1,721,041 research outputs found

    PENGEMBANGAN E-MODUL MENGGUNAKAN SIGIL SOFTWARE BERBASIS PENEMUAN TERBIMBING TERINTEGRASI KEISLAMAN UNTUK MEMFASILITASI KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS SISWA SMP/MTs

    Get PDF
    ABSTRAK Utami Retno Sundari, (2023): Pengembangan E-Modul Menggunakan Sigil Software Berbasis Penemuan Terbimbing Terintegrasi Keislaman Untuk Memfasilitasi Kemampuan Representasi Matematis Siswa SMP/MTs. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menghasilkan e-modul menggunakan sigil software berbasis penemuan terbimbing terintegrasi keislaman untuk memfasilitasi kemampuan representasi matematis siswa SMP/MTs yang valid, praktis dan efektif. Jenis penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 17 Pekanbaru. Subjek penelitian ini adalah kelas VII SMP Negeri 17 Pekanbaru dan objek penelitian ini adalah e-modul menggunakan sigil software berbasis penemuan terbimbing terintegrasi keislaman. Jenis data penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Berdasarkan uji validitas, e-modul menggunakan sigil software berbasis penemuan terbimbing terintegrasi keislaman dinyatakan valid dengan persentase tingkat kevalidan 93,74%. Berdasarkan uji terbimbing terintegrasi keislaman dinyatakan praktis dengan persentase tingkat kepraktisan 92,56%. Dari hasil tersebut, mengidentifikasi bahwa e-modul yang dikembangkan valid dan praktis. Berdasarkan tes kemampuan representasi matematis siswa diperoleh Zhitung = 5,07 > dari Ztabel = 1,96 yang dinyatakan efektif. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa E-Modul yang dihasilkan memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif. Kata Kunci: E-Modul, Sigil Software, Penemuan Terbimbing, Terintegrasi Keislaman, Kemampuan Representasi Matematis

    Analisis Kekeringan Meteorologi Menggunakan Metode Standardized Precipitation Index (Spi) DI Das Bedadung Kabupaten Jember

    No full text
    Kekeringan merupakan salah satu bencana alam yang dapat disebabkan dari berbagai aspek. Salah satu penyebab dari kekeringan adalah tingkat curah hujan pada suatu wilayah yang rendah sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan seharihari. Tingkat kekeringan pada satu periode dapat berbeda antar wilayah. Bencana kekeringan yang dapat digambarkan menjadi indikasi pertama adanya kekeringan adalah kekeringan meteorologi. Menurut data BPBD pada tahun 2019, Kabupaten Jember mengalami kekeringan ekstrim dengan sebagian besar lokasi berada di DAS Bedadung. Oleh karena itu, dilakukan kajian kekeringan untuk memperoleh keparahan dan durasi kekeringan. Penelitian kekeringan di DAS Bedadung ini menggunakan metode Standardized Precipitation Index (SPI) yang merupakan salah satu metode yang banyak digunakan diberbagai negara untuk menganalisis kekeringan. Hasil dari metode SPI merupakan nilai indeks kekeringan yang diklasifikasikan menjadi bulan basah dan bulan kering. Nilai negatif menandakan dimulainya bulan kering dan nilai positif menandakan dimulainya bulan basah. Perhitungan metode SPI dengan data curah hujan 30 tahun dari 30 stasiun penakar hujan yang ada di DAS Bedadung. Hasil penelitian ini didapat indeks kekeringan paling parah yaitu pada tahun 2018 dan 2019. Pada tahun 2019 nilai indeks kekeringan mencapai rentan -2.69 yang berada di stasiun Ajung dan nilai tertinggi -1,13 di stasiun Kottok yang masih dalam klasifikasi bulan kering. Pemetaan indeks kekeringan yg diperoleh sesuai dengan banyaknya permintaan masyarakat mengenai distribusi air bersih yang mencapai 115.000 liter di wilayah stasiun Ajung yang terdampak kekeringan ekstrim. Bulan yang mengalami kekeringan ekstrim dilakukan pemetaan spasial untuk mendapat peta persebarannya. Hasil validasi antara hasil pemetaan SPI dan BPBD didapat kesesuaian sebesar 82%. Peta persebaran dapat diketahui wilayah yang sering terjadi kekeringan sehingga hasil analisis dapat digunakan pedoman dalam penanganan dan pencegahan supaya tidak terjadi bencana kekeringan lagi

    Pedoman festival musikalisasi puisi

    Get PDF
    Dalam abad ke-21 ini arus globalisasi makin deras memasuki sendi-sendi kehidupan manusia dan tidak dapat dihindari. Selain membawa pengaruh positif, arus perubahan tersebut dapat berpengaruh negatif dan berpotensi mengikis budaya luhur bangsa kita. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya-upaya untuk menapis pengaruh buruk tersebut. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kecintaan dan apresiasi masyarakat terhadap sastra. Hal itu karena di dalam sastra terkandung nilai-nilai kehidupan moral, sosial, budaya, dan agama yang berguna. Pelajar sebagai bagian dari generasi muda perlu dibekali dengan kegiatan-kegiatan yang menggugah jiwa seni dan sastra, misalnya apresiasi puisi dalam bentuk musikalisasi puisi. Untuk itu, Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menyelenggarakan kegiatan festival musikalisasi puisi baik di tingkat provinsi maupun tingkat nasional. Festival musikalisasi puisi merupakan suatu wujud nyata upaya peningkatan apresiasi sastra siswa, terutama siswa sekolah menengah atas/sederajat. Selain meningkatkan apresiasi sastra, kegiatan tersebut memiliki manfaat lain, misalnya menumbuhkan rasa solidaritas serta meningkatkan rasa cinta tanah air. Melihat adanya fenomena kenakalan remaja dan perkelahian atau tawuran antara pelajar atau pemuda, kegiatan festival musikalisasi diharapkan dapat turut meningkatkan rasa persaudaraan di antara anak sebangsa dan setanah air

    Desain Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (Pltmh) DI Anak Sungai Jompo (Sub-Das Rawatamtu) Design of Micro Hydro Power Plant (Mhpp) in Jompo Tributary (Rawatamtu Sub-Watershed)

    No full text
    Menurut RUPTL PLN tahun 2019-2028, kebutuhan listrik di Indonesia diproyeksikan akan meningkat sebesar 6,42% per tahunnya. Guna memenuhi meningkatnya kebutuhan energi listrik ini maka diperlukan suatu sumber energi alternatif terbarukan yang dapat digunakan sebagai sarana pembangkitan energi listrik, salah satunya adalah pembangkit listrik tenaga mikro hidro. Di Kabupaten Jember sendiri terdapat Sungai Bedadung, yang melintasi pusat kota, dengan panjang 161 Km. Dengan luas hampir 500 Km2, DAS Bedadung merupakan DAS yang paling besar di daerah timur Pulau Jawa. Di salah satu anak sungainya, tepatnya di Sungai Poreng, terdapat sebuah bendung yang difungsikan sebagai peninggi muka air. Dengan besarnya debit yang tersedia, aliran Sungai Poreng dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembangkitan tenaga listrik. Lokasi perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro, dilakukan di daerah Anak Sungai Jompo (Sungai Poreng) pada sub-DAS Rawatamtu yang berada di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Tahap awal perencanaan adalah menentukan debit dari data curah hujan yang didapatkan dari stasiun pencatatan curah hujan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Data debit tersebut kemudian diolah menggunakan metode F.J Mock dan Flow Duration Curve (FDC) guna menentukan probabilitas debit optimal yang akan digunakan pada perhitungan desain PLTMH. Selanjutnya dilakukan survei pengukuran guna memperoleh tingi jatuh air maximum. Kemudian, dilakukan perhitungan desian bangunan sipil PLTMH dari data debit dan tinggi jatuh yang sudah diperoleh

    Pedoman Sastrawan Masuk Sekolah

    Get PDF
    Hakikat tujuan pembelajaran sastra adalah menumbuhkan keterampilan, rasa cinta, dan penghargaan para siswa terhadap bahasa dan sastra Indonesia sebagai budaya warisan leluhur. Pembelajaran sastra di sekolah dapat membentuk karakter manusia yang berbudi luhurkarena gambaran nilai-nilai kebenaran ditranformasikan melalui peristiwa-peristiwa dalam karya sastra. Pada dasarnya sastra merupakan produk budaya, kreasi pengarang yang hidup dan terkait dengan tata kehidupan masyarakat. Sastra dapat digunakan untuk menumbuhkan kesadaran pemahaman terhadap orang lain. Para pengarang berusaha merangsang minat dan menumbuhkan rasa simpati pembaca terhadap masalah-masalah yang dihadapimelaluitokoh-tokoh yang tertindas, gagal, kalah, dan putus asa. Secara tidak langsung sastra memberikan kesadaran dengan membawa pesan untuk dipahami oleh pembacanya. Pembelajaran sastra dapat dijadikan sebagai pintu masuk dalam penanaman nilai-nilai moral, seperti kejujuran, pengorbanan, demokrasi, dan sopan santu

    Pedoman bengkel sastra dan apresiasi sastra

    Get PDF
    Arus globalisasi makin deras memasuki sendi-sendi kehidupan manusia dan tidak dapat dihindari. Selain berpengaruh positif, arus perubahan tersebut dapat berpengaruh negatif dan berpotensi mengikis budaya luhur bangsa kita. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya-upaya untuk menepis pengaruh buruk itu. Salah satu yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kecintaan dan apresiasi terhadap karya sastra Indonesia karena di dalam sastra terkandung nilai-nilai kehidupan moral, sosial, budaya, dan agama yang luhur. Masyarakat sebagai bagian tak terpisahkan dalam pembangunan bangsa Indonesia perlu dibekali dengan kegiatan yang menggugah jiwa seni dan sastra, misalnya kegiatan bengkel sastra dan apresiasi sastra yang diselenggarakan oleh Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bengkel sastra dan apresiasi sastra merupakan wujud nyata upaya menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap sastra dan meningkatkan daya apresiasi mereka terhadap karya sastra. Selain itu, kegiatan tersebut juga memiliki manfaat lain, misalnya dapat menumbuhkan rasa solidaritas serta meningkatkan rasa cinta tanah air. Kegiatan bengkel sastra dan apresiasi sastra harus menjadi kegiatan yang menarik bagi masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan tersebut harus diselenggarakan dengan sebaik-baiknya sebagai wadah peningkatan apresiasi dan kegairahan berkarya sastra masyarakat. Untuk mendukung hal tersebut, Bidang Pembelajaran, Pusat Pembinaan menyusun buku Pedoman Bengkel Sastra dan Apresiasi Sastra yang dilengkapi dengan silabus dan bagan alur kegiatannya. Buku pedoman ini dimaksudkan sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan bengkel sastra dan apresiasi sastra, baik yang dilaksanakan oleh pusat, balai dan kantor bahasa, maupun pihak lain

    Penggunaan Konjungsi Bantu Nagara dalam Novel Jinsei No Mokuteki Karya Hiroyuki Itsuki

    Get PDF
    Utami, Retno Tantri . 2014. Penggunaan Konjungsi Bantu Nagara Dalam Novel Jinsei No Mokuteki Karya Hiroyuki Itsuki. Program Studi Sastra Jepang, Universitas Brawijaya Malang. Pembimbing : (I) Efrizal (II) Nadya Inda Syartanti Kata Kunci : Konjungsi Bantu, Nagara, Jinsei No Mokuteki Dalam buku-buku pelajaran bahasa Jepang dasar seperti Minna No Nihongo, telah dibahas tentang nagara yang menyatakan adanya dua kegiatan atau lebih yang dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Pada penggunaan semacam itu, nagara berfungsi sebagai konjungsi bantu. Tapi sebenarnya nagara masih memiliki makna yang lain dan kurang dipahami oleh para pembelajar bahasa Jepang. Permasalahan pada penelitian ini adalah bagaimana penggunaan konjungsi bantu nagara dalam kalimat yang terdapat dalam novel Jinsei no Mokuteki? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan konjungsi bantu nagara dalam novel Jinsei No Mokuteki. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yaitu metode untuk mengungkap dan memahami sesuatu dengan mengumpulkan data-data yang konkrit. Data yang digunakan adalah diperoleh dari novel Jinsei No Mokuteki karya Hiroyuki Itsuki, yang berupa kalimat yang memuat nagara. Jumlah keseluruhan data yang telah ditemukan dari keempat makna nagara tersebut adalah 48 data, dan yang akan dianalisis dalam penelitian ini terdiri dari 36 penggunaan nagara yang bermakna ‘sambil', 10 penggunaan nagara yang bermakna ‘meskipun atau walaupun', 2 penggunaan nagara yang bermakna ‘tetap'. Kesimpulan yang diperoleh, yaitu nagara dapat berfungsi sebagai konjungsi bantu, yang menyatakan adanya dua kegiatan atau kondisi yang dilakukan secara bersamaan, juga mengekspresikan perasaan saat adanya dua hal yang berkontradiksi pada waktu yang sama dan menyatakan keadaan tetap. Penggunaan nagara sebagai konjungsi bantu yang menunjukkan adanya dua kegiatan yang dilakukan dalam waktu yang bersamaan adalah yang paling banyak digunakan. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memberi tambahan pengetahuan kepada para pembelajar bahasa Jepang tentang penggunaan nagara

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
    corecore