the decision to purchase MS Glow products, and brand image has a positive and significant influence on the decision to purchase MS Glow product
Komodifikasi Musik Bertema Cinta: Pertunjukan Yovie Widianto “Billion Songs Concert and Festival”
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian terhadap komodifikasi Yovie Widianto pada pertunjukan Billion Songs Concert and Festival dalam konteks komodifikasi musik bertema cinta pada Industri Kebudayaan Massa oleh Theodor W. Adorno. Masalah penelitian yang diangkat adalah bagaimana strategi Yovie Widianto mengkomodifikasi karyanya dalam bentuk pertunjukan ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Data dikumpulkan melalui observasi langsung pada lokasi pertunjukan, wawancara dengan Yovie Widianto, serta analisis berbagai dokumen terkait seperti materi promosi, artikel berita, dan data streaming. Pertunjukan ini sebagai contoh studi kasus karena menggambarkan fenomena komersialisasi musik bertema cinta dalam industri musik masa kini. Aspek komersialisasi ini dapat terlihat dari seleksi lagu-lagu populer, kolaborasi dengan berbagai musisi populer, yang meningkatkan antusiasme dan daya tarik masyarakat serta menunjang penjualan tiket yang tinggi. Penelitian ini akan melihat bagaimana lagu-lagu bertema cinta dijadikan komoditas, dengan fokus pada model karya yang disajikan, strategi komodifikasi, dan pengaruh komersialisasi terhadap nilai artistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses komodifikasi musik bertema cinta melibatkan pemilihan lagu hits, kolaborasi musisi, dan strategi promosi yang menyatukan antusiasme dan daya tarik masyarakat terhadap pertunjukan. Implikasi dari temuan ini adalah bahwa strategi komodifikasi yang digunakan berhasil meningkatkan popularitas dan eksposur Yovie Widianto, serta mengukuhkan posisi musik bertema cinta sebagai komoditas yang bernilai dalam industri musik masa kini.The Commodification of Love-Themed Music: Yovie Widianto's Performance “Billion Songs Concert and Festival”AbstractThis research aims to study the commodification of Yovie Widianto in the Billion Songs Concert and Festival performance within the context of the commodification of love-themed music in the Mass Culture Industry by Theodor W. Adorno. The research problem addressed is how Yovie Widianto's strategies in commodifying his works through this performance. This study employs a qualitative method with approaches including observation, interviews, and document analysis. Data were collected through direct observation at the performance venue, interviews with Yovie Widianto, and analysis of various related documents such as promotional materials, news articles, and streaming data. The performance serves as a case study example because it illustrates the phenomenon of commercialization of love-themed music in the current music industry. This commercialization aspect is evident from the selection of popular songs, and collaborations with various popular musicians, which enhance public enthusiasm and appeal, and support high ticket sales. This research examines how love-themed songs are commodified, focusing on the model of works presented, commodification strategies, and the impact of commercialization on artistic value. The results of the study show that the commodification process of love-themed music involves the selection of hit songs, musician collaborations, and promotional strategies that unite public enthusiasm and appeal for the performance. These findings imply that the commodification strategies used have successfully increased Yovie Widianto's popularity and exposure, and have cemented the position of love-themed music as a valuable commodity in today's music industry.Keywords: The commodification of music; Yovie Widianto; Billion Songs Concert and Festival; Mass Cultural Industr
Peran Creative Officer dalam Yovie Widianto Music Factory
Selama masa pandemi, industri kreatif mengalami perubahan yang signifikan. Konten audio visual menjadi sebuah hal yang menjadi penggerak perusahaan. Sosial media menjadi sasaran bagi konten audio visual tiap perusahaan karena dengan meningkatnya kebutuhan konten audio visual masyarakat menjadi lebih sering untuk menggunakan gawai pribadi. Dengan memanfaatkan masyarakat yang sering memakai gawai, perusahaan melihat hal itu sebagai kesempatan untuk tetap berkembang dan bertahan walaupun saat pandemi. Salah satu perusahaan yang memanfaatkan ini adalah Yovie Widianto Music Factory (YWMF). YWMF memegang banyak artis besar seperti Yovie Widianto, Kahitna, juga Yovie & Nuno, oleh karena itu penulis memilih untuk magang di YWMF agar mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan artis-artis tersebut. Penulis melakukan magang di YWMF sebagai videographer dan photographer. Tetapi pada praktiknya, penulis mendapat berbagai jobdesc yang berhubungan dengan industri kreatif. Penulis mendapatkan tanggung jawab dari development, pra produksi, produksi, dan pasca produksi. Dalam YWMF sendiri, setiap anggotanya disebut sebagai creative officer, karena itu penulis lebih memilih untuk sebutan creative officer dibandingkan dengan videographer dan photographer. Penulis bertanggung jawab untuk mengambil gambar bergerak maupun diam juga memproses semuanya sampai menjadi sebuah karya audio visual. Melalui kegiatan magang di YWMF, penulis berharap untuk memperkaya skill yang sudah dimiliki penulis sebelumnya dan memperluas koneksi yang penulis yakini dapat berguna di masa depan nantinya
- …
