1,721,550 research outputs found
KOREOGRAFI ASMARASIH KARYA UMIYATI SRI WARSINI
Tari Asmarasih merupakan tari berpasangan yang ditarikan oleh dua penari yaitu putra dan putri bertemakan percintaan. Tari ini disusun oleh Umiyati Sri Warsini tahun 1989 di Pura Mangkunegaran. Disusun untuk mengisi keperluan resepsi pernikahan, selain itu tari ini juga dapat di pentaskan dalam acara lain yang tujuannya sebagai hiburan.
Penelitian ini menggunakan landasan teori bentuk yang dikemukakan oleh Suzane K. Langer, dan sebagai model analisis untuk mendeskripsikan koreografi Asmarasih, menggunakan teori dari Janet Adshead tentang komponen koreografi. Selanjutnya peneliti menggunakan landasan teori garap yang dikemukakan oleh Rahayu Supanggah, untuk menganalisis mengenai garap tari Asmarasih. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan pendekatan etnografi tari dengan melakukan penelitian langsung ke lapangan untuk menjawab permasalahan mengenai koreografi maupun garap tari.
Hasil penelitian ini dapat diperoleh gambaran yang berkaitan dengan koreografi dan garap tari Asmarasih. Koreografi Asmarasih tidak terlepas dari elemen-elemen pembentuknya yang saling berkaitan seperti penari, gerak, tata visual dan elemen suara. Garap tari Asmarasih ini dilakukan oleh komunitas Pura Mangkunegaran maka dalam proses garapnya mengikuti aturan yang ada di Pura Mangkunegaran. Tari Asmarasih juga diketahui merupakan satu-satunya tari pasihan atau percintaan, yang terdapat di Pura Mangkunegaran. Garap gerak maupun garap gendhing secara kreatif menggunakan aturan-aturan yang berada di lingkungan Pura Mangkunegaran. Dengan demikian walaupun terdapat gerak dan gendhing gaya Yogyakarta dan Surakarta, maka bisa dikatakan sebagai gaya Mangkunegaran. Penelitian ini juga mengungkapkan kesenimanan Umiyati Sri Warsini yang merupakan satu-satunya generasi seniman wanita abdi dalem yang ada di Pura Mangkunegaran, setelah era Nyi Bei Mardusari (alm.), yang memiliki kemampuan multitalenta (penari, pesindhen, pengeprak, dan guru tari)
IMPLEMENTASI KONSEP BENTUK ARSITEKTUR SEBAGAI ANALOGI BIOLOGIS, LINGUISTIK, DAN MATEMATIS PADA DESAIN MUSEUM MARITIM DI BATAM
Umiyati, 2021,Implementasi Konsep Bentuk Arsitektur Sebagai Analogi Biologis
Pada Desain Museum Maritim Di Batam Dosen Pembimbing : Prof.Dr.Ir.James
Hellyward,Ms.Ipu Asean Eng
Kata Kunci : Maritim,museum,Analogi Biologis
Indonesia merupakan negara maritim dengan sejarah kemaritimannya yang panjang
sejak zaman Sriwijaya hingga sekarang, Secara sederhana,
negara maritim diartikan sebagai negara yang dikelilingi laut atau perairan yang
luas. banyaknya kisah dan arsip sejarah tersebut kurang terdokumentasi dalam suatu
wadah khusus yang dapat diakses oleh semua orang. Adanya Museum Maritim
sebagai fasilitas pengarsip dokumen-dokumen kemaritiman dapat mendukung
pelestarian dan juga edukasi kepada warga sekitar tentang sejarah kemaritiman di
Indonesia. Perancangan Museum Maritim di Batam ini terletak di pulau tonton
disekitar jambatan barelang yang merupakan simbol kejayaan maritim Inodnesia
saat ini. Sebagai upaya menghadirkan kembali masa kejayaan maritim indonesia
dimasa lalu ke masa sekarang sehingga pendekatan yang dipilih adalah Implentasi
Konsep bentuk Arsitektur sebagai analogi Biologis
Analogi Biologis Pandangan para ahli teori yang menganalogikan arsitektur sebagai
analogi biologis berpendapat bahwa membangun adalah proses biologis bukan
proses estetis. Analogi biologis terdiri dari dua bentuk yaitu organik (dikembangkan
oleh Frank Lloyd Wright). Bersifat umum ; terpusat pada hubungan antara bagian-
bagian bangunan atau antara bangunan dengan penempatannya/penataannya. dan
biomorfik. Lebih bersifat khusus. ; terpusat pada pertumbuhan proses-proses dan
kemampuan gerakan yang berhubungan dengan organisme. Arsitektur organik FL
Wright mempunyai 4 karakter sifat
a. Berkembang dari dalam ke luar, harmonis terhadap sekitarnya dan tidak dapat
dipakai begitu saja.
b. Pembangunan konstruksinya timbul sesuai dengan bahan-bahan alam apa
adanya (kayu sebagai kayu, batu sebagai batu, dll).
3
c. Elemen-elemen bangunannya bersifat terpusat (integral).
d. Mencerminkan waktu, massa, tempat dan tujuan. Secara asli dalam arsitektur
istilah organik berarti sebagian untuk keseluruhan keseluruhan untuk sebagian.
Arsitektur Biomorfik kurang terfokus terhadap hubungan antara bangunan dan
lingkungan dari pada terhadap proses-proses dinamik yang berhubungan
dengan pertumbuhan dan perubahan organisme. Biomorfik arsitektur
berkemampuan untuk berkembang dan tumbuh melalui : perluasan,
penggandaan, pemisahan, regenerasi dan perbanyaka
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Meningkatkan Kemampuan Menghafal Surah-Surah Pendek Melalui Penerapan Reward dan Punishment Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Teluk Dalam 3 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin
Umiyati. 2009. “Meningkatkan Kemampuan Menghafal Surah-Surah Pendek Melalui Penerapan Reward dan Punishment Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Teluk Dalam 3 Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin”. Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah. Pembimbing: (I) Drs. H. Syarifuddin Syukur, M. A (II) Asikin Nor, M. Ag.
Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian tindakan kelas, yaitu bentuk pembelajaran yang bersifat reflektif untuk memperbaiki kondisi pembelajaran dan meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan melaksanakan tugas dengan proses pengkajian berdaur, yaitu merencanakan, melaksanakan tindakan, mengamati, dan merefleksi tentang permasalahan kurangnya kemampuan siswa kelas IV menghafal surah-surah pendek. Untuk itu direncanakan tindakan kelas dalam upaya meningkatkan kemampuan menghafal surah-surah pendek tersebut melalui reward dan punishment.
Tindakan kelas yang dilaksanakan dalam menerapkan pembelajaran melalui reward dan punishment pada pembelajaran menghafal surah-surah pendek pada kelas IV dilakukan dengan dua cara pengamatan, yaitu 1) Pengamatan langsung yang dilakukan peneliti terhadap kegiatan pembelajaran melalui reward dan punishment dengan materi menghafal surah al-Kautsar, an-Nashr, dan al-Ashr. 2) Pengamatan partisipasi yang dilakukan oleh guru sejawat untuk mengamati kegiatan pembelajaran 4 x (2 x 35 menit) siklus pertama, dan siklus ke dua sesuai tahapan-tahapan proses pembelajaran di kelas.
Berdasarkan refleksi hasil tindakan kelas siklus I, dan siklus II penelitian ini, diperoleh data : a) Persentasi hasil observasi teman sejawat terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan peneliti yaitu siklus I pertemuan pertama 84,38 % dan pertemuan kedua 90,63 % (rata-rata 87,51%). Siklus II pertemuan pertama 93,75 % dan pertemuan kedua 100% (rata-rata 96,78%). Rata-rata keseluruhan 96,88 %. b) Persentasi hasil observasi teman sejawat terhadap aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar yaitu siklus I pertemuan pertama 70,00% dan pertemuan kedua 74,00% (rata-rata 72,00%). Siklus II pertemuan pertama 82,00% dan pertemuan kedua 86,00% (rata-rata 84,00%). Rata-rata keseluruhan 78,00%. c) Terjadinya peningkatan nilai rata-rata hasil tes formatif dari siklus I ke siklus II yang dapat dilihat dari hasil tes yang dilaksanakan pada siklus I nilai rata-rata pada pertemuan pertama yaitu 6,95 dan pertemuan kedua 7,28 (rata-rata nilai siklus I 7,12) di bawah indikator ketuntasan belajar, kemudian meningkat pada siklus II, pertemuan pertama menjadi 7,46 dan pada pertemuan kedua 7,64 (rata-rata nilai siklus II 7,55) di atas indikator ketuntasan belajar yang ditetapkan sebelumnya. d) Hasil kuesioner tentang sikap siswa terhadap pernbelajaran menghafal surah-surah pendek dengan menggunakan reward dan punishment pada umumnya siswa setuju, yaitu yang menjawab sangat setuju 32,60 %, setuju 67,40 %, kurang setuju 0 %, dan tidak setuju 0%
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
SINTESIS DAN KARAKTERISASI KOMPLEKS KOBAL(II) DENGAN PIRAZINAMIDA
Nurhalimah Umiyati. 2009. SYNTHESIS AND CHARACTERIZATION OF
COBALT(II) COMPLEX WITH PYRAZINAMIDE. Thesis.Department of
Chemistry. Mathematics and Natural Sciences Faculty. Sebelas Maret University.
The purposes of this research are to know the synthesis, formulaand
characteristic of complex of cobalt(II) with pyrazinamide. Complex of cobalt(II)
with pirazinamide (pza) has been synthesized in 1 : 3 mole ratio of metal to ligan
in methanol.
The forming of complex was indicated by the shifting of maximum
wavelength to the shorter wavelength than metal ion. The formula of complex
which is predicted from analysis of % Co in the complex by Atomic Absorption
Spectroscopy (AAS) was [Co(pza)3(NO3)2.4H2O]. Charge ratio of cation and
anion of the complex measured by conductivitymeter correspond to 2 : 1 metal to
ligan. It means that NO3
-is not coordinated to thecenter ion. The thermal analysis
determined by Differential Thermal Analyzer (DTA) was indicated that Co(II)-pyrazinamide complex contains four water molecules. Thus possibility formula of
the complex was [Co(pza)3(NO3)2.4H2O].
Infra red spectra showeda shift of N-H and C=O group absorption and
indicatedthat these functional groups coordinated to the Co
2+
center ion
bidentately. Magnetic susceptibility measurement showed that this complex was
paramagnetic with µeff 4.92± 0.01 BM. The UV-Vis spectra showedone
absorption band at 504 nm (19841.26 cm
-1
). This peak indicated that the complex
wasoctahedral structure with transition
4
T1g (F) →
4
T1g (P). The estimate value of
10 Dq (Δo) for Co(pza)3(NO3)2.4H2O is 237.397 kJ.mol
-1
- …
