387 research outputs found

    An Upper Bound for the Ramsey Number of a Cycle of Length Four Versus Wheels

    Get PDF
    For given graphs G and H, the Ramsey numberR(G,H) is the smallest positive integer n such that every graph F of n vertices satisfies the following property: either F contains G or the complement of F contains H. In this paper, we show that the Ramsey number R(C4,Wm)≤m+⌈m3⌉+1 for m ≥ 6

    A General Framework for Coloring Problems: Old Results, New Results, and Open Problems

    Get PDF
    n this survey paper we present a general framework for coloring problems that was introduced in a joint paper which the author presented at WG2003. We show how a number of different types of coloring problems, most of which have been motivated from frequency assignment, fit into this framework. We give a survey of the existing results, mainly based on and strongly biased by joint work of the author with several different groups of coauthors, include some new results, and discuss several open problems for each of the variants

    BATAS PENYESUAIAN DENGAN UNDANG-UNDANG YAYASAN BAGI YAYASAN YANG DIAKUI SEBAGAI BADAN HUKUM UNTUK YAYASAN YANG DIDIRIKAN SEBELUM UNDANG-UNDANG

    Get PDF
    ABSTRAK Nanda Tri Baskoro, S.351508027. 2017. Batas Penyesuaian Dengan Undang-Undang Yayasan Bagi Yayasan Yang Diakui Sebagai Badan Hukum Untuk Yayasan Yang Didirikan Sebelum Undang-Undang Penelitian ini untuk mengetahui status Yayasan yang didirikan sebelum lahirnya Undang-Undang Yayasan dan apakah PP nomor 2 tahun 2013 dapat mengubah batas akhir penyesuaian yang diatur dalam UU Yayasan. Peneltian ini termasuk jenis penelitian normatif. Penelitian ini bersifat preskriptif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan. Jenis bahan hukum yang digunakan terdiri dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu melalui studi kepustakaan. Teknik analisis data yang digunakan adalah menggunakan teknik deskriptif, yaitu menguraikan apa adanya terhadap suatu kondisi atau posisi dari proposisi-proposisi hukum atau non hukum dan teknik interprestasi, yaitu memberikan penjelasan mengenai teks Peraturan Perundang-Undangan, agar ruang lingkup kaidah dalam Peraturan Perundang-Undang tersebut dapat diterapkan pada peristiwa hukum tertentu. Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa Yayasan yang didirikan sebelum lahirnya Undang-Undang Yayasan yang telah melakukan penyesuaian sebelum 6 Oktober 2008 dan melaporkan kepada Menteri tetap diakui sebagai badan hukum meskipun tidak mempunyai Surat Keputusan pengesahan sebagai badan hukum dari Menteri dan hanya menerima Surat Pemberitahuan dari Menteri Hukum dan HAM yang mana Surat Pemberitahuan tersebut mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan Surat Keputusan Pengesahan sebagai badan hukum dari Menteri. Bahwa akibat hukum, dari Akta Perubahan Anggaran Dasar berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 2 tahun 2013 dari Yayasan yang didirikan sebelum lahirnya Undang-Undang Yayasan yang masih tetap diakui sebagai badan hukum berdasarkan ketentuan Undang-Undang Yayasan yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah nomor 2 tahun 2013 itu berarti melanggar hierarki Peraturan Perundang-undangan, dimana Peraturan yang lebih rendah tidak dibenarkan untuk mengubah, menafikkan, atau meniadakan ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi yaitu Undang-Undang nomor 28 tahun 2004. Kepada pemerintah sebaiknya melakukan perubahan terhadap Pasal 71 UU Yayasan tersebut. Selain itu pemerintah dalam membuat revisi dari suatu peraturan perundang-undangan harus memperhatikan hirarki perundang-undangan yang telah diatur dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan sehingga tidak terjadi pertentangan norma. Kata Kunci : Yayasan, Badan Hukum, Pengesaha

    OPTIMALISASI PEMASARAN DIGITAL MELALUI MEDIA SOSIAL PADA KARANG TARUNA BASKORO WIDORO BANTUL

    No full text
    Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada Karang Taruna Baskoro yang berlokasi di Dusun Widoro, Bangunharjo, Sewon, Bantul. Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan sosialisasi pemanfaatan media sosial sebagai strategi pemasaran digital bagi masyarakat yang menjalankan usaha di masa pandemi Covid-19. Permasalahan yang dialami oleh Karang Taruna adalah kurangnya pengetahuan melakukan pengembangan usaha dalam hal pemasaran produk dengan pangsa pasar yang lebih luas. Untuk memecahkan masalah tersebut, tim memberikan pemahaman tentang pentingnya branding terhadap produk, strategi pemasaran untuk keunggulan kompetitif, dan pemanfaat teknologi informasi dalam memasarkan produknya. Metode yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) yang memungkinkan Karang Taruna berpartisipasi aktif dalam kegiatan sejak identifikasi    masalah sampai akhir kegiatan. Hasil pendampingan menunjukan dimilikinya pengetahuan, pemahaman dan wawasan tentang pentingnya branding produk dan pentingnya penggunaan sosial media sebagai strategi pemasaran. Kegiatan ini telah menambah keahlian dan kemampuan masyarakat khususnya Karang Taruna memperkuat usaha ekonomi selama masa pandemi Covid-19

    Total Vertex-Irregularity Labelings for Subdivision of Several Classes of Trees

    No full text
    AbstractMotivated by the notion of the irregularity strength of a graph introduced by Chartrand et al. [3] in 1988 and various kind of other total labelings, Baca et al. [1] introduced the total vertex irregularity strength of a graph.In 2010, Nurdin, Baskoro, Salman and Gaos[5] determined the total vertex irregularity strength for various types of trees, namely complete k–ary trees, a subdivision of stars, and subdivision of particular types of caterpillars. In other paper[6], they conjectured that the total vertex irregularity strength of any tree T is only determined by the number of vertices of degree 1, 2, and 3 in T . In this paper, we attempt to verify this conjecture by considering a subdivision of several types of trees, namely caterpillars, firecrackers, and amalgamation of stars

    Total Vertex Irregularity Strength of Trees with Maximum Degree Five

    Get PDF
    In 2010, Nurdin, Baskoro, Salman and Gaos conjectured that the total vertex irregularity strength of any tree T is determined only by the number of vertices of degrees 1, 2 and 3 in T. This paper will confirm this conjecture by considering all trees with maximum degree five. Furthermore, we also characterize all such trees having the total vertex irregularity strength either t1, t2 or t3, where t_{i} = \lceil (1+\sum\sb{j=1}\sp{i}n_{j})/(i+1)\rceil and ni is the number of vertices of degree i

    Penyebab, Patogenesis dan Manifestasi Klinis Filariasis

    Get PDF
    Filariasis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh nematoda filaria. Klasifikasi filariasis didasarkan pada lokasi habitatnya di dalam tubuh penderitanya, yaitu filariasis kulit, limfatik dan rongga tubuh. Filariasis yang paling sering terjadi adalah filariasis limfatik. Filariasis limfatik merupakan suatu penyakit yang sering disebut sebagai penyakit kaki gajah atau elephantiasis. Istilah kaki gajah muncul karena penyakit ini menyebabkan timbulnya pembengkakan tungkai pada penderitanya. Berdasarkan data, penyakit ini menyerang 72 negara di seluruh dunia, dan negara yang terdampak penyakit ini sebagian besar berada di daerah beriklim tropis dan subtropis di Asia, Afrika, Pasifik Barat, Amerika Selatan, dan Karibia. Terdapat empat negara di Amerika dimana penyakit ini menjadi endemik, yaitu Haiti, Republik Dominika, Guyana dan Brasil

    Onchocerca volvulus dan Loa loa

    Get PDF
    Filaria merupakan cacing dari filum Nematoda dan merupakan beberapa diantaranya merupakan parasit pada manusia yang secara umum disebut sebagai filariasis. Filariasis sendiri dapat dibagi menjadi dua kelompok besar berdasarkan organ yang diserang yaitu filariasis limfatik yang menyerang saluran limfe seperti Wuchereria bancrofti, Brugia spp. dan Mansonella spp. dan filariasis jaringan, seperti Onchocerca volvulus, Loa loa (Mendoza et al., 2009; Föger et al., 2017). Filariasis membutuhkan vektor, yakni kelompok arthropoda untuk transmisi ke inangnya. Saat ini, sekitar 200 juta orang terinfeksi oleh cacing filaria dan merupakan penyakit endemis di berbagai wilayah dunia seperti Afrika, Asia, Asia- Pasifik, Amerika Tengah dan Selatan (Drews et al., 2021; Hübner, M.P., Layland, L.E., Hoerauf, 2022)

    Strategi Pengembangan Perikanan Telur Ikan Terbang yang Didaratkan Nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Tual

    No full text
    Pelabuhan perikanan di Kota Tual salah satunya adalah Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Tual, dengan salah satu hasil tangkapan yang didaratkan adalah ikan dan telur ikan terbang (Cypselurus sp.). Ikan terbang termasuk ikan pelagis yang dapat ditemukan di perairan tropis dan sub tropis dengan kondisi perairan yang tidak keruh dan berlumpur (Hutomo et al. 1985). Ikan dan telur ikan terbang menjadi target penangkapan utama nelayan karena memiliki nilai ekonomis tinggi di pasaran domestik maupun ekspor. Berdasarkan KEPMEN-KP Nomor 69 Tahun 2016 tentang Rencana Pengelolaan Perikanan Ikan Terbang, beberapa isu prioritas yang menjadi permasalahan yaitu; (1) sumber daya ikan dan habitat; (2) sosial dan ekonomi; (3) tata kelola. Permasalahan tersebut secara umum juga menjadi permasalahan perikanan telur ikan terbang di Kota Tual saat ini. Tujuan penelitian ini adalah; 1) Menganalisis situasi permasalahan sistem perikanan terbang di PPN Tual; 2) Membangun model untuk sistem pengembangan perikanan terbang di PPN Tual; dan 3) Menyusun strategi kebijakan dalam pengembangan perikanan terbang di PPN Tual. Permasalahan perikanan ikan terbang di PPN Tual, merupakan permasalahan yang kompleks. Salah satu metode untuk mengatasi permasalahan yang kompleks serta bersifat dinamis adalah dengan menggunakan pendekatan sistem. Tahapan metode pendekatan sistem meliputi: 1) Analisis kebutuhan, 2) Formulasi masalah, 3) Identifikasi sistem, 4) Pemodelan sistem. Metode pengumpulan data dilakukan melalui survei dan wawancara terhadap nelayan telur ikan terbang, pengusaha, Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Tual, Kepala Dinas Perikanan Kota Tual beserta staf, Kepala Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kota Tual beserta staf, dan para Dosen Politeknik Perikanan Negeri Tual. Analisis yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian yaitu analisis deskriptif, analisis sistem dan Analisis Hirarki Proses (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2015 sampai 2017, produksi telur ikan terbang meningkat. Kondisi sebaliknya, terjadi pada jumlah kapal yang mengalami penurunan. Hal ini diantaranya disebabkan kapal-kapal tidak mendapatkan izin operasi dan adanya pengawasan yang ketat dari pihak PSDKP. Kapal penangkap telur ikan terbang rata-rata berukuran 5 GT-20 GT. Alat tangkap yang digunakan para nelayan adalah rumpon (bale-bale). Nelayan sebagian besar merupakan nelayan andon, yang berasal dari Kabupaten Takalar dan Galesong serta Buton. Lama trip dua minggu hingga satu bulan tergantung kondisi cuaca dan tinggi gelombang. Berdasarkan hasil kajian sistem, dapat digambarkan situasi permasalahan sistem yaitu dari aspek biologi; 1) Ancaman terhadap kondisi sumber daya telur ikan terbang karena pendataan ikan yang belum baik; 2) Musim penangkapan telur ikan terbang bersamaan dengan musim gelombang (Musim Timur) sehingga pihak Syahbandar tidak mengeluarkan Surat Persetujuan Berlayar (SPB). Aspek teknis yaitu; 1) Kapal tidak memilki dokumen perizinan seperti SIUP, SIPI, STKA dan SIKPI; 2) Penggunaan alat tangkap yang dianggap tidak ramah lingkungan. Aspek sosial yaitu; 1) Sumberdaya manusia yang masih rendah; 2) Nelayan rugi akibat kapal tidak memiliki izin penangkapan. Aspek ekonomi yaitu; 1) Biaya operasional kegiatan penangkapan yang semakin tinggi sehingga membatasi jangkauan operasi penangkapan; 2) Tidak adanya alokasi BBM bersubsidi dari SPBU dan APMS sehingga kalau membeli dengan harga industri, nelayan merasa terbeban; 3) Harga telur ikan yang tidak stabil; dan 4) Terbatasnya akses modal untuk usaha perikanan terbang. Untuk mengatasi masalah yang ada dibuat model untuk pengembangan perikanan telur ikan terbang. Model dibagi menjadi 2, yaitu; 1) sub model penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan, dan 2) sub model pengembangan bisnis perikanan telur ikan terbang. Alternatif strategi dalam pengembangan perikanan telur ikan terbang adalah pembatasan jumlah alat tangkap dan pembatasan jumlah hasil tangkapan. Pembatasan jumlah alat tangkap (bale-bale) dimaksudkan untuk menjaga sumberdaya ikan terbang dengan cara setiap kapal yang melakukan operasi penangkapan telur ikan diwajibkan untuk melepaskan 20% dari total bale-bale yang dipakai, sehingga pemulihan stok dapat dilakukan dan berkelanjutan

    Pengembangan perikanan tangkap di Pangkalan Pendaratan Ikan ( (PPI) Paotere, Makassar

    No full text
    This research was conducted in fish landing bases (PPI) Paotere Makassar. The aim of this research was to identity the prime product of capture fisheries in order to develop capture fisheries production in Paotere, South Sulawesi and to inform the fishermen about the fishing units that feasible to be developed. Survey method was applied in this research, while purposive sampling method were used to collect data. Prime product in PPI Paotere were identity by scoring method. The result showed that prime product from fresh water commodities was milkfish (Chanos chanos) , while from sea water commodities was Indian scad or mackerel scad (Decapterus rusellii). Bio-technic-socio-economic-approach was applied to analysis the feasibility of capture fishery development in PPI Paotere. Based on study, it can be known that purse seine was the most feasible fishery to be developed, followed gillnet, line fishing and trap
    corecore