16 research outputs found
Penerapan Kurikulum Berbasis Karakter dalam Pengembangan Soft Skill Siswa SMK (Studi Kasus pada Mata Pelajaran Produktif Program Keahlian Alat Berat SMK Negeri 1 Singosari)
ABSTRAK Machfuroh, Talifatim. 2010. Penerapan Kurikulum Berbasis Karakter dalam Pengembangan Soft Skill Siswa SMK (Studi Kasus pada Mata Pelajaran Produktif Program Keahlian Alat Berat SMK Negeri 1 Singosari). Skripsi, Jurusan Teknik Mesin FT Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Imam Muda Nauri, S.T., M.T., (II) Drs. Solichin, S.T, M.Kes, Kata kunci: soft skill, kurikulum berbasis karakter, karakter Berdasarkan hasil observasi sementara yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa kebanyakan lulusan SMK saat ini ketika bekerja di perusahaan dalam jenjang karir mereka relatif tidak bisa cepat naik, hal ini dikarenakan lulusan SMK dinilai belum memiliki soft skill yang baik dan juga belum memiliki kebiasaan karakter sesuai bidang pekerjaannya. Untuk itu perlu adanya pembentukan karakter profesionalitas pada diri setiap siswa SMK. Dalam hal ini, penerapan kurikulum berbasis karakter tampaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif guna mengembangkan soft skill dan membentuk karakter siswa SMK. Adapun rumusan masalah yang ingin digali melalui penelitian ini adalah bagaimana bentuk Kurikulum Berbasis Karakter yang diterapkan di SMK Negeri 1 Singosari Program Keahlian Alat Berat, bagaimana pelaksanaan Kurikulum Berbasis Karakter di SMK Negeri 1 Singosari, bagaimana bentuk pengembangan soft skill melalui Kurikulum Berbasis Karakter di SMK Negeri 1 Singosari, serta apa faktor pendukung dan faktor penghambat penerapan Kurikulum Berbasis Karakter dalam Pengembangan Soft skill di SMK Negeri 1 Singosari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian menggunakan studi kasus. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Singosari pada program keahlian alat berat pada mata pelajaran produktif. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi wawancara, studi dokumentasi dan observasi. Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap analisis data adalah reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum berbasis karakter yang diterapkan di SMK Negeri 1 Singosari program keahlian Alat berat adalah pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang bermuatan karakter di dalamnya. Tujuan dari penerapan kurikulum ini adalah membentuk karakter siswa sesuai dengan bidang pekerjaannya dan karakter terhadap soft skill yang dimiliki. Dalam penyusunan, kurikulum disusun berdasarkan kompetensi-kompetensi hasil rumusan antara pihak sekolah dengan pihak industri yang menghasilkan 7 soft skill, 12 core skill, 1 problem solving, dan 17 work skill, yang kemudian dikembangkan dalam bentuk silabus dan RPP. Silabus dan RPP yang telah disusun diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas. Dalam evaluasi pembelajaran, penilaian yang digunakan berupa sertifikasi skill menggunakan sistem go and no go dengan bentuk skor 0 dan 100. Soft skill yang dikembangkan berpedoman pada seven habits yang berasal dari buku seven habits of highly effective people karangan Sthepen R Covey ditambah dengan 1 problem solving. Dalam pelaksanaanya faktor yang mendukung adalah input siswa yang memang sudah terseleksi sebelumnya, kerjasama yang mendukung antara pihak sekolah dengan pihak industri, dan adanya LBB yang disediakan untuk men-training guru-guru Alat Berat. Faktor yang menghambat adalah belum semua guru memahami dan melaksanakan kurikulum berbasis karakter, pelaksanaannya masih dalam lingkup pembelajaran produktif, Kurangnya sarana prasarana yang memadai, khususnya untuk pembelajaran praktik, belum semua guru bisa dijadikan permodelan dalam pembentukan karakter untuk siswa, dan kurangnya pemantauan karakter siswa. Saran yang dapat peneliti berikan pada penelitian ini adalah kepada siswa, hendaknya kebiasaan positif yang sudah terbentuk di sekolah melalui kurikulum berbasis karakter bisa melekat dan berkembang baik ketika siswa praktik di sekolah maupun di industri. kepada kepala sekolah, dalam penelitian ini ditemukan berbagai macam kendala-kendala secara teknis yang mempengaruhi keberhasilan dari penerapan kurikulum ini, diharapkan kendala-kendala tersebut bisa digunakan sebagai bahan untuk evaluasi penerapan kurikulum berbasis sehingga bisa lebih sempurna. Selain itu juga perlu adanya pemahaman persepsi tentang kurikulum berbasis karakter pada semua guru di semua mata pelajaran agar penerapan kurikulum dapat maksimal. Serta kepada peneliti lain, dalam penerapan kurikulum berbasis karakter belum diketahui secara signifikan dampak pengembangan soft skill terhadap peningkatan daya saing lulusan. Peneliti lain dapat menggunakan judul penelitian “Dampak Penerapan Kurikulum Berbasis Karakter terhadap Peningkatan Daya Saing Lulusan SMK Negeri 1 Singosari Program Keahlian Alat Berat.” Penelitian ini dapat dijadikan sebagai pijakan awal dan bahan referensi terhadap penelitian selanjutny
Studi Pengaruh Penambahan Dual Dynamic Vibration Absorber (DVA)-Dependent Terhadap Respon Getaran Translasi Dan Rotasi Pada Sistem Utama 2-DOF
Sebuah sistem dapat mengalami getaran yang berlebihan jika gaya yang
bekerja padanya mendekati frekuensi natural dari sistem tersebut. Pada beberapa
kasus, getaran pada sebuah sistem dapat dikurangi dengan memasangkan dynamic
vibration absorber (DVA). Dynamic vibration absorber (DVA) merupakan sistem
massa, damper, dan pegas yang ditambahkan pada sistem utama. Jenis peredam
ini akan bergerak bersamaan dengan sistem utama sehingga getaran pada sistem
utama dapat diredam. Salah satu modifikasi DVA adalah penggunaan dual DVAdependent
pada sistem utama. Dual DVA-dependent merupakan dua buah DVA
menyatu yang dipasang pada sistem utama dengan jarak tertentu. Pada penelitian
ini dipelajari pengaruh penambahan dual DVA-dependent terhadap respon getaran
translasi dan rotasi pada sistem utama 2-DOF. Dalam pemahaman mengenai
fenomena tersebut dibuat model dinamis sistem tanpa penambahan DVA dan
sistem dengan penambahan DVA. Model dinamis sistem tanpa penambahan DVA
digunakan sebagai pembanding terhadap sistem dengan penambahan DVA. Model
dinamis tersebut disimulasikan dengan software Simulink Matlab. Pada model
sistem dengan penambahan DVA, rasio konstanta kekakuan DVA terhadap sistem
yang digunakan sebesar 1/20 dan rasio massa DVA terhadap sistem 1/10 dengan
variasi rasio inersia massa DVA terhadap sistem 1/40; 1/20; dan 1/10 dan variasi
rasio jarak kantilever absorber 1/3; 1/2; dan 1. Dari hasil penelitian didapatkan
bahwa penempatan cantilever absorber DDVA-dependent pada ujung system
dengan rasio inersia massa absorber 1/10 mampu mereduksi getaran system
utama dengan prosentase pengurangan pada frekuensi 12,78 Hz sebesar 94,1681
% untuk arah translasi dan 15,3878 % untuk arah rotasi. Perubahan rasio jarak dan
rasio inersia massa absorber tidak mempengaruhi kemampuan DDVA-dependent
dalam mengurangi getaran arah translasi. Kemampuan DDVA-independent sama
dengan DDVA-dependent dalam mereduksi getaran arah translasi dan lebih baik
daripada DDVA-dependent dalam mereduksi getaran arah rotasi dengan
prosentase pengurangan sebesar 80,3252% pada frekuensi 12,78 Hz untuk
==================================================================================================================
A system can be subjected to excessive vibration if the force acting on it
approaching the natural frequency of the system. To overcome, the traditional
treatment method that involves structural modifications often take some time and
expensive. In some cases, a vibration in a system can be reduced by installing
dynamic vibration absorber (DVA). Dynamic Vibration Absorber (DVA) is a
mass, damper, and spring system which is added to the main system. This kind of
absorber will move together with the main system to reduce the vibration of the
main system. In order to reduce the vibration, modification of DVA is required.
One modification is the using of dual DVAs-dependent in the main system. Dual
DVAs-dependent are two fused DVA which are mounted on the main system at a
certain distance.In this research, it is studied about the effect of the addition dual
DVA-dependent in the translational and rotational vibration response at the 2-
DOF primary system. In the understanding of this phenomenon, it is created a
dynamic model of the system without the addition of DVA and system with the
addition dual DVA-dependent. A dynamic model of the system without the
addition DVA is used as a comparison against the system with the addition of
DVA. The dynamic model is simulated with Matlab Simulink software. In the
model system with the addition of the DVA, the ratio of stiffness DVA to the
system is 1/20 mass ratio is 1/10 with variations of inertia ratio DVA to system
are 1/40, 1/20, and 1/10 and variations of distance ratio of absorber cantilever are
1/3, 1/2, and 1.The result of this studied showed that the cantilever absorber
placement of DDVAs-dependent at the end of the system with mass inertia
absorber ratio of 1/10 can reduce the vibration of primary system which reduced
with a 94.1681% for translation direction and 15.3878% for rotation direction in
the frequency of 12.78 Hz. The changes of distance ratio and inertial mass
absorber ratio have no effect on the ability of DDVAs-dependent to reduce
vibration of translational direction. The capabilities of DDVAs-independent are
same with DDVA-dependent in reducing vibration of translational direction and
its better than DDVA-dependent in reducing vibration of rotational direction with
the percentage of reducing is 80.3252% in the frequency 12.78 Hz on rL =
PEMODELAN PEMANENAN ENERGI LISTRIK DARI MEKANISMEAUTOMATIC CLOSED DOOR
Perkembangan teknologi telah mendorong peningkatan penggunaan energi, terutama penggunaan energi pada bangunan. Alternatif pemenuhan kebutuhan energi bangunan adalah dengan memanfaatkan bagian dari bangunan yang bergerak, untuk sebagai penghasil energi listrik. Untuk itu diperlukan sebuah mekanisme pengkonversi yang dapat mengubah energi getaran mekanis menjadi energi listrik, diantaranya dapat menggunakan: piezoelektrik, elektrostatik dan elektromagnetik. Automatic door closer adalah sebuah alat mekanik yang digunakan untuk menutup pintu sesaat setelah pintu terbuka. Automatic door closer biasanya ditempatkan pada daun pintu bagian atas dan dekat dengan kusen atas pintu. Gerakan dari automatic door closer pada saat membuka dan menutup secara otomatis dapat dimanfaat sebagai pembangkit energi listrik dengan mengghubungkannya pada linier generator. Pada engsel pemutar pada automatic door closer dipasang roda gigi yang dihubungkan dengan roda gigi lain, dimana roda gigi yang kedua dipasangkan dengan rack yang kedua sisinya terdapat magnet yang sudah diberi lilitan. Gelombang magnet tersebut bergerak naik turun melewati kumparan sehingga menghasilkan energi mekanik yang kemudian diubah menjadi energi listrik. Energi listrik ini adalah energi bangkitan dari pergerakan buka tutup dari daun pintu. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa mekanisme automatic door closer dengan penambahan harvesting energy system mampu menghasilkan daya output sebesar 4,68 watt dan voltase yang dihasilkan sebesar 33,5 volt. Daya yang dihasilkan memang relatif kecil dikarenakan input yang diberikan juga kecil. Daya ini dapat untuk menghidupkan lampu-lampu kecil
Monitoring Pembakaran Suhu Batu Bata Konvensional Berbasis Mikrokontroler Arduino Dan IOT (Internet of Things)
Pembuatan batu bata secara konvensional membutuhkan suhu yang efektif antara 700-1100 derajat celcius, untuk mengukur suhu tersebut dipakai sensor suhu termokopel tipe K. Output pengukuran ditampilkan dengan serial monitor Arduino ataupun serial plot secara real-time dan juga LCD 16x2. Output juga dapat dipantau melalui smartphone tampilan android menggunakan iot web based server "Thingspeak". Pembakaran dilakukan secara lima hari berturut turut, suhu optimum dicapai pada hari keempat dengan suhu diatas 1023 derajat celcius dan terendah pada hari ketiga dengan suhu 400 derajat celcius karena petani tidak memantau suhunya. Dengan pemantauan suhu diharapakan petani dapat melakukan kebijakan tersendiri dalam mengontrol suhu tungku pembakaran seperti menambah kayu Mahoni atau Sengon, sehingga efisiensi dan efektifitas nilai pembakaran meningka
Pengendalian Kualitas Pengelasan Baja SS400 untuk Ducting pada PT. XYZ dengan Metode SQC
PT XYZ is a steel welding manufacturing company. One of its of its products is a gas exhaust chimney (ducting) made of low carbon Structural Steel (SS400). In the production process, welding defects are often indicated so that it requires rework due to indicated defects. If a ducting has cracks and leaks, the ducting structure will collapse and gas distribution will leak and not be channeled properly. So the purpose of this study is to identify the types of welding defects and countermeasures using the NDT Penetrant method and the Statistical Quality Control (SQC) method to find the causal factors and percentage of defects. The results showed the presence of porosity, undercut and crack welding defects. The most dominant defect is porosity with a defect area of 825 mm percentage (2.23%), undercut 455 mm (1.23%) and crack 155 mm (0.42%). The results of the control chart analysis on SQC that of the three defects there is no deviation out of the control limits set so that the number of defects is still in control and the company can maintain it.PT. XYZ merupakan perusahaan manufaktur pengelasan baja. Salah satu produknya yaitu cerobong pembuangan gas (ducting) berbahan baja karbon rendah Structural Steel (SS400). Dalam proses produksi sering terindikasi cacat pengelasan sehingga memerlukan pengerjaan ulang karena terindikasi cacat. Jika sebuah ducting mengalami retak dan bocor maka struktur ducting akan roboh dan penyaluran gas akan bocor dan tidak tersalurkan dengan baik. Maka tujuan penelitian ini yaitu identifikasi jenis cacat pengelasan dan upaya penanggulangannya dengan menggunakan metode NDT Penetrant dan metode Statistical Quality Control (SQC) untuk mencari faktor penyebab dan persentase kecacatan. Hasil penelitian menunjukkan adanya cacat pengelasan porosity, undercut dan crack. Cacat paling dominan yaitu porosity dengan luasan cacat 825 mm persentase (2,23%), undercut 455 mm (1,23%) dan crack 155 mm (0,42%). Hasil analisis control chart pada SQC bahwa dari ketiga cacat tidak adanya penyimpangan keluar dari batas kontrol yang di tetapkan sehingga jumlah cacat masih dalam kendali dan perusahaan dapat mempertahankannya
Analisis Perawatan Mesin Injection Moulding dngan Metode RC dan FMEA di PT “X”
PT. "X" is an injection molding company. Machine maintenance and repair are very influential on a stable production rate. The purpose of the research is to find the root cause of the problem of plastic molding machine damage and find the right accurate solution, and also which parts are prioritized for repair using the RCA and FMEA methods. The Results of the RCA method analysis for injection molding machine maintenance. Four priority parts experience mechanical part wear. The root cause of the problem is the first part pin and bushing experience wear due to lack of lubrication due to lack of visual checking maintenance. The second part of the platen surface has wear due to uneven molding, and also by checking the mold if the mold material is harder, the platen will lose or the platen surface has dented. The third part of the Mold Adjust Pitch Tie Bar and Pitch Gear experiences wear and tear due to the nut thread wear due to the high press of the thread that becomes a fulcrum. The fourth part of the Adjustable Nut, namely the Locking Nut, does not function because the locking nut is not balanced and not parallel, causing flashing. For the analysis of the FMEA method of injection molding machine maintenance based on the RPN value, the order of priority parts for preventive maintenance is Pin and bushing, Platen surface, Mold Adjust Pitch Tie Bar and Pitch Gear, and Adjustable Nut.Latar belakang masalah untuk menjaga laju produksi yang stabil pada PT. “X” maka mencari akar permasalahan dari kerusakan mesin injection moulding sangat dibutuhkan agar dapat dilakukan preventif maintenance dengan efektif dan efisien. Tujuan penelitian mencari akar penyebab masalah dari kerusakan mesin pencetak plastik dan menemukan solusi part mana yang menjadi prioritas untuk dilakukan perbaikan dan preventif maintenance. Penelitian ini menggunakan metode RCA dan FMEA. Hasil analisis untuk perawatan mesin injection moulding terdapat 4 part urutan prioritas yang mengalami keausan mechanical part. Part pertama Pin dan bushing disebabkan kurangnya pelumasan karena kurangnya visual checking maintenance. Part kedua permukaan platen disebabkan ketidak rataan moulding. Part ketiga Mould Adjust Pitch Tie Bar dan Pitch Gear disebabkan ulir nut aus karena adanya high press ulir yang menjadi tumpuan. Part keempat Adjustable Nut yaitu Locking Nut tidak berfungsi karena adanya locking nut yang tidak balance dan tidak pararel sehingga menyebabkan flashing
MODELING AND VIBRATION RESPONSE ANALYSIS OF PELLET MACHINE GRINDER AND GEARBOX
Pellet machine is a machine used to print feed in the form of pellets. In this machine, if it operates, it can experience excessive vibration and the force acting on the machine is close to its natural frequency and can cause damage, so it needs to be reduced. In this study, the objective of this research is to model and simulate vibrations in the gearbox and grinder to determine the results of the displacement and acceleration vibration responses on the pellet machine. In this study, an electric motor is used as a source of rotation and an input clutch as a connection between the shaft of the electric motor and the gearbox as a transmission to reduce the speed of the electric motor, where the rotation produced by the electric motor contains vibrations, the output coupling is the connecting shaft between the gearbox shaft and the shaft grinder and miller as a tool used to print pellets. From the existing physical form, mathematical equations and simulation blocks are constructed. In this research, it is found that the vibration response generated from the gearbox and grinder can be modeled with the x and z axes as the center of the system. The higher the vibration response, the higher the given frequency, the greater the amplitude and rms of the displacement and acceleration responses in each part, namely the motor, clutch in, gearbox gearbox, coupling out, and grinder will be greater. The result of displacement vibration response yields an rms of 1.956. The worm gear in the gearbox produces a displacement vibration of 1.0585 m and an acceleration of 6.8485 m/s2. The mill produces a displacement vibration of 1.0891 m and an acceleration of 5.1095 m/s2.Pellet machine is a machine used to print feed in the form of pellets. In this machine, if it operates, it can experience excessive vibration and the force acting on the machine is close to its natural frequency and can cause damage, so it needs to be reduced. In this study, the objective of this research is to model and simulate vibrations in the gearbox and grinder to determine the results of the displacement and acceleration vibration responses on the pellet machine. In this study, an electric motor is used as a source of rotation and an input clutch as a connection between the shaft of the electric motor and the gearbox as a transmission to reduce the speed of the electric motor, where the rotation produced by the electric motor contains vibrations, the output coupling is the connecting shaft between the gearbox shaft and the shaft grinder and miller as a tool used to print pellets. From the existing physical form, mathematical equations and simulation blocks are constructed. In this research, it is found that the vibration response generated from the gearbox and grinder can be modeled with the x and z axes as the center of the system. The higher the vibration response, the higher the given frequency, the greater the amplitude and rms of the displacement and acceleration responses in each part, namely the motor, clutch in, gearbox gearbox, coupling out, and grinder will be greater. The result of displacement vibration response yields an rms of 1.956. The worm gear in the gearbox produces a displacement vibration of 1.0585 m and an acceleration of 6.8485 m/s2. The mill produces a displacement vibration of 1.0891 m and an acceleration of 5.1095 m /s2
Analisis Pengaruh Variasi Kecepatan Pemakanan dan Kedalaman Pemotongan terhadap Getaran Mesin Bubut sesuai ISO 10816
Dalam proses pembubutan, getaran dapat dan mampu memengaruhi kualitas hasil, seperti meningkatnya kekasaran permukaan dan menurunnya ketelitian dimensi benda kerja. Getaran yang berlebih juga dapat memperpendek umur pahat dan komponen mesin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi kecepatan pemakanan (feed) dan kedalaman pemotongan (depth of cut) terhadap getaran mesin bubut serta mengevaluasinya berdasarkan standar ISO 10816. Variasi feed yang digunakan adalah 0,104, 0,325, 0,522, dan 0,835 mm/rev, sedangkan variasi depth of cut adalah 0, 0,5, 1, dan 1,5 mm. Data getaran diukur dalam bentuk kecepatan getaran RMS, yang kemudian dianalisis menggunakan software Minitab untuk menghasilkan ANOVA, main effect plot, dan interaction plot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa depth of cut menjadi faktor dominan yang memengaruhi getaran, sedangkan feed memberikan pengaruh yang lebih kecil. Selain itu, hasil pengukuran getaran dibandingkan langsung dengan standar ISO 10816 sebagai acuan evaluasi kondisi getaran mesin, guna menentukan apakah mesin dalam kondisi baik atau perlu dilakukan perbaikan
Pengaruh ukuran butir serbuk arang tempurung kelapa terhadap tingkat kekerasan material aluminium 6061 pada proses pack carburizing
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran serbuk arang batok kelapa terhadap tingkat kekerasan aluminium 6061 pada proses pack carburizing. Variasi ukuran serbuk arang batok kelapa sebagai sumber karbon pada penelitian ini adalah 40 Mesh, 60 Mesh, dan 80 Mesh. Suhu yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5000C dengan waktu penahanan 45 menit, pemanasan menggunakan oven pemanas nabertherm, kemudian dilakukan quenching dengan air kelapa muda. Pada pengujian aluminium 6061 dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan carburizing, pengujian yang dilakukan yaitu uji kekerasan mikro Vickers menggunakan EW-412AAT, uji struktur mikro dan ketebalan lapisan karbon menggunakan mikroskop metalurgi merk Nikon Japan 59520. Hasil penelitian menunjukan nilai kekerasan aluminium 6061 tanpa perlakuan sebesar 60.37 VHN. Setelah perlakuan carburizing didapatkan nilai kekerasan 34.17, 50.34, dan 33.96 VHN. Hasil menunjukan penurunan nilai kekerasan pada aluminium 6061 setelah diberi perlakuan carburizing, penyebab penurunan nilai kekerasan dikarenakan berubahnya struktur mikro dari aluminium 6061 setelah perlakuan carburizing dibandingkan dengan raw material. Hasil foto mikro menunjukkan spesimen setelah di carburizing didominasi oleh fasa tidak stabil yang homogen fasa ini menjadi faktor penyebab menurunnya nilai kekerasan
Analysis of Manufacturing Process on a Corn Husker, Corn Sheller, and Corn Cob Crusher Machine Method Screw Using Motor 0.5 HP
Corn is one of the staple foods utilized by humans as a food source and for other products; the planting, harvesting, and processing of corn significantly affect its quality. Generally, the problem faced by corn farmers is during the harvest season, where corn that is ready for harvest requires a very complicated process to obtain corn seeds. Generally, farmers perform the tasks of husking and shelling corn using their hands or makeshift tools. From this complex process, this research was conducted with the aim of designing a corn husker, corn sheller, and corn cob crusher machine. The process used in this machine is based on the principle of transfer using a screw conveyor that will move from the peeling process to the shelling process and finally to the corn cob crushing process. This research uses the method of manufacturing process analysis of several components that make up the machine and the calculation of the production cost of goods manufactured. From the results of the analysis of the research on the manufacture of the peeling machine, corn sheller, and corn cob crusher, the production cost of goods manufactured was obtained at Rp. 4,066,919, and the machine processing time was 11.4 hour
