171 research outputs found

    Survey of irrigation area using micro unmanned aerial vehicle (micro-UAV) in Gumbasa irrigation area

    No full text
    This study aims to develop a new approach in doing evaluation of irrigation system in terms of getting accurate data at a reasonable cost in an essay and fast manner. The research was done at Gumbasa Irrigation District in Sigi, Central of Sulawesi, Indonesia on May-June 2015. The workflow consists of: (i) preparation; (ii) flight planning; (iii) automated flight; (iv) data processing. Data analysis was done by comparison between Red Green Blue (RGB) method and Near Infra Red Green Blue (NirGB) method. The results show that the use of micro-UAV provide an efficient way to collect data needed to manage a very large irrigation system. The RGB image can be effectively used to identify crop’s condition on an irrigation area, which is needed to plan irrigation efficiently. The NirGB image can be effectively used to assess tertiary and secondary level of irrigation canal such as leakage.Jabal Tarik Ibrahim, Nugroho Tri Waskitho, Wahono, Sitti Rahma Ma’mu

    Strategi Pengembangan Wisata Pantai Grand Watudodol Di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur

    No full text
    Pantai Grand Watudodol merupakan salah satu tempat wisata di Kabupaten Banyuwangi yang sedang dikembangkan baik dari segi SDA maupun SDM-nya. Strategi pengembangan yang dilakukan ini bertujuan untuk menarik lebih banyak para wisatawan baik dosmetik maupun manca negara. Sehingga dapat memberikan peningkatan pendapatan masyarakatdi sekitar pantai dan juga dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Banyuwangi.Pada UU No 32 Tahun 2004 tentang pemerintah, bahwa pendapatan daerah berasal dari penerimaan dari dana perimbangan pusat dan daerah, juga berasal dari daerah itu sendiri yaitu pendapatan asli daerah serta pendapatan lain yang sah. Salah satu alat yang digunakan dalam menyusun faktor-faktor strategis perusahaan adalah analisismatrik SWOT. Analisis SWOT digunakan untuk mengetahui seberapa efektif pengembangan di pantai Grand Watu Dodol saat ini , yaitu dengan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal. Faktor Internal yang diidentifikasi meliputi kekuatan (Strengths) dan kelemahan (Weakness) dan faktor eksternal yang diidentifikasi meliputi peluang (Opportunity) dan ancaman (Threats). Faktor-faktor tersebut ditentukan dari hal-hal yang dapat mempengaruhi pengembangan wisata pantai Grand Watudodol.Berdasarkan dari analisis SWOT, strategi pengembangan yang diterapkan di Pantai Wisata Grand Watudodol terdapat pada kuadran 2 (diversivication), dimana ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan yaitu melakukan pemanfaatan sampah kiriman yang datang setiap tahun, menjadi barang yang bernilai. Selain itu, perlu aspek pembeda dengan lainnya yang bertujuan untuk mengutamankan kebersihan dan kenyamanan pengunjung, serta membuat berbagai pelatihan kepada masyarakat agar lebih siap dan mempunyai ketrampilan untuk menambah perekonomian seperti pelatihan pembuatan kerajinan, kuliner, dan yang lainnya agar lebih banyak pilihan wisata kepada para pengunjung

    MODEL EXPERIENTIAL LEARNING TERHADAP PERILAKU STRANGER SAFETY PADA SISWA AUTIS DI SMP

    No full text
    ABSTRACT An experiential learning was a learning which took the students part in direct experience. A stranger safety behavior was someone’s attitude in facing those who were not known yet in order that they could interact and communicate well, could understand how someone would do crime and what thing should be done to avoid someone’s crime intention. In this case, someone with autism disturbance should also have good stranger safety in the view of limitedness and disturbance belonged. So, the focus of this research specifically observed about how the application, problem, and effort were to handle the problems related with the application of experiential learning model toward stranger safety behavior to autism students. This research used experiment research with single subject arrangement with A-B-A design. This research subject was one autism student in SMP Negeri 2 Sedati Sidoarjo. Based on the analysis done it was indicated that in baseline phase (A1) the subject had stranger safety behavior with percentage score 33% with the stability extent (0,6) and mean level (3,66) and it was obtained upper limit i.e. (3,96) and below limit i.e. (3,36). In intervention phase (B) stranger safety behavior got percentage 80% so it indicated stable data with stability extent (1,2) and mean level (6,4) and it was obtained upper limit (7) and below limit (5,8). And, in baseline phase (A2) the subject’s score of stranger safety behavior reached 100% so it indicated stable data with stability extent (0,6) and mean level (7,66) and it was obtained upper limit (7,96) and below limit (7,36). According to the data analysis and discussion it could be concluded that the experiential learning model could experience to enhance the stranger safety behavior which it obtained the highest score 4 in baseline phase (A1) before and after intervention in baseline phase (A2) it obtained the highest score 8.   Keywords: Experiential learning model, stranger safety behavior &nbsp

    LAPORAN PLT INDIVIDU

    No full text
    Pelaksanaan Praktik Lapangan Terbimbing (PLT) merupakan salah satu mata kuliah praktek lapangan yang wajib ditempuh oleh mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta dengan bobot 3 SKS. Visi dari PLT adalah wahana pembentukan calon guru atau tenaga kependidikan yang profesional. Salah satu misi dari PLT adalah penyiapan dan menghasilkan calon guru atau tenaga kependidikan yang memiliki nilai, sikap, pengetahuan, dan keterampilan profesional. Pelaksanaan kegiatan PLT dilaksanakan di SMK Negeri 1 Seyegan yang beralamat di Jalan Kebonagung Jamblangan Margomulyo Sleman. Pelaksanaan kegiatan PLT selama 2 (dua) bulan dimulai dari tanggal 15 September 2017 sampai dengan 15 November 2017 yang ditandai dengan penerjunan langsung ke sekolah oleh UPPL LPPMP melalui DPL PLT masing-masing. PLT merupakan praktik belajar mengajar secara terbimbing di sekolah melalui pembagian kelas mengajar dan didampingi oleh guru pembimbing. Guru Pembimbing penyusun adalah Bapak Wirawan Yogiyatno,S.Kom.,M.Pd. Kegiatan pelaksanaan PLT dibagi menjadi 3 (tiga) bagian pokok yaitu: 1)Perencanaan Pembelajaran, 2) Pelaksanaan Pembelajaran, dan 3) Evaluasi Pembelajaran. Dalam perencanaan pembelajaran diantaranya persiapan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Persiapan Jadwal Mengajar, Persiapan Modul ajar, Bahan Evaluasi dan Media Pembelajaran. Dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas yang dilakukan seminggu sekali sesuai jadwal merupakan implementasi dari perencanaan yang telah dibuat. Hal-hal yang diperhatikan seperti penguasaan materi bahan ajar, media pembelajaran yang dipakai yaitu model, penguasaan kelas, dan keteraturan dalam pelaksanaan praktikum yang memerlukan kedisiplinan dan profesionalitas. Evaluasi pembelajaran dalam pelaksanaannya melibatkan seluruh peserta didik untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta didik dan keberhasilan dalam sistem pembelajaran. Hasil kegiatan PLT ini mahasiswa praktikan memperoleh pengalaman yang belum pernah diperoleh di perkuliahan, terutama dalam mengajar di kelas dan penguasaan kelas. Kegiatan PLT ini sangat bermanfaat dan membantu mahasiswa dalam pengembangan bakat menjadi seorang jiwa pendidik, selain itu mahasiswa mendapat pengalaman langsung membuat RPP dan mengaplikasikannya di kelas yang diampu sehingga rangkaian kegiatan dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dilalui sebagai pengalaman yang berharga. Pada pelaksanaan PLT ini tidak terlepas dari hambatan-hambatan, namun hambatan tersebut dapat teratasi dengan manajemen yang baik

    Context management and situation reasoning for ubiquitous applications in mobile peer-to-peer environments

    No full text
    Recent advances in mobile computing, networking and sensing technologies have enabled mobile devices to become a major development platform for various applications, such as disaster prevention, environmental monitoring and intelligent transportation systems. These devices can be programmed to individually sense and capture context information and develop situation awareness. Mobile devices typically have limited capacity in terms of processing and sensing capabilities. Thus, to gain a better understanding of their surrounding situations, co-located mobile devices can jointly establish a mobile peer-to-peer (MP2P) environment and share captured context information. However, available context information may be uncertain, ambiguous, obsolete or even irrelevant. These issues can influence the reliability of the produced context information used for situation reasoning and/or adaptation criteria. This dissertation proposes, develops and validates a novel distributed middleware framework for context management and situation reasoning for ubiquitous applications in MP2P environments. The first contribution of this dissertation is our theoretical model termed CoMoS (Context Mobile Spaces), which is an approach to represent context and situations for ubiquitous applications in MP2P environments. Our second contribution is the formulation, development and validation of a theoretical approach to estimate the reliability of context information captured in MP2P environments. A data fusion technique based on Dempster-Shafer theory is integrated into the proposed context and situation model as the basis for situation reasoning using the captured context information. Our third contribution is the design, implementation and validation of DiFraCSi2 (Distributed Framework for Context Management and Situation Reasoning for Ubiquitous Applications in MP2P environments) middleware. This middleware implements the proposed concepts, models and algorithms of CoMoS. To minimise processing overheads, an event-based strategy to control the related processes is also developed and validated. We evaluate the contributions of the proposed theoretical model and framework through extensive experimental studies. The high accuracy of the situation recognition rate when using the DiFraCSi2 middleware in different situation scenarios highlights the significance of this research project’s contribution in providing situation-reasoning services. Performance of the proposed middleware functionality is also reported and analysed. The experimental results highlight the feasibility, significance and usability of DiFraCSi2 middleware in managing context and reasoning services. Thus, the research work presented in this dissertation takes a step forward in enabling reliable context management and situation reasoning for ubiquitous applications in MP2P environments. The results of this research project have been published in five peer-reviewed international conference papers, one technical report and one journal article submitted for review

    The Relationship between Serum Selenium Levels and The Occurrence of Eye Tumors

    No full text
    Background: Eye tumors are eye diseases with high morbidity and mortality rates. Several risk factors for eye tumors include ultraviolet B (UV-B) radiation, immune system disorders, smoking, human papillomavirus (HPV) infection, mutations in the tumor suppressor gene p53, and exposure to free radicals. Selenium plays a role as an antioxidant through selenoproteins, which act as chemoprotective agents against cancer. Based on the above data, researchers were interested in further investigating the relationship between serum selenium levels and eye tumors. Method: This study is an observational analytical study with a case-control approach. The research was conducted at RS Prof CPL Universitas Sumatera Utara from June 2024 to July 2024. Results: This study included 20 subjects with eye tumors and 20 control individuals. The study subjects consisted of 11 females and 9 males who visited the Eye Clinic. The mean age of subjects in the eye tumor group was 43.55 (range 19-85) years and the control group was 41.65 (range 23- 64) years. Most subjects in the eye tumor group is overweight, totaling 9 individuals (45%), while in the control group, 11 individuals (55%) were in the normoweight category. Among the 20 eye tumor patients, there were 13 (65%) with benign tumors and 7 (35%) with malignant tumors. Selenium levels in eye tumor patients were significantly lower compared to subjects with normal eyes, with a mean of 100.03 μg/L (SD=27.93 μg/L) versus 213.15 μg/L (SD=33.09 μg/L) with p<0.001. Selenium levels in malignant eye tumors were lower compared to selenium levels in benign eye tumor patients, with a mean of 87.37 μg/L (SD=30.68 μg/L) versus 106.84 μg/L (SD=24.91 μg/L). In eye tumor patients, a significant relationship was found between selenium levels and BMI (p=0.036). There was a difference in selenium levels between eye tumor patients in the normal weight and obesity groups (p=0.034). However, in subjects with normal eyes, there was no significant relationship between selenium levels and BMI (p=0.083). Conclusion: There is a relationship between selenium levels and the occurrence of eye tumors.116 PagesTesis Magiste

    Perancangan Dan Pembuatan Perangkat Lunak Untuk Segmentasi Citra Dengan Transformasi Watershed

    No full text
    Proses pengelompokan data sering dilakukan dalam analisis data. Dengan mengelompokkan data berdasarkan kriteria keseragaman tertentu, maka analisis data akan dapat dilakukan dengan relatif lebih mudah. Demikian pula untuk data citra. Segmentasi citra adalah proses pembagian citra kedalam bagian-bagian ataupun kelompok-kelompok yang disebut obyek berdasarkan suatu kriteria keseragaman tertentu. Segrnentasi adalah salah satu komponen terpenting dalam analisis citra secara otomatis, karena obyek-obyek yang terdapat dalam citra akan digunakan sebagai acuan untuk pengolahan data yang lebih lanjut seperti deskripsi dan interprestasi citra ataupun pengenalan pola. Transformasi watershed memandang citra sebagai sebuah relief topografi dimana intensitas setiap pixel merepresentasikan ketinggian topografinya. Dalam sebuah permukaan topografi, apabila air hujan jatuh diatasnya, sesuai dengan hukum gravitasi maka air tersebut akan mengalir melewati jalur yang lebih rendah sampai ia mencapai ketinggian yang paling rendah atau minima dimana ia tidak dapat mengalir kemana-mana lagi. Himpunan titik-titik pada permukaan topografi citra dimana aliran air yang melewatinya menuju ke minima tertentu yang sama, menjadi sebuah catchment bas in ( cekungan yang terisi air) yang berasosiasi dengan minima tersebut dan membentuk sebuah region citra. Watershed terbentuk dilokasi dimana air dari kedua catchment basin yang berdekatan bertemu dan merupakan batas dari dua buah catchment basin tersebut. Keseluruhan watershed yang terbentuk menghasilkan seluruh kontur tertutup yang ada pada citra dan merepresentasikan obyek-obyek dalam citra yang telah tersegrnentasi

    HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN TINDAKAN PENGGUNAAN KELAMBU BERINSEKTISIDA UNTUK PENCEGAHAN KEJADIAN MALARIA DI DUSUN GUNUNG KELIR DESA JATIMULYO, GIRIMULYO, KULON PROGO

    No full text
    Kecamatan Girimulyo merupakan salah satu daerah endemis malaria di Kabupaten Kulon Progo, pada tahun 2012 kasus yang terjadi melonjak hingga 43 kasus. Pencegahan yang dilakukan untuk mengurangi kasus malaria, pihak puskesmas memberikan kelambu berinsektisida kepada masyarakat, namun berdasarkan survey yang dilakukan petugas puskesmas Girimulyo II didapatkan data bahwa tidak semua masyarakat memanfaatkan kelambu tersebut. Tujuan peneliian ini untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap dengan tindakan penggunaan kelambu berinsektisida. Metode penelitian ini merupakan penelitian survey dengan studi Cross Sectional. Lokasi penelitian di Dusun Gunung Kelir Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo. Subyek penelitian adalah ibu rumah tangga dari masing-masing rumah yang telah mendapatkan pembagian kelambu berinsektisida. Sampel pada penelitian ini berjumlah 45 responden. Penelitian dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji statistik Korelasi Pearson dengan signifikansy level = 0,05. Hasil penelitian didapatkan tingkat pengetahuan responden 15 tinggi, 29 sedang dan 1 rendah. Sikap responden 33 baik dan 12 cukup, sedangkan tindakan penggunaan kelambu responden 40 dengan dipasang ditutup, 2 dipasang tidak ditutup dan 3 tidak dipasang. Kesimpulan ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan tindakan masyarakat dalam penggunaan kelambu berinsektisida untuk pencegahan kejadian malaria di Dusun Gunung Kelir Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo dengan nilai p = 0,035 dan tidak ada hubungan antara sikap masyarakat dengan tindakan dalam penggunaan kelambu berinsektisida untuk pencegahan kejadian malaria di Dusun Gunung Kelir Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo dengan nilai p = 0,347. Kata Kunci : Malaria, Pengetahuan, Sikap, Tindakan penggunaan kelamb
    corecore