101,250 research outputs found

    Stilistika dan Kesetaraan Gender Dalam Lirik Lagu Batak Toba

    No full text
    This dissertation is the research’s report on the stylistic, and the gender equality in Batak Toba song lyrics. The analysis is focused on the styles which are represented through 10 Batak Toba song lyrics. The gender equality focused the analysis on the role, responsibility and the struggle of the Batak Toba women which are represented through the 10 Batak Toba song lyrics; the gender equality which is connected to the Batak Toba‘s ideology, hamoraon, hasangapon and hagabeon; the Batak Toba women’s role against the philosophers ideas. The research‘s objectives are to discover the realistic factual of the stylistic; to discover the realistic factual of the gender equality by the role, responsibility, struggle, of the Batak Toba women; to discover the realistic factual of the gender equality by the Batak Toba‘s tribe ideology, hamoraon, hasangapon, hagabeon; to discover the realistic factual of the Batak Toba women’s role against the philpsophers’ ideas, that are all represented through the 10 Batak Toba song lyrics, then to interpret, analyze and descript them all. Based on the analyzing above, the researcher found some results corresponded to the styles that the 10 Batak Toba song lyrics contain of the using of dictions, repetition languages, figurative languages and andung-andung; the gender equality corresponded to the role, responsibility and the struggle of the Batak Toba women that can be seen by doing the domestic job and as the bread winner at the public one as well; found some results corresponded to the Batak Toba ideology by gaining the implementation of the ideology purposes such as the education; found some results corresponded to the Batak Toba women’s roles were able to reject the philosophers ideas, which all represented through the 10 Batak Toba song lyrics.Penelitian ini adalah sebuah penelitian stilistika yang berhubungan dengan style, yang difokuskan pada ciri, cara dan gaya bahasa yang terkandung dalam 10 (sepuluh) lirik lagu Batak Toba, dan kesetaraan Gender yang difokuskan pada peran, tanggung jawab dan perjuangan perempuan dalam hal ini seorang ibu dikalangan komunitas masyarakat Batak Toba; kesetaraan gender yang difokuskan pada ideologi masyarakat Batak Toba, hasangapon, hamoraon, hagabeon; peran perempuan Batak Toba kontra konstuksi pendapat beberapa filsuf, yang semua tergambar dalam 10 (sepuluh) lirik lagu Batak Toba. Tujuan penelitian ini adalah menemukan style yang berhubungan dengan ciri, cara dan gaya bahasa; peran, tanggung jawab dan perjuangan perempuan Batak Toba; serta menghubungkannya dengan ideologi masyarakat Batak Toba, hasangapon, hamoraon, hagabeon; menemukan peran perempuan Batak Toba yang dapat menolak konstruksi pendapat beberapa filsuf; yang tergambar melalui sepuluh lirik lagu Batak Toba. Teori yang digunakan dalam kajian ini adalah teori stilistika dan penggabungan teori kesetaraan gender dan ideologi masyarakat Batak Toba. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif untuk mengkaji data primer, wawancara dengan masyarakat Batak Toba yang dikota Medan dan sekitarnya, sekunder, 10 lirik lagu Batak Toba. Dari kajian penelitian tersebut ditemukan bahwa ke 10 lirik lagu Batak Toba tersebut mempunyai ciri penggunaan diksi atau pilihan kata, repetisi atau pengulangan kata, gaya bahasa dengan majas atau figuratif bahasa, andung-andung ,dan dari kesetaraan gender ditemukan penggambaran peran, tanggung jawab dan perjuangan perempuan Batak Toba dengan bekerja diranah domestik dan publik demi untuk memberi pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya, sekaligus menjadi implementasi yang mendukung pencapaian cita-cita ideologi masyarakat Batak Toba, hasangapon, hamoraon, hagabeon ; Menemukan peran perempuan Batak Toba menjadi media untuk menolak konstruksi pendapat beberapa filsuf yang memarginalkan perempuan, yang difokuskan pada sepuluh lirik lagu Batak Toba.346 HalamanDisertasi Dokto

    Fonotaktik Bahasa Toba

    No full text
    This thesis discusses vocal and consonant sequences and syllables of Batak Toba language. It aims at determining fonotactic structure of Batak Toba language. This study covers two scopes, firstly, to learn sound of language by imitating somebody’s utterances using a language, and secondly to study language sound based on sound symbols and how such organs of speech produce a perfect sound, along with an analysis of sounds from language utterances. This study will contribute guidance for learners and teachers of how to produce a perfect pronunciation of Batak language and portray the sounds through written media. The study finds ranges of vocal and consonant sequences and syllables, whereas in semivowel or cluster, such forms are not found.Tesis ini mengkaji deret vokal, deret konsonan dan suku kata yang ada dalam data bahasa Batak Toba. Tujuannya untuk menetapkan struktur fonotaktik dalam bahasa Batak Toba. Latar belakang kajian ini ada dua, yaitu: yang pertama, mempelajari bunyi bahasa dengan cara meniru ucapan dari seseorang yang mempergunakan bahasanya. Yang kedua, mempelajari bunyi-bunyi bahasa berpedoman pada lambang-lambang bunyi, serta bagaimana organ-organ bicara dapat menghasilkan bunyi dengan sempurna, serta menganalisis bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh organ-organ bicara tersebut. Cara ini dapat membuat pelajar dan pengajar bahasa menghasilkan bunyi-bunyi bahasa dengan baik dan benar sesuai dengan bunyi yang sebenarnya, serta dapat menggambarkan bunyi-bunyi itu dengan media tulisan. Temuan dalam penelitian ini hanya terdapat pada deret vokal, deret konsonan dan suku kata, sedangkan pada gugus vokal/diftong dan gugus konsonan/cluster tidak ditemukan dalam penelitian ini.141 halamanTesis Magiste

    Revitalisasi Kebudayaan Batak Toba dalam Pengembangan Pariwisata di Kabupaten Toba - Samosir Studi Kasus Seni Pertunjukan Tortor dan Gondang Sabangunan di Huta Bolon Simanindo

    No full text
    This research is discussing the development of tourism industry on the basis of culture through traditional dances tortor and gondang sabangunan. Tortor and Gondang sabangunan are passed down through generations within its imprimaturs. Adat ni gondang is closely related to hasipelebeguan (the believe in goddess). The show of tortor and gondang sabangunan was once condemned by the church until it was changed to only an entertainment program. The process that changed its function from ritual to entertainment had been guite that the society did not recognize its existence any longer. In relation to the development of tourism in the regency of Toba Samosir, the local people of Huta Bolon Simanindo reemerged tortor and gondang sabangunan by co modifying it into art and cultural performance. Emerging cultural resource and the beauty of Toba Lake is one of the strategies in developing tourism industry. The basic theories used are the Functional Structural theory and Herskovits Preservation. In addition, approach to tourism such as COM modification, Community Based Resources Management or Community Management, and Tourism Based Community Development (TBCD) is used. The method of analyses is qualitative by the main data from the result of resource to the art performance tortor and gondang sabangunan in Huta Bolon Simanindo and also the condition of tourism in the regency of Toba Samosir. The main data is recorded in the tape recorder and video shooting. The secondary data are gained from sources such as books, pictures, documents, archives, that related with the tourism in Toba Lake and also the map of the research location. The document could be local regulation, programs, clipping, newspaper, and brochures. The form of Tortor performance shown in Huta Bolon Simanindo was held in an open stage in the old village of Huta Bolon. This performance was not as a sacral event though still followed the role of adat ni gondang. There are adat 11i gondang which were not held as of maniti ari and marlonggo raja hightlight, and the pargonsi charisma was not considered higher than before owing to the forming of them unity whom are collaborated. Despite at many changes, the performance still bounded in adat ni gondang; the number of gondang's sorts. The role is to ask the kind of gondang. The role move in tortor, the custom and instrument. All of performances are divided into two sections. The first section, still follow adat ni gondang but the value of sacredness has been lost. The kinds of gondang shown in the first section are: Gondang lae-lae, Gondang Mula-mula, Gondang Sahat Mangahat, Gondang Marsiolop-olopan, Gondang Si doliSi boru, Gondang Pangurason, and Gondang Si do-tio. The second performance has been intentionally created for the tourist. The kinds of gondang performance are: Gondang Pananti/Embas, Gondang Tungkot Tunggal Panaluan, and Gondang Sigalegale The result of research shows the change in function, from ritual function to economics. The creative local people as an artist tried to commodity the ceremony of inangalahat horbo into art performance as the effect of tourism activity. Specifically it has been done to ensure more interest, short and solid, full of variety, the origin i m i t a t i o n a n d c a n b e s h o w e d a t a n y t i m e a n d a l s o t h e p r i c e i s c h e a p . T h e commoditization is conformed by situation and condition of their life (the artist life), and the time limitation of tourist. The meaning of the art performance tortor in Huta Bolon Simanindo. Especially as realization of culture revitalization at tortor and gondang sabangunan at last. They left it because their believed hasipelebeguan with the Christian doctrin thet belief their society. Revitalization forward to culture preservation even though has been changed from the origin. The art performance has a specific meaning to Simanindo village, becoming the center of culture performance to wisman anda wisnu who come to regency Toba Samosir or to North Sumatera. Furthermore, the performance get contribute for actor as a piece to create the creativities of art, and also as a source income, and as a field of work for the local people. For general community that born and growth in the foreign country, art performance made in to introduce process and studied about culture in tortor and gondang sabangunan.Penelitian ini membahas pengembangan pariwisata budaya melalui pertunjukan tortor dan gondang sabangunan. Tortor dan gondang sabangunan merupakan warisan leluhur yang tidak dapat dipisahkan, selalu dilaksanakan seiring dengan aturan-aturan atau adat ni gondang yang mengikatnya. Adat ni gondang sangat erat hubungannya dengan kepercayaan hasipelebeguan. Oleh karena itu, pelaksanaan tortor dan gondang sabangunan pernah tidak diperbolehkan oleh aturan gereja dan kemudian diperbolehkan kembali tetapi sudah berubah fungsi menjadi alat hiburan. Perubahan fungsi dan acara ritual menjadi hiburan berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga masyarakat tidak lagi memahami hakikatnya. Sehubungan dengan pengembangan pariwisata di Kabupaten Toba Samosir, timbul keinginan dan masyarakat lokal Huta Bolon Simanindo untuk menghidupkan kembali tortor dan gondang sabangunan dengan mengkomodifikasi dalam Seni Pertunjukan sebagai atraksi budaya. Hal ini, merupakan strategi pengembangan pariwisata dengan memberdayakan sumber daya budaya dan keindahan alam Danau Toba. Landasan teori yang digunakan adalah teori Struktural Fungsional dan Teori Pelestarian Herskovits, ditambah lagi dengan beberapa pendekatan pariwisata, seperti Komodifikasi, Community Based Resource Management atau Community Management, dan Tourism-Based Community Development (TBCD). Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan data primer hasil pengamatan terhadap Seni Pertunjukan Tortor di Huta Bolon Simanindo dan kondisi kepariwisataan di Kabupaten Toba Samosir. Data primer direkam dalam tape recorder dan shooting Video dalam bentuk gambar. Data sekunder didapat dan berbagai sumber berupa buku-buku, foto-foto, dokumen-dokumen, dan arsip-arsip yang berhubungan dengan kepariwisataan di Toba Samosir, serta peta desa lokasi penelitian. Dokumen dapat berupa perda-perda, program-program, kliping surat kabar, dan brosur-brosur. Bentuk pertunjukan tortor di Huta Bolon Simanindo dilaksanakan pada panggung terbuka di dalam perkampungan tua Huta Bolon. Pertunjukan tidak sakral walaupun masih mengikuti aturan adat ni gondang. Ada adat ni gondang yang sudah tidak dilaksanakan seperti, maniti ari, martonggo raja, dan wibawa pargonsi tidak dianggap lebih tinggi karena mereka sudah menjadi satu tim yang saling kerjasama (kolaborasi). Walaupun sudah banyak mengalami perubahan, pertunjukan masih terikat adat ni gondang seperti, jumlah jenis gondang, aturan meminta jenis gondang, aturan gerak dalam tortor, pakaian dan peralatan. Secara keseluruhan pertunjukan dibagi dua sesi. Sesi pertama, masih mengikuti sebagian besar adat ni gondang tetapi nilai kesakralannya sudah dihilangkan. Jenis gondang yang disajikan pada sesi pertama adalah Gondang Lae-lae, Gondang Mula-mula, Gondang Sahat Mangaliat, Gondang Marsiolop-olopan, Gondang Si doli/Si boru, Gondang Pangurason, dan Gondang Si tiotio. Pertunjukan sesi kedua sudah dikemas sesuai tujuannya. Jenis gondang yang disajikan adalah Gondang Pananti/Embas, Gondang Tungkot Tunggal Panaluan, dan Gondang Si Gale-gale. Hasil penelitian menunjukkan terjadi perubahan fungsi, dari fungsi ritual mengarah ke fungsi ekonomi. Kreativitas masyarakat lokal sebagai seniman berusaha mengkomodifikasi upacara mangalahat horbo ke dalam seni pertunjukan sebagai akibat dari kegiatan pariwisata. Secara khusus komodifikasi dilakukan agar lebih menarik, singkat dan padat, penuh variasi, tiruan, dapat disajikan kapan saja, dan murah harganya. Komodifikasi disesuaikan dengan situasi dan kondisi kehidupan para seniman, serta keterbatasan waktu para wisatawan. Makna seni pertunjukan tortor di Huta Bolon Simanindo secara khusus merupakan sebagai wujud revitalisasi kebudayaan pada tortor dan gondang sabangunan yang belakangan ini mulai ditinggalkan masyarakat pendukungnya, akibat benturan antara kepercayaan hasipelebeguan dengan dogma Kristen yang dianut mayoritas masyarakatnya. Revitalisasi mengarah kepada pelestarian budaya, walaupun telah mengalami perubahan dari bentuk aslinya. Seni Pertunjukan mempunyai makna spesifik bagi desa Simanindo, menjadi pusat pertunjukan budaya bagi wisman maupun wisnu yang datang berkunjung ke kabupaten Toba Samosir atau ke Sumatera Utara. Selanjutnya, pertunjukan memberikan kontribusi bagi para seniman sebagai tempat menuangkan kreativitas seni, juga sebagai sumber penghasilan tambahan, sekaligus sebagai penampungan lapangan kerja masyarakat lokal. Bagi masyarakat umum, terutama masyarakat Batak Toba yang dilahirkan dan dibesarkan di perantauan, seni pertunjukan dijadikan sebagai proses pengenalan dan pembelajaran akan budaya terutama pada tortor dan gondang sabangunan.5 Halama

    Direct linking of Greenland and Antarctic ice cores at the Toba eruption (74 ka BP)

    No full text
    The Toba eruption that occurred some 74 ka ago in Sumatra, Indonesia, is among the largest volcanic events on Earth over the last 2 million years. Tephra from this eruption has been spread over vast areas in Asia, where it constitutes a major time marker close to the Marine Isotope Stage 4/5 boundary. As yet, no tephra associated with Toba has been identified in Greenland or Antarctic ice cores. Based on new accurate dating of Toba tephra and on accurately dated European stalagmites, the Toba event is known to occur between the onsets of Greenland interstadials (GI) 19 and 20. Furthermore, the existing linking of Greenland and Antarctic ice cores by gas records and by the bipolar seesaw hypothesis suggests that the Antarctic counterpart is situated between Antarctic Isotope Maxima (AIM) 19 and 20. In this work we suggest a direct synchronization of Greenland (NGRIP) and Antarctic (EDML) ice cores at the Toba eruption based on matching of a pattern of bipolar volcanic spikes. Annual layer counting between volcanic spikes in both cores allows for a unique match. We first demonstrate this bipolar matching technique at the already synchronized Laschamp geomagnetic excursion (41 ka BP) before we apply it to the suggested Toba interval. The Toba synchronization pattern covers some 2000 yr in GI-20 and AIM-19/20 and includes nine acidity peaks that are recognized in both ice cores. The suggested bipolar Toba synchronization has decadal precision. It thus allows a determination of the exact phasing of inter-hemispheric climate in a time interval of poorly constrained ice core records, and it allows for a discussion of the climatic impact of the Toba eruption in a global perspective. The bipolar linking gives no support for a long-term global cooling caused by the Toba eruption as Antarctica experiences a major warming shortly after the event. Furthermore, our bipolar match provides a way to place palaeo-environmental records other than ice cores into a precise climatic context

    Eksistensi Perempuan Batak Toba di Parlemen Kabupaten Samosir dalam Budaya Patriarki

    No full text
    Bentuk penentangan perempuan atas kuasa laki-laki tidak terlepas dari sistem patriarki yang tidak adil dan menempatkan perempuan sebagai bayang-bayang laki-laki. Budaya patriarki telah lama lahir dan berkembang dalam masyarakat Indonesia. Dalam struktur masyarakat patriarki seperti sekarang ini, perempuan tidak akan dapat merdeka kalau tidak diberi kesempatan oleh laki-laki. Kesempatan yang diharapkan oleh perempuan tidak hanya status dan peranan, tetapi hak dalam segala aspek masyarakat seperti halnya politik. Peran perempuan dalam perpolitikan sepertinya dibatasi oleh adanya Sistem Patriarki tersebut yang mengakibatkan perempuan menjadi tidak mandiri akan hidupnya. Akan tetapi berbeda dengan perempuan dalam Suku Batak Toba yang ada di Kabupaten Samosir. Kabupaten Samosir itu sendiri merupakan daerah Suku Batak Toba yang kental dengan budaya Dalihan Na Tolu, iii yang lebih mengutamakan laki-laki dan menomor duakan perempuan. Akan tetapi budaya Dalihan Na Tolu tidak terlalu berlaku dalam dunia politik yang ada di Kabupaten Samosir, sehingga perempuan Suku Batak Toba bebas untuk terjun kedalam dunia politik. Oleh karena itu penulis akan membahas bagaimana perempuan Suku Batak Toba bisa terjun kedalam dunia politik dengan adanya paham Dalihan Na Tolu. Dalam penelitian ini, metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Penelitian Kualitatif dapat diartikan sebagai rangkaian kegiatan atau proses penjaringan informasi dari kondisi sewajarnya dalam kehidupan suatu objek, dihubungkan dengan pemecahan masalah, baik dari sudut pandaang teoritis maupun empiris. Sehingga pendekatan Kualitatif ini dapat menjelaskan bagaimana Eksistensi Perempuan di Parlemen dalam Budaya Patriarki Suku Batak Toba. Hasil penelitian menunjukan bahwa budaya patriarki di Kabupaten Samosir itu memang masih ada terbukti dengan masih melekatnya paham Dalihan Na Tolu, akan tetapi berbeda halnya dalam dunia politik di Kabupaten Samosir. Perempuan Batak Toba di Kabupaten Samosir tidak dibatasi untuk terjun dalam dunia politik.The form of women's opposition to male power is inseparable from a patriarchal system that is unjust and places women as the shadow of men. A patriarchal culture has long been born and developed in Indonesian society. In the structure of a patriarchal society like today, women will not be able to be independent if they are not given the opportunity by men. The opportunities that women expect are not only status and roles, but rights in all aspects of society such as politics. The role of women in politics seems to be limited by the existence of the Patriarchal System which causes women to become independent from their lives. However, it is different from women in the Toba Batak Tribe in Samosir Regency. Samosir Regency itself is an area of the Batak Toba tribe which is thick with the Dalihan Na Tolu culture, which prioritizes men and puts women first. However, the culture of v Dalihan Na Tolu is not very applicable in the world of politics in Samosir Regency, so that the women of the Toba Batak tribe are free to enter the world of politics. Therefore, the author will discuss how Toba Batak women can enter the world of politics with the understanding of Dalihan Na Tolu. In this research, the research method used is qualitative research. Qualitative research can be defined as a series of activities or the process of capturing information from the normal conditions in the life of an object, connected with problem solving, both from a theoretical and empirical point of view. So that this qualitative approach can explain how the existence of women in parliament in the Toba Batak tribal patriarchal culture. The results showed that the patriarchal culture in Samosir Regency is still there, proven by the inherent understanding of Dalihan Na Tolu, but it is different in the political world in Samosir Regency. Toba Batak women in Samosir Regency are not restricted from engaging in politics.118 HalamanSkripsi Sarjan

    PENGARUH INTONASI DAN KEJELASAN MAKNA BAHASA BATAK TOBA PENDETA TERHADAP KOSAKATA BAHASA BATAK TOBA PARA JEMAAT GEREJA HKBP SUTOYO CAWANG (KAJIAN KONSERVASI BAHASA)

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis pengaruh intonasi dan kejelasan makna bahasa Batak Toba pendeta terhadap Penguasaan Kosakata Bahasa Batak Toba para jemaat Gereja HKBP Sutoyo Cawang (Kajian Konservasi Bahasa Daerah). Metode penelitian ini adalah metode survei dengan analisis regresi korelasi berganda. Dalam penelitian ini, ada 60 responden atau para jemaat di Gereja HKBP Sutoyo Cawang. Jadi, pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran angket langsung kepada 60 responden tersebut. Analisis data menggunakan statistika deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan: terdapat pengaruh yang signifikan antara intonasi bahasa Batak Toba pendeta (X1) dan Kejelasan makna bahasa Batak Toba pendeta (X2), secara bersama-sama berpengaruh sangat positif terhadap variabel Penguasaan Kosakata Bahasa Batak Toba para jemaat (Y). Hal ini bekaitan dengan nilai skor t hitung = 4,272 dan nilai Sig. = 0,000 < 0,05. Nilai koefisien korelasi atau hubungan positif ditunjukkan dengan skor ry1 = 0,523, sedangkan kekuatan sumbangan dengan koefisien determinasi (r2) = 0,640 menunjukkan bahwa variabel Intonasi bahasa Batak Toba pendeta (X1) dan variabel kejelasan makna bahasa Batak Toba pendeta (X2) secara positif memberikan konstribusi sangat sebesar 64% terhadap variabel Penguasaan Kosakata Bahasa Batak Toba para jemaat (Y). Selain hal tersebut, disimpulkan bahwa pengaruh kejelasan makna bahasa Batak Toba pendeta (X2) lebih besar dibandingkan dengan pengaruh Intonasi bahasa Batak Toba pendeta (X1) terhadap variabel Penguasaan Kosakata Bahasa Batak Toba para jemaat (X2) t hitung= 1,839 yang lebih besar daripada nilai Intonasi bahasa Batak Toba pendeta (X1) t hitung= 0,233

    Toba Tephra across India

    No full text
    A controversy currently exists regarding the number of Toba eruptive events represented in the tephra occurrences across peninsular India. Some claim the presence of a single bed, the 75,000-yr-old Toba tephra; others argue that dating and archaeological evidence suggest the presence of earlier Toba tephra. Resolution of this issue was sought through detailed geochemical analyses of a comprehensive suite of samples, allowing comparison of the Indian samples to those from the Toba caldera in northern Sumatra, Malaysia, and, importantly, the sedimentary core at ODP Site 758 in the Indian Ocean - a core that contains several of the earlier Toba tephra beds. In addition, two samples of Toba tephra from western India were dated by the fission-track method. The results unequivocally demonstrate that all the presently known Toba tephra occurrences in peninsular India belong to the 75,000 yr B.P. Toba eruption. Hence, this tephra bed can be used as an effective tool in the correlation and dating of late Quaternary sedimentary sequences across India and it can no longer be used in support of a middle Pleistocene age for associated Acheulian artifacts

    Letter, [Author unclear] to Paulina T. Merritt

    No full text
    Handwritten letter to Paulina Merritt from an unknown author, October 1, 1876.

    245. Toba tennō (1103-1156)

    No full text
    Iwao Seiichi, Iyanaga Teizō, Ishii Susumu, Yoshida Shōichirō, Fujimura Jun'ichirō, Fujimura Michio, Yoshikawa Itsuji, Akiyama Terukazu, Iyanaga Shōkichi, Matsubara Hideichi. 245. Toba tennō (1103-1156). In: Dictionnaire historique du Japon, volume 19, 1993. Lettre T. pp. 93-94
    corecore