756 research outputs found
HUBUNGAN ANTARA STRES KERJA DENGAN RETENSI PADA KARYAWAN PT. ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK DI JAKARTA
SENO AJI WIBOWO. The Correlation Between retention With job stress of PT. Enseval Putera Megatrading, Tbk employees, Jakarta. Study Program of Commerce Education, Department of Economics and Administration, Faculty of Economics, State University of Jakarta.
The purpose of this research is to obtain the empirical data and the valid and reliable facts on the relationship between retention and job stress at PT. Enseval Putera Megatrading, Tbk employees. The research method used is survey method with the correlational approach. Population in this research is all of PT. Enseval putera megatrading Tbk employees, where as the possible populations who employees of penjualan dan distribusi farmasi division PT. Enseval Putera Megatrading, Tbk amounting to 44 people. The technique which is used in gathering the sample was simple random sampling about 40 people.
To capture data from these two variables are used questionnaire Likert scale models for job stress (variable X) and retention (Variable Y). Before the instrument is used to tested the validity for both variables. For variable X, from 26 points statement, after statement validated there are 3 points that drop invalid, while meeting the criteria or a valid statement consists of 23 points. For variable Y, From 28 points statement, after statement validated contained 3 points that drop invalid, while meeting the criteria or invalid items comprised 25 statements. Reliability calculation of both variables using Cronbach Alpha formula.
The resulting of the regression equation is Ŷ=175,98-1.00X. Requirements analysis test of the normality test error of estimated regression of Y on X to produce Lcount lilliefors test=0,1381, while the Ltable for n= 40 at 0.05 significant level is 0.1401. Because the LcountFtable, which is 51.9>4.10, meaning that the regression equation is significant. Correlation coefficient of Pearson Product Moment generating rxy=-0,759, then performed the test significance correlation coefficient using the t test and the resulting tcount=-7,176 and Ttable=1,68. It can be concluded that the correlation coefficient rxy=-0,759 is significant. The coefficient of determination obtained for 57,54% which shows that 57,54% of the variation of retention is determined by the job stress
ANALISIS PERTIMBANGAN MAJELIS HAKIM DALAM MEMUTUS PERKARA TINDAK PIDANA PENCABULAN SESAMA JENIS DI PENGADILAN NEGERI SURAKARTA
SENO WIBOWO GUMBIRA, E 0003297, ANALISIS PERTIMBANGAN
MAJELIS HAKIM DALAM MEMUTUS PERKARA TINDAK PIDANA
PENCABULAN SESAMA JENIS DI PENGADILAN NEGERI
SURAKARTA, Penulisan Hukum, 2007.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis pertimbangan majelis
hakim dalam memutus perkara tindak pidana pencabulan sesama jenis di
Pengadilan Negeri Surakarta, dan juga hambatan-hambatan majelis hakim dalam
memutus tindak pidana pencabulan sesama jenis. Penelitian ini dilihat dari
tujuannya termasuk jenis penelitian hukum empiris bersifat deskriptif dengan
menggunakan metode kualitatif. Sumber data berasal dari sumber data primer
yaitu hasil wawancara dengan para hakim yang bertugas di Pengadilan Negeri
Surakarta. Sumber data sekunder yaitu buku, literatur, peraturan perundang-
undangan, laporan, arsip. Setelah data diperoleh lalu dilakukan analisis data
kualitatif dengan model interaktif.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan maka
disimpulkan bahwa. pertimbangan majelis hakim dalam memutus perkara tindak
pidana pencabulan sesama jenis di pengadilan negeri surakarta, yang mana
pertimbangan tersebut meliputi segi terbukti atau tidaknya tindak pidana yang
didakwakan dan apakah telah memenuhi asas minimum pembuktian, hal-hal yang
meringankan dan yang memberatkan terdakwa, dan hukuman yang patut
dijatuhkan, serta rasa keadilan bagi korban dan keluarganya. Dalam putusan
perkara tersebut terdapat beberapa keganjilan yaitu dari segi hukuman yang di
berikan oleh terdakwa sangat tidak memenuhi rasa keadilan, pada
pertimbangannya majelis hakim telah mengabaikan pertmbangan dari segi
sosiologis, psikologis terdakwa, dan edukasi terdakwa dan lingkungan dimana
terdakwa tinggal dan dibesarkan sehingga tidak mencerminkan nilai-nilai
sosiologis, filosofis, yuridis. Sebagaimana kita ketahui putusan hakim adalah
puncak dari nilai-nilai keadilan, hak asasi manusia, mumupuni serta penguasaan
hukum dan fakta, jadi harus mencerminkan nilai-nilai sosiologis, filosofis, yuridis
.Pada pertimbangan putusan perkara tindak pidana pencabulan sesama jenis
tersebut dalam hal ini apakah telah mencerminkan nilai-nilai sosiologis, filosofis,
yuridis, serta seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara serta memenuhi
rasa keadilan dalam masyarakat. Selain itu dalam penulisan hukum ini juga
penulis sampaikan mengenai hambatan-hambatan majelis hakim dalam memutus
tindak pidana pencabulan sesama jenis di pengadilan negeri surakarta. .
Majelis Hakim sebelum menjatuhkan putusan hendaknya menguji terlebih
dahulu terhadap putusan yang akan di jatuhkan dengan the 4 way test berupa:
Benarkah putusannya, Jujurkah aku dalam mengambil putusan, Adilkah bagi
pihak-pihak yang bersangkutan serta bermanfaatkah putusan ini, serta
diperlukannya lembaga eksaminasi di setiap pengadilan negeri di seluruh
Indonesia yang beranggotakan dari elemen mahasiswa dan praktisi hukum agar
putusan yang di buat oleh hakim telah sesuai dengan asas-asas hukum yang
berlaku baik dari segi doktrina maupun praktiknya. Dengan demikian putusan
yang akan di jatuhkan mencapai hasil yang optimal dan mengandung nilai-nilai
keadilan
Sistem bagi hasil tradisional pada masyarakat etnis Aceh dan Aneuk Jamee
Tujuan dari buku ini ialah untuk mengumpulkan data informasi dari masyarakat ketompok suku-suku bangsa Indonesia khususnya suku bangsa Aceh dan Aneuk Jamee. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh nilai-nilai budaya dalam sistem bagi hasil masih dilaksanakan oleh masyarakat yang bersangkutan
Enam pahlawan nasional asal Aceh
Indonesia terdiri dari banyak pulau yang dihuni oleh berbagai etnis dan sub etnis. Setiap etnis mempunyai crri khas, baik dari segi adat, kebudayaan, maupun tata cara kehidupan. Keanekaragaman suku bangsa dengan kebudayaannya itu merupakan kekayaan yang perlu mendapat perhatian khusus karena dibalik keanekaragaman ini tersimpan potensi persoalan etnosentrisme yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan demikian, diperlukan pengkajian dan pengenalan berbagai aspek kebudayaan daerah yang tersebar di Indonesia
Citra Bagong sebagai Suara Wong Cilik pada Kanal YouTube Dalang Seno
Along with the emergence of new media, wayang kulit play have also undergone changes and adjustments to the format. Through media such as YouTube, wayang kulit shows are no longer shown as 8-9 hour long shows. This media change does not cause a paradigmatic change to the role of Punakawan, but also provides a fresher interpretation space for Punakawan (clowns) as today’s social communicators. This paper aims to examine how Bagong, one of character of Punakawan, underwent a transformation in the wayang kulit play that was broadcasted on the Dalang Seno YouTube channel, which was initiated by Ki Seno Nugroho. In this channel, Bagong is no longer shown as a side character, but as the main character in the wayang kulit narrative. In addition, this paper wants to explore the extent to which Bagong seeks as a social communicator in the context of postcolonial society as shown on the Dalang Seno channel in the midst of a pandemic.
Keanekaragaman suku dan budaya di Aceh
Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh, sesuai dengan bidang tugasnya, melakukan pengkajian kebudayaan yang ada di Aceh. Kali ini Balai Kajian sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh melakukan inventarisasi seluruh kebudayaan dan suku yang ada di Aceh. Hasil dari inventarisasi ini diwujudkan dalam bentuk naskah buku Keanekaragaman Suku dan Budaya di Aceh
The crust-mantle boundary in the Ligurian area: geological and geodynamic implications
The configuration of the crust-mantle boundary in the transition zone between the Western Alps and the northern Apennines is examined. Some recent Moho contour maps are discussed from a geological standpoint, and their paleogeographic and geodynamic implications are considered. It is assumed that three principal Moho surfaces exist in the area. Most authors agree that two of them (the European and Adriatic Mohos) belong to the pre-collisional Europe and Adria continental plates, while the nature of the third ("Ligurian-Tuscan' Moho) is debated. On the basis of various arguments, the present work suggests that the Ligurian-Tuscan Moho should be considered as forming part of the Adria Moho. The deepest surface is the Europe Moho, which generally dips to the E under the Ligurian-Tuscan Moho. The Adria Moho dips to the W or to the SW under the Ligurian-Tuscan Moho, which is the shallowest crust boundary. The overlap of the Ligurian-Tuscan Moho on the Adriatic one is considered to be a major intracontinental imbrication, which is connected chronologically and dynamically to the Oligo-Miocene opening of the Ligurian-Balearic basin and to the subsequent Mio-Pliocene opening of the Tyrrhenian basin. -from Author
- …
