1,721,339 research outputs found
TAMSIL LINRUNG: GERAKAN DAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KINERJA TAMSIL LINRUNG SEBAGAI WAKIL RAKYAT PADA MASA BAKTI 2004-2019
This research aims to analyze the movement and community response to Tamsil Linrung's performance during his tenure as a people's representative in the House of Representatives of the Republic of Indonesia 2004-2019. This research uses a qualitative method. Data collection is carried out through observation, interviews and documents by selecting informants to be interviewed with predetermined characteristics using purposive sampling techniques. The collected data is analyzed using thematic analysis. The results of the study show that the Tamsil Linrung movement is a systemic movement. During his tenure, the Tamsil Linrung movement was highly structured in the context of thought and actualization. With systemic movements, it creates a positive response in society at every level of social structure. The Tamsil Movement is a stimulus then in the process it receives attention, is interpreted and accepted by the community. The resulting response is a natural translation of the community that has been impacted
PROSEDUR KREDIT TAMSIL PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA PD. BPR BANK KLATEN
ABSTARCK The Procedure of Credit Tamsil for Civil Servant in PD. BPR Bank Klaten ERA WIDAYA SENTOSA F3614046 This study aims to: (1) Knowing the procedure of Credit Tamsil for Civil Servant in PD. BPR Bank Klaten; (2) Knowing the growth and contribution of Credit Tamsil in January-March 2017; (3) Knowing the factors of enabling and constraining realization Extra Credit and Income. The researcher of this study does direct observation in PD. BPR Bank Klaten at Jl. Veteran 140, Klaten, Central Java. The primary data include interview and observation, the secondary data were taken from Credit Tamsil data in 2016. This research was obtained by descriptive qualitative research method with technique collecting data through the result of interview with the employee of PD. BPR Bank Klaten and observation during apprenticeship since January 9th until February 7th 2017. The result of this study showed that: (1) Credit Tamsil is a special credit for the Civil Servant who has two procedures, that is door to door and personal process; (2) The growth of Credit Tamsil has reached the target in early year, but in general the growth has not showed yet. So the contribution to the bank has not given effect because the level of contribution that given from Credit Tamsil very small. (3) There are two factors in Credit Tamsil, which is (a) realization in enhancement factor, the credit system is daily, low interest rate and easy rules of door to door credit system (b) realization in inhibiting factors, early pension, mutation customer and the promotion not optimal. Key Words: Procedure, Credit Tamsil, Growth, Contribution
Jame al- Tamsil and Its Etymology and the Stories
 Abstract
Jame-al-Tamsil book written by Mohammad Ali Hableh Rudy (Live 1054) including the most ancient persian Proverbs and contains the most pure Persian proverbs which had great reader and moral story book during four centuries so more than fifty times is published. This valuable and benefit book with mixing the allegory and poetry with a verse and the Hadith take the story sweet for reader. Author tries to Nurture or change the story to make it sweet and beautiful. In this paper after the introduction of the author and book and his style we will mention his DP Story methods then we say the base of story. hableh rudy at this book used 150 stroy for proverbs that at this paper we found sources of 107 story and we refere to them and we note their differences.
FUNGSI PENGGUNAAN TASYBIH TAMSIL DALAM NOVEL “SAYAP-SAYAP PATAH” KARYA KHALIL GIBRAN (Pendekatan Balaghoh)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Fungsi Penggunaan Tasybih Tamsil
dalam Novel “Sayap-sayap Patah” karya Khalil Gibran dengan deskripsi yang
jelas untuk menunjang kebutuhan siswa dalam mempelajari Pembelajaran
Balaghoh khususnya Tasybih Tamsil untuk Mahasiswa Jurusan Pendidikan
Bahasa Arab Universitas Negeri Jakarta.
Metode penelitian ini adalah metode analisis deskriptif dan kualitatif analisis isi.
Penelitian ini difokuskan pada Fungsi Tasybih beserta Tasybih Tamsil. Instrumen
penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah tabel klasifikasi.
Peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwasannya didalam novel “Sayap-sayap
Patah” karya Khalil Gibran terdapat Fungsi Penggunaan Tasybih Tamsil yang
merupakan judul dari penelitian ini. Dalam novel ini ditemukan :
10 kalimat tentang Menjelaskan Keadaan Musyabbah, 2 kalimat tentang
Menjelaskan Ukuran Musyabbah, 5 kalimat tentang Berkesan di Jiwa, 3
kalimat tentang Menguatkan Keadaan Musyabbah, 4 kalimat tentang
Menjelaskan Kemungkinan Keberadaan Musyabbah, 3 kalimat tentang
Memperindah yang Buruk, 3 kalimat tentang Memperburuk yang Indah
Adapun implikasi penelitian ini terhadap pembelajaran balaghoh yaitu agar pelajar
Bahasa Arab tidak lagi menemui banyak kesulitan ketika mempelajari ilmu
balaghoh juga ketika mereka berusaha memahami maksud dari kalimat yang
mengandung Tasybih Tamsil. Karena contoh yang dapat diambil untuk
mempelajari ilmu balaghoh tidak hanya contoh dari Al-Qur’an dan hadits saja,
tetapi juga dapat diambil dari kehidupan sehari-hari juga dalam novel seperti yang
dibahas penelitian in
PENCITRAAN PASANGAN TAMSIL LINRUNG - DAS???AD LATIEF MELALUI MEDIA SOSIAL PADA PEMILIHAN WALIKOTA MAKASSAR TAHUN 2013
2014Strategi pencitraan merupakan unsur yang sangat penting untuk \ud
membangun popularitas dan elektabilitas seorang kandidat, yang pada \ud
akhirnya akan sangat menentukan perolehan suaranya dalam proses \ud
pemilihan. Semakin majunya era globalisasi informasi dan komunikasi \ud
didukung banyaknya pengguna internet saat ini, menjadikan media sosial \ud
cukup efektif sebagai sarana media baru untuk mengkonstruk opini \ud
masyarakat terhadap suatu realitas citra oleh kandidat yang maju dalam \ud
kontestasi politik. Hal ini didasari oleh fakta yang menunjukkan bahwa \ud
masyarakat kota Makassar saat ini menjadi urutan ke-5 terbesar di Indonesia \ud
pengguna media sosial terbanyak. \ud
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa efektifitas pencitraan yang \ud
dilakukan pasangan Tamsil-Das???ad melalui media sosial sebagai media baru \ud
yang kemudian mampu meningkatkan popularitas dan elektabilitas Tamsil-Das???ad Calon Walikota dan Wakil Walikota Makassar tahun 2013. Penulis \ud
melakukan penelitian dengan analisis deskriptif dengan dasar penelitian studi \ud
kualitatif yang bertujuan untuk menggambarkan dan menjelaskan orientasi \ud
pengguna media sosial terhadap pencitraan politik yang dilakukan dimedia \ud
sosial. Teknik pengumpulan data adalah wawancara mendalam dengan \ud
beberapa key informant. Di samping itu penulis juga mengumpulkan data-data dari literatur baik itu dari buku, makalah, maupun tulisan-tulisan yang \ud
berhubungan dengan masalah ini. \ud
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasangan Tamsil-Das???ad mampu \ud
mengkonstruk masyarakat yang menjadi pengguna media sosial terhadap \ud
representasi citra yang dibangun, melalui konten atau berita positif yang \ud
intens diposting di akun media sosialnya. Terjadinya umpan balik yang intens \ud
pula di akun media sosial pasangan Tamsil-Das???ad sehingga mampu \ud
membangun simpatik pengguna internet terhadap pasangan ini yang \ud
kemudian pembicaraan yang terjadi di media sosial tersebut juga menjadi \ud
topik perbincangan di dunia nyata. Hasil penelitian ini diharapkan mampu \ud
memperkaya studi komunikasi politik dan menjadi masukan bagi Tim Sukses \ud
dalam upaya membangun citra diri kandidatnya melalui sarana media yang \ud
lebih efektif dan efisien. \ud
Kata Kunci : Media Sosial, Hiperrealitas, Tamsil-Das???ad
TAMSIL HATI SEPERTI BATU DALAM QS. AL-BAQARAH: 74 MENURUT PERSPEKTIF ZAMAKHSYARI DAN ZAGHLUL AN-NAJJAR
ABSTRAK Skripsi ini berjudul Tamsil Hati Seperti Batu dalam QS. al-Baqarah: 74 Menurut Perspektif Zamakhsyari dan Zaghlul An-Najjar. Penelitian ini bertujuan mengkaji dan membandingkan penafsiran Zamakhsyari dan Zaghlul an-Najjar tentang tamsil hati seperti batu dalam QS. al-Baqarah: 74. Rumusan masalah: (1) Bagaimana penafsiran QS. al-Baqarah: 74 menurut perspektif Zamakhsyari dan Zaghlul An-Najjar? (2) Bagaimana relevansi tamsil hati seperti batu dalam kehidupan modern?. Metode penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Data penelitian: Primer dan sekunder. Teknik analisis data: content analysis, deduktif, induktif dan komparatif. Hasil penelitian: (1) Penafsiran QS. al-Baqarah: 74 menurut perspektif Zamakhsyari secara balaghah (retoris): gambaran kondisi psikologis dan spiritual yang sangat buruk karena penolakan terhadap kebenaran, kebiasaan berdusta, tidak peduli peringatan serta kebanggaan terhadap dosa. Menurut Zaghlul An-Najjar dari sisi spiritual, tentang kondisi hati manusia yang sangat keras karena menolak tadabbur, pengetahuan tanpa spiritualitas, memisahkan ilmu dari wahyu. Dari sisi ilmiah: bahwa batu-batu tertentu berkemungkinan memancarkan air. Persamaan metodologi tafsir: pendekatan ra’yi, sistematika penulisan berurut. Perbedaan: metode dan corak. Persamaan dalam penafsiran: gambaran tingkat kekerasan hati. Perbedaan: Zamakhsyari dengan aspek kebahasaan dan Zaghlul an-Najjar dengan aspek ilmiah. Persamaan sebab-sebab hati membatu: sikap menolak terhadap kebenaran dan ayat al-Qur’an. Sebab-sebab hati membatu lainnya sesuai karakteristik tafsir masing-masing. (2) Relevansi dengan kehidupan modern: penggunaan media sosial yang mengikis kepekaan hati, hoaks dan disinformasi, pemisahan ilmu dari spiritualitas, hidup dalam gaya materialistik dan individualistik, menolak tadabbur terhadap alam. Cara mengatasinya: meningkatkan tadabbur, mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan keimanan, menghindari kebohongan dan hoaks, melatih kepekaan sosial dan empati, menjaga spiritualitas. Kata Kunci: Tamsil, Hati, Batu, Zamakhsyari, Zaghlul An-Najjar
Politik untuk Kemanusiaan : Mainstream Baru Gerakan Politik Indonesia
Memutar kembali panggung sandiwara dalam Pemilu Legislatif yang menggoncang perpolitikan Negri Indonesia tercinta ini, hingga mengakibatkan berbagai macam getaran. Getaran-getaran itu merambat dan merasuki relung hati setiap manusia. Bahkan menjelajah dalam keramaian secara kolektif. Goncangan dan getaran menyatu, membentuk pribadi yang penuh dengan pencitraan dan intrik-intrik politik busuk demi menjatuhkan lawan. Lupa kawan, hilang kemanusiaan.Pencitraan yang sangat luarbiasa, tiba-tiba dapat mengubah seseorang yang bakhil menjadi dermawan, peduli sosial dan lingkungan, tiba-tiba merubah gaya hidup glamor menjadi sangat sederhana, tidak berjilbab tiba-tiba berjilbab, tiba-tiba berkopiah, berbaju koko dan bersarung, blusukan diiringi dengan indahnya jepretan cahaya kamera, baliho-baliho dipasang dengan senyum paling menawan, ulama’ digunakan sebagai alat untuk membentengi moral ketidakjujuran dalam pelegitimasian kekuasaan mereka. Belum lagi miliaran bahkan sampai triliunan uang yang digelontorkan demi memihak mereka . Secuil tentang gambaran pencitraan, calon dewan wakil rakyat dan sang penguasa negri ini.Menarik sekali dan membuat saya sejenak merenung tentang politik yang terjadi saat ini, penulis Tamsil Linrung adalah seorang anggota dewan DPR RI 2009-2014 dari Fraksi PKS, sekaligus wakil ketua badan anggaran DPR-RI. Beliau berasal dari pemilihan Daerah Sulawesi Selatan II. Menukil potongan sejarah politik Islam seperti telah diuraikan pada bagian pengantar bagian pertama buku ini. Misalnya sikap kebersahajaan Umar bin Khattab, Umar bin Abdul Aziz, serta Sultan Malik azh-Zhahir dari kerajaan Samudera Pasai dan terdekat dengan rakyat di Indonesia.Terbukti, sikap kebersahajaan tiga contoh penguasa atau pemimpin pada zaman dan Negeri yang berbeda itu, dapat mensejahterakan rakyatnya dengan semangat mengayomi, melayani, serta semangat iman kepada Allah Swt yang terpatri dalam hati sanubari. Seperti munajat Abu Bakar ash-Shiddiq r.a, sahabat Nabi Muhammad Saw, “ Jadikanlah kami kaum yang memegang dunia dengan tangan kami, bukan hati kami.â€Iman adalah inti kebahagiaan bagi setiap muslim. Kemanusiaan berdasarkan prinsip-prinsip keagamaan, pilihan tepat. Pesan dan harapan itulah yang sebetulnya ditegaskan oleh penulis Tamsil Linrung dalam buku Politik Untuk Kemanusiaan (Mainstream Baru Gerakan Politik Indonesia)Keimanan yang kuat dan terpatri dalam sanubari seorang muslim khususnya pemempin Negri, seharunya bisa diimplementasikan dalam kehidupan pribadi sehari-hari, keluarga, masyarakat, bahkan dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Keimanan yang kuat juga menjadikan seorang pemimpin penuh dengan kehati-hatian dalam bersikap dan bertindak dalam memutuskan sebuah perkara.Tamsil Linrung pada bagian pertama bukunya yang diberi judul Purifikasi Politik, mencoba menghadirkan pemahaman kepada pembaca bahwa politik adalah bagian dari Islam. Politik dapat menyatu dengan nilai-nilai agama. Beberapa dalil al-Qur’an yang tertulis di bagian pertama seperti (Q.s. Shaad [38]:26), (Q.s. al-Qashas [28]:26), (Q.s. al-Anfaal [8]: 27 -28). Semua menjelaskan karakter seorang pemimpin dalam kaca mata Islam, juga menghadirkan pemikiran-pemikiran Islam dan cendikiawan Muslim seperti Abdul Hamid al-Ghazali, Ibnul Qayyim, al-Mawardi, bahkan pemikir kontemporer Hasan al-Banna yang semua merujuk kepada al-Qur’an dan al-Hadits.Keimanan yang kuat akan memancarkan pribadi yang baik. Baik terhadap sosial masyarakat, keluarga, bangsa dan negara. Implementasi iman dalam kehidupan manusia akan mewujudkan Metropolis Humanis seperti dipaparkan dalam bagian ke dua dalam buku ini.Pemerintah harus memberikan perhatian khusus pada masyarakat yang memiliki keunggulan dalam mengembangkan potensi dirinya. Misalnya memberikan beasiswa pendidikan, menyediakan lapangan kerja yang lebih banyak dan pekerjaan yang bergaji tinggi. Pemerintah juga harus memperhatikan pengelolaan urbanisasi yang akan menjadi masalah besar terhadap kenyamanan kota. Seperti kemiskinan, kriminalitas dan pengangguran.Pemerintah justru harus membangun dan menciptakan kota yang bernuansa kemanusiaan. Alasannya, kota dapat melindungi kedaulatan dan stabilitas masyarakat. Luar biasa seorang penulis Tamsil Linrung dalam mengkonsep dan menggagas idenya dalam buku Politik Untuk Kemanusiaan ini. Jelas akan menguntungkan rakyat Indonesia secara umum.Kota hijau adalah kota yang lebih humanis pada semua kalangan, tidak hanya terbatas bagi masyarakat yang memiliki uang banyak dan mudah aksesnya. Penulis menyadari bahwa merubah wajah kota bukan persoalan mudah bagi seorang pemimpin negri Indonesia. Apalagi yang hanya memiliki visi dan tidak memiliki konsep kota jauh ke depan dan tidak memhami sejarah pembangunan kota sejak NKRI. No action nothing happen’s. Tetapi, bukan berarti mengorbankan orang lain dalam artian saling sikut kanan-kiri.Adakalanya, pemerintah kota di Indonesia harus berkaca pada negara-negara yang maju dan berhasil menjadikan kota untuk kemanusiaan. Seperti Paris, New York dan Curitiba di Brazil. Sebuah kota, seharusnya sesuai dengan budaya masyarakatnya. Tidak hanya demi capaian fisik dan materi saja. Belajar dari sejarah Rasulullah Saw mengenai kota, masyarakat dan negerawan. Yaitu sikap humanis dan toleran dalam kemajemukan. Begitu yang saya fahami dari uraian pada bagian ke dua buku ini.Bagian ke tiga dan ke empat yaitu Ketahanan Pangan sebagai Jalan Kemanusiaan dan Humanisasi Pemberdayaan Ekonomi dalam buku ini, bahwa Indonesia mengandung tanah yang subur dan luas. Tetapi pemerintah malah menanam padi di luar negri (Myanmar). Bulog adalah perusahaan umum sekaligus perpanjangan tangan pemerintah dalam membantu food security atau ketahanan pangan. Oleh karena itu, Bulog harus siap bersaing dengan perusahaan-perusahaan swasta yang merajai pasar pangan nasional.Selain itu, pemerintah harus jelas, akan menjadikan Indonesia agraris atau industri. Sehingga perhatian utama ekonomi negara akan fokus misalnya pada pertanian yang memiliki nilai ekonomis dan berbasis kearifan lokal, juga akan fokus pada kelautan yang memiliki ekosistem laut yang paling beragam di dunia dengan berbagai macam karang dan spesies ikan. Pertanian dan kelautan adalah sumber pangan yang dapat membantu mengentaskan kemiskinan.Bagian terakhir, penulis menegaskan pada rakyat Indonesia, khususnya pada para pembaca buku ini. Kontribusi nyata untuk kemanusiaan, tak terbatas oleh ruang dan waktu. Kapan dan dengan kondisi apapun, semampu kita. Baik dalam pendidikan, pemberdayaan sosial, juga kesehatan. Mendukung masyarakat dengan memberikan pelatihan keterampilan dalam bidang yang ditekuninya akan membantu mereka untuk mandiri. Contoh nyata, Tali Foundation adalah bentuk konkret kontribusi penulis dalam bidang politik untuk kemanusiaan. Semoga menginspirasi spirit politik saya dan para pembaca. Hidup Indonesia
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
