1,721,002 research outputs found

    Mengurai Jejak Islamisasi Awal Kedatuan Luwu

    No full text
    Buku ini merupakan buku sejarah ― jika boleh disebut sebagai bagian dari sejarah Islam nusantara― yang sedikit banyaknya dapat memberikan informasi dan data-data faktual mengenai proses islamisasi awal yang terjadi pada Kedatuan Luwu dalam kurun waktu abad ke-17. Oleh karenanya, melalui karya ini dapat diungkapkan beberapa hal terkait dengan proses islamisasi tersebut, yakni; proses kedatangan Islam di Kedatuan Luwu, proses Islam diterima di Kdatuan Luwu, peran Kedatuan Luwu terhadap penerapan ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat Luwu, serta peran Raja Luwu terhadap proses islamisasi di Sulawesi Selata

    Endogamy Marriage Tradition Of Sayyid Community In Sidenre Village, Binamu District, Jeneponto Regency

    Full text link
    This article tried to find out some questions below, first, the way of martial processions of endogamy marriage at Binamu District of Jeneponto District. Secondly, the social impact of endogamy marriage. Thirdly, what is the sanction of disobeying the rules of endogamy marriage?. This research was qualitative descriptive which means to explore the phenomenon of endogamy marriage at Binamu of Jeneponto District This article was tried to reveal whether or not Sayye' community in the Sidenre Subdistrict still maintained the tradition of endogamy marriage (The marriage between clans or kinship among them). Sayye’ women were named as syarifah or sayyidah who were prohibited marrying with men who were not Sayye’ because they cannot continue their clan. Whereas men are not given clan or kinship restrictions in conducting marital relations (patriarchal system). Sayyid community maintained this tradition as an attempt to maintain their clan which they believe that they had lineage from the Prophet Muhammad Saw. This tradition is certainly faced many problems among mellinea society. Nevertheless, this tradition still existed among Sayye' community. The marriage of this tradition is the impact on the limitation in choosing a marriage partner which effected many syarifah or sayyidah became spinster, it also showed that there are some prohibition and limitation of interacting with other people, especially in establishing interpersonal with other clans. The sanctions for those who do not obey this tradition are isolated from the community or broke down the cognation genetic relationships

    Dinasti Fatimiyah: Kontribusinya terhadap Perkembangan Peradaban Islam di Mesir

    No full text
    Buku “Dinasti Fatimiyah: Kontribusinya Terhadap Perkembangan Peradaban Islam di Mesir” merupakan salah satu referensi bagi mata kuliah Sejarah dan Peradaban Islam. Selain itu, buku ini juga hadir untuk memperkaya khazanah buku-buku di Perguruan Tinggi khususnya Perguruan Tinggi Islam. Buku ini terdiri atas lima bab (i) Pendahuluan (ii)Pasang Surut Dinasti Fatimiyah (iii) Kemajuan-kemajuan Islam pada Masa Dinasti Fatimiyah (iv) Faktor-faktor Pendukung Kemajuan Peradaban Islam (v) Penutup Rasa Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah menganugrahkan kesehatan dan kemampuanuntuk dapat menyelesaikan penulisan buku ini. Ucapan terima kasih kepada ibunda Hj. Siti Masitah, Ananda Muflihah Zanilha, Ananda Mufidah Rezqy Ramadhani dan Suami Ilham Dharma Putera yang telah menginspirasi dan memberi motivasi dalam penulisan buku ini

    Perang Salib dalam Bingkai Sejarah

    Full text link
    Crusade represents the war that happened between Muslims and Cristians in the past. This fight  is called Crusade, which is by Cristian people  referred as holy  war,  because the expedition of Christian military hence the Cross sign as unifier attribute and  as holy war symbol in attacking to Islamic world. According to writer analysis, the magnifier of Cristian people is understood thouroghly as religious emotion of the Cristian people. With the the Cross sign symbol, they would easily inspired the religious emotion of Cristian people. Provenly, in three period of attacks, some Cristians took a great participation in the the war. In a period of that war, winning and fail was coming exchangeably between the legion of Islam and Cristian people.Perang Salib merupakan peperangan yang pernah terjadi antara orang-orang Muslim dan Kristen pada masa lalu. Perang tersebut disebut “Perang Salibâ€, yang diklaim orang Kristen sebagai perang suci karena ekspedisi militer Kristen maka tanda Salib sebagi atribut pemersatu dan sebagai symbol perang suci dalam menyerang dunia Islam. Menurut analisa penulis, penanda besar yang dipakai orang Kristen sepenuhnya dipahami sebagai emosi keagamaan masyarakat Kristen. Dengan simbol Salib, orang Kristen akan memahami sesama orang Kristen. Terbukti selama tiga periode peperangan itu, orang-orang Kristen dan orang-orang Islam menagn dan kalah silih berganti di antara dua kelompok tersebut

    Pemerintahan Demokrasi Persfektif Masyarakat Tomanurung Kedatuan Luwu

    Full text link
    This paper reveals that the public administration of Tomanurung at Kedatuan Luwu that appeared in the XI-XV century has been implementing democracy model of government. Despite the model of that democratic government was not exactly same with democracy right now, but it's interesting that people in the government as supporting traditional communities have been able to devise a system of government where the people have a hand in determining the model or system of government. Supporting community has reached the stage of thinking that people have the right communities in making decisions that can change their lives through the representation of all groups. Community of Tomanurung at Kedatuan Luwu without the outside influences hase dispensing system of democratic governance. Democracy interpreted to allow citizens to participate, either directly or through representatives in formulating and developing the system of government. So, democracy of kedatuan Luwu take the last model of democracy that democracy is understood to allow citizens to participate through representatives

    INTEGRASI ISLAM DALAM SISTEM PEMERINTAHAN DI KEDATUAN LUWU PADA ABAD XVII

    Full text link
    Temuan tulisan ini menunjukkan bahwa, penerimaan Islam sebagai agama resmi kerajaan di kedatuan Luwu telah memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk sistem pemerintahan. Integrasi Islam  pada sistem pemerintahan Kedatuan Luwu, dapat dilihat pada: pertama, Pembentukan  Parewa Sara’ (institusi sara’) sebagai salah satu institusi pemerintahan khusus bidang keagamaan yang diketuai oleh seorang  Kadhi (hakim agama); tugas seoran Kadhi selain mengembangkan kehidupan beragama dalam masyarakat sekaligus sebagai penasehat datu atau raja; sehingga segala kebbijakan yang diambil oleh raja dan erajaan tidak bertentangan dengan Islam. Kedua, dimasukkannya unsur Sara’ (Syariat Islam) ke dalam Panggedekeng (sistem kebudayaan masyarakat), yang sebelumnya terdiri atas lima yaitu   Ade’ (adat), Bicara, Rapang dan Wari, dan menjadi enam dengan ditambahkannya Sara’ (Syari’at Islam)

    Rekonstruksi Teori Islamisasi di Nusantara: Diskurusus Para Sejarawan dan Antropolog

    Full text link
    There are many theories of Islamization in the archipelago proposed by historians and anthropologists, and in many of the existing literature it can be concluded that Islam entered the archipelago through the northern part of the island of Sumatra. Islamic religion then spread in the periodization of the history of Indonesia,, seventeenth century regarded as the future of Islam in Indonesia. This paper found that the reconstruction of the theory of Islamisation in Indonesia consists of three major theories, namely: first, the theory of proselytization which consists of three phases, namely the arrival of Islam, Islam Receipts and patterned formation of the Islamic empire. Second, the theory of convergence, ieadapasi approach towards local cultures that have similarities to Islam peacefully accepted (penetrations pacifique) in a short time relative. Third, the theory of propagation, which is a process of acculturation (acculturation process) between Islam and culture on the one hand and the indigenous communities with cultural and religious beliefs or existing

    PETUNJUK RASULULLAH MENGENAI MUSYAWARAH DALAM PERSFEKTIF SEJARAH

    Full text link
    Rasulullah  Saw. Adalah seorang yang paling sering mengadakan musyawarah, hal ini agar dijadikan teladan  bagi umat sesudahnya. Perintah Allah kepada rasulnya agar bermusyawarah bukan berarti rasul membutuhkan pandangan atau pendapat mereka akan tetapi dimaksudkan bahwa musyawarah memiliki nilai yang lebih. Adapun mengenai konsep bagaimana seharusnya musyawarah dilaksanakan, nampaknya Rasulullah tidak memberikan pedoman  yang khusus atau baku, ini merupakan isyarat dari Rasulullah  untuk melaksanakan musyawarah  sesuai dengan tuntutan zaman  yang selalu berubah, sehingga sistem, cara dan metode musyawarah akan lebih bersifat variatif, fleksibel dan adaptif. Adapun ciri utama musyawarah adalah bersifat dialogis, sehingga memungkinkan  muncul varian pendapat tentang masalah yang diskuskusikan dan memberi kesempatan untuk melihat urusan tersebut dari berbagai sudut pandang sesuai dengan perbedaan perhatian seseorang, tingkat pemikiran, latar belakang, pengalaman dan sebagainya. Dengan demikian maka keputusan yang diperoleh adalah berdasarkan persepsi  yang sempurna dan konprehensif.Musyawarah merupakan inti ajaran ketuhanan atau tradisi kenabian atau sunnah Nabi karena itu musyawarah hendaknya dibudayakan dalam berbagai segmen kehidupan dan dalam setiap lapisan sosial baik dalam kultur kebangsaan, kerakyatan dan kekeluargaan maupun dalam struktur kelembagaan

    Perang Salib dalam Bingkai Sejarah

    Full text link
    The Crusades were the Christians regarded as holy war (holy war), because it is seen as a war motivated by religious zeal , but the real motivation of religion in this war only take the smallest part compared with other motivations such as political and economic motivation motivation. Crusade between Muslims and Christians lasted for two centuries, and kemenanganpun alternated achieved by both parties. But the important notes in the event that the huge losses suffered by the people of the destruction of structures in both physical and social and psychological condition of the Muslims, because this war took place in the Islamic world. And instead provide a positive impact on the world, especially Europe to influence the progress of European civilization

    Islamisasi Kedatuan Luwu pada Abad XVII

    No full text
    Kesimpulan besar Disertasi ini bahwa perkenalan Islam bagi masyarakat Luwu, diawali melalui jalur pelayaran-perdagangan dan selanjutnya kedatangan tiga ulama dari Koto Tangah Minangkabau. Interaksi Islam dangan masyarakat Luwu terjadi bersamaan dengan masuk dan menaiknya peran negeri-negeri Bugis-Makassar dalam jaringan utama pelayaran-perdagangan ke kepulauan Asia Tenggara yang mulai berlangsung sekitar abad XIV. Sedangkan persentuhan dengan Islam lebih nyata terjadi ketika kedatangan tiga orang mubalig dari Koto Tangah dan menjadikan Kedatuan Luwu sebagai target awal islamisasi bagi kerajaan-kerajaan Bugis-Makassar. Kedatangan ketiga mubalig tersebut atas inisiatif pedagang-pedagang Muslim untuk membendung misi Kristen. Ada beberapa akademisi yang memberikan tesis, mengapa Islam diterima oleh Raja Luwu baginda Patiware (1585-1610), terhitung sangat mudah dan cepat, antara lain: 1) Sanusi Daeng Mattata (1967), memandang bahwa pengislaman Datu Luwu melalui metode dialog yang menekankan pada konsep tauhid. 2) Christian Pelras (1996), menekankan kemampuan Datuk Sulaiman menghubungkan dogma teologis dengan kepercayaan lokal; kepercayaan Bugis tentang Sawerigading. Dengan demikian kedua pendapat di atas, sama-sama menekankan pada metode yang tepat. Disertasi ini membuktikan, sebelum kehadiran Datuk Tiga Serangkai di Kedatuan Luwu, Baginda Patiware (1585-1610) sudah banyak mendengar tentang Islam melalui pedagang-pedagang Luwu, minimal mengenai sikap (behavior) terpuji yang ditunjukkan oleh pedagang-pedagang Muslim, sehingga Datu Luwu simpatik terhadap Islam. Dengan demikian, kehadiran Datuk Tiga serangkai dengan kepiawaian metodenya yang menekankan pada konvergensi yaitu persamaan antara konsep Islam mengenai al-Tauhid (keesaan Allah) dengan kepercayaan lokal mengenai Dewata Seuwae (dewa yang tunggal), sehingga lebih memudahkan Datuk Sulaiman untuk mengenalkan Islam kepada Datu Luwu dan masyarakat Luwu. Temuan disertasi ini, didasarkan pada: 1) temuan arkeologi di Malangke Ibukota Kedatuan Luwu pra-Islam—berupa keramik Cina, manik-manik kaca, piring porselin Cina dan mata uang yang berasal dari sekitar abad XIV-XVII—memberi isyarat kuat terjadinya hubungan ekonomi Kedatuan Luwu dengan dunia luar, termasuk dengan pedagang-pedagang Muslim, 2) temuan pada fieldwork oleh Tim OXIS Project (the Origin of Compleks Society in South Sulawesi) pada tahun 1998 dan 1999 di Kampung Pattimang Tua (Malangke) dengan keluasan sekitar lima hektar, menemukan sejumlah besar fragmen wadah keramik, memberi indikasi bahwa benda-benda itu tersisa karena ada okupasi parsial sekitar tahun 1600. Tim OXIS berkesimpulan, ketika Luwu menjadi Negara pertama di Sulawesi Selatan menerima Islam pada tahun 1605, ia dengan jelas masih merupakan sebuah pusat perdagangan yang makmur dan kuat yang berlokasi di pesisir Malangke. Sumber yang dipakai dalam penelitian ini adalah; 1) naskah-naskah kuno yaitu Lontara, 2) berita-berita asing, dari Tome Pires dan Manuel Pinto, dan 3) arkeologi. Data-data ini dibaca dengan teori-teori islamisasi, terutama dengan teori proselitisasi. Teori ini digunakan untuk menganalisis kegiatan penyebaran Islam di Kedatuan Luwu. Teori yang lain adalah teori konvergensi, teori ini sangat membantu dalam menjelaskan mengapa Islam diterima dengan mudah dan dalam waktu yang relatif singkat (secara damai). Disamping itu, penelitian ini dilengkapi juga dengan analisis melalui pendekatan ilmu sosial yaitu dengan menggunakan teori propagasi. Teori ini membantu menganalisis bagaimana sikap masyarakat dalam menghadapi proses akulturasi
    corecore