54 research outputs found

    PERANAN KESENIAN REBANA WALISONGO SRAGEN DALAM STRATEGI DAKWAH KH.MA’RUF ISLAMUDDIN

    Get PDF
    Tri Pujiyanto. THE ROLE OF SRAGEN WALISONGO TAMBOURINE ART IN KH. MA’RUF ISLAMUDDIN’S DA’WAH STRATEGY. Thesis. Surakarta: Teacher Training and Education Faculty, Sebelas Maret University, December 2012. The objectives of research are: (1) to find out the history of tambourine music art advent in KH. Ma’ruf Islamuddin’s dak’wah (religious proselytizing), (2) to find out the extent to which KH. Ma’ruf Islamuddin utilizes tambourine music as the da’wah Islamiyah (Islamic proselytizing) media, (3) to find out the philosophical values contained in tambourine music art lyric that KH. Ma’ruf Islamuddin uses, and (4) to find out the attempts of developing tambourine music as da’wah media in this globalization age. This study was a descriptive qualitative research, the way of investigating an event in the present by providing the descriptive data in the form of written or spoken words from certain people or behavior that can be observed using certain procedures. In this research, a single embedded study case strategy was used. The data source used was object source, place, event, informant, and document. Technique of collecting data used was observation, interview, and document analysis. The sampling techniques used were purposive and snowball sampling ones. To validate the data, two triangulations were used in this research: data and method triangulations. Technique of analyzing data used was an interactive analysis, the analysis process encompassing three components including: data reduction, data display, verification/conclusion drawing, running cyclically. Considering the result of research, it could be concluded: (1) the idea of conducting da’wah with art as well as art departed from Walisanga’s concept. KH. Ma’ruf Islamuddin proselytized using tambourine as the means of distributing Islam religion to make the proselytizing acceptable to the public. (2) The tambourine that KH. Ma’ruf Islamuddin used as Islamiyah da’wah used lyric containing the invitation to undertake amar ma’ruf nahi munkar by means of changing other’s song lyric. (3) Tambourine in use KH.Ma 'ruf Islamuddin as a means of preaching Islamiah here using the tune of the creation of others who changed the lyrics. The purpose or objective of the songs sung an invitation carry out God's commands and avoid His prohibitions. (4) The attempts the Walisongo Sragen Islam Boarding School had taken in developing tambourine art can be seen from the presence of art development activity for the santri (students of Islam Boarding School): firstly, reorganizing tambourine player; secondly, establishing recording studio; and thirdly, establishing Sragen Walisongo radio studio. Tri Pujiyanto. PERANAN KESENIAN REBANA WALISONGO SRAGEN DALAM STRATEGI DA’WAH KH.MA’RUF ISLAMUDDIN. Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, Desember 2012. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan: 1) Mengetahui sejarah munculnya kesenian musik rebana dalam da’wah KH.Ma’ruf Islamuddin, (2) Mengetahui seberapa jauh KH.Ma’ruf Islamuddin memanfaatkan kesenian musik rebana sebagai media da’wah Islamiyah, (3) Mengetahui nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam syair kesenian musik rebana yang digunakan oleh KH.Ma’ruf Islamuddin, (4) Mengetahui usaha-usaha pengembangan kesenian musik rebana sebagai media da’wah dalam era globalisasi sekarang ini. Bentuk penelitian ini deskriptif kualitatif, yaitu suatu cara dalam meneliti suatu peristiwa pada masa sekarang dengan menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang tertentu atau perilaku yang dapat diamati dengan menggunakan langkah-langkah tertentu. Dalam penelitian ini digunakan strategi studi kasus tunggal terpancang. Sumber data yang digunakan adalah sumber benda, tempat, peristiwa, informan, dan dokumen. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive dan snowball sampling. Penelitian ini, untuk mencari validitas data digunakan dua tehnik trianggulasi yaitu trianggulasi data dan trianggulasi metode. Tehnik analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif, yaitu proses analisis yang bergerak diantara tiga komponen yang meliputi reduksi data, penyajian data, verifikasi/penarikan kesimpulan, yang berlangsung secara siklus. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) Gagasan untuk melaksanakan da’wah dengan budaya serta seni terinspirasi dari konsep para Walisango. KH.Ma’ruf Islamuddin berdakwah dengan rebana sebagai sarana untuk menyebarkan agama Islam agar tujuan dari dakwah itu sendiri bisa diterima oleh masyarakat. (2) Rebana yang digunakan KH.Ma’ruf Islamuddin sebagai sarana berdakwah Islamiah menggunakan lirik yang bernadakan ajakan mejalankan amar ma’ruf nahi munkar dengan cara mengubah syairnya dari lagu milik orang lain. (3) Rebana yang di gunakan KH.Ma’ruf Islamuddin sebagai sarana berdakwah Islamiah menggunakan nada lagu dari ciptaan orang lain yang diubah liriknya. Maksud atau tujuan dari lagu yang dilantunkan merupakan ajakan mejalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. (4) Usaha yang dilakukan oleh jajaran pondok pesantren Walisongo Sragen dalam mengembangkan kesenia rebana ini dapat dilihat adanya kegiatan pengembangan seni bagi para santri yang Pertama, adanya reorganisasi pemain rebana. Kedua, mendirikan studio rekaman. Ketiga, mendirikan studio radio Walisongo Srage

    PERANAN KESENIAN REBANA WALISONGO SRAGEN DALAM STRATEGI DAKWAH KH.MA’RUF ISLAMUDDIN

    Get PDF
    Considering the result of research, it could be concluded: (1) the idea of conducting da’wah with art as well as art departed from Walisanga’s concept. KH. Ma’ruf Islamuddin proselytized using tambourine as the means of distributing Islam religion to make the proselytizing acceptable to the public. (2) The tambourine that KH. Ma’ruf Islamuddin used as Islamiyah da’wah used lyric containing the invitation to undertake amar ma’ruf nahi munkar by means of changing other’s song lyric. (3) The tambourine that KH. Ma’ruf Islamuddin used as the means of Islamic proselytizing here used a variety of others’ song lyrics that had been known by many people, and then rearranged them to be more acceptable and understandable to the listeners, but the purpose or t he objective of the song played was the invitation to undertake Allah’s command and to keep away from His prohibition by means of changing the lyrics, but KH. Ma’ruf Islamuddin also composed some songs by himself. (4) The attempts the Walisongo Sragen Islam Boarding School had taken in developing tambourine art can be seen from the presence of art development activity for the santri (students of Islam Boarding School): firstly, reorganizing tambourine player; secondly, establishing recording studio; and thirdly, establishing Sragen Walisongo radio studio. Key words: Arts the tambourine Walisongo’s Srage

    Peranan Kesenian Rebana Walisongo Sragen dalam Strategi Dakwah Kh.ma'ruf Islamuddin (The Role Of Sragen Walisongo Tambourine Art In Kh. Ma'ruf Islamuddin's Da'wah Strategy)

    No full text
    Considering the result of research, it could be concluded: (1) the idea of conducting da'wah with art as well as art departed from Walisanga's concept. KH. Ma'ruf Islamuddin proselytized using tambourine as the means of distributing Islam religion to make the proselytizing acceptable to the public. (2) The tambourine that KH. Ma'ruf Islamuddin used as Islamiyah da'wah used lyric containing the invitation to undertake amar ma'ruf nahi munkar by means of changing other's song lyric. (3) The tambourine that KH. Ma'ruf Islamuddin used as the means of Islamic proselytizing here used a variety of others' song lyrics that had been known by many people, and then rearranged them to be more acceptable and understandable to the listeners, but the purpose or the objective of the song played was the invitation to undertake Allah's command and to keep away from His prohibition by means of changing the lyrics, but KH. Ma'ruf Islamuddin also composed some songs by himself. (4) The attempts the Walisongo Sragen Islam Boarding School had taken in developing tambourine art can be seen from the presence of art development activity for the santri (students of Islam Boarding School): firstly, reorganizing tambourine player; secondly, establishing recording studio; and thirdly, establishing Sragen Walisongo radio studio

    BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN LAMA HARI RAWT DI BAGIAN PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT UMUM KOTAMADYA DATI II SEMARANG TAHUN 1995

    Get PDF
    Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran mengenai jumlah pemeriksaan penunjang, hari masuk, hari pulang, diagnosis penyakit, jenis penyakit,umur, jenis kelamin, pembayar biaya Rumah Sakit dengan lama hari rawt, serta hubungan beerapaq factor tersebut dengan lama hari rawt di RSU Kodya dati II Semarang. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan Cross sectional dan teknik restrospektif. Jumlah sample penelitian sebanyak 313. data yang dikumpulkan berasal dari catatan medik pasien bagian penyakit dalam RSU Kodya Dati II Semarang. Dari hasil perhitungan uji statistik diketahui terdapat hubungan yang bermakna antara umur dengan lama hari rawat (nilai r=0,34689), ada hubungan antara jenis penyakit dengan lama hari rawat (nilai x2=98,252), ada hubungan antara diagnosis penyakit dengan lama hari rawt (nilai x2=174,631), ada hubungan antara banyak pemeriksaan penunjang dengan lama hari rawat (nilai r = 0,50866), ada hubungan antara sumber biaya perawatan dengan lama hari rawat (nilai x2=15,101), ada hubungan antara hari pulang dengan lama hari rawt (nilai x2= 21,938). Sedangkan factor jenis kelamin dan hari mauk tidak terdapat bukti berhubungan dengan lama hari rawat. Kata Kunci: RAWAT INA

    Perancangan aplikasi electronic correspondence management (studi kasus : PT. Pertamina Training And Consulting)

    No full text
    Kehadiran teknologi komputer memungkinkan adanya perancangan suatu sistem berbasis komputer. Pengggunaan komputer sebagai hasil dari perkembangan dan kemajuan teknologi informasi, di banyak organisasi pemerintahan dan lingkungan bisnis, ternyata belum menjadikan kantor samasekali tanpa kertas (paperless office). Dengan pemanfaatan komputer, didapatkan kemudahan untuk menyimpan, mengorganisasi dan melakukan retrieval terhadap berbagai data untuk menghasilkan informasi sesuai kebutuhan. Aplikasi Electronic Correspondence Management dapat dijadikan suatu alternatif solusi masalah penanganan informasi. Aplikasi Electronic Correspondence Management memungkinkan pemantauan atau kontrol Direksi terhadap kinerja para pekerja dan juga sebagai pengingat Manajer untuk segera mendisposisikan setiap surat atau tugas yang menjadi tanggungjawabnya kemudian melakukan completion job atau report jika surat atau tugas telah selesai dikerjakan. Perancangan aplikasi berbasis web ini direalisasikan untuk mendapatkan sistem yang berkualitas dalam membangun kinerja secara efektif dan efisien. Dengan aplikasi ini, semua surat atau perintah yang masuk dapat diakses langsung kapanpun dan dimanapun selama ada perangkat komputer, laptop, atau pun smartphone yang terkoneksi dengan internet sehingga tidak ada lagi hambatan seperti jarak ataupun kehadiran untuk melakukan disposisi atau kontrol kerja pegawai. Penulis menggunakan metode pengumpulan data dengan studi lapangan yang meliputi pengamatan dan wawancara serta studi pustaka yang meliputi studi kepustakaan, penelusuran data online, serta studi literatur sejenis. Adapun metode yang penulis gunakan dalam pengembangan sistem adalah Framework Application of System Thinking (FAST)

    FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN KATARAK SENILIS (STUDI KASUS DI KOTA SEMARANG DAN SEKITARNYA)

    Get PDF
    Background : Seniles Cataract is still a health problem in community. Based on the Survey conducted in 1996, cataract is the main cause of blindness, where as the prevalence of cataract 0,78% of the prevalence of blindness 1,5%. The objective of this study is to understand the risk factors influencing the incidence of senilis cataract. Method : Case — control. The case is seniles cataract patients in ophthalmologic health center in Semarang, patients who got mass cataract surgery held by Panti Wilasa Hospital July 11-12, 2003 and that held by William Booth Semarang Hospital August 23, 2003. The control is non cataract patients in ophthalmologic health centre from January until August 2003. There are 72 cases and there are 72 patients as control. The data are taken from medical record, interview and measurement. Result : Bivariate analysis show all determinant variables : age over 66 years old, female, lack of education, low income, smoking habit, outdoor work, animal protein consuming pattern — twice-three times a week or irregular, nabatic protein consuming pattern twice — three times a week or irregular, vegetable consuming pattern twice-three times a week or irregular, drinking cataractogenic drugs are significant to the incidence of senilis cataract. The multivariate analysis show proved variables influencing simultaneously are : age over 66 years old, OR: 9,0 (CI: 2,9-27,6); Animal protein consuming pattern twice-three limes a week or irregular OR: 7,0 (2,3-20,4); Outdoor work OR: 6,7 (CI: 3,2-20,2); Smoking habit OR: 5,8 (CI: 1,8-18,8); Lack of education OR: 4,2 (CI: 1,1-16,3); Nabatic protein consuming pattern twice-three times a week or irregular OR : 5,2 (CI: 1,7-15,2). Conclusion : There are six variables proved influencing the incidence of senilis cataract, they are : age over 66 years old, animal protein consuming pattern twice-three times a week, outdoor work, smoking habit, lack of education and nabatic protein consuming pattern twice-three times a week. Recommendation : There should be some efforts to delay the incidence of seniles cataract among others nutrition promotion, consuming animal and nabatic protein, healthy working condition by avoiding working under sun exposure. The model preventions are screening model and further research on cataract. Latar belakang : katarak senilis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, menurut Survei pada tahun 1996, katarak merupakan penyebab utatna kebutaan, dimana prevalensi buta katarak 0,78% dad prevalensi kebutaan 1,5%. Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian katarak senilis. Metode : kasus — kontrol. Kasus adalah penderita katarak senilis di Balai Kesehatan Indera Masyarakat Semarang, dan peserta pada operasi katarak massal di RS Panti Wilasa Citarum Semarang, 11-12 Juli 2003 dan RS William Booth Semarang 23 Agustus 2003. Kontrol adalah penderita bukan katarak senilis di Balai Kesehatan Indera Masyarakat Semarang antara bulan Januari sampai bulan Agustus 2003. Jumlah kasus sebanyak 72 orang, sedangkan kontrol 72 orang. Data diperoleh dad catatan medis, wawancara dan pengukuran Hasa : Analisis bivariat menunjukkan bahwa seluruh variabel determinan yang diteliti : umur > 66 tahun, jenis kelamin perempuan, pendidikan rendah, pendapatan rendah, kebiasaan merokok, pekerjaan di luar gedung, pola konsumsi protein hewani 2-3 kali per minggu atau tidak tenth, pola konsumsi protein nabati 2-3 kali per minggu atau tidak tentu, pola konsumsi sayuran 2-3 kali per minggu atau tidak tenth, kebiasaan minum obat-obatan kataraktogenik berhubungan bennakna dengan kejadian katarak senilis. Hasil analisis multivariat menunjukkan variabel yang terbukti berpengaruh secara bersama-sama adalah : umur > 66 tahun, OR = 9,0 (CI : 2,9 — 27,6); pola konsumsi protein hewani 2-3 kali per minggu atau tidak tenth OR = 7,0 (CI : 2,3 — 20,4); pekerjaan di luar gedung OR = 6,7 (CI : 3,2 — 20,2); kebiasaan merokok OR = 5,8 (CI : 1,8— 18,8); pendidikan rendah OR = 4,2 (CI:1,1-16,3); pola konsumsi protein nabati 2-3 kali per minggu atau tidak tenth OR=5,2 (CI:1,7— 15,2). Simpulan : terdapat enam variabel yang terbukti berpengaruh terhadap kejadian katarak senilis, yaitu : umur > 66 tahun, pola konsumsi protein hewani 2 — 3 kali per minggu, pekerjaan di luar gedung, kebiasaan merokok, pendidikan rendah dan pola konsumsi protein nabati 2-3 kali per minggu. Saran : perlu adanya tindakan upaya penundaan katarak senilis, berupa penyuluhan gizi : konsumsi protein hewani dan nabati, kesehatan kerja seperti menghindari bekerja langsung di bawah sinar matahari. Model upaya pencegahan, model skrining sena faktor prediksi buta katarak perlu penelitian iebih lanjut

    Analisis Kelelahan kerja sebagai penyebab resiko penurunan kinerja perawat di rumah sakit

    No full text
    Upaya peningkatan prestasi kerja, suatu organisasi dapat mengatasi stres akibat pekerjaan yang dapat berkontribusi terhadap kelelahan pada perawat. Isu penting adalah meningkatkan kinerja pelayanan perawat dengan memperbaiki keadaan Burnout Nurse syndrome. Peningkatan kinerja perawat sangat berpengaruh terhadap kualitas pelayanan rumah sakit . Mempertimbangkan pertimbangan di atas, penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut untuk memperdalam kegiatan individu yang terjadi pada perawat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman perawat terkait tentang burnout syndrome. Penelitian ini menggunakan Design Diskriptif Fenomenologi dengan metode kualitatatif. Populasi dalam penelitian ini adalah perawat yang berperan aktif dalam memberikan pelayanan keperawatan di RSUD Dr. Adhyatma MPH Tugurejo Semarang yang terdiri dari perawat pelaksana, kepala ruangan dan pimpinan. Menggunakan tehnik Purposive Sampling diperoleh 15 responden. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan tehnik FGD ( Focus Group Discussion ) kemudian diformulasikan dan dianalisa dengan tehnik Colaiizzi. Hasil penelitian diperoleh tiga tema diantaranya keluhan tidak puas. Lingkungan kerja yang tidak menyenangkan dan tanggung jawab yang berlebihan. Kesimpulan dalam penelitian ini bahwa keluhan perasaan perawat akan ketidak puasan, lingkungan kerja yang kurang menyenangkan hingga tanggung jawab yang berlebihan merupakan penyebab terjadinya burnout syndrome. Akibat yang dapat ditimbulkan sangat besar dan berdampak besar terhadap kualitas pelayanan asuhan keperawatan untuk pasien di Rumah  Sakit

    Kecerdasan Emosional Terhadap Tingkat Resiliensi Pada Perawat

    No full text
    Tenaga kesehatan menjadi salah satu bagian dari garda terdepan yang ikut berperan dalam mengahadapi pandemic covid-19 dan rumah sakit menjadi tempat terselenggaranya pelayanan kesehatan. Meningkatnya jumlah kasus covid-19 di rumah sakit yang akan ditangani oleh tenaga kesehatan akan berdampak pada beban kerja selama masa pandemic covid-19. Pandemic Covid-19 yang terjadi di Indonesia telah menyebabkan krisis secara global dalam sistem perawatan kesehatan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan kecerdasan emosional terhadap tingkat resiliensi pada perawat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif jenis deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah perawat di ruang isolasi covid-19 dan IGD RSUD Dr. Murjani Sampit dengan teknik total sampling yang berjumlah 45 sampel. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner pada semua sampel. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil Penelitian menunjukkan Perawat di RSUD Dr. Murjani Sampit memiliki kecerdasan emosional kategori tinggi sebanyak 23 responden (51,1%) dan rendah sebanyak 22 responden (48,9%). Sedangkan untuk tingkat resiliensi dengan kategori tinggi sebanyak 27 responden (60%) dan rendah sebanyak 18 responden (40%). Hasil uji chi-square didapatkan nilai p-value 0,001<0,05. Kesimpulan dalam penelitian ini terdapat hubungan antara kecerdasan emosional terhadap tingkat resiliensi pada perawat di RSUD Dr. Murjani Sampit

    Beyond the Boundaries of Nursing Care: A Phenomenological Study

    Get PDF
    The COVID-19 pandemic created an emergency and challenging situation, especially for nurses, who have experienced feelings including fear and questions concerning their job responsibilities and professional ethics. They needed to maintain safety on the basis of their knowledge and skills. This study aimed to explore nurses’ experiences related to the pandemic. This research was conducted by using qualitative research with a descriptive phenomenological design. The participants were 15 nurses on duty in COVID-19 units at hospitals and who were delivering or had delivered direct care to patients with COVID-19. Data were collected from in-depth interview and analyzed with Colaizzi technique. The nurses experienced psychological disorders while they were performing their roles through the professional care models, and coping with the management of their workload during the pandemic. These circumstances were caused by the responsibility of nurses to give all forms of support and protection to patients. The study has shown that nurses faced some challenges regarding nursing workload to provide nursing care during the pandemic.   Abstrak Melampaui Batas Asuhan Keperawatan: Sebuah Studi Fenomenologi. Pandemi COVID-19 menimbulkan situasi darurat yang menantang, terutama bagi perawat yang mengalami berbagai perasaan dalam menghadapi pandemi termasuk rasa takut, tanggung jawab pekerjaan, dan etika profesi. Perawat perlu menjaga keselamatan dengan pengetahuan dan keterampilan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman perawat terkait pandemi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan desain deskriptif fenomenologi. Partisipan dalam penelitian ini adalah 15 perawat yang bertugas di unit COVID-19 di rumah sakit dan sedang atau pernah memberikan perawatan langsung kepada pasien COVID-19. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis dengan teknik Colaizzi. Penelitian ini menemukan gangguan psikologis pada perawat dalam menjalankan perannya, manajemen koping terkait beban kerja keperawatan, dan model asuhan profesional selama masa pandemi. Kondisi ini disebabkan oleh tanggung jawab perawat dalam memberikan segala bentuk dukungan dan perlindungan terhadap pasien. Penelitian ini menemukan bahwa perawat menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan beban kerja mereka untuk memberikan asuhan keperawatan selama masa pandemi. Kata Kunci: gangguan psikologi, manajemen koping, mekanisme perawat, model asuhan keperawata
    corecore