1,720,962 research outputs found

    Potret taman pendidikan al-quran (tpq) dusun panda, desa lembang sanggau ledo, bengkayang

    No full text
    Studi tentang Taman Pendidikan Al-Qur`an (TPQ) di daerah pedesaan masih perlu dilakukan, terlebih lagi daerah-daerah yang cukup jauh dari pusat kota, termasuk di Dusun Panda, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Penelitian ini adalah sebuah studi lapangan (field research) yang bertujuan pertama untuk mendeskripsikan karakter demografis dan keagamaan Dusun Panda dan kedua untuk mendeskripsikan praktek Pembelajaran Al-Quran di TPQ Darul Ilmi Dusun Panda, Desa Lembang, Kecamatan Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan kaji dokumen. Kesimpulan dari studi ini adalah pertama, secara demografis penduduk beragam dari segi suku dan agama namun hidup rukun dan harmonis. Semua penduduk dapat melaksanakan ritual dan praktek keagamaan dengan damai. Kedua, pembelajaran Al-Qur'an di TPQ Darul Ilmi sudah terlaksanana dengan baik. Pembelajaran menggunakan gabungan metode tradisional dan modern seperti metode sorogan namun sudah dikombinasikan dengan model modern seperti metode Iqro. Selain itu, sudah memiliki kurikulum yang jelas dan administrasi yang efektif misalnya menggunakan buku panduan yang berisi ketentuan dan batasan-batasan bacaan, tingkatan kelas, absensi dan sebagainya, kreasi dan inovasi ini cukup apresiatif

    Paradigma Penafsiran Alegoris Surga Dalam Tafsir Indonesia-Kontemporer:Kajian Atas Tafsir Al-Misbah Karya M. Quraish Shihab

    No full text
    Kajian ini dimotivasi oleh masih minimnya kajian yang melihat pergeseran penafsiran ayat-ayat yang bersifat teologis-metafisis dalam Al-Qur’an, termasuk ayat-ayat tentang surga yang dikombinasikan dengan pendekatan teori filsafat. Oleh karena itu, maka peneliti tertarikuntuk mengkaji tema ini lebih lanjut. Kajian ini menjelaskan tentang pergeseran paradigma penafsiran ilustrasi surga dalam tafsir Indonesia, yakni M. Quraish Shihab. Teori yang digunakan adalah dengan teori pergeseran paradigma yang diintrodusir oleh Thomas Khun. Kesimpulan artikel ini menunjukkan bahwa ada pergeseran pemaknaan ilustrasi surga dalam tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab, yaitu pada tema 1) Luas surga ; 2) Sungai yang mengalir di bawah surga ; 3) Buah-buahan di surga ; 4) Pasangan dan bidadari di surga ; dan 5) Warna hijau dan perhiasan bagi manusia di surga. Dalam memahami tema-tema tersebut M. Quraish Shihab cenderung rasionalis dan kontekstualis menyesuaikan dengan konteks kekinian. Pemikiran yang memotivasi argumentasi penafsirannya adalah tidak terlepas dari historisitas pengalaman hidupnya, seperti karir intelektualnya, pengalaman keorganisasiannya, guru-gurunya dan masyarakat Indonesia sebagai sasaran tafsirnya. Maka semua itu, menjadi regulasi dan panoptiasasi dalam membentuk nalar intelektualnya, termasuk dalam penafsiran tentang ayat-ayat yang mengilustrasikan surga

    CORAK PENAFSIRAN TASAWUF QS. AL-FATIHAH DALAM MANUSKRIP TAFSIRKARYA M. BASUNI IMRAN SAMBAS, KALIMANTAN BARAT

    No full text
    M. Basiuni Imran (Sambas), Kalimantan Barat adalah mufassir yang hidup di abad 20 M, dan dia pernah belajar ilmu keislaman ke Timur Tengah. Secara interes keilmuan, M.Basiuni Imran kurang bertendensi dengan ilmu tasawuf. Tetapi kenyataannya, dalam penafsiran surat al-fatihah, M.Basiuni Imran memvisualisasikan tafsir esoteris. Berdasarkan kontestasi tersebut maka peneliti tertarik mengkaji tema ini lebih jauh. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan menggunakan teori relasi kuasa dan jejaring aktor. Kesimpulan artikel ini adalah : Pertama, Sajian Tafsir Esoteris Qs. Al-Fatihah oleh Basiuni Imran menafsirkan secara literal-tekstualis, lalu kemudian menafsirkan secara esoteris-teosofis. Kedua, Makna Interpretasi Qs. Al-Fatihah ; Basiuni Imran memahami dan manafsirkan bahwa secara general-tekstual Qs. al-Fatihah mengandungmakna esoteris. Ketiga, Faktor Munculnya Visualisasi Tafsir Esoteris dalam Qs. Al-Fatihah : 1) Relasi intelektual antar guru dan murid yang menjadi basis regulasi dan normalisasi pemikiran penafsir ; 2) Historisitas dan antropik-sosial yang berkembang pra dan masa ketika tafsir ditulis ; dan 3) Relasi dan tendensi literatur tasawuf atau tarekat yang berkembang dalam realitas masyarakat, sehingga menghegemoni dan membentuk pemikiran tafsir esoteris

    Penafsiran Ulang Konsep “Kontekstualisasi” dalam Hadis: Kajian atas Hadis Tentang Kepemimpinan Perempuan

    Full text link
    Claims that women are weak, not authoritative, and tend to use their feelings, make women discriminated against in the public sphere. Even in Islamic history, women are considered worthless so when a baby girl is born, it is considered a disgrace, and many are buried alive. Thus, in accordance with the times and knowledge, this paper will review the roles and gait of women, especially in their capacity as leaders. This paper will examine the text of the prophet's hadith about women's leadership and try to contextualize it with Indonesian reality. The conclusion of this article is that women are given things and obligations to become leaders as long as they have the capacity, capability, and quality to carry out their duties and responsibilities. So, in the context of 'worldly' leadership, it is not seen from gender, but from the qualifications, capabilities, and qualities possessed by a person

    STRUKTUR EPISTEMOLOGI TAFSIR SURAT TUJUH KARYA MUHAMMAD BASIUNI IMRAN, SAMBAS, KALIMANTAN BARAT

    Full text link
    Tafsir Indonesia yang lahir di abad ke-20 M, umumnya menampilkan sisi kemodernannya, baik dari segi aksara, bahasa dan tipologi penafsirannya. Berbeda dengan tafsir Surat Tujuh karya M. Basiuni Imran, tafsir ini lahir di abad 20 M, namun masih menggunakan aksara dan bahasa tafsir Indonesia klasik, yaitu menggunakan aksara Jawi, bahasa Melayu, serta dengan tipologi tafsir yang masih sederhana. Di sisi lain, tafsir yang ditulis oleh mufassir Indonesia, idealnya menapilkan ciri khas lokalitas masyarakat Indonesia dalam suguhan konten penafsirannya. Namun tidak pada tafsir Surat Tujuh, tafsir ini cenderung mengusung konsep tafsir Timur Tengah, yaitu hanya berkutat pada wilayah teks dan kurang mengkorelasikan pada wilayah konteks. Oleh kerena itu, maka penting mengeksplorasi tafsir ini lebih jauh, bukan hanya dari segi kemunculan tafsir, tetapi juga dari segi arkeo-genealogi intelektual muafassir, sampai pada aspek epistemologi tafsir. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library reseacrh) dengan objek penelitian tafsir Surat Tujuh karya M. Basiuni Imran. Metode yang digunakan adalah deduktif analisis serta dengan pendekatan historis-filosofis. Teori yang digunakan adalah teori genealogi Michel Foulcault dan teori epistemologi. Hasil penilitian ini adalah : Pertama, tafsir ini lahir di abad 20 M, tetapi mengusung tipologi tafsir klasik dari segi aksara, bahasa dan tipologi penafsirannya adalah dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu : 1) Setting geografis mufassir, 2) Relasi dan dominasi bahasa berkembang, dan 3) Konteks islamisasi wilayah. Kedua, secara umum, genealogi pemikiran M. Basiuni Imran dalam tafsir Surat Tujuh masih cenderung menginduk kepada pemikiran M. Rasyid Ridha, karena beliau sangat responsif dan apresiatif terhadap pemikiran M. Rasyid Ridha dan literaturliteratur dari Timur Tengah. Ketiga, struktur epistemologi tafsir Surat Tujuh adalah : 1) Sumber penafsiran : al-Qur`an, hadis dan pendapat ulama ; 2) Metodologi dan prinsip-prinsip penafsiran : a) Prinsip konektivitas teks dan makna teks b) Prinsip eksplorasi makna berbasis leksikal-linguistik, c) Menggunakan metode tafsir ijmaliy (global), d) Pendekatan tafsir tekstual ; sebagai pijakan tafsir dan alternatif metodologi, serta e) Didominasi dan bertendensi kepada ide teologis yang berbasis pada purifikasi aqidah ; 3) Validitas penafsiran : a) Teori koherensi, tafsir ini cukup konsisten dalam membangun argumentasi logis-filosofisnya yaitu senantiasa menvisualisasikan konsep ar-ruju’ ila al-Qur`an dalam setiap surat yang ditafsirkan, dan b) Teori pragmatis, tafsir ini cukup bermanfaat bagi masyarakat Sambas, baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis tafsir diajarkan di beberapa tempat di wilayah Sambas, seperti di Masjid Jami' Sambas, di sekolah Kuliyyatul Mubalighin dan sejumlah tempat lainnya. Sedangkan secara praktis, dengan ide utama yang ditawarkan yaitu „ar-ruju’ ila al-Qur`an’, maka tafsir ini cukup solutif dalam merespon problem realitas saat itu, yaitu untuk menguatkan, menjaga dan menfilterisasi aqidah umat Islam dari kepercayaan lokal yang masih berkembang, seperti tahayul, khurafat, bid’ah dan sejenisnya

    Tujuh and Sembilan Sacred Tombs Sites in Ketapang, West Kalimantan: Historical-Archaeological Studies and Receptions

    No full text
    This study aims to expose the history of Islam in Ketapang by referring to Tujuh and Sembilan sacred tombs and narrating the reception (in the living al-Quran) of the community on the grave and its elements (part of the Quranic text, motifs, and others). This research is field research, using a narrative-analytic model, as well as using a historical approach and the living Quran theory (on reception). The results of this study are: 1) The history of Tujuh and Sembilan sacred tombs are the tombs of pious people who spread Islam in Ketapang around the 14th century A.D. Second, the typology of people\u27s reception in the sentence kullu nafsin dzaiqatul maut is represented in three forms of reception, namely, hermeneutical or exegesis reception, aesthetic reception, and functional reception

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
    corecore