1,721,002 research outputs found
Peranan Kesenian Adok Sebagai Sarana Pendidikan Estetika Pada Masyarakat di Korong Ubun-Ubun
This paper aims to reveal the aesthetic values and ideas contained in the musical art of Adok in Korong Ubun-Ubun, which acts as a means of aesthetic education for the performing arts community and the supporting community. As a virtue contained in Adok art, the aesthetic values and ideas make the position of Adok art different when compared to other traditional arts, so that the research is important. The research location was Jorong Ujuang Ladang, Korong Ubun-Ubun, Kanagarian X Koto Singkarak, Solok Regency. The object of research was Art Adok, focusing on the aesthetic aspects of the performance. This study uses an ethnographic approach and data collection techniques through participant observation. Minang values related to the value of taste (aesthetics) in Adok art contribute positively to the perspective of the supporting community so that they can change people’s perceptions and understanding of Adok art. The results of this study can also prove that the Adok art can be one of the presentations of Minang’s which the supporting community has not realized.
Paradigma Al-Nashiyah dalam Ilmu Neorologi Perspektif alQur‟an (Studi Analisis Tafsir I'jaz Ilmi)
Ahmad Safi’i (2020):Paradigma Al-Nashiyah dalam Ilmu Neorologi Perspektif alQur‟an (Studi Analisis Tafsir I'jaz Ilmi)
Penelitian dengan nama Ahmad Safi’i Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
dengan judul “Paradigma Al-Nashiyah dalam Ilmu Neorologi Perspektif alQur‟an (Studi Analisis Tafsir I'jaz Ilmi).” Manusia merupakan makhluk yang
dianugerahi kesempurnaan dan kelebihan yang tidak dimiliki oleh mahkluk Allah
yang lain. Salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh manusia adalah kepala. Di
dalam kepala manusia tepatnya dibagian dahi manusia ada yang mengatur seluruh
aktivitas manusia yang disebut dengan nashiyah. Penelitian ini sangat penting
untuk mengetahui bagaimana pandangan para mufassir serta pakar ilmuan
saintifis dalam mengungkap paradigma al-nashiyah dalam ilmu neurologi.
Metodologi penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Penelitian ini
bersifat kepustakaan yang langkah-langkahnya melalui penggalian dan
penelusuran terhadap kitab-kitab, buku-buku, catatan yang berhubungan dengan
penelitian ini. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan metode bersifat
mawdhu‟i. Dari penelitian ini di dapatkan bahwa kata nashiyah yang bermakna
ubun-ubun itu berfungsi sebagai pengatur tingkah laku emosional manusia.
Berdasarkan pandangan para mufassir dan para ilmuan saintifis terhadap makna
nashiyah dalam al-Qur‟an, bahwasanya ketika ubun-ubun itu rusak, maka akan
berdampak kepada perubahan pola pikir dan tingkah laku manusia. Ketika fisik
manusia disiksa di akhirat, maka ubun-ubun adalah organ tubuh yang utama
merasakan siksaan. Sebab, ubun-ubun inilah yang memberi warna baik dan buruk
perbuatan manusia.
Kata kunci: Ubun-ubun, Neurologi, I’jaz ilm
AL- NA<S{ IYAH SEBAGAI TALI KEMATIAN (ANALISIS STUDI Q.S AL-ALAQ AAYAT 15-16 DALAM TAFSIR ILMIAH SALMAN)
Abstrak
Asumsi penulis memilih judul ini dilatarbelakangi oleh pernyataan al-Quran dalam Q.S
al-Alaq :15-16 tentang al-Na>s} iyah yang dimaknai sebagai ubun-ubun. Beberapa
pernyataan mufassir dalam istilah medis kata al-Na>s} iyah dimaknai lobus frontal yang
berperan sebagai perencanaan, pertanggung jawaban untuk mengambil suatu
keputusan. Namun berbeda halnya menurut Tafsir Ilmiah Salman yang membahas al
Na>s} iyahsebagai Tali Kematian. Penulis ingin mengkaji lafadz al-Na>s} iyahdalam al-Quran,
dalam pandangan Tafsir Ilmiah Salman terhadap al-Na>s} iyah, dan relevansi al-Na>s} iyah
dengan Tali kematian. Jenis penelitian ini menggunakan studi keperpustakaan (Library
Research) yang bersifat deskriptif analisis kualitatif. Objek utama penelitian ini adalah
Tafsir Ilmiah Salman dengan corak Tafsir ‘Ilmi. Karena itu metode yang digunakan
melalui pendekatan Tafsir Tematik. Penelitian ini hanya memfokuskan pemaknaan al
Na>s} iyah Q.S al-Al-Alaq 15:16 dalam Tafsir Ilmiah Salman, dan merelevansikannya
dengan tali kematian dalam Ilmu Neurologi. Dari pemaparan di atas akan menghasilkan
kesimpulan diantaranya lafadz al-Na>s} iyahdalam al-Quran diartikan sebagai ubun-ubun
hal ini ditunjukan pada sikap Abu Jahal terhadap Nabi Muhammad, lafadz al-Na>s} iyah
dalam Tafsir Ilmiah Salman tak hanya diartikan sebagai ubun-ubun ataupun Lobus
Frontal melainkan mengkaitkan dengan seluruh Organ Vital, dan relevansi al-Na>s} iyah
sebagai Tali Kematian dalam Ilmu Neurologi merupakan kemungkinan yang kecil dapat
membuat kematian seseorang karena kerusakan al-Na>s} iyah (ubun-ubun) hanya akan
merusak kepribadian.
Kata Kunci: al-Na>s} iyah, Kematian, Tafsir Ilmiah Salman, Al-Ala
LAFADZ AL-NĀSIYAH DALAM AL-QURAN DAN RELEVANSINYA DENGAN KARAKTER MANUSIA (TAFSIR TEMATIK)
ABSTRAK
Penelitian ini membahas lafadz al-Nāsiyah dalam al-Qur’an dan
relevansinya dengan karakter manusia. Al-nāsiyah atau ubun-ubun adalah otak
bagian pre frontal yang merupakan pusat perintah dari semua organ tubuh, yang
bertanggung jawab atas manajemen fungsi-fungsi tertentu memberi warna untuk
perbuatan manusia. Hal ini Allah jelaskan dalam al-Qur’an surat Hud ayat 56, al-
Rahman ayat 41 dan al-‘Alaq ayat 15-16. Otak manusia terdiri dari empat bagian
yaitu bagian belakang kepala, bagian pelipis, bagian dinding dan bagian dahi.
Nāsiyah atau ubun-ubun inilah yang biasa disebut dahi atau kening (frontal lobes),
yang bertanggung jawab mengontrol perilaku diri, berpikir, mengatur emosi,
mengatur konsentrasi dan mengambil keputusan.
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana penafsiran alnāsiyah
menurut para mufassir serta hubungannya dengan pembentukan karakter
manusia. Penelitian ini bersifat perpustakaan (library research) dan metodologi
yang digunakan dalam penelitian ini adalah maudhu’i (tematik) dengan
pendekatan kualitatif
Hasil penelitian ini menyimpulkan dua hal. Pertama, nāsiyah menurut para
mufassir adalah ubun-ubun yang merupakan pusat perintah dari semua organ
tubuh. Karakter disandarkanَ kepada nāsiyah (ubun-ubun), Karena pemilik ubunubun
lah yang merupakan sebab suatu perbuatan. Nāsiyah bukan hanya berarti
ubun-ubun tetapi mencakup seluruh tubuh. Kata tersebut dipilih untuk mewakili
seluruh tubuh karena dahi merupakan lambang kemuliaan. Kedua, hubungan
antara otak dengan pembentukan karakter manusia adalah penggabungan watak
yang terletak pada lobus parientalis dan lobus prontalis. Pembentukan karakter ini
merupakan akumulasi dari kinerja seluruh bagian otak dengan spesifikasinya
masing-masing, merupakan produk dari interkoneksi dan interdependensi bagianbagian
otak yaitu: cortex prefrontalis, system limbik, gyrus cingulatus, ganglia
basalis, lobus temporalis dan cerebellum.
Kata Kunci: nāsiyah, otak, dan karakte
Dinamika makna simbolik lafadz Nāṣiyah dari ubun-ubun hingga Prefrontal Cortex: Analisis semiotika Charles Sanders Peirce
ABSTRAK
Penelitian ini mengkaji makna simbolik lafadz nāṣiyah dalam Al-Qur’an dengan menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Secara leksikal, nāṣiyah dimaknai sebagai ubun-ubun atau bagian depan kepala. Dalam tafsir klasik, lafadz ini dipahami tidak hanya sebagai bagian fisik manusia, tetapi juga sebagai simbol kehinaan, ketundukan, dan kontrol moral, khususnya dalam konteks ayat-ayat ancaman terhadap kaum pendusta. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan modern, khususnya neurosains, nāṣiyah mulai dikaitkan dengan fungsi prefrontal cortex, yaitu bagian otak yang berperan penting dalam pengambilan keputusan, pengendalian perilaku, dan kesadaran moral. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menelusuri dinamika makna simbolik lafadz nāṣiyah dari perspektif tafsir klasik hingga pendekatan ilmiah kontemporer.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan sumber data utama berupa Al-Qur’an, kitab-kitab tafsir klasik dan kontemporer, serta literatur semiotika dan neurosains. Analisis data dilakukan dengan menerapkan teori semiotika triadik Charles Sanders Peirce yang mencakup representamen, object, dan interpretant, serta dilengkapi dengan trikotomi tanda seperti ikon, indeks, dan simbol. Pendekatan ini digunakan untuk mengungkap proses semiosis yang memungkinkan lafadz nāṣiyah mengalami perluasan makna secara bertahap sesuai dengan konteks keilmuan dan historis.
Hasil penelitian menunjukkan dua temuan utama: (1) dalam perspektif tafsir klasik, lafadz nāṣiyah dipahami sebagai simbol kehinaan dan ketundukan manusia di hadapan kekuasaan Allah, sekaligus sebagai representasi kendali moral yang berkaitan dengan perilaku pendustaan dan pembangkangan; (2) dalam perspektif modern, khususnya melalui temuan neurosains, lafadz nāṣiyah dapat dimaknai sebagai simbol pusat pengendalian perilaku manusia yang berkorelasi dengan fungsi prefrontal cortex. Kedua temuan ini menunjukkan bahwa makna lafadz nāṣiyah mengalami perkembangan simbolik yang bersifat dinamis melalui proses semiosis berkelanjutan, sehingga memperlihatkan keterbukaan makna Al-Qur’an terhadap dialog dengan ilmu pengetahuan modern.
ABSTRACT
This study examines the symbolic meaning of the term nāṣiyah in the Qur’an by employing the semiotic theory of Charles Sanders Peirce. Lexically, nāṣiyah refers to the forelock or the front part of the head. Classical Qur’anic exegesis generally understands this term not merely as a physical entity, but as a symbol of humiliation, submission, and moral control, particularly in verses that convey divine threat toward those who deny the truth. Along with the development of modern science, especially neuroscience, nāṣiyah has increasingly been associated with the prefrontal cortex, a part of the brain responsible for decision-making, self-control, moral awareness, and conscious behavior. Therefore, this research aims to explore the development of the symbolic meaning of nāṣiyah from classical exegetical interpretations to contemporary scientific perspectives.
This research adopts a qualitative library-based method, drawing on primary sources such as the Qur’an, classical and contemporary tafsir works, as well as secondary sources in semiotics and neuroscience. Data analysis is conducted using Peirce’s triadic semiotic framework consisting of representamen, object, and interpretant, complemented by the trichotomy of signs such as icon, index, and symbol. This approach is applied to reveal the process of semiosis through which the meaning of nāṣiyah develops in accordance with changing intellectual and historical contexts.
The findings of this study reveal two main conclusions: (1) in classical Qur’anic exegesis, nāṣiyah functions as a symbolic sign representing humiliation and submission before divine authority, while also indicating moral control related to human behavior and disobedience; (2) from a modern perspective, particularly in light of neuroscientific findings, nāṣiyah may be interpreted as a symbolic representation of the center of behavioral control in humans, corresponding to the function of the prefrontal cortex. These findings demonstrate that the meaning of nāṣiyah undergoes a dynamic symbolic development through an ongoing process of semiosis, highlighting the Qur’an’s openness to interdisciplinary engagement with modern scientific knowledge.
ملخص البحث
تهدف هذه الدراسة إلى تحليل الدلالة الرمزية للفظ الناصية في القرآن الكريم من خلال توظيف نظرية السيميائيات عند تشارلز ساندرز بيرس. ومن الناحية اللغوية، تدلّ الناصية على مقدَّم الرأس أو ناصية الإنسان. وقد فسّر المفسرون الكلاسيكيون هذا اللفظ بوصفه ليس مجرد عضو جسدي، بل رمزًا للذلّ والخضوع والضبط الأخلاقي، ولا سيما في سياق الآيات التي تتناول الوعيد والتهديد للمنكرين والمكذبين. ومع تطوّر العلوم الحديثة، وبخاصة علم الأعصاب، برزت مقاربات جديدة تربط الناصية بوظائف الفصّ الجبهي الأمامي (prefrontal cortex) المسؤول عن اتخاذ القرار، وضبط السلوك، والوعي الأخلاقي.
تعتمد هذه الدراسة على المنهج الكيفي القائم على البحث المكتبي، وذلك من خلال تحليل نصوص القرآن الكريم، وكتب التفسير الكلاسيكية والمعاصرة، إضافة إلى مصادر في السيميائيات وعلم الأعصاب. وقد تم تحليل البيانات باستخدام النموذج الثلاثي في سيميائيات بيرس، الذي يتكوّن من المُمثِّل (representamen)، والموضوع (object)، والمؤوِّل (interpretant)، مع الاستعانة بتقسيمات العلامة مثل الأيقونة، والمؤشِّر، والرمز، للكشف عن عملية التوالد الدلالي (semiosis) التي تتيح تطوّر المعنى الرمزي للفظ الناصية.
وتُظهر نتائج الدراسة ما يلي: (1) في التفسير الكلاسيكي، يُفهم لفظ الناصية بوصفه رمزًا للذلّ والخضوع أمام القدرة الإلهية، ودالًّا على مركز الضبط الأخلاقي المرتبط بسلوك الإنسان وتمرده أو طاعته؛ (2) أمّا في المنظور الحديث، ولا سيما في ضوء معطيات علم الأعصاب، فيمكن تأويل الناصية بوصفها رمزًا لمركز التحكم في السلوك الإنساني، بما يتوافق مع وظائف الفصّ الجبهي الأمامي (prefrontal cortex). وتؤكد هذه النتائج أن دلالة الناصية شهدت تطورًا رمزيًا ديناميكيًا عبر عملية سيميائية مستمرة، مما يعكس قابلية النص القرآني للحوار مع العلوم الحديثة ضمن إطار منهجي منضبط
- …
