132,260 research outputs found

    KOMPONEN MAKNA DALAM VERBA BERENDONIM FUβ PADA BUKU STUDIO D

    No full text
    Semantik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari segala sesuatu tentang makna. Cakupan semantik sangat luas mencakup semua tataran bahasa. Mempelajari semantik seperti dengan mempelajari tentang makna. Maka dari itu untuk mengetahui lebih jauh tentang semantik yang berkaitan dengan makna, penelitian ini mencoba meneliti komponen makna. Komponen makna adalah makna yang dimiliki oleh setiap kata itu dan terdiri dari sejumlah komponen. Komponen makna ini dapat dianalisis satu per satu, berdasarkan pengertian-pengertian yang dimiliki oleh suatu kata. Penelitian ini menggunakan penamaan verba yang berhubungan dengan salah satu tubuh manusia yaitu Fuβ ‘kaki. Fuβ ‘kaki” adalah salah satu bagian tubuh dari manusia yang sangat penting. Maka dari itu kaki memiliki berbagai varian verba berendonim dalam kehidupan sehari-hari. Pada penelitian ini yang akan dikaji dan dideskripsikan adalah hal-hal yang berkaitan varian verba endonim kaki. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah komponen makna dalam verba berendonim Fuβ ‘kaki. Sumber data penelitian ini adalah buku Studio d A1 yaitu sumber ajar bahasa Jerman. Metode pengumpulan data menggunakan teknik catat dan pada analisis datanya menggunakan analisis komponen diagnostik milik Mansoer Pateda. Dari hasil penelitian ini terdapat 8 verba yang terdapat pada buku Studio d A1 dan ditemukannya 6 verba dengan medan makna yang sama kemudian dikelompokkan menjadi 3 medan makna. Verba-verba tersebut memiliki perbedaan-perbedaan walaupun memiliki medan makna yang sama. Kata kunci : Komponen makna, verba, kak

    SISTEM PEMBENTUKAN VERBA BAHASA BATAK ANGKOLA DARI DASAR VERBA

    No full text
    Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan afiks-afiks derivasional dan afiks-afiks infleksional pembentuk verba Bahasa Batak Angkola (BBA) dari dasar verba beserta aspek semantik dan keproduktifannya. Penyediaan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik rekam, teknik pustaka, dan teknik kerjasama dengan informan, lalu teknik simak, teknik sadap, teknik simak bebas libat cakap, dan teknik catat adalah sebagai teknik lanjutannya. Sumber data dalam penelitian ini adalah kaset, interview dengan informan, dan beberapa buku yang ditulis dalam BBA. Adapun data yang dianalisis berupa verba dalam BBA baik monomorfemik maupun polimorfemik yang tuturan/ kalimatnya mengalami afiks derivasi dan afiks infleksi. Metode yang digunakan dalam analisis data adalah metode agih atau distribusional dengan teknik urai unsur terkecil (ultimate constituent analysis), teknik urai/ pilih unsur langsung (immediate constituent analysis), teknik oposisi dua-dua, dan teknik perluasan atau ekspansi. Penelitian ini juga menggunakan metode padan dengan teknik dasar pilah unsur tertentu. Hasil analisis data, menunjukkan bahwa dari 100 verba dasar transitif dan 25 dasar verba intransitif yang berada dalam ruang lingkup Paradigma I adalah sebagai berikut. Bentuk-bentuk afiks derivasional adalah kategori D–i dan kategori D–kon. Aspek semantiknya adalah makna afiks derivasional –i (frekuentatif, dan lokatif), dan makna afiks derivasional –kon (benefaktif, melakukan dengan perbuatan alat, melakukan dengan sungguh-sungguh (intensif), kausatif, dan direktif), sedangkan produktifitasnya terbatas karena sifatnya yang unpredictable. Bentuk-bentuk afiks infleksional adalah kolom A (kategori maN-D, di-D, hu-D, di-D-ho, di-D-ia, tar-D), kolom B (kategori maN-D-i, di-D-i, hu-D-i, di-D-iho, di-D-iia, tar-D-i), dan kolom C (kategori maN-D-kon, di-D-kon, hu-D-kon, di-D-konho, di-D-konia, tar-D-kon). Aspek semantiknya adalah bentuk baris 1 berfokus pada agen, sedangkan baris 2-6 berfokus pada pasien, kemudian produktifitasnya luas karena sifatnya yang predictable. Namun, terdapat beberapa verba tertentu yang tidak dapat dilekati afiks derivasi dan infleksi karena alasan semantis, dan beberapa verba, hukumnya harus dihapal karena sudah menjadi konvensi di masyarakat. Sistem pembentukan verba Bahasa Batak Angkola adalah salah satu objek kajian di bidang Linguistik Deskriptif. Karenanya, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk penelitian sejenis berikutnya. Semoga, penelitian ini dapat menjadi salah satu pedoman dalam upaya pelestarian bahasa Nusantara sebagai kekayaan bangsa

    VERBA ITERATIF DAN KONTINUATIF DALAM BAHASA JAWA

    No full text
    Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan pendekatan struktural. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penanda morfologis verba iteratif dan kontinuatif, pemarkah frasa verbal iteratif dan kontinuatif, serta perilaku sintaktis verba iteratif dan kontinuatif dalam bahasa Jawa. Data disediakan berdasarkan dua sumber, yaitu sumber data tulis dan lisan. Penyediaan data dilakukan dengan menggunakan metode simak dengan teknik catat, rekam, dan kerja sama dengan informan. Analisis data menggunakan metode distribusional dengan teknik lesap, substitusi, oposisi dua-dua, dan permutasi. Hasil analisis disajikan dengan menggunakan metode formal dan informal. Berdasarkan hasil analisis, pembentukan verba iteratif melalui afiksasi mencakup 13 kategori, yaitu N-D-i, ke-D-an, di-D-i,ka-D-an, -in-D-an, tak-D-i, tak- D-ane, kok- D-i, -ana, D-i, tak- -ana, kok-D-ana, dan di-D-ana; dan pembentukan verba kontinuatif melalui afiksasi mencakup 6 kategori, yaitu N-D, -um-D, N-D-i, N-D-ake, ka-D-an, dan dak-D-e. Pembentukan verba iteratif melalui reduplikasi menghasilkan verba iteratif reduplikasi penuh (dwilingga) berupa dwilingga padhaswara dan dwilingga salinswara); reduplikasi parsial dasar monomorfemis dan polimorfemis; reduplikasi semu. Adapun, pembentukan verba kontinuatif melalui reduplikasi menghasilkan verba kontinuatif reduplikasi penuh tanpa perubahan vokal (dwilingga padhaswara), reduplikasi parsial dasar polimorfemis, dan reduplikasi semu. Verba iteratif dan kontinuatif juga dibentuk melalui penggabungan reduplikasi dan afiksasi sekaligus. Frasa verbal iteratif dibentuk dengan menggabungkan verba dengan pemarkah frasa iteratif bola-bali ‘berkali-kali’, wola-wali‘berkali-kali’, makaping-kaping ‘berulang-ulang’, ‘berkali-kali’, kaping pirang-pirang ‘berkali-kali’, kerep ‘sering’, asring ‘sering’, pijer ‘sering’, pijer-pijer ‘sering sekali’, ambal-ambalan ‘berkali-kali’, sedhelasedhela ‘sebentar-sebentar’, sok ‘kadang’, sok-sok ‘kadang-kadang’, kala-kala ‘kadang-kadang’, kadhangkala ‘ kadangkala’, kadhang-kadhang ‘kadang-kadang’ terkadhang ‘terkadang’; sementara frasa verbal kontinuatif dibentuk dengan menggabungkan verba dengan pemarkah frasa kontinuatif, yaitu tansah ‘selalu’, terus ‘terus’, terus-terusan ‘terus-menerus’, tetep ‘tetap’, panggah ‘tetap, tidak berubah’, isih ‘masih’, ajeg ‘rutin’, dan wae ’terus’. Berdasarkan ketransitivannya, verba iteratif berupa verba iteratif ekatransitif, dwitransitif, dan taktransitif. Verba kontinuatif terdiri atas verba iteratif ekatransitif dan taktransitif. Kata kunci: verba, iteratif, kontinuatif, bahasa Jaw

    KOMPONEN MAKNA DALAM VERBA BERENDONIM AUGEN PADA BUKU Studio D A1

    No full text
    Penelitian ini membahas tentang analisis komponen Makna verba yang berendonim Augen yang terdapat di buku Studio d A1. Komponen makna ini berhubungan dengan medan makna, yang mana pada medan makna ada beberapa kata yang maknanya sama atau saling berdekatan. Dengan adanya beberapa kata yang sama atau saling berdekatan ini, menimbulkan pertanyaan yang lahir dari penggunanya. Karena itulah analisa komponen makna dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memiliki kemiripan atau pun persamaan yang belum terjawab. Kemiripan atau persamaan itulah yang disebut dengan pembeda makna. Setelah itu, dapat lebih memahami perbedaan kata-kata yang maknanya berdekatan atau sama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan komponen makna dalam verba berendonim Augen pada buku berendonim Studio d A1. Jenis penelitian ini, menggunakan penelitian kualitatif. Dan data yang digunakan adalah teks kalimat verba berendonim Augen, dan data ini menggunakan metode catat. Sumber data yang digunakan adalah buku Studio d A1, yang mana buku tersebut buku tersebut digunakan oleh pelajar bahasa Jerman dan oleh pengajar maupun murid di Goethe Institut dan Wisma Jerman. Pada penelitian ini ditemukan sembilan verba berendonim Augen ‘Mata’ pada buku Studio d A1, dari sembilan verba berendonim Augen ‘Mata’, ditemukan lima verba yang mempunyai medan makna yang sama. Dimana lima verba tersebut di bagi menjadi dua, yaitu medan makna “melihat” dan “mencari sesuatu”. Kemudian kelima verba ini dianalisa menggunakan teori komponen makna, agar ciri-ciri dan pembeda makna yang terkandung diketahui. Kata kunci: Verba Berendonim, Makna, Komponen Makna

    VERBA PREDIKAT BAHASA REMAJA DALAM MAJALAH REMAJA

    No full text
    Abstrak Bahasa remaja dapat dteliti berdasarkan aspek kebahasaannya, salah satunya adalah mengenai verba. Verba sangat identik dengan predikat. sebagaimana tugas predikat, yaitu menandai apa yang dinyatakan pembicara tentang subjek. Oleh karena itu, hampir sebagian besar predikat diisi oleh verba meski predikat juga dapat diisi oleh kelas kata lain, seperti nomina, adjektiva atau frasa preposisi. Berdasarkan analisis data yang dilakukan pada bahasa remaja dalam majalah remaja, diperoleh hasil penelitian: (1) Sembilan bentuk verba predikat, yaitu (a) verba dasar, (b) verba berprefiks, (c) verba bersufiks -an, (d) verba bersufiks -kan. (e) verba bersufiks -i, (f) verba bersufiks -in, (g) verba bereduplikasi, (h) verba berproses gabung, dan (i) verba majemuk. Berdasarkan kesembilan bentuk verba predikat tersebut, kemunculan terbanyak ialah verba berprefiks 100 data atau 28,17%. (2) Enam tipe verba predikat berdasarkan ketransitifannya, yaitu (a) dwitransitif, (b) transitif, (c) dwi-intransitif, (d) intransitif, (e) dwi-ekuatif, dan (f) ekuatif. Dari keenam tipe verba predikat itu kemunculan paling banyak adalah verba transitif, yakni sebanyak 197 data atau sebesar 55,49%. Banyaknya kemunculan ini menunjukan bahwa karakteristik verba predikat dalam bahasa remaja memiliki kecenderungan terhadap verba aktivitas yang memiliki sasaran. Kata Kunci: Verba, Verba Predikat, Ketransitifan, Remaja

    PERILAKU VERBA DEADJEKTIVA DALAM BAHASA INDONESIA

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) Tipe verba deadjektiva dalam bahasa Indonesia berdasarkan perilaku adjektiva untuk mendapat afiks verba me(N)-D, me(N)-D-I, me(N)-D-kan. (2) Mendeskripsikan perilaku sintaksis verba deadjektiva berdasarkan potensinya untuk mengisi fungsi sintaksis utama verba. Objek penelitian ini adalah perilaku sintaksis verba deajektiva dalam bahasa Indonesia. Data diperoleh dengan teknik membaca dan mencatat. Data dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Keabsahan data diperoleh melalui validitas semantis dan reliabilitas interrater dan intrarater. Hasil penelitian ada dua tipe verba deadjektiva, yaitu transitif dan intransitif. Tipe transitif lebih dominan karena pengaruh dari afiks me(N)-I dan me(N)-kan yang merupakan afiks pembentuk verba. Akhiran –I dan –kan merupakan penanda kebutuhan kehadiran objek. Tipe verba deadjektiva intransitif terbentuk dari adjektif yang mendapat imbuhan me(N)- karena makna afiks me(N)- tidak mewajibkan adanya objek jika makna gramatikalnya menyatakan “proses” dan menyatakan makna “menjadi”. Verba deadjektiva dalam kalimat dapat menduduki fungsi predikat dan pelengkap sedangkan bentuk verba deadjektiva dalam konstruksi frasa. Verba deadjektiva dalam fungsi predikat terdiri atas dua bentuk, yaitu bentuk berdiri sendiri dan frasa. Verba deadjektiva selalu berbentuk frasa dalam fungsi pelengkap

    ANALISIS VERBA TIDAK BERATURAN BENTUK KALA LAMPAU PERFEKT DALAM BUKU Studio d B1

    No full text
    Kebanyakan verba tidak beraturan bentuk kala lampau Perfekt memiliki awalan ge- dan akhiran –en dan sebagian kecil berakhiran –e(t), di samping itu vokal Stamm-nya mengalami perubahan. Dalam mempelajari verba tidak beraturan bentuk kala lampau Perfekt, pembelajar bahasa Jerman sering mengalami kesulitan dalam menentukan verba bantu untuk verba utama dalam bentuk Partizip Perfekt. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan verba tidak beraturan yang muncul dalam kala lampau Perfekt di dalam buku studio d B1; (2) Mendeskripsikan verba bantu yang berkorelasi dengan verba tidak beraturan dalam kala Perfekt; dan (3) Mendeskripsikan perubahan bentuk verba tidak beraturan dalam kala lampau Perfekt yang terdapat dalam buku studio d B1 tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Korpus penelitian adalah teks-teks dari buku ajar studio d B1 yang mengandung kalimat dengan kala lampau Perfekt dengan verba tidak beraturan. Landasan teoretis tentang perubahan bentuk verba tidak beraturan dalam kala Perfekt diambil dari pendapat Neubold dan Duden, sedangkan tentang verba bantu yang berkorelasi dengan verba tidak beraturan dalam kala Perfekt diambil dari pendapat Fandrych, Braun et. al., Dreyer/Schmitt, Helbig/Buscha. Dari hasil analisis data dapat diketahui bahwa (1) Terdapat 51 kalimat yang mengandung 33 verba tidak beraturan dalam kala Perfekt yang terdiri dari 26 verba tanpa awalan (15 verba muncul satu kali, empat verba dua kali, tujuh verba tiga kali), dan tujuh verba berawalan; (2) Verba bantu yang digunakan dalam kala Perfekt adalah haben dan sein. Pada penelitian ini ditemukan lebih banyak verba tidak beraturan yang berkorelasi dengan verba bantu haben daripada verba bantu sein yaitu sebanyak 25 verba berbanding delapan. Beberapa verba penting membentuk kala Perfekt dengan sein, yaitu verba intransitif yang menunjukkan pergerakan/perubahan tempat atau perubahan keadaan, serta verba “bleiben” dan “sein” sendiri; (3) Perubahan bentuk verba tidak dalam kala lampau Perfekt dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: a) Kelompok a – b – a (ditemukan sembilan verba); kelompok a- b – b (ditemukan 14 verba); kelompok a – b – c (ditemukan 10 verba). Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar pembelajar bahasa Jerman lebih memahami tentang verba tidak beraturan dengan mempelajari pola perubahannya dari buku-buku gramatik bahasa Jerman dan menyelesaikan soal-soal latihan baik secara individual maupun berkelompok. Penelitian lebih lanjut tentang verba tidak beraturan dalam kala lampau yang lain misalnya Präteritum atau Plusquamperfekt dapat dilakukan di masa yang akan datang dengan korpus yang berbeda.---------- Die meisten unregelmäßigen Verben haben in der Perfektbildung das Präfix ge- und Suffix –en und zum kleinen Teil das Suffix –e(t), außerdem hat deren Stammvokal auch eine Veränderung. Die Deutschlernenden haben oft Schwierigkeiten, die Hilfsverben bei der Perfektbildung zu bestimmen. Diese Untersuchung hat die Ziele: (1) die unregelmäßigen Verben in der Perfektbildung aus dem Buch Studio d B1 darzustellen, (2) die Korrelation zwischen Hilfsverben und unregelmäßigen Verben bei der Perfektbildung zu beschreiben, (3) die Veränderungen der unregelmäßigen Verben in der Perfektbildung aus dem Buch studio d B1 zu beschreiben. Diese Untersuchung ist eine qualitative Untersuchung und dafür wird die deskriptiv-analytische Methode verwendet. Die Daten von dieser Untersuchung sind Texte aus dem Lehrbuch Studio d B1, die Sätze mit unregelmäßigen Verben im Perfekt enthalten. Die theoretischen Grundlagen für die Veränderung der unregelmäßigen Verben in der Perfektbildung wurden von Neubold und Duden genommen und für deren Hilfsverben von Fandrych, Braun et.al., Dreyer/Schmitt; Helbig/Buscha. Die Untersuchungsergebnisse zeigen eindeutig: (1) Von 51 Sätzen wurden 33 unregelmäßige Verben im Perfekt erfunden. Die 33 unregelmäßigen Verben bestehen aus 26 untrennbaren Verben (15 Verben tauchen einmal auf, vier Verben zweimal, sieben Verben dreimal), und aus sieben trennbaren Verben; (2) Die gebrauchten Hilfsverben der Perfektbildung sind “haben” und “sein”. In dieser Untersuchung sind mehr unregelmäßige Verben mit dem Hilfsverb ‘haben’ (25 Verben) als die mit ‘sein’ (acht Verben) erfunden. Einige wichtige Verben bilden das Perfekt mit ‘sein’ nämlich intransitive Verben mit Bewegung/Ortsveränderung oder Zustandsveränderung und auch Verben “bleiben” und “sein”; (3) Die Veränderungen der unregelmäßigen Verben im Perfekt werden in drei Gruppen geteilt nämlich: a – b – a (neun unregelmäßige Verben); a – b – b (14 unregelmäßige Verben); a – b – c (10 unregelmäßige Verben). Basierend auf den Untersuchungsergebnissen schlägt die Verfasserin vor, dass sich die Deutschlernenden mehr mit unregelmäßigen Verben beschäftigen, die Ablautmuster der unregelmäßigen Verben aus den Grammatikbüchern studieren, und dann die Übungen allein oder in Gruppen machen. In der Zukunft sollte eine weitere Untersuchung über unregelmäßige Verben für andere Zeitformen der Vergangenheit zum Beispiel Präteritum oder Plusquamperfekt mit anderen Datenquellen durchgeführt werden

    ADVERBIA VERBA BAHASA RUSIA DAN PENGUNGKAPAN MAKNANYA DALAM BAHASA INDONESIA

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis adverbial verba bahasa Rusia berdasarkan: 1) bentuk, 2) makna, 3) kategori modifikator, 4) posisi adverbia verba dan implikasi semantiknya, dan 5) bentuk pengungkapan maknanya dalam Bahasa Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode distribusional dengan teknik substitusi, intrusi, dan paraphrase. Data diambil dari tiga novel Rusia dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa bentuk adverbia verba adalah 1) perfektif: (a) aktif dan (b) refleksif, dan 2) imperfektif: (a) aktif dan (b) refleksif. Makna adverbia verba adalah sebagai berikut: 1) temporal: (a) temporalitas dan (b) aspektualitas, 2) cara, 3) kausal, 4) kondisional, 5) tujuan, 6) konsesif, 7) komparatif, 8) komitatif, dan 9) atributif. Kategori modifikator adverbia verba yang ditemukan : 1) kata : (a) nomina, (b) verba, (c) adjektifa, (d) pronominal, (e) numeralia , dan 2) frasa : (a) frasa nomina, (b) frasa pronominal, (c) frasa verba, (d) frasa adjektifa, (e) frasa numeralia, (f) frasa preposisional. Adverbia verba dapat diposisikan dalam pre-posisi, inter-posisi, dan post-posisi. Implikasi semantik letak adverbia verba adalah: 1) ketika berada dalam pre-posisi , kehadiran adverbial verba adalah wajib dan yang ditekankan adalah kegiatan, 2) dalam interposisi kehadiran adverbial verba adalah opsional, dan 3) dalam post-posisi kehadiran adverbia verba adalah wajib, tekanan berada pada cara melakukan kegiatan. Bentuk pengungkapan makna adverbia verba dalam Bahasa Indonesia adalah : 1) bentuk morfologis : (a) verba aktif, (b) verba pasif, (c) verba reduplikatif, (d) verba ter-D, (f) verba P-I, dan 2) dua bentuk sintaksis : (a) frasa dan b) klausa subordinatif. Kata kunci: adverbial verba, bentuk, makna, modifikator, posisi

    Penggunaan verba dalam berita utama Kompas

    No full text
    Penelitian ini dilatarbelakangi berdasarkan keingintahuan peneliti terhadap penggunaan verba dalam berita utama Kompas yang menarik untuk diteliti. Selain karena pemakaiannya yang sangat produktif, bentuknya bervariatif, dan perilaku sintaksisnya pun bermacam-macam. Alasan peneliti mengambil sumber dari Kompas karena peneliti sudah mempertimbangkan bahwa ruang lingkup Kompas sangat luas dalam hal pemasaran atau penyebarannya ke seluruh Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk verba dalam berita utama Kompas, menganalisis pembentukan verba dalam berita utama Kompas, dan menganalisis perilaku sintaksis verba dalam berita utama Kompas. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik simak dengan teknik lanjutan simak bebas libat cakap dan teknik catat, sedangkan teknik penyajian hasil analisis datanya menggunakan teknik informal karena penyajiannya menggunakan kata-kata biasa, bukan lambang-lambang. Hasil penelitian (1) bentuk verba yang ditemukan yaitu (a) verba dasar, dan (b) verba turunan, dibagi menjadi 3 yaitu verba yang dibentuk dengan afiksasi, verba yang dibentuk dengan reduplikasi, dan verba yang dibentuk dengan pemajemukan, (2) verba yang dibentuk dengan afiksasi terdapat 130 data meliputi prefiks meng- 39 data, prefiks ber- 30 data, prefiks ter- 10 data, prefiks di- 10, konfiks meng-kan 26 data, konfiks meng-i 7 data, konfiks di-kan 6 data, dan sufiks -kan 2 data, (3) verba dari segi perilaku sintaksisnya terdiri atas (a) verba transitif 58 data, (b) verba taktransitif tak berpelengkap 49 data, (c) verba taktransitif berpelengkap 24 data, (d) verba transitif berobjek dan berpelengkap 19 data, (e) verba semitransitif 12 data, dan (f) verba taktransitif berpelengkap manasuka 11 data

    Verba berafiks dalam teks biografi

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan afiks pembentuk verba. Makna afiks pembentuk verba, perilaku sintaksis verba berafiks dalam teks biografi Ki Hadjar Dewantara, R.A Kartini, Seodirman, dan Buku Kelas X Indonesia edisi revisi 2017. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metode yang digunakan dalam penyediaan data adalah metode simak dengan teknik bebas libat cakap dan teknik catat. Metode analisis data yang digunakan adalah metode agih dengan teknik bagi unsur langsung, teknik lesap, dan teknik analisis fungsi unsur kalimat. Metode hasil penyajian analisis data dilakukan dengan metode informal. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Afiks pembentuk verba dalam teksbiografi adalah (a) prefiks, (b) sufiks, (c) konfiks, dan (d) kombinasi afiks.(2) Makna afiks pembentuk verba dalam teks biografi adalah (a) makna ‘menghasilkan’, (b) makna ‘melakukan’, (c) makna ‘memberi’, (d) makna ‘telah dilakukan atau dalam keadaan’, (e) makna ‘telah mengalami’, (f) makna ‘dapat’, (g) makna ‘tidak disengaja’, dan (h) makna ‘dikenai tindakan atau dikenai laku’. (3) Perilaku sintaksis verba berafiks dalam teks biografi adalah (a) verba ekatransitif (b) verba dwitransitif, dan (c) verba taktransitif.   Abstract: The purpose of this study was to describe the affixes that form verbs. the meaning of affixes forming verbs, syntactic behavior of affixed verbs in the biographical texts of Ki Hadjar Dewantara, RA Kartini, Seodirman, and the 2017 revised edition of the Class X Indonesia Book. This type of research is qualitative research. The method used in providing data is the observation method with the free technique of competent involvement and the technique of taking notes. The data analysis method used is the split method with the direct element sharing technique, the lesap technique, and the sentence element function analysis technique. The method of presenting data analysis results is carried out by informal methods. The results of this study are as follows. (1) Affixes forming verbs in biographical texts are (a) prefixes, (b) suffixes, (c) confixes, and (d) affix combinations. (2) The meaning of verb-forming affixes in biographical texts is (a) the meaning of 'to produce' , (b) the meaning of 'doing', (c) the meaning of 'giving', (d) the meaning of 'having been done or in a state', (e) the meaning of 'having experienced', (f) the meaning of 'being able', (g) the meaning of 'unintentional', and (h) means 'subject to action or subject to behavior'. (3) The syntactic behavior of affixed verbs in biographical texts is (a) transitive verbs, (b) dwitransitive verbs, and (c) non-transitive verbs.Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan afiks pembentuk verba. Makna afiks pembentuk verba, perilaku sintaksis verba berafiks dalam teks biografi Ki Hadjar Dewantara, R.A Kartini, Seodirman, dan Buku Kelas X Indonesia edisi revisi 2017. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metode yang digunakan dalam penyediaan data adalah metode simak dengan teknik bebas libat cakap dan teknik catat. Metode analisis data yang digunakan adalah metode agih dengan teknik bagi unsur langsung, teknik lesap, dan teknik analisis fungsi unsur kalimat. Metode hasil penyajian analisis data dilakukan dengan metode informal. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Afiks pembentuk verba dalam teksbiografi adalah (a) prefiks, (b) sufiks, (c) konfiks, dan (d) kombinasi afiks.(2) Makna afiks pembentuk verba dalam teks biografi adalah (a) makna ‘menghasilkan’, (b) makna ‘melakukan’, (c) makna ‘memberi’, (d) makna ‘telah dilakukan atau dalam keadaan’, (e) makna ‘telah mengalami’, (f) makna ‘dapat’, (g) makna ‘tidak disengaja’, dan (h) makna ‘dikenai tindakan atau dikenai laku’. (3) Perilaku sintaksis verba berafiks dalam teks biografi adalah (a) verba ekatransitif (b) verba dwitransitif, dan (c) verba taktransitif.   Abstract: The purpose of this study was to describe the affixes that form verbs. the meaning of affixes forming verbs, syntactic behavior of affixed verbs in the biographical texts of Ki Hadjar Dewantara, RA Kartini, Seodirman, and the 2017 revised edition of the Class X Indonesia Book. This type of research is qualitative research. The method used in providing data is the observation method with the free technique of competent involvement and the technique of taking notes. The data analysis method used is the split method with the direct element sharing technique, the lesap technique, and the sentence element function analysis technique. The method of presenting data analysis results is carried out by informal methods. The results of this study are as follows. (1) Affixes forming verbs in biographical texts are (a) prefixes, (b) suffixes, (c) confixes, and (d) affix combinations. (2) The meaning of verb-forming affixes in biographical texts is (a) the meaning of 'to produce' , (b) the meaning of 'doing', (c) the meaning of 'giving', (d) the meaning of 'having been done or in a state', (e) the meaning of 'having experienced', (f) the meaning of 'being able', (g) the meaning of 'unintentional', and (h) means 'subject to action or subject to behavior'. (3) The syntactic behavior of affixed verbs in biographical texts is (a) transitive verbs, (b) dwitransitive verbs, and (c) non-transitive verbs
    corecore